Pages

Tampilkan postingan dengan label kesombongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesombongan. Tampilkan semua postingan

01 Maret 2016

Kesombongan Membawa Malapetaka


Apa yang terjadi, ketika Anda mengandalkan kesombongan dalam menjalani hidup ini? Saya yakin, Anda tidak akan mengalami kebebasan dalam hidup ini.

Seekor burung gagak merasa dirinya yang paling baik di antara burung-burung di hutan belantara. Ia juga tidak mau disaingi oleh burung-burung yang lain. Padahal bulunya yang hitam sering menakutkan burung-burung yang lain. Lagi pula suaranya yang parau jelek sering mengganggu ketenangan para penghuni hutan.

Suatu hari, seekor burung kutilang mendatangi burung gagak yang sedang sedih. Burung kutilang itu berkata, “Hai gagak, mengapa kamu sedang sedih? Apakah kamu sedang ketakutan sama burung pipit?”

Burung gagak tersenyum. Ia mulai menunjukkan kehebatannya. Ia tidak mau direndahkan oleh seekor burung kutilang. Ia mengibas-ngibaskan sayap-sayapnya.

Lantas ia berkata, “Di hutan ini saya yang paling berkuasa. Tidak mungkin saya takut sama burung sekecil itu. Kamu saja saya bisa telan hidup-hidup, apalagi burung pipit sekecil itu. Atau kamu mau sekarang juga saya menyergapmu?”

Burung kutilang langsung menyingkir pergi. Ia tidak mau membuat burung gagak semakin emosi.

Suatu hari lain, ada seorang pemburu datang ke hutan. Gagak menghasutnya untuk memanah si kutilang dengan menawarkan bulunya sebagai anak panah. Namun, si pemburu berulang-ulang gagal memanah kutilang hingga bulu burung gagak itu habis. Karena kesal tidak mendapatkan hasil buruan, sebagai gantinya pemburu menangkap gagak yang kini tidak dapat terbang. Bulunya sudah habis.

Sombong = Malapetaka

Keangkuhan sering menjerumuskan orang ke dalam jurang kebinasaan. Kesombongan hanya mau menutupi kelemahan dan kekurangan dalam diri. Akibatnya, kebinasaan justru yang mengancam kehidupan manusia. Orang yang sombong akan segera terbuka kekurangan dan kelemahannya.

Kisah imajinatif di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa menghargai sesama manusia. Mengapa? Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Yang ada adalah manusia berdosa yang sedang berziarah menuju kesempurnaan.

Untuk itu, yang kita butuhkan adalah kerendahan hati untuk menjalani hidup ini dengan normal. Mengapa? Karena orang yang sombong menjalani hidup ini lebih banyak dengan pura-pura. Akibatnya, hidup bersama sering berjalan tidak dengan harmonis. Sering terjadi benturan-benturan dalam hidup bersama.

Orang beriman mesti menyingkirkan kepura-puraan dalam hidupnya. Orang mesti menjalani hidup ini dengan jujur dan benar. Orang tidak mengandalkan kesombongan dirinya. Orang yang menutup kelemahan dan kekurangannya dengan kesombongan biasanya hidup dalam ketakutan. Orang seperti ini selalu takut kedoknya akan terbongkar. Akibatnya, orang seperti ini tidak merasa bebas dalam hidupnya.

Mari kita terus-menerus hidup dalam kebenaran, agar kita selalu bebas mengekspresikan diri kita di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membangun keharmonisan dan damai bersama Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO Palembang

10 Oktober 2015

Kikis Kesombongan, Bangun Relasi dengan Tuhan

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda ditilang karena melanggar lalulintas? Saya yakin, Anda tidak begitu saja menerima tilang dari polisi itu. Anda merasa tidak bersalah.

Saya sangat senang menonton pertandingan sepakbola. Selain dapat melihat keterampilan pemain-pemain mengolah bola di lapangan hijau, dari situ saya dapat belajar banyak hal. Saya belajar mengenai sportivitas. Saya belajar tentang karakter para pemain. Tetapi saya juga belajar bagaimana para pemain mesti memikili sikap yang baik dalam bermain sepakbola.

Di dunia sepakbola, setiap pemain tidak bisa menghindari pelanggaran-pelanggaran. Tidak jarang mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu. Bahkan ada saat di mana mereka mesti melakukan pelanggaran secara sengaja, supaya gawang tidak kebobolan. Atas tindakan tersebut, pasti mereka mendapatkan ganjaran dari wasit berupa kartu kuning atau kartu merah. Jika pelanggaran yang dilakukan pemain sangat berat, maka organisasi sepakbola di mana ia berada biasanya yang akan memberikan ganjaran.

Lionel Mesi atau Kristiano Ronaldo sering menjadi sasaran pelanggaran. Tidak hanya pelanggaran kecil. Bahkan mereka mengalami pelanggaran besar hingga mengalami cedera. Namun mereka tetap sportif. Mereka tidak membalas pelanggaran itu dengan pelanggaran. Mengapa? Karena itulah bagian dari permainan sepakbola.
 
Melepaskan Pamrih

Kata ‘ganjaran’ tidak mesti selalu dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Hal yang positif pun dapat menggunakan kata ini. Ganjaran dapat dipakai untuk menyatakan upah di dunia bagi seseorang ketika berlaku rendah hati. Kata ganjaran ini mempunyai tiga makna. Pertama, seseorang memperoleh kekayaan. Kedua, seseorang memperoleh kehormatan. Ketiga, seseorang memperoleh kehidupan.

Tentu saja kerendahan hati bukan hal yang mudah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia sering memiliki sikap pamrih dalam hidup ini. Melakukan sesuatu, kalau ada hadiah atau balasan.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap memiliki sikap rendah hati dalam hidup ini. Para pemain sepakbola tetap bersikap sportif dan rendah hati saat diganjar kartu kuning atau merah. Mereka menerima, meski dalam hati mereka merasa dihukum secara tidak adil. Mereka rela menerima hukuman atas pelanggaran yang mereka lakukan.

Sering dalam hidup ini, banyak orang tidak mau dihukum saat melanggar aturan-aturan kehidupan. Bahkan mati-matian mereka membela diri. Mereka tidak mau menerima hukuman. Mereka tidak mau menerima begitu saja, kalau dikatakan mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran. Padahal sudah ada bukti-bukti bahwa mereka melakukan pelanggaran.

Yang dibutuhkan dari orang beriman adalah membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Artinya, kita meminta bantuan dari Tuhan, agar kita senantiasa diberi kerendahan hati. Tuhan menguatkan hati kita untuk rela menerima ganjaran atas perbuatan-perbuatan kita. Memang, tidak mudah. Namun kita mesti terus-menerus mencoba. Mengapa? Karena membangun relasi dengan Tuhan setiap hari akan mengikis kesombongan diri kita.

Seorang bijaksana berkata, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Mari kita terus-menerus membuka hati bagi Tuhan. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap


1168

19 Desember 2013

Kesombongan Membawa Kegagalan

 

Pernahkah Anda mengalami kejatuhan karena kesombongan? Mungkin banyak dari Anda yang pernah mengalami hal ini. Nah, apa yang Anda lakukan ketika mengalami hal ini? Tentu Anda ingin mengubah situasi hidup Anda.

Suatu hari, seorang bapak tampak sangat murung. Soalnya adalah usaha-usahanya terbengkalai. Sudah tidak ada apa-apanya lagi. Padahal dulu ia sangat berhasil. Ia menjadi andalan bagi begitu banyak orang. Ia menjadi sandaran bagi kehidupan masyarakat di desanya.

Kepada istrinya, ia berkata, “Ini akibat kesombongan saya. Ketika berada di puncak kejayaan, saya lengah. Saya merasa tidak ada lagi yang menyaingi usaha-usaha saya.”

Istrinya hanya diam. Ia tidak mau menambah perih pedih batin suaminya. Ia sadar bahwa kesombongan telah menggerogoti seluruh usaha dan hidup mereka. Ketika mereka sedang berada pada puncak kejayaan, berbagai nasihat tidak pernah mereka gubris. Bahkan orang-orang yang memberi masukkan dan nasihat itu dianggap bodoh dan tidak berguna.

Sekarang, bapak itu merasa seolah-olah ditinggalkan semua orang. Hanya istrinya yang setia mendampinginya dalam kondisi seperti itu. Ia mendapatkan kekuatan. Ia bertekad untuk kembali memulai usaha-usahanya. Ia sadar bahwa ia mesti mendengarkan nasihat-nasihat sesamanya. Ia tidak ingin mengandalkan kesombongan dan keangkuhannya lagi.

Sahabat, sebab terbesar dari kegagalan manusia adalah kesombongan. Manusia yang sombong biasanya menutup telinganya terhadap berbagai nasihat dari orang lain. Orang yang sombong biasanya menganggap remeh kekuatan orang lain. Orang sombong merasa diri menguasai segala-galanya. Akibatnya ia lengah. Ia tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Ia tidak mampu melihat pesaing-pesaing baru di sekitarnya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa orang mesti memiliki suatu integritas kepribadian. Artinya, orang yang mampu menerima setiap bentuk nasihat atau kritik atas dirinya. Kritik atau saran dilihat sebagai sesuatu yang membangun diri dan kemajuan dirinya. Bukan sebagai sesuatu yang menghancurkan dirinya. Justru ketika orang menolak kritik atau saran biasanya cepat atau lambat akan menemukan kegagalan dalam hidup ini.

Kita mengenal ada istilah ilmu padi yang makin berisi makin merunduk. Artinya, orang yang memiliki sesuatu yang banyak itu mesti memiliki kerendahan hati yang lebih mendalam. Dengan kerendahan hati itu, ia dapat memberi hasil yang melimpah kepada sesamanya. Bagai padi yang bulirnya penuh berisi, ia mampu membahagiakan sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki kerendahan hati. Dalam situasi kerendahan hati itu, orang akan menemukan hidup ini menjadi lebih bermakna. Orang mudah mendengarkan sesamanya. Orang mudah menjalin bersahabatan yang tulus dengan sesamanya.

Mari kita berusaha untuk hidup bersahaja dan rendah hati. Bagi kita, hidup ini semakin bermakna ketika kita mampu mendengarkan nasihat atau kritik yang membangun dari sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1013

11 Juli 2012

Menjauhkan Diri dari Kesombongan

Apa yang terjadi kalau Anda menyepelekan sesama Anda? Tentu sesama Anda merasa kurang dihargai.

Suatu hari seorang teman mengatakan bahwa saya sombong. Saya bingung mengapa dia mengatakan saya sombong. Pasalnya, selama ini dia selalu saya sapa. Saya selalu peduli terhadap dirinya. Saya tidak melecehkan dirinya. Saya tetap setia dalam berteman dengan dirinya.

Saya penasaran terhadap pandangannya yang berubah tentang diri saya. Lantas dia menjelaskan, ”Sombong artinya tidak mau peduli lagi dengan penderitaan temannya. Padahal saya tahu, kalau kamu bisa dan punya waktu. Apalah artinya bisa dan punya waktu, kalau tidak punya hati seperti Tuhan?”

Saya pun mengerti apa yang dimaksudkannya. Ternyata teman saya itu butuh perhatian yang lebih. Tidak seperti biasanya. Dia sedang menderita. Tentu bukan penderitaan fisik, karena dia segar bugar. Rupanya batinya sedang bersedih. Karena itu, dia butuh perhatian dari sesamanya. Dia butuh hiburan yang meringankan beban batinnya. Dia butuh dukungan untuk dapat keluar dari derita batinnya itu.

Sahabat, ketika kita bertemu dengan orang yang kita kenal dan kita pura-pura tidak kenal, maka kita dianggapnya sombong. Ketika ada orang yang suka berbicara besar serta memamerkan keberhasilan-keberhasilan yang diraihnya, maka kita menyebut orang itu sombong. Orang kaya yang tidak mau bergaul dengan orang miskin juga biasanya disebut sebagai orang yang sombong.

Kesombongan-kesombongan seperti ini memang sangat mudah kita deteksi. Namun ada juga kesombongan yang bersembunyi jauh di dalam hati. Keseombongan seperti ini sulit kita deteksi. Soalnya adalah mengapa orang merasa diri sombong atau orang disebut sombong?

Orang yang sombong itu selalu merasa diri lebih baik dari orang lain. Hal ini ditampakkan melalui tindakan yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Kita beranggapan bahwa mereka tidak akan bisa melakukan sesempurna apa yang kita lakukan.

Tentu saja hal ini berbahaya bagi kehidupan. Mengapa? Karena orang merasa diri paling kuat. Padahal manusia itu makhluk yang lemah yang mudah jatuh ke dalam dosa. Manusia bukanlah supermen yang tidak punya cacat cela. Setiap orang punya kelemahan-kelemahan diri. Kalau orang merasa diri tidak punya cacat, orang itu akan merasa sangat sakit dan terpuruk, ketika mengalami kejatuhan.

Karena itu, orang beriman mesti menjauhkan diri dari kebiasaan sombong. Orang beriman mesti selalu mendahulukan sikap rendah hati. Dengan sikap rendah hati, orang mampu menerima kehadiran semua orang dalam hidupnya. “Kesombongan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ


917

23 Juni 2010

Kesombongan dapat Menghancurkan Manusia

Seorang ayah memasukkan putranya yang berusia lima tahun ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Baru sebulan belajar, seorang pianis yang terkenal datang ke kota itu. Sang ayah membeli dua buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh. Sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Namun anaknya tidak betah duduk diam terlalu lama. Ia menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan. Anaknya berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis terkenal itu. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano. Ia mulai memainkan sebuah lagu sederhana, twinkle-twinkle little star.

Operator lampu sorot, yang mengira konser telah dimulai langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum. Ia berkata, "Teruslah bermain". Sang anak meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk di samping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.

Begitu selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah. Karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Anak itu menjadi besar kepala. Dalam hati, ia berkata, "Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!" Ia lupa bahwa yang disoraki penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Banyak orang begitu bangga akan pencapaian hasil yang mereka dapatkan. Mereka mengira semua itu hasil karya mereka. Orang lupa bahwa yang ikut bekerja dalam karya itu juga Tuhan. Akibatnya, orang kurang mensyukuri kebaikan Tuhan. Orang memuji dirinya sendiri. Orang menyombongkan dirinya sendiri. Karena itu, orang sering cepat puas dan menepuk dada.

Apa yang mesti dibuat oleh orang beriman, ketika mengalami kesuksesan dalam hidup? Orang beriman mesti semakin merendahkan diri di hadapan Tuhan. Orang beriman mesti belajar dari ilmu padi: makin berisi makin merunduk. Sikap seperti ini akan memudahkan orang untuk tidak menyombongkan diri.

Sebenarnya apa gunanya orang menyombongkan diri? Apakah ada sesuatu yang menambah harga dirinya? Kalau direfleksikan secara lebih mendalam, sebenarnya kesombongan diri itu tidak berarti apa-apa. Dalam kesombongan diri itu justru orang sedang menyembunyikan kekurangan-kekurangan dirinya. Orang merasa seolah-olah sudah hebat. Padahal sebenarnya orang belum memiliki arti apa-apa.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa merendahkan diri di hadapan Tuhan. Tuhan yang menyediakan dan memberikan apa yang kita butuhkan untuk hidup kita. Kita mesti menyadari hal ini. Apa yang kita miliki itu hanyalah titipan dari Tuhan yang mesti kita kembangkan menjadi sesuatu yang berguna bagi keselamatan banyak orang. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



417

Bagikan