Pages

22 Oktober 2009

Menjaga Komitmen Hidup Berkeluarga

Suatu pagi, seorang bapak datang kepada seorang pastor. Ia baru saja bertengkar dengan istrinya yang telah memberinya lima orang anak. Dia merasa sangat kesal terhadap istrinya. Menurutnya, istrinya telah merendahkan martabatnya sebagai seorang lelaki dan kepala keluarga. Karena itu, ia ingin menceraikan istrinya. Ia sudah bosan hidup dalam konflik terus-menerus dengan istrinya.

Kepada pastor, ia berkata, “Pastor, saya sudah tidak tahan lagi hidup dengan istri saya. Dia selalu meremehkan saya. Kalau boleh, saya menceraikan dia.”

Pastor itu tersenyum mendengar pengaduan bapak itu. Beberapa saat kemudian, ia berkata kepadanya, “Orang beriman itu mesti selalu setia. Apa pun situasinya.”

Bapak itu terkejut mendengar kata-kata pastor itu. Ia tidak percaya mendengar kata-kata pastor itu. Ia tahu dan sadar bahwa ia mesti selalu setia kepada istrinya. Tetapi kali ini ia sudah tidak sabar. Ia tidak ingin hidup lebih lama dengan istrinya. Lantas ia berkata, “Tetapi pastor, kesetiaan saya sudah habis. Apa saya harus memaksakan diri?”

Pastor itu tersenyum mendengar kata-kata bapak itu. Lalu ia berkata, “Bapak, tidak semua orang dipanggil dan dipilih untuk menjadi suami dari istri bapak. Pasti dia punya hal-hal yang sangat baik. Pasti dia punya keunggulan-keunggulan yang hanya boleh dimiliki oleh bapak. Cobalah setia kepadanya walaupun ia meremehkan bapak.”

Setiap orang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan untuk hidup bersama yang lain. Dalam kehidupan berkeluarga, setiap orang dipanggil secara khusus untuk menjadi suami atau istri untuk orang tertentu saja. Ada perbedaan-perbedaan yang begitu besar di antara dua insan yang membangun keluarga. Tetapi perbedaan-perbedaan itu menjadi rahmat yang menguatkan. Perbedaan-perbedaan itu menjadi kekayaan yang dapat digunakan untuk memajukan kehidupan berkeluarga.

Ada kalanya di antara dua insan itu terjadi kesalahpahaman. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Kalau ada konflik, mereka mesti dapat menyelesaikannya dengan kepala dingin. Konflik tidak diselesaikan dengan sensasi. Mereka mesti terus-menerus berusaha untuk menyelesaikan konflik itu. Tuhan menghendaki mereka tetap setia dalam panggilan hidup berkeluarga itu.

Untuk itu, setiap keluarga mesti tetap setia pada komitmen yang telah mereka ikrarkan pada saat perkawinan mereka. Ketika mereka menikah, mereka bersumpah setia satu sama lain dalam untung dan malang. Maka mereka mesti tetap setia pada komitmen itu. Mereka mesti memelihara komitmen itu dalam perjalanan hidup mereka.

Hidup berkeluarga itu juga suatu panggilan dari Tuhan. Tuhan menghendaki agar keluarga-keluarga membangun cinta kasih dan persaudaraan. Dalam konteks ini, suami istri dipanggil untuk saling menyucikan diri dengan saling mencintai. Ketidaksetiaan itu melukai hidup berkeluarga.

Karena itu, saya mengajak keluarga-keluarga untuk tetap bertahan dalam hidup berumah tangga. Yakinlah, Tuhan senantiasa menyertai dan memberikan rahmatNya bagi keluarga-keluarga. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

203

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.