Pages

Tampilkan postingan dengan label hidup manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup manusia. Tampilkan semua postingan

30 April 2010

Kasih Itu Sumber Hidup Manusia

Adalah suatu rahmat Tuhan saya dapat berjumpa dengan Percy N. Khambatta, pendeta agama Zarathustra. Penampilannya yang sederhana dengan pakaian putih-putih hingga topi, menampakkan suatu kesejukan tersendiri. Bicaranya sangat sederhana. Ia selalu menatap wajah lawan bicaranya sebagai tanda hormat dan perhatian.

Meski baru pertama kali berjumpa, tidak ada rasa asing di antara kami. Padahal agama kami berbeda. Warga negara kami juga berbeda. Dia seorang warga negara Singapura yang menginjakkan kaki di kota mpek-mpek Palembang, karena tragedi jatuhnya pesawat Silk Air di Sungsang, Sumatera Selatan, 19 Desember 1997.

Kami berjumpa dalam acara peresmian monumen Silk Air untuk menghormati dan mendoakan 104 korban di pemakaman Kebun Bunga, 19 Desember 1998 silam. Saya adalah satu-satunya ulama Indonesia yang diundang untuk mendoakan arwah para korban itu. Sementara semua ulama yang lain, dari berbagai agama, berasal dari Singapura.

Saya memang buta mengenai Agama Zarathustra. Yang terlintas dalam pikiran saya cuma nama pendirinya, yaitu Zoroaster yang memulai agamanya di Iran ribuan tahun silam. Tetapi soal inti ajarannya? Saya buta! Karena itu, saya berdialog dengan Khambatta. Saya ingin tahu.

“Our religion teaches us to be good person,” kata Khambatta. Artinya, agama kami mengajar kami untuk menjadi orang baik.

Menjadi orang baik! Itulah titik tolaknya. Lantas dalam hidup sehari-hari agama Zarathustra merealisasikannya dalam good thoughts (berpikir baik), good words (berkata baik) dan good deeds (berbuat baik).

Falsafahnya sangat sederhana. Seandainya semua orang memiliki falsafah seperti itu, tentu dunia akan jadi lain. Dunia ini akan menjadi tempat manusia memanen damai, kasih, persaudaraan sejati. Bukan badai kekacauan seperti yang sudah, sedang dan akan kita alami dan kita saksikan dalam hidup kita sehari-hari. Tentu dunia ini akan selalu diwarnai oleh suasana hidup yang saling menghormati. Hak-hak asasi manusia sungguh-sungguh dihargai. Tidak perlu lagi ada diskriminasi terhadap suku, agama, dan ras atau etnis tertentu. Semua hidup dalam damai.

“Most of all, we have to love each other,” kata Khambatta. Artinya, yang terpenting adalah kita mesti saling mengasihi. Bukankah ini sungguh-sungguh indah?

Untuk merealisasikan kasih itu, Khambatta, yang mengaku sebagai pendeta part time karena jumlah umat Zarathustra di Singapura sangat sedikit (202 orang), memberi makan kepada kaum fakir miskin yang datang ke restorannya di Jalan Orchard 391, Singapura.

Kasih! Satu kata inilah yang mesti menjadi pegangan hidup setiap orang yang beriman kepada Tuhan. Kiranya setiap agama dan kepercayaan mengajarkan tentang kasih. Kasih menjadi andalan utama setiap agama dan kepercayaan. Kasih ini menjadi jimat kita orang beriman. Karena ketika orang mengingkari kasih, yang terjadi justru kegalauan. Ketika mata manusia terkatup rapat karena benci, iri hati kehancuranlah yang ditemukan. Pengampunan tidak terjadi dalam kehidupan ini kalau orang mengabaikan kasih kepada sesamanya.

St Paulus berkata, “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya.”

Apa artinya ungkapan ini bagi orang beriman? Artinya, kasih itu mesti menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Kasih itu diungkapkan dalam perbuatan nyata seperti rela mengampuni yang bersalah, tidak cemburu, ramah terhadap sesama, memberikan pertolongan kepada yang berkesusahan dan masih banyak lagi perbuatan baik lainnya. Kalau hal-hal ini terjadi dalam hidup yang nyata, dunia ini menjadi tempat yang aman untuk dihuni. Lingkungan di mana kita hidup dipenuhi dengan suasana yang menyenangkan.

Mari kita mempraktekkan kasih itu dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih bermakna bagi hidup semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

363
Bagikan

30 Agustus 2009

Cinta yang Mengubah Hidup Manusia




Pepatah mengatakan, cinta bisa mengalahkan segalanya. Hal tersebut sepertinya dihayati benar oleh Antonio Cassano yang mengaku dirinya kini telah berubah dan tak lagi bengal, gara-gara cinta.

Terkenal sebagai salah satu pesepakbola paling bengal di Italia, Cassano menunjukkan prilaku di luar dugaan banyak orang selama Piala Eropa lalu. Nyaris tak terdengar berita negatif seputar tindak-tanduk striker Sampdoria itu selama di Austria-Swiss.

Soal sikap santun yang belakangan ditunjukkan, Cassano mengaku dirinya sudah berubah. Kalau dulu sanksi dari klub dan hukuman berupa denda tak membuatnya jera, kunci untuk menjinakkan Cassano ternyata ada pada Carolina Marcialis, wanita yang dipacarinya dalam beberapa bulan terakhir.

Tentang hal ini, ia berkata, “Carolina Marcialis telah mengubah hidup saya. Saya mencintai malaikat ini. Karena dialah saya tak lagi bersikap seperti yang sudah-sudah karena saya tak ingin mengecewakan dia.”

Pada awalnya kisah cinta dua insan ini sempat mengalami hambatan. Karena status Cassano yang cuma pinjaman dari Real Madrid, kepulangan sang pemain ke Spanyol akan membuat hubungan mereka kandas.

Ia berkata, “Saya sangat bahagia. Jika saya tidak bertahan di Genoa saya pikir kisah cinta ini bisa bertahan, saya katakan ini dengan sangat hormat pada Carolina. Saya sangat takut kalau saya harus kembali ke Madrid, jadi saya menunggu mencoba menikmatinya. Sekarang saya dipastikan bertahan, saya tak bisa berbicara tentang wanita lain di kehidupan saya.”

Cinta itu kuat laksana air yang deras yang menguasai hidup manusia. Orang yang mengandalkan cinta di atas segala-galanya akan dikuasai oleh cinta itu. Namun yang dibutuhkan adalah cinta yang tulus dan murni. Bukan cinta yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Cinta yang murni itu biasanya cinta yang menumbuhkan harapan. Orang memiliki harapan yang besar untuk senantiasa bertahan dalam cinta yang murni itu. Orang juga memiliki kepastian dalam hidup ini, karena orang yang dicintai itu tidak bermain-main dengann cinta.

Cinta yang murni itu biasanya membahagiakan. Orang mengalami kebahagiaan dalam hidupnya, karena ia mendapatkan cinta dari sesamanya. Tetapi kebahagiaan itu terjadi dalam hidup seseorang, karena ia juga mampu mencintai sesamanya dengan cinta yang tulus pula.

Kisah Antonio Casano menjadi contoh bagi kita bahwa cinta itu mesti dapat mengubah hidup manusia. Cinta yang tulus dan murni itu membawa perubahan dalam hidup manusia dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk itu, orang beriman mesti selalu membuka hatinya kepada Tuhan untuk diisi oleh rahmat dan cinta Tuhan. Mari kita bertumbuh dalam cinta yang murni, agar hidup kita dapat berubah ke arah yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.151

11 Agustus 2009

Usaha Mengendalikan Diri




Suatu hari seekor anjing bernasib baik. Ia menemukan sepotong tulang penuh sumsum. Ia menggondolnya sambil mengamati ke sekeliling, jangan-jangan ada anjing lain yang ingin merebutnya.

Ia bermaksud membawa tulang itu ke taman yang tenang, supaya dapat menikmatinya dengan aman. Dalam perjalanannya, anjing itu harus menyeberangi sebuah sungai.

Ketika melewati jembatan, dia melihat bayangan dirinya di dalam air sungai yang jernih. Dia berpikir bahwa bayangan itu adalah seekor anjing lain, maka dia berhenti untuk melihat lebih teliti.

Dia perhatikan pada mulut anjing lain itu terdapat tulang lebih besar dari yang dibawanya. Amarahnya mulai muncul. Dia ingin sekali merebut tulang itu. Dia berpikir dengan menyalak keras dan buas, anjing itu akan melepaskan tulang yang digigitnya dan dia akan mendapatkannya.

Dia kemudian membuka mulutnya untuk menyalak. Ketika dia membuka mulut, tulang yang digigitnya jatuh ke dalam air. Sekarang anjing yang rakus itu melihat bahwa anjing di dalam air itu tidak membawa tulang lagi. Dia juga tidak. Dia sangat menyesal. Dia pulang ke rumahnya dengan wajah yang sedih.

Situasi seperti ini juga sering menimpa manusia. Orang ingin mengumpulkan barang-barang kebutuhan hidupnya sebanyak-banyaknya. Sampai-sampai lupa bahwa sudah ada sesuatu yang sangat berharga di tangannya yang mesti dipertahankan. Orang terus mencari dan mengumpulkan. Padahal tangannya sudah penuh dengan barang-barang kebutuhan hidupnya.

Ada pepatah yang berbunyi, “Ayam di tangan dilepaskan demi mendapatkan ayam yang masih di halaman rumah”. Hal yang lebih berharga itu tidak dijaga dengan baik. Bahkan dilepaskan untuk sesuatu yang tidak berharga. Ada seorang anak yang selalu menuntut orangtuanya untuk membelikan baju baru setiap bulan. Ia sudah punya baju yang harganya sangat mahal. Tetapi ia ingin baju yang baru lagi. Baju yang mahal ia lepaskan. Ia buang. Padahal baju itu sangat baik dan masih sangat layak dipakai. Orangtuanya mesti memenuhi kebutuhannya. Ia mengancam mereka, kalau tidak dibelikan baju yang baru. Ketika orangtuanya tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhannya, anak itu benar-benar melaksanakan ancamannya. Ia gantung diri. Berakhirlah hidupnya yang sebenarnya masih panjang itu.

Ini contoh kerakusan yang membawa bencana bagi hidup manusia. Kerakusan itu ternyata dapat membuat hidup ini menjadi tragis. Padahal kita semestinya mempertahankan hidup ini. Hidup ini lebih berharga dari apa pun yang kita miliki. Hidup ini memiliki nilai yang sangat luhur, karena merupakan pemberian dari Tuhan sendiri.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita ditandai oleh usaha-usaha untuk menumbuhkan penghargaan terhadap hidup manusia. Kita ingin kritis dalam menilai apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari. Kita ingin agar kerakusan tidak menguasai hidup kita. Justru kita ingin agar kita menguasai diri kita. Dengan demikian kita dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




127