Pages

Tampilkan postingan dengan label hidup jujur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup jujur. Tampilkan semua postingan

07 Mei 2010

Berlaku Adil terhadap Sesama





Seorang tukang permata yang miskin, tetapi jujur dipenjarakan atas tuduhan kejahatan yang pernah dibuatnya. Dia ditempatkan di dalam sebuah penjara yang tinggi dan ketat terlindung di tengah pusat kota. Pada suatu hari, ketika dia sudah dipenjarakan berbulan-bulan, istrinya datang ke gerbang utama. Wanita itu mengatakan kepada para penjaga tentang suaminya, tukang permata yang miskin tetapi sangat saleh dan seorang pendoa. Dia akan hilang tanpa tikar sembahyangnya yang sederhana. Tidakkah mereka mengijinkan dia untuk memiliki satu-satunya harta ini? Para penjaga setuju, karena itu tidak merugikan dan memberikan kepadanya tikar sembahyang. Lima kali sehari dia membuka tikarnya dan berdoa.

Banyak minggu telah berlalu. Pada suatu hari tukang permata itu berkata kepada para penjaga, “Saya bosan duduk saja di sini dari hari ke hari tanpa berbuat sesuatu. Saya seorang tukang permata yang trampil. Bila tuan-tuan membiarkan saya memiliki potongan-potongan logam dan beberapa alat sederhana, saya akan membuat untuk Anda permata. Tuan-tuan dapat menjual itu di pasar untuk menambah gaji tuan-tuan yang rendah. Saya hanya meminta sedikit saja, sekedar mengisi waktu luang dan tetap mempertahankan ketrampilan saya.”

Para penjaga itu setuju. Hari-hari berlalu, menjadi minggu dan bulan. Pada suatu pagi yang cerah, ketika para penjaga sampai pada sel tukang permata, ternyata sel itu kosong. Tidak ditemukan tanda bagaimana dia dapat meloloskan diri. Beberapa waktu kemudian, penjahat yang sesungguhnya dipenjarakan. Tuduhan terhadap tukang permata itu memang palsu.

Pada suatu hari, di pasar kota, lama sesudah pelarian diri si tukang permata, salah seorang penjaga bertemu dengan mantan narapidana: tukang permata itu. Segera petugas penjara itu menjelaskan bahwa penjahat yang sebenarnya sudah tertangkap. Kemudian dia bertanya kepada tukang permata bagaimana dia dapat meloloskan diri. Tukang permata itu menceritakan kisah yang menarik.

Istrinya sudah pergi kepada arsitek utama yang merancang pembangunan penjara. Istrinya memperoleh dari arsitek itu denah pintu-pintu dan kunci-kunci sel. Kemudian denah itu disulam pada tikar sembahyang. Setiap hari ketika dia berdoa, kepalanya menyentuh denah itu. Perlahan, dia mulai melihat bahwa di dalam denah yang satu dan yang lainnya, ada rancangan kunci pintu selnya. Dari sisa-sisa logam dan dengan alat-alat sederhana, dia membentuk sebuah kunci dan melarikan diri. Penjaga itu sangat tercengang mendengar kisah itu. Luar biasa akal sang tukang permata.

Dari kisah ini kita diajarkan betapa manfaat kreatifitas dapat mengubah hidup manusia. Orang yang tidak bersalah mesti dilepaskan dari hukuman. Namun karena hukum tidak fair, maka orang yang tidak bersalah mesti menggunakan kelihaiannya untuk membebaskan diri.

Kita semua dipanggil untuk membebaskan diri dan sesama yang tidak bersalah dari kecurangan dan ketidakadilan yang sering terjadi di dunia ini. Tugas orang beriman adalah menegakkan keadilan bagi hidupnya dan bagi sesama. Pertanyaanya, sudahkah kita memperjuangkan kebenaran selama hari ini? Atau apakah kita terlibat dalam ketidakadilan terhadap sesama? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


Bagikan

09 November 2009

Berusaha Hidup Jujur dan Benar

Ada seorang remaja yang pintar. Namun kepintaran remaja ini bukan dalam hal pelajaran. Ia pintar dalam hal membuat alasan. Dia pintar dalam hal kebohongan. Pada hari tertentu ia meminta kepada orangtuanya untuk membeli English Book. Besoknya ia meminta uang lagi untuk membeli Buku Bahasa Inggris.

Atau pada kesempatan lain dia meminta uang untuk membeli penggaris. Besoknya dia minta uang untuk beli mistar. Dia juga meminta uang untuk biaya ekstrakurikuler. Pada hari lain ia meminta kembali uang untuk les tambahan.

Orangtuanya sering dibuat bingung oleh anak ini. Kalau orangtuanya bertanya tentang pentingnya kebutuhannya, ia selalu mengelak. Ia selalu mengatakan bahwa hal-hal yang dia minta itu merupakan tuntutan dari sekolah. Kalau semua itu dipenuhi, ia akan menjadi anak yang paling pandai di kelasnya bahkan di sekolahnya.

Ia juga berjanji kepada orangtuanya bahwa ia akan meraih rangking teratas di sekolahnya. Dengan demikian orangtuanya tidak perlu bayar uang sekolah lagi. Ia akan mendapat beasiswa dari sekolahnya atas prestasi yang diraihnya itu.

Suatu hari, anak itu kena batunya. Ibunya mendapati anak itu sedang menghisap putau di belakang rumah mereka. Ia masih juga mau mengelak dengan memberikan berbagai alasan yang masuk akal. Namun setelah ibunya mengancam untuk melaporkannya ke polisi, ia mau menyerah. Sejak itu, ia tidak berani membuat banyak alasan lagi. Ia tidak mau berbohong lagi kepada orang lain.

Hidup ini memiliki warna-warni. Manusia mesti mengalami warna-warni kehidupan itu. Kisah tadi menunjukkan salah satu sisi dari warna-warni kehidupan ini. Yang mesti disadari oleh manusia adalah bahwa ada sisi-sisi kehidupan yang dapat membahayakan hidupnya. Ada sisi-sisi kehidupan yang mampu membawa orang kepada kebahagiaan.

Karena itu, orang mesti cermat dalam hidup ini. Orangtua mesti hati-hati terhadap anak-anaknya. Mereka semestinya tidak begitu saja menelan kata-kata anak-anaknya. Kisah tadi menunjukkan bahwa orangtua mesti waspada terhadap anak-anaknya.

Biasanya kepintaran digunakan untuk sesuatu yang baik. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kepintaran dapat digunakan untuk sesuatu yang buruk. Kepintaran dapat digunakan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Kepintaran dapat digunakan untuk menjerumuskan diri sendiri atau orang lain.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menggunakan kemampuan dan kepintaran kita untuk kesejahteraan bersama. Kita tidak ingin menggunakan kepintaran kita untuk memanipulasi atau menjerumuskan orang lain ke dalam kegelapan hidup.

Karena itu, mari kita berusaha untuk hidup jujur dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Hanya dengan hidup jujur dan benar, kita dapat menciptakan suatu hidup yang bahagia. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

221

29 Oktober 2009

Berusaha untuk Hidup Jujur

Ada seorang miskin yang punya keinginan untuk menjadi orang kaya. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia mengambil pakaian dan segala perlengkapan lainnya lalu pergi ke kota. Ia berpikir, di kota ia akan dengan mudah menjadi orang kaya. Tinggal di desa lebih banyak buntungnya daripada untung.

Dia menjelajahi seluruh kota dan bertanya bagaimana caranya menjadi orang kaya. Berbagai ragam jawaban ia temukan. Misalnya, menjadi orang kaya itu orang mesti bekerja keras. Orang tidak begitu saja menjadi orang kaya. Tidak ada cara instant menjadi orang kaya.

Ia berkata dalam hati, “Saya ingin menjadi orang kaya dalam waktu yang singkat. Mengapa tidak bisa?”

Tiba-tiba ia mendapati seseorang yang membawa banyak emas yang secara tidak sengaja jatuh ke dalam selokan. Ia berpikir dalam hati bahwa itulah kesempatan baginya untuk menjadi orang kaya mendadak. Karena itu, ia segera saja mengambil beberapa batang emas dari selokan itu. Kemudian ia mengambil langkah seribu.

Namun banyak orang yang berdiri di sekitar selokan itu segera menangkapnya. Salah seorang menghardiknya, “Bagaimana mungkin kamu mau mengambil emas-emas itu dan melarikan diri? Padahal banyak orang berkerumun di sini untuk menolong orang yang jatuh itu.”

Orang miskin itu menjawab, “Aku hanya melihat emas. Aku tidak melihat orang banyak itu.”

Banyak orang tersilau oleh harta kekayaan. Harta itu memang selalu menggoda. Karena itu, orang tidak peduli bahwa harta itu mempunyai pemilik. Orang tidak boleh mengambil milik orang lain bagi dirinya sendiri. Harta yang menggoda itu bisa menjerumuskan banyak orang ke dalam penjara.

Akhir-akhir ini Komisi Pemberantasan Korupsi sedang giat-giatnya memburu para koruptor. Salah satu kasus adalah penggeledahan di ruangan para anggota DPR. Ditengarai ada anggota wakil rakyat yang terlibat dalam penggelapan dana penghijauan dan pengalihfungsian hutan mangrove di Tanjung Api-api, Sumatera Selatan.

Keinginan untuk menjadi orang kaya secara mendadak telah mendorong usaha-usaha untuk penggelapan dana itu. Padahal dana itu sudah disiapkan oleh negara untuk kehidupan bersama. Hutan yang mau ditanam itu bukan hanya untuk sekelompok orang. Tetapi untuk kehidupan begitu banyak orang di dunia ini.

Sebagai orang beriman tentu kita ingin hidup secara wajar. Kalau kita menjadi kaya, hal itu bukan karena perbuatan tangan kita yang kotor. Tetapi lebih sebagai suatu usaha keras yang halal yang kita raih untuk kehidupan kita.

Karena itu, mari kita berusaha untuk hidup jujur. Kejujuran itu akan membuat hidup kita menjadi damai dan tenteram. Kita akan menemukan hidup yang bahagia, meski harta kita sedikit. Meski kita tidak kaya harta, namun kehidupan yang jujur memberikan kita kekayaan rohani. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

210