Pages

Tampilkan postingan dengan label benar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benar. Tampilkan semua postingan

19 Agustus 2011

Berusaha Belaku Benar dan Jujur


Menjadi kaya raya memang tak dilarang. Namun, kalau mendadak jadi paling kaya, ya, itu yang bikin orang tercengang. Pemerintah pun jadi curiga. Ini kisah seorang terkaya di China yang harus mendekam di balik jeruji.

Namanya Huang Guangyu. Beberapa waktu lalu duitnya yang sejumlah 6,3 milyar dollar Amerika Serikat itu dituduh merupakan hasil manipulasi. Huang ikut bermain di pasar saham. Soalnya adalah cara yang dilakukannya adalah ilegal. Untuk dapat selalu menang, ia sering menggeluarkan uang suap.

Huang adalah bos besar grup Gome yang merupakan toko elektronik terbesar kedua di China. Akibat perbuatannya itu, pihak pemerintah menangkap Huang. Dugaannya adalah ia memanipulasi dua perusahaan masuk bursa saham, yakni Snlian Comersial Co dan Beijing Centergate Techonolgies Co.

Menurut hakim yang mengadilinya, Huang terbukti bersalah melakukan penyuapan pajak, bisnis saham ilegal. Ia juga memanipulasi bursa saham. Karena itu, selain masuk bui, ia juga harus membayar denda 600 juta yuan atau setara dengan 88 juta dollar AS.

Huang dituduh menawarkan uang suap sebesar 4,56 juta yuan atau sekitar 667.000 dollar AS kepada sejumlah pejabat. Pengadilan atas Huang merupakan kasus pertama terhadap orang kaya di China dan sekaligus mempresentasikan suatu pengadilan terhadap dunia swasta. Hal itu menunjukkan bahwa siapa pun warga China yang melakukan kejahatan, termasuk orang penting, harus diperlakukan sama di muka hukum.

Sahabat, sudahkah Anda mendapatkan perlakuan yang sama di muka hukum? Bukankah berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini, karena yang kuat selalu menindas yang lemah? Bukankah manipulasi dan korupsi masih menjadi momok yang menakutkan di negeri ini?

Beberapa waktu lalu kita menyaksikan seorang nenek tua renta mesti mendekam di penjara lantaran mencuri beberapa buah kakao. Ia harus mengalami penderitaan atas apa yang dialaminya. Namun bagaimana dengan mereka yang telah menilap uang rakyat miliaran rupiah? Sudahkah mereka mendapatkan perlakuan hukum yang sama dengan nenek itu?

Kalau kita merefleksikan lebih dalam, kita mesti mengakui bahwa di negeri ini keadilan masih jauh dari harapan masyarakat. Akibatnya, sering kita saksikan ada penghakiman massa terhadap penjahat dan kejahatan yang dilakukan. Masyarakat mengambil inisiatif sendiri untuk menuntut kesamaan hak di muka hukum.

Kiranya kisah tadi memberi inspirasi bagi kita semua untuk berlaku benar dan jujur. Cara-cara yang melawan hukum mesti disingkirkan oleh setiap warga negara, agar kehidupan bersama menjadi lebih baik. Kalau kita ingin kesejahteraan terjadi dalam kehidupan kita, maka kita harus meninggalkan cara-cara yang melanggar hukum. Dengan demikian, hidup kita menjadi damai dan bahagia. Kita tidak perlu diseret ke meja hijau untuk diadili. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


760

16 Februari 2011

Memiliki Pikiran Yang Sehat dan Benar


Suatu hari seorang nenek mendengar seorang cucunya sedang mengumpat-umpat temannya melalui telepon. Cucunya itu berkata, ”Setan, kamu. Sudah saya bilang tidak boleh menyindir saya, kamu nekad.”

Mendengar umpatan itu, sang nenek berkata, ”Jangan sebut-sebut nama setan. Nanti bisa terjadi sungguhan, baru tahu kamu!”

Sang cucu tidak menggubris kata-kata neneknya. Malahan ia semakin menjadi-jadi mengumpat temannya itu. Ia berteriak-teriak seolah-olah ada maling yang sedang mencuri di rumahnya. Beberapa saat kemudian sang nenek menghardik cucunya. ”Kalau nanti setan itu sungguh-sungguh datang ke sini, kamu yang tanggung jawab. Nenek tidak mau reprot-repot mengusir setan itu.”

Benar. Keesokan harinya, setan itu benar-benar datang. Ia masuk ke dalam tubuh anak itu. Ia merasukinya selama setengah hari. Anak itu meronta-ronta. Ia berbicara tidak karuan. Sang nenek hanya bisa menyaksikan sang cucu yang sedang bergulat dengan setan. Untung, setang itu tidak merenggut nyawanya.

Setelah setan itu pergi, sang cucu mulai sadar. Ia tidak seharusnya mengumpat-umpat temannya dengan kata-kata setan dan kata-kata kotor yang lain. Ia pun meminta maaf kepada sang nenek.

Sahabat, dari kisah tadi kita dapat belajar bahwa pikiran yang kurang baik akan membuat suasana hidup kita kurang baik. Orang yang pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang negatif akan menemui hal-hal yang negatif pula dalam hidupnya. Mengapa? Karena pikiran yang negatif itu cenderung untuk dihayati dalam hidup sehari-hari. Orang yang berkata-kata kasar terhadap sesamanya sering muncul dari pikirannya yang kasar atau negatif tentang sesamanya.

Semakin banyak orang memiliki pikiran yang negatif atau kurang baik tentang sesamanya, orang akan terus-menerus menghidupinya. Perbuatan orang itu mengikuti apa yang ada dalam pikirannya. Hal ini sangat berbahaya, karena orang akan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Orang tidak peduli terhadap orang-orang lain yang ada di sekitarnya.

Akibatnya, relasi antar sesama menjadi tidak harmonis. Hidup yang semestinya diwarnai oleh susana damai menjadi kacau balau. Masing-masing orang akhirnya berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing orang mengandalkan kemauan dirinya sendiri. Kehendak diri sendiri diutamakan dalam membangun kehidupan. Situasi seperti ini cepat atau lambat akan menghambat kehidupan bersama.

Sebagai orang beriman, kita mesti membangun pikiran yang baik tentang sesama dan hidup ini. Dengan pikiran yang baik itu, kita memberikan image atau gambaran yang baik tentang sesama kita. Memang tidak mudah menciptakan gambaran yang baik tentang sesama kita. Banyak orang mudah tergoda untuk memberikan gambaran yang kurang baik tentang sesamanya.

Mari kita berusaha untuk terus-menerus memiliki pikiran yang tentang sesama kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu arena untuk membangun relasi yang baik dengan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

616

19 Januari 2011

Berusaha Melakukan yang Baik dan Benar



Ada seorang anak yang selalu mengadu kepada ibunya tentang apa saja. Ibunya berusaha mendengarkan pengaduannya. Namun lebih banyak ia hanya mendengarkan. Ia tidak mau ambil pusing dengan pengaduan-pengaduan anaknya. Menurutnya, ada hal-hal yang lebih penting yang mesti ia pikirkan daripada hanya mendengarkan pengaduan-pengaduan anaknya.

Namun suatu ketika ia merasa tertarik terhadap perubahan tingkah laku anaknya. Anaknya itu mulai suka berkata-kata kotor. Sepulang sekolah, anaknya mulai berkata-kata kotor. Apa saja yang tidak ia sukai akan ia tanggapi dengan kata-kata kotor. Semakin dibiarkan, ia semakin menjadi-jadi. Akibatnya, sang ibu menjadi resah. Tidak boleh hal seperti itu terjadi terhadap anaknya.

Ia pun memanggil anaknya dan menanyakan tentang perubahan tingkah lakunya itu. Namun anaknya tidak terus terang. Ia membela diri. Ia mengatakan bahwa ia melakukan hal itu dari dirinya sendiri. Tidak ada yang mengajarinya. Ia tidak mudah terpengaruh oleh tingkah laku teman-temannya di sekolah. Ia berusaha meyakinkan ibunya.

Namun ibunya tidak begitu saja percaya kepadanya. Ibunya terus menyelidiki. Suatu hari, ibunya memergokinya bersama seorang temannya sedang mengata-ngatai seorang teman lain dengan kasar. Kata-kata yang mereka gunakan sangat kotor. Ibunya langsung menghampirinya dan membawanya pulang. Anak itu pun mengaku bahwa kata-kata kotor yang sering diucapkan itu ia pelajari dari temannya itu.

Sahabat, belajar tentang sesuatu yang kotor dan jorok itu tidak terlalu sulit. Orang tidak perlu menggunakan usaha-usaha keras untuk menjadi ahli dalam hal ini. Namun belajar tentang sesuatu yang baik dan kudus sering merupakan suatu usaha yang tidak gampang. Berkali-kali orang mencoba, tetapi begitu sulit untuk dapat menggapai keinginannya.

Karena itu, orang mesti membutuhkan waktu dan usaha keras untuk melakukan sesuatu yang baik dan benar. Ada berbagai tantangan dan godaan yang mesti dihadapi. Ada berbagai rintangi yang mesti dilewati. Kadang orang jatuh terpuruk ketika hendak menggapai keinginannya untuk melakukan sesuatu yang baik dan benar. Ada lingkungan sekitar yang dapat mempengaruhi seseorang untuk tidak berhasil dalam usahanya.

Untuk itu, orang mesti sabar. Orang mesti menitinya satu per satu. Seperti orang sedang meniti papan yang menghubungkan dua tebing. Orang mesti berjalan dengan sangat hati-hati, agar tidak terpeleset dan jatuh ke dalam jurang yang dalam. Orang mesti memusatkan pikiran dan seluruh dirinya untuk sampai ke seberang.

Berusaha melakukan yang baik dan benar itu mesti dengan segenap tenaga, pikiran dan hati. Orang tidak bisa setengah-setengah saja. Orang mesti berani melintasi rintangan-rintangan itu. Hanya orang beriman yang dapat melakukan hal ini. Artinya, orang yang sungguh-sungguh memiliki keyakinan bahwa usaha untuk melakukan yang baik dan benar itu dapat diwujudkan.

Untuk itu, orang butuh bantuan Tuhan. Berusaha sendiri menghadapi berbagai rintangan dan godaan akan sia-sia. Orang membutuhkan bantuan melalui rahmat Tuhan. Dengan demikian, orang dapat menemukan jalan untuk melakukan hal yang baik dan benar. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ