Pages

Tampilkan postingan dengan label hati tulus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati tulus. Tampilkan semua postingan

04 Maret 2014

Berbuat Baik dengan Hati yang Tulus


Setiap orang yang ingin berbuat baik mesti melakukannya dengan hati yang tulus. Kalau tidak, orang akan merasa berbeban berat dalam hidup ini. Orang akan merasa terpaksa dalam melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain.

Ada seorang ibu yang selalu memperhitungkan apa saja yang dilakukannya. Setiap hal yang ia lakukan, ia selalu menilainya dengan uang atau materi. Karena itu, ia tidak mau kehilangan waktu untuk hal-hal yang ia anggap tidak berguna. Baginya, time is money. Ia menolak setiap orang yang mengajaknya untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat dan sosial. Apalagi kalau kegiatan-kegiatan itu tidak menguntungkan bagi dirinya secara materi.

Akibatnya, ibu ini tidak pernah diajak oleh teman-temannya untuk berbagai kegiatan yang ada di lingkungannya. Mereka enggan bergaul dengan orang yang mengukur segala sesuatu dengan materi atau uang. Bagi mereka, orang seperti ini hanya menjadi duri dalam daging. Orang seperti ini tidak memiliki kepedulian terhadap sesamanya.

Orang mesti melakukan sesuatu dengan setulus hatinya. Orang yang melakukan suatu kebaikan mesti mendasarkan perbuatannya di atas cinta yang mendalam terhadap sesamanya. Dengan demikian, orang akan menemukan kebahagiaan dan damai dalam hidupnya. Orang tidak perlu mengukur kebahagiaan dan damai itu dengan materi atau uang. Ibu yang nahas itu akhirnya tidak punya sahabat untuk bertukar pikiran dan berwawan hati. Ia hidup sendiri. Ia menjadi orang yang kesepian.

Sahabat, apa pun yang kita lakukan semestinya kita lakukan dengan kebaikan hati. Hati yang baik itu mencerminkan orang yang mau terlibat dalam kehidupan sesamanya. Orang memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Orang yang mau berjuang bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain.

Memang, tidak mudah melakukan sesuatu dengan kebaikan hati. Hati manusia sering terselubungi egoisme dan kepentingan diri yang berlebihan. Kalau untuk kepentingan diri sendiri, manusia selalu berjuang mati-matian. Manusia tidak peduli akan terhadap berbagai rintangan yang menghadangnya. Yang ia lakukan adalah menyelamatkan dulu dirinya sendiri. Tentu saja hal seperti ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam hidup bersama.

Karena itu, orang mesti berani berkorban bagi kehidupan ini. Orang mesti memiliki hati yang tulus untuk melakukan sesuatu dengan motivasi yang baik. Seorang bijak berkata, “Kalau busur Anda patah dan anak panah terakhir telah dilontarkan, tetaplah membidik.” Kata-kata bijak ini mau mengatakan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan mesti datang dari hati yang tulus. Orang tidak boleh berhenti berbuat baik, ketika ada halangan dan rintangan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus melakukan perbuatan baik dengan hati yang tulus. Hanya dengan cara ini, kita dapat menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
 


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1066

14 September 2011

Memiliki Cinta yang Tulus dan Murni



Ada seorang ibu yang enam tahun lalu melahirkan anaknya. Namun sang anak belum juga dapat merangkak. Ia belum juga dapat berdiri. Kaki dan tangannya tampak lemas, meski anak itu sangat bersemangat. Anak semata wayangnya itu suka tersenyum. Matanya menatap tajam. Bicaranya lancar. Satu kekurangan dalam dirinya, yaitu ia tidak bisa berdiri dan berjalan seperti anak-anak normal lainnya.

Meski kondisi anaknya seperti itu, sang ibu tidak pernah berhenti memberinya semangat. Dengan penuh kasih, sang ibu memberikan sentuhan-sentuhan. Sang ibu membisikkan kata-kata indah ke dalam telingannya. Ia memberi motivasi bagi sang buah hati untuk tetap maju dalam hidupnya.

Ia berkata, “Nak, minggu depan kamu akan bisa berjalan. Tidak usah kuatir. Setelah kamu bisa berjalan, kamu akan berlari sekuat-kuatnya. Mau kan?”

Sang buah hati itu menganggukkan kepalanya. Ia ingin sekali melakukannya. Lantas ia berkata kepada ibunya, “Tapi mama, kalau minggu depan saya belum bisa berjalan, apa mama akan menangis? Apa mama akan memarahi saya? Kalau saya belum bisa berlari, apa mama akan memukul pantat saya?”

Sang ibu tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan buah hatinya. Ia menatap wajahnya dalam-dalam. Lantas ia tersenyum. Sang buah hati pun membalas senyumnya. Dua senyum itu bertaut. Suatu optimisme tampak pada wajah dua insan itu.

Sang ibu berkata dengan penuh kepercayaan, “Kalau kita percaya kepada Tuhan, tidak ada yang mustahil. Suatu saat kamu pasti bisa berjalan dan berlari.”

Sahabat, banyak orang mudah putus asa saat tidak punya jalan untuk keluar dari persoalan hidup. Mereka berhenti di tempat. Mereka cemas, bagaimana bisa keluar dari persoalan-persoalaa hidup. Tidak ada gerakan untuk keluar dari persoalan-persoalan hidup. Akibatnya, mereka gagal dalam kehidupan ini.

Orang yang putus asa itu orang yang kehilangan daya dorong dalam hidupnya. Daya dorong itu adalah cinta yang mendalam. Suatu cinta yang tulus dan murni mampu membangkitkan orang dari keterpurukan hidup. Ini yang tidak dimiliki oleh mereka yang putus asa. Cinta mereka terhadap diri dan sesama tidak mendalam. Cinta mereka begitu dangkal. Cinta mereka tidak sedalam samudera.

Karena itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk mencintai diri kita sendiri dan sesama kita. Kisah ibu tadi menjadi suatu contoh yang indah bagi kita. Ia memberikan cintanya yang begitu tulus dan murni. Ia memiliki daya dorong yang begitu kuat bagi sang buah hati. Ia ingin agar sang buah hati tetap memiliki semangat untuk bangkit dan berjuang.

Sebagai orang beriman, daya dorong kita yang terbesar adalah kasih Tuhan kepada kita. Setiap hari Tuhan mengasihi kita dengan berbagai cara. Cinta Tuhan begitu tulus dan murni. Tuhan senantiasa memberi apa yang kita butuhkan. Tuhan ingin agar kita memiliki sukacita dan damai dalam hidup ini.

Untuk itu, kita mesti menyerahkan hidup kepada Tuhan. Dengan demikian, kita dapat menimba kuatnya cinta Tuhan bagi hidup kita. Kita dapat terus-menerus memiliki harapan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


781

09 Desember 2010

Melakukan Perbuatan Baik dengan Hati yang Tulus

Ada seorang ibu yang selalu memperhitungkan apa saja yang dilakukannya. Setiap hal yang ia lakukan ia selalu menilainya dengan uang atau materi. Karena itu, ia tidak mau kehilangan waktu untuk hal-hal yang ia anggap tidak berguna. Baginya, time is money. Ia menolak setiap orang yang mengajaknya untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat dan sosial. Apalagi kalau kegiatan-kegiatan itu tidak menguntungkan bagi dirinya secara materi.

Akibatnya, ibu ini tidak pernah diajak oleh teman-temannya untuk berbagai kegiatan yang ada di lingkungannya. Mereka enggan bergaul dengan orang yang mengukur segala sesuatu dengan materi atau uang. Bagi mereka, orang seperti ini hanya menjadi duri dalam daging. Orang seperti ini tidak memiliki kepedulian terhadap sesamanya.

Orang mesti melakukan sesuatu dengan setulus hatinya. Orang yang melakukan suatu kebaikan mesti mendasarkan perbuatannya di atas cinta yang mendalam terhadap sesamanya. Dengan demikian, orang akan menemukan kebahagiaan dan damai dalam hidupnya. Orang tidak perlu mengukur kebahagiaan dan damai itu dengan materi atau uang. Ibu yang nahas itu akhirnya tidak punya sahabat untuk bertukar pikiran dan berwawan hati. Ia hidup sendiri. Ia menjadi orang yang kesepian.

Sahabat, apa pun yang kita lakukan semestinya kita lakukan dengan kebaikan hati. Hati yang baik itu mencerminkan orang yang mau terlibat dalam kehidupan sesamanya. Orang yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Orang yang mau berjuang bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain.

Memang, tidak mudah melakukan sesuatu dengan kebaikan hati. Hati manusia sering terselubungi egoisme dan kepentingan diri yang berlebihan. Kalau untuk kepentingan diri sendiri, manusia selalu berjuang mati-matian. Manusia tidak peduli akan apa yang akan terjadi. Yang ia lakukan adalah menyelamatkan dulu dirinya sendiri. Tentu saja hal seperti ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam hidup bersama.

Karena itu, orang mesti berani berkorban bagi kehidupan ini. Orang mesti memiliki hati yang tulus untuk melakukan sesuatu dengan motivasi yang baik. Seorang bijak berkata, “Kalau busur Anda patah dan anak panah terakhir telah dilontarkan, tetaplah membidik.” Kata-kata bijak ini mau mengatakan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan mesti datang dari hati yang tulus. Orang tidak boleh berhenti berbuat baik, ketika ada halangan dan rintangan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus melakukan perbuatan baik dengan hati yang tulus. Hanya dengan cara ini, kita dapat menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


566

10 November 2010

Membangun Hati yang Tulus

Kalau saja Marco Polo tidak ditangkap dan dipenjara selama satu tahun oleh pemerintah kota Genoa, Italia, tentu dunia tidak akan mengetahui petualangannya sepanjang 22 tahun ke Timur Jauh. Saat kembali ke Venesia, setelah perjalanannya ke Timur Jauh, Marco Polo menjabat ‘Komandan Kehormatan’ dalam perang antara Venesia melawan Genoa.

Sayang, dalam pertemuran di Pulau Curzold, pasukannya tertangkap. Ia ditawan di penjara Genoa. Di dalam penjara itu Marco Polo bertemu dengan seorang penulis bernama Rustichello. Penulis ini mendengar cerita tentang petualangan Marco Polo selama dalam tahanan. Ia berhasil membujuk Marco Polo untuk menulis buku tentangan petualangannya ke Timur Jauh.

Tanpa buku Marco Polo ini, ada kemungkinan orang Eropa juga tidak menemukan benua Amerika. Christopher Columbus sangat terinspirasi oleh petualangan Marco Polo. Ia ingin mencapai Timur Jauh lewat laut, meski akhirnya ia terdampar di Amerika.

Sahabat, penulis yang dipenjara itu mampu membujuk Marco Polo, karena ia yakin akan sesuatu yang lebih besar. Ia yakin, ketulusan hati mampu mengubah hidup manusia. Ketulusan hati Marco Polo untuk menulis kisah perjalanannya ternyata membuka wawasan bangsa manusia terhadap dunia.

Ketulusan hati itu mendorong orang untuk menghargai sesama yang memiliki kemampuan yang lebih. Ketulusan hati itu membuat manusia terus berusaha untuk mencari hal-hal yang berguna bagi semua orang. Orang yang tulus hatinya biasanya tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia lebih mengutamakan kepentingan banyak orang yang membutuhkan kehidupan yang lebih layak.

Sebaliknya, orang yang memiliki hati yang culas biasanya menyimpan kecurigaan dan iri hati terhadap kemajuan yang diraih oleh orang lain. Orang seperti ini biasanya ingin sukses sendiri. Kalau bisa dirinya yang mendapatkan kesuksesan itu, bukan orang lain. Atau kalau sampai orang lain yang memperolehnya, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk merebutnya dengan cara-cara yang tidak elegan. Hasil dari tindakan seperti ini adalah suasana yang tidak harmonis. Orang saling menaruh dendam dan iri hati. Orang saling memicu balas dendam.

Patutkah orang beriman bersikap seperti ini? Bukankah orang beriman mesti selalu memberi penghargaan yang tinggi atas kebaikan dan kesuksesan yang diraih oleh sesamanya?

Sebagai orang beriman, kita dituntut untuk senantiasa mendahulukan ketulusan hati. Hanya dengan ketulusan hati kita dapat membangun dunia ini menjadi lebih baik. Dunia ini akan menjadi damai dan sejahtera, kalau kita sungguh-sungguh berusaha untuk tidak culas terhadap sesama yang sukses. Mari kita terus-menerus berusaha untuk memiliki ketulusan hati. Hanya dengan ketulusan hati itu kita dapat membangun suatu persahabatan dengan semua orang. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

547