Pages

Tampilkan postingan dengan label apa adanya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apa adanya. Tampilkan semua postingan

01 November 2011

Menampilkan Diri Apa Adanya

Banyak orang memoles diri mereka untuk tampil lebih baik. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga ingin memoles diri Anda?

Ada seorang gadis yang ingin tampil dalam suatu acara yang sangat penting. Ia tidak ingin malu di hadapan orang banyak. Ia ingin dielu-elukan sebagai perempuan tercantik yang akan tampil di pentas. Karena itu, yang ia lakukan adalah ia memoles wajahnya sedemikian rupa. Jerawat-jerawat coba ia hilangkan dari pipinya. Dengan make up yang serba tebal, ia berharap bahwa jerawat-jerawat itu tidak akan tampak.

Untuk sementara, gadis itu berhasil menyembunyikan jerawat-jerawatnya. Ia mampu memukau para pengunjung acara itu. Ia mampu menarik perhatian mereka dengan sangat baik. Tepuk tangan sorak-sorai pun menuju ke arah gadis itu. Ia mendapatkan apa yang ia harapkan malam itu.

Namun setelah pulang ke rumahnya, gadis itu merenung tentang kebohongan yang telah ia lakukan. Ia menyadari bahwa ia tidak tampil dengan keasliannya. Ia telah mengelabui publik yang menyambutnya dengan sukacita. Ia merasa, kebohongan itu justru menyakiti hatinya. Ia tidak tampil apa adanya.

“Saya telah membiarkan ratusan orang percaya pada apa yang tidak sesungguhnya ada pada diri saya. Saya menyesal,” katanya.

Sahabat, manusia memang pandai memoles dirinya. Manusia pandai dalam menampilkan dirinya, meski tampil tidak dengan semestinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena manusia ingin menutupi kekurangan-kekurangannya. Manusia tidak mau orang lain menyaksikan kekurangan-kekurangan yang ada dalam dirinya. Atau bisa jadi manusia tidak ingin mengecewakan orang lain.

Kisah di atas mau mengatakan bahwa gadis itu ingin menyenangkan orang lain. Ia tidak ingin orang lain menyaksikan kerut-kerut di pipinya, karena puluhan jerawat yang bercokol di sana. Ia ingin penampilannya tidak membuat orang lain kecewa. Namun ia kemudian kecewa. Ia merasa tidak tampil apa adanya. Ia telah membohongi publik. Tentu saja kesadaran seperti ini penting meski datangnya kemudian.

Pernahkah Anda memoles diri Anda? Rasanya kita semua pernah memoles diri kita. Caranya bermacam-macam. Ada yang memotong rambutnya sedemikian rupa sehingga kelihatannya aneh. Ia ingin tampil beda dengan yang lain. Ia tidak ingin menjadi makhluk yang sama dengan orang lain. Lantas orang akan menganggap situasi seperti itu situasi yang nyentrik.

Pertanyaan yang mendasar bagi kita adalah mengapa kita memoles diri kita? Ada banyak alasan. Namun satu hal yang penting adalah kita ingin tampil beda. Kita ingin menunjukkan identitas diri kita. Kita ingin mengatakan kepada orang lain bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang spektakuler.

Namun tidak berarti kita mesti menyembunyikan identitas kita yang sebenarnya. Semestinya kita tampil apa adanya sebagaimana kita yang sebenarnya. Polesan hanya bisa menipu manusia. Namun sesungguhnya Tuhan melihat hati kita. Tuhan memperhitungkan yang ada di dalam hati manusia. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menampilkan diri apa adanya. Dengan demikian, kita mampu menghadirkan diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ


01 Desember 2010

Kemampuan Menerima Diri Apa Adanya

Ada seorang gadis yang menolak kenyataan dirinya sendiri. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya sudah meninggal dunia sejak ia masih bayi. Ia hidup bersama ibu dan dua orang kakaknya. Ia selalu berusaha tampil dengan penuh glamour. Ia membeli gaun-gaun yang mahal harganya. Padahal ibunya selalu keberatan terhadap keinginannya. Ibunya bekerja setengah mati mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun gadis itu selalu ingin memiliki hasil kerja ibunya itu untuk membeli pakaian dan perhiasan-perhiasan yang mahal.

Gadis itu ingin orang lain memandangnya sebagai seseorang yang punya sesuatu yang berharga. Ia tidak ingat bahwa yang berharga itu adalah dirinya sendiri. Ia ingin orang melihat apa yang ada di luar dirinya, yaitu pakaian dan perhiasan-perhiasan yang mahal-mahal. Padahal nilai dan harga manusia itu terletak dalam diri manusia. Kemauan manusia yang baik dan suci menjadi nilai dan harga manusia yang paling tinggi.

Bertahun-tahun lamanya gadis itu hanya terobsesi pada pikirannya sendiri. Ia terjerat oleh islusinya sendiri tentang nilai dan harga manusia. Hidupnya menjadi kacau balau, karena ia selalu mengejar yang tampak dan yang kelihatan oleh mata. Ketika ia tidak mendapatkannya, ia kecewa berat. Ketika orang mulai tahu tentang latar belakang dirinya, ia menjadi resah. Hidupnya menjadi tidak tenang. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan minum racun. Tragis! Sungguh sangat tragis hidup manusia seperti ini.

Sahabat, hampir seluruh persoalan hidup manusia bermula dari ketidakmauan manusia menerima hidupnya apa adanya. Manusia tidak mampu berkompromi dengan kenyataan dirinya. Orang tidak mampu melihat realitas hidupnya secara sederhana dan biasa-biasa saja. Orang lebih suka bermain-main dengan obsesi, persepsi dan ilusi.

Tentu saja situasi seperti ini akan membawa manusia ke dalam penderitaan demi penderitaan. Mengapa? Karena keinginan tidak gampang diraih dalam kondisi yang tidak nyata. Orang hanya bertumbuh dan berkembang dalam mimpi-mimpi hampa. Orang terbelenggu oleh ilusinya sendiri. Ini bahaya. Ini dapat menjadi tragedi yang membuat manusia kehilangan jati dirinya.

Karena itu, manusia yang normal adalah manusia yang mampu menerima hidup dan dirinya apa adanya. Manusia yang mampu mengkompromikan antara keinginan dan kenyataan hidupnya. Manusia yang tidak lari dari kenyataan dan membentuk bayang-bayang semu dalam hidupnya.

Kisah gadis tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kehidupan ini akan berjalan dengan normal, kalau manusia mampu merendahkan dirinya. Kalau manusia mau menerima kekurangan-kekurangan dalam hidupnya. Kekurangan-kekurangan itu dapat menjadi kekuatan untuk meraih sukses yang gilang-gemilang dalam hidup ini.

Mari kita berusaha untuk menerima hidup kita apa adanya. Untuk itu, kita mesti berserah diri kepada Tuhan, agar Tuhan memberi kita kekuatan dan petunjuk untuk menerima hidup ini apa adanya. Hanya Tuhan yang dapat membantu kita untuk mengkompromikan cita-cita dan kenyataan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

561

22 Januari 2010

Menerima Sesama Apa Adanya




Suatu pagi, waktu saya masih SMA, saya disenggol oleh seorang pemabuk. Bahkan ia mengumpat-umpat saya dengan sangat kasar. Tidak hanya itu. Ia juga menampar saya dua kali. Saya sama sekali tidak tahu penyebabnya. Yang terjadi adalah saya melintas di jalan menuju rumah orangtua saya. Orang yang mabuk itu baru saja bangun dari tidur di pinggir jalan itu. Rupanya semalam suntuk ia begadang bersama teman-temannya dengan minum arak yang kadar alkoholnya sangat tinggi. Teman-temannya yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan dia sendiri tidak kuat berjalan sampai di rumahnya.

Saya sangat terkejut, ketika dia mengumpat-umat saya. Apalagi dia sampai menampar saya dua kali. Saya tidak mau membalas, karena orang yang berada dalam keadaan mabuk berat biasanya kondisi kejiwaannya setengah sadar. Jadi saya biarkan saja. Yang saya lakukan adalah saya menuntunnya pulang ke rumahnya. Meski dia tetap mengumpat-umpat saya, saya berusaha untuk tidak membalasnya.

Rupanya sikap saya itu berhasil menenangkan orang yang mabuk berat itu. Setelah sampai di rumahnya, saya menyerahkannya ke keluarganya. Istrinya bahkan memarahinya habis-habisan. Ia tidak habis pikir, kalau suaminya masih juga mencicip arak dengan kadar alkohol yang tinggi itu. Bahkan ia mengambil sebatang kayu dan mulai memukuli suaminya.

Melihat hal itu, saya jadi heran. Saya tidak bisa mengerti. Mengapa tidak ada ampun bagi sang suami? Saya malah merasa bersalah, karena telah membawa pulang orang yang mabuk itu ke rumahnya. Kalau saja saya membiarkan dia tetap di pinggir jalan sambil hilang mabuknya, tentu dia tidak akan dipukuli istrinya. Tapi sudah terlanjur.

Dalam hidup ini bisa saja terjadi hal-hal aneh. Orang yang berada dalam keadaan lemah semestinya dibantu. Namun kadang-kadang kita menjumpai ada orang yang begitu kejam terhadap sesamanya. Ia tidak peduli bahwa yang dihadapi itu orang yang menjadi bagian dari hidupnya.

Karena itu, dibutuhkan pentingnya mengampuni dan menerima apa adanya sesama. Sering kali yang terjadi adalah kita terlalu banyak menuntut orang melakukan hal-hal yang baik untuk hidup kita. Kita tidak membiarkan orang itu melakukan sesuatu yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Kita semua menghendaki hidup ini baik dan harmonis. Namun kita juga mesti mengakui bahwa untuk sampai pada suasana seperti itu dibutuhkan suatu perjuangan. Ada kalanya usaha untuk mencapai suasana seperti itu terbentur oleh realitas yang sungguh-sungguh berbeda dengan harapan kita. Untuk itu, kita mesti menerimanya dengan lapang dada sambil berusaha untuk memperbaikinya.

Setiap hari kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita bawa semua itu dalam hidup kita hari ini. Dengan demikian, hari ini menjadi hari yang damai bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

305
Bagikan