Pages

Tampilkan postingan dengan label kepekaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepekaan. Tampilkan semua postingan

14 April 2011

Memiliki Kepekaan terhadap Sesama


Beberapa hari lalu saya melintas di depan sebuah bank. Bank itu terkunci rapat. Saya tidak tahu, apakah bank itu masih berfungsi atau tidak. Namun yang menarik perhatian saya adalah seorang perempuan tua berpakaian compang camping. Di siang hari itu, perempuan tua yang berlepotan keringat dan ingus itu sedang menikmati makan siang. Dengan tangannya yang hitam karena debu, perempuan itu mengambil nasi dengan sayur seadanya. Ia mengunyah makanan itu.

Hal yang mengagetkan saya adalah di samping kiri kanan perempuan tua itu dua ekor kucing ikut menyantap makan siang perempuan itu. Herannya, perempuan itu merasa tidak terganggu. Malahan ia seolah membiarkan kucing-kucing itu menyantap bersamanya. Setelah kenyang, kedua kucing itu pun pergi. Mereka meninggalkan perempuan tua itu sendirian.

Setelah makan, perempuan tua itu melanjutkan perjalanannya. Dengan pakaian compang-camping dan sebuah tas kumal, ia mencari penghidupan. Tangannya yang hitam legam ia julurkan kepada orang-orang yang mau berbelaskasihan terhadapnya. Sejumlah uang yang diperolehnya dari mengemis itu ia gunakan untuk membeli makanan yang ia bagikan juga kepada kucing-kucing liar. Ketika malam menjemput, perempuan tua itu menggulingkan tubuhnya yang kurus di emperan toko. Ia tidak peduli akan nyamuk-nyamuk yang menyerangnya sepanjang malam.

Sahabat, ini adalah salah satu bagian dari potret kehidupan manusia di kota kita (Palembang). Mungkin kita semua pernah menyaksikan kondisi seperti ini. Anak-anak jalanan yang berseliweran di perempatan-perempatan jalan. Atau sesama kita yang berjalan dari satu pintu rumah ke pintu rumah yang lain demi sesuap nasi yang mampu memberi mereka kekuatan untuk mempertahankan hidup.

Mungkin ada dari kita yang mempertanyakan kehadiran orang-orang itu di kota kita tercinta ini. Mengapa mesti ada anak-anak jalanan yang berseliweran di tengah-tengah kita? Bukankah kegiatan mereka itu mengganggu hidup sesama yang lain? Bukankah semestinya mereka menikmati masa-masa indah di sekolah?

Kondisi kemiskinan tentu saja menjadi sebab dari kehadiran mereka di jalan-jalan. Mengapa kemiskinan mesti melilit kehidupan manusia? Tentu saja ada banyak alasan. Salah satu alasannya adalah kesenjangan hidup di antara manusia. Ada anggota masyarakat yang begitu kaya dan ada anggota masyarakat yang begitu miskin. Untuk makan saja, mereka yang miskin mesti berjuang setengah mati. Belum tentu selama satu hari mengemis mereka mendapatkan uang yang cukup untuk makan dua kali. Sementara ada pihak yang kaya menghambur-hamburkan kekayaannya untuk sesuatu yang tidak berguna.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti memiliki kepekaan terhadap sesama kita. Masih ada begitu banyak orang miskin di sekitar kita. Untuk hidup satu hari saja mereka berjuang luar biasa berat. Rumah yang layak tidak dimiliki oleh mereka. Kini saatnya kita memberikan perhatian yang lebih bagi mereka yang miskin dan sengsara. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ
Majalah FIAT


655

04 Mei 2010

Memiliki Kepekaan terhadap Sesama

Setelah terjadi hujan lebat yang mendatangkan banjir dan menghanyutkan puluhan rumah penduduk di daerah kumuh, seorang pendeta datang mengunjungi tempat itu. Ketika tiba di daerah kumuh yang terkenal itu, pendeta itu melihat seorang anak berdiri telanjang di depan sebuah rumah. Dinding rumah yang terbuat dari sisa-sisa sampah itu telah hanyut dibawa banjir. Sekilas pandang, segala yang ada dalam rumah tersebut bisa dilihat tanpa hambatan apa pun, karena memang rumah tersebut tak berdinding. Dengan penuh rasa belas kasih pendeta itu bertanya, “Di mana ibumu?”

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut anak itu. Matanya memandang jauh ke depan. Namun pancaran matanya mengatakan bahwa ia tak memiliki masa depan yang jelas. Ia telah kehilangan segalanya. Kedua orangtuanya telah hanyut bersama banjir. Dan satu-satunya yang kini ia miliki cuma sebuah rumah tak berdinding, sebuah rumah tak beratap. Matanya jauh menatap sebuah kehampaan.

Sang pendeta seakan mendapat pukulan yang keras dalam batinnya. Kata-kata Sang Gurunya terdengar jelas di telinga pendeta itu, “Aku datang agar kamu memperoleh kepenuhan hidup.”

Namun apakah anak ini memperoleh kehidupan yang penuh? Suatu kepenuhan dalam kehampaan? Dalam kebisuannya, anak itu seakan berkata, “Aku butuh uluran tanganmu.”

Pendeta itu bertanya keras, “Apakah yang harus aku perbuat?” Peristiwa ini ternyata menjadi awal pertobatan pendeta tersebut, yang selanjutnya mengabdikan diri untuk hidup bersama kaum miskin, membantu mereka untuk bangun dan membantu diri sendiri.

Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang kurang beruntung. Tentu itu bukan kehendak mereka untuk hidup dalam kemalangan dan kemiskinan. Mereka hidup dalam situasi terpaksa.

Ada seorang bupati yang sangat memiliki perhatian bagi rakyatnya yang menderita. Ia membuat program-program untuk mengentas kemiskinan di wilayahnya. Dia menggunakan dana taktis yang biasanya dikucurkan setiap tahun. Jadilah para tukang becak di wilayah kabupatennya dapat memiliki rumah sederhana melalui kredit murah. Ia juga memberi beasiswa bagi anak-anak miskin. Bahkan ia membebaskan biaya sekolah bagi warganya sampai sembilan tahun. Cita-citanya adalah setiap warga di kabupatennya memiliki hidup yang lebih baik.

Tentu hal seperti ini sungguh luar biasa. Seorang pemimpin mesti memiliki kepekaan terhadap sesamanya. Seorang pemimpin mesti memperhatikan sesamanya yang menderita. Dan caranya adalah dengan membuat program-program kerja yang dapat mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

Setiap hari Anda sudah bekerja keras untuk keluarga Anda. Pertanyaannya, apakah di sela-sela kesibukan Anda, Anda masih memiliki hati bagi sesama yang kurang beruntung? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

367

Bagikan