Pages

Tampilkan postingan dengan label rendah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rendah hati. Tampilkan semua postingan

15 Februari 2013

Memupuk Sikap Rendah Hati dalam Hidup


Tentu Anda yakin bahwa Tuhan sangat menyukai orang yang sungguh rendah hati. Mengapa? Karena orang yang rendah hati mampu melihat kebutuhan sesamanya.

Booker T. Washington, seorang pendidik berkulit hitam yang terkenal. Ketika ia menjadi pimpinan pada Institut Tuskegee di Alabama, Amerika Serikat, ia senang berjalan-jalan di pinggir kota. Suatu hari ia dihentikan oleh seorang wanita kaya berkulit putih. Karena tak mengenal Washington, maka ia menawarkan apakah laki-laki kulit hitam itu mau ia beri upah dengan memotongkan kayu untuknya.

Setelah mengingat bahwa tak ada urusan mendesak pada saat itu, maka Profesor Washington menyatakan kesediaannya. Ia tersenyum. Ia menggulung lengan bajunya dan mulai mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta wanita itu. Kemudian ia membawa kayu-kayu itu ke dalam rumah dan meletakkannya di dekat perapian.

Seorang gadis kecil yang mengenalnya, kemudian mengatakan kepada wanita itu siapa Pak Washington sebenarnya. Keesokkan harinya, wanita tadi dengan perasaan malu datang ke kantor Washington untuk meminta maaf. Ia merasa sudah melecehkan seseorang yang sangat dihormati itu.

Washington tersenyum menyaksikan perilaku wanita kaya itu. Lantas ia berkata, ”Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sangat senang dapat menolong Anda.”

Wanita kaya itu dengan hangat menjabat tangan Washington. Ia memuji apa yangg telah ditunjukkan oleh Washington bagi dirinya. Ia berkata, ”Sikapmu yang terpuji itu tertanam dalam hatimu.”

Tidak lama kemudian, wanita kaya itu menyatakan penghormatannya dengan menyumbang beribu-ribu dolar untuk Institut Tuskegee.

Sahabat, banyak orang mengalami kesulitan untuk menjadi orang yang rendah hati. Lebih mudah orang mengagung-agungkan dirinya. Lebih mudah orang membusungkan dadanya daripada harus dengan rendah hati mau melayani sesamanya. Orang merasa bahwa dirinya mempunyai gengsi yang begitu tinggi.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa kerendahan hati itu mendatangkan buah-buah kebaikan bagi kehidupan. Kerendahan hati itu menumbuhkan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan. Kerendahan hati tidak membuat seseorang terpuruk dalam hidupnya. Justru orang mempraktekan ajaran agamanya dengan mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan.

Karena itu, yang dibutuhkan dari orang-orang yang hidup di zaman sekarang ini adalah memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu tanpa pamrih. Banyak orang melakukan suatu pekerjaan karena terpaksa. Orang tidak sampai pada usaha untuk mencintai apa yang dikerjakannya. Nah, sering orang terjebak dalam situasi seperti ini. Akibatnya, mereka gagal dalam banyak hal.

Mari kita berusaha untuk senantiasa rendah hati. Dengan demikian, kita mampu melakukan hal-hal yang spektakuler dengan penuh kasih. Kita lakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama dengan tanpa pamrih. ”…barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan,” kata Yesus (Matius 23:12). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


947

12 Oktober 2010

Memelihara Kebahagiaan dengan Sikap Rendah Hati

Seorang gadis bangga luar biasa atas prestasi yang diraihnya. Betapa tidak? Ia menjadi murid yang menempati rangking satu di kelas bahkan di sekolahnya. Begitu bangganya, ia mentraktrik teman-teman kelasnya. Ia membawa mereka ke sebuah rumah makan yang mahal. Kelas tinggi. Ia tidak peduli atas berapa uang yang akan dikeluarkannya untuk makan siang itu. Yang penting baginya adalah ia senang dan teman-temannya pun senang. Ia dapat membahagiakan diri dan teman-temannya.

Soalnya adalah sepuluh orang teman yang dibawanya itu makan sebanyak-banyaknya. Bagi mereka, itulah kesempatan yang sangat berharga. Apalagi mereka tidak perlu keluar uang untuk makan siang itu. Mereka makan sepuas-puasnya. Mereka berusaha untuk menyenangkan hati gadis itu.

Ketika selesai makan, tagihan sangat banyak. Lebih dari yang diperkirakan gadis itu. Ia menjadi sedih. Ia dapat membayarnya siang itu, karena hari itu ia membawa banyak uang. Hatinya tidak damai. Kesenangan sesaat yang ia peroleh. Ia menjadi kecewa terhadap teman-temannya, meskipun ia tidak mengungkapkan kekecewaannya itu.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh kemurungan. Ia kehabisan uang untuk jajan dan membeli kebutuhan-kebutuhan lainnya. Ia mau meminta kepada orangtuanya, ia takut kalau mereka tahu bahwa ia sudah mentraktir teman-temannya. Ia tidak berani. Ia merasa sangat bersalah atas perbuatannya. Sejak itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak foya-foya.

Sahabat, hidup ini penuh dengan mimpi-mimpi. Orang bermimpi untuk dipuja-puji atas keberhasilannya meraih sesuatu yang tinggi. Orang bermimpi untuk menggapai bulan dalam sehari. Orang bermimpi melintasi api yang sedang bernyala-nyala. Namun semua mimpi itu hanya meninggalkan kekecewaan demi kekecewaan. Ternyata mimpi-mimpi itu tidak menjadi kenyataan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa suatu kebahagiaan yang dapat bertahan itu kebahagiaan yang tidak semu. Suatu kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Suatu kebahagiaan yang mengalir dari hati yang terdalam. Bukan suatu kebahagiaan yang sementara saja sifatnya.

Tentu saja kebahagiaan yangg bertahan lama itu tidak harus digembar-gemborkan. Suatu kebahagiaan yang menukik ke dalam diri sendiri. Suatu kebahagiaan yang senantiasa direfleksikan terus-menerus dalam perjalanan hidup manusia. Untuk itu, mengobral kebahagiaan hanyalah suatu tindakan yang merugikan diri sendiri. Suatu tindakan yang hanya membiarkan diri dikuasai oleh kekecewaan demi kekecewaan.

Karena itu, apa yang mesti kita buat untuk mempertahankan kebahagiaan itu? Kita mesti tetap rendah hati. Kita mesti rela untuk menemukan hidup kita dalam keadaan apa adanya. Tidak berubah menjadi suatu pribadi yang megah dan aneh. Tentu saja merendahkan diri kita di hadapan Tuhan dan sesama itu tidak mudah. Namun kalau kita memiliki sikap syukur yang terus-menerus, kita akan menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh bahagia dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


523

21 Januari 2010

Bertumbuh dalam Kerendahan Hati


Ada seorang bernama John Bunyan. Ia anak seorang tukang patri yang miskin. Dari hari ke hari hidupnya ia rasakan tidak maju-maju. Ia bosan hidup dalam kemiskinan itu. Karena itu, ia berpikir bahwa percuma ia hidup dalam keadaan seperti itu. Ia ingin hidupnya menjadi lebih bermakna bagi dirinya dan sesamanya. Ia ingin berguna bagi banyak orang.

Karena itu, ia bertekad untuk menerima Tuhan dalam hidupnya. Caranya adalah dengan menyerahkan seluruh kemampuannya kepada Tuhan. Apa yang ia miliki itu ingin ia berikan kepada Tuhan. Ia menyerahkan kemiskinannya, kebodohan dan kelemahannya. Ia membiarkan Tuhan bekerja atas dirinya. Hasilnya, sangat ajaib. Rupanya Tuhan menggunakan John Bunyan yang miskin itu untuk menyelamatkan begitu banyak orang. John Bunyan menjadi pelayan Tuhan yang luar biasa. Orang yang biasa-biasa saja itu menjadi luar biasa dalam melayani Tuhan.

Rahasia keberhasilan John Bunyan ternyata terletak pada kerendahan hatinya. Menurut John Bunyan, kerendahan hati itu seperti sebuah lembah. Lembah itu biasanya terletak di bagian paling bawah dan pada bagian itu tanahnya subur, pohonnya banyak dan buahnya lebat. Karena itu, orang mesti bertumbuh dalam kerendahan hati. Ia akan menghasilkan banyak buah, kalau ia memiliki kerendahan hati.

Sering orang merasa diri hebat. Orang merasa bahwa dia dapat melakukan apa saja tanpa bantuan orang lain. Karena itu, ia akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan gengsi dan kesombongan dirinya. Orang merasa bahwa dengan kekuatannya sendiri ia dapat melakukan segala sesuatu.

Tentu saja pandangan seperti ini sangat keliru. Manusia itu makhluk yang serba terbatas. Manusia itu tidak bisa melakukan banyak hal, kalau orang lain tidak membantu. Manusia itu makhluk yang selalu tergantung kepada yang lain.

Karena itu, tindakan yang diambil oleh John Bunyan dalam kisah tadi sangat tepat. Ia merasa diri tidak mampu melakukan banyak hal untuk keluar dari kemiskinannya. Untuk itu, ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia mempercayakan seluruh hidupnya ke dalam kuat kuasa Tuhan. Ia yakin, Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu akan membantu hidupnya. Tuhan akan selalu peduli terhadap dirinya. Yang penting adalah ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan tanpa banyak persyaratan.

Sebagai orang beriman, kita mesti mendahulukan kerendahan hati di atas segala-galanya. Untuk itu, butuh suatu kesadaran yang mendalam bahwa kita ini manusia yang lemah dan tak berdaya tanpa bantuan dari Tuhan. Kita ini hanyalah makhluk yang terbatas yang dapat melakukan sesuatu yang ajaib, kalau Tuhan senantiasa memberi kekuatan kepada kita.

Karena itu, mari kita menanggalkan segala gengsi dan kesombongan diri yang berlebihan. Kita mesti berani untuk mengulurkan tangan kita meminta bantuan dari sesama kita. Kita mesti senantiasa berserah diri kepada Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

304

Bagikan

26 Juli 2009

Menjadikan Cinta Berbuah




Aktris Hollywood Kate Hudson mengakui dirinya sangat benci dengan tipe orang yang membosankan. Boleh berbuat apa saja asal jangan bersikap membosankan di depannya.

Kata Hudson, ”Saya pernah langsung meninggalkan kencan saya bahkan sebelum kami memesan makanan gara-gara orang itu pasang wajah yang membosankan. Itu seperti menyuruh saya cepat pergi.”

Menurut aktris ini, jika seseorang ingin menjalin hubungan serius, buatlah kesan yang baik bagi orang lain dan jangan sampai terlihat bosan.

”Kalau saya, tipe orang yang sangat menghargai sesuatu yang lucu atau sesuatu yang berbeda,” kata aktris yang membintangi film komedi My Best Friend’s Girl ini.

Kata perempuan kelahiran 19 April 1979 di Los Angeles, California, AS, ini, “Jika ada kebosanan melanda, tempat memulihkannya justru dengan pulang ke rumah. Bertemu keluarga, anak dan teman-teman. Hal seperti itu membuat saya nyaman dan hidup saya terasa seimbang.”

Menghargai sesama merupakan tugas kita semua. Mengapa? Karena setiap orang memiliki keinginan yang sama, yaitu diterima dan dihargai. Kalau seseorang merasa diterima dan dihargai, ia akan merasa betah untuk tinggal. Ia tidak perlu melarikan diri ke tempat yang membahayakan dirinya.

Kalau dalam sebuah keluarga pasangan suami istri saling menerima dan menghargai, keluarga itu akan harmonis. Tidak ada yang merasa disingkirkan. Tidak ada yang merasa tidak berarti dalam hidup berkeluarga. Ada suasana sehati dan sejiwa.

Orang yang kurang peduli terhadap sesamanya itu sebenarnya orang yang kurang rendah hati. Orang yang selalu mendasarkan dirinya pada egoismenya. Orang yang egois itu orang yang mau menarik perhatian hanya untuk dirinya sendiri. Banyak tuntutan yang diberikan kepada orang lain. Tetapi terhadap dirinya sendiri ia tidak mau dituntut.

Orang yang egois itu biasanya orang yang kurang mau berkorban bagi hidup orang lain. Orang seperti ini biasanya kurang mencintai dan menyayangi sesamanya. Cinta itu hanya ia arahkan untuk dirinya sendiri. Cinta seperti ini biasanya cinta yang mandul. Cinta yang tidak berbuah banyak bagi kehidupan banyak orang.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita ingin memiliki sikap menerima dan menghargai sesama. Hanya dengan cara ini kita mampu mengungkapkan cinta dan kasih sayang kita kepada orang lain. Cinta kita akan berbuah berlimpah bagi kehidupan banyak orang.

Mari kita berusaha untuk selalu menciptakan suasana yang baik untuk bertumbuh dan berbuahnya cinta kasih dalam hidup kita. Dengan demikian kita dapat menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (100)