Pages

Tampilkan postingan dengan label Membiarkan Tuhan Meringankan Beban Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Membiarkan Tuhan Meringankan Beban Hidup. Tampilkan semua postingan

05 Juni 2014

Tuhan Meringankan Penderitaan Manusia


Ketika penderitaan menggerogoti hidup Anda, apa yang Anda lakukan? Saya yakin, Anda tidak mau menanggungnya sendirian. Anda akan menyertakan orang-orang yang ada di sekitar Anda. Anda juga akan menyertakan Tuhan dalam situasi penderitaan itu.

Seorang ibu menceritakan bahwa ia sangat menderita berhadapan dengan suaminya yang suka menyiksa dirinya. Setiap kali ia mengeluh tentang hidupnya, suaminya tidak mau peduli. Mendengar pun suaminya tidak mau. Kalau ia ngotot mengungkapkan kecemasannya tentang dirinya, sang suami tidak segan-segan main tangan. Pipinya kemudian memerah oleh telapak tangan sang suami yang keras menghantamnya.

Sudah sering ibu itu menangis dalam kesunyian. Ia mengalami derita batin yang luar biasa mendalam. Pada saat yang bersamaan, ia mesti membesarkan tiga orang anaknya. Kadang-kadang ia merasa kesulitan untuk mendampingi anak-anaknya. Namun ia mesti kuat dalam menjalani semua itu.

“Airmata ini sudah mengering. Bahkan sekarang tidak ada airmata lagi yang bisa tercurah dari mata ini,” kata ibu itu suatu kali.

Ibu itu merasa sangat menderita. Namun ia mesti bertahan dalam situasi seperti itu demi ketiga anaknya. Ibu itu bercita-cita bahwa suatu saat ia akan mengalami kegembiraan dalam hidupnya. Suatu suasana yang membuat ia bahagia lahir dan batin. Ia tidak tahu, kapan cita-citanya itu tercapai. Namun ia punya harapan yang besar akan meraih kebahagiaan itu.

Cita-cita itu menjadi nyata, ketika suatu hari suaminya mulai bersikap lembut terhadap dirinya. Bahkan sang suami berani meminta maaf atas segala tindakan kerasnya terhadap dirinya. Ibu itu sangat bergembira. Ia merasakan peristiwa itu sebagai suatu mukjijat dari Tuhan.

Sahabat, Kahlil Gibran menulis, “Hal yang membuatmu tertawa suatu saat akan membuatmu menangis. Apa yang kini membuatmu menangis adalah hal yang akan membuatmu tertawa.”

Gibran membidik dengan tepat situasi kehidupan manusia. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Dalam kisah di atas, sang ibu mengalami kegetiran batin yang begitu mendalam. Akibatnya, ia mengalami bahwa airmatanya telah mengering. Suatu simbol akan penderitaan yang begitu berat dalam kehidupan ini.

Semestinya kebahagiaan senantiasa menjadi bagian dari kehidupan manusia. Cita-cita setiap manusia adalah meraih kehidupan yang menggembirakan dan membahagiakan. Namun kadang-kadang orang mesti mengalami hal yang sebaliknya. Orang mengalami kegundahan dan kegetiran dalam hidup.

Orang beriman berani menghadapi kegetiran dan penderitaan dalam hidup ini. Mengapa? Karena orang beriman menghadapinya dengan penuh iman. Mereka yakin bahwa suatu ketika mereka akan menggapai cita-cita untuk hidup bahagia. Tentu saja dengan berbagai usaha yang baik dan benar.

Dalam situasi penderitaan itu, orang beriman menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Orang tidak menanggungnya sendirian. Tetapi orang meminta dalam doa yang penuh iman, agar Tuhan membantunya meringankan penderitaan hidupnya. Hanya dengan cara ini, orang mampu menjalani hidup ini. Orang tetap bergerak maju meski hidup ini terasa berat. Mari kita terus-menerus menyertakan Tuhan dalam setiap duka nestapa kita. Dengan demikian, kita mampu menemukan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1101

31 Oktober 2011

Membiarkan Tuhan Meringankan Beban Hidup

Suatu hari seseorang berhenti di depan gereja Hati Kudus di Jalan Kolonel Atmo Palembang. Ia memandang ke atas gereja. Lantas ia membaca tulisan yang tertera di bagian depan gereja di atas pintu masuk. Bunyi tulisan itu adalah datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbedan berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Setelah membaca tulisan itu, orang itu tersenyum. Lantas ia menepuk dadanya beberapa kali.

Melihat saya yang lewat di depannya, ia bertanya tentang arti tulisan itu. Ia penasaran. Ia ingin tahu makna di balik tulisan itu. Lalu saya menjelaskan bahwa itu adalah kata-kata Yesus sendiri. Yesus mau mengatakan bahwa Ia datang untuk semua orang. Mereka yang letih lesu dan berbeban berat tidak perlu putus asa. Mereka boleh datang kepada-Nya untuk mendapatkan kelegaan. Di dalam diri Yesus itu semua orang akan memiliki hidup yang berkelimpahan.

”Jadi siapa saja boleh datang kepada Yesus? Bukankah Dia hanya milik orang kristen?” tanya orang itu.

Saya mengatakan bahwa Yesus itu milik seluruh dunia. Ia datang untuk menebus dosa manusia. Tidak pandang siapa orang itu. Kalau manusia ingin mengalami sukacita dalam hidup ini, mereka boleh datang kepadaNya. Yesus telah mengorbankan hidupNya untuk kebaikan manusia.

Sahabat, banyak orang mengalami letih lesu dalam hidup mereka. Banyak orang merasakan hidup ini tanpa makna. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang menjauhkan diri dari Tuhan. Orang melarikan diri dari Tuhan. Orang lupa bahwa Tuhan itu mahapengasih dan mahapenyayang. Orang lupa bahwa Tuhan dapat mengubah hidup manusia.

Penderitaan yang dialami oleh manusia dari waktu ke waktu itu merupakan tanda bahwa manusia berpisah dari Tuhan. Manusia tidak melekatkan diri kepada Tuhan. Karena itu, orang yang ingin mengalami sukacita dalam hidup mesti datang kepada Tuhan. Orang membiarkan dirinya dipenuhi oleh kuasa Tuhan. Orang membiarkan beban dan penderitaan yang ada dalam dirinya diringankan oleh Tuhan.

Untuk itu, orang mesti berani membuka hatinya kepada Tuhan. Orang mesti berani mengungkapkan kekecilannya di hadapan Tuhan. Orang membiarkan Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang itu menguasai dirinya. Hanya dengan cara ini, orang dapat mengalami sukacita dalam hidupnya. Orang mengalami bahwa Tuhan begitu dekat dengan dirinya.

Mari kita terus-menerus datang kepada Tuhan. Kita mohon agar Tuhan yang mahabaik itu memberikan kelegaan bagi diri kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


815