Pages

Tampilkan postingan dengan label jujur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jujur. Tampilkan semua postingan

05 Juni 2014

Merebut Kebahagiaan dengan Berlaku Jujur


Apa yang terjadi ketika Anda mendapatkan sesuatu dengan tidak jujur? Saya yakin, hati Anda akan terasa tidak tenang. Anda akan merasa galau. Hati Anda terasa dag dig dug, seolah-olah ada orang yang sedang menyelidiki Anda.

Beberapa waktu lalu, masyarakat Jakarta dihebohkan oleh tertangkapnya dua orang pengemis dengan penghasilan Rp 25 juta selama 15 hari mengemis. Kedok Walang (54) dan Sa'aran (60), sebagai pengemis, akhirnya terbongkar setelah Dinas Sosial Jakarta Selatan mengamankan keduanya. Petugas mendapati Rp 25 juta di dalam gerobak yang menjadi alat 'operasi' Walang di bawah Tugu Pancoran.

Cara kerja Walang adalah ia pura-pura mendorong gerobak berisi rekannya yang sakit. Ia mengais belas kasih dari warga Jakarta yang lewat di depan gerobaknya. Menurut seorang petugas Dinas Sosial, Walang yang merupakan aktor intelektualnya, mengemis dengan mendorong gerobak. Sedangkan Sa'aran berada di gerobak dan mengaku sakit.

Rupanya, terungkapnya akal bulus Walang ini bukan pertama kali terjadi. Pihak Dinas Sosial Jakarta Selatan mendapati beberapa fakta bahwa mereka berpura-pura mengiba untuk meminta uang kepada masyarakat. Beberapa kisah pengungkapan yang dilakukan para petugas Dinas Sosial Jakarta Selatan dalam melakukan operasi kepada para gelandangan dan pengemis yang biasa mangkal di jalanan. Mereka kemudian dimasukkan ke panti sosial.

Sahabat, inilah sejumlah kondisi bangsa ini yang mengenaskan. Orang berpura-pura menjadi orang meskin. Banyak dari anggota masyarakat kita yang hidup dengan enak dan gampang. Mereka tidak mau bekerja keras untuk meraih sukses dalam hidup ini. Lebih baik menjual kemiskinan demi meraup duit yang banyak dalam waktu singkat.

Tentu saja hal ini tidak adil terhadap begitu banyak orang yang mesti berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Saya masih ingat tahun 1990-an sejumlah ibu tua yang jam tiga pagi sudah bergegas dari Pakem, Jogjakarta, menuju Pasar Bringharjo, Jogjakarta. Setiap hari mereka lakukan ini dengan menaiki sepeda yang memuat barang-barang yang akan mereka jual di pasar.

Luar biasa, suatu perjuangan tanpa kenal lelah bagi kelangsungan hidup keluarga mereka. Tanpa kenal lelah mereka bekerja. Mereka bahkan tidak memikirkan derita yang menimpa mereka.

Sebagai orang beriman, tentu kita prihatin terhadap mentalitas banyak anggota masyarakat yang mengemis untuk kelangsungan kehidupan mereka. Bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang bekerja dengan tenaga yang ada dalam dirinya? Bukankah hakekat manusia adalah makhluk yang mesti menggunakan kemampuan dirinya untuk mencari nafkah?

Karena itu, ketika kemalasan menguasai diri akan terjadi ketimpangan dalam hidup manusia. Manusia semestinya mengaktualkan dirinya sebagai makhluk yang mencari nafkah, tidak dengan tipu muslihat. Hanya dengan bekerja keras, orang dapat mengaktualkan diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita ingin menggunakan seluruh kemampuan kita untuk meraih sukses dalam hidup ini. Tentu saja kita akan menyertakan Tuhan dalam setiap kegiatan baik kita. Mari kita berusaha dengan tulus untuk meraih kesuksesan dalam hidup kita. Dengan demikian, damai dan bahagia menjadi bagian dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

19 Agustus 2011

Berusaha Belaku Benar dan Jujur


Menjadi kaya raya memang tak dilarang. Namun, kalau mendadak jadi paling kaya, ya, itu yang bikin orang tercengang. Pemerintah pun jadi curiga. Ini kisah seorang terkaya di China yang harus mendekam di balik jeruji.

Namanya Huang Guangyu. Beberapa waktu lalu duitnya yang sejumlah 6,3 milyar dollar Amerika Serikat itu dituduh merupakan hasil manipulasi. Huang ikut bermain di pasar saham. Soalnya adalah cara yang dilakukannya adalah ilegal. Untuk dapat selalu menang, ia sering menggeluarkan uang suap.

Huang adalah bos besar grup Gome yang merupakan toko elektronik terbesar kedua di China. Akibat perbuatannya itu, pihak pemerintah menangkap Huang. Dugaannya adalah ia memanipulasi dua perusahaan masuk bursa saham, yakni Snlian Comersial Co dan Beijing Centergate Techonolgies Co.

Menurut hakim yang mengadilinya, Huang terbukti bersalah melakukan penyuapan pajak, bisnis saham ilegal. Ia juga memanipulasi bursa saham. Karena itu, selain masuk bui, ia juga harus membayar denda 600 juta yuan atau setara dengan 88 juta dollar AS.

Huang dituduh menawarkan uang suap sebesar 4,56 juta yuan atau sekitar 667.000 dollar AS kepada sejumlah pejabat. Pengadilan atas Huang merupakan kasus pertama terhadap orang kaya di China dan sekaligus mempresentasikan suatu pengadilan terhadap dunia swasta. Hal itu menunjukkan bahwa siapa pun warga China yang melakukan kejahatan, termasuk orang penting, harus diperlakukan sama di muka hukum.

Sahabat, sudahkah Anda mendapatkan perlakuan yang sama di muka hukum? Bukankah berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini, karena yang kuat selalu menindas yang lemah? Bukankah manipulasi dan korupsi masih menjadi momok yang menakutkan di negeri ini?

Beberapa waktu lalu kita menyaksikan seorang nenek tua renta mesti mendekam di penjara lantaran mencuri beberapa buah kakao. Ia harus mengalami penderitaan atas apa yang dialaminya. Namun bagaimana dengan mereka yang telah menilap uang rakyat miliaran rupiah? Sudahkah mereka mendapatkan perlakuan hukum yang sama dengan nenek itu?

Kalau kita merefleksikan lebih dalam, kita mesti mengakui bahwa di negeri ini keadilan masih jauh dari harapan masyarakat. Akibatnya, sering kita saksikan ada penghakiman massa terhadap penjahat dan kejahatan yang dilakukan. Masyarakat mengambil inisiatif sendiri untuk menuntut kesamaan hak di muka hukum.

Kiranya kisah tadi memberi inspirasi bagi kita semua untuk berlaku benar dan jujur. Cara-cara yang melawan hukum mesti disingkirkan oleh setiap warga negara, agar kehidupan bersama menjadi lebih baik. Kalau kita ingin kesejahteraan terjadi dalam kehidupan kita, maka kita harus meninggalkan cara-cara yang melanggar hukum. Dengan demikian, hidup kita menjadi damai dan bahagia. Kita tidak perlu diseret ke meja hijau untuk diadili. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


760

03 Mei 2010

Pertanggungjawabkan Kepercayaan dengan Jujur

Ada seorang raja yang sudah tua. Ia menyadari bahwa sudah dekat saatnya ia mencari pewaris kerajaannya. Ia tidak mau mewariskan kerajaannya itu kepada salah satu dari bawahannya ataupun anaknya. Tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu hal yang berbeda.

Ia memanggil seluruh anak muda di seluruh kerajaannya. Ia berkata, "Sudah saatnya bagiku untuk mengundurkan diri dan memilih raja yang baru. Aku memutuskan untuk memilih salah satu di antara kalian."

Anak-anak muda itu terkejut! Tetapi raja melanjutkan,"Aku akan memberikan kalian masing-masing satu bibit hari ini. Satu bibit saja. Bibit ini sangat istimewa. Aku ingin kalian pulang, menanamnya, merawatnya dan kembali ke sini lagi tepat 1 tahun dari hari ini dengan membawa hasil dari bibit yang kuberikan hari ini. Kemudian aku akan menilai hasil yang kalian bawa Seorang dari kalian yang aku pilih untuk menjadi raja negeri ini!"

Ada seorang anak muda yang bernama Arif yang berada di sana pada hari itu. Seperti yang lainnya, ia menerima bibit itu. Ia pulang ke rumah dan dengan antusias memberitahu ibunya tentang apa yang terjadi. Ibunya membantu Arif menyediakan pot dan tanah untuk bercocok tanam. Arif menanam bibit itu kemudian menyiraminya dengan hati-hati. Setiap hari ia selalu menyirami, merawat bibit itu, dan mengamati apakah bibit itu tumbuh.

Setelah beberapa minggu, beberapa dari anak muda itu mulai membicarakan mengenai bibit mereka dan tanaman yang telah mulai tumbuh. Arif pulang ke rumah dan memeriksa bibitnya, tetapi tidak ada hasilnya. Tiga minggu, 4, 5 minggu berlalu. Tetap tidak ada hasilnya.

Sekarang ini, para anak muda memperbincangkan tentang tanaman mereka, tetapi bibit Arif tetap belum tumbuh. Ia mulai merasa seperti pecundang. Enam bulan berlalu, tetap belum tumbuh juga. Ia berpikir bahwa ia telah membunuh bibit itu. Setiap orang memiliki pohon dan tanaman yang tinggi, tetapi ia tidak memiliki apa-apa. Arif tidak berkata apa-apa kepada temannya. Ia tetap menunggu bibitnya tumbuh.

Satu tahun berlalu sudah. Semua anak muda di seluruh kerajaan membawa tanaman mereka kepada raja untuk dinilai. Arif putus asa dan tidak ingin pergi dengan membawa pot yang kosong. Tetapi ibunya memberinya semangat untuk pergi dan membawa potnya. Arif harus jujur mengenai apa yang terjadi dengan bibit itu, saran ibunya. Arif sadar, saran ibunya benar. Dan ia pergi ke istana dengan membawa pot yang kosong. Ketika Arif tiba, ia kagum melihat berbagai macam tanaman yang dibawa oleh teman-temannya yang lain. Semuanya indah, dalam ukuran dan bentuk. Arif meletakkan pot yang kosong itu ke lantai dan banyak orang menertawainya. Beberapa merasa kasihan kepadanya.

Ketika raja datang, ia mengamati ruangan itu dan menyalami rakyatnya. Arif berusaha untuk bersembunyi di bagian belakang. "Wah, betapa indahnya tanaman, pohon, bunga yang kalian bawa," kata raja. "Hari ini, salah seorang dari kalian akan ditunjuk menjadi raja selanjutnya!" Seketika, sang raja melihat Arif di belakang ruangan dengan potnya yang kosong. Ia memerintahkan pengawalnya untuk membawa Arif ke depan.

Arif sangat ketakutan. "Sang raja tahu aku seorang pecundang! Mungkin ia akan memerintahkan aku untuk dihukum," pikir Arif.

Ketika Arif tiba di depan, sang raja menanyakan namanya. "Namaku Arif," jawab Arif. Semua orang menertawakannya.

Sang raja menenangkan situasi itu. Ia melihat Arif, dan kemudian mengumumkan ke seluruh kerajaan, "Lihatlah, ini raja kalian yang baru! Namanya adalah Arif!" Arif tidak mempercayai apa yang barusan dikatakan raja. Ia bahkan tidak bisa membuat bibit itu tumbuh, mengapa ia bisa menjadi raja yang baru?

Kemudian sang raja berkata, "Satu tahun lalu, aku memberikan setiap orang sebuah bibit. Dan kukatakan kepada kalian untuk mengambilnya, menanamnya, dan merawatnya, kemudian membawanya kembali kepadaku hari ini. Tetapi aku memberikan kalian bibit yang sudah direbus sehingga tidak akan bisa tumbuh. Kalian semuanya, kecuali Arif, membawakanku pohon, tanaman, bunga. Ketika kalian menyadari bibit itu tidak bisa tumbuh, kalian menukarkan dengan bibit lain. Hanya Arif yang memiliki keberanian dan kejujuran untuk membawakanku sebuah pot kosong dengan bibitku di dalamnya. Maka demikian, ia yang akan menjadi raja yang baru."

Sulit menemukan orang yang jujur dan berani di jaman ini. Kejujuran itu sangat mahal harganya. Orang lebih suka menutupi diri dengan berbagai rekayasa demi mencapai sesuatu. Orang rela mengorbankan kejujuran untuk menggapai keinginannya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tetap bertahan dalam kejujuran dan berani menanggung resiko. Kita tidak perlu buat rekayasa atau manipulasi yang hanya menumbuhkan kesenangan sesaat. Mari kita bawa kejujuran dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

366




Bagikan

19 Agustus 2009

Membangun Hidup di atas Kejujuran





Sudah lama seorang pemuda dari Montreal, Kanada, hidup menganggur. Suatu sore ia menemukan sebuah dompet milik seorang janda yang juga berstatus penganggur. Isi dompet itu hanyalah sehelai undian yang kelihatannya tidak berarti.

Tetapi pemuda itu menyimpannya baik-baik di saku celananya. Ia berharap, nomor undian itu akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi perjalanan hidupnya. Benar. Betapa terkejutnya pemuda itu, ketika ia pada suatu hari mencocokkan angka-angka di dalam lotere itu dan mendapati bahwa hadiah utama sebesar 1,2 juta dolar ternyata tepat dengan nomor kupon yang ada di saku celananya.

Timbullah pergumulan berat dalam hatinya. Apakah lotere itu akan ia kembalikan kepada pemiliknya yang sah atau diam saja pura-pura tidak tahu dan mengantongi uang yang demikian banyak seorang diri. Lama sekali ia memikirkan hal ini.

Akhirnya hati nuraninya tidak mengijinkan pemuda itu berbuat serakah. Dengan penuh percaya diri, ia mendatangi rumah janda penganggur itu dan menceritakan keadaan yang sebenarnya. Ternyata janda ini juga cukup baik hati. Ia rela membagi hadiah uang itu dengan pemuda itu. Masing-masing mereka kemudian membangun hidup yang bahagia dengan hasil undian itu.

Kita hidup dalam dunia yang kata orang sulit sekali menemukan orang-orang yang jujur. Orang lebih mudah saling mempecundangi daripada berusaha bersama untuk meraih sukses secara bersama-sama. Kita menyaksikan sesama saudara sampai bentrok. Tidak akur. Mengapa hal ini mesti terjadi? Hal ini terjadi karena kurangnya kejujuran. Hal ini menyebabkan kepercayaan terhadap sesama, bahkan saudara, menjadi luntur.

Kisah di atas mau mengingatkan kita bahwa hidup jujur itu lebih menguntungkan daripada hidup yang tidak jujur. Seandainya pemuda penganggur itu tidak jujur, ia akan hidup dalam ketidaktenangan. Hati nuraninya akan selalu mempertanyakan kejujuran dirinya. Ia selalu dikejar-kejar oleh hati nuraninya sendiri. Hidup yang selalu dikejar-kejar oleh hati nurani itu tidak membahagiakan. Orang menjadi tidak damai.

Karena itu, kedamaian mesti didukung oleh kejujuran dalam hidup ini. Para pendiri agama-agama di dunia selalu menekankan pentingnya kejujuran dalam hidup. Orang yang jujur itu berkenan kepada Tuhan dan sesama. Orang yang jujur dalam hidupnya itu senantiasa dipercaya oleh Tuhan dan sesama untuk mengemban tugas-tugas yang besar.

Sebagai orang beriman, kita ingin hidup kita dihiasi oleh kejujuran. Kita ingin agar kejujuran menjadi mahkota bagi hidup kita. Untuk itu, kita mesti mendasarkan hidup kita pada ajaran Tuhan. Tuhan selalu mengajarkan kita untuk hidup bersahaja dan jujur. Dengan cara hidup seperti ini, kita akan mampu menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan. Kita dapat menjadi orang-orang yang dipercaya oleh sesama.

Mari kita terus-menerus membangun hidup kita dalam kejujuran. Hanya dengan kejujuran kita akan menemukan damai dan ketenangan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

136