Pages

Tampilkan postingan dengan label kasih Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasih Tuhan. Tampilkan semua postingan

08 Desember 2011

Kasih Tuhan Tidak Pernah Habis


Ketika kita menyatakan rasa syukur kepada Tuhan, biasanya dengan mudah kita akan bersyukur atas berkat materi dan hidup yang indah, meskipun semuanya itu akan mudah hilang. Tubuh yang sehat memang adalah berkat yang luar biasa, tapi tahukah kita bahwa itu semua bisa lenyap suatu hari.

Suatu hari seorang anak menangis tanpa henti. Pasalnya, ia baru saja kehilangan ayah yang sangat dikasihinya. Tanpa sebab musabab yang pasti, ayahnya tiba-tiba menghembuskan nafas terakhirnya. Anak itu menangis. Anak itu memberontak. Anak itu tidak mau menerima kenyataan itu.

Ia menuduh ibunya yang tidak menjaga ayahnya. Ia memarahi kakaknya yang tidak menggunakan refleksnya untuk menangkap ayahnya yang tiba-tiba jatuh. Ia memelototi mereka satu per satu. Ia menuding mereka telah menyebabkan ayahnya meninggal dunia.

Dengan tenang, sang ibu berusaha untuk menenangkan kegalauan hati anaknya. Ia berusaha meyakinkan anaknya bahwa apa yang terjadi dengan ayahnya adalah sesuatu yang terbaik. Tuhan telah memberi hidup kepada ayahnya. Tuhan pula yang mengambilnya kembali.

“Nak, tidak seorang pun dari kita yang menghendaki kematian ini terjadi atas diri bapak. Mungkin ini cara yang terbaik bagi bapak untuk menghadap Tuhan. Yang kita lakukan adalah kita pasrah kepada Tuhan. Yakinlah, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi bapak,” kata sang ibu.

Sahabat, manusia tidak gampang menerima penderitaan. Manusia tidak mudah menerima kematian. Padahal kematian itu hakekat manusia. Begitu dilahirkan ke dalam dunia, sebenarnya manusia telah berhadapan dengan kematiannya. Manusia tidak bisa mengelak dari kenyataan ini. Lantas apa yang mesti kita lakukan di saat kita menghadapi situasi seperti ini?

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa betapa pun sedihnya kita, kita mesti tetap menerima kenyataan pahit kehidupan kita. Yang mesti kita lakukan adalah kita berusaha untuk mengendalikan diri dari berbagai bentuk sikap emosi. Sikap pasrah kepada Tuhan dengan penuh pengharapan menjadi salah satu bagian yang mesti kita kembangkan dalam hidup.

Seorang guru bijaksana mengajak orang yang menghadapi situasi seperti ini untuk tetap bertahan pada imannya. Mengapa? Karena tidak ada yang memisahkan kita. Kematian tidak mampu memisahkan manusia. Apalagi kalau kita hidup dalam kasih Tuhan. Ia mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan. Kasih Tuhan tidak pernah gagal. Kasih Tuhan tidak pernah mengecewakan. Kasih Tuhan tidak pernah berubah. Kasih Tuhan tidak akan pernah habis atau hilang.

Karena itu, kita diajak untuk tetap bertahan dalam iman kita akan Tuhan yang senantiasa mengasihi kita. Kita mesti tetap setia kepada Tuhan meski penderitaan yang berat mesti kita tanggung dalam hidup ini. Yakinlah, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


838

05 Desember 2010

Hidup dalam Naungan Kasih Tuhan

Suatu hari seekor ular di kandang di sebuah kebun binatang tidak mau makan. Ia tampak bermalas-malasan. Seekor tikus besar yang dimasukkan ke kandangnya dibiarkannya saja berlarian kian ke mari. Ia tidak mau memangsa tikus itu. Bahkan ia menyembunyikan kepalanya di balik badannya. Ia tertidur nyenyak, meskipun sudah sebulan ini ia tidak makan.

Selidik punya selidik, ternyata ular jenis piton itu sedang bersedih hati. Sang betina pujaannya baru saja dipindahkan dari kandangnya. Sudah lama mereka hidup bersama di dalam kandang itu. Mereka sudah menjadi sepasang sejoli yang hidup harmonis. Alasan sang betina dipindahkan ke kandang yang lain adalah sudah bertahun-tahun sang betina tidak juga menghasilkan telur. Padahal pemilik kebun binatang itu menginginkan ular jenis piton itu berkembang biak di dalam kebun binatang miliknya.

Setelah beberapa bulan dipindahkan ke kandang yang lain, sang betina mati. Pasalnya, di tempat yang baru ia tidak bisa hidup dengan ular jantan yang baru dimasukkan ke kandang itu. Tidak ada keharmonisan di antara mereka. Mereka sering bertengkar. Mereka sering berkelahi. Barangkali matinya ular piton betina itu telah menyebabkan ular piton jantan itu tidak mau makan. Ia membiarkan tubuhnya menjadi kurus. Lama kelamaan ia pun mati, menyusul sang betina yang telah lebih dahulu mati.

Sahabat, kegundahan hati karena cinta yang hilang dapat menyebabkan berakhirnya suatu hidup. Orang yang saling mencintai itu orang yang mampu saling meneguhkan. Orang yang saling menimba kekuatan dari cinta itu. Karena itu, ketika salah satu dari mereka mengkhianati cinta, dapat dipastikan bahwa hidup ini berakhir dengan duka. Keharmonisan yang dialami, karena tumbuhnya cinta itu pun berakhir.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kerinduan yang begitu dalam untuk tetap bersatu dalam keharmonisan menumbuhkan semangat hidup. Namun ketika situasi seperti ini hilang, maka tumbuhlah kekecewaan demi kekecewaan dalam hidup. Tidak ada lagi pegangan bagi hidup ini. Orang terlepas dari akarnya. Orang tidak punya apa-apa lagi untuk menyandarkan hidupnya.

Orang yang kehilangan cinta itu orang yang menjauhkan dirinya dari Tuhan. Mengapa? Karena pada hakekatnya Tuhan adalah kasih. Tuhan senantiasa mengasihi manusia. Tuhan menghendaki manusia hidup di dalam kasih itu. Ketika manusia menjauh dari kasih Tuhan, manusia kehilangan pegangan hidupnya. Manusia kehilangan tempat untuk menyandarkan hidupnya.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh orang-orang beriman di jaman yang serba bising dan kacau balau ini? Orang beriman mesti selalu mau hidup dalam naungan kasih Tuhan. Orang beriman mesti menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Dengan demikian, manusia selalu menemukan hidupnya dalam lindungan Tuhan. Orang beriman senantiasa hidup berdasarkan nilai-nilai kasih yang berasal dari Tuhan. Mari kita hidup dalam naungan kasih Tuhan, agar hidup ini semakin memiliki makna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ
562