Pages

Tampilkan postingan dengan label optimisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label optimisme. Tampilkan semua postingan

25 Juli 2014

Menghadapi Rintangan dengan Optimisme


Apa yang akan Anda lakukan, ketika berbagai rintangan menghadang upaya Anda untuk meraih sukses? Anda berhenti di tengah perjalanan hidup ini? Atau Anda berusaha untuk menghadapi rintangan-rintangan itu dengan penuh optimisme?

Seorang bocah berusia sembilan tahun asal Amerika menjadi orang termuda yang berhasil mencapai puncak gunung Aconcagua, puncak tertinggi di benua Amerika. Tyler Amstrong mendaki pegunungan Andes di Argentina itu bersama ayahnya dan seorang sherpa asal Tibet, Lhawang Dhondup.

Meski berhasil mencapai puncak gunung Aconcagua, Tyler tetap rendaha hati. “Semua bocah bisa melakukan ini, cuma perlu mencoba saja,” katanya.

Ia berhasil mencapai puncak pada malam Natal tahun 2013 yang lalu. Tahun sebelumnya pencapaian tertingginya adalah puncak Kilimanjaro, titik tertinggi di Afrika.

Tentang rahasia suksesnya, ia berkata, “Yang penting pusatkan perhatian pada tujuan.”

Tetapi pencapaian ini bukan main-main. Sudah lebih dari 100 orang yang meninggal dunia akibat upaya pendakian tersebut, yang terletak di titik hampir 7000 meter di atas permukaan laut.

Dalam kekaguman dan masih merasa ngeri, Tyler berkata, “Anda bisa melihat atmosfer dunia dari puncaknya. Semua awan ada di bawah dan sangat dingin.”

Ayahnya, Kevin Armstrong, mengatakan bahwa putra kecilnya itu berlatih mendaki secara rutin dua kali dalam sehari. Ia melakukan latihan itu selama enam bulan sebelum akhirnya melakukan pendakian ke Aconcagua.

“Sebagian besar orang mengira kami sebagai orangtua memaksa Tyler melakukan pendakian ini, yang sebenarnya adalah sebaliknya,” kata sang ayah.

Karena usianya yang masih belia, Tyler membutuhkan izin khusus dari seorang hakim di Argentina untuk melakukan pendakian itu. Menurut ayahnya, sang hakim juga mempertimbangkan bahwa upaya ini dilakukan dengan tujuan amal, yakni menggalang dana untuk riset penyakit kelainan otot muscular dystrophy.

Sahabat, hidup selalu penuh dengan tantangan. Namun ketika orang takut terhadap tantangan, orang tidak akan pernah meraih sukses dalam hidup ini. Hanya orang yang punya nyali yang kuat yang mampu menaklukan tantangan-tantangan yang sedang menghadang. Karena itu, yang dibutuhkan adalah memiliki keberanian untuk meraih kesuksesan.

Kisah Tylor memberi kita inspirasi untuk menciptakan prestasi demi prestasi dalam perjalanan hidup ini. Meski umurnya baru sembilan tahun, ia berani menghadapi dinginnya salju di puncak gunung Aconcagua itu. Namun ia meraih prestasi sebagai pendaki termuda dengan kerja keras. Ia mesti menyiapkan diri selama enam bulan untuk mewujudkan mimpinya. Artinya, ia tidak hanya bermalas-malasan sebelum menaklukan puncak gunung tertinggi di Amerika Selatan itu.

Untuk meraih sukses orang tidak bisa hanya duduk berpangku tangan saja. Orang mesti berjerih payah atau bekerja keras. Orang yang malas itu orang yang tidak punya tujuan dalam hidup ini. Orang seperti ini melihat hidup selalu diliputi oleh rintangan dan halangan. Orang seperti ini selalu pesimis dalam menjalani hidup ini.

Sebaliknya, orang yang rajin selalu melihat hidup ini dari sudut pandang positif. Mereka selalu optimis untuk meraih sukses meski ada begitu banyak rintangan dan halangan dalam menapaki perjalanan hidup ini.

Orang beriman adalah orang yang selalu melihat hidup ini dari sudut pandang positif. Orang beriman selalu optimis dalam hidupnya. Selalu ada jalan dan cara untuk menghadapi rintangan yang menghadang perjalanan hidup ini. Mari kita meraih sukses dengan selalu memiliki optimisme dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mengalami sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1121

20 April 2013

Menumbuhkan Optimisme dalam Hidup


 
Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda divonis oleh dokter menderita penyakit yang mengancam nyawa Anda? Anda putus asa? Atau Anda justru punya semangat untuk tetap hidup?

Ada seorang ibu yang divonis dokter menderita batu ginjal. Ia divonis dokter untuk menjalani cuci darah, kalau dia ingin terus hidup. Ia tidak bisa menerima begitu saja vonis dokter itu Ia tidak meratapi hidupnya. Ia mencari tahu tentang kondisi kesehatannya kepada dokter yang lebih ahli. Dalam benaknya, ia yakin, ia tidak menderita sakit yang begitu parah.

Hasilnya adalah dokter yang lebih ahli itu memberikan harapan bagi ibu itu. Ia mengatakan bahwa ibu itu tidak perlu terlalu panik atas kondisi kesehatannya. Yang penting baginya adalah ia tetap berusaha untuk menyembuhkan penyakit batu ginjal itu. Yang penting adalah ia mau menjalani proses pengobatan.

Ibu itu semakin memiliki semangat untuk sembuh. Ia melakukan apa saja yang diinginkan dokter itu untuk kesembuhan batu ginjalnya. Ia yakin, ia akan memperoleh kesembuhan. Setelah menjalani pengobatan, satu tahun kemudian ibu itu sembuh total dari sakitnya. Ia yakin, Tuhan bekerja di balik usaha-usahanya itu. Tuhan tidak meninggalkan dirinya berjuang sendirian.

Karena itu, ibu itu mensyukuri kebaikan Tuhan. Ia mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Caranya adalah dengan melayani orang-orang sakit. Setiap sore hingga malam ia mengunjungi orang-orang sakit di kampungnya. Pertama-tama yang ia lakukan adalah ia memberikan semangat kepada mereka untuk tidak mudah menyerah pada situasi sakit mereka. Ia membangkitkan semangat mereka untuk menghadapi penyakit yang mereka derita.

Sahabat, semangat untuk hidup mesti menjadi bagian dari setiap orang. Mengapa? Karena Tuhan telah memberi hidup ini kepada manusia. Tuhan telah membekali setiap ciptaanNya dengan kemampuan-kemampuan. Tuhan ingin agar kemampuan itu digunakan semaksimal mungkin bagi kebahagiaan hidup.

Namun manusia sering menyerah pada keadaan dirinya saat ia lemah. Manusia kurang berani untuk mencari alternatif-alternatif untuk keluar dari situasi dirinya yang sedang terpuruk. Padahal dengan kemampuan yang telah ada, sebenarnya manusia mampu menghadapi setiap persoalan hidupnya.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa masih ada banyak jalan dan cara untuk menemukan hidup yang lebih baik. Orang tidak perlu terpuruk dalam situasi sulitnya. Orang mesti bangkit dari kesulitan hidupnya. Orang mesti berani menatap hidup dengan lebih optimis. Tentu saja ada banyak tantangan yang mesti dihadapi. Namun orang beriman mesti menghadapi duka dan derita hidupnya bersama Tuhan.

Orang beriman mesti yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dirinya sendirian dalam perjuangan hidupnya. Tuhan pasti mengulurkan pertolongan, kalau manusia mau meminta pertolongan dari Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan yang baik untuk mewujudkan kasih kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

962

16 September 2010

Meraih Asa dalam Cinta






Di ruang ICU, seorang gadis masih berbaring setelah 5 hari lamanya secara intensif dimonitor oleh medis dan paramedis yang merawatnya. Ia menderita fabry deases, penyakit yang menimbulkan penimbunan glikolipid (metabolisme lemak). Gejala yang timbul adalah gangguan penglihatan, nyeri pada beberapa bagian tubuh dan lainnya.

Ia hanya bisa melihat ibunya yang senantiasa menjaganya dari luar ruangan. Di mata ibunya, gadis itu memiliki tingkat iman yang sempurna. Dalam sakitnya, ia masih menunjukkan sukacita, senang dan gembira. Rasa optimisme yang tinggi untuk bisa sekolah bersama teman-temannya di kelas lima SD membuatnya memiliki harapan yang positif. Juga saat ibu gurunya menjenguknya. Tampak matanya yang bulat memancarkan sikap yang mengalahkan rasa kuatirnya.

Suatu kali dokter yang merawatnya secara terbuka mengatakan bahwa gadis itu sungguh pasien istimewa. Dokter itu selalu melihat inspirasi baru darinya. “Gadis ini sungguh memiliki perpaduan sikap tegar dan tak mudah menyerah serta penuh harap dalam cinta,” kata dokter itu.

Sang ibu yang mendengar penuturan tulus dokter itu menitikan air mata tanda bangga terhadap anaknya. Betapa di usianya yang ke-10, gadis itu dapat mewartakan kasih Tuhan melalui sikap kanak-kanaknya dalam selimut rahmat. Ia sama sekali tidak pernah mengeluh, apalagi kecewa akan kondisi tubuhnya yang mungkin akan mengalami gagal ginjal, jantung dan paru-parunya yang digenangi air.

Gadis itu pernah berkata, “Seandainya saya sehat, saya ingin menjadi seperti Ibu Theresa”.

Bertahan dalam penderitaan itu tidak mudah. Apalagi yang mengalami penderitaan adalah seorang anak berusia sepuluh tahun. Namun yang ditunjukkan oleh gadis dalam kisah tadi sungguh luar biasa. Dalam kondisi sakitnya yang sedemikian parah, ia masih mencurahkan cintanya kepada sesamanya. Ia masih menghibur mereka yang ada di sekelilingnya dengan harapan yang besar.

Orang yang tak pernah kehilangan harapan untuk hidup akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Itulah perjuangan sejati seorang beriman yang menyerahkan hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Biasanya orang seperti ini memiliki kasih yang kuat terhadap sesamanya. Ia tidak ingin melihat sesamanya sedih dan menderita. Yang ia inginkan adalah kebahagiaan sesamanya. Inilah cinta yang tulus. Cinta yang sejati yang terpatri dalam diri orang-orang yang mampu bertahan dalam penderitaannya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki pengharapan yang besar di kala kita mengalami penderitaan dalam hidup. Yang mesti kita pegang teguh adalah Tuhan yang senantiasa menyertai kita dalam penderitaan ini. Tuhan yang membantu setiap orang beriman memiliki keteguhan dalam perjuangan untuk meraih kebahagiaan. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

499