Pages

Tampilkan postingan dengan label kehendak Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehendak Tuhan. Tampilkan semua postingan

17 Maret 2014

Mengandalkan Kehendak Tuhan



Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Kalau kita tidak bertahan dalam tantangan, kita akan binasa. Karena itu, yang kita butuhkan adalah tuntunan dari Tuhan.

Menyadari bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, seorang nenek menyerahkan hampir satu kilogram emasnya kepada cucu tersayangnya. Emas sebanyak itu ia kumpul sejak ia masih gadis. Ketika menikah, emasnya semakin banyak. Pasalnya, sang suami selalu memberi uang untuk ia kelola. Kelebihan pengelolaan itu ia belikan emas. Lama-kelamaan ia memiliki emas dalam jumlah hampir satu kilogram itu.

Kepada cucunya, ia berkata, “Kamu harus simpan emas ini baik-baik. Jangan ada yang tahu. Kalau kamu punya kebutuhan yang mendesak, kamu boleh jual setengahnya.”

Sang cucu begitu bahagia menerima pemberian cuma-cuma dari sang nenek. Ia berkata kepada sang nenek, “Saya sangat bahagia mendapatkan emas ini. Tetapi tentu saja saya tidak akan serta merta menggunakannya. Bagi saya, emas ini membantu saya untuk meraih kebahagiaan dalam hidup.”

Sang nenek tersenyum mendengar pernyataan cucunya. Ia yakin, sang cucu tidak akan menghambur-hamburkan harta yang telah ia kumpulkan dengan susah payah itu. Ia yakin, cucunya akan menggunakannya dengan bijaksana.

Nenek itu berkata, “Dengan berbagai cara saya telah mengumpulkan emas dalam jumlah yang besar ini. Ini kemampuan yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan telah memberi saya kemampuan untuk berusaha. Kamu juga mesti menggunakan kemampuanmu untuk meraih kebahagiaan dalam hidup.”

Sang cucu kemudian memeluk sang nenek. Ia berjanji untuk setia mengembangkan dirinya. Ia berjanji untuk mengembangkan pemberian sang nenek dengan sebaik-baiknya.

Sahabat, hidup manusia di dunia ini singkat. Banyak orang mengharapkan umur yang panjang, tetapi kenyataan bisa berkata lain. Ada yang ingin hidup seratus tahun, tetapi di usia belum 50 tahun mereka telah mengakhiri perjalanan hidup mereka di dunia ini. Orang bahkan tidak punya kuasa atas diri mereka.

Orang Jawa mengatakan bahwa hidup itu hanya mampir minum. Artinya, hidup itu sebentar. Seorang bijaksana mengatakan bahwa hidup manusia seperti suatu giliran jaga malam. Hidup ini seperti mimpi, seperti bunga dan rumput. Hidup manusia seperti angin dan bayangan. Hidup manusia seperti uap, sebentar ada lalu lenyap

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hidup yang singkat ini mesti disiasati dengan bijaksana. Jangan hidup yang singkat ini dilalui dengan duka nestapa. Orang mesti melalui hidup yang singkat ini dengan meraih kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup ini. Meski hidup ini singkat, orang mesti menata hidupnya. Dengan demikian, hidup ini tidak hilang seperti angina atau menguap lenyap begitu saja.

Orang beriman tentu saja tidak mengandalkan diri sendiri dalam menata hidupnya. Tetapi orang beriman mesti menata hidupnya bersama Tuhan. Orang beriman selalu memikirkan apa yang Tuhan kehendaki bagi perjalanan hidupnya yang singkat ini. Tentu saja Tuhan menghendaki manusia hidup dalam kasih Tuhan. Artinya, orang beriman senantiasa membuka hatinya untuk menerima kasih Tuhan. Setelah itu, orang beriman mengalirkan kasih itu kepada sesamanya. Janganlah kasih itu hanya menjadi milik diri sendiri.

Hal ini tidak mudah, karena orang mesti memperjuangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang mesti menata hidupnya menjadi orang yang berguna bagi dirinya dan sesamanya. Untuk itu, mengandalkan kehendak Tuhan menjadi segala-galanya dalam kehidupan yang singkat ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1077

17 April 2013

Membiarkan Kehendak Tuhan Terjadi

Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda punya masalah dalam hidup? Apakah Anda membiarkan masalah itu menggerogoti hidup Anda atau Anda menyerahkannya kepada Tuhan?

Suatu hari ada seorang yang sakit kustadatang kepada Yesus. Ia merasa diri tidak layak di hadapan Tuhan. Karena itu,tanpa memandang wajah Yesus, ia tersungkur di kaki Yesus. Ia berseru, “Tuan,jika Tuan mau, Tuan dapat menyembuhkan aku.” Ia tetap tersungkur di kaki Yesus. Ia sangat mengharapkan penyembuhan bagi dirinya.

Melihat iman yang begitu besar, Yesusmengulurkan tangan-Nya. Ia menjamah orang kusta itu. Lantas Ia berkata, “Aku mau, jadilah engkau sembuh.” Seketika itu juga orang kusta itu sembuh. Tidakada lagi sakit kusta di tubuhnya. Ia sangat bergembira atas situasi itu. Ia memuji Tuhan atas kebaikan Yesus itu.

Penyembuhan itu memberi sukacita bagidirinya. Kini ia boleh bergaul dengan semua orang tanpa merasa rendah diri. Iatidak perlu takut oleh omongan orang tentang penyakit yang dideritanya. Iaboleh hidup normal seperti orang-orang lain dalam masyarakat. Ia bolehberinteraksi dengan sesamanya secara terbuka dan bebas. Ia boleh diterimadengan baik oleh masyarakat di mana dia hidup. Ia tidak perlu diungsikan lagiuntuk merawat dirinya sampai sembuh. Ia sudah bersih dari sakit kusta itu.

Sahabat, sering kita memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita lebih mengutamakan keinginan diri kita. Kalau Tuhan belum mengabulkan doa-doa permohonan kita, kita merasa Tuhan tidak peduli terhadap kita dan hidup kita. Kita merasa Tuhan sudah lupa terhadap kehidupankita. Tuhan tidak mencintai kita lagi.

Kisahdi atas menunjukkan kepada kita bahwa pandangan kita itu keliru. Orang tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Dalam berdoa, orang mesti membiarkan kehendak Tuhan terlaksana atas dirinya. Bukan kehendak pribadinya yang mestiterlaksana. Orang kusta dalam kisah di atas tidak memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Ia tidak mewajibkan Tuhan untuk menyembuhkan penyakit kustanya.

Iamenyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Ia membiarkan kehendak Tuhan terjadi atas dirinya. Mengapa? Karena kehendak Tuhan itu menjadi kehendak yang terbaik bagi dirinya. Hasilnya luar biasa. Seluruh penyakitnya disembuhkan. Ia menjadi bersih. Ia disucikan oleh Tuhan sendiri.

Orangberiman itu orang yang senantiasa memberikan hidupnya kepada Tuhan. Orang yangselalu mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Tentu saja tidak gampang orangmenyerahkan dirinya kepada Tuhan. Sebagai manusia yang masih mengembara didunia ini, orang ingin kehendaknya terjadi dalam hidupnya. Ada kebebasanpribadi yang juga ingin diungkapkan kepada Tuhan.

Karenaitu, sambil kita menjalani hidup di dunia ini, kita menyerahkan hidup kitakepada Tuhan. Dengan demikian, hanya Tuhan yang mampu memberi yang terbaik bagihidup kita. Tuhan memberkati. **

Fransde Sales SCJ
MajalahFIAT


961

17 Januari 2012

Menemukan Kehendak Tuhan dalam Hidup


Anda ingin hidup Anda bahagia? Anda ingin sukses dalam hidup ini? Sandarkanlah hidup Anda pada Tuhan.

Kurt Warner merupakan olahragawan AS. Ia adalah pemain American Football yang masih aktif sampai saat ini. Berbagai penghargaan telah ia raih dari cabang olahraga favorit masyarakat negara berjulukan "Pam Sam" tersebut. Di tahun 2008 ketika ia membawa timnya, Arizona Cardinals sebagai juara National Football Leage atau NFL, di tahun yang sama itu pula Kurt menerima penghargaan Walter Payton NFL Man of the Year Award.

Dalam sebuah wawancaranya dengan sebuah media Amerika Serikat, pria berbadan tegap ini membuka rahasia mengenai kesuksesan yang ia raih. Ia mengatakan bahwa apa yang ia dapatkan selama ini, karena ia menempatkan Tuhan sebagai tempat paling pertama di dalam hidupnya.

Setiap hari, ia bersama dengan istri dan anak-anaknya mengambil saat teduh. Bersama istri dan anak-anaknya, ia mempraktikkan apa yang telah mereka baca pada hari itu. Yang mereka baca adalah teks-teks Kitab Suci. Melalui Kitab Suci itu, mereka mendengarkan kehendak Tuhan bagi hidup mereka. Kebiasaan itu terus dilakukan oleh Kurt dan keluarganya sampai hari ini.

“Saya senang membaca dan merenungkan Kitab Suci. Tuhan berbicara kepada saya melalui Kitab Suci,” kata Kurt.

Sahabat, banyak orang ingin hidup damai dan tenang. Banyak orang ingin menemukan bahagia dalam dunia ini. Namun banyak orang tidak mengalami damai itu. Ketenangan yang mereka dambakan seolah-olah tak kunjung tiba. Kebahagiaan yang mereka harapkan tak pernah mereka raih. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu saja jawabannya tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Kisah di atas memberi inspirasi bahwa damai dan ketenangan yang kita inginkan itu bersumber dari Tuhan. Manusia tidak bisa memberikan damai dan ketenangan yang sejati. Manusia hanya mampu memberikan damai dan ketenangan yang sementara. Sedangkan Tuhan memberikan damai dan ketenangan yang abadi. Kurt Warner mampu meraih sukses yang memberikan damai dalam hidupnya berkat campur tangan Tuhan.

Karena itu, ia tidak meninggalkan Tuhan saat ia menjadi orang yang tenar dan sukses. Ia tetap menempatkan Tuhan di tempat yang pertama dan utama dalam hidupnya. Caranya adalah dengan mendengarkan dan merenungkan kehendak Tuhan bagi hidupnya.

Tentu saja banyak orang merasa sulit untuk mendengarkan kehendak Tuhan bagi hidupnya. Mengapa? Karena orang ingin hidup sesuai dengan kehendak dirinya sendiri. Orang tidak mau mendengarkan kehendak Tuhan bagi dirinya. Orang bahkan merasa bahwa kehendak dirinya itulah yang terbaik yang mesti ia ikuti. Tentu saja orang punya kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.

Namun orang beriman mesti selalu mengutamakan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Caranya adalah dengan mendengarkan dan merenungkan kehendak Tuhan itu. Untuk itu, orang beriman mesti menyediakan waktu untuk membaca, mendengarkan dan merenungkan kehendak Tuhan melalui Kitab Suci agama kita masing-masing. Dalam Kitab Suci itu, kita mendengarkan kehendak Tuhan yang baik bagi kita.

Mari kita berusaha untuk mendengarkan dan merenungkan kehendak Tuhan bagi hidup kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Bukan hanya memenuhi kehendak kita sendiri. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

19 Maret 2011

Menyerahkan Kehendak Diri kepada Tuhan



Ada seorang perempuan yang sudah lama menikah. Ia sangat berbahagia hidup dengan suaminya. Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi suaminya. Ia tetap mengandalkan cinta dan kesetiaannya kepada suaminya. Baginya, sebuah perkawinan mesti selalu dilandasi oleh kasih dan kesetiaan.

Ia semakin berbahagia ketika menyaksikan suaminya pun tetap setia dan mencintainya. Soal yang muncul dalam dirinya adalah sudah sekian lama mereka menikah, namun ia belum memberikan keturunan bagi suaminya. Padahal kasih dan kesetiaan mereka tidak kurang-kurang. Usaha-usaha untuk mendapatkan anak pun telah mereka lakukan sebaik-baiknya.

Karena itu, suatu hari ia berdoa kepada Tuhan. Ia memohon agar diberi seorang anak yang menjadi buah cinta dirinya dengan suaminya. Ia berkata, ”Tuhan, berikanlah kami seorang anak yang dapat membuat perkawinan kami semakin bahagia. Biarlah anak itu akan menjadi buah cinta sejati kami. Aku menyerahkan seluruh hidupku kepadaMu.”

Rupanya Tuhan mendengarkan doa yang penuh harap itu. Enam bulan kemudian ia hamil. Ia sangat bergembira. Ia berusaha untuk terus-menerus memupuk suasana gembira dalam dirinya dan keluarganya. Suaminya pun ikut bergembira mendengar peristiwa kehamilan istrinya. Ia pun berusaha untuk semakin menyayanginya. Ia berusaha untuk menggembirakannya.

Sahabat, doa orang yang beriman yang penuh harapan dipanjatkan kepada Tuhan ternyata didengarkan. Tuhan masih hidup. Tuhan masih mendengarkan keluh kesah milik kepunyaannya. Tuhan tidak melupakan umatNya yang berdoa kepadaNya. Harapan seseorang yang merindukan kebahagiaan dikabulkan oleh Tuhan.

Pernahkah kita berdoa dengan penuh iman dan harapan kepada Tuhan? Atau kita terlalu memaksakan kehendak kita kepada Tuhan dalam doa-doa kita? Mungkin hal kedua ini yang sering kita lakukan. Ketika kita mengalami duka nestapa dalam hidup ini, kita sering memaksa Tuhan untuk menyingkirkan duka nestapa itu. Padahal mungkin duka nestapa itu memiliki hikmah bagi hidup kita. Mungkin duka nestapa itu menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk belajar menyerahkan hidup kita dengan lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Kisah ibu tadi mau mengatakan kepada kita bahwa doa yang dikabulkan adalah doa yang penuh iman menyerahkan seluruh keinginan kepada Tuhan. Biar Tuhan saja yang mengabulkan doa-doanya. Ia tidak memaksakan kehendaknya agar Tuhan mengabulkan doanya. Ia menyerahkan seluruh kehendak dirinya itu kepada Tuhan. Soal dikabulkan atau tidak doanya itu, itu bukan urusannya. Itu urusan Tuhan.

Karena itu, mari kita menyerahkan doa-doa kita kepada Tuhan. Kita biarkan Tuhan sendiri yang mengabulkan doa-doa kita. Kita tidak perlu memaksa Tuhan. Dengan demikian, hidup kita berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


635

02 Oktober 2009

Berdoa Itu Mendengarkan Kehendak Tuhan


Pernahkah Anda memerhatikan murid TK belajar mewarnai gambar? Umumnya, anak-anak itu menghadapi dua macam kesulitan. Pertama, mereka sulit mencari warna yang cocok dengan gambarnya. Kedua, mereka mencoret-coretkan pensil atau spidol berwarna keluar dari garis batas gambar yang ada. Hasilnya tidak bagus untuk dilihat.

Tetapi ketika usia anak-anak itu bertambah dan kemampuan mereka juga makin berkembang, mereka dapat memilih warna yang cocok. Hasil karyanya tidak lagi keluar dari garis batas yang ada pada gambar itu. Dengan demikian kita akan melihat hasil karya yang bagus dan memuaskan.

Doa yang baik itu tidak langsung jadi. Doa itu mengalami proses dalam hidup manusia. Awalnya doa kita masih banyak salah. Doa kita masih seperti ungkapan hati anak-anak. Lambat laun doa kita menjadi doa yang baik dan lebih berkenan kepada Tuhan. Doa kita menjadi lebih bermakna.

Namun semua itu mesti dijalani dengan tekun. Doa itu mesti selalu dipanjatkan kepada Tuhan. Kadang orang merasa jemu untuk berdoa kepada Tuhan. Orang merasa bosan untuk berdoa. Apalagi orang jatuh ke dalam rutinitas dalam berdoa. Rutinitas akan membawa orang pada kebosanan dalam berdoa.

Untuk itu, orang beriman mesti membangun hidupnya dengan baik. Tuhan akan selalu memberi kekuatan kepada kita. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu senantiasa memberikan yang terbaik bagi kebutuhan hidup kita.

Karena itu, kita mesti selalu belajar untuk bertumbuh dan berkembang dalam relasi kita dengan Tuhan. Kita mesti terus-menerus berusaha untuk menghidupi kasih Tuhan dalam hidup kita. Hanya dengan menghidupi kasih Tuhan itu, kita akan menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan.

Dengan membangun relasi yang baik dengan Tuhan, kita akan menemukan kehendak Tuhan bagi hidup kita. Kata orang, Tuhan itu hanya seinchi dari kaki kita. Artinya, Tuhan begitu dekat dengan kita. Tuhan ada di hadapan kita. Sering kita lupa bahwa Tuhan selalu berada di dekat kita. Akibatnya, kita melakukan hal-hal yang kurang berkenan kepadaNya.

Mari kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita dengan memanjatkan doa-doa kepadaNya. Dengan demikian kita mampu melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.





185

22 Agustus 2009

Mengenal Kehendak Tuhan


Suatu hari seorang bapak kehilangan anjing yang sangat disayanginya. Ia berusaha keras untuk menemukan anjingnya yang hilang itu. Tetapi usaha kerasnya belum membuahkan hasil. Karena itu, ia memasang iklan di sebuah surat kabar dan memberikan ciri-ciri anjing yang hilang itu. Ia juga menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang dapat menemukan anjing kesayangannya itu.

Dua hari kemudian ia menerima telepon dari seseorang yang tinggal lebih kurang 150 km dari rumah, tempat tinggalnya. Penelepon itu berkata bahwa ia telah menemukan anjing yang sangat cocok dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam iklan surat kabar yang dibacanya. Anjing itu dibawa ke rumahnya dalam keadaan sangat lemah. Tetapi tetap tidak mau makan walaupun sudah dibujuk sekuat tenaga untuk makan. Pemilik anjing itu berkata, “Cobalah saya bicara dengan anjing itu.” Telepon itu dibawa ke dekat anjing itu dan pemiliknya berbicara memanggil-manggil nama anjing itu.

Mendengar suara tuannya, anjing yang tadinya lemah dan murung itu segera tampak segar dan ceria. Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya. Lantas ia mencari-cari tuannya di ruang itu serta berputar-putar di kolong meja. Ketika anjing itu tahu suara tuannya bersumber dari telepon, ia menghampiri telepon itu. Ia mendengar suara tuannya dengan penuh perhatian. Pemilik anjing itu mencatat alamat penelepon dan segera mengendarai mobilnya menuju ke sana. Ketika sampai di rumah itu, ia melihat anjingnya sudah segar kembali sebab sudah makan dengan lahapnya.

Dalam hidup ini sering kita lupa akan sesama kita. Kita lupa wajahnya. Kita lupa kulitnya. Kita lupa suaranya. Ketika suatu saat kita bertemu lagi, kita menjadi gembira. Yang kita lupakan itu ternyata masih hidup. Yang kita lupakan itu ternyata mampu menggembirakan kita. Mungkin seutas senyumnya dapat membuat kita bahagia. Mungkin suara merdunya membuat hati kita lega.

Kisah di atas mau menunjukkan kepada kita bahwa mengenali sesama itu sesuatu yang penting dalam hidup ini. Orang yang kita kenal itu membantu kita untuk membangun persahabatan yang baik dan harmonis. Kita bisa menghindari pertengkaran atau salah paham, karena kita mengenal sesama dengan baik.

Dalam hidup berkeluarga, suami istri mesti sungguh-sungguh saling mengenal. Hal ini akan membantu mereka untuk membangun hidup bersama. Percecokan itu muncul, karena mereka kurang saling mengenal dengan baik. Untuk itu, suami istri mesti belajar mengenai pasangannya. Tidak cukup belajar hanya satu dua hari. Belajar tentang pasangan ini berjalan seumur hidup. Tidak pernah berhenti.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita juga mengenal suara dan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Apa yang dikehendaki oleh Tuhan bagi hidup kita? Orang beriman mesti yakin bahwa Tuhan selalu menghendaki yang terbaik bagi umatNya. Nah, mari kita berusaha untuk mengenal kehendak dan kebaikan seperti apa yang diharapkan dari kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

141

29 Juli 2009

Temukan Kehendak Tuhan dalam Hidup



Di suatu negeri, diadakan lomba lempar batu antar desa. Siapa yang berhasil melempar paling jauh, dia yang akan memenangkan pertandingan. Setelah semuanya menampilkan keterampilan melempar, tampillah sang juara, seorang atlet yang memang sudah dikenal tangguh. Keberhasilannya itu membuat ia dianugerahi batu berlapis emas oleh Sri Baginda Raja.

Berita tentang kejuaraan dan juara lempar batu itu tersiar ke seluruh pelosok negeri. Semua orang maklum, kalau dia lagi yang juara. Sebab selama tiga kali kejuaraan, belum pernah ada orang lain yang bisa menandingi keterampilannya dalam melempar batu.

Mendengar berita itu, seseorang yang dikenal oleh orang sekampung sebagai tidak becus bermain lempar batu, berkata kepada kawannya, “Memang hebat dia. Tidak kaget kalau kejuaraan kali ini pun masih dia yang juara. Bahkan mungkin aku pun kalah, kalau diadu lempar batu dengan dia.”

Temannya memanas-manasi dengan berkata, “Ya, jelas saja. Engkau pasti kalah melawan dia.”

Orang itu berkata, “Jangan memastikan dulu. Kita kan belum bertanding. Kau mendahului kehendak Tuhan!”

Temannya itu jengkel mendengar pembelaan dirinya.

Ada orang-orang yang sering membuat ramalan-ramalan atas peristiwa hidup seseorang atau peristiwa suatu bangsa. Beberapa waktu lalu setelah gempa melanda Bengkulu, ada yang meramalkan akan ada gempa yang lebih dahsyat lagi menimpa Bengkulu. Orang yang ingin selamat harus pindah. Orang mesti menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghindari bencana tersebut. Namun yang terjadi kemudian adalah ramalan tersebut hanyalah isapan jempol belaka. Tidak terjadi gempa sama sekali pada tanggal yang sudah diramalkan itu.

Boleh-boleh saja orang membuat ramalan tentang orang lain atau tentang suatu peristiwa besar yang akan menimpa hidup manusia. Namun kita mesti ingat bahwa di atas segala-galanya masih ada Tuhan. Pepatah mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit. Artinya, masih ada Tuhan yang punya kuasa atas hidup manusia dan alam semesta ini. Karena itu, manusia mesti selalu tunduk pada penyelenggaraan Tuhan.

Apa yang terjadi kalau manusia selalu mengandalkan penyelenggaraan Tuhan? Yang terjadi adalah manusia menemukan kebahagiaan hidupnya. Manusia mengalami betapa baik Tuhan bagi hidupnya. Tuhan selalu menghendaki yang terbaik terjadi atas diri manusia. Tuhan tidak menghendaki bencana mengancam nyawa manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman kita mesti selalu mengarahkan hidup kita kepada kehendak Tuhan. Kita mesti mampu menangkap apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi hidup kita. Memang ini tidak mudah. Namun kalau kita belajar terus-menerus menangkap kehendak Tuhan bagi hidup kita, kita akan menemukan bahagia dalam hidup ini.

Mengapa orang selalu resah dalam hidupnya? Karena ia tidak sungguh-sungguh menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Mari kita berusaha untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.(104)