Pages

Tampilkan postingan dengan label kejujuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejujuran. Tampilkan semua postingan

18 Desember 2013

Kejujuran Membawa Keharmonisan

 

Apa yang akan terjadi ketika terjadi ketidakjujuran dalam membangun persaudaraan? Saya yakin yang terjadi adalah pertentangan dan percekcokan.

Ada dua orang kakak beradik yang sepakat untuk punya usaha bersama. Masing-masing mereka menanamkan 50 persen saham. Dalam perjanjian, hasil usaha akan dibagi sama rata. Tidak ada yang kurang, tidak ada yang lebih. Mengapa? Karena masing-masing punya setengah dari saham usaha itu. Kalau ada yang mau mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, ia mesti membeli lagi saham dari saudaranya.

Kedua kakak beradik itu pun menjalankan usaha itu bersama-sama pula. Tahun demi tahun mereka lewati bersama. Keuntungan mereka bagi bersama secara adil sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Namun suatu ketika sang adik mulai melakukan hal yang tidak wajar. Ia memanipulasi data-data setelah sejumlah besar uang telah ia ambil. Akibatnya, pada akhir tahun ia mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

Sang kakak mulai menaruh curiga atas kondisi tersebut. Namun berbagai alasan dibuat oleh sang adik, sehingga sang kakak tetap yakin akan ketulusan hati sang adik. Tahun berikutnya, sang kakak mulai mengetahui akal bulus sang adik. Ia mulai menghitung dengan lebih cermat hasil usaha mereka. Yang ia temukan ternyata jauh lebih banyak dari yang biasanya.

Setelah mengadakan pembicaraan dengan sang adik seperlunya, sang kakak memutuskan untuk pecah kongsi. Ia tidak mau dikibuli terus-menerus. Ia tidak mau sang adik tidak adil terhadap dirinya. Ia menuntut kejujuran, tetapi ketika kejujuran tidak bisa dipertahankan lebih baik pecah kongsi. Uang ternyata menjadi pemicu perpisahan mereka. Uang tidak memandang siapa orang yang menggunakannya.

Sahabat, kata orang, urusan uang adalah urusan besar. Karena itu, orang mau bersahabat atas nama segala macam hal, kecuali dalam hal uang. Begitu menyangkut soal keuntungan atau pembagian harta, orang tidak lagi mengenal teman atau saudara. Persaudaraan bisa hancur karena kuasa uang. Uang punya kuasa yang sedemikian tinggi.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kejujuran mesti menjadi andalan dalam kebersamaan. Ketika kejujuran tidak bisa diandalkan lagi, orang akan menemukan hidup yang kurang harmonis. Orang tidak bisa saling mempercayai. Yang terjadi adalah percekcokan yang tiada henti, karena orang saling curiga dalam hidup ini.

Dalam kondisi seperti ini, orang mesti instrospeksi diri. Orang mesti menukik ke dalam dirinya sendiri. Orang mesti berani mempertanyakan kembali motivasi dirinya dalam membangun persaudaraan. Orang yang jujur akan membangun persaudaraan demi kebahagiaan bersama. Tetapi orang yang tidak jujur akan membangun persaudaraan demi kepentingan dirinya sendiri. Begitu kepentingannya tidak terpenuhi, orang seperti ini akan menggunakan cara-cara tidak baik untuk memenuhi kepentingan dirinya.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani membangun hidup bersama yang harmonis berdasarkan kejujuran. Orang mesti yakin bahwa hanya melalui kejujuran itu, orang mampu membangun hidup yang lebih baik. Kehidupan bersama akan berjalan dengan baik dan harmonis hanya melalui kejujuran yang melimpah rua dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


1012

15 November 2013

Mewujudkan Iman dalam Hidup yang Nyata

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika tantangan dan rintangan menghadang Anda? Anda berhenti di tempat atau Anda berani menghadapinya?

Ada seorang perempuan sedang hamil tujuh bulan. Ia tetap bekerja seperti biasa. Ia seorang sopir taksi di Jakarta. Ia sedang mengandung anaknya yang keempat. Demi kelangsungan hidup, perempuan ini mesti bekerja dari jam 4 pagi hingga jam 12 malam. Karena jam kerjanya seperti itu, dia harus tidur di pool, malam libur baru pulang. Suatu pekerjaan yang tidak mudah bagi seorang perempuan yang sedang hamil. Tetapi ia mesti melakukannya demi keluarganya.

Tiga hari ia melakukan pekerjaan itu, satu hari libur. Saat libur itu, ia gunakan kesempatan itu untuk mengurus ketiga anak yang lain yang masih kecil-kecil. Sementara suaminya bekerja sebagai pengawas bangunan. Tuntutan hidup di Ibu Kota memaksa pasangan suami istri itu untuk bekerja. Mereka mesti membagi waktu untuk mengurus ketiga anak mereka.

Bekerja sebagai sopir taksi tidak selalu mulus. Suatu ketika ia dirampok oleh penumpangnya. Uang hasil kerja hari itu ludes. Black Berry-nya pun lenyap dirampas oleh penumpangnya itu. Dalam kondisi seperti itu, ia pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak bisa melawan.

“Saya ingat anak-anak saya yang masih kecil-kecil. Kalau saya melawan lalu dibunuh, siapa yang akan memberi mereka makan?” kata ibu itu.

Di waktu yang lain, seorang penumpang mabuk hampir memperkosa dirinya. Untunglah ia cepat-cepat membawa taksinya ke tempat yang ramai. Begitu berhenti, ia langsung berteriak-teriak. Akibatnya, penumpang mabuk itu pun ditangkap polisi. Bagi perempuan itu, inilah tantangan hidup yang nyata. Ia mesti menghadapinya dengan penuh resiko.

Pengorbanan perempuan itu tidak sia-sia. Hasil keringatnya ia gunakan untuk kebutuhan hidup keluarganya. Anak-anaknya boleh mengalami kasih sayang yang berlimpah. Mereka tidak perlu menderita kelaparan.

“Saya bahagia, meski saya mesti berkorban untuk keluarga saya. Kami hidup rukun dan damai,” katanya.

Sahabat, kebahagiaan itu diperoleh melalui korban. Dalam kehidupan keluarga, suami istri saling berkorban untuk saling memberikan kebahagiaan. Anak-anak akan terjamin hidupnya, ketika suami istri sungguh-sungguh menyadari tugas dan kewajiban mereka. Keluarga seperti ini hidup dalam realitas yang sesungguhnya.

Kisah nyata di atas mau mengatakan kepada kita bahwa korban yang dilakukan dengan penuh cinta kasih akan membawa sukacita dalam hidup. Apa pun yang dilakukan dengan terpaksa hanya menjadi beban dalam hidup ini. Perempuan itu menyadari betul resiko menjadi seorang sopir taksi di kota besar. Namun demi kasih sayangnya kepada keluarga, ia mampu melakukannya dengan penuh sukacita.

Orang beriman mesti berani menampakkan imannya dalam hidup sehari-hari. Iman itu mesti mewujud dalam pengorbanan diri demi kasih sayang yang mendalam kepada sesama yang paling dekat. Korban seperti ini biasanya membawa damai dan sukacita dalam hidup.

Untuk itu, orang beriman mesti berani menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Tantangan dan rintangan itu menjadi motivasi dalam menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Hanya dengan berani berkorban, orang akan menemukan jati dirinya yang sesungguhnya dalam hidup yang nyata. Mari kita wujudkan iman dalam hidup sehari-hari dengan mengorbankan hidup kita demi kebahagiaan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

979

16 Februari 2012

Utamakan Kejujuran dalam Menggapai Sukses


Dalam hidup ini, apa yang Anda mau pertahankan? Harta kekayaan yang berlimpah yang diperoleh dengan tidak halal? Atau Anda ingin tetap mempertahankan kejujuran dalam menggapai sukses dalam hidup Anda?

Beberapa tahun lalu, komite olimpiade mencopot medali emas lari 1500 meter yang dimiliki oleh pelari Bahrain bernama Rashid Ramsi. Hal itu dilakukan, karena Ramsi kedapatan melakukan dopping saat sebelum bertanding. Tes urine yang dilakukan menyatakan bahwa ada obat-obatan yang terkandung di dalamnya. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh Ramsi itu termasuk yang dilarang untuk digunakan dalam dunia olahraga.

Ramsi berkelit. Ia mengatakan bahwa ia tidak melakukan dopping sebelum bertanding. Ia telah melakukan pertandingan dengan jujur. Karena itu, ia mengharapkan pihak komite tidak mencopot medali emas yang telah diraihnya. Ia telah bekerja keras untuk meraih medali emas itu. Ia telah berlatih berbulan-bulan untuk mengikuti lomba itu. Jadi pihak komite bisa berbuat sewenang-wenang terhadap dirinya.

Ramsi boleh membela diri. Medali itu kemudian diambil daripadanya. Medali itu bukan lagi milik dirinya. Ia tidak bisa mempertahankannya. Ia bisa mempertahankannya, kalau ia berlomba dan memenangi lomba itu di olimpiade yang akan datang. Tentu saja hal ini sangat menantang Ramsi untuk membuktikan kejujuran dirinya.

Sahabat, hidup kita di dunia ini sebenarnya seperti orang yang sedang berada dalam pertandingan. Untuk berhasil meraih ‘medali’ pertandingan, ada banyak tuntutan yang mesti kita penuhi. Dari segi fisik, kita harus melatih tubuh kita agar tetap prima. Dengan demikian, kita dapat tetap bertahan dalam pertandingan itu. Tetapi dari segi psikis, kita juga mesti tetap memperjuangkan kejujuran. Kita tidak boleh melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, saat kita meraih juara, kita meraihnya dengan sukacita.

Kisah di atas mengingatkan kita agar kebenaran dan kejujuran senantiasa dijunjung tinggi dalam hidup ini. Orang mesti bekerja keras untuk meraih impiannya. Orang tidak bisa hanya santai-santai sambil mengharapkan bintang jatuh dari langit. Orang mesti berani berjerih payah untuk meraih sukses dalam hidupnya.

Namun kecenderungan negatif sering memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Orang berani melawan arus kebenaran dan kejujuran untuk meraih kesuksesan dalam hidup mereka. Mereka mengira bahwa dengan mematahkan kebenaran dan kejujuran mereka mampu hidup aman dan tenteram.

Kita menyaksikan begitu banyak pemimpin di negeri ini yang dijebloskan ke penjara begitu turun dari kekuasaan. Mengapa? Karena tidak berhasil mempertahankan ‘medali’ kebenaran dan kejujuran. Godaan uang dan harta membuat mata mereka tersilau. Mereka kemudian tunduk oleh kemilau uang dan harta itu. Ketidakjujuran yang dibungkus dalam korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi bagian hidup mereka.

Karena itu, kita diajak untuk senantiasa mempertahankan ‘medali’ kejujuran. Dengan demikian, kita dapat meraih sukses dengan baik dan benar. Hidup kita menjadi damai dan sejahtera. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


872

19 Mei 2011

Mengapa Kejujuran Semakin Memudar?




Beberapa hari terakhir ini (Februari 2010) media-media marak memberitakan tentang kegiatan jiplak-menjiplak karya ilmiah. Ada skripsi yang dijiplak. Ada guru besar yang tertangkap tangan menjiplak karya orang lain. Aktivitas ini menunjukkan rendahnya mutu pendidikan di negeri ini. Ada orang yang ingin sukses dengan jalan pintas. Akibatnya, mutu dirinya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Namun kegiatan jiplak-menjiplak itu juga menunjukkan ketidakjujuran. Orang tidak jujur terhadap kemampuan dirinya sendiri. Orang berani berbohong demi memiliki gelar atau titel yang tinggi. Menurut Dr William Chang, kegiatan jiplak-menjiplak adalah tindak kebohongan yang mesti diberantas.

Ia berkata,”Ketidakjujuran ini sudah holistik, mengakar, merambah keluarga, masyarakat, dunia pendidikan dan pemerintahan. Ini cermin dekadensi moral.”

Untuk itu, apa yang mesti dilakukan untuk menghentikan kegiatan jiplak-menjiplak ini? Yang pertama-tama mesti dibuat adalah orang mesti menyadari bahwa pendidikan itu bukan hanya sekedar mengejar angka-angka dalam raport. Yang mesti ditekankan di dunia pendidikan adalah manusia belajar untuk hidup. Yang pertama-tama yang mesti disadari adalah nilai-nilai yang diraih dalam pendidikan itu untuk mendukung hidup manusia.

Sahabat, tentu saja kita merasa sedih mendengar kegiatan jiplak-menjiplak yang marak terjadi di negeri ini. Mengapa? Karena dunia pendidikan kita sudah semakin rendah mutunya. Kita terpuruk di segala bidang kehidupan. Padahal kita semestinya bangkit untuk meraih nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi.

Mengapa kegiatan jiplak-menjiplak bisa terjadi di negeri ini? Menurut sementara orang, kegiatan ini bisa terjadi karena orang tidak mau repot-repot melakukan penelitian ilmiah. Orang merasa bahwa dengan uang yang dimilikinya, ia dapat membeli hasil karya ilmiah milik orang lain.

Penyebab lain adalah komersialisasi di bidang karya ilmiah sudah sedemikian semarak. Akibatnya, lahir sarjana-sarjana dengan titel yang mengagumkan, tetapi bobot ilmiahnya rendah.

Tentu saja kita semua ingin agar pendidikan kita dihiasi oleh nilai-nilai kejujuran. Karena itu, semua pihak mesti berusaha untuk memberantas kegiatan jiplak-menjiplak ini. Caranya adalah dengan secara dini menanamkan nilai-nilai kejujuran di sekolah-sekolah. Ketika seorang pelajar tertangkap tangan menyontek saat ulangan atau ujian, ia mesti diberi sanksi yang berat.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita lebih jujur dalam hidup ini, termasuk dalam dunia akademis. Kejujuran dalam hal ini menunjukkan bahwa kita orang-orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Orang yang jujur akan mendapatkan banyak hal baik dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

679

20 Maret 2011

Meningkatkan Kejujuran dan Kesetiakawanan

Soe Hok-gie adalah sosok pemberani. Namun ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Di era Soekarno dan Suharto berkuasa, ia berani mengkritik kebijakan kedua mantan presiden itu. Kebijakan yang tidak pro rakyat, ia kritik melalui tulisan-tulisannya di media massa.

Namun ia juga seorang demonstran yang cukup dikenal di kalangan mahasiswa. Pria yang meninggal di usia 27 ini adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia. Ia meninggal karena menghirup gas beracun ketika mendaki Gunung Semeru bersama teman-teman mahasiswa lainnya.

Kisah heroik Soe Hok-gie adalah ketika ia menghadang panser yang keluar dari istana presiden. Caranya adalah ia tidur telentang di tengah jalan yang hendak dilalui panser tersebut. Peristiwa itu menjadi berita heboh bagi masyarakat. Semua itu ia lakukan untuk menarik perhatian pihak pemerintah terhadap kepentingan rakyat.

Keberanian Soe Hok-gie itu tumbuh atas dasar kejujuran dan kesetiakawanan terhadap rakyat yang sering ditindas. Ia yakin, kesejahteraan akan tumbuh dan berkembang dalam hidup berbangsa dan bernegara. Soalnya adalah kejujuran dan kesetiakawanan sering diabaikan oleh banyak orang.

Sahabat, beberapa waktu lalu berita menghebohkan kita baca dan dengar dari berita-berita, yaitu fasilitas mewah bagi narapidana tertentu di penjara. Dalam sidaknya ke penjara Pondok Bambu, Satgas anti makelar hukum menemukan fasilitas mewah tersebut. Mereka pun kaget luar biasa bahwa ada narapidana tertentu yang diberi fasilitas tersebut.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu saja para narapidana tersebut menikmati kemewahan di penjara itu bukan dalam suasana gratis. Mereka mesti mengeluarkan sejumlah uang sebagai ongkos. Soalnya adalah siapa yang mendapatkan uang sewa tersebut?

Semestinya pihak institusi yang mengelola lembaga pemasyarakatan atau penjara tersebut. Kalau ini yang terjadi, tentu saja penjara tidak perlu kekurangan dana untuk membiayai kebutuhan para narapidana. Istilahnya ada subsidi silang dari narapidana yang menikmati fasilitas mewah itu untuk para narapidana yang bersesak-sesakan di satu sel.

Soalnya menjadi lain, kalau uang sewa itu digunakan oleh oknum tertentu untuk kepentingan dirinya sendiri. Ini namanya ketidakjujuran. Ini yang namanya uang sogok. Bukan uang sewa fasilitas mewah di penjara. Yang namanya uang sogok itu melanggar hukum. Tidak mengindahkan kesetiakawanan terhadap mereka yang menderita.

Kisah tadi memang kontras dengan temuan satgas anti makelar hukum itu. Kisah tadi mengungkap kejujuran dan kesetiakawanan seorang Soe Hok-gie yang berani mati bagi sesamanya. Sedangkan kisah kemewahan fasilitas penjara bagi narapidana tertentu mengabaikan kejujuran dan kesetiakawanan.

Karena itu, mari kita berusaha untuk hidup jujur dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, kita memiliki kesetiakawanan dengan sesama yang menderita. Tuhan memberkati.**



Frans de Sales, SCJ


636

20 Oktober 2010

Berpegang Teguh pada Kejujuran

Seorang anak dihadapkan pada dua pilihan, ketika ia menemukan uang satu juta rupiah di sekolahnya. Ia bingung, apakah uang itu digunakan untuk kebutuhannya atau ia menunggu sampai ada orang yang mencarinya. Kalau ia gunakan uang itu, berarti ia tidak jujur. Uang itu bukan miliknya. Tetapi kalau tidak ia gunakan, ia merasa rugi. Kan ada uang yang tidak bertuan.

Setelah lama mempertimbangkan hal itu, akhirnya anak itu menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan pribadinya. Dengan demikian, ia tidak perlu minta uang lagi dari orangtuanya. Tanpa merasa bersalah, ia menggunakan uang tersebut untuk bersenang-senang. Ia mentraktir teman-temannya. Ia tidak peduli bahwa ada orang yang kehilangan uangnya. Ada orang yang sangat membutuhkan uang untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Anak itu berkata dalam hatinya, ”Toh tidak ada yang tahu milik siapa uang itu. Saya juga tidak sengaja menemukannya. Kan saya berhak menggunakannya untuk kebutuhan saya.”

Sahabat, nasihat untuk berlaku jujur selalu mudah diucapkan daripada dipraktekkan. Ketika orang berada dalam keadaan terjepit, orang lebih memilih keuntungan. Orang tidak lagi berpikir mengenai kejujuran. Dalam situasi terjepit itu berlaku prinsip ’jujur kurang menguntungkan’. Bahkan orang akan merasa terpojokan. Tetapi kalau orang berlaku tidak jujur dalam situasi terjepit itu, keuntungan besar akan ia raih untuk hidupnya. Bahkan kebanggaan akan diraih dalam hidup.

Sebenarnya, kejujuran tidak berkaitan dengan untung rugi. Kejujuran tidak perlu dihitung dengan nilai uang. Kejujuran juga bukan sebuah pilihan. Kejujuran itu suatu sikap tetap yang tidak bisa digantikan oleh keuntungan dalam hidup. Orang yang jujur akan tetap jujur, meski ia kehilangan sebagian harta kekayaannya. Sebaliknya orang yang berdusta itu memilih untuk berdusta.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang mesti tetap mempertahankan kejujuran dalam hidupnya. Apa pun godaan yang datang menghadang, orang mesti tetap setia pada panggilannya untuk hidup jujur. Karena itu, orang mesti belajar dari Tuhan yang senantiasa jujur terhadap ciptaan-Nya. Tuhan tidak pernah mengkhianati ciptaan-Nya. Tuhan senantiasa membantu ciptaanNya untuk hidup jujur dan benar di hadapanNya.

Sebagai orang beriman, kita mesti tetap mempertahankan kejujuran dalam hidup ini. Apa pun situasi yang sedang menghimpit kita, kita mesti tetap jujur. Hanya dengan demikian, kita akan meraih kebahagiaan dalam hidup ini.

Sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa kejujuran adalah mata uang yang laku di mana-mana. Karena itu, sebagai orang beriman, mari kita bawa sekeping kejujuran dalam hidup kita. Jangan kita menggadaikan kejujuran dengan hal-hal yang akan menghancurkan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

531

17 Januari 2010

Membangun Kejujuran dalam Hidup




Seorang pembuat roti di sebuah desa membeli mentega dari seorang petani yang juga tetangganya. Suatu hari dia curiga bahwa mentega yang dibelinya tidak sesuai dengan berat yang diinginkannya. Karena itu, pembuat roti itu ingin mencari tahu.

Selama beberapa hari, dia menimbang mentega itu dan mendapati bahwa setiap kali menimbang, berat mentega itu berkurang alias menyusut. Hal ini membuatnya marah dan mengajukan petani itu ke pengadilan.

Hakim berkata kepada petani itu, “Saya kira Anda memiliki timbangan.”

Petani itu menjawab, “Tidak, pak hakim.”

Tanya hakim, “Lalu bagaimana Anda menimbang mentega yang Anda jual?”

Petani itu menjawab, “Hal itu mudah saya jelaskan. Ketika tukang roti itu membeli mentega dari saya, saya pun membeli roti darinya. Nah, saya memakai roti yang katanya seberat tiga ons untuk mengukur mentega yang saya jual. Jika berat mentega itu kurang dari tiga ons, berarti dia sendiri yang disalahkan.”

Banyak hal dilakukan orang untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Timbangan bisa direkayasa untuk mengeruk keuntungan yang besar dari usaha. Atau orang berani menjual barang yang kualitas rendah dengan harga yang tinggi. Ketidakjujuran seringkali menyebabkan penderitaan bagi orang lain. Kalau sampai seorang pembeli tahu akan ketidakjujuran seorang penjual, ia akan mengalami sakit hati. Apalagi ia sudah menjadi pelanggan yang setia. Ia akan beralih ke penjual yang lain. Tidak hanya itu, seorang pembeli juga akan menceritakan ketidakjujuran penjual kepada orang lain. Akibatnya, kerugian akan diderita oleh penjual. Bukan hanya oleh pembeli. Penjual itu akan kehilangan banyak pembeli.

Kejujuran semestinya dipegang teguh dalam hidup ini. Hanya melalui kejujuran orang dapat hidup tenang dan bahagia. Orang yang jujur tidak dikejar-kejar oleh kesalahan dan dosa yang dilakukannya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kejujuran selalu menjadi andalan hidup kita. Hanya dengan modal kejujuran kita akan menemukan banyak hal baik di dunia ini. Banyak orang akan menjadi teman seperjalanan hidup kita. Banyak orang akan memberikan perhatian bagi kita, karena kita jujur.

Karena itu, membangun kejujuran dalam hidup sangat berguna bagi hidup kita. Ketidakjujuran hanya akan menyakiti hati kita. Ketidakjujuran membuat tidak tenang dalam hati kita.

Setiap hari kita menerima banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita gunakan semua itu untuk membangun hidup yang jujur. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



298
Bagikan

16 Januari 2010

Kejujuran Itu Membahagiakan


Ada seorang bendahara yang jujur. Ia hidup dari gaji yang ia peroleh dari pekerjaannya sebagai bendahara di suatu kantor. Ada usaha-usaha dari teman-temannya untuk meminta tambahan tip setiap kali penggajian. Ada banyak janji dari teman-temannya untuk memberi dia bagian juga, kalau mereka diberi tip itu. Tetapi bendahara itu selalu menolak. Alasannya, hal itu tidak sesuai dengan peraturan dan hati nuraninya.

Suatu hari salah seorang anaknya sakit keras. Gajinya tidak cukup untuk ongkos perawatan anaknya itu. Ia pun tergoda oleh uang yang banyak di kas di kantornya. Setelah diberitahu oleh istrinya tentang anaknya yang sakit keras itu, ia memutuskan untuk mengambil sejumlah uang dari kas kantornya untuk ongkos perawatan anaknya. Ia membawa pulang uang itu. Ia sangat hati-hati, supaya tidak ada teman-teman sekerjanya nengetahui perbuatannya.

Tetapi di tengah perjalanan menuju rumahnya, bendahara itu merasa tidak enak. Suara hati nuraninya menegurnya dengan keras, “Kembalikan uang itu. Itu bukan milikmu.” Ia berjuang keras untuk melawan suara hatinya. Tetapi ia tidak mampu. Dengan hati yang agak kecewa, ia kembali lagi ke kantornya. Ia mengembalikan uang itu ke kas kantornya. Setelah itu, ia pulang ke rumahnya. Ia merasa damai. Ia merasa tenang.

Namun begitu sampai di rumah, ia menyaksikan anaknya yang sedang sekarat karena demam tinggi. Ia menggendong anaknya. Ia memeluknya. Lalu ia berdoa, “Tuhan, saya serahkan anak ini kepadaMu. Tuhan mau apakan anak ini, terserah.” Seketika itu juga anak itu sembuh. Ia tidak harus membawa anak itu ke rumah sakit. Demamnya tiba-tiba hilang.

Orang yang jujur akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Kisah di atas menunjukkan bahwa dalamm kondisi apa pun orang mesti jujur terhadap dirinya sendiri. Bendahara itu mengakui keterbatasan dan kekurangannya. Karena itu, ia menyerahkan keterbatasan dan kekurangannya itu kepada Tuhan. Harapannya pada Tuhan menjadi kunci kebahagiaannya. Anaknya yang sakit keras dapat sembuh kembali. Ia tidak perlu kehilangan anaknya.

Dalam hidup sehari-hari sering orang beriman ditantang untuk tetap hidup jujur. Ada begitu banyak godaan yang mendatangi orang yang jujur. Namun orang beriman mesti menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Artinya, orang menaruh harapannya hanya pada Tuhan. Ia yakin, Tuhan akan mampu memberikan yang terbaik bagi hidupnya.

Mampukah Anda menaruh harapan Anda hanya pada Tuhan semata? Kalau Anda berani menaruh harapan Anda pada Tuhan semata, yakinlah kebahagiaan akan senantiasa menaungi Anda. Karena itu, sebagai orang beriman, mari kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, damai dan kebahagiaan selalu menjadi bagian hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
297
Bagikan

14 Januari 2010

Kejujuran Itu Bersumber dari Hati Nurani yang Jernih

Beberapa waktu lalu seorang gadis ingin sekali memiliki SIM C. Dia berusaha mengikuti semua aturan, termasuk mengikuti ujian tertulis dan praktik. Ujian tertulis dia lalui dengan sangat memuaskan. Semua soal yang diberikan dia jawab semua. Dan semua benar. Namun apa lacur, dia gagal di ujian praktik.

Dia gagal di ujian praktik membawa motor di jalur zigzag. Salah satu kakinya menyentuh aspal di tempat ujian itu.

Karena gagal, dia pun berusaha menyogok petugas polisi. Dalam bayangannya, polisi itu akan mau meluluskannya. Tapi anggapannya salah. Justru dia dinasihati petugas polisi itu karena berusaha menyogoknya.

Seolah tidak ada jalan lagi, dia mengeluh, “Duh, susahnya membuat SIM.”

Tidak berapa lama saat berada di tempat pembuatan SIM, seorang petugas mengumumkan, “Bapak ini telah menyogok polisi sebesar 20 ribu rupiah.” Polisi itu menunjuk seorang pria yang tertunduk lesu.

Gadis itu pun terdiam. Seandainya polisi yang dia coba sogok itu terima saja uangnya, mungkin dia juga akan diumumkan seperti pria itu. Betapa malunya dia. Untung, polisi itu menasihatinya untuk tidak menyogok polisi.

Dalam benaknya, gadis itu memang sangat kesal. Mengapa saat ini membuat SIM itu sangat sulit dan petugas pun tidak mau disogok? Karena gagal, akhirnya dia diberi waktu dua minggu untuk kembali menjalani praktik lapangan.

Kisah di atas sungguh-sungguh terjadi di Jakarta dua tahun lalu. Waktu itu pihak kepolisian memperketat semua bentuk pengurusan SIM. Kepolisian RI tidak mau dicap sebagai lembaga terkorup di Indonesia. Mereka mulai berusaha untuk membersihkan diri.

Sogok menyogok memang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperlancar usaha, orang berani mengeluarkan uang dalam jumlah besar sebagai pelicin. Demi sepucuk surat ijin, orang berani melakukan apa saja, termasuk menyogok. Sebenarnya, sogok menyogok itu menghilangkan suasana fairness, suasana sehat dalam bersaing. Orang ingin menang sendiri. Orang mau memaksakan kemauannya sendiri.

Tentu kondisi seperti ini menghalangi kemampuan orang lain untuk bersaing secara sehat, secara jujur. Karena itu, kejujuran mesti diutamakan. Kalau polisi sudah mulai menciptakan kejujuran dengan menolak sogok pembuatan SIM, kita berharap bahwa akan banyak aspek kehidupan terjadi dalam suasana yang jujur pula.

Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita mesti belajar untuk mengendalikan diri kita. Keinginan untuk berkuasa, untuk memiliki kekayaan yang sebanyak-banyaknya mesti dikendalikan. Kalau tidak dikendalikan akan terjadi ketidakharmonisan dalam hidup kita. Orang yang tidak jujur biasanya dikejar terus-menerus oleh teguran suara hatinya. Akibatnya, ia tidak tenang dalam hidupnya. Ia tidak damai, karena merasa diri ditekan terus oleh suara nuraninya yang jernih.

Mari kita berusaha jujur dalam hidup kita. Kita berusaha untuk senantiasa memiliki hati nurani yang jernih. Dengan demikian, hidup kita menjadi tenang di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
295
Bagikan

07 November 2009

Pentingnya Kejujuran

Seorang siswa SMA mengaku bahwa selama ujian nasional yang lalu ia mendapatkan bocoran soal. Menurut siswa ini, soal itu sudah bocor jam tujuh malam. Ia sudah mendapatkan sms tentang jawaban atas soal-soal ujian itu pada jam tujuh malam. Ia heran mengapa jawaban atas soal-soal ujian itu sudah ia peroleh dari teman-temannya.

Bagi siswa ini, sebenarnya ia tidak membutuhkan jawaban-jawaban itu. Ia hanya menghafal jawaban-jawaban itu untuk menambah rasa percaya diri saja. Ia sudah menyiapkan diri dengan baik. Namun kadang-kadang ia kurang percaya diri. Akibatnya, ia mau saja menghafal jawaban-jawaban itu.

Dia berkata, “Setelah saya hafal, saya hapus. Saya tidak mau terpengaruh oleh jawaban-jawaban itu.”

Keesokan harinya ketika ia mengikuti ujian, ia dapat menjawab semua soal yang disediakan. Ia merasa yakin dapat memperoleh nilai yang tinggi. “Memang saya merasa nilai yang saya peroleh itu tidak seratus persen berdasarkan kerja keras saya selama ini. Tetapi yang penting saya bisa melanjutkan studi saya di perguruan tinggi. Bukankah saya sudah berjuang selama tiga tahun?” kata siswa itu.

Bocornya soal-soal ujian nasional terjadi di banyak tempat di negeri ini. Sudah ada berbagai upaya untuk mengatasi hal ini. Sejak tahun-tahun sebelumnya bocornya soal sudah terjadi. Namun tampaknya sangat sulit sekali mengatasi persoalan ini. Berbagai pihak sudah mencoba. Namun usaha itu seolah sia-sia saja.

Ada berbagai pertanyaan tentang hal ini. Misalnya, ada apa di balik bocornya soal-soal ujian nasional itu? Siapa yang membocorkan? Mengapa terjadi kebocoran soal-soal itu?

Kiranya satu hal yang dapat dikatakan adalah tidak adanya kehendak baik dari pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran untuk menghilangkan hal ini. Ada pihak yang merasa malu, kalau siswa-siswi di sekolahnya ternyata tidak bisa mengerjakan soal-soal itu. Mereka takut dinilai negatif oleh pihak pemerintah. Karena itu, usaha yang dilakukan adalah membocorkan saja soal-soal itu. Atau ada pihak yang punya kepentingan ekonomi dengan menjual soal-soal itu kepada siswa-siswi yang mengikuti ujian.

Apa pun tujuan pembocoran soal-soal itu, tindakan itu tetap suatu tindakan yang tidak baik. Bagaimana mutu pendidikan di negeri ini dapat sejajar dengan negara-negara maju, kalau ketidakjujuran selalu terjadi? Tampaknya dunia pendidikan kita selalu terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bermutu rendah.

Mari kita coba mendidik anak-anak kita untuk jujur dalam berbagai hal. Hanya dengan kejujuran, kita dapat menciptakan suatu kehidupan berbangsa dan bernegara dengan lebih baik. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

219

01 November 2009

Masih Adakah Kejujuran dalam Hidup Ini?


Suatu sore, seorang pemuda datang ke sebuah restoran yang menjual ayam goreng. Ia membeli sembilan potong ayam goreng. Lantas ia membawanya pulang ke rumah untuk dinikmati bersama orangtua dan adik-adiknya.

Ketika membuka bungkusan ayam goreng itu, ia terkejut luar biasa. Ternyata bukan ayam goreng yang ada di dalam bungkusan itu. Tetapi uang sebesar lima juta rupiah. Cepat-cepat pemuda itu membungkus kembali bungkusan itu. Ia segera meninggalkan ruang makan dan kembali ke restoran itu. Pemuda itu mengembalikan uang itu kepada pemilik restoran. Ia meminta ayam goreng yang diinginkannya.

Pemilik restoran itu merasa kagum atas kejujuran pemuda itu. Ia menanyakan nama dan alamatnya. Ia juga mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia ingin mengundang wartawan surat kabar dan televisi untuk membuat cerita tentang dirinya. Ia akan menjadi pahlawan, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami sesamanya.

Namun pemuda itu menolaknya. Dia berkata, “Orangtua dan adik-adik saya sedang menunggu di rumah. Saya hanya ingin ayam goreng.” Pemilik restoran itu semakin kagum atas sikap rendah hati pemuda itu.

Lantas pemilik restoran itu berkata, “Saya tidak mengerti. Anda adalah satu-satunya pemuda jujur di tengah dunia yang tidak jujur ini. Ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengatakan kepada dunia bahwa masih ada orang-orang jujur yang mau bertindak benar.”

Namun pemuda itu tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau dipublikasikan. Ia hanya menginginkan ayam goreng.

Kejujuran memang masih menjadi hal langka dalam dunia kita sekarang ini. Begitu sedikit orang yang mau jujur dalam kehidupannya. Begitu mudah orang melakukan manipulasi. Kalau kita berbelanja di warung, penjual masih bertanya tentang berapa yang harus diisi dalam nota kontan. Mengapa? Karena pengalaman sering berbicara bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin memanipulasi belanjaan.

Bukankah hal seperti ini suatu bentuk penyelewengan? Kisah tadi mau mengajak kita untuk berani bertindak jujur dalam hidup kita. Kejujuran itu akan membantu kita untuk menjadi orang yang baik. Banyak orang jujur memiliki banyak sahabat. Mereka berkenan kepada sesama karena dipercaya untuk melaksanakan sesuatu.

Sebagai orang beriman, kejujuran merupakan hal yang sangat penting dalam hidup ini. Kejujuran membantu kita untuk dapat menghayati iman kita dalam hidup sehari-hari. Iman itu mesti tampak dalam perbuatan nyata.

Karena itu, kita mohon kepada Tuhan agar Dia memberi kekuatan kepada kita untuk mampu berlaku jujur dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

213

15 September 2009

Makna Kejujuran dalam Hidup


Suatu hari seorang anak gembala menggembala ternaknya di padang tepi sebuah hutan. Beberapa lama kemudian ia merasa bosan, karena padang itu sunyi. Dia kemudian berpikir untuk membuat sebuah lelucon. Lalu ia berteriak, "Serigala… Serigala ... Seekor serigala menyergap dombaku! Tolong..!"

Dia yakin orang-orang dari desa terdekat, jika mendengar teriakannya, akan segera datang memberi bantuan dan itu akan mengusir kebosanannya. Benar, teriakannya menarik perhatian penduduk desa. Mereka segera datang bersenjatakan tongkat dan pentung, siap untuk menghalau serigala.

"Di mana serigalanya?" tanya mereka ketika mereka tidak melihat seekor serigala pun.

Anak gembala itu spontan menjawab, "Oh, tidak ada serigala! Saya hanya melucu saja." Ia tertawa terbahak-bahak.

Dengan marah, seorang penduduk desa berkata, "Tidak bisa melucu seperti ini!" Mereka kemudian pergi sambil bersungut-sungut.

Akan tetapi si anak gembala melakukan hal yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya. Penduduk desa yang marah itu sampai mengancam akan memukulnya, jika dia berkata yang tidak benar lagi.

Suatu hari seekor serigala benar-benar memangsa domba-dombanya. Anak gembala itu berteriak minta tolong, tetapi sia-sia. Para penduduk desa berpikir bahwa itu hanya lelucon. Akibatnya, serigala berhasil membawa lari seekor domba miliknya dan anak gembala itu pun sangat sedih.

Kejujuran ternyata masih diperlukan di jaman sekarang ini. Pembangunan bangsa dapat berjalan dengan baik kalau ada kejujuran. Sekarang ini sebenarnya begitu banyak orang mempertanyakan kejujuran dari para pemimpin bangsa baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Pasalnya adalah begitu maraknya korupsi yang terjadi di berbagai lembaga negara kita.

Ketidakjujuran yang terjadi dengan adanya korupsi, kolusi dan nepotisme itu mesti dibayar mahal oleh masyarakat bangsa ini. Ada begitu banyak anggota masyarakat yang mesti menangis pilu, karena lilitan kemiskinan dalam hidup mereka. Gizi yang tidak cukup telah menyebabkan busung lapar dari anak-anak bangsa ini. Kalau hal seperti ini selalu terjadi akan berkibat buruk bagi kelangsungan generasi masa depan bangsa ini.

Kita akan memiliki suatu generasi penerus bangsa yang lemah dalam berbagai segi kehidupan. Mengapa? Karena terjadi kebohongan demi kebohongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita telah menciptakan kecurigaan demi kecurigaan terhadap diri kita sendiri. Siapa yang mau percaya kepada kita, kalau kita mendasarkan hidup kita di atas kebohongan?

Kisah anak gembala tadi menjadi inspirasi sederhana bagi kita. Berkata yang benar masih sangat dibutuhkan di jaman sekarang ini. Kalau kita berkata jujur, kita tidak akan mengalami kesia-siaan dalam perjalanan hidup kita.

Karena itu, sebagai orang beriman kita mesti senantiasa berusaha untuk jujur baik dalam kata maupun perbuatan. Orang yang jujur itu dikasihi oleh Tuhan. Orang yang jujur itu akan mendapatkan rahmat berlimpah dari Tuhan. Mari kita tetap bertahan dalam kejujuran dan kebenaran. Hanya dengan cara ini, kita akan mengalami sukacita dan damai dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
167