Pages

Tampilkan postingan dengan label peluang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peluang. Tampilkan semua postingan

05 Desember 2013

Berusaha Terus-menerus Menangkap Peluang




Ketika Anda merasa hidup ini tidak ada peluang yang jelas, apa yang akan Anda lakukan? Anda pasif saja? Atau Anda aktif menangkap setiap peluang yang ada?

Suatu hari, seorang ayah berpesan kepada putrinya bernama Chatarina, “Sebelum berusia 40 tahun, kamu mesti kerja mati-matian. Kalau kamu tidak bisa melakukannya, hidupmu gagal”.

Pesan almarhum ayahnya terngiang terus dalam pikiran perempuan paruh baya yang akrab dipanggil Rini itu. Karena itu, ia ingin selalu menerapkannya dalam hidup sehari-hari, supaya tidak termasuk dalam orang-orang yang hidupnya gagal.

Tahun 1988, Rini menikah dengan seorang pelaut yang sudah 30 tahun bekerja di kapal Jerman. Suaminya mengajak Rini pindah ke Hamburg. Di sana, Rini gigih mencari pekerjaan. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai sopir taksi. Bertahun-tahun ia jalani profesi itu pada siang hari. Sedangkan malam harinya, suaminya yang mengemudikan taksi itu. Suaminya sudah alih profesi.

Rini hidup bahagia dengan suaminya. Ia tidak termasuk orang yang gagal dalam hidup ini. Rini merajut hidupnya yang harmonis dengan suaminya, meski mereka berbeda bangsa. Inilah cita-cita sukses yang pernah diangan-angankan oleh Rini.

Sahabat, memiliki suatu cita-cita itu sangat penting dalam hidup ini. Cita-cita itu memberi motivasi lebih kepada seseorang untuk semakin memacu dirinya dalam meraih sukses. Biasanya orang yang memiliki cita-cita itu orang yang mau bekerja keras. Ia tidak berpangku tangan saja sambil mengharapkan bulan jatuh dari langit.

Orang yang memiliki cita-cita dan ingin meraih cita-citanya itu juga memiliki peluang-peluang untuk maju. Namun ia selalu berusaha untuk menangkap peluang-peluang itu. Ia tidak membiarkan peluang-peluang itu datang kepada dirinya. Ia mesti mengejarnya sampai dapat.

Hidup yang penuh warna-warni ini menawarkan berbagai peluang kepada manusia. Soalnya, apakah manusia mampu menangkap peluang-peluang itu atau tidak? Untuk itu, manusia mesti memiliki kecerdasan dan kecerdikan serta ketulusan dalam hidup ini. Tiga hal ini dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk menangkap setiap peluang yang lewat di depan matanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus mencari dan menangkap peluang-peluang yang lewat di depan kita dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Bagi orang beriman, kekuatan Tuhan itu menjadi andalan hidup. Kekuatan Tuhan itu mampu menghantar seseorang untuk sampai pada cita-cita yang sudah lama digantungkannya.

Mari kita berusaha menangkap peluang-peluang yang ada di hadapan kita dengan tulus. Kita berusaha bersama Tuhan yang menjadi kekuatan kita. Dengan demikian, kita boleh mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

998

07 Juni 2011

Menemukan Peluang-peluang di Sekitar Kita

Apakah Anda suka melayani atau suka dilayani? Kalau Anda suka melayani, Anda akan dikatakan sebagai orang yang mudah tergerak melihat kebutuhan orang lain. Anda akan mudah mengulurkan tangan begitu melihat orang lain berada dalam kesulitan. Anda akan merasa bahagia, karena orang yang Anda layani itu menemukan sukacita dalam hidupnya.

Namun kalau Anda suka dilayani, Anda akan dianggap sebagai orang yang hanya mengulurkan tangan minta tolong. Anda akan dikatakan sebagai orang yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Bisanya menuntut orang lain melakukan sesuatu bagi Anda.

Deddy Mizwar, aktor dan sutradara film, merasa risih ketika segala sesuatu mesti dilayani oleh orang lain. Maret tahun lalu ia mengunjungi Yogyakarta. Begitu ia sampai di hotel, orang-orang langsung bergegas melayaninya. Padahal ia sendiri bisa melakukan apa yang harus ia lakukan. Karena itu, ia menamakan hal seperti ini sindrom melayani.

Sambutan seperti itu terutama ia alami ketika ia berada di luar Jakarta. Ia berkata, “Tiap kali ada orang dari pusat (Jakarta) datang, orang di daerah seakan terkena sindrom melayani. Padahal, tak semua orang merasa nyaman dan perlu dilayani seperti itu.”

Namun Deddy Mizwar yang kini berusia 55 tahun ini merasa hal ini dapat memberi inspirasi bagi para sineas muda untuk menemukan ide-ide. Ia mengatakan, ada begitu banyak ide cerita bagi sebuah film di sekitar kita. Karena itu, para sineas muda mesti mampu menangkap hal-hal tersebut untuk memperkaya karya mereka.

Sahabat, ada banyak hal baik di sekeliling kita yang dapat kita ambil untuk kemajuan diri kita. Melayani orang lain dengan sepenuh hati merupakan salah satu sisi kehidupan yang dapat membantu kita untuk semakin menemukan makna hidup bagi kita. Karena itu, kita mesti berani memaksimalkan sebaik-baiknya hal-hal itu bagi hidup kita.

Soalnya, banyak orang merasa bahwa hal-hal yang ada di sekitar mereka itu biasa-biasa saja. Karena itu, tidak bisa digunakan untuk kemajuan hidup mereka. Tentu saja padangan seperti ini berasal dari orang-orang yang kurang kreatif. Mereka memandang hidup ini dari satu segi saja. Mereka memandang hidup ini terlalu picik dan sempit. Mereka begitu gampang menyerah pada situasi yang ada.

Karena itu, orang mesti kreatif untuk menemukan hal-hal yang dapat membantu mereka untuk hidup lebih baik. Ada begitu banyak hal baik di sekitar kita yang dapat kita gunakan untuk kemajuan hidup kita. Untuk itu, kita diajak untuk senantiasa menemukan peluang-peluang yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



695

20 November 2009

Berusaha Menangkap Peluang

Suatu hari ayahnya berpesan kepada Chatarina, “Sebelum berusia 40 tahun, kamu mesti kerja mati-matian. Kalau kamu tidak bisa melakukannya, hidupmu gagal”. Pesan almarhum ayahnya terngiang terus dalam pikiran perempuan paruh baya yang akrab dipanggil Rini itu.

Karena itu, ia ingin selalu menerapkannya dalam hidup sehari-hari, supaya tidak termasuk dalam orang-orang yang hidupnya gagal.

Tahun 1988, Rini menikah dengan seorang pelaut yang sudah 30 tahun bekerja di kapal Jerman. Suaminya mengajak Rini pindah ke Hamburg. Di sana, Rini gigih mencari pekerjaan. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai sopir taksi. Bertahun-tahun ia jalani profesi itu pada siang hari. Sedangkan malam harinya, suaminya yang mengembudikan taksi itu. Suaminya sudah alih profesi.

Rini hidup bahagia dengan suaminya. Ia tidka termasuk orang yang gagal dalam hidup ini. Rini merajut hidupnya yang harmonis dengan suaminya, meski mereka berbeda bangsa. Inilah cita-cita sukses yang pernah diangan-angankan oleh Rini.

Memiliki suatu cita-cita itu sangat penting dalam hidup ini. Cita-cita itu memberi motivasi lebih kepada seseorang untuk semakin memacu dirinya dalam meraih sukses. Biasanya orang yang memiliki cita-cita itu orang yang mau bekerja keras. Ia tidak berpangku tangan saja sambil mengharapkan bulan jatuh dari langit.

Orang yang memiliki cita-cita dan ingin meraih cita-citanya itu juga memiliki peluang-peluang untuk maju. Namun ia selalu berusaha untuk menangkap peluang-peluang itu. Ia tidak membiarkan peluang-peluang itu datang kepada dirinya. Ia mesti mengejarnya sampai dapat.

Hidup yang penuh warna-warni ini menawarkan berbagai peluang kepada manusia. Soalnya, apakah manusia mampu menangkap peluang-peluang itu atau tidak? Untuk itu, manusia mesti memiliki kecerdasan dan kecerdikan serta ketulusan dalam hidup ini. Tiga hal ini dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk menangkap setiap peluang yang lewat di depan matanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus mencari dan menangkap peluang-peluang yang lewat di depan kita dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Bagi orang beriman, kekuatan Tuhan itu menjadi andalan hidup. Kekuatan Tuhan itu mampu menghantar seseorang untuk sampai pada cita-cita yang sudah lama digantungkannya.

Mari kita berusaha menangkap peluang-peluang yang ada di hadapan kita dengan tulus. Kita berusaha bersama Tuhan yang menjadi kekuatan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
236