Pages

Tampilkan postingan dengan label keterbatasan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keterbatasan hidup. Tampilkan semua postingan

05 Juli 2010

Menyadari Keterbatasan Hidup

Seorang teman merasa beruntung ia dapat memainkan keyboard dengan sangat baik. Bersamaan dengan itu, ia dapat melantunkan lagu-lagu merdu yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Karena itu, teman saya itu merasa bersyukur kepada Tuhan atas anugerah bakat yang begitu besar kepadanya. Ia tidak menjadi besar kepala dengan kemampuannya itu. Bahkan ia terus-menerus belajar untuk semakin trampil dalam bermain keyboard.

Waktu-waktu luang selalu ia gunakan untuk bermain keyboard yang ada di rumahnya. Dengan cara itu, ia semakin lancar dan trampil. Tetapi teman saya itu juga sadar bahwa ia hanya dapat bermain keyboard dengan baik kalau listrik tidak menjadi masalah. Menurutnya, alat-alat elektronik seperti yang digunakanya itu sangat tergantung pada listrik. Tanpa listrik, ia tidak dapat bermain keyboard dengan baik.

Karena itu, ia pun merasa bersyukur atas anugerah energi listrik yang tersedia itu. Ia berkata, “Kita manusia mesti selalu bersyukur atas kebaikan Tuhan yang begitu melimpah kepada kita. Tuhan telah menyediakan semua hal untuk kita pakai. Karena itu, kita mesti menggunakannya dengan sebaik-baiknya bagi kemajuan diri kita dan sesama.”

Betapa dalam iman teman saya itu. Segala sesuatu ia lihat dalam kacamata kebaikan Tuhan atas hidup manusia. Ia pasrahkan hidupnya kepada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi atas dirinya, ia serahkan kepada Tuhan. Baginya, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk berbakti kepada Tuhan.

Ketergantungan kepada sesama dan hal-hal yang ada di sekitar kita menunjukkan bahwa manusia itu makhluk yang terbatas. Keterbatasan diri manusia itu mesti selalu menyadarkan kita bahwa kita hanya dapat bertumbuh dan berkembang berkat bantuan orang lain.

Sering banyak orang merasa bahwa mereka hidup tanpa bantuan orang lain. Mengapa? Karena mereka merasa, mereka sendiri dapat melakukan segala-galanya. Mereka merasa, mereka makhluk yang tak terbatas. Tentu saja pandangan seperti ini tidak benar. Sifat makhluk itu terbatas. Kita manusia juga adalah makhluk yang terbatas. Karena itu, kita membutuhkan orang lain dan hal-hal lain untuk melengkapi kekurangan-kekurangan kita.

Karena itu, dibutuhkan suatu kemampuan untuk menyadari keterbatasan kita di hadapan Tuhan dan sesama. Orang yang mampu menyadari keterbatasan dirinya akan dapat menerima kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Orang seperti ini biasanya terbuka kepada kehendak Tuhan. Orang seperti ini mampu membiarkan kehendak Tuhan terjadi dalam dirinya.

Sebagai orang beriman, mari kita berusaha terus-menerus untuk menyadari keterbatasan kita di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang dapat membuka hati kita terhadap kehendak dan kasih Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



429

Bagikan

18 Juni 2010

Menyadari Keterbatasan Hidup



Seorang anak bercerita tentang maminya yang baik hati. Suatu kali maminya didatangi oleh seorang ibu tua yang miskin. Ia meminta kepada maminya untuk membantu sedikit uang untuk belanja makan. Tanpa pikir panjang, maminya langsung memberikan beras setengah karung yang masih mereka miliki. Ia juga memberikan mie instan, gula dan bahan sembako lainnya.

Melihat hal yang aneh seperti itu, anak itu bertanya kepada ibunya, mengapa ia memberikan semua itu kepada ibu tua yang miskin itu. Ia kuatir akan apa yang akan mereka makan keesokan harinya. Tetapi ibunya mengatakan bahwa ia tidak perlu kuatir akan apa yang akan mereka makan keesokan harinya. Besok punya kesusahan dan kegembiraannya sendiri.

Mendengar kata-kata maminya, anak itu menjadi yakin. Besok pasti ada sesuatu yang dapat mereka makan. Benar. Keesokan harinya, sang mami mendapat kiriman uang dari keluarganya yang tinggal di kota lain. Uang itu bahkan cukup untuk membeli sembako untuk hidup satu bulan.

Banyak orang sering kuatir akan hidup ini. Mereka bingung ketika menghadapi hal-hal yang tidak menentu dalam hidup ini. Akibatnya, mereka mulai mencari solusi pada hal-hal yang tidak masuk akal. Atau orang hanya menunggu apa yang akan terjadi atas dirinya. Orang tidak berani mengambil tindakan yang membantu dirinya keluar dari suatu kesulitan.

Tentu saja hal seperti ini tidak menghasilkan banyak hal untuk mengatasi kesulitan hidup. Orang mesti berusaha keras untuk keluar dari persoalan hidupnya. Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa sebenarnya kita tidak perlu membebani diri dengan kecemasan-kecemasan. Kita mesti membangun keyakinan bahwa hidup ini selalu bergerak terus. Hidup yang bergerak itu memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal yang baik bagi hidupnya.

Apa yang mesti dibuat oleh orang beriman berhadapan dengan kesulitan hidupnya? Orang beriman mesti percaya. Orang beriman mesti membangun iman yang mendalam kepada Tuhan. Artinya, orang mesti mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang tidak bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri. Kita ini manusia yang serba terbatas. Karena itu, bantuan dari Tuhan melalui sesama akan sangat memberikan kita kekuatan dalam mengatasi persoalan hidup kita.

Kisah orang tua yang miskin yang datang meminta bantuan itu menjadi salah satu contoh bagi kita tentang ketergantungan manusia kepada Tuhan dan sesama. Keterbatasan itu memberi kesempatan kepada kita untuk terbuka terhadap bantuan orang lain. Hal ini menunjukkan suatu kerendahan hati. Orang membiarkan dirinya diintervensi oleh orang lain dalam hal-hal yang baik.

Mari kita terus-menerus membuka hati kita pada bantuan Tuhan dan sesama. Dengan demkian, kita akan menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

412

Bagikan