Pages

Tampilkan postingan dengan label perbuatan baik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perbuatan baik. Tampilkan semua postingan

10 Desember 2011

Bertahan dalam Perbuatan-perbuatan Baik

Anda merasa kurang dipercaya oleh Tuhan untuk mengerjakan hal-hal besar dalam hidup ini? Mengapa? Tentu saja ada banyak alasan.

Seorang karyawan sebuah perusahaan merasa bangga terhadap pimpinan perusahaannya. Pasalnya, ia merasa selalu mendapatkan perhatian melebihi karyawan-karyawati yang lain. Apa saja yang dia butuhkan untuk kemajuan perusahaan selalu dipenuhi oleh pimpinan perusahaan itu. Alasan-alasannya selalu masuk akal.

Namun suatu ketika ia ketahuan menggunakan dana yang ia minta dari pimpinan bukan untuk kepentingan perusahaan. Ia gunakan dana itu untuk dirinya sendiri. Ia mentraktir teman-temannya. Ia berfoya-foya dengan teman-temannya. Padahal dana itu sangat penting untuk ekspansi perusahaan. Akibatnya, perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar.

Karyawan itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia mengakui kesalahannya. Namun pemimpin perusahaan mesti menegakkan keadilan. Karyawan itu mesti mengganti dana yang telah ia gunakan. Akibat lanjutnya, karyawan itu tidak lagi menduduki posisi penting dalam perusahaan itu. Ia tidak dipercaya lagi menangani ekspansi perusahaan atau pengembangan perusahaan.

Sahabat, kepercayaan yang diberikan mesti dipertanggungjawabkan melalui kinerja yang jujur dan bersih. Tampaknya dua hal ini bukan hal yang mudah. Banyak orang kurang punya ketahanan mental saat menghadapi godaan-godaan. Mereka mudah tergiur oleh hidup yang enak dan menyenangkan, meski hanya sesaat. Mereka gampang terjerumus ke dalam perbuatan yang tercela.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa orang yang dipercaya akan mendapatkan kebaikan dalam hidup. Bukan hanya ketika ia berhasil lalu mendapatkan bonus. Tetapi lebih-lebih tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan itu menjadi bukti kesetiaan kepada yang memberi kepercayaan itu. Karyawan itu tidak punya ketahanan dalam mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Akibatnya, ia jatuh ke dalam godaan. Ia kurang setia. Ia merasa sepele terhadap kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Seorang guru bijaksana mengatakan bahwa orang tidak bisa dipercaya dalam hal-hal besar, kalau ia tidak mampu melaksanakan hal-hal kecil. Langkah besar dicapai setelah orang mengayunkan langkah pertama. Langkah pertama itu tampak kecil dan sederhana. Namun langkah pertama itu sangat menentukan ke mana arah langkah-langkah selanjutnya.

Orang beriman diajak untuk tetap setia dalam melakukan hal-hal yang berguna bagi hidupnya dan sesama. Untuk itu, dibutuhkan ketahanan mental saat menghadapi godaan-godaan. Sekecil apa pun godaan itu mesti dihadapi dengan hati yangg tenang. Mengapa? Karena orang mesti mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Ketika kita setia dalam melakukan hal-hal kecil, kita akan dipercaya untuk melakukan hal-hal besar. Mari kita tetap setia dalam melaksanakan kepercayaan yang diberikan kepada kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan damai dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

839

25 Mei 2011

Melakukan Perbuatan Baik dengan Tulus





Bachtiar Angkotasan harus menyisakan Rp 5.000 setiap hari dari hasil mengamen untuk membayar kontrakan di Kampung Jati, Kelurahan Jati Mulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Setiap bulan ia harus membayar Rp 200.000 untuk biaya kontrakan dengan ukuran 4 X 6 meter.

Pria berusia 47 tahun ini berkata, “Saya bayar pakai uang receh hasil ngamen.” Bachtiar menjelaskan, setiap hari ia mendapatkan uang sekitar Rp 30.000 dari mengamen dari bus ke bus. Pemilik kontrakkan mengerti atas kondisinya yang bekerja sebagai pengamen. Ia bersama dua anaknya telah tinggal di sana sekitar enam bulan.

Tentang pembayaran menggunakan uang receh, ia berkata, “Sebelumnya saya minta maaf dulu belum sempat tuker receh ke warung. Pemilik rumah bilang ngga apa-apa.”

Bachtiar harus menghidupi kedua anaknya Gia Wahyuningsih yang berusia 5 tahun dan Agum Gumelar Santoso yang berusia 8 tahun. Ia berpisah dengan istrinya, Mimih Nunung, empat tahun lalu. Gia mengidap epilepsi dan gizi buruk sejak umur satu tahun.

Gia kerap berontak selama di rumah, sehingga Bachtiar terpaksa mengikat Gia dengan kain di bagian pinggang selama ia pergi mengamen. Gia terpaksa "dipasung" sejak tiga tahun lalu hingga polisi mendapat informasi dan membawa Gia ke rumah sakit.

Sahabat, di satu sisi usaha yang dilakukan oleh Bachtiar sungguh-sungguh baik. Ia merasa bertanggung jawab terhadap kedua anaknya. Ia tidak meninggalkan mereka berjuang sendirian. Ia rela mengorbankan dirinya untuk kelangsungan hidup kedua anaknya. Inilah orang yang beriman. Orang sungguh-sungguh peduli terhadap sesamanya. Ia tidak membiarkan mereka terlantar.

Soalnya adalah kemiskinan memaksa Bachtiar untuk melakukan hal-hal yang melanggar aturan. Anak putrinya yang sering berontak, karena menderita epilepsi, ia ikat dengan kain. Dengan demikian, anaknya tersebut mengalami penderitaan yang lebih parah lagi. Kebebasannya menjadi terganggu. Hak-hak hidupnya seolah-olah dirampas. Tentu saja perbuatan seperti ini tidak bisa diterima.

Bahaya yang sering terjadi dalam hidup adalah orang sering hanya berpikir berat sebelah. Yang penting ia melakukan sesuatu yang baik, ia tetap melakukannya. Padahal belum tentu perbuatannya yang baik itu juga baik untuk orang lain. Perbuatan yang baik itu belum tentu memenuhi kepentingan bersama.

Karena itu, orang beriman mesti tidak boleh berat sebelah. Orang beriman itu orang yang selalu memperhitungkan secara matang suatu perbuatan yang dilakukannya. Dengan cara itu, orang tidak perlu menindas sesamanya ketika mnelakukan suatu perbuatan yang baik. Suatu perbuatan baik yang tidak berat sebelah akan memberikan kepuasan bagi semua orang.

Mari kita berusaha untuk senantiasa melakukan suatu perbuatan baik yang berguna bagi semua orang. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik dan indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



684

18 Desember 2010

Perbuatan Baik yang Berlandaskan Cinta Kasih


Ada seorang ibu tua yang hidup kesepian. Sudah bertahun-tahun ia ditinggal pergi oleh suaminya. Lima orang anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kesendirian itu pun tidak tahu entah ke mana. Di masa tuanya sebenarnya ia ingin sekali ada dari orang-orang yang pernah dekat dengannya itu menemaninya. Atau paling kurang ada yang datang untuk mengunjunginya.

Ketika tetangga-tetangganya mengunjunginya, ibu tua itu sangat senang. Ia merasa ada orang yang peduli terhadap dirinya. Ia tidak dilupakan begitu saja. Kerinduan dan cintanya yang begitu besar terhadap orang-orang yang pernah dekat dengan dirinya seolah-olah tercurahkan kepada tetangga-tetangganya itu. Ia merasa gembira. Ia merasakan ada aliran cinta yang mengalir dalam dirinya. Darahnya terasa seolah-olah mengalir begitu lancar.

Cinta yang sempat hilang itu kini kembali bersemi. Ia menemukan kembali betapa bermaknanya hidup ini dihiasi oleh cinta yang tulus. Tetangga-tetangga itu mengungkapkan cinta mereka dengan mengunjunginya. Mereka memberikan perhatian terhadap dirinya, bukan karena ia telah berjasa terhadap mereka. Tetapi semata-mata karena mereka memiliki cinta yang mendalam terhadap dirinya.

Dalam kondisi demikian, ibu tua itu berusaha mengucapkan syukur atas kebaikan Tuhan bagi dirinya. Baginya, cinta Tuhan telah mendorong orang-orang itu mendatangi dirinya. Cinta Tuhan memberi motivasi kepada orang-orang itu untuk mengungkapkan cinta mereka.

Sahabat, kalau Anda melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, apa yang mendorong Anda? Apakah Anda merasa terdorong oleh keinginan untuk dikenal oleh banyak orang melalui perbuatan baik itu? Atau Anda ingin menjadi orang yang populis yang disanjung-sanjung di mana-mana?

Kalau hal-hal ini menjadi pertimbangan Anda untuk melakukan hal-hal yang baik, Anda keliru. Setelah pujian terhadap perbuatan baik Anda berlalu, Anda akan menjadi orang yang stress. Tidak ada lagi tepuk tangan pujian untuk Anda. Tidak ada lagi yel-yel yang membahana untuk mengangkat Anda tinggi-tinggi ke udara. Yang tersisa adalah Anda hidup dalam kesendirian.

Karena itu, yang mesti menjadi andalan dalam melakukan perbuatan baik adalah cinta kasih. Orang mesti mendasarkan perbuatan baik itu pada cinta kasih terhadap sesamanya. Suatu perbuatan baik yang tidak dilaksanakan berdasarkan dorongan cinta kasih hanyalah suatu upaya sosial belaka. Kurang memiliki makna yang mendalam bagi diri dan sesama. Setelah orang melakukan suatu perbuatan baik, sudah itu selesai. Tidak ada makna lagi. Tidak ada sesuatu pun yang membekas. Yang tertinggal hanyalah stress yang berlarut-larut.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mendasarkan perbuatan baik kita atas cinta kasih. Hal ini menjadi bekal bagi kita untuk semakin memberi makna terhadap hidup kita. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri saja. Kita hidup juga bagi orang lain. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ


573

09 Desember 2010

Melakukan Perbuatan Baik dengan Hati yang Tulus

Ada seorang ibu yang selalu memperhitungkan apa saja yang dilakukannya. Setiap hal yang ia lakukan ia selalu menilainya dengan uang atau materi. Karena itu, ia tidak mau kehilangan waktu untuk hal-hal yang ia anggap tidak berguna. Baginya, time is money. Ia menolak setiap orang yang mengajaknya untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat dan sosial. Apalagi kalau kegiatan-kegiatan itu tidak menguntungkan bagi dirinya secara materi.

Akibatnya, ibu ini tidak pernah diajak oleh teman-temannya untuk berbagai kegiatan yang ada di lingkungannya. Mereka enggan bergaul dengan orang yang mengukur segala sesuatu dengan materi atau uang. Bagi mereka, orang seperti ini hanya menjadi duri dalam daging. Orang seperti ini tidak memiliki kepedulian terhadap sesamanya.

Orang mesti melakukan sesuatu dengan setulus hatinya. Orang yang melakukan suatu kebaikan mesti mendasarkan perbuatannya di atas cinta yang mendalam terhadap sesamanya. Dengan demikian, orang akan menemukan kebahagiaan dan damai dalam hidupnya. Orang tidak perlu mengukur kebahagiaan dan damai itu dengan materi atau uang. Ibu yang nahas itu akhirnya tidak punya sahabat untuk bertukar pikiran dan berwawan hati. Ia hidup sendiri. Ia menjadi orang yang kesepian.

Sahabat, apa pun yang kita lakukan semestinya kita lakukan dengan kebaikan hati. Hati yang baik itu mencerminkan orang yang mau terlibat dalam kehidupan sesamanya. Orang yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Orang yang mau berjuang bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain.

Memang, tidak mudah melakukan sesuatu dengan kebaikan hati. Hati manusia sering terselubungi egoisme dan kepentingan diri yang berlebihan. Kalau untuk kepentingan diri sendiri, manusia selalu berjuang mati-matian. Manusia tidak peduli akan apa yang akan terjadi. Yang ia lakukan adalah menyelamatkan dulu dirinya sendiri. Tentu saja hal seperti ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam hidup bersama.

Karena itu, orang mesti berani berkorban bagi kehidupan ini. Orang mesti memiliki hati yang tulus untuk melakukan sesuatu dengan motivasi yang baik. Seorang bijak berkata, “Kalau busur Anda patah dan anak panah terakhir telah dilontarkan, tetaplah membidik.” Kata-kata bijak ini mau mengatakan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan mesti datang dari hati yang tulus. Orang tidak boleh berhenti berbuat baik, ketika ada halangan dan rintangan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus melakukan perbuatan baik dengan hati yang tulus. Hanya dengan cara ini, kita dapat menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


566

08 Oktober 2010

Perbuatan Baik Membuat Kita Dikenang


Oscar, patung emas berbentuk ksatria yang sedang berdiri di atas gulungan film, adalah piala yang dimenangkan oleh para bintang film dalam upacara tahunan Academy Awards. Soalnya, mengapa patung itu dinamakan Oscar? Piala tersebut sebenarnya tidak mempunyai nama sampai tahun 1931.

Pada tahun 1931, Oscar Pierce, seorang petani Texas, Amerika Serikat, yang kaya tanpa disangka-sangka ‘tampil’. Keponakan perempuannya adalah seorang penjaga perpustakaan pada Academy of Motion Pictures Arts and Sciences. Suatu hari ia sambil lalu mengatakan bahwa patung ksatria itu mirip dengan pamannya, Oscar.

Kebetulan seorang wartawan surat kabar mendengar komentarnya. Lantas ia menerbitkan sebuah cerita dengan menyebutkan bahwa karyawan-karyawan memberi julukan patung terkenal itu dengan nama Oscar. Sejak itu, nama Oscar menjadi resmi digunakan hingga sekarang.

Pernah sekali terjadi dalam sejarah bahwa Piala Oscar tidak terbuat dari logam pada waktu Perang Dunia II. Meskipun pada waktu itu Amerika kekurangan logam, piala Oscar tetap diberikan, tetapi terbuat dari kayu.

Sahabat, apalah arti sebuh nama. Ungkapan ini sering kita dengar. Ungkapan ini membuat orang yang punya nama itu kemudian dilupakan dalam sejarah. Bisa saja terjadi manusia tidak ingat lagi akan sejarah hidupnya sendiri. Sesuatu bisa saja terjadi secara kebetulan dalam hidup ini.

Kisah patung emas bernama Oscar itu tentu saja mengejutkan banyak orang. Oscar hanyalah seorang petani. Ia bukan seorang bintang film terkenal. Namun namanya diabadikan untuk sesuatu yang begitu terkenal di seantero dunia ini. Figurnya menjadi sesuatu yang sangat penting yang ingin diraih oleh banyak bintang film kenamaan di dunia. Seorang bintang film kaliber dunia baru mendapat pengakuan yang sungguh-sungguh, kalau ia sudah menggondol Piala Oscar.

Namun apalah artinya seorang Oscar, petani Texas itu? Ia sama sekali tidak mencatatkan diri sebagai perebut Piala Oscar. Ia tidak mencatatkan diri untuk menjadi piala yang ramai diperjuangkan oleh banyak bintang film kenamaan.

Dalam hidup ini banyak orang ingin mencatatkan namanya sebagai orang yang terkenal di dunia. Banyak orang ingin meninggalkan nama yang harum bagi dunia ini. Banyak orang ingin agar apa yang dibuatnya dapat berguna untuk banyak orang di kemudian hari. Tentu saja usaha seperti ini patut diacungi jempol. Usaha seperti ini memberikan angin segar bagi kehidupan bersama. Namun yang mesti diperhatikan adalah orang semestinya melakukan sesuatu yang baik terus-menerus. Kalau hal ini dilakukan, nama orang akan tetap tercatat dalam sejarah kehidupan manusia.

Mari kita berusaha mencatatkan diri kita dengan melakukan sebanyak-banyaknya perbuatan baik dalam hidup kita. Dengan demikian, yang dikenang dari hidup kita adalah kebaikan demi kebaikan. Cinta yang kita tinggalkan senantiasa bersemi di dalam kehidupan manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

519

18 Januari 2010

Menimba Rahmat dari Perbuatan Baik



Waktu saya masih SD, seorang teman saya mencuri uang ayahnya sebesar seribu rupiah. Di tahun 70-an seribu rupiah itu memiliki nilai yang tinggi. Di sekolah, ia mentraktir kami. Hal ini berlangsung selama dua hari. Pada hari yang ketiga, teman saya ini membelikan kami permen. Cukup banyak. Kami mulai curiga, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?

Ketika kami bertanya tentang dari mana ia mendapatkan uang, ia mengatakan bahwa uang itu ia peroleh dari kakaknya. Tetapi kami tidak percaya. Kakaknya tidak punya pekerjaan. Ia juga putus sekolah dan nganggur saja di rumah. Karena itu, kami tidak percaya.

Setelah kami mendesak dia lalu dia mengakui bahwa ia mengambil uang itu dari saku celana ayahnya. Ia sedang tidak suka dengan ayahnya yang kurang memperhatikannya. Karena itu, ia mengambil uang itu untuk jajan. Setelah kami menasihatinya agar ia tidak melakukan lagi hal seperti itu, teman saya itu berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Ia takut kalau nanti dihukum oleh ayahnya setelah ketahuan mengambil uang ayahnya.

Sejak itu, teman saya itu berubah menjadi orang yang jujur. Ia juga tidak mau pamer lagi dengan membelikan jajan untuk kami, walau ia punya uang pemberian ibunya. “Saya kapok. Saya tidak mau melakukan hal itu lagi,” kata teman saya itu.

Suatu kebiasaan jelek akan terus bertumbuh dan berkembang kalau dilakukan terus-menerus. Seorang yang sudah merasa enak menggunakan narkoba akan menggunakannya terus-menerus. Ia tidak peduli, kalau narkoba itu akan merusak masa depannya.

Demikian pula sebuah perbuatan baik akan terus-menerus dilakukan, kalau orang merasakan bahwa perbuatan baik menyenangkan hatinya. Perbuatan baik itu dapat menjadi suatu gaya hidup. Suatu kebiasaan yang mampu memberi makna dan nilai bagi hidup seseorang. Suatu perbuatan baik akan bertumbuh dan berkembang terus-menerus, kalau hal itu bukan menjadi beban bagi hidup.

Karena itu, orang mesti berjuang untuk melakukan perbuatan baik dalam hidup ini. Perbuatan baik akan memperkaya orang dalam pergulatan hidup ini. Perbuatan baik itu akan menguatkan orang di kala ia mengalami suatu kesulitan dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita diundang untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya. Namun perbuatan baik itu mesti dilaksanakan dengan semangat hati yang bebas. Orang tidak boleh terbelenggu dalam suasana keterpaksaan. Perbuatan yang dilakukan dengan bebas akan menjadi rahmat bagi diri dan sesama.

Setiap hari kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Kita mohon, agar Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu senantiasa menguatkan perbuatan baik kita. Mari kita bawa semua perbuatan baik kita itu dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
299
Bagikan

11 Januari 2010

Perbuatan Baik yang Membahagiakan



Ketika terjadi wabah SARS di Hongkong beberapa tahun lalu, seorang dokter merawat begitu banyak pasien. Ia tidak kenal lelah merawat mereka. Ia sangat setia mendatangi para pasien yang dirawat di ruangan khusus itu. Ada pasien yang sembuh lalu pulang ke rumahnya. Ada pasien yang tidak bisa tertolong.

Suatu hari virus SARS pun hinggap ke diri dokter itu. Ia mengalami suatu penderitaan yang luar biasa. Akhirnya, ia sendiri meninggal dunia. Sebenarnya dokter itu bisa saja menghindari tugas itu. Tetapi ia justru merawat para pasien SARS itu dengan sukacita. Penderitaan yang dia alami merupakan konskuensi dari pekerjaannya. Itulah pengorbanan dirinya. Karena itu, ia mengalami sukacita di saat-saat ia terserang virus yang sama.

Melihat kerelaan, kesetiaan dan sukacita dokter itu dalam merawat para pasien, para kerabat dan teman-temannya tidak meratapi kepergiannya. Justru mereka mengadakan ucapara pemakaman dengan sukacita. Mereka menyanyikan lagu-lagu gembira saat penguburannya. Suasana seperti ini membuat para peliput acara pemakaman itu terheran-heran. Mengapa mereka tidak sedih, karena kehilangan dokter yang setia dan baik hati itu?

Jawabannya adalah suatu perbuatan baik itu mesti disyukuri. Dokter itu telah melakukan perbuatan yang sangat baik dengan merawat para pasien. Ia mengorbankan hidupnya demi hidup sesama. Dari pengorbanannya itu banyak pasien diselamatkan.

Suatu perbuatan baik itu menjadi suatu kesaksian hidup bagi orang lain. Namun perbuatan baik itu selalu dibarengi dengan semangat berkorban. Tentu semangat ini bersumber dari semangat cinta kasih yang besar terhadap hidup orang lain. Biasanya perbuatan baik yang dilandasi oleh kasih yang besar membuat orang bahagia dalam hidupnya. Meski penderitaan datang menghadang, orang seperti ini akan mengalami suatu sukacita dalam hidupnya. Penderitaan yang ia alami itu ditutup oleh pengorbanan dan cinta kasih yang dilakukannya bagi orang lain.

Namun hal yang perlu diperhatikan adalah perbuatan baik yang penuh pengorbanan itu bukan sekedar suatu kempensasi. Kalau hal ini terjadi, orang yang berbuat baik itu akan selalu mengeluh atas pengorbanan demi pengorbanan yang dilakukannya. Karena itu, orang mesti memiliki hati yang tulus murni dalam melakukan perbuatan baik bagi sesama di sekitarnya. Ia tidak boleh melakukannya karena terpaksa.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar perbuatan baik yang kita lakukan itu didasarkan pada semangat cinta kasih yang besar kepada sesama kita. Pengorbanan yang kita lakukan bagi sesama itu mesti tumbuh dari hati yang tulus murni. Kalau ini yang terjadi, maka kita akan menemukan kebahagiaan dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Setiap hari ini kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita bawa semua itu dalam hidup kita. Kita serahkan semua itu kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang akan memberi kita damai pada malam ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



292
Bagikan