Pages

Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan

01 September 2014

Melakukan Pekerjaan dengan Hati yang Tulus



Ketika melakukan suatu pekerjaan, apa yang Anda pikirkan? Saya yakin, Anda berpikir akan seberapa besar keuntungan yang akan Anda raih dari pekerjaan itu.

Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika Serikat) dengan cucu lelakinya yang masih muda. Setiap pagi kakek itu bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya. Ia mencoba untuk menirunya dengan cara apapun semampunya.

Suatu hari sang cucu bertanya, "Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan, tetapi aku tidak memahaminya. Apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?"

Dengan tenang, sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjangnya, ia menjawab, "Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."

Sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek. Tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek itu tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi."

Ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi. Akhirnya sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

Sang kakek berkata, "Aku tidak mau ember itu. Aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup."

Lantas sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucunya itu. Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil. Tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekali pun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air dari dalam sungai. Ia berlari sekuat tenaga menghampiri kakeknya. Tetapi ketika ia sampai di depan kakeknya, keranjang itu sudah kosong lagi.

Sambil terengah-engah, ia berkata, "Lihat Kek, percuma!"

Kata kakeknya, "Jadi kamu pikir percuma? Lihatlah keranjangnya.”

Sang cucu menurut. Ia melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM.”

Sahabat, manusia sering menghitung untung rugi dalam mengerjakan sesuatu. Kalau suatu pekerjaan itu menguntungkan secara materi, orang akan meneruskannya. Orang akan dengan senang hati mengerjakannya. Namun kalau tidak mendapatkan keuntungan secara materi, serta merta orang meninggalkannya.

Kisah tadi memberi kita inspirasi untuk melakukan suatu pekerjaan tanpa menghitung untung rugi secara materi. Ternyata yang kita kerjakan itu memiliki manfaat yang besar. Keranjang arang yang kotor itu kemudian menjadi bersih. Dengan demikian, keranjang arang itu menjadi indah dipandang mata.

Orang beriman mesti melakukan suatu pekerjaan dengan hati yang tulus. Apalagi yang dikerjakan itu demi suatu tindakan kasih bagi sesamanya. Untuk itu, orang mesti mengingat kebaikan Tuhan atas dirinya. Tuhan senantiasa memberikan rahmat demi rahmat yang gratis bagi manusia. Tuhan tidak pernah menghitung untung atau rugi saat menciptakan manusia. Bagi Tuhan, yang penting adalah manusia mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya.

Mari kita melakukan hal-hal yang baik dengan hati yang tulus. Dengan demikian, kita dapat mengalami damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1147

31 Maret 2011

Membangun Rasa Cinta terhadap Pekerjaan


Ada seorang karyawan yang selalu mengeluh tentang pekerjaannya. Berbagai alasan ia lontarkan terhadap pekerjaan itu. Ia tidak peduli terhadap waktu yang telah ditentukan oleh pimpinannya untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Akibatnya, penyelesaiaan pekerjaannya itu selalu tertunda-tunda. Ia selalu mengelak dengan berbagai alasan tentang tertundanya pekerjaannya itu.

Pimpinannya menjadi tidak senang terhadap karyawan tersebut. Ia memberinya peringatan keras terhadapnya. Menyadari peringatan itu, karyawan tersebut mencari teman yang dapat ia ajak untuk menyelesaikan persoalannya. Temannya itu memintanya untuk bertanya diri, apakah sesungguhnya ia mencintai pekerjaannya.

Setelah beberapa waktu merefleksikan pertanyaan itu, karyawan itu memutuskan untuk berhenti bekerja. Alasannya adalah ia tidak menyukai pekerjaan itu. Ia merasa terpaksa dalam melaksanakan pekerjaannya itu. Karena itu, lebih baik ia berhenti bekerja daripada tidak menemukan kebahagiaan di dalam pekerjaan itu. Beberapa waktu kemudian ia menemukan pekerjaan yang ia sukai. Ia mengalami sukacita dan bahagia melaksanakan pekerjaan itu. Melalui pekerjaan itu, ia dapat menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.

Sahabat, suatu pekerjaan itu bukan saja asal dikerjakan. Orang membutuhkan suatu cinta yang mendalam terhadap pekerjaan itu. Orang yang tidak memiliki cinta yang mendalam terhadap pekerjaan itu akan selalu menggerutu ketika mengerjakan sesuatu. Orang akan merasa bahwa apa yang sedang dikerjakan bukanlah panggilan hidupnya. Karena itu, orang ingin segera meninggalkan pekerjaannya dengan berbagai alasan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa seorang karyawan tidak asal menyelesaikan tugasnya. Ia mesti sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya. Karyawan itu berhasil keluar dari pekerjaan yang tidak dicintainya itu karena ia mampu merefleksikan kembali makna kerja bagi hidupnya. Setelah ia menemukan pekerjaan yang sungguh-sungguh ia cintai barulah ia dapat sungguh-sungguh menemukan jati dirinya.

Yang sering dilupakan orang dalam mengerjakan suatu pekerjaan adalah semangat yang mesti menjadi bagian dari hidupnya. Semangat untuk belajar terus-menerus menjadi suatu dasar bagi seseorang untuk semakin mencintai pekerjaannya. Untuk itu, orang mesti membangun semangat itu dari dalam dirinya sendiri. Orang mesti mampu berefleksi atas pilihan pekerjaannya. Dengan demikian, orang dapat memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap pekerjaannya.

Di dalam pekerjaan orang dapat menemukan Tuhan yang baik yang senantiasa membimbing seseorang untuk mencintai pekerjaannya. Karena itu, orang mesti sadar bahwa apa yang dilakukannya bukan sekedar melakukan suatu pekerjaan. Orang mesti memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap pekerjaannya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

645