Pages

Tampilkan postingan dengan label optimis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label optimis. Tampilkan semua postingan

07 Februari 2011

Ciptakan Sikap Optimis dalam Hidup


Suatu hari seorang pemuda datang kepada seorang guru kebijaksanaan. Kepada guru itu ia bertanya, “Guru, saya pernah mendengar kisah seorang arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki. Cuma yang aneh, setiap ada jalan menurun, sang arif konon agak murung. Tetapi kalau jalan sedang mendaki, ia tersenyum. Hikmah apakah yang bisa saya petik dari kisah ini?”

Guru bijaksana itu menjelaskan, “Itu perlambang manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan. Itu perlu kita jadikan cermin. Ketika kita sukses, sesekali perlu kita sadari bahwa suatu ketika kita akan mengalami kegagalan yang tidak kita harapkan. Dengan demikian, kita tidak terlalu bergembira sampai lupa bersyukur kepada Sang Pencipta. Ketika kita sedang terpuruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis. Tetapi optimis saja tidak cukup. Kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras.”

Pemuda itu terkagum-kagum mendengarkan penjelasan guru bijaksana itu. Namun ia masih ragu-ragu. Lantas ia bertanya, ”Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar saya sedang jatuh terpuruk?”

Guru bijaksana itu berkata, ”Alasannya ialah iman. Mengapa? Karena kita yakin akan pertolongan Sang Pencipta.”

Pemuda itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih mengajukan pertanyaan, ”Hikmah selanjutnya apa?”

Guru bijaksana itu berkata, ”Orang yang terkenal suatu ketika harus siap untuk dilupakan. Orang yang di atas harus siap mental untuk turun ke bawah. Orang kaya suatu ketika harus siap untuk menjadi miskin.”

Sahabat, banyak orang merasa bahwa mereka selalu berada di tempat yang tinggi. Artinya, kesuksesan selalu menyertai perjalanan hidup mereka. Padahal tidaklah demikian. Perjalanan hidup ini kadang mulus. Tetapi kadang-kadang juga terdapat jurang terjal yang mesti dilewati.

Ada kalanya orang berada di atas kemegahan dan kemewahan. Tetapi ada kalanya orang terpuruk di bawah. Nah, sering orang lupa akan hal ini. Orang kurang menyadari perjalanan hidupnya. Akibatnya, ketika mereka terpuruk, mereka sulit untuk bangkit lagi. Mereka tidak lagi menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang tidak boleh menyombongkan dirinya. Orang mesti menyadari kondisi hidupnya. Orang mesti berani menerima kenyataan bahwa orang beriman itu sering berhadapan dengan berbagai tantangan. Orang yang bertahan akan menemukan damai dan sukacita. Orang yang bertahan itu akan memiliki optimisme untuk melangkahkan kakinya menggapai kesuksesan dalam hidupnya.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti tetap optimis dalam hidup ini. Keterpurukan dalam hidup ini boleh saja menimpa kehidupan kita. Namun hal itu tidak berarti akhir dari segala-galanya. Masih ada waktu dan kesempatan untuk bangkit dan maju. Masih ada berbagai cara untuk menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

609

13 Januari 2011

Memelihara Sikap Optimis dan Positif

Suatu hari ada seorang murid yang terlambat masuk kelas. Padahal hari itu adalah ujian semester kenaikan kelas. Matapelajaran yang diuji hari itu adalah matapelajaran yang sulit, yaitu Matematika. Namun ia masih sempat mengerjakan soal-soal Matematika tersebut. Ia mengerjakannya dengan baik dan benar. Ia tidak merasa bahwa semua soal Matematika itu sulit baginya. Ia mengerjakan soal-soal itu dengan penuh optimis dan dengan perasaan positif.

Padahal dalam kata pengantarnya sebelum ujian, guru Matematika mengingatkan murid-muridnya agar mereka hati-hati. Soalnya adalah ada dua soal yang sangat sulit. Belum pernah ada murid yang berhasil mengerjakan dua soal itu dengan baik. Karena itu, murid-murid menjadi cemas dan berpikir yang bukan-bukan. Mereka dilanda oleh sikap pesimis. Hasilnya, tidak seorang pun dari mereka yang dapat mengerjakan dua soal itu dengan benar.

Hanya satu orang murid yang dapat mengerjakan dua soal itu dengan baik dan benar. Dia adalah murid yang datang terlambat itu. Dialah murid pertama yang dapat mengerjakan soal itu dengan baik dan benar. Ketika ditanya, murid itu mengatakan bahwa ia tidak punya pikiran yang negatif tentang dua soal Matematika itu. Ia mengerjakannya dengan bebas. Tidak ada tekanan apa-apa.

Sahabat, berpikir dan bertindak optimis dalam hidup itu menyenangkan. Apalagi hal itu disertai dengan sikap positif terhadap segala sesuatu yang dihadapi. Orang yang demikian biasanya akan menemukan kesuksesan dalam hidupnya. Orang tidak merasa tertekan dalam hidupnya. Sebaliknya orang merasa memiliki kebebasan dalam mengerjakan hal-hal yang berguna bagi dirinya dan sesama.

Kekuatan pikiran positif membantu seseorang untuk bertumbuh dalam hidupnya. Kekuatan optimisme mendorong orang untuk senantiasa bertahan dan mengerjakan segala sesuatu dengan enteng. Orang seperti ini akan menemukan keindahan dalam hidupnya. Orang seperti ini akan terus-menerus memacu dirinya untuk tetap maju.

Sebaliknya, orang yang pesimis dan berpikir negatif tentang suatu hal biasanya mengalami tekanan-tekanan dalam hidupnya. Ia tidak punya kebebasan untuk bertindak dengan baik dan benar. Dalam kondisi demikian, ia akan mudah mengalami stress. Akibatnya, apa yang dikerjakannya itu asal-asalan saja. Hasilnya pun sangat jauh dari yang diharapkan.

Karena itu, orang mesti memiliki sikap positif dan optimis dalam hidup ini. Apa pun kesulitan yang dihadapi pasti ada jalan pemecahannya. Untuk itu, orang mesti yakin bahwa sebenarnya tidak ada yang sulit dalam hidup ini. Yang ada adalah bagaimana orang menyikapi dan bertindak dalam memecahkan sesuatu yang sulit dalam hidupnya itu. Mari kita tetap memelihara sikap positif dan optimis dalam diri kita. Kita akan menemukan kesuksesan dalam hidup ini. Dengan demikian, sukacita dan damai menjadi bagian dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

590

09 Oktober 2010

Selalu Ada Peluang bagi Orang yang Optimis

Suatu hari, Presiden Theodore Roosevelt pergi berburu. Seekor beruang tertangkap dan diikat agar presiden dapat menembaknya. Namun Presiden Roosevelt tidak mau membunuh beruang itu. Kisah ini menjadi sangat terkenal ketika dilaporkan di surat kabar dan digambar dalam bentuk kartun.

Morris Michtom memiliki permen dan alat-alat tulis. Istrinya yang bernama Rose kadang-kadang membuat boneka beruang kecil yang diletakkan di jendela toko mereka. Morris melihat kartun beruang di koran dan mendapatkan ide. Dia meminta istrinya untuk membuat beberapa beruang khusus seperti yang ada dalam gambar kartun itu.

Lantas Morris menulis surat yang ditujukkan ke Gedung Putih. Ia menanyakan apakah beruang baru itu boleh diberi nama seperti nama presiden. Presiden Roosevelt membalas surat itu, ”Saya pikir nama saya tidak begitu berharga dalam bisnis beruang. Tapi Anda boleh saja menggunakannya.”

Mendapatkan jawaban yang sangat simpatik seperti itu, Morris lalu membuat beruang-beruang kecil yang dipajangnya di jendela tokonya. Boneka beruang itu dinamai dengan nama panggilan Presiden Roosevelt, yaitu Teddy. Sampai sekarang boneka beruang bersebut terkenal dengan nama Teddy Bear.

Sahabat, seseorang yang ingin sukses selalu menemukan kesempatan yang baik untuk usaha-usahanya. Biasanya orang seperti ini memiliki optimisme yang besar dalam hidupnya. Ia tidak gampang menyerah pada situasi yang dihadapi. Kalau ada tantangan dia akan menghadapi dengan penuh ketenangan. Kalau dia sedang beruntung, dia tidak mudah terbuai oleh keberhasilannya. Ia selalu mencari dan menemukan kesempatan dan peluang-peluang yang baru untuk usaha-usahanya.

Namun orang yang pesimis dalam hidupnya selalu mengemukakan banyak pertimbangan. Ia kuatir akan apa yang akan terjadi, kalau dia mulai melakukan suatu usaha. Ia tidak melihat peluang yang besar. Ia menutup dirinya terhadap peluang. Ibaratnya ia sedang melihat sebuah kue donat. Yang ia lihat bukan donatnya, namun yang ia lihat adalah lobangnya. Ia sudah takut duluan sebelum memulai usahanya.

Sedangkan orang yang optimis itu melihat kue donat. Ia selalu mengembangkan keberhasilan dari setiap kegagalan. Kegagalan yang dihadapi tidak meruntuhkan semangatnya untuk berusaha. Bahkan kegagalan itu menjadi batu loncatan menuju keberhasilan. Untuk itu, orang seperti ini senantiasa berlajar dari setiap peristiwa hidupnya. Orang seperti ini mampu mengubah suasana muram durja menjadi suasana sukacita bagi hidupnya dan hidup sesamanya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ada banyak peluang untuk meraih sukses. Yang penting adalah bagaimana orang menggunakan peluang-peluang itu untuk kemajuan diri dan sesamanya. Yang penting adalah bagaimana orang mampu melewati setiap tantangan yang dihadapinya dalam usaha-usahanya.

Sebagai orang beriman, kita tentu ingin berjuang bersama Tuhan dalam meraih kesuksesan hidup kita. Mengapa? Karena Tuhan dapat membantu kita melewati setiap persoalan hidup kita. Tuhan mendampingi orang beriman yang mau berusaha bersama Dia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

520