Pages

Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

17 Maret 2016

Hati yang Mudah Tergerak oleh Kasih

 
Manusia sering mengalami kebuntuan dalam hidupnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena hati manusia menjadi keras seperti batu. Karena itu, manusia mesti memiliki hati yang mudah tergerak oleh situasi di sekitarnya.

Ada sebuah batu besar yang berada di tengah-tengah sebidang ladang. Batu itu sangat keras. Sang petani yang empunya ladang sampai putus asa ketika hendak memecahkan batu itu. Berkali-kali ia berusaha untuk memecahkannya, tetapi ia tidak berhasil. Bahkan lengannya hampir putus saat memecah batu.

Suatu ketika ia membakar batu itu. Namun api hanya menjilat-jilat. Api tidak mampu menghanguskan batu itu. Api tidak mampu membuat batu itu menjadi lembut. Batu besar itu tetap keras. Bahkan batu itu menertawakan sang pembakar.

Batu itu berkata, “Kamu hanya menghabiskan tenagamu saja. Saya ini sangat keras. Jadi lebih baik, kamu biarkan saja saya seperti ini. Saya juga tidak akan mengganggu kegiatanmu.”

Petani itu tidak mau mengalah. Ia tidak mau mendengarkan omongan sombong dari sang batu. Ia berkata, “Saya akan tetap berusaha untuk menghancurkanmu. Saya tidak akan pernah membiarkan kamu menjadi penghalang bagi kebun saya ini.”

Petani itu terus-menerus berusaha untuk menghancurkan batu besar yang keras itu. Berbagai usaha ia lakukan, namun sia-sia belaka. Batu itu tetap berdiri kokoh. Ia tidak dapat dihancurkan.



Jangan Punya Hati Yang Keras

Sering dalam hidup ini kita menjumpai orang-orang memiliki hati yang keras seperti batu. Orang-orang seperti ini sulit ditaklukan. Kemauan mereka sangat keras. Apa saja yang mereka inginkan akan mereka laksanakan dengan ketat dan penuh konsekuen. Tidak ada dalam diri mereka untuk gagal. Kalau sampai gagal, mereka akan bangkit lagi. Mereka tidak mudah patah semangat.

Kisah di atas memberi kita kesempatan untuk merenungkan tentang ketegaran hati. Hati yang tegar sering menguatkan seseorang dalam memperjuangkan hidupnya. Hati yang keras seperti batu sering membuat orang cuek terhadap situasi di sekitarnya. Orang yang punya hati yang keras seperti batu tidak peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

Orang yang memiliki hati seperti batu akan membuat perasaannya semakin keras. Orang seperti ini tidak mengizinkan kasih masuk ke dalam dirinya. Orang yang memiliki hati seperti ini akan cenderung lebih mudah untuk melukai perasaan orang lain.

Tentu saja orang beriman tidak ingin memiliki hati yang keras seperti batu. Sebaliknya, orang beriman mesti memiliki hati yang lembut. Hati yang mudah tergerak oleh kondisi hidup sesamanya. Orang beriman selalu menyediakan hatinya bagi bertakhtanya kasih bagi dirinya dan sesamanya. Untuk itu, orang mesti melepaskan hatinya yang keras seperti batu itu.

Mari kita tidak membiarkan hati yang keras seperti batu menguasai diri kita. dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan bagi kita untuk peduli terhadap hidup sesama kita. kasih dan kesetiaan senantiasa menjadi andalan bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

1189

01 September 2014

Melakukan Pekerjaan dengan Hati yang Tulus



Ketika melakukan suatu pekerjaan, apa yang Anda pikirkan? Saya yakin, Anda berpikir akan seberapa besar keuntungan yang akan Anda raih dari pekerjaan itu.

Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika Serikat) dengan cucu lelakinya yang masih muda. Setiap pagi kakek itu bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya. Ia mencoba untuk menirunya dengan cara apapun semampunya.

Suatu hari sang cucu bertanya, "Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan, tetapi aku tidak memahaminya. Apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?"

Dengan tenang, sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjangnya, ia menjawab, "Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."

Sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek. Tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek itu tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi."

Ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi. Akhirnya sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

Sang kakek berkata, "Aku tidak mau ember itu. Aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup."

Lantas sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucunya itu. Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil. Tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekali pun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air dari dalam sungai. Ia berlari sekuat tenaga menghampiri kakeknya. Tetapi ketika ia sampai di depan kakeknya, keranjang itu sudah kosong lagi.

Sambil terengah-engah, ia berkata, "Lihat Kek, percuma!"

Kata kakeknya, "Jadi kamu pikir percuma? Lihatlah keranjangnya.”

Sang cucu menurut. Ia melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM.”

Sahabat, manusia sering menghitung untung rugi dalam mengerjakan sesuatu. Kalau suatu pekerjaan itu menguntungkan secara materi, orang akan meneruskannya. Orang akan dengan senang hati mengerjakannya. Namun kalau tidak mendapatkan keuntungan secara materi, serta merta orang meninggalkannya.

Kisah tadi memberi kita inspirasi untuk melakukan suatu pekerjaan tanpa menghitung untung rugi secara materi. Ternyata yang kita kerjakan itu memiliki manfaat yang besar. Keranjang arang yang kotor itu kemudian menjadi bersih. Dengan demikian, keranjang arang itu menjadi indah dipandang mata.

Orang beriman mesti melakukan suatu pekerjaan dengan hati yang tulus. Apalagi yang dikerjakan itu demi suatu tindakan kasih bagi sesamanya. Untuk itu, orang mesti mengingat kebaikan Tuhan atas dirinya. Tuhan senantiasa memberikan rahmat demi rahmat yang gratis bagi manusia. Tuhan tidak pernah menghitung untung atau rugi saat menciptakan manusia. Bagi Tuhan, yang penting adalah manusia mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya.

Mari kita melakukan hal-hal yang baik dengan hati yang tulus. Dengan demikian, kita dapat mengalami damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1147

02 Juli 2014

Hati yang Tergerak oleh Penderitaan Sesama

 
Apa yang akan Anda lakukan terhadap sesama Anda yang kurang beruntung dalam hidup ini? Anda biarkan saja? Atau Anda tergerak hati untuk menolongnya?

Andras Peto menyaksikan sendiri banyak anak yang mengalami kerusakan otak usai Perang Dunia II. Ia tidak tinggal diam. Sebagai seorang dokter, ia tergerak hatinya untuk membantu sesamanya. Ia mendirikan sebuah pusat pelatihan untuk merehabilitasi otak anak-anak yang rusak. Namun ia juga memberikan pendidikan bagi anak-anak.

Ia yakin, otak anak-anak yang rusak itu seperti suka lupa, sensori dan motorik serta ketrampilan berbahasa yang rusak akan dibangun kembali. Hal itu dapat terjadi melalui latihan yang keras.

Sekarang ini, sekitar 1500 anak mengikuti pelatihan di Institut Peto di Budapest, Hungaria. Andras Peto sendiri telah meninggal dunia pada 11 September 1967, namun karyanya tetap dilestarikan hingga kini. Anak-anak yang mengalami kerusakan otak yang mendapatkan perawatan ketika berusia enam bulan hingga empat tahun akan mengalami kesembuhan. Mereka bisa masuk ke tingkat pendidikan sekolah dasar dengan normal.

Apa yang telah dimulai oleh Andras Peto tidak sia-sia. Ia membantu banyak orang untuk keluar dari persoalan hidup mereka. Tentu saja ini sebuah karya kemanusiaan yang sangat membantu banyak orang dalam kehidupan ini.

Sahabat, suatu kepekaan terhadap sesama yang menderita menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun kepekaan itu mesti disertai dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan ini. Mengapa? Karena suatu karya tanpa cinta yang mendalam hanyalah sebuah karya sosial biasa saja. Ketika ada rintangan yang menghadang, orang akan meninggalkan karya itu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa usaha Andras Peto menjadi sungguh-sungguh bermakna, ketika ia melakukannya dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan. Ia tidak sekedar membantu anak-anak yang mengalami kerusakan otak. Tetapi dengan cinta yang mendalam, ia ingin membantu generasi muda untuk menghadapi kehidupan yang lebih baik. Tentu saja ada banyak tantangan yang mesti ia hadapi. Namun ia mampu melewati segala tantangan itu.

Dalam kehidupan kita di zaman modern ini, kita juga berhadapan dengan kepedihan-kepedihan. Ada banyak sesama kita yang kurang beruntung dalam hidup mereka. Ada berbagai sebab. Namun yang pasti, kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan hal-hal baik dengan penuh kasih. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Mereka mesti mendapatkan perhatian dan kasih yang mendalam.

Bagi orang beriman, membantu sesama yang berkekurangan merupakan bagian dari penghayatan iman. Iman tidak hanya ada di dalam pikiran atau hati saja. Iman mesti tampak dalam kehidupan sehari-hari. Iman mesti tumbuh dalam proses hidup manusia. Untuk itu, kita mesti melaksanakan iman dalam kehidupan yang nyata, meskipun banyak rintangan yang kita hadapi dalam kehidupan ini.

Mari kita berusaha untuk melaksanakan iman kita dengan membangun kepedulian terhadap sesama yang menderita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1115

14 Juni 2014

Mengasah Pikiran dan Hati Kita

 
Apa yang terjadi ketika pikiran dan hati Anda tidak pernah Anda asah? Saya yakin, pikiran dan hati Anda akan menjadi tumpul. Tidak menghasilkan hal-hal yang berguna bagi hidup Anda dan sesama Anda.

Bermula dari rasa risih karena rak sepatunya yang sudah penuh, Fitri Ainun Nazara menciptakan sepatu 3 in 1. Gadis berusia 15 tahun ini menjadikan 3 model sepatu dalam satu sepatu. Unik, bukan?

"Rak sepatu sudah penuh karena aku punya banyak sepatu. Lalu, aku mikir bagaimana caranya mereka bisa jadi satu," kata Fitri Ainun Nazara.

Sepatu karya Fitri ini menjadi salah satu finalis Young Inventor Award 2013 yang digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ajang pameran penemu muda Indonesia ini digelar 14 hingga 15 November 2013. LIPI setiap tahunnya membuat acara ini untuk menemukan para penemu muda untuk kemudian diikutsertakan di ajang penemu internasional. Selain kategori temuan, ada juga karya ilmiah untuk siswa dan guru.

Tiga model sepatu yang bisa dimiliki dalam sepatu ini yakni selop, sepatu kasual dan wedges. Untuk menggunakan model selop, bagian belakang sepatu berbahan kanvas ini bisa dilepas karena dihubungkan dengan kancing yang juga memberi aksen trendy.

Sedangkan jika ingin menggunakan model wedges, sepatu ini memiliki hak yang bisa dipasang atau dilepas. Tak perlu khawatir terlepas, karena Fitri memilih perekat velcro yang kuat.

"Nggak akan lepas soalnya kalau dipakai jalan malah tambah lengket. Sudah aku pakai buat supporteran yang loncat-loncat kok dan nggak lepas," tutur Fitri Ainun Nazara

Proses desain dan produksi sepatu 3in1 ini hanya memakan waktu selama 10 hari. Siswi kelas X SMAN 6 Yogyakarta ini merancang sendiri model sepatu ini. Kemudian ia menyerahkan pengerjaannya kepada tukang pembuat sepatu.

Biaya yang dikeluarkannya untuk satu sepatu adalah Rp 350 ribu. Gadis, yang lahir di Purwakarta, ini juga mengaku dirinya belum berpikir untuk mematenkan hasil karyanya.

"Kalau dijual sih aku belum tahu ya bakal harga berapa, soalnya nanti aku pingin buat yang modelnya lebih cantik lagi," katanya. (Detik.com - 30/11/2013).

Sahabat, sering banyak orang bingung terhadap apa-apa saja yang dimilikinya. Mau buat apa dengan itu semua. Karena saking sayangnya, orang membiarkannya meski kemudian yang menjadi teman barang-barang itu adalah debu. Orang tidak mau membuangnya, karena merasa bahwa barang-barang itu sangat berharga. Orang juga tidak mau memberikannya kepada orang lain, karena tidak ingin disalahgunakan.

Kisah Fitri di atas sangat menarik bagi kita. Ia tidak ingin sepatu-sepatunya itu terlantar. Ia tidak ingin sepatu-sepatunya itu dibiarkan begitu saja. Karena itu, ia punya ide untuk membuat model sepatu 3in one. Suatu kreasi yang luar biasa bagi seorang anak remaja di zaman sekarang ini. Penemuannya memberi inspirasi bagi banyak orang untuk menyelamatkan sepatu-sepatu yang dimilikinya.

Orang beriman itu mesti kreatif. Ini tidak bisa ditawar-tawar. Kalau orang beriman hanya duduk-duduk saja, orang akan mengalami stagnan dalam hidup ini. Kreativitas itu seperti batu asah. Ketika orang menggunakannya dengan baik, batu asah itu membuat tajam pisau atau golok.

Pikiran dan hati kita juga begitu. Ketika kita gunakan dengan baik dan terus-menerus, pikiran dan hati itu membuat hidup kita semakin baik. Kita menjadi semakin trampil dalam hidup kita, karena kita mampu menggunakan pikiran dan hati kita dengan baik dan benar.

Mari kita asah pikiran dan hati kita. Dengan demikian, kita dapat menghasilkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1106

22 November 2011

Mendidik Hati yang Mudah Tersentuh

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan sesama Anda yang sedang menderita? Anda tergerak hati oleh belas kasihan? Atau Anda biarkan saja, karena Anda tidak punya hubungan apa-apa dengannya?

Remaja bernama Bagas Yanuarsa (13) ini benar-benar berhati besar. Di tengah teman seusianya yang sibuk bermain dan belajar, dia justru rela menghabiskan waktunya untuk merawat ibunda tercinta, Muniroh (32), yang mengidap penyakit scleroderma.

Scleroderma adalah penyakit yang konon disebut manusia kayu. Akibat penyakit yang dideritanya ini, Muniroh tidak mampu melakukan aktivitas layaknya ibu rumah tangga normal. Muniroh sudah 4 tahun mengidap penyakit ini.

Mereka sekeluarga tinggal di Dusun Gales, Desa Sideroje, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bersama sang adik bernama Rizal Dwi Ananto (4), Bagas mau tidak mau harus menggantikan pekerjaan ibunya yang hanya bisa duduk dan berbaring.

Sebelum berangkat ke sekolah, biasanya Bagas dan Rizal harus mencuci piring, memasak bahkan mencuci pakaian. Sementara sang suami, Supriyanto (36), bekerja sebagai tenaga honorer di Pusat Pengembangan dan Permberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Seni Budaya Yogyakarta, jarang pulang mengingat jarak Yogya dan Magelang yang cukup jauh.

"Suami saya pulang kadang tiga hari sampai lima hari sekali. Jadi selama ini hanya anak saya yang mengurus saya. Saya merasa kasihan dengan anak saya yang tidak bisa bermain bersama anak-anak lain," kata Muniroh.

Bagi Bagas, apa yang dia lakukan saat ini ikhlas untuk ibu tercintanya. Bagas menganggap tugas-tugas ini bagian dari kewajibannya sebagai anak. Meski dia tidak menampik masa kecilnya tidak seindah teman-temannya.

"Saya rela melakukan ini semua. Mau bagaimana lagi, ibu sudah seperti itu. Saya yang merawat ibu, menggantikan baju, memandikan ibu. Semua itu saya lakukan hanya untuk ibu saya tercinta," kata Bagas.

Sahabat, kisah-kisah kemanusiaan yang menyayat hati selalu terjadi dalam perjalanan hidup manusia. Ada kisah-kisah heroik yang membuat kita berdecak kagum. Ada kisah-kisah kasih yang mendorong kita untuk membuka hati kita bagi sesama. Ada pula kisah-kisah pengorbanan yang memberi kita motivasi untuk mengulurkan tangan kita bagi sesama yang sedang menderita.

Kisah Bagas memilukan hati kita. Kita tersentuh oleh pengorbanan yang dilakukan oleh sang anak bagi sang ibu tercinta. Namun kisah pengorbanan Bagas memberi kita suatu semangat untuk berani meninggalkan egoisme kita. Kita mesti berani rela kehilangan hal-hal yang menyenangkan hati kita. Kita rela memberi perhatian bagi orang-orang yang kita cinta dengan hati yang tulus.

Bagas melakukan hal ini dengan mulus. Ia tidak perlu berkata kepada ibunya, “I love you mama.” Tetapi ia menunjukkan dalam perbuatan bahwa ia sangat mencintai sang mama tercinta.

Apa yang mesti kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita yang mengalami duka nestapa dalam hidup ini? Kita biarkan saja mereka terjerembab dalam penderitaan mereka? Atau kita menyingsingkan lengan baju kita untuk membantu mereka agar lepas dari penderitaan?

Orang beriman tentu mudah tersentuh hatinya oleh penderitaan sesamanya. Karena itu, mari kita mengorbankan hidup kita bagi sesama yang sedang menderita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin damai dan indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


827

09 April 2011

Hati yang Mudah Tergerak oleh Penderitaan


Gempa bumi yang meluluhlantakkan Haiti ternyata mengundang perhatian banyak pihak. Salah seorang yang merasa terketuk hatinya untuk membantu sesamanya adalah Shakira. Penyanyi berusia 32 tahun ini ingin turut serta membangun sekolah yang hancur karena gempa bagi anak-anak Haiti.

Januari tahun 2010 lalu Shakira tampil dalam acara televisi bernama Hope For Haiti, yang digelar untuk amal atas prakarsa aktor George Clooney. Namun Secara pribadi, Shakira juga ingin membangun sekolah untuk anak-anak Haiti melalui Yayasan Barefoot yang dikelolanya. Untuk itu, Shakira bekerja sama dengan Architecture for Humanity.

Pelantun lagu ”She Wolf” ini berharap, sekolah yang akan dibangunnya itu bisa menjadi kelanjutan sukses fasilitas pendidikan yang dia bangun di negara asalnya, Kolombia. Fasilitas itu tak hanya menyediakan pengajaran. Tetapi juga gizi dan bimbingan bagi anak-anak yang kekurangan.

Shakira mengatakan bahwa Haiti membutuhkan bantuan segera dan bantuan bagi rekonstruksi jangka panjangnya. Ia berkata, ”Atas alasan itu, kami melakukan bagian kecil kami untuk Haiti, agar anak-anak memiliki kesempatan untuk terus belajar dan tumbuh dengan baik. Saya berharap kami dapat menggunakan hal-hal yang kami pelajari saat bekerja di Kolombia untuk membantu pemulihan anak-anak Haiti. Saat ini Haiti membutuhkan bantuan dari kita semua.”

Sahabat, tentu saja ini suatu kepedulian yang mesti didukung oleh banyak pihak. Hati yang mudah terketuk oleh penderitaan sesama mesti menjadi bagian dari hidup orang beriman. Artinya, hati kita mesti mudah tergerak begitu menyaksikan sesama mengalami penderitaan. Penderitaan sesama sebenarnya penderitaan kita juga.

Untuk itu, yang mesti kita lakukan adalah kita mendidik hati nurani kita. Tujuannya agar hati nurani kita selalu memperjuangkan kebaikan sesama. Tidak hanya terkurung oleh kepentingan diri sendiri. Orang yang hanya terkurung oleh kepentingan diri sendiri biasanya punya wawasan yang sempit. Orang seperti ini mempersempit dunia hanya dalam lingkup dirinya saja. Ia tidak berani melangkah lebih jauh dari dirinya itu.

Orang yang mudah tergerak hatinya oleh kebutuhan sesamanya biasanya memiliki wawasan yang lebih luas. Yang ia lihat dalam penderitaan sesama itu bukan sekedar suatu fenomena. Namun penderitaan itu mesti segera diatasi. Dengan demikian, ada suatu sukacita bagi sesama.

Orang yang mampu membahagiakan sesama itu orang yang membawa terang bagi dunia ini. Orang yang menghidupi nilai-nilai kemanusiaan dalam hidupnya sehari-hari. Apa yang dipelajari itu bukan hanya menjadi suatu teori. Tetapi sungguh-sungguh menjadi nyata dalam hidup. Mari kita berusaha untuk memiliki kepedulian terhadap sesama. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

648

03 April 2011

Cinta Mendekatkan Hati


Suatu hari seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berteriak?”

Setelah berpikir beberapa saat, seorang murid menjawab, “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran. Karena itu, ia berteriak.”

Guru itu berkata lagi, “Tapi lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah tidak bicara pelan-pelan dan halus saja?”

Hampir semua murid di kelas itu memberikan sejumlah alasan yang menurut mereka benar. Namun tidak satu pun jawaban mereka memuaskan.

Lantas guru itu berkata, “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi sangat jauh. Walaupun secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin mereka menjadi marah. Dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sambil melempar senyum, para murid mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. Lantas guru itu melanjutkan penjelasannya, “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tidak berteriak. Ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun suara mereka, keduanya bisa mendengarkan dengan begitu jelas.”

Sahabat, cinta itu mendekatkan hati manusia. Hati yang dekat satu sama lain itu mampu memahami keinginan dan kebutuhan sesama. Bahkan dalam hidup suasana cinta yang mendalam kata-kata menjadi tidak sangat berarti. Orang mampu berkomunikasi dengan tanda-tanda yang membangkitkan semangat untuk semakin mendekatkan diri satu sama lain.

Sebaliknya, ketika orang dikuasi emosi dan kemarahan yang meledak-ledak, hati orang menjadi semakin jauh. Tidak ada kata-kata indah yang muncul dari mulut seseorang. Yang muncul adalah kata-kata yang membuat hati seseorang sakit. Dalam kondisi seperti itu, jarak antarhati semakin jauh dan jauh. Mengapa? Karena tidak ada cinta yang mampu mendekatkan dan menyatukan dua hati.

Karena itu, ketika orang sedang dilanda kemarahan semestinya orang tidak perlu meneriakkan kata-kata kasar. Orang mesti mampu meredamnya dengan kata-kata yang menyejukkan hati. Dengan demikian, hati orang semakin dekat. Yang terjadi adalah orang mampu menguasai emosi dan kemarahannya. Orang berusaha memberikan yang terbaik bagi sesamanya dengan kata-kata yang lembut. Tentu saja hal ini tidak muncul begitu saja. Orang mesti berani memulai dan belajar untuk mengungkapkan kata-kata yang lembut di saat kemarahan melandanya.

Orang beriman mesti mengutamakan cinta daripada kemarahan. Hanya dengan begitu, orang beriman mampu menciptakan suatu dunia yang penuh sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Tabloid KOMUNIO


647

29 Maret 2011

Hati yang Tergerak oleh Penderitaan Sesama


Gempa bumi di Haiti dengan korban puluhan ribu orang menggugah hati petenis putra nomor satu dunia, Roger Federer. Pria berusia 28 tahun yang tampil dalam turnamen Australia Terbuka di Melbourne itu berinisiatif mengadakan pertandingan amal untuk mengumpulkan dana.

Tentang ide mengumulkan dana bagi para korban gempa ini, Roger berkata, ”Saya punya ide bahwa kami harus berbuat sesuatu untuk membantu korban di Haiti. Lalu saya berbicara kepada beberapa petenis top dan mereka setuju bahwa kita harus berbuat sesuatu.”

Ide Federer ini diwujudkan dalam pertandingan ganda campuran yang diselenggarakan Minggu, tanggal 17 Januari 2010 lalu di lapangan utama Melbourne Park, Rod Laver Arena. Penonton dewasa dipungut biaya 10 dolar Australia (sekitar Rp 85.000), sementara anak-anak berusia di bawah 12 tahun bisa menonton gratis. Uang inilah yang kemudian disumbangkan ke Haiti.

Beberapa atlet yang bersedia untuk ikut serta dalam acara amal itu adalah Novak Djokovic, Andy Roddick, Serena Williams, Kim Clijsters dan Samantha Stosur.

Roger yang telah tiga kali juara Australia Terbuka ini berkata, ”Saya pikir, ini seperti acara tenis untuk keluarga. Mereka bisa nonton penampilan petenis-petenis top.”

Sahabat, kepedulian terhadap sesama yang menderita semestinya menjadi bagian dari hidup kita. Apalagi penderitaan yang dialami itu bukan karena ulah mereka sendiri. Bencana alam yang menelan korban tewas sekitar 50 ribu jiwa di Haiti itu memang semestinya mendapatkan perhatian dari dunia. Bangsa kita telah mengirim 75 tenaga sukarela untuk membantu korban bencana alam itu. Suatu bentuk solidaritas yang sudah semestinya dilakukan dengan hati yang tulus.

Korban bencana di mana pun selalu menggugah kepedulian kita. Solidaritas kita terhadap mereka yang menderita itu ditantang untuk direalisasikan. Tidak hanya melalui kata-kata yang diucapkan di bibir saja. Solidaritas itu menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu mengatasi segala-galanya. Kehidupan mesti senantiasa diperjuangkan dan dijunjung tinggi dalam kehidupan manusia.

Karena itu, ketergerakkan hati Roger dan teman-temannya pemain tenis top dunia menjadi contoh bagi kita semua. Dengan kemampuan yang mereka miliki mereka dapat melakukan sesuatu untuk membantu sesamanya yang sedang menderita. Mereka membantu dengan cara yang mereka miliki yang ternyata memberikan banyak sekali manfaat bagi para korban.

Sebagai orang beriman, ketergerakkan hati kita terhadap penderitaan sesama mesti selalu dipupuk dalam hidup ini. Inilah caranya kita menyatakan kasih sayang kita kepada sesama yang menderita. Inilah bentuk kita mengungkapkan kepedulian kita terhadap kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mari kita terus-menerus memupuk sikap solider dengan sesama yang sedang menderita. Dengan demikian, mereka mengalami kegembiraan batin karena diperhatikan sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

643

19 September 2010

Menghadapi Persoalan dengan Hati dan Iman




Suatu hari seekor elang terbang tinggi. Di kakinya ia membawa dua ekor anaknya yang sudah mulai dipenuhi bulu-bulu di sayap-sayap mereka. Begitu tinggi elang itu terbang. Sambil melihat ke punggung-punggung gunung dan bukit, induk elang itu melemparkan kedua anaknya itu ke bawah. Kontan saja kedua anaknya itu menjerit ketakutan.

Dalam hati mereka menyangka sang ibu telah marah terhadap mereka. Mereka dicampakkan begitu saja ke dalam jurang dan ngarai yang begitu dalam. Namun tidak berapa lama kemudian, keduanya dapat membuka sayap-sayap mereka. Mereka pun terbang menikmati keindahan alam pegunungan dan lembah-lembah yang indah.

Kata salah seekor anak elang, ”Ternyata ibu kita tidak membuang kita. Ibu memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati indahnya alam ini.”

Anak elang yang lain terus-menerus menikmati keindahan alam itu. Hampir-hampir ia menabrak dahan sebatang pohon. Untung saja matanya yang cerdik mampu membebaskan dirinya dari kecelakaan. Hari itu kedua elang itu mengalami sukacita yang mendalam. Mereka menemukan kesejatian diri sebagai elang yang terbang tinggi dan menukik ke darat untuk menangkap mangsa. Hari itu mereka belajar untuk menemukan diri mereka sendiri.

Sahabat, kalau Anda menganggap masalah sebagai beban, Anda akan menghindarinya. Anda akan merasa ngeri, ketika suatu masalah datang kepada Anda. Anda akan mencari cara-cara untuk melarikan diri dari masalah itu. Mengapa? Karena Anda tidak kuat memikul beban itu. Atau Anda tidak mau hidup Anda dipenuhi dengan beban permasalahan.

Namun kalau Anda menganggap masalah sebagai tantangan, Anda akan menghadapinya. Anda akan mencari cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut. Anda tidak akan lari menjauhi masalah itu. Bahkan Anda akan membangun optimisme dalam hidup ini untuk segera mengatasi masalah tersebut. Ketika masalah itu Anda atasi, Anda akan menemukan kebahagiaan. Tidak ada yang mengejar-ngejar Anda lagi.

Orang yang berani menghadapi masalah menganggap masalah sebagai anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Masalah itu menjadi kesempatan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Masalah yang dihadapi dengan berhasil akan memberikan motivasi dan semangat bagi orang untuk menemukan kesuksesan dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita tidak luput dari masalah-masalah. Selalu saja ada masalah yang kita hadapi. Namun masalah itu mesti kita hadapi dengan hati yang tenang dan iman yang kuat. Karena itu, kita mesti senantiasa membuka hati kita kepada Tuhan. Kita membiarkan Tuhan terlibat dalam hidup kita. Kita biarkan Tuhan masuk ke dalam hati kita untuk membantu kita memecahkan persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

502

25 Juli 2010

Memberi dengan Hati yang Tulus

Suatu hari seorang pemuda menemukan sejumlah orang miskin yang sangat menderita. Ia merasa terpukul atas kondisi tersebut. Bagaimana mungkin di sebuah negara yang makmur ini ternyata masih ada banyak orang yang menderita. Pemuda itu menyaksikan orang-orang itu menggigil, karena menahan lapar. Mereka mengerang-erang kesakitan, karena luka-luka bernanah yang tak terobati.

Lantas pemuda itu meninggalkan orang-orang itu. Ia tidak tahan melihat penderitaan mereka. Namun ia kembali lagi kepada mereka dengan sejumlah makanan, minuman dan obat-obatan. Ia memberi mereka makan. Ia mengobati luka-luka mereka. Beberapa saat kemudian orang-orang itu mulai berhenti menggigil. Kaki-kaki mereka pun mulai kuat untuk melangkah. Mereka mulai tersenyum.

Uluran kasih dari sesama mampu meringankan penderitaan. Orang-orang itu pun boleh menikmati sesaat sukacita. Mereka boleh mengalami indahnya kasih Tuhan melalui tangan-tangan yang dengan tulus memberi bantuan. Bagi mereka, itulah saat yang paling indah dalam hidup mereka. Suatu saat yang telah memberi mereka kesegaran raga. Saat di mana mereka boleh mengatakan bahwa Tuhan masih ada bersama mereka.

Ada begitu banyak penderitaan di dunia ini. Orang mengalami penderitaan materiil seperti tidak punya rumah yang layak, berbagai macam penyakit dan kelaparan. Mereka berjuang untuk keluar dari penderitaan itu. Namun sering terjadi kebuntuan dalam hidup mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ada ketidakpedulian dari sesama manusia. Ada hati manusia yang tertutup begitu rapat oleh penderitaan sesamanya.

Tambahan lagi ada orang-orang yang tamak dan serakah. Orang-orang seperti ini enggan memberi sedikit dari kepunyaannya untuk sesamanya. Lebih baik mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri daripada mesti memberikannya untuk orang-orang yang tidak mereka kenal.

Karena itu, sedikit pemberian akan sangat bernilai bagi hidup manusia yang mengalami penderitaan itu. Seteguk air atau segenggam nasi akan sangat berharga bagi seorang penderita lapar. Akan ada sukacita yang begitu besar, ketika orang memberi dengan tulus mereka yang membutuhkan makanan.

Sebagai orang beriman, kita semua memiliki tugas dan kewajiban untuk membantu sesama yang berkekurangan. Ketika kita membantu mereka sebenarnya kita memberi kesempatan kepada mereka untuk bersukacita. Mereka memiliki kesempatan untuk berbahagia, meski hanya sesaat.

Mari kita mengulurkan tangan kita dengan hati yang tulus. Dengan demikian, semakin banyak orang akan menemukan bahagia dan damai dalam hidupnya. Hanya dengan cara ini orang beriman mengamalkan cinta kasih dalam hidupnya. Hanya dengan memberi sesama yang membutuhkan, kita dapat mengenal Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu secara lebih dekat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


449
Bagikan

17 Februari 2010

Hati yang Mudah Tergerak oleh Belaskasihan




Ibu Teresa merasa terpanggil untuk melayani kaum miskin dan terlantar di kota Kalkuta. Tetapi peristiwa itu datang tidak terduga. Secara kebetulan ia menyaksikan orang-orang sakit yang menderita di jalanan kota Kalkuta. Tidak ada yang mengurus mereka. Begitu banyak yang kemudian mati tak berdaya.

Ibu Teresa tersentuh oleh penglihatan matanya itu. Waktu itu, ia seorang suster yang berprofesi sebagai seorang guru. Karena itu, bukanlah bidangnya kalau ia mengurusi kaum miskin, sakit dan terlantar.

Namun apa yang terjadi kemudian adalah ia merasa panggilan Tuhan di dalam hatinya begitu kuat. Panggilan Tuhan untuk mengurusi orang-orang miskin, sakit dan terlantar begitu menggetarkan hatinya. Karena itu, ia putar haluan. Ia melepaskan profesinya sebagai seorang guru dengan segala keteraturannya. Ia mulai mengurusi orang-orang miskin, sakit dan terlantar di kota Kalkuta, India.

Ia mulai mendatangi para gelandangan. Dengan tangannya sendiri ia mengangkat mereka dan membawanya ke tempat tinggalnya. Di sana ia membersihkan tubuh mereka. Luka-luka di tubuh mereka ia obati. Ia lantas memberi mereka makan. Ada yang sedang sekarat, ia beri ketenangan agar dapat meninggal dengan damai.

Karya Ibu Teresa ini kemudian berkembang. Banyak orang mulai membantu karyanya. Mereka memberi penghargaan yang besar atas karyanya itu. Sampai akhirnya ia menerima hadiah nobel perdamaian karena karyanya itu.

Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang miskin, sakit dan terlantar. Mereka membutuhkan uluran tangan dari kita. Namun yang kita butuhkan adalah hati yang mudah tergerak oleh belaskasihan. Orang-orang yang miskin, sakit dan terlantar itu seringkali kurang mendapatkan perhatian. Bahkan tidak jarang mereka dicurigai.

Tuhan terus-menerus memanggil kita untuk membantu sesama yang miskin, sakit dan terlantar. Seketul roti saja akan sangat berharga bagi mereka yang miskin. Banyak orang kekurangan makanan. Untuk sekedar hidup saja banyak orang mengalami kesulitan.

Karena itu, kalau kita memiliki hati yang mudah tergerak oleh belaskasihan seperti Ibu Teresa, tentu kita akan segera membantu sesama yang sangat membutuhkan bantuan kita. Untuk itu, kita butuh rahmat dari Tuhan. Rahmat ini kita butuhkan, agar kita kuat dalam melibatkan diri untuk membantu mereka yang miskin, sakit dan terlantar.

Sebagai orang beriman, hati kita mesti mudah tergerak oleh penderitaan sesama. Karena itu, mari kita mendidik diri kita agar mudah tergerak melihat sesama yang menderita. Bayangkan, kalau mereka yang menderita itu adalah kita sendiri. Tentu kita butuh bantuan dari orang lain. Karena itu, mari kita mengulurkan tangan untuk membantu sesama yang menderita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

325


Bagikan