Pages

Tampilkan postingan dengan label kegagalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kegagalan. Tampilkan semua postingan

05 Agustus 2014

Menemukan Cara Baru untuk Mengatasi Kegagalan

 

Apa yang akan terjadi dengan diri Anda, ketika kegagalan mendatangi diri Anda? Anda menangisinya? Atau Anda justru bangun dari keterpurukan Anda?

Sebelum terkenal menjadi seorang yang luar biasa di pasar modal, Mark D Cook pernah mengalami bangkrut yang luar biasa. Ia kehilangan 800.000 dollar Amerika Serikat dalam satu perdagangan. Dalam satu hari, ia sendiri kehilangan 500 ribu dollar US dan 300 ribu dollar US dari keluarga besarnya.

Bertarung dengan kehilangan itu, ia berhenti bermain di bursa efek selama dua tahun dan selama lima tahun melakukan dua pekerjaan untuk mendapatkan kembali uangnya hilang itu. Pada tahun yang ketiga, ia melakukan perdagangan namun tidak untung, tidak rugi. Tahun berikutnya juga terjadi hal yang sama.

Tetapi Mark kemudian bangkit setelah tahun kelima. Ia menemukan tanda-tanda baru dalam perdagangan di pasar modal. Hal itu menuntunnya untuk beruntung tiga kali lipat. Hal itu terjadi berkat pendekatan baru yang dilakukannya. Usaha-usaha dengan system baru itu memberinya keuntungan yang luar biasa besar. Dalam satu kali perdagangan ia bisa memetik keuntungan hingga satu juga dollar US.

Kepada orang-orang yang ingin mengikuti jejaknya, ia mengatakan bahwa mereka tidak boleh takut rugi. Orang harus berani jatuh untuk bangkit lagi. Orang mesti berani merasakan sakitnya menjadi orang yang kehilangan segala-galanya. Dengan demikian, orang mulai mencari cara-cara baru untuk meraih kesuksesan.

Sahabat, sering orang maunya berhasil terus-menerus. Orang tidak mau mengalami kegagalan dalam hidup. Akibatnya, orang terjerumus ke dalam situasi instan. Apa-apa maunya serba cepat. Orang tidak mau mengalami proses dalam menjalani kehidupan ini. Kalau bisa, setiap saat selalu ada mukjizat dari Tuhan atas hidup mereka.

Kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk melewati suatu proses dalam perjalanan hidup. Ketika orang mesti dilanda kegagalan, ya diterima dengan senang hati. Orang tidak merasa bahwa kegagalan itu beban bagi hidupnya. Justru kegagalan itu menjadi kesempatan untuk belajar tentang strategi baru yang akan diterapkan.

Orang yang tidak pernah gagal dalam kehidupan biasanya tidak banyak belajar tentang kehidupan. Orang seperti ini biasanya akan mengalami jalan buntu ketika mengalami kegagalan dalam hidup. Tidak ada cara baru yang ditemukannya untuk mengatasi kegagalannya. Akibatnya, orang seperti ini selalu mengambil jalan pintas. Inginnya selalu yang instan, biar mudah dan cepat.

Orang beriman tentu ingin selalu belajar dari peristiwa-peristiwa hidup ini. Kehidupan ini memberikan berbagi hal positif bagi kita. Hal-hal itu menjadi bahan pelajaran yang berharga untuk kita. Kita membekali diri kita dengan pengalaman kehidupan itu, sehingga kita menjadi orang-orang yang kuat dalam menjalani hidup ini.

Untuk itu, kita butuh tekad. Kita butuh kesabaran dalam menjalani hidup ini. Kita butuh penyerahan diri yang lebih dalam kepada Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan senantiasa berjalan bersama kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita berjalan sendirian untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan kita.

Mari kita terus-menerus belajar dalam kehidupan ini. Dengan demikian, kita dapat menemukan cara-cara baru untuk menjadikan hidup kita lebih baik dan bahagia. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT/Tabloid KOMUNIO


1128

19 Desember 2013

Kesombongan Membawa Kegagalan

 

Pernahkah Anda mengalami kejatuhan karena kesombongan? Mungkin banyak dari Anda yang pernah mengalami hal ini. Nah, apa yang Anda lakukan ketika mengalami hal ini? Tentu Anda ingin mengubah situasi hidup Anda.

Suatu hari, seorang bapak tampak sangat murung. Soalnya adalah usaha-usahanya terbengkalai. Sudah tidak ada apa-apanya lagi. Padahal dulu ia sangat berhasil. Ia menjadi andalan bagi begitu banyak orang. Ia menjadi sandaran bagi kehidupan masyarakat di desanya.

Kepada istrinya, ia berkata, “Ini akibat kesombongan saya. Ketika berada di puncak kejayaan, saya lengah. Saya merasa tidak ada lagi yang menyaingi usaha-usaha saya.”

Istrinya hanya diam. Ia tidak mau menambah perih pedih batin suaminya. Ia sadar bahwa kesombongan telah menggerogoti seluruh usaha dan hidup mereka. Ketika mereka sedang berada pada puncak kejayaan, berbagai nasihat tidak pernah mereka gubris. Bahkan orang-orang yang memberi masukkan dan nasihat itu dianggap bodoh dan tidak berguna.

Sekarang, bapak itu merasa seolah-olah ditinggalkan semua orang. Hanya istrinya yang setia mendampinginya dalam kondisi seperti itu. Ia mendapatkan kekuatan. Ia bertekad untuk kembali memulai usaha-usahanya. Ia sadar bahwa ia mesti mendengarkan nasihat-nasihat sesamanya. Ia tidak ingin mengandalkan kesombongan dan keangkuhannya lagi.

Sahabat, sebab terbesar dari kegagalan manusia adalah kesombongan. Manusia yang sombong biasanya menutup telinganya terhadap berbagai nasihat dari orang lain. Orang yang sombong biasanya menganggap remeh kekuatan orang lain. Orang sombong merasa diri menguasai segala-galanya. Akibatnya ia lengah. Ia tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Ia tidak mampu melihat pesaing-pesaing baru di sekitarnya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa orang mesti memiliki suatu integritas kepribadian. Artinya, orang yang mampu menerima setiap bentuk nasihat atau kritik atas dirinya. Kritik atau saran dilihat sebagai sesuatu yang membangun diri dan kemajuan dirinya. Bukan sebagai sesuatu yang menghancurkan dirinya. Justru ketika orang menolak kritik atau saran biasanya cepat atau lambat akan menemukan kegagalan dalam hidup ini.

Kita mengenal ada istilah ilmu padi yang makin berisi makin merunduk. Artinya, orang yang memiliki sesuatu yang banyak itu mesti memiliki kerendahan hati yang lebih mendalam. Dengan kerendahan hati itu, ia dapat memberi hasil yang melimpah kepada sesamanya. Bagai padi yang bulirnya penuh berisi, ia mampu membahagiakan sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki kerendahan hati. Dalam situasi kerendahan hati itu, orang akan menemukan hidup ini menjadi lebih bermakna. Orang mudah mendengarkan sesamanya. Orang mudah menjalin bersahabatan yang tulus dengan sesamanya.

Mari kita berusaha untuk hidup bersahaja dan rendah hati. Bagi kita, hidup ini semakin bermakna ketika kita mampu mendengarkan nasihat atau kritik yang membangun dari sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1013

17 Desember 2011

Belajar dari Kegagalan untuk Meraih Sukses

Anda pernah gagal dalam hidup ini? Rasanya kita semua pernah gagal dalam hidup ini. Soalnya, bagaimana Anda menyikapi kegagalan itu? Apakah Anda terpuruk dan jatuh? Atau justru kegagalan itu menjadi alat pemacu untuk meraih kesuksesan dalam hidup?

Penyelenggaraan Piala Dunia 2010 lalu berakhir dengan gemilang. Spanyol menjadi kampiun alias juara dunia. Trofi piala dunia pun menjadi milik tim matador itu. Mereka akan mempertahankannya dua tahun mendatang di Brasil. Banyak hal yang dapat diambil hikmahnya dari ajang sepakbola sejagat itu.

Salah satu hal yang dapat diambil hikmahnya adalah kegagalan dari tim tuan rumah, Afrika Selatan. Sebagai tuan rumah, Afrika Selatan diharapkan berkiprah hingga babak final. Sayang, tim berjuluk Bafana Bafana ini hanya sampai di babak 16 besar. Mimpi mereka untuk mengangkat trofi kemenangan digagalkan oleh tim yang lebih kuat.

Meski pada pertandingan terakhir tim Afrika Selatan mengalahkan mantan juara dunia, yaitu Prancis, mereka kalah selisih gol dari tim Mexico. Untuk hal ini, sang pelatih yaitu Carlos Alberto Pareira merasa timnya tidak gagal. Justru ia melihat hal ini sebagai suatu kemajuan besar sepakbola Afrika.

“Kami kecewa karena tidak lolos, tapi saya tidak melihatnya sebagai sebuah kegagalan. Apalagi kami telah mengalahkan mantan juara dunia dan juara Eropa,” kata Carlos A Pareira.

Sahabat, dalam hidup ini kita memiliki banyak target pribadi. Kita telah punya bidikan-bidikan yang mau kita raih. Namun kadang-kadang bidakan kita itu meleset. Ada banyak hal menyebabkannya. Misalnya, kita lengah dalam menjaga sasaran bidik kita. Semestinya kita bidik dengan fokus yang tepat. Namun karena berbagai persoalan yang kita hadapi lalu bidikan kita nyasar.

Kita tentu punya rasa percaya diri yang tinggi untuk meraih target-target yang telah kita buat. Namun tidak selamanya kita berhasil. Ada yang kemudian merasa kegagalan dirinya sebagai sesuatu yang membawa kegelapan dalam hidupnya. Orang seperti ini kemudian meratapi dirinya. Orang seperti ini tidak mau menerima kenyataan dirinya. Lantas putus asa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dirinya.

Kisah kegagalan tim sepakbola Afrika Selatan tadi memberi inspirasi bagi kita untuk melihat kegagalan sebagai suatu kesempatann untuk belajar. Kita belajar membuat strategi-strategi baru untuk mengatasi kesalahan dan kekeliruan yang telah kita buat. Kita merintis kembali hal-hal yang baru untuk meraih kesuksesan dalam hidup.

Kata orang, kegagalan adalah guru yang paling baik. Soalnya adalah sering orang memandang kegagalan sebagai batu sandungan dalam hidupnya. Orang tidak mau belajar dari kegagalan itu. Kegagalan menjadi kesempatan untuk mengintrospeksi diri. Kita belajar bersyukur atas segala kebaikan yang sudah kita terima dari Tuhan.

Karena itu, orang beriman mesti memiliki kesabaran dalam hidupnya. Dengan kesabaran itu, orang beriman akan menemukan bahwa hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk melakukan hal-hal baik bagi Tuhan dan sesama.

Orang yang berhasil itu bukan orang yang targetnya tidak pernah meleset. Namun orang yang berhasil itu orang yang tidak pernah putus asa dalam menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya. “Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali” (Amsal 24:16). Artinya, orang seperti ini tidak pernah putus harapan. Ia akan terus menjalani hidupnya meski banyak tantangan dan rintangan. Mari kita berusaha melihat kegagalan dalam hidup kita sebagai kesempatan untuk melakukan hal-hal spektakuler dalam hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


844

02 Februari 2011

Lawan Kegagalan untuk Meraih Kemenangan

Setelah memenangkan pertandingan bulutangkis, seorang anak SD langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Beberapa saat kemudian ia mendekati net, menyorongkan tangannya kepada lawannya. Ia menjabat erat tangan lawannya. Sambil menatap mata lawannya, ia berkata, ”Kali ini giliran saya. Besok mungkin giliran Anda memenangi pertandingan. Jangan berhenti berlatih.”

Sang lawan terpana mendengar kata-kata itu. Ia tidak habis pikir mengapa lawannya itu masih berkata seperti itu. Bukankah dia semestinya bersorak-sorai? Bukankah dia tidak perlu menasihatinya seperti itu? Mendapat dukungan seperti itu, ia pun terus-menerus berlatih. Waktu-waktu luangnya ia gunakan untuk berlatih dan berlatih. Ternyata yang dikatakan lawannya itu benar. Orang tidak perlu terpuruk dalam kegagalan. Justru kegagalan itu mesti ditanggapi secara positif. Kegagalan bukanlah akhir dari segala-galanya.

Hasil dari latihan yang terus-menerus itu adalah ia dapat mengalahkan lawan-lawannya yang sebenarnya lebih tangguh. Meski begitu, ia tidak menyombongkan dirinya. Setelah meraih juara di suatu turnamen, ia kembali berlatih dan berlatih. Dengan demikian, ia dapat meraih sukses yang gemilang dalam hidupnya.

Sahabat, kemenangan bukan hanya ketika orang berhasil mengalahkan lawan di suatu pertandingan. Bukan pula hanya ketika orang berhasil meraih cita-cita yang diimpikannya. Namun kemenangan itu juga terjadi ketika orang mampu mengatasi egoisme dan cinta diri yang berlebihan.

Kemenangan itu dapat juga terjadi, ketika orang melawan kegagalan dalam hidupnya. Ketika mengalami kegagalan orang mulai menyusun strategi baru untuk mengatasi kegagalannya. Orang berusaha mencari dan menemukan hal-hal yang menjadi penyebab kegagalannya. Orang seperti ini orang yang mau maju dalam hidupnya. Orang yang mau bersusah payah untuk meraih cita-cita yang diimpikannya.

Sebaliknya orang yang menerima kegagalan sebagai musibah paling besar dalam hidupnya, orang itu tidak bisa bangkit dan merebut kemenangan. Orang seperti ini berhenti mencoba. Orang seperti ini berhenti mencari dan menemukan penyebab-penyebab kegagalannya. Orang seperti ini adalah orang yang mudah menyerah pada nasib. Orang yang terbelenggu oleh ketakutan demi ketakutannya.

Orang yang menang dalam hidupnya adalah orang yang mampu berjuang menghancurkan semua cobaan yang menghadang hidupnya. Orang yang berani menghadapi resiko yang akan menimpa dirinya. Namun kemenangan itu juga terjadi ketika orang berani mempercayakan hidupnya kepada Sang Pencipta. Orang seperti ini yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dirinya berjuang sendirian menghadapi berbagai godaan dan cobaan hidup.

Sebagai orang beriman, kita terus-menerus berjuang untuk meraih persatuan kita dengan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Dengan demikian, kita mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



605