Pages

Tampilkan postingan dengan label menghargai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menghargai. Tampilkan semua postingan

13 Februari 2014

Menghargai Persepsi Orang Lain





Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menemukan bahwa kehendak dan keinginan Anda tidak tercapai dalam hidup bersama? Anda marah? Atau Anda berusaha untuk menerima apa adanya?

Alkisah, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat sang putri tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika di musim dingin, saat selesai membuat kue, sang janda melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar si putri menunggu di rumah, karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, janda itu menemukan pintu rumah tidak terkunci. Putrinya pun tidak ada di rumah.

Sang ibu menjadi marah. Ia merasa putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Putrinya tidak menunggui rumah seperti pesannya.

Dalam suasana seperti itu, janda itu menyusun kue ke dalam keranjang dan kemudian pergi untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Mau apa lagi? Mereka harus dapat uang untuk makan. Sebagai hukuman bagi putrinya, pintu rumah dikuncinya dari luar, agar putrinya tidak bisa masuk. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, karena ia sudah berani kurang ajar.

Tetapi sepulang menjajakan kue, janda itu terkejut luar biasa. Ia menemukan gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Ia berlari memeluk putrinya yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Ia berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi putrinya tetap tidak bergerak. Ia segera membopong putrinya masuk ke dalam rumah.

Ia menggoncang-goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan namanhya. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan putrinya. Ia mengambil bungkusan kecil itu dan membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Ia mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan putrinya yang masih berantakan namun tetap terbaca.

Tulisan itu berbunyi, “Hai, mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hai, mama, selamat ulang tahun.”

Sahabat, kita sering menilai orang lain menurut persepsi kita. Kita merasa bahwa orang lain mesti berpikir seperti yang kita pikirkan dan bertindak seperti yang kita buat. Ini yang namanya kita mementingkan kemauan kita sendiri. Egoisme kita menjadi andalan dalam hidup bersama. Akibatnya, kita abaikan kehendak dan kepentingan orang lain.

Kisah di atas menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Ada situasi di mana kita mesti menghormati kehadiran orang lain di sekitar kita. Meski orang itu kita anggap remeh, kita mesti hormati. Mengapa? Karena setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda.

Ketika kita melihat orang lain tidak dari kacamata kita saja akan memberikan suatu wawasan yang lebih luas. Artinya, orang lain punya kekuatan dan kemampuan yang membantu kita dalam upaya meraih kehidupan yang lebih baik.

Untuk itu, yang dibutuhkan dari kita adalah memberi kesempatan kepada sesama kita untuk mengungkapkan isi hatinya. Kita mesti yakin bahwa sesama punya andil yang besar dalam keberhasilan kita. Mari kita berusaha untuk senantiasa mementingkan sesama kita. Dengan demikian, hidup bersama menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1048

17 Maret 2012

Menghargai Partner Kerja Kita

Apa yang Anda banggakan dari partner kerja Anda? Kesuksesannya atau ketrampilannya? Banyak penggemar sepakbola tidak asing lagi dengan Ryan Giggs. Ia adalah gelandang Manchester United yang telah berusia 38 tahun. Meski umurnya sudah tua untuk ukuran dunia olahraga sepakbola, tetapi Ryan Giggs masih menampilkan kepiawaiannya dalam menggocek bola. Umpan-umpannya yang akurat dapat menjadi makanan empuk bagi para penyerang Manchester United seperti Wayne Rooney, Berbatov dan Javier ‘Chicarito’ Hernandez.

Meski memiliki talenta yang selangit dalam sepakbola, Ryan Giggs tetap rendah hati. Ia tetap berlatih keras. Ia disiplin dalam latihan-latihan. Ia tidak membesar-besarkan kehebatannya dalam mengolah bola. Bahkan ia tidak segan-segan memuji kehebatan penyerang baru Manchester United bernama Chicarito.

Tentang pemain muda asal Mexico ini, ia mengatakan Chicharito memiliki kesamaan dengan legenda klub itu, Ole Gunnar Solskjaer, yaitu pemain pelapis yang tidak tampil mengecewakan kapan pun diberi kesempatan. Kenyataannya, Chicarito yang baru bergabung dengan MU pada akhir musim lalu telah menorehkan sejumlah prestasi. Di Liga Champions dan Premier League, ia telah bermain sebanyak 29 kali, dengan 15 di antaranya sebagai pengganti. Ia telah mencetak 15 gol bagi klubnya.

Giggs berkata, "Dalam sesi latihan pramusim, Chicarito tampak seperti orang yang lahir untuk mencetak gol. Ia sama dengan Ole dalam hal mencetak gol penting dan selalu ingin mencetak gol penting."

Bagi Giggs, permainan Chicarito berdampak besar bagi tim, karena Wayne Rooney bisa mendapat ruang di belakangnya. Hal itu memberi Wayne Rooney ruang untuk bermain dan menciptakan penampilan maksimal.

Ia memberi kesimpulan, "Jadi, Chico sangat penting. Tidak hanya karena gol-golnya, tetapi penampilan keseluruhan sebagai bagian tim. Ia menyedot perhatian lawan dan itu bagus untuk pemain (MU) yang ada di belakangnya, karena itu memberi mereka ruang untuk bermain."

Sahabat, pernahkah Anda memuji kehebatan partner Anda dalam bekerja? Memuji kehebatan partner kita dalam bekerja berarti kita sungguh-sungguh menghargainya. Ia bukan sekedar sosok pekerja. Tetapi ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari tim kita.

Kisah tadi menggambarkan keberhasilan sebuah tim yang bekerja bersama-sama. Ryan Giggs yang sangat berpengalaman dalam bermain sepakbola tidak menyelepelekan rekan satu timnya. Ia memujinya. Ia memberikan penghargaan yang tinggi. Pertama-tama bukan karena kehebatan rekannya yang lebih yunior itu. Tetapi pertama-tama karena kebersamaan dalam tim telah menghasilkan kesuksesan yang gemilang.

Sering banyak orang merasa bisa bekerja sendiri. Orang merasa seolah-olah teman satu timnya hanyalah pengganggu pekerjaannya. Karena itu, orang mudah menyingkirkan rekan satu timnya. Orang menganggap rekannya yang bekerja dengan baik sebagai musuh yang mesti disingkirkan. Tentu saja sikap seperti ini adalah sikap yang keliru. Orang yang mau maju mesti berani untuk bekerja bersama sebagai sebuah tim yang mampu menghasilkan sesuatu yang spektakuler.

Dalam kehidupan bersama kita membutuhkan kehadiran sesama. Bukan hanya sekedar hadir. Tetapi sesama menjadi bagian dari kehidupan kita. Mereka adalah partner yang mampu membawa hidup kita ke arah yang lebih baik dan sukses. Karena itu, mari kita menyadari pentingnya kehadiran partner kerja kita. Dengan demikian, kita dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

878

15 Agustus 2009

Menghargai Setiap Manusia




Suatu hari seekor rusa jantan berhenti di sebuah sungai yang jernih untuk memuaskan dahaganya. Ketika sedang minum, dia melihat bayangan dirinya. Dia sangat kagum pada tanduknya. “Betapa bagusnya tanduk-tanduk yang kumiliki,” pikir rusa jantan itu.

Ia berkata lagi, “Aku adalah binatang paling ganteng di hutan ini. Kekuranganku hanya pada kaki. Kaki-kakiku begitu kecil dan kurus. Jika dapat, aku akan menggantinya dengan sepasang kaki yang lebih bagus.”

Karena itu, rusa jantan itu menjadi sedih memikirkan bagaimana dapat mengganti kaki-kakinya, supaya ia sungguh-sungguh kelihatan gagah.

Suatu hari lain ketika dia berjalan-jalan melalui rimba sambil memikirkan masalah itu, ia mendengar anjing-anjing pemburu menyalak. Mendengar itu, ia pun lari. Tetapi anjing-anjing itu telah melihatnya. Mereka terus mengejarnya. Rusa jantan itu berlari cepat.

Ketika berlari melalui semak belukar, tanduknya yang indah itu tersangkut. Dia berjuang untuk melepaskan diri sementara itu anjing-anjing semakin dekat. Dia merasa ajalnya sudah dekat. Akan tetapi, dengan sekali sentakan keras akhirnya rusa jantan itu dapat melepaskan diri, keluar dari semak-semak. Dia pun selamat. Dengan masih terengah-engah, ia bergumam dalam hati, “Kakiku yang kurus ini telah menyelamatkanku. Sedangkan tanduk-tandukku yang indah justru menyusahkanku. Kalau begitu aku tak akan mengganti kaki-kakiku.”

Dalam hidup ini ada hal-hal kecil yang begitu berguna bagi hidup kita. Otak yang kita miliki, misalnya. Otak yang kecil itu ternyata sangat berperan bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa otak, tangan dan kaki kita tidak bisa bekerja dengan baik. Otak yang memerintah organ tubuh yang lain untuk melakukan aktivitasnya. Otak yang menjadi sumber inspirasi bagi hidup manusia.

Namun otak tidak bisa bekerja sendirian. Tanpa urat-urat syaraf yang kecil, perintah dari otak tidak bisa terlaksana dengan baik. Karena itu, otak tidak bisa membanggakan diri sebagai yang paling hebat dan utama dalam kerja tubuh manusia. Otak dapat bekerja dengan baik selalu dalam konteks keterkaitan dengan keseluruhan organ tubuh.

Dalam hidup sehari-hari ada orang yang menempatkan diri sebagai yang paling penting dan berpengaruh. Lalu muncul kecenderungan untuk sombong dan membanggakan diri. Kesombongan lalu memenuhi dirinya. Ini bahaya. Semestinya ia menyadari bahwa penting dan berpengaruhnya dia dalam hidup ini karena bantuan dari masyarakat sekitar. Ada banyak orang kecil dan sederhana yang memberikan kontribusi yang besar kepadanya, sehingga ia memiliki pengaruh.

Karena itu, melalui kisah di atas kita diajak untuk senantiasa menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita. Mereka memiliki pengaruh terhadap hidup kita. Mereka memiliki kemampuan untuk selalu berperan aktif dalam kehidupan kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menghargai hidup setiap orang. Setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihan sendiri-sendiri yang memberikan kontribusi bagi hidup kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

131

08 Agustus 2009

Menghargai Hal-hal Kecil



Suatu hari, sebuah speedboat macet di tengah sungai yang lebar. Speedboat yang tampak perkasa itu tidak bisa melanjutkan perjalanan. Puluhan penumpang mulai merasa tidak nyaman. Namun mereka tidak bisa meninggalkan kendaraan air tersebut. Tidak ada speedboat yang dekat, sehingga mereka tidak bisa pindah dari speedboat yang macet itu. Anak-anak bayi mulai menangis karena panas. Beberapa penumpang mulai mengumpat dan menyalahkan sopir speedboat.

Ternyata mesin mengalami persoalan. Karet mesin putus. Tidak ada cadangan. Bagaimana bisa keluar dari permasalahan itu? Tidak mungkin berjam-jam terapung-apung di atas air tanpa kepastian. Tiba-tiba seorang anak kecil mengulurkan dua karet gelang miliknya.

Namun apalah artinya dua karet gelang untuk sebuah mesin speedboat? Sopir speedboat tersenyum sinis. Ia menganggap remeh pemberian anak kecil itu. Namun anak kecil itu meyakinkannya bahwa karet gelang itu dapat berguna untuk menyelamatkan semua penumpang. Beberapa saat kemudian sopir speedboat itu mengambil dua karet gelang itu dan memasangnya pada mesin. Begitu ia menghidupkan mesin, speedboat itu hidup. Ia pun siap melanjutkan perjalanan. Puluhan penumpang itu bisa selamat. Mereka pun dapat meninggalkan tempat itu yang bisa saja menjadi malapetaka bagi mereka.

Sering kita meremehkan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Kita merasa bahwa yang kecil itu belum tentu dapat memberikan suatu kontribusi yang besar terhadap hidup manusia. Namun kisah dua karet gelang milik seorang anak kecil itu sungguh-sungguh sebuah peristiwa yang menyelamatkan. Ini sebuah mukjijat dalam hidup manusia.

Karena itu, melalui kisah di atas kita diajak untuk senantiasa menghargai yang kecil dan tampaknya tak berguna. Hal yang kecil itu ternyata mampu memberikan sesuatu yang begitu besar bagi hidup manusia. Bahkan hal-hal yang kecil dapat menyelamatkan kehidupan manusia.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hal-hal yang kecil yang ada di sekitar kita bermanfaat bagi hidup kita. Penghargaan terhadap hal-hal kecil itu suatu keutamaan dalam hidup kita. Di dalam diri kita juga ada hal-hal yang kecil yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup kita. Tuhan menciptakan semua hal kecil itu bukan tanpa tujuan. Tuhan menciptakan hal-hal kecil itu untuk kita gunakan bagi kelangsungan hidup kita.

Untuk itu, kita mesti selalu memiliki kepedulian terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Mari kita memberi penghargaan dan penghormatan terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
121