Pages

Tampilkan postingan dengan label perbuatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perbuatan. Tampilkan semua postingan

22 Januari 2014

Keselarasan antara Kata dan Perbuatan


Apa yang akan Anda lakukan, saat Anda berhadapan dengan sesama Anda yang banyak bicara? Anda biarkan saja? Anda cuek saja? Atau Anda mengambil ide-idenya untuk melakukan berbagai hal yang baik bagi kehidupan ini?

Sudah lima bulan ini, seorang teman saya tidak mau menonton televisi lagi. Ia mogok. Bahkan layar televisi yang ada di rumahnya dia tutup dengan kertas putih. Ia mau berdiam diri saja. Ia tidak mau mendengarkan obrolan-obrolan para politisi di televisi. Menurutnya, para politisi itu hanya mengumbar ide-ide. Mereka lebih banyak bicara. Mereka tidak punya telinga untuk mendengarkan suara rakyat, meski mereka selalu mengklaim bahwa mereka selalu peduli terhadap kepentingan rakyat.

Nyatanya, menurut teman saya itu, banyak kejanggalan terjadi di negeri ini. Ada korupsi yang dibiarkan terus-menerus berlangsung. Padahal ada puluhan juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Anehnya lagi, rakyat yang berusaha mati-matian untuk memenuhi kebutuhan mereka, tetapi para politisi itu menyetujui pemungutan pajak.

Melihat situasi seperti itu, teman saya itu kesal. Ia protes. Ia mogok. Langkah selanjutnya adalah ia merencanakan untuk tidak mau bayar pajak. Ia tahu bahwa hal ini melanggar peraturan. Tetapi ia lakukan itu demi tegaknya keadilan. Apalagi selama ini ia sering ditekan oleh petugas pajak untuk menyuap.

Ia berkata, “Saatnya kita harus ambil tindakan. Kita tidak bisa biarkan praktek-praktek kejahatan merajalela terus-menerus.”

Sahabat, ada orang-orang yang lebih suka berbicara daripada melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama. Orang yang banyak bicara merasa lebih hebat daripada yang sedikit bicara. Soalnya adalah apakah yang dibicarakan itu demi kebahagiaan bersama? Atau yang dibicarakan itu hanya untuk kesenangan pribadi?

Mungkin baik kita mengikuti usulan untuk mendengar lebih banyak dan berbicara lebih sedikit. Mendengar membuat kita belajar banyak hal dari orang lain. Orang yang banyak bicara memberikan ide-ide bagi kita. Kita mendapatkan berbagai masukan bagi karya kita. Karena itu, kita tidak perlu menggerutu saat ada orang di sekitar kita yang banyak bicara. Kita tidak perlu mogok untuk mendengarkan orang lain yang berbicara banyak itu.

Mendengar juga memungkinkan kita untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama kita. Mungkin kita akan mudah membangun relasi yang berguna bagi hidup kita. Dengan cara demikian, kita menjadi orang yang punya banyak sahabat.

Kisah teman saya di atas menjadi suatu pertimbangan yang baik juga. Ia punya sikap yang tegas. Tetapi kurangnya adalah ia mudah mogok. Ia berhenti untuk melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ia memilih untuk bersikap pasif. Semestinya ia mulai membangun relasi dengan sesamanya. Dengan demikian, ia memiliki banyak kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi hidupnya dan sesamanya.

Orang beriman mesti berani memberikan solusi bagi suatu situasi yang kurang baik. Bukannya mengambil sikap mogok dan tidak melakukan hal-hal yang baik bagi sesama. Mari kita tetap berusaha untuk mendengarkan banyak dan berbuat banyak bagi kehidupan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan orang lain. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1028

04 Desember 2011

Ketika Iman dan Perbuatan Bertemu

Apa yang menjadi penghambat dalam hidup beriman Anda? Pernahkah Anda temukan hal-hal yang menghambat itu? Atau Anda merasa sudah menjadi orang beriman yang baik dalam hidup ini?

Seorang nelayan mengoperasikan perahu kecil untuk mengangkut para penumpang. Suatu hari, seorang penumpang memperhatikan bahwa di dua dayung yang dipakai oleh nelayan tersebut terukir kata “Iman” pada salah satu dayung dan kata “Perbuatan” pada dayung lainnya.

Kedua kata tersebut telah menggelitik hati sang penumpang untuk menanyakan maksudnya kepada si pendayung. Merasa bahwa itu adalah kesempatan yang baik untuk bersaksi, si pendayung pun berkata, “Baiklah, aku akan memperlihatkan kepadamu. Ia mengangkat satu dayung. Lantas ia mendayung hanya dengan satu dayung saja yang bertuliskan “perbuatan”. Beberapa kali mendayung, perahu itu hanya berputar-putar di sekitar tempatnya saja.

Setelah itu, ia menaikkan dayung tersebut dan memakai dayung yang bertuliskan “Iman”. Seperti ketika ia memakai dayung pertama, perahu itu juga hanya berputar-putar di tempatnya. Setelah demonstrasi yang ia lakukan, pendayung tersebut mengambil kedua dayung. Ia mulai mendayungnya bersama-sama. Perahu itu pun mulai meluncur maju.

“Ini adalah gambaran kehidupan orang beriman. Iman tanpa perbuatan adalah kemalasan. Sebaliknya, perbuatan tanpa iman adalah kesombongan. Tetapi ketika iman bekerja sama dengan perbuatan, itulah yang akan mendatangkan berkat dan kemajuan,” katanya.

Sahabat, banyak orang merasa bahwa hidupnya sudah cukup berarti dengan beribadat setiap hari. Mereka merasa, imannya telah menyelamatkan diri mereka. Ternyata tidak. Mereka menjadi lemah dalam kehidupan bersama. Mereka hanya memperhatikan hubungan mereka dengan Tuhan. Hubungan dengan sesama tidak mereka pedulikan. Padahal iman itu baru menjadi kuat saat orang menghidupinya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Kisah di atas memberikan kita gambaran betapa iman mesti menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seorang bijaksana mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati. Orang hidup seperti mobil yang tidak bisa bergerak, karena mesinnya mati. Orang tidak punya hati yang menjadi daya dorong untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan baik dalam hidup.

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh orang beriman adalah memadukan antara pengungkapan iman dan penghayatan iman. Pengungkapan iman menyangkut doa-doa, devosi-devosi, ibadat-ibadat, ziarah-ziarah ke tempat-tempat suci. Sedangkan penghayatan menyangkut cara hidup orang dalam kebersamaan dengan sesama,

Seorang koruptor yang rajin berdoa dan beribadat ibarat mobil yang rusak. Terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya. Antara pengungkapan iman dan penghayatan iman tidak menyatu. Tentu saja ini berbahaya bagi hidup bersama. Orang akhirnya bisa menghalalkan segala cara demi meraih keinginan dirinya.

Orang beriman adalah orang yang sungguh-sungguh memadukan hidup batiniahnya dengan hidup sosialnya. Dengan demikian, tidak terjadi ketimpangan dalam hidup. Mari kita berusaha untuk menghayati iman yang kita ungkapkan dalam doa-doa dan ibadat-ibadat kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan sukacita dan kedamaian dalam hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


836

23 Mei 2011

Mendasarkan Perbuatan pada Pertimbangan yang Matang




Sehelai kaus yang dipungut dari pagar rumah orang bisa menjadi masalah bagi yang memungut. Sang empunya kaus dapat mengadukan pemungutnya ke polisi. Begitulah yang terjadi dengan Aspuri, seorang buruh tani di Kampung Sisipan, Desa Bendung, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, beberapa waktu lalu. Akibat perbuatan memungut milik orang lain, Aspuri mesti mendekam di penjara.

Aspuri menyesali perbuatannya setelah divonis tiga bulan lima hari penjara potong masa tahanan. Ia berkata, ”Saya jengkel, gara-gara masalah sepele bisa sampai kayak gini. Tapi, saya tak dendam sama Bu Dewi.”

Masih untung bagi Aspuri. Vonis yang dijatuhkan itu sama dengan masa tahanan sementaranya. Karena itu, ia langsung bebas setelah vonis. Namun soalnya adalah ia tetap bersalah atas tindakannya memungut barang milik orang lain. Pria berusia 19 tahun ini dikenal sebagai pemuda yang sopan, pendiam dan tidak banyak tingkah. Ia juga seorang yang menghabiskan malam-malamnya dengan mengajar ngaji di kampungnya. Namun perbuatannya yang tidak disengaja itu seolah menghapus semua kebaikan yang ada pada dirinya.

Aspuri bersalah, karena memenuhi pasal KUHP tentang pencurian. Menurut hakim yang memimpin persidangan Aspuri, perbuatan terdakwa yang memungut sehelai kaus tersebut memenuhi unsur tindak pidana yang diatur dalam Pasal 362. Hakim berkata, ”Pengertian Pasal 362, barang yang diambil tidak harus ada nilai ekonomisnya. Sepanjang tidak izin pemiliknya, maka perbuatan terdakwa sudah memenuhi unsur 362.”

Sahabat Sonora, ada pepatah ’nila setitik rusak susu sebelanga’. Selembar kaus yang dipungut Aspuri itu bukan untuk dia pakai sendiri. Setelah mengambil kaus itu, ia mnencuci dan memberikan kepada paman angkatnya. Namun perbuatannya yang tampak sepele itu berakibat fatal bagi dirinya. Ia mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dalam hidup ini banyak orang menganggap sepele terhadap apa yang dilakukannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang kurang begitu peduli terhadap orang lain. Orang terlalu mengandalkan egoisme dirinya. Orang lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

Karena itu, kisah tadi mau mengajak kita untuk introspeksi diri. Kita mesti menukik ke dalam diri kita sendiri untuk merefleksikan perbuatan-perbuatan kita. Perbuatan yang kita lakukan mesti didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang matang dan manusiawi. Dengan demikian, perbuatan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh baik dan berguna bagi banyak orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


682

06 Januari 2011

Berani Mempertanggungjawabkan Perbuatan


Ada seorang anak yang suka menghindar. Setiap kesalahan yang diperbuatnya selalu dilemparkan kepada orang lain. Ia selalu berusaha mengelak. Dia berkata, “Itu bukan kesalahanku. Kenapa aku yang dipersalahkan?”

Dengan mengelak seperti itu, ia tidak perlu dipersalahkan. Ia lolos dari suatu masalah. Ia membebankan masalah atau kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain. Namun kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sekali-sekali ia jatuh ke tanah juga. Suatu kali anak itu kena batunya. Ia tidak bisa mengelak dari kesalahan yang diperbuatnya. Ada bukti-bukti yang tidak bisa ia elak lagi. Ia terpaksa mengakui perbuatannya yang salah itu.

Ia kesal terhadap hal itu. Ia berteriak-teriak. Ia tidak mau menerima kesalahan yang dibuatnya sendiri itu. Ia bersungut-sungut. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatian orang-orang terhadap persoalan yang lain. Namun kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus menanggung akibat dari kesalahan yang diperbuatnya.

Sahabat, banyak orang sering tidak mau bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya. Bisa berbuat, tetapi enggan bertanggungjawab. Mengapa? Karena orang tidak berani menanggung resiko atas apa yang dilakukannya. Orang melarikan diri dari resiko dengan mengatakan bahwa ia tidak melakukannya. Dengan demikian, mereka tidak perlu menanggung akibat dari perbuatannya.

Mochtar Lubis mengatakan bahwa inilah salah satu ciri orang Indonesia. Beliau mengatakan bahwa dengan mengatakan tidak terhadap apa yang dilakukannya, seseorang ingin melepaskan tanggung jawab. Hal ini umum terjadi di Indonesia. Bahkan orang yang sudah jelas-jelas kedapatan bersalah masih juga membela diri.

Untuk itu, orang mesti berubah. Yang salah katakan salah. Yang benar katakan benar. Tidak perlu membuat rekayasa yang membingungkan banyak orang. Orang mesti berani menghadapi resiko apa pun yang akan terjadi. Keberanian untuk bertanggung jawab itu bagian dari iman. Orang mesti berani mempertanggungjawabkan imannya di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, orang tetap bertahan dalam kebaikan.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani bertanggungjawab apa yang kita lakukan. Sekecil apa pun kesalahan yang kita lakukan, kita mesti mempertanggungjawabkannya. Kita tidak perlu kuatir atau takut terhadap resiko yang akan kita hadapi. Keberanian kita menunjukkan bahwa kita mau bersungguh-sungguh dalam iman akan Tuhan.

Untuk itu, kita mesti memasrahkan hidup kita kepada Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan membimbing hidup kita. Tuhan selalu peduli terhadap hidup kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendirian. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


586

18 September 2009

Keselarasan antara Kata dan Perbuatan



Sambil berjalan di pesisir pantai, seekor induk kepiting dan anaknya bercakap-cakap dalam suasana gembira. Akan tetapi, induk kepiting itu tiba-tiba marah. Induk kepiting itu membentak anaknya, "Lihat, betapa jeleknya caramu berjalan! Mengapa engkau tidak dapat berjalan seperti hewan yang lain? Semua hewan lain berjalan ke depan, tetapi engkau berjalan mundur."

Anak kepiting terperanjat mendengar kata-kata ibunya. Ia kemudian menjawab, "Tetapi ibu, aku belajar berjalan dari ibu. Aku berjalan seperti engkau sendiri. Jika ibu menginginkan aku berjalan ke depan, ibu sendiri harus berjalan ke depan."

Induk kepiting itu diam sesaat. Ia kemudian menyadari bahwa apa yang dikatakan anaknya itu benar. Karena itu, ia tidak mengatakan banyak hal lagi dan kemudian mengganti topik pembicaraan dengan sesuatu yang lebih menyenangkan.

Banyak janji diungkapkan oleh para calon presiden dan calon wakil presiden di saat kampanye pemilu sekarang ini. Mau bangun ini, bangun itu. Memberi nasihat ini, nasihat itu. Di setiap kelompok yang dikunjungi janji-janji itu berbeda-beda. Misalnya, ketika berada di tengah-tengah para petani, janjinya akan menyejahterakan petani dengan harga pupuk yang rendah, harga jual gabah yang tinggi, dll. Ketika berada di lingkungan mahasiswa perguruan tinggi negeri, janjinya akan menghapus undang-undang BHP. Ketika berada di lingkungan para ulama, janjinya akan membangun rumah ibadat untuk meningkatkan iman umat kalau nanti yang bersangkutan terpilih untuk memimpin negeri ini.

Banyak orang gampang berjanji, tetapi sulit melaksanakan apa yang dijanjikannya. Orang seperti ini biasa diibaratkan dengan tong kosong nyaring bunyinya. Omongnya banyak, tetapi tidak berisi.

Karena itu, orang seperti ini mesti menyadari dahsyatnya kata-kata yang diucapkan. Kata-kata itu bagai pedang bermata dua. Kata-kata itu memiliki kemampuan yang luar biasa yang memberi kekuatan dan pengaruh dalam kehidupan manusia. Apa yang dikatakan mesti membuahkan hasil yang berlimpah. Ini yang namanya kata-kata yang bertuah atau berbuahkan kebaikan bagi hidup manusia.

Untuk itu, orang mesti selalu waspada dalam bertutur kata. Setiap kata yang diucapkan itu mesti selalu diperhatikan. Karena itu, kata-kata itu dapat saja membuat orang tergelincir. Kata-kata itu dapat membuat orang kehilangan kepercayaan dari orang lain.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar apa yang kita ucapkan itu selaras dengan apa yang kita lakukan. Artinya, tidak ada kesenjangan antara kata yang kita ucapkan dengan perbuatan kita. Mengapa mesti terjadi begini? Karena kepercayaan orang terhadap kita akan tetap bertahan. Orang tidak lagi meragukan kata-kata yang kita ucapkan, karena kata-kata itu menjadi nyata dalam perbuatan.

Mari kita berusaha mewujudkan ungkapan isi hati kita dalam perbuatan-perbuatan yang nyata. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




170

17 Juli 2009

Melakukan Hal-hal yang Biasa


Jacky Chan, bintang film laga Hongkong yang sudah mendunia mengunjungi Indonesia sesudah gempa dan tsunami di Aceh. Ia datang untuk mengungkapkan simpatinya kepada para korban bencana. Ia datang untuk memberikan hiburan bagi para korban. Ia ingin melihat dari dekat penderitaan sesamanya. Ia datang mewakili para selebriti Hongkong yang memberi sumbangan sebagai tanda empati atas penderitaan yang dialami rakyat Aceh.

Dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi swasta, seorang wartawan bertanya, “Hampir di setiap film Anda berperan sebagai pahlawan. Menurut Anda, apa kriteria pahlawan itu?”

Jacky Chan tersenyum mendengar pertanyaan itu. Lantas ia menjawab, “Pahlawan itu orang biasa yang melakukan sesuatu yang luar biasa.”

Ada begitu banyak hal yang kita buat dalam hidup ini. Banyak hal baik yang sudah kita lakukan untuk diri kita sendiri dan untuk sesama. Sering kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan itu begitu mulia. Begitu indah setiap hal baik yang kita lakukan itu.

Seorang ibu, misalnya, melakukan begitu banyak hal baik dan indah untuk anak-anaknya. Sejak ia mengandung anak-anaknya, ia memelihara mereka dengan baik dan penuh kasih. Insting keibuannya kemudian berlanjut dengan memelihara dan membesarkan mereka.

Namun sering banyak orang tidak peduli. Mereka menganggap bahwa itulah tugas dan kewajiban seorang ibu. Semestinya kita mensyukuri hal-hal baik dan indah ini. Betapa besar jasa seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga mereka bertumbuh menjadi orang-orang yang baik.

Kiranya di mata Jacky Chan, seorang ibu juga seorang pahlawan. Seorang ibu mengerjakan hal-hal yang spektakuler, meskipun ia seorang yang biasa. Untuk itu, kita mesti mensyukurinya. Artinya, kita ingin memberi dukungan kepada kaum ibu yang telah melakukan perbuatan-perbuatan besar dan ajaib. Seandainya mereka tidak mendidik anak-anaknya dengan baik, apa jadinya dunia ini? Dunia ini akan dipenuhi dengan orang-orang yang beringas, yang tidak peduli terhadap sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita ingin melakukan hal-hal yang besar untuk hidup sesama di sekitar kita. Kita ingin membahagiakan sesama kita. Hanya dengan demikian, kita dapat membawa sesama untuk berjumpa dengan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang dalam hidup sehari-hari. Tuhan senantiasa hadir dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita berjuang sendiri dalam dunia ini. Tuhan tetap peduli terhadap kita. Maka kita juga mesti peduli terhadap sesama kita. Mari kita berusaha untuk senantiasa setia kepada Tuhan, sehingga kita dapat melakukan hal-hal yang spektakuler. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
(91)