Pages

Tampilkan postingan dengan label positif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label positif. Tampilkan semua postingan

22 Mei 2011

Menimba Hal-hal Baik dari Peristiwa Hidup

Suatu hari seorang ibu mendapat berita bahwa adiknya yang sudah lama tidak dijumpai akan datang ke rumahnya. Ia sangat bersukacita mendengar berita itu. Betapa tidak!? Sudah dua puluh tahun mereka tidak saling bertemu. Ia sudah sangat rindu untuk berjumpa dengan adiknya itu.

Karena itu, hari itu ia menyiapkan yang terbaik untuk menyambut kedatangan adiknya itu. Ia menyiapkan kamar tidur yang terbaik di rumahnya untuk adiknya. Ia menyiapkan makanan yang paling enak untuk adiknya. Ia ingin perjumpaan itu menjadi sesuatu yang spesial. Ia tidak ingin adiknya itu kecewa terhadap penyambutannya.

Ketika tiba saatnya, sang adik yang tampak tua menjumpai ibu itu. Ia masih ingat betul wajah sang kakak yang pernah memarahinya, sehingga ia mesti meninggalkan rumah. Sambil tersenyum, ia menyapa kakaknya. Ia merasakan ada getaran yang indah di dalam hatinya. Kakaknya ternyata orang yang baik. Tidak seperti yang dulu ia pikirkan. Hari itu ia mendapatkan sambutan istimewa.

Sambil memeluk adiknya, sang kakak berkata, ”Maafkan saya, dik. Akibat kemarahan saya dulu itu, kamu meninggalkan rumah. Tidak ada kabar yang kau beri untuk kami di sini.”

Sang adik berkata, ”Seandainya kakak tidak memarahi saya, belum tentu saya bisa menjadi orang seperti ini. Di perantauan saya berjuang untuk hidup. Saya berjuang untuk meraih sukses. Dan saya dapatkan itu. Karena itu, saya bersyukur kakak pernah memarahi saya.”

Sahabat, suatu peristiwa yang negatif ternyata tidak selamanya berakibat negatif bagi hidup manusia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang berani belajar dari peristiwa-peristiwa negatif yang mereka alami itu. Kalau saja orang tetap terpuruk dalam hal-hal yang negatif itu, tentu saja orang tidak akan mengalami kesuksesan dalam hidupnya.

Karena itu, orang mesti memandang bahwa peristiwa yang negatif dalam hidupnya itu menjadi alat pemacu untuk kemajuan dirinya. Orang tidak boleh terpuruk dalam hal-hal yang negatif itu. Orang mesti berusaha menemukan sisi baik yang tersirat dalam peristiwa negatif itu. Mampukah kita? Tentu saja kita mampu, kalau kita berani mengesampingkan peristiwa negatif itu. Kalau kita berani menimba hal-hal yang baik dari peristiwa kurang baik itu, tentu kita akan menemukan hal-hal yang berguna bagi hidup ini.

Untuk itu, kita perlu mengerdilkan gengsi yang sering bercokol dalam diri kita. Seringkali gengsi menjadi penghambat kemajuan dalam diri kita. Sering gengsi menghalangi kita untuk melangkahkan kaki kita meraih kesuksesan dalam hidup ini.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani menimba hal-hal baik yang ada di balik peristiwa-peristiwa negatif yang kita alami. Dengan demikian, hidup ini menjadi sumber kegembiraan bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

681

31 Januari 2011

Berusaha Berbicara yang Baik

Suatu hari seorang ibu datang ke seorang guru bijak. Ia berkata, ”Guru, saya punya banyak dosa. Saya telah memfitnah, membohongi dan menggosipkan orang lain dengan hal buruk. Kini saya menyesal dan memohon maaf lahir dan batin. Bagaimana caranya, agar Tuhan mengampuni semua kesalahan saya?”

Guru bijak itu berkata, ”Ambillah bantal di tempat tidurku. Bawalah ke alun-alun kota. Di sana, bukalah bantal itu sampai bulu-bulu ayam dan kapas di dalamnya keluar tertiup angin. Itulah bentuk hukuman atas kata-kata jahat yang telah keluar dari mulutmu.”

Meski kebingungan, akhirnya ia menjalani ’hukuman’ yang diperintahkan kepadanya. Di alun-alun ia membuka bantal dan dalam sekejap bulu ayam dan kapas beterbangan tertiup angin.

Setelah selesai, ia kembali menghadap guru bijak itu. Ia berkata, “Guru, saya telah melakukan apa yang guru perintahkan. Apakah sekarang saya sudah diampuni?”

Dengan wajah sedih, guru bijak itu berkata, “Kamu belum dapat pengampunan. Kamu baru menjalankan separuh tugasmu. Kini kembalilah ke alun-alun dan pungutlah kembali bulu-bulu ayam dan kapas yang tadi beterbangan tertiup angin.”

Sahabat, kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menggema terus-menerus. Orang yang mendengarkan kata-kata kita akan tetap mengingatnya, meskipun kita sudah melupakan apa yang telah kita ucapkan. Kalau kata-kata yang kita ucapkan itu baik, kenangan akan kita pun akan baik. Namun kalau kata-kata kita itu jelek dan tidak menyenangkan orang lain, kita akan dikenang sebagai orang yang tidak baik. Mengapa? Karena orang akan menilai kita dari tutur kata yang lahir dari hati kita. Apa yang kita katakan dapat menjadi patokan penilaian terhadap diri kita.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti hati-hati dalam berkata-kata. Kita mesti memilih kata-kata yang tepat yang tidak melukai hati orang lain. Gosip mesti kita singkirkan, karena gosip itu akan segera menyebar. Padahal gosip yang kita buat itu belum tentu sesuai dengan kebenaran. Hal seperti ini akan menyakitkan hati orang lain. Orang yang belum tentu melakukan suatu kejahatan telah divonis oleh orang banyak, karena gosip yang datang dari mulut satu orang.

Karena itu, kebenaran mesti tetap dipegang teguh dalam hidup ini. Orang mesti berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Orang tidak boleh merekayasa sesuatu yang tidak benar melalui gosip itu. Dengan demikian, orang tidak menjerumuskan sesamanya ke dalam kebinasaan.

Orang mesti menyadari bahwa memulihkan nama baik seseorang yang sudah rusak itu tidak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi gosip yang dilakukan itu begitu gampang menyebar ke penjuru dunia. Karena itu, orang mesti berusaha untuk senantiasa menjaga mulutnya. Caranya adalah dengan mengatakan yang baik dan benar tentang seseorang. Artinya, orang mesti melakukan ferifikasi terlebih dahulu sebelum mengatakan yang bukan-bukan tentang sesamanya. Mari kita berusaha untuk berpikir positif tentang sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


603

13 Januari 2011

Memelihara Sikap Optimis dan Positif

Suatu hari ada seorang murid yang terlambat masuk kelas. Padahal hari itu adalah ujian semester kenaikan kelas. Matapelajaran yang diuji hari itu adalah matapelajaran yang sulit, yaitu Matematika. Namun ia masih sempat mengerjakan soal-soal Matematika tersebut. Ia mengerjakannya dengan baik dan benar. Ia tidak merasa bahwa semua soal Matematika itu sulit baginya. Ia mengerjakan soal-soal itu dengan penuh optimis dan dengan perasaan positif.

Padahal dalam kata pengantarnya sebelum ujian, guru Matematika mengingatkan murid-muridnya agar mereka hati-hati. Soalnya adalah ada dua soal yang sangat sulit. Belum pernah ada murid yang berhasil mengerjakan dua soal itu dengan baik. Karena itu, murid-murid menjadi cemas dan berpikir yang bukan-bukan. Mereka dilanda oleh sikap pesimis. Hasilnya, tidak seorang pun dari mereka yang dapat mengerjakan dua soal itu dengan benar.

Hanya satu orang murid yang dapat mengerjakan dua soal itu dengan baik dan benar. Dia adalah murid yang datang terlambat itu. Dialah murid pertama yang dapat mengerjakan soal itu dengan baik dan benar. Ketika ditanya, murid itu mengatakan bahwa ia tidak punya pikiran yang negatif tentang dua soal Matematika itu. Ia mengerjakannya dengan bebas. Tidak ada tekanan apa-apa.

Sahabat, berpikir dan bertindak optimis dalam hidup itu menyenangkan. Apalagi hal itu disertai dengan sikap positif terhadap segala sesuatu yang dihadapi. Orang yang demikian biasanya akan menemukan kesuksesan dalam hidupnya. Orang tidak merasa tertekan dalam hidupnya. Sebaliknya orang merasa memiliki kebebasan dalam mengerjakan hal-hal yang berguna bagi dirinya dan sesama.

Kekuatan pikiran positif membantu seseorang untuk bertumbuh dalam hidupnya. Kekuatan optimisme mendorong orang untuk senantiasa bertahan dan mengerjakan segala sesuatu dengan enteng. Orang seperti ini akan menemukan keindahan dalam hidupnya. Orang seperti ini akan terus-menerus memacu dirinya untuk tetap maju.

Sebaliknya, orang yang pesimis dan berpikir negatif tentang suatu hal biasanya mengalami tekanan-tekanan dalam hidupnya. Ia tidak punya kebebasan untuk bertindak dengan baik dan benar. Dalam kondisi demikian, ia akan mudah mengalami stress. Akibatnya, apa yang dikerjakannya itu asal-asalan saja. Hasilnya pun sangat jauh dari yang diharapkan.

Karena itu, orang mesti memiliki sikap positif dan optimis dalam hidup ini. Apa pun kesulitan yang dihadapi pasti ada jalan pemecahannya. Untuk itu, orang mesti yakin bahwa sebenarnya tidak ada yang sulit dalam hidup ini. Yang ada adalah bagaimana orang menyikapi dan bertindak dalam memecahkan sesuatu yang sulit dalam hidupnya itu. Mari kita tetap memelihara sikap positif dan optimis dalam diri kita. Kita akan menemukan kesuksesan dalam hidup ini. Dengan demikian, sukacita dan damai menjadi bagian dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

590

18 Agustus 2010

Mengubah yang Negatif Menjadi Positif


Ada seorang pemarah. Apa-apa saja yang salah ia langsung marah. Ia tidak peduli siapa yang ia marahi. Bahkan orangtuanya sekalipun ia marahi, kalau mereka melakukan kesalahan sekecil apa pun. Ia gampang naik pitam. Ia mudah terbawa emosi. Karena itu, ia kehilangan banyak sahabat. Banyak temannya yang menghindar darinya. Mereka tidak mau ambil resiko bertengkar dengannya.

Suatu hari ia mulai menyadari kebiasaannya itu. Karena itu, ia mulai berusaha untuk mengendalikan dirinya. Ia berusaha untuk tidak marah, ketika salah seorang temannya mengganggunya. Namun ia tidak berhasil. Ia masih saja tetap meluapkan emosinya kepada orang-orang di sekitarnya yang membuat hatinya terasa jengkel.

Mengetahui niatnya untuk mengendalikan dirinya, seorang temannya memberinya nasihat untuk memakan dua buah cabe pedas begitu ia hendak marah. Baginya, nasihat ini sesuatu yang tidak masuk akal. Ia ragu apakah ia berhasil atau tidak. Namun ia mau coba juga.

Waktu pertama kali ia lakukan nasihat itu, mulutnya terasa sangat pedas seperti api yang membakar. Ia ingin berhenti saja. Namun keinginan untuk mengubah kebiasaan marahnya itu terus memotivasi dirinya untuk melakukan nasihat itu. Setiap kali ia hendak marah, ia mengambil dua buah cabe dari saku bajunya. Ia makan. Terasa pedas di mulut. Ia tidak jadi marah.

Akhirnya, ia berhasil. Ia merasakan betapa orang yang dimarahi itu juga akan mengalami pedas seperti cabe di dalam mulutnya. Ia sadar bahwa dalam hidup bersama orang tidak boleh saling menyakiti. Orang tidak boleh membuat sesamanya merasakan pedasnya dimarahi.

Setiap kita dapat menusukkan pisau belati kemarahan kepada sesama kita. Kita merasa kurang senang terhadap sesama kita. Kita merasa kurang puas terhadap sesama kita. Kita langsung mendampratnya habis-habisan. Padahal kemarahan itu akan meninggalkan bekas yang mendalam dalam diri sesama kita itu. Kemarahan itu seperti cabe yang pedas yang merusak relasi kita satu sama lain.

Karena itu, apa yang mesti kita lakukan kalau kita memiliki sifat yang mudah emosi, mudah marah? Kita mesti berlatih terus-menerus. Kita berlatih untuk mengalahkan kemarahan yang ada dalam diri kita. Mengapa? Karena orang yang mudah marah biasanya orang yang sulit menemukan jalan keluar, ketika menghadapi persoalan-persoalan. Orang yang kurang kreatif dalam hidupnya. Yang dimiliki hanyalah memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Tidak ada jalan alternatif yang bisa ditempuh untuk memecahkan masalah-masalahnya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita terus-menerus memiliki kesadaran untuk mengubah yang negatif menjadi sesuatu yang positif bagi hidup kita. Kebiasaan marah dapat kita ubah menjadi kebiasaan untuk mudah mengampuni. Mari kita berusaha untuk berdamai dengan setiap orang. Hanya dengan cara ini, kita dapat membangun hidup yang lebih baik dengan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


474