Pages

11 Oktober 2009

Memupuk Kepekaan terhadap Sesama




Bagi Butet Manurung, salah satu hal yang memprihatinkan dari keberadaan suku orang rimba atau suku anak dalam di pelosok hutan Jambi adalah munculnya proses pengidealan oleh dunia luar.

Ia berkata, ”Hidup mereka sering kali dikatakan kurang beradab dan salah. Padahal, ini masalah perbedaan pandangan saja.”

Tergerak pada perjuangan hidup suku orang rimba, ia mengabdikan diri di pedalaman Jambi. Di tempat itu Butet mengenalkan cara membaca, menulis, hingga berbahasa Indonesia kepada anak-anak suku orang rimba.

Ia juga mengajak mereka belajar mengasah keterampilan hidup. Perempuan bernama lengkap Saur Marlina Manurung ini berkata, ”Untuk pembelajaran ini, aku menggandeng sukarelawan yang ahli di bidang pertanian. Sekolah kami bukan sekadar mengasah pengetahuan, tetapi bagaimana mempertahankan hidup, atau sekolah hidup.”

Ia bersama rekannya juga membuka enam sekolah yang tersebar di beberapa daerah, seperti di Sulawesi Selatan, Flores dan Halmahera. Dari enam sekolah itu, hanya dua yang disokong donatur. Untuk menghidupi sekolah lainnya, ia mengandalkan subsidi silang, yakni penjualan buku hingga menyisihkan sebagian honornya sebagai pembicara.

Perjuangan seorang Butet untuk kemajuan anak bangsa yang tertinggal begitu besar. Ia mengorbankan segala yang ia miliki hanya untuk sesamanya yang menderita. Ia berani mempertaruhkan hidupnya untuk masuk keluar hutan rimba demi kemajuan sesamanya. Inilah iman yang hidup. Orang yang beriman itu menampilkan imannya dalam kepeduliannya terhadap sesama.

Kita hidup dalam dunia yang penuh tantangan. Ada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan kita. Ada orang-orang yang perlu dibuka pikirannya untuk lebih maju dalam hidup ini. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita semua punya tanggung jawab untuk hidup yang lebih baik dari sesama kita. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup juga untuk orang lain.

Butet Manurung sudah memberikan suatu contoh yang begitu baik dan indah bagi kita. Ia menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya kita bisa berbuat banyak hal untuk sesama kita. Kita bisa mewujudkan kepedulian kita dengan membantu mereka yang membutuhkan bantuan kita.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk memiliki kepekaan terhadap sesama dan lingkungan di sekitar kita. Kemajuan hidup sesama kita juga mendapatkan pengaruh dari kepedulian dan perhatian kita. Mari kita hidup semakin peka terhadap sesama di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


194

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.