Pages

Tampilkan postingan dengan label kecelakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kecelakaan. Tampilkan semua postingan

08 September 2011

Perlu Usaha Terus-menerus Membangun Karakter



Selama di Palembang, sudah dua kali mobil saya ditabrak oleh pengendara motor dari belakang. Dua-duanya terjadi di jalan raya yang ramai. Kali yang pertama terjadi di atas Jembatan Ampera. Dalam kemacetan sore hari, tiba-tiba sebuah motor menabrak mobil saya. Praaakkkkk.

Yang kena adalah ban serep yang tergantung di belakang mobil saya. Tidak terjadi sesuatu yang merugikan. Suara memekik terdengar dari pengendara motor yang seorang perempuan. Tidak ada urusan apa-apa. Saya melanjutkan perjalanan ke arah Plaju. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan perempuan itu dan motornya. Kan dia yang menabrak mobil saya. Jadi apa yang terjadi atas dirinya, biaralah dia tanggung sendiri.

Peristiwa kedua terjadi di Jalan Kolonel Atmo. Kali ini tiga orang mengendarai satu motor. Yang di tengah tidak pakai helem. Mobil saya yang sedang berhenti karena lampu merah langsung saja ditabraknya. Lagi-lagi kali ini pun mengenai ban serep yang tergantung di belakang mobil. Prakkkk...

Tidak terjadi kerusakan pada mobil saya. Motor itu kemudian menghilang pergi setelah menyenggol dua motor lain yang sedang berhenti. Terdengar suara seorang perempuan yang memekik. Ia hampir terjatuh, karena tersenggol. Seorang lelaki yang juga disenggol oleh pengendara motor itu kemudian mengejar ketiga lelaki itu. Tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang pasti adalah saya juga segera pergi setelah lampu hijau menyala.

Sahabat, tanggung jawab terhadap suatu perbuatan ternyata masih sangat tipis dalam diri banyak orang. Orang mencari pembenaran diri, meskipun dirinya bersalah atas perbuatan itu. Orang mudah menghindari suatu kesalahan yang telah diperbuatnya. Orang mudah mencari kambing hitam. “Bukan saya, tetapi orang lain yang melakukannya.” Begitu kata banyak orang untuk melarikan diri dari tanggung jawab.

Tentu saja sikap seperti ini bukanlah sikap orang-orang yang berpribadi dewasa. Ini sikap kekanak-kanakan dari orang yang hanya mau mencari enaknya sendiri. Orang yang tidak mau menanggung resiko atas perbuatan yang dilakukannya. Kita prihatin terhadap sikap hidup seperti ini.

Karena itu, dibutuhkan pembangunan karakter yang terus-menerus bagi anak-anak bangsa ini. Karakter yang baik yang dimiliki oleh anak-anak bangsa ini akan membantu pembangunan hidup berbangsa dan bernegara. Yang sering diprihatinkan adalah pembangunan di segala bidang digembar-gemborkan. Tetapi pembangunan karakter diri sering dilupakan. Akibatnya, kita memiliki manusia yang memiliki kepribadian yang tidak matang. Orang tidak berani bertanggung jawab, ketika menghadapi suatu persoalan dalam hidupnya.

Mari kita berusaha membangun karakter hidup kita menjadi lebih baik. Dengan karakter yang baik itu, kita dapat menemukan hidup yang lebih baik. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Damai dapat kita ciptakan bersama ketika kita memiliki karakter yang baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


776

28 Juni 2011

Berani Pertaruhkan Hidup bagi Orang lain




Peristiwa ini terjadi terhadap seorang bapak di Pintu Satu Senayan, Jakarta, tahun lalu. Saat itu ia sedang mengendarai mobil. Sekitar dua puluh meter sebelum berbelok ke Jalan Pintu Satu Senayan, ia menyalakan lampu sinyal. Tetapi beberapa pengendara sepeda motor seakan tak perduli. Mereka tetap memaksa dan menerobos. Satu, dua, sepeda motor berhasil lolos. Tetapi sepeda motor ketiga gagal. Tabrakan tak terhindarkan.

Sepeda motor yang dikemudikan dengan kencang itu akhirnya membentur mobil bapak itu dengan keras. Sang pengemudi terpental lalu terhempas di trotoar. Bapak itu menepi dan berhenti.

Sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa itu menyuruhnya jalan terus. Menurut mereka, pengendara motor itu yang salah. Sementara ia melihat pengendara sepeda motor bangkit dan dengan terpincang-pincang berusaha mendorong motornya ke pinggir jalan. Hati kecilnya memerintahkannya untuk turun dari mobil.

Mulanya pengemudi sepeda motor tersebut menolak tawarannya untuk diperiksa di Rumah Sakit Djakarta, yang jaraknya tak jauh dari lokasi tabrakan. Dia mengaku hanya butuh waktu sebentar guna memulihkan kondisi tubuhnya. Bapak itu mendesak dan mengatakan akan menanggung biaya pengobatan termasuk kerusakan motornya. Akhirnya dia bersedia.

Setelah membawa pengemudi motor itu ke rumah sakit, meninggalkan uang untuk perbaikan motornya, dan meninggalkan kartu nama, barulah mereka berpisah. Jika harus menghitung “kerugian” dalam peristiwa itu, bukan cuma karena mobil bapak itu yang rusak, tetapi juga banyak waktu yang terbuang.

Menurut bapak itu, sebagai manusia biasa, ada waktunya ia merasa jengkel pada ulah sebagian pengendara sepeda motor di Jakarta. Banyak yang ugal-ugalan dan merasa merekalah “raja jalanan”. Mereka seakan tidak perduli pada keselamatan jiwa sendiri dan orang lain. Terlalu banyak pengalaman tidak menyenangkan berhadapan dengan pengendara sepeda motor yang seperti itu.

Sahabat, dalam suatu peristiwa kecelakaan biasanya orang mempersoalkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Orang tidak langsung berpikir tentang korban yang mesti dibantu terlebih dahulu. Orang lebih mementingkan keselamatan dirinya sendiri.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa dalam kondisi apa pun keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Karena itu, bapak itu tidak pertama-tama memikirkan siapa salah, siapa benar. Yang ia pentingkan adalah siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu. Tindakan seperti ini merupakan suatu tindakan yang heroik. Ia berani berkorban untuk keselamatan orang lain. Ia bahkan tidak memikirkan kerusakan dan kerugian yang diderita oleh dirinya.

Tentu saja sikap seperti ini adalah sikap orang yang memiliki iman yang dalam kepada Tuhan. Orang yang berani mengorbankan hidupnya demi keselamatan orang lain menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan. Tuhan telah memberi hidup ini kepadanya. Karena itu, ia mesti meneruskan hidup ini kepada orang lain.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berani mempertaruhkan hidup kita bagi keselamatan sesama. Dengan demikian, dunia ini menjadi tempat yang aman dan damai bagi semua orang. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

712