Pages

15 Februari 2011

Kesetiaan Itu Kunci Melestarikan Cinta


Pada jaman dahulu hiduplah dua orang jendral besar, yaitu Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal. Sedangkan Cagular adalah kepala suku yang tersu-menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Cyrus, yang bertekad menguasai Persia.

Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia. Hal itu membuat marah Cyrus yang punya ambisi untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya. Ia mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluarganya. Mereka lalu dibawa ke ibukota kerjaaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana, tempat Cyrus duduk dengan perkasa. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia telah mendengar kegigihan Cagular mempertahankan wilayahnya.

Sambil memandang Cagular, Cyrus bertanya, “Apa yang akan kaulakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?”

“Kalau yang mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk yang mulia.”

Ia segera dibebaskan. Namun hati istrinya sangat terpukul. Ketika dalam perjalanan, sang istri sangat marah terhadap suaminya. Istrinya berkata dengan penuh kecewa, “Aku hanya mau melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku. Bukan demi Cyrus.”

Sahabat, masihkah kita butuh kesetiaan dalam hidup ini? Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita menyaksikan terjadi berbagai ketidaksetiaan. Ada pasangan suami istri yang mengingkari kasih setia mereka. Terjadi perselingkuhan di antara mereka. Seorang yang tenar seperti Tiger Woods ternyata mengingkari kasih setianya kepada sang istrinya. Ia tega berselingkuh dengan wanita-wanita lain.

Kisah sewot istri Cagular tadi mau mengatakan kepada kita bahwa dalam suatu perkawinan, kesetiaan menjadi tolok ukur kelangsungan perkawinan itu. Kalau pasangan suami istri tidak saling setia dan bersedia berkorban bagi yang lain, cinta mereka menjadi hambar. Cepat atau lambat, mereka tergerus oleh perceraian. Hal ini terjadi kalau masing-masing orang hanya mau menang sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau berkorban bagi cinta yang sejati.

Karena itu, orang beriman mesti berani berkorban bagi cinta yang lebih besar. Orang beriman mesti berani mendengarkan pasangannya. Orang beriman mesti berani mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan dirinya sendiri. Untuk itu, cinta itu mesti terus-menerus dipupuk dengan keutamaan-keutamaan seperti saling mengampuni dan menghormati. Dengan demikian, bahtera perkawinan itu tetap bertahan sampai akhir hayat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

615

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.