Pages

Tampilkan postingan dengan label mengarahkan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengarahkan hidup. Tampilkan semua postingan

12 Oktober 2015

Senantiasa Mengarahkan Hidup kepada Tuhan


Seorang bijaksana berkata, “Hendaklah kamu berakar di dalam Tuhan dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu. Hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Seorang ibu bercerita tentang anak bungsunya yang sulit sekali berdoa sebelum tidur. Setiap kali ia menidurkannya, anak itu sulit sekali berdoa meski hanya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Tuhan sepanjang hari itu. Hal itu sering membuat ibu itu cemas akan anaknya itu.

Namun suatu malam yang dingin, sebelum tidur, anak itu mau berdoa. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berdoa. Namun dengan spontan, ia berdoa mengucapkan terima kasih atas kebaikan Tuhan sepanjang hari itu.

Ia berdoa, “Tuhan, terima kasih karena di sekolah guru-guru saya sangat baik kepada kami semua. Mereka mengajar kami dengan penuh kasih. Saya juga berterima kasih, karena Engkau masih memelihara papa dan mama saya.”

Sang mama terkejut mendengar doa anaknya yang panjang itu. Apalagi doa itu dilakukan dalam waktu yang lama. Ada mukjizat apa? Namun sang mama membiarkan anaknya berdoa hingga selesai. Lantas ia mencium anaknya itu dan menidurkannya.

Sekitar tiga menit kemudian, ibu itu mendengar seperti ada orang memanggil. Ia segera melongok ke dalam kamar. Namun semuanya baik-baik saja. Bahkan anaknya yang berdoa sebelum tidur itu tertidur dengan lelap.



Mengapa Cemas tentang Hidup?

Sering orang cemas akan hidup ini. Orang lantas mempersoalkan banyak hal dalam perjalanan hidupnya. Orang menggerutu ketika mesti menghadapi banyak persoalan dalam hidupnya. Padahal kalau saja orang tidak cemas atau menggerutu, orang akan dapat menyelesaikan pekerjaan atau persoalan dengan baik dan benar.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tidak cemas dalam hidup ini. Orang yang berani bersyukur atas kebaikan Tuhan tidak akan pernah cemas dalam hidupnya. Sebaliknya orang seperti ini selalu memiliki antusiasme dalam menjalani hidup ini. Orang seperti ini akan membangun masa depan dengan lebih baik.

Seorang bijaksana berkata, “Serahkanlah kekuatiranmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!” Tentu saja hal ini tidak mudah. Mengapa? Karena egoisme sering menguasai diri manusia. Manusia merasa diri mampu melakukan apa saja bagi hidupnya. Manusia merasa tidak memerlukan bantuan dari Tuhan.

Baru ketika mengalami jalan buntu dalam hidupnya lalu lari kepada Tuhan. Orang mulai berkeluh kesah kepada Tuhan. Seolah-olah Tuhan adalah tempat sampah. Orang membuang segala duka nestapanya kepada Tuhan. Tentu saja ini bukan sikap hidup orang beriman.

Orang beriman tidak boleh mengizinkan ketakutan, kekuatiran dan egoisme bercokol dalam dirinya. Untuk itu, orang mesti mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan semata. Berkat Tuhan akan mengalir ke dalam dirinya. Orang mesti percaya bahwa Tuhan tahu apa yang dibutuhkan untuk perjalanan hidup ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap

1170

02 Agustus 2009

Arahkan Hidup kepada Tuhan


Nabi Musa adalah orang yang sangat peduli terhadap rakyatnya. Dalam perjalanan di padang gurun selama empat puluh tahun, Nabi Musa membantu rakyatnya untuk setia kepada Tuhan. Berkali-kali ia mesti mengarahkan hati rakyat kepada Tuhan. Padahal mereka sering tidak peduli terhadap seruannya. Rakyat yang sedang kelaparan, misalnya, mengeluh kepada Nabi Musa. Tidak hanya mengeluh. Mereka juga mempertanyakan mengapa Nabi Musa membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Suatu ketika banyak rakyat yang dipagut oleh ular berbisa. Hal itu terjadi karena rakyat tidak percaya kepada Tuhan. Apa yang dibuat Nabi Musa? Ia memohon keselamatan bagi rakyatnya itu kepada Tuhan. Tuhan menyuruh Nabi Musa membuat tiang yang diberi ular tembaga di atasnya. Lantas Nabi Musa menacapkannya di tengah-tengah rakyat. Semua yang dipagut ular berbisa yang memandang kepada ular tedung itu memperoleh kehidupan.

Ternyata Tuhan begitu baik kepada rakyat yang berdosa melawannya. Tuhan tidak membinasakan mereka. Justru Tuhan membantu mereka untuk memperoleh kehidupan. Begitu besar kasih Tuhan kepada manusia.

Kasih Tuhan itu semakin besar ketika Tuhan Allah mengutus Yesus untuk membebaskan manusia dari kungkungan dosa. Cara Yesus membebaskan manusia dari dosa itu sangat tragis. Ia datang kepada umat milik kepunyaanNya, tetapi ditolak. Bahkan dengan cara yang sangat keji, mereka menangkap, menyiksa, mengadili dan membunuhNya. Mereka membunuh Yesus dengan menggantungnya di atas salib sebagai tanda penghinaan.

Tetapi apa yang terjadi sesudah penyiksaan yang keji itu? Yesus yang wafat di atas kayu salib itu kemudian bangkit pada hari ketiga. Yesus hidup lagi. Tentu hal ini pertama-tama karena kuasa Tuhan atas dirinya. Yesus itu nabi yang berkenan kepada Tuhan. Karena itu, Tuhan berkenan pula membangkitkanNya dari alam maut. Kematian tidak menguasainya. Ia bangkit dengan jiwa dan ragaNya. Ia tetap hidup di tengah-tengah umat manusia.

Bagi orang kristiani, Yesus menjadi tokoh istimewa. Yesus menjadi perantara antara Allah dan manusia. Yesus memberi hidup kepada manusia, kalau orang mau menyerahkan hidup kepada Tuhan. Setiap orang yang mau meninggalkan dosa-dosanya dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya akan memperoleh kehidupan yang abadi.

Soalnya adalah apakah manusia mau menerima Tuhan sebagai satu-satunya penyelamat? Bukankah manusia mudah tergoda oleh hal-hal duniawi yang menawarkan kebahagiaan instan? Mari kita mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Dia tidak akan pernah menyakit kita. Justru Tuhan senantiasa menawarkan kasihNya kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB (112)

29 Juli 2009

Temukan Kehendak Tuhan dalam Hidup



Di suatu negeri, diadakan lomba lempar batu antar desa. Siapa yang berhasil melempar paling jauh, dia yang akan memenangkan pertandingan. Setelah semuanya menampilkan keterampilan melempar, tampillah sang juara, seorang atlet yang memang sudah dikenal tangguh. Keberhasilannya itu membuat ia dianugerahi batu berlapis emas oleh Sri Baginda Raja.

Berita tentang kejuaraan dan juara lempar batu itu tersiar ke seluruh pelosok negeri. Semua orang maklum, kalau dia lagi yang juara. Sebab selama tiga kali kejuaraan, belum pernah ada orang lain yang bisa menandingi keterampilannya dalam melempar batu.

Mendengar berita itu, seseorang yang dikenal oleh orang sekampung sebagai tidak becus bermain lempar batu, berkata kepada kawannya, “Memang hebat dia. Tidak kaget kalau kejuaraan kali ini pun masih dia yang juara. Bahkan mungkin aku pun kalah, kalau diadu lempar batu dengan dia.”

Temannya memanas-manasi dengan berkata, “Ya, jelas saja. Engkau pasti kalah melawan dia.”

Orang itu berkata, “Jangan memastikan dulu. Kita kan belum bertanding. Kau mendahului kehendak Tuhan!”

Temannya itu jengkel mendengar pembelaan dirinya.

Ada orang-orang yang sering membuat ramalan-ramalan atas peristiwa hidup seseorang atau peristiwa suatu bangsa. Beberapa waktu lalu setelah gempa melanda Bengkulu, ada yang meramalkan akan ada gempa yang lebih dahsyat lagi menimpa Bengkulu. Orang yang ingin selamat harus pindah. Orang mesti menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghindari bencana tersebut. Namun yang terjadi kemudian adalah ramalan tersebut hanyalah isapan jempol belaka. Tidak terjadi gempa sama sekali pada tanggal yang sudah diramalkan itu.

Boleh-boleh saja orang membuat ramalan tentang orang lain atau tentang suatu peristiwa besar yang akan menimpa hidup manusia. Namun kita mesti ingat bahwa di atas segala-galanya masih ada Tuhan. Pepatah mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit. Artinya, masih ada Tuhan yang punya kuasa atas hidup manusia dan alam semesta ini. Karena itu, manusia mesti selalu tunduk pada penyelenggaraan Tuhan.

Apa yang terjadi kalau manusia selalu mengandalkan penyelenggaraan Tuhan? Yang terjadi adalah manusia menemukan kebahagiaan hidupnya. Manusia mengalami betapa baik Tuhan bagi hidupnya. Tuhan selalu menghendaki yang terbaik terjadi atas diri manusia. Tuhan tidak menghendaki bencana mengancam nyawa manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman kita mesti selalu mengarahkan hidup kita kepada kehendak Tuhan. Kita mesti mampu menangkap apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi hidup kita. Memang ini tidak mudah. Namun kalau kita belajar terus-menerus menangkap kehendak Tuhan bagi hidup kita, kita akan menemukan bahagia dalam hidup ini.

Mengapa orang selalu resah dalam hidupnya? Karena ia tidak sungguh-sungguh menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Mari kita berusaha untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.(104)