Pages

Tampilkan postingan dengan label dukungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dukungan. Tampilkan semua postingan

16 Juni 2014

Memberikan Dukungan kepada Sesama untuk Maju

 
Setiap orang dipanggil untuk menuntun sesamanya menemukan hidup yang lebih baik. Sayang, tidak semua orang menyadari tugas panggilannya ini.

Suatu hari saya menyuruh seorang anak untuk menyiapkan ijazahnya. Semester yang akan datang dia mesti melanjutkan sekolah di sebuah perguruan tinggi di Palembang. Untuk itu, dia mesti pulang ke kampungnya yang cukup jauh. Ia ambil waktu satu minggu untuk mengurus hal-hal yang berkenaan dengan ijazahnya itu.

Setelah satu minggu urusan ijazah itu selasai, ia pulang ke Palembang. Namun anak itu tidak langsung menyerahkan ijazahnya kepada saya. Padahal saya adalah ‘sponsor’ bagi dirinya untuk studi di perguruan tinggi. Lantas beberapa hari kemudian saya menanyakan ijazahnya. Dia lantas menyerahkan ijazahnya kepada saya.

“Nilai-nilai saya kecil-kecil. Saya takut kalau tidak diterima di perguruan tinggi,” katanya sambil masih malu-malu.

Saya menerima ijazahnya yang sudah dibuka oleh dia. Namun saya tidak sempat melihat nilai-nilainya. Saya menutup ijazah itu. Lalu saya berkata kepadanya, “Sekarang kamu ikut tes.”

Anak itu terpana mendengar kata-kata saya yang tegas itu. Ia pun berangkat ke perguruan tinggi, mengambil (membeli) formulir pendaftaran. Dua hari kemudian, ia mengikuti tes itu. Seminggu kemudian pengumuman tes. Hasilnya, sangat mengecewakan dia, meski dia diterima.

“Saya berada di nomor urut 23 dari bawah. Sangat mengecewakan!” katanya kepada saya.

Sambil tersenyum, saya berkata, “Tetapi kamu diterima! Kamu harus kuliah!”

Dia terpana mendengar kata-kata saya. Dia seolah-olah tidak percaya bahwa saya memberi kepercayaan dan dukungan yang besar bagi dirinya. Dia pun menjalani studi di perguruan tinggi itu. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia mesti bekerja keras untuk mengejar ketinggalan.

Hasilnya luar biasa. Setelah empat tahun kuliah, ia meraih prestasi yang tertinggi di jurusannya. Selama kuliah, ia pun sering mengikuti berbagai lomba mewakili perguruan tingginya. Dia merasa puas dan bahagia. Dia boleh meraih cita-cita yang terpendam belasan tahun dalam dirinya.

Sahabat, memberikan motivasi kepada orang lain untuk maju dalam kehidupan ini tidak mudah. Orang mesti punya berbagai cara untuk meyakinkan orang lain bahwa kemajuan itu dapat diraih dalam kehidupan ini. Cita-cita itu dapat diraih meski ada rintangan yang menghadang dalam perjalanan hidup.

Kisah di atas menjadi salah satu contoh, bagaimana kita mesti memberikan motivasi kepada sesama kita. Banyak orang ingin meraih cita-cita dalam kehidupan ini. Namun sering mereka tidak tahu cara untuk meraih cita-cita itu. Akibatnya, mereka berhenti di tengah perjalanan hidup ini. Mereka menjadi bingung, mau berjalan ke arah yang mana.

Tentu saja motivasi yang diberikan kepada sesama kita hanya sebuah cambuk. Orang yang diberi motivasi itu mesti berjuang. Tidak boleh orang itu hanya menggantungkan bantuan dari orang lain. Orang itu sendiri mesti berjuang dalam realitas hidupnya sehari-hari. Ketika ada aral yang melintang dalam perjalanan hidupnya, orang mesti berani menghadapinya. Tentu saja orang mesti menghadapinya dengan kerja keras, bukan dengan rasa takut gagal.

Orang beriman tentu saja mesti berjuang bersama Tuhan yang diimaninya. Melalui ajaran-ajaranNya, Tuhan juga memberi motivasi dan dukungan kepada manusia untuk terus-menerus melangkahkan kaki dalam perjalanan hidup ini. Untuk itu, orang mesti berani berserah diri kepada Tuhan dalam reaalitas hidupnya sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1107

12 Mei 2013

Memberi Dukungan bagi Anak-anak Bangsa


 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau Anda mengalami sakit? Tentu Anda akan mencari dokter untuk menyembuhkan sakit Anda. Anda akan berusaha mati-matian dengan berbagai cara untuk menyembuhkan sakit Anda.

Siapa bilang pengobatan di luar negeri selalu lebih baik? Seorang dosen yang sudah berobat bolak balik luar negeri justru menemukan dokter dan pengobatan terbaik untuk cangkok hatinya ada di Indonesia. Dia adalah Nidjat Ibrahim, dosen wanita yang mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti sejak 32 tahun lalu.

Nidjat yang lahir di Solo 66 tahun lalu merupakan pasien kedua dalam proyek terbesar yang melakukan transplantasi atau cangkok hati di RS Puri Indah, Kembangan, Jakarta, pada 17 Desember 2010. Operasi tersebut memakan waktu sekitar 13 jam.

Nidjat mengetahui bahwa dirinya menderita sirosis atau pengerasan hati pada tahun 2001. Tetapi ia sama sekali tidak merasakan keluhan apa-apa, karena sangat gila kerja. Nidjat berkata, “Saya masih menjabat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Trisakti, saya masih ke luar negeri sendiri. Saya tidak merasakan sama sekali sampai tahun 2008 kok makan ini nggak doyan itu nggak doyan. Mulai ada yang dirasakan.”

Nidjat mengaku, ia sudah bolak balik ke luar negeri untuk mencari penyebab. Ia mencari pengobatan terbaik yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Ia berkata, ”Saya sudah ke Singapura, Penang. Bahkan pengobatan alternatif terapi organik di Purwakarta. Saya sudah coba semua alternatif pengobatan, bahkan di Singapura sampai 3 rumah sakit terus ke Penang.”

Ia menemukan kesuksesan itu justru di Indonesia. Ia menjalani proses cangkok hati dan berhasil dengan baik.

Sahabat, setiap orang yang sakit mendambakan kesembuhan. Karena itu, orang akan berjuang sekuat tenaga untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Ke mana pun orang akan berusaha untuk mendapatkan kesembuhan. Bahkan banyak orang yang berani mencari sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka pergi kepada dukun atau paranormal untuk memohon kesembutan.

Kisah di atas memberi kita gambaran mengenai usaha yang tidak kenal lelah untuk memperoleh kesembuhan. Nidjat bahkan sampai melanglang buana ke luar negeri untuk kesembuhan sirosis atau pengerasan hatinya. Ia penuh harapan berusaha untuk segera lepas dari belenggu sakit itu. Sayang, ia tidak temukan kesembuhan itu di luar negeri. Justru ia temukan kesembuhan itu di negerinya sendiri, Indonesia.

Ternyata para dokter di dalam negeri tidak kalah dengan para dokter di luar negeri. Para dokter itu mampu memberi kesembuhan kepadanya dengan cangkok hati. Ada pepatah kuno mengatakan, biarlah hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Artinya, sudah saatnya anak-anak bangsa ini menghargai prestasi yang telah diraih oleh sesamanya. Hanya dengan cara itu, kemajuan dalam berbagai bidang dapat diraih oleh anak-anak bangsa ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus memberikan motivasi bagi kemajuan anak-anak bangsa. Dengan demikian, kita sungguh-sungguh mampu membangun negeri ini dengan hati yang tulus. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


972

26 Juli 2010

Berusaha Memberikan Dukungan kepada Sesama



Ada seorang bapak yang selalu menilai pekerjaan anaknya dengan angka lima. Setiap pekerjaan yang baik dan menakjubkan yang dilakukan anaknya tidak pernah mendapat tepuk tangan dari sang bapak. Tidak ada jempol yang diangkat sang bapak untuk prestasi-prestasi yang diraih sang anak.

Namun sang anak tidak pernah patah semangat. Ia tetap berjuang. Ia tidak menghiraukan tingkah laku ayahnya. Ia terus-menerus mempelajari ilmu-ilmu yang digemarinya. Prestasi demi prestasi ia raih. Ia menjadi anak yang sangat pandai di kelasnya.

Ketika ditanya tentang dukungan ayahnya, anak itu menjawab, “Saya tahu ayah saya mendukung saya dengan caranya sendiri. Ayah sengaja memacu saya dengan memberi saya nilai yang rendah. Tidak apa-apa. Saya tidak patah semangat. Saya tetap berjuang. Saya bersyukur, ayah saya masih mendukung saya dengan caranya sendiri.”

Setiap orang mengharapkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Setiap orang ingin didukung dengan baik. Orang ingin diberi nilai yang baik. Apalagi penilaian itu datang dari orang-orang yang terdekat dalam keluarganya. Penilaian yang baik itu sungguh memiliki makna yang mendalam.

Karena itu, orang diharapkan memiliki sikap baik hati terhadap sesamanya. Orang mesti berani memberikan penilaian yang obyektif terhadap setiap prestasi yang diraih oleh sesamanya. Dengan begitu, penilaian itu dapat membantu sesama untuk bertumbuh dan berkembang dalam hidupnya. Suatu penilaian yang baik tentu akan membantu orang untuk semakin bergairah dalam hidupnya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa penilaian terhadap seseorang tidak selamanya baik. Namun penilaian yang kurang baik itu ternyata dapat memacu seseorang untuk bertumbuh dan berkembang dengan sangat efisien. Orang menjadi tahan uji. Orang dapat menjadi semakin giat untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya. Hal ini bisa terjadi kalau orang mampu melihat suatu penilaian negatif dari sudut pandang positif.

Sebagai orang beriman, kita diharapkan untuk senantiasa memberikan dukungan yang baik kepada sesama kita. Dukungan itu membantu sesama untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik dalam hidupnya.

Mari kita berusaha untuk memberikan dukungan kepada sesama kita, terutama sesama yang sedang mengalami dukacita dan kegagalan dalam hidupnya. Dengan demikian, sesama tersebut dapat menemukan kekuatan untuk menjalani hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


450

Bagikan