Pages

Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan

24 November 2011

Siapa Mencintai Uang Tidak akan Puas dengan Uang

Siapa Mencintai Uang Tidak akan Puas dengan Uang



Seorang milyarder asal Austria bernama Karl Rabeder, memberikan setiap sen kekayaannya senilai tiga juta Poundsterling atau setara Rp 50 Miliar setelah menyadari kekayaannya tidak membuat dirinya bahagia. Dia menjual villa mewah dengan danaunya serta pemandangan pegunungan Alps senilai Rp 21 Miliar. Dia juga menjual rumah pertanian dari batu serta belasan hektar lahan dengan nilai Rp 10 Miliar. Turut ia jual adalah enam koleksi pesawat terbang layang senilai Rp 6 Miliar dan sebuah mobil mewah senilai Rp. 700 Juta.

Dia mengatakan bahwa dia berencana untuk tidak menyisakan apa pun dari kekayaannya, karena bagi dia uang menghalangi datangnya kebahagaian. Ia akan keluar dari rumah mewahnya itu, lalu menyepi ke sebuah rumah sederhana. Semua hasil penjualan hartanya akan menjadi modal untuk lembaga amal yang dia dirikan di Amerika Tengah dan Latin, tetapi ia tidak akan mengambil gaji dari situ.

Sejak menjual hartanya, Rabaeder mengatakan bahwa dirinya merasa bebas. Ia tidak lagi merasa terbebani. Namun dia mengatakan, ia tidak akan menghakimi orang kaya yang memilih untuk terus menumpuk kekayaan.

Sahabat, tahun lalu muncul gagasan untuk mengadakan uang aspirasi bagi para anggota DPR. Uang itu akan digunakan untuk membangun rumah di daerah di mana para anggota DPR tersebut mewakili konstituennya. Rumah yang dibangun itu menjadi sekretariat di mana para konstituen akan datang untuk memberikan aspirasi mereka. Spontan saja banyak kalangan mempersoalkan gagasan tersebut. Lebih banyak kritik yang dituai oleh para anggota DPR.

Menurut banyak kalangan, saat ini yang dibutuhkan bukan dana aspirasi. Tetapi yang dibutuhkan saat ini adalah kinerja para anggota DPR yang sungguh-sungguh peduli terhadap masyarakat. Yang dikuatirkan adalah penyalahgunaan terhadap dana aspirasi yang begitu besar. Jangan-jangan uang tersebut masuk kantong pribadi. Jangan-jangan gagasan tersebut hanyalah cara untuk mengelabui masyarakat.

Lantas orang pun bertanya, apa motivasi di balik gagasan tersebut? Jawabannya adalah orang ingin membahagiakan diri dengan uang. Orang merasa bahwa kalau mereka memiliki uang yang banyak, mereka akan mengalami sukacita dan damai. Tentu saja pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar.

Coba kita simak kembali kisah Rabeder di atas. Milyarder asal Austria itu justru tidak merasakan kebahagiaan dengan memiliki kekayaan yang berlimpah. Sikapnya pun jelas! Ia melepaskan semua kekayaannya itu, karena tidak membahagiakan dirinya. Ia tidak ingin hidupnya tergantung pada kekayaan itu. Baginya, kekayaan itu mesti dikendalikan oleh dirinya.

Ternyata kebahagiaan itu tidak diukur dari harta kekayaan. Ketenangan hidup itu tidak terletak pada banyaknya uang dan harta yang dimiliki. Tetapi kebahagiaan itu terjadi ketika orang mampu menggunakan harta kekayaan itu demi membahagiakan diri dan sesamanya. Karena itu, ketika harta kekayaan tidak bisa diandalkan untuk mencapai kebahagiaan, harta itu mesti dilepas.

Mari kita membangun sikap yang benar terhadap harta kekayaan yang kita miliki. Dengan demikian, kita akan mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Sang Bijaksana berkata, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya” (Pengkotbah 5:19). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


829

02 September 2011

Hidup Ini Bukan Sekedar Materi



Ada seorang pemuda yang dicari-cari oleh majikannya. Pasalnya, pemuda itu menggelapkan ratusan juta rupiah miliki majikannya. Semestinya uang tagihan dari penjualan rumah ia serahkan kepada majikannya. Namun pemuda itu menggunakan uang tersebut untuk usaha-usaha dan kepentingan pribadinya. Akibat dari perbuatan itu, sang majikan menderita kerugian ratusan juta rupiah.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemuda itu? Selidik punya selidik, ternyata pemuda itu sering hidup dalam kemewahan. Ia sering traktir teman-temannya makan malam di rumah makan yang mewah. Ia juga gonta-ganti mobil-mobil mahal. Pakaiannya serba mahal. Ia menampilkan diri sebagai orang kaya. Padahal gajinya sebulan hanya cukup untuk kebutuhan satu bulan.

Pemuda itu tidak pernah merasa cukup dalam hidupnya. Karena itu, ia menghilang begitu ketahuan bahwa ia menggelapkan uang majikannya. Ia pindah ke kota lain. Ia mendapatkan pekerjaan baru berkat tipu muslihatnya. Namun di sana pun ia tetap melakukan kebiasaannya dengan hidup dalam kemewahan. Ia memanipulasi uang milik majikannya. Kali ini ia kena getahnya. Ia tertangkap tangan. Ia diadukan ke pihak berwajib. Ia mesti mendekam di penjara dalam suasana kemiskinan yang menyiksa.

Sahabat, ada ungkapan ‘sepandai-pandainya tupai meloncat, sekali-kali ia akan jatuh juga’. Bisa saja bahwa kejatuhan itu hanya sebentar, sehingga membuat orang tidak terpuruk. Bisa saja kejatuhan itu menjadi motivasi bagi seseorang untuk bangkit dan maju dalam hidupnya. Tetapi bisa saja kejatuhan itu membuat orang mengalami kehancuran dalam hidupnya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa tipu muslihat tidak akan bertahan lama. Tipu muslihat akan segera terbongkar, entah kapan waktunya. Karena itu, orang dituntut untuk hidup dalam kejujuran dan kebenaran. Soalnya, mengapa orang berani melakukan tipu muslihat? Orang berani melakukan tipu muslihat, karena orang ingin hidup enak tanpa bekerja keras. Orang ingin berleha-leha saja tanpa mau mengotori tangannya dengan pekerjaan yang menantang.

Kisah tadi menunjukkan bahwa orang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dicapai akan melakukan suatu sikap yang tidak terpuji. Benjamin Franklin berkata, ”Rasa cukup membuat orang miskin menjadi kaya. Tetapi rasa tidak cukup membuat orang kaya menjadi miskin.”

Artinya, orang merasa cukup atas apa yang dimiliki senantiasa berusaha untuk mensyukurinya. Sedangkan orang yang tidak merasa cukup atas apa yang dimilikinya, sering merasa belum punya apa-apa. Akibatnya, orang seperti ini mempertaruhkan apa yang dimilikinya. Ia menggadaikannya. Sering kali orang seperti ini kehilangan apa yang telah dimilikinya itu.

Karena itu, kita diajak untuk berani mengatakan bahwa kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Rasa cukup itu memacu kita untuk berani bersyukur atas apa yang kita miliki. Kita pun tidak boleh mengukur hidup kita dari segi materi saja. Kita juga memiliki nilai-nilai hidup yang begitu indah. Nilai-nilai itu mampu memberi kita kekuatan untuk menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Untuk itu, kita mesti memiliki keseimbangan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


771

11 Desember 2009

Gunakan Uang untuk Kesejahteraan Bersama



Ada seorang yang sangat kaya yang sepanjang hidupnya bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Ia mencintai uang lebih dari segala sesuatu yang lain. Bahkan istri dan anak-anaknya sering ia kalahkan demi mencari dan mengumpulkan uang.

Menjelang ajalnya, ia memanggil istrinya. Ia berkata, “Pada saat aku mati nanti aku minta supaya kamu memasukkan semua uangku ke dalam peti mati. Aku ingin membawa semua uangku menghadap Tuhan.”

Kemudian ia meminta istrinya untuk bersumpah dengan menumpangkan tangan di atas Kitab Suci.

Pada hari kematian orang kaya itu, istrinya duduk di samping peti dengan wajah yang penuh duka. Ia ditemani sahabat karibnya. Ketika upacara pemakaman selesai dan peti mati hendak ditutup, sang istri tampil ke depan. Ia berteriak, “Tunggu sebentar.” Lalu ia mendekati peti sambil meletakkan sebuah kotak di dalamnya. Kemudian para petugas menutup peti itu.

Beberapa saat kemudian, sahabat karibnya berkata kepadanya, “Aku yakin kamu bukan orang bodoh. Kamu pasti tidak meletakkan semua uang suamimu di peti itu, bukan?”

Istri itu menjawab, “Saya orang beriman. Saya tidak bisa berbohong. Saya telah bersumpah untuk meletakkan semua uangnya di dalam peti itu.”

Sahabat karibnya itu sangat terkejut mendengar kata-kata temannya itu. “Jadi kamu memberikan semua uang itu kepadanya?” tanya sahabat karib itu.

Istri itu menjawab, “Tentu saja. Tetapi saya memberikannya dalam bentuk cek.”

Uang begitu menggoda hati manusia. Dengan uang yang banyak orang dapat melakukan apa saja sesuai dengan keinginan hatinya. Uang dapat digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Uang dapat digunakan untuk menjalin relasi dengan sesama manusia. Uang dapat digunakan untuk membangun persahabatan dan cinta kasih dengan semua orang.

Namun uang dapat membawa orang kepada kegelapan dalam hidup. Karena godaan untuk memiliki uang yang banyak, orang dapat menghilangkan nyawa sesamanya. Uang dapat mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi hidup manusia. Uang dapat menyebabkan orang masuk dalam penjara.

Karena itu, sebagai orang beriman kita diingatkan akan godaan terhadap uang. Kita boleh memiliki sebanyak-banyaknya uang. Namun yang penting bagi kita adalah kita menggunakannya untuk kesejahteraan hidup kita dan sesama. Uang yang kita miliki semestinya membantu kita untuk membangun hidup yang baik dengan sesama.

Dalam keluarga, uang mesti digunakan untuk kesejahteraan keluarga. Uang digunakan untuk menuntun anak-anak untuk meraih cita-cita yang baik. Uang mesti dipakai untuk menciptakan keharmonisan keluarga orang-orang beriman. Mari kita gunakan uang secara bijaksana, agar hidup kita menjadi lebih baik dan sejahtera. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

257

Bagikan