Pages

Tampilkan postingan dengan label hal baik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hal baik. Tampilkan semua postingan

10 Desember 2013

Melakukan Hal-hal Baik meski Berkekurangan



Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda menemukan bahwa diri Anda memiliki begitu banyak kekurangan? Anda bersedih hati dan putus harapan? Atau Anda berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik melalui kekurangan-kekurangan itu?

Ada seorang ibu tua yang memiliki dua buah tempayan. Tempayan itu digunakan untuk mencari air. Tempayan itu kemudian dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu. Suatu hari, salah satu dari tempayan itu retak. Sedangkan yang satunya tanpa cela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya di rumah, setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak itu tinggal separuh. Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari. Akhirnya, ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya, si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun, tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya. Tempayan yang retak itu sedih, sebab ia hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Dua tahun berselang. Hal ini dianggap tempayan retak itu sebagai sebuah kegagalan. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk berbicara kepada ibu tua di dekat sungai. Ia berkata, "Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu."

Ibu tua itu tersenyum. Ia berkata, "Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui? Namun, tidak ada di jalur yang satunya? Aku sudah tahu kekuranganmu. Aku menabur benih bunga di jalurmu. Setiap hari, dalam perjalanan pulang, kau menyirami benih-benih itu. Selama dua tahun, aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini, sebab tidak ada bunga.”

Sahabat, Kita semua mempunyai kekurangan. Namun, keretakan dan kekurangan itu yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan. Kita mesti menerima setiap orang apa adanya. Kita mesti mencari dan memandang yang terbaik dalam diri mereka.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa dalam kekurangan itu, kita bisa melakukan sesuatu yang indah bagi kehidupan. Hanya orang yang tidak sempurna yang mampu berbuat sesuatu untuk sesamanya. Tempayan retak itu telah melakukan sesuatu yang sangat bernilai bagi kehidupan manusia. Ia tidak menyadarinya, tetapi hasil perbuatannya dapat dinikmati oleh manusia.

Sering kita berpikir bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang spektakuler, ketika kita telah memiliki segala sesuatu. Ketika kita menjadi manusia sempurna, baru kita merasa berguna bagi orang lain. Tentu saja pandangan ini keliru. Suatu karya yang spektakuler itu dihasilkan melalui kesalahan demi kesalahan. Suatu karya yang dinilai sangat berhasil itu diperoleh melalui trial and error. Sering banyak orang tidak menyadari hal ini.

Karena itu, kita tidak perlu bersedih hati ketika kita merasa diri serba kurang dalam hidup ini. Kita mesti yakin bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama kita melalui kekurangan-kekurangan yang kita miliki. Yang dibutuhkan dari kita adalah ketekunan dalam melakukan hal-hal baik. Dengan demikian, kita mampu melakukan hal-hal baik bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

1004

15 Desember 2011

Membesarkan Hal-hal Baik dalam Diri Kita


Apa yang membuat Anda sakit hati? Apa yang membuat batin Anda terluka? Tentu saja ada banyak hal yang menyebabkannya. Namun hal-hal itu semestinya tidak menyebabkan hati kita terluka. Mengapa? Karena sebenarnya di dalam diri kita ada begitu banyak hal baik yang mesti kita tumbuhkan.

Ada seorang gadis mengalami kegoncangan jiwa. Pasalnya, saat ia menikah ia baru tahu bahwa ia bukanlah anak kandung dari kakek-neneknya yang selama ini ia kagumi. Ternyata ia adalah anak angkat mereka. Ia baru mengetahui statusnya saat berusia 21 tahun. Saat itu, ia hendak melangsungkan pernikahannya.

“Saya adalah anak sulung dari lima bersaudara kandung. Saat saya dilahirkan, orangtua saya belum menikah. Untuk menutupi rasa malu, saya diadopsi oleh kakek-nenek dari pihak ibu. Akibatnya, sejak saya lahir saya masuk daftar keluarga kakek. Saya menjadi anak bungsu dari tujuh bersaudara,” katanya.

Ia menikah pada usia 25 tahun. Pernikahan yang seharusnya penuh sukacita, namun justru sebaliknya. Saat perkawinan, dibacakan bahwa ia adalah anak yatim piatu. Sementara di sebelahnya duduk kedua orangtua kandungnya.

“Air mata saya mengalir. Ingin rasanya saya berteriak. Saya ingin mengatakan kepada semua orang, “Saya masih punya orangtua yang hidup! Dan mereka ada di sini!” kata perempuan itu.

Sangat menyakitkan ketika ia tahu bahwa ia tidak diakui sebagai anak kandung secara hukum. Ia hanya diakui secara biologis saja. Menikah dalam kondisi emosi yang masih labil sangat mempengaruhi hidup suami-istri. Ia menjadi orang yang sangat emosional dan sensitif.

“Saya mudah terluka. Saya bersyukur mempunyai suami yang sangat sabar dan mengerti serta memahami sikap saya. Suami saya memberi saya waktu untuk mengolah pengalaman luka batin saya. Saya diberi waktu untuk berubah menjadi baik, menjadi istri yang baik dan sabar,” kata perempuan.

Sahabat, ketika ada pengalaman pahit dalam hidup, kita sering menonjolkan pengalaman pahit itu. Kita lupa bahwa ada hal-hal yang manis dalam hidup ini. Sering hal-hal manis itu lebih banyak kita alami dalam hidup ini. Kita lebih mendahulukan hal-hal yang pahit. Seolah-olah hal-hal pahit itu yang utama dalam hidup kita.

Kisah tadi mengajak kita untuk melihat hidup ini dari segi positif. Meski ada duka lara yang kita miliki, tetapi yakinlah hal itu hanya sebentar saja. Dukacita membantu kita untuk memetik nilai-nilai kebaikan dalam hidup kita. Perempuan dalam kisah di atas tidak terlalu lama terpuruk dalam luka batinnya. Ia cepat bangkit dari kenyataan diri yang ditolak itu. Ia yakin, dengan cara itu ia mampu menjadi seorang yang lebih baik.

Apa yang mesti kita buat saat kita menghadapi masa-masa pahit yang menyebabkan luka batin menganga? Yang perlu kita lakukan adalah kita butuh kesabaran dalam mengendalikan emosi kita. Kita tidak perlu marah atau emosi saat menghadapi situasi seperti ini. Dengan demikian, kita lebih memusatkan perhatian kita pada hal-hal yang baik dalam hidup ini. Kita mesti ingat bahwa ada begitu banyak hal baik yang ada dalam diri kita. Kita tumbuhkan hal-hal baik itu. Kita besarkan hal-hal yang baik itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


843