Pages

11 Maret 2016

Membuka Telinga bagi Sesama yang Menderita

 
Ketika ada sesama Anda yang mengalami kegalauan dalam hidupnya, apa reaksi Anda? Anda biarkan saja atau Anda membuka hati dan telinga Anda untuk mendengarkan keluh kesahnya?

Seorang anak merasa galau dalam hidupnya. Soalnya adalah kedua orangtuanya menganggap remeh terhadap dirinya. Padahal ia adalah anak kandung kedua orangtuanya. Selama hidupnya, ia juga selalu melakukan hal-hal yang terbaik bagi dirinya dan orangtuanya. Karena itu, ia merasa heran mengapa orangtuanya tidak mau mendengarkan dirinya.

Suatu hari, ia meminta kepada ibunya, “Ibu, dengarkan aku sekali ini saja.”

Namun tidak ada jawaban yang ia dapatkan. Justru ibunya memarahi dirinya. Ia tidak ingin mengdengarkan suara anaknya. Anak itu menjadi semakin galau. Sebagai manusia, ia ingin didengarkan. Ia bukan sekedar sebuah patung. Ia seorang manusia yang bermartabat. Ia tidak mau berputus asa.

Ia mendatangi ayahnya. Ia bertanya, “Ayah, ayah mau mendengarkanku kan?”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut sang ayah. Air mata mengalir dari mata sang anak. Ia telah memohon untuk didengarkan, tetapi tak ada sebuah telinga pun yang terbuka bagi dirinya. Ia bertanya dalam hati, apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia pun termenung, merefleksikan persoalan yang sedang dihadapinya.

Kesimpulan yang ia temukan adalah ia seorang anak yang lemah dan juga selalu gagal dalam banyak hal. Dia sudah melakukan yang terbaik, namun tak kunjung mendapatkan hasil yang baik. Akibatnya, tak seorang pun mau mengakui keberadaannya.

Berada dalam situasi tidak didengarkan merupakan suatu pukulan besar bagi diri seseorang. Orang merasa tidak dimanusiakan. Orang merasa seperti robot atau patung. Orang merasa tak berguna dan juga merasa tersisih. Tidak ada ruang baginya untuk bisa mengungkapkan pendapat.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantisa memasang telinga bagi orang lain. Banyak orang mengalami berbagai persoalan dalam hidupnya. Mendengarkan persoalan mereka berarti kita menerima kehadiran mereka sebagai manusia. Mendengarkan orang lain berarti kita juga menghargai kehadiran mereka.

Orang beriman mesti selalu menyediakan telinganya untuk sesamanya. Telinga yang selalu terbuka berarti juga orang memiliki kepedulian yang besar terhadap sesamanya. Orang tidak hanya membiarkan telinganya dimasuki oleh suara-suara. Lebih dari itu, orang sungguh-sungguh memasang telinganya bagi sesamanya itu. Mengapa? Karena sesama itu bukan sekedar patung atau boneka. Mereka adalah manusia yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi.

Kita mesti ingat bahwa orang yang merasa tidak berguna sering mengakhiri kehidupannya. Mereka berpikir bahwa kematian adalah jalan terbaik, karena orang lain tak lagi menghargai kehadiran mereka. Untuk itu, memasang telinga sejenak saja untuk sesama kita akan sangat berguna dan berharga. Pertama-tama, kita menyelamatkan sesama itu dari kematian. Kedua, kita memberikan rasa optimis baginya dalam menjalani hidup ini.

Mari kita tetap memasang telinga bagi sesama yang sedang berada dalam kegalauan hidupnya. Dengan demikian, kita dapat menyelamatkan jiwanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1188

10 Maret 2016

Berani Membarui Diri untuk Hidup Lebih Baik

 

Membarui hidup merupakan suatu langkah yang sangat baik untuk memiliki hidup yang lebih bagi dan berguna.

Suatu hari seekor kadal kehilangan ekornya. Ekor satu-satunya itu terjepit kayu. Kadal itu sudah berusaha untuk melepaskan diri, tetapi tidak bisa. Satu-satunya cara agar ia tidak mati adalah memutuskan ekor yang terjepit itu. Begitu putus, kadal itu merasa sakit sekali meski hanya beberapa tetes darah yang keluar. Meski begitu, ia merasa lega. Ia bisa lolos dari kematian yang mengancam nyawanya.

Tindakan selanjutnya adalah mengobati bekas luka itu. Bekas luka itu mesti cepat mengering, agar ia bisa beraktivitas dengan bebas. Tubuhnya kini menjadi lebih pendek. Pada awalnya kadal itu merasa tidak enak, tidak nyaman. Namun ia mulai menyesuaikan diri. Ia mesti berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup di sekitarnya.

Bersamaan dengan mengobati lukanya, kadal itu pun membarui hidupnya. Ia tidak sekedar seekor kadal yang biasa-biasa saja. Dalam hidupnya, ia ingin menjadi kadal yang lebih baik. Kalau sebelum mengalami putus ekor, ia menjadi kadal yang sok berkuasa dan sombong, kini ia mau berubah. Ia ingin menjadi kadal yang rendah hati. Ia ingin membantu teman-temannya dalam hidup bersama.

Kadal kehilangan ekor itu kemudian menjadi kadal yang sangat baik. Ia suka membantu teman-temannya yang lain. Ia tidak egois lagi. Teman-temannya pun merasa kehadiran kadal yang hilang buntutnya itu menjadi suatu rahmat bagi hidup mereka.

Manusia hidup dalam dunia yang kadang-kadang keras dan kasar. Sering orang terperosok ke dalam kesulitan hidup. Sering hal itu disebabkan oleh perbuatan mereka yang sering mengagung-agungkan diri. Akibatnya, manusia mengalami kesulitan untuk membarui hidupnya.

Kisah di atas memberi inspirasi bagi pertumbuhan hidup kita. Kita dapat menjadi orang yang baik dan benar, kalau kita senantiasa membarui diri kita. Hal-hal yang lama yang sering menghambat pertumbuhan iman kita mesti dilepaskan. Ekor kadal itu menghambat dirinya. Karena itu, mesti diputuskannya.

Memang, membarui diri itu tidak mudah. Ada rasa sakit yang luar biasa ketika seseorang melepaskan hal-hal lama yang selama ini dihidupinya. Hal-hal itu terasa menyenangkan meski hanya semu. Tetapi orang tidak boleh takut, kalau ingin hidupnya lebih baik dan berguna.

Orang beriman mesti yakin bahwa bantuan Tuhan selalu menyertai perjalanan hidupnya. “Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapatkan kekuatan baru,” kata Nabi Yesaya (40:31). Kita membarui diri kita dengan menyambut kehadiran Tuhan dalam diri kita. Dengan demikian, kita memperoleh damai dan sukacita dalam hidup ini.

Membarui hidup berarti juga menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Bukan diri sendiri lagi yang berkuasa, tetapi Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang yang berkuasa atas diri kita. Mari kita membuka hati bagi Tuhan, agar Tuhan yang meraja dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ



1187

08 Maret 2016

Berani Menghadapi dan Menerima Perubahan





Tidak mudah bagi seseorang untuk menerima perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Orang mesti punya keberanian yang besar.

Ada seorang pemudi yang selalu merasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak dicintai. Ia merasa ditolak oleh orang lain. Hal itu karena ia merasa bahwa sekarang ia menjadi orang yang jelek. Dulu tubuhnya langsing, tetapi sekarang menjadi besar tidak berbentuk. Dulu wajah dan kulitnya halus, namun sekarang menjadi hitam, kasar dan kusam.

Perasaan negatifnya terus berkembang. Akibatanya, ia gelisah. Ia merasa resah dan tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Karena itu, dengan bermacam-macam cara dan sarana, ia memanipulasi penampilannya. Tujuannya untuk bisa menambah rasa percaya diri. Padahal sebenarnya tidak mengubah apa-apa.

Cara yang ditempuh itu menunjukan bahwa ia telah menolak tubuhnya sendiri. Artinya ia juga membenci dirinya sendiri, karena tidak berani menerima perubahan atau kenyataan. Sampai suatu ketika, gadis itu mengalami stress berat. Ia jatuh sakit, karena tidak sanggup menerima dan menghadapi perubahan yang terjadi.

Suatu hari sahabatnya datang mengunjunginya. Sahabatnya itu tampak ceria. Sikap dan perilakunya dewasa. Tutur katanya menunjukkan kepribadian yang matang. Meski secara fisik sudah berubah, namun sahabatnya telah menerima perubahan. Ia menerima kenyataan bahwa dengan bertambahnya usia atau faktor-faktor lain, setiap orang akan mengalami perubahan secara alami. Sahabatnya mengimbangi perubahan fisik itu dengan berbagai kegiatan positif yang mengembangkan kematangan pribadi dan rohani.

Kehadiran sahabatnya itu menyadarkan gadis itu terhadap segala kecemasan yang dialaminya. Ia belajar dari sahabatnya. Akhirnya, ia berani menerima perubahan, sehingga hidupnya menjadi ringan dan gembira.



Syukuri Perubahan

Hidup kita ini selalu berubah. Kemarin kita mengalami perasaan yang berbeda dengan sekarang ini. Mungkin kemarin kita merasa sedih, takut, kuatir. Namun sekarang kita merasa ada semangat dan suasana yang baru. Kemarin rasanya tubuh ini tidak dapat bergerak sedikit pun, tetapi saat ini ada suatu perubahan. Kita sudah menggerakkan badan kita.

Ternyata perubahan itu membawa dinamika yang indah. Perubahan itu membantu kita untuk mengenal secara lebih dalam siapa diri kita ini. Apakah kita tumbuh menjadi lebih dewasa atau kita tetap saja kekanak-kanakan? Kalau kita tidak merasa bahwa tidak ada perubahan dalam diri kita, kita akan mudah cemas. Bahkan kita akan mengalami stress dalam hidup ini.

Karena itu, langkah yang mesti kita lakukan adalah menerima kenyataan diri kita. Kita adalah makhluk yang terus-menerus berubah. Perubahan itu senantiasa menuju kebaikan. Untuk itu, kita mesti mensyukuri perubahan itu. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Hidup ini menjadi suatu rahmat dari Tuhan sendiri. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

1185

Selalu Berusaha Menemukan Makna Hidup

 

Apakah Anda sungguh yakin, hidup Anda memiliki makna yang mendalam? Atau Anda sering merasa bahwa hidup ini kurang bermakna? Mengapa hidup Anda kurang bermakna?

Mungkin Anda tidak menemukan sesuatu yang utama yang menjadi fokus perjuangan Anda. Anda merasa bahwa apa yang Anda lakukan biasa-biasa saja. Datar-datar saja. Karena itu, Anda butuh waktu untuk mengintrospeksi diri Anda.

Caranya mungkin Anda dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh Lily Allen, seorang penyanyi asal Inggris ini. Menyadari bahwa hidupnya tidak bermakna, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia hingar bingar musik untuk sementara. Lantas ia menghabiskan waktunya di sebuah kawasan hutan di Brasil untuk belajar tentang penggundulan hutan.

Tentang hal ini, ia berkata, ”Selama ini hidupku terasa hampa, karena tidak bermakna. Terkadang aku juga merasa tak punya tujuan. Aku pergi ke Brasil untuk membuat diriku bangga, karena bisa menggunakan ketenaran untuk tujuan positif.”

Menurut pengakuan perempuan berusia 26 tahun ini, ia tidak ingin menunjukkan bahwa ia tahu segala-galanya. Ia ingin memahami beberapa hal yang tidak ia ketahui. Ia berada di Brasil, karena ingin belajar dan berusaha menjadi lebih baik.

Ternyata Lily Allen tidak hanya belajar tentang penggundulan hutan. Setelah menyaksikan akibat buruk dari pengrusakan hutan, ia mengajar para penggemarnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Menurutnya, sangat penting bagi setiap orang untuk memikirkan dampak perilaku mereka terhadap masa depan bumi.

Pemilik album Alright Still ini berkata, ”Kita semua harus berusaha mengurangi emisi karbon. Aku juga berusaha, tapi kuakui ini tidak mudah.”

Kita hidup dalam zaman yang kurang begitu peduli terhadap lingkungan hidupnya. Begitu banyak penebangan pohon-pohon tanpa mengadakan aksi penanaman kembali. Akibatnya, banyak gunung mulai gundul karena kehilangan hutan. Satwa-satwa langka pun banyak yang punah. Mereka tidak punya tempat lagi untuk berlindung. Kalau pengrusakan lingkungan tidak dihentikan, bukan tidak mungkin manusia juga akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Karena itu, kita butuh kesadaran tentang makna hidup. Kita tidak bisa hidup biasa-biasa saja. Kita mesti mengambil alternatif untuk menjadikan hidup kita ini lebih bermakna bagi kehidupan banyak orang. Untuk itu, kita mesti membuka wawasan pandang kita seluas-luasnya.

Apa yang telah dilakukan oleh Lily Allen dapat menjadi salah satu contoh bagi kita. Kita mesti memiliki kepedulian terhadap lingkungan di mana kita hidup. Langkah berani mesti kita ambil. Mungkin kita mesti meninggalkan kegiatan-kegiatan rutin kita sehari-hari. Kita ambil waktu untuk merefleksikan makna hidup kita. Mengapa kita hidup? Mau ke mana hidup ini mesti kita bawa?

Kiranya makna hidup yang lebih mendalam dapat kita temukan, ketika kita tidak hidup biasa-biasa saja. Tetapi makna hidup itu dapat kita temukan, ketika kita memberi waktu khusus untuk merefleksikan panggilan hidup kita. Mari kita berusaha terus-menerus untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO Palembang


1184

04 Maret 2016

Bersukacita dalam Tuhan


Setiap hari ada sukacita bagi hidup manusia. Soalnya adalah banyak orang mengalami duka nestapa dalam hidup mereka. Karena itu, orang mesti berani berjumpa dengan Tuhan untuk menemukan sukacita dalam hidupnya.

Ada seorang pria malang. Ia menjadi tawanan Nazi Jerman pada perang dunia kedua Setiap hari ia menerima siksaan. Ia ditempatkan dari satu sel ke sel lain dalam dinginnya udara dan kegelapan.

Suatu saat, ia dipindahkan ke sebuah sel yang sedikit berlubang. Melalui surat yang ditujukan kepada keluarganya, ia bercerita, "Saya begitu bersukacita. Melalui sebuah lubang, saya dapat menatap indahnya langit dan mega di siang hari. Juga gemerlapnya bintang di malam hari."

Pengalaman sukacita itu juga ia bagikan kepada teman yang ada di sel yang lain di sampingnya. Temannya itu sangat berbahagia mendengar indahnya langit dan mega di siang hari. Hatinya dipenuhi kegembiraan mendengar gemerlap bintang di malam hari. Soalnya, dari selnya itu ia tidak bisa melihat indahnya langit dan mega di siang hari.

Sayang, tidak lama kemudian ia dieksekusi mati dengan gas beracun bersama ratusan ribu orang lainnya. Harapannya untuk menghirup udara yang lebih luas dan bebas tidak tercapai. Namun sukacita telah ia peroleh, meski hanya sesaat.

Dalam situasi yang sulit, sukacita itu dapat dialami oleh setiap orang. Tentu saja kalau orang mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, Sang Pemberi hidup. Orang yang bersukacita di dalam Tuhan itu menemukan kebahagiaan yang abadi.

Dalam kisah di atas, seorang tawanan yang mengalami sukacita itu membagikan pengalamannya itu kepada temannya. Ia menularkan pengalaman kebahagiaan itu kepada sesamanya yang membutuhkannya. Sesama yang sangat merindukan sesuatu yang indah. Sesuatu yang dapat membuat ia bersukacita. Pengalaman sukacita yang dibagikan itu ternyata membantu sesama mengalami sukacita yang sama.

Setiap hari, kita juga mengalami sukacita dalam berbagai bentuk. Ada berbagai alasan yang membuat kita bersukacita. Namun sebagai orang beriman, sukacita kita itu mesti berlandaskan iman kita akan Tuhan. Iman itu mendorong kita untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik bagi sesama kita. Iman itu mampu membantu kita untuk tetap setia kepada Tuhan yang telah memanggil kita menjadi umat-Nya.

Pertanyaannya adalah apakah perjumpaan kita dengan sesama membawa sukacita bagi kita? Atau justru sebaliknya, perjumpaan dengan sesama itu mengurangi sukacita kita? Untuk itu, kita mesti belajar dari tawanan Nazi dari kisah di atas. Ia membagikan sukacitanya kepada sesamanya. Ia memenuhi kerinduan sesamanya untuk memiliki sukacita dalam hidupnya.

Karena itu, mari kita berusaha untuk mengalami sukacita dalam hidup kita yang nyata. Dan kita bagi sukacita kita kepada sesama yang kita jumpai. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

1183

03 Maret 2016

Berusaha Mengampuni Tanpa Syarat


Tidak gampang mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mengapa? Karena orang merasa gengsinya direndahkan.

Seorang bapak berseteru sekian puluh tahun dengan tetangganya. Suatu saat bapak itu semakin tua, sakit-sakitan dan hampir meninggal. Tanpa pikir panjang, sang istri mengambil inisiatif untuk mendamaikan suaminya dengan tetangganya.

Namun ia tidak berani langsung berbicara kepada suami dan tetangganya. Ia menghubungi seorang ulama yang tinggal di seberang rumahnya. Ia berkata, "Tolong, bapak, suami saya hampir meninggal. Sudilah bapak datang mendoakan dan mendamaikannya dengan tetangga sebelah."

Ulama itu datang dan membujuk suami ibu itu untuk berdamai dengan tetangganya. Namun, tampaknya usaha tersebut akan berakhir sia-sia. Akhirnya muncul gagasan ulama itu untuk mempertemukan keduanya.

Tetangga itu pun datang. Tidak malu atau merasa gengsi, ia mengulurkan tangannya. Dengan penuh kerendahan hati, ia berkata, "Maafkan saya, Pak, mari berdamai. Lupakan apa yang telah berlalu.”

Malu dengan ulama dan tetangga serta istrinya sendiri, bapak itu dengan tangan dingin mengulurkan tangan. Semua menjadi lega. Permusuhan itu telah berakhir dengan suatu perdamaian.

Ketika ulama dan tetangga itu minta pamit hendak pergi seraya melangkah keluar pintu, bapak itu bangkit dari ketidakberdayaannya. Ia duduk di pembaringan, mengacungkan kepalan tinju. Ia berteriak, “Ingat, perdamaian ini berlaku hanya kalau aku jadi meninggal.”

Luka batin ternyata tidak begitu mudah untuk diobati. Bahkan dengan sebuah perdamaian dan permohonan maaf dari hati yang dalam. Kisah di atas menunjukkan hal ini. Orang mau mengampuni, tetapi dengan syarat yang berat. Bukankah ini yang mesti dihindari oleh orang beriman? Bukankah orang beriman itu mesti memaafkan dan mengampuni sesama dengan segenap hati?

Suatu hari seorang murid Yesus bertanya kepada Yesus, sampai berapa kali ia mesti memaafkan saudaranya yang berbuat salah. Yesus menjawab, “Sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Murid itu terkejut. Baginya, tidak mungkin ia sabar sedemikian lama. Ia memiliki hati manusia. Ia merasa sulit untuk membiarkan saudaranya terus-menerus melakukan kesalahan. Ternyata pengampunan yang ditawarkan oleh Tuhan itu suatu pengampunan yang tuntas, yang tak terbatas. Tanpa syarat.

Sebagai orang beriman, kita ingin berusaha agar kita dapat mengampuni sesama tanpa batas. Kita tidak mau memberi macam-macam syarat dalam pengampunan itu. Kita juga ingin mengampuni sesama itu dengan hati yang tulus. Tidak ada benci atau dendam yang kita simpan di dalam hati kita. Kita ingin dengan segenap hati mengampuni sesama kita. Dengan demikian, hati kita menjadi aman dan tenteram. Hidup kita menjadi damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

1182

01 Maret 2016

Kesombongan Membawa Malapetaka


Apa yang terjadi, ketika Anda mengandalkan kesombongan dalam menjalani hidup ini? Saya yakin, Anda tidak akan mengalami kebebasan dalam hidup ini.

Seekor burung gagak merasa dirinya yang paling baik di antara burung-burung di hutan belantara. Ia juga tidak mau disaingi oleh burung-burung yang lain. Padahal bulunya yang hitam sering menakutkan burung-burung yang lain. Lagi pula suaranya yang parau jelek sering mengganggu ketenangan para penghuni hutan.

Suatu hari, seekor burung kutilang mendatangi burung gagak yang sedang sedih. Burung kutilang itu berkata, “Hai gagak, mengapa kamu sedang sedih? Apakah kamu sedang ketakutan sama burung pipit?”

Burung gagak tersenyum. Ia mulai menunjukkan kehebatannya. Ia tidak mau direndahkan oleh seekor burung kutilang. Ia mengibas-ngibaskan sayap-sayapnya.

Lantas ia berkata, “Di hutan ini saya yang paling berkuasa. Tidak mungkin saya takut sama burung sekecil itu. Kamu saja saya bisa telan hidup-hidup, apalagi burung pipit sekecil itu. Atau kamu mau sekarang juga saya menyergapmu?”

Burung kutilang langsung menyingkir pergi. Ia tidak mau membuat burung gagak semakin emosi.

Suatu hari lain, ada seorang pemburu datang ke hutan. Gagak menghasutnya untuk memanah si kutilang dengan menawarkan bulunya sebagai anak panah. Namun, si pemburu berulang-ulang gagal memanah kutilang hingga bulu burung gagak itu habis. Karena kesal tidak mendapatkan hasil buruan, sebagai gantinya pemburu menangkap gagak yang kini tidak dapat terbang. Bulunya sudah habis.

Sombong = Malapetaka

Keangkuhan sering menjerumuskan orang ke dalam jurang kebinasaan. Kesombongan hanya mau menutupi kelemahan dan kekurangan dalam diri. Akibatnya, kebinasaan justru yang mengancam kehidupan manusia. Orang yang sombong akan segera terbuka kekurangan dan kelemahannya.

Kisah imajinatif di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa menghargai sesama manusia. Mengapa? Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Yang ada adalah manusia berdosa yang sedang berziarah menuju kesempurnaan.

Untuk itu, yang kita butuhkan adalah kerendahan hati untuk menjalani hidup ini dengan normal. Mengapa? Karena orang yang sombong menjalani hidup ini lebih banyak dengan pura-pura. Akibatnya, hidup bersama sering berjalan tidak dengan harmonis. Sering terjadi benturan-benturan dalam hidup bersama.

Orang beriman mesti menyingkirkan kepura-puraan dalam hidupnya. Orang mesti menjalani hidup ini dengan jujur dan benar. Orang tidak mengandalkan kesombongan dirinya. Orang yang menutup kelemahan dan kekurangannya dengan kesombongan biasanya hidup dalam ketakutan. Orang seperti ini selalu takut kedoknya akan terbongkar. Akibatnya, orang seperti ini tidak merasa bebas dalam hidupnya.

Mari kita terus-menerus hidup dalam kebenaran, agar kita selalu bebas mengekspresikan diri kita di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membangun keharmonisan dan damai bersama Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO Palembang

04 Desember 2015

Berjuang Merebut Kebahagiaan

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika menyadari bahwa Anda punya karakter yang berbeda yang cenderung menjadi kekurangan diri Anda? Saya yakin, Anda akan tetap berjuang untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar.

Manusia dewasa diklasifikasi menjadi 5 jenis menurut karakter mereka masing masing. Pertama, Candor yang memiliki sifat jujur. Apa pun situasinya, orang ini selalu jujur dalam hidupnya. Kedua, Erudite yang memiliki sifat jenius. Ketiga, Amity memiliki sifat suka damai. Orang seperti ini selalu memperjuangkan damai bagi diri dan sesama. Keempat, Dauntless yaitu seorang pemberani yang berani memperjuangkan sesamanya. Kelima, abnegation sebagai penolong tanpa pamrih.

Namun ada sebuah istilah yang disebut dengan Divergent. Istilah ini untuk orang yang tidak masuk dalam lima jenis karakter tersebut. Mengapa? Karena orang seperti ini memiliki banyak kepribadian yang menonjol di dalam dirinya.

Dalam Film Divergent, dikisahkan seorang wanita bernama Tris (Shailene Woodley) yang harus menghadapi tes penentuan nasib. Namun ia merasa gugup dan penasaran di golongan manakah ia akan masuk. Namun ketika menjalani tes, ia merasa ada yang tidak beres.

Ternyata hasilnya, Tris tidak masuk golongan mana pun. Ternyata, seorang wanita yang sedang menguji dirinya, menyuruh untuk merahasiakan identitas diri Tris sebagai Divergent. Setelah itu, Tris harus berjuang, agar dapat diterima di golongan Dauntless. Ia selalu berusaha untuk lulus dalam tes keberanian yang mengancam nyawanya itu. Tes itu dimulai dari terjun di atas gedung hingga dilempari pisau.

Fakta yang mengejutkan adalah ketika Tris tahu salah satu instrukturnya, Four (Theo James), juga seorang Divergent. Tris pun tetap berusaha untuk bertahan hidup di tengah persaingan politik yang menyingkirkan para Divergent yang dianggap sangat berbahaya.



Banyak Dimensi

Manusia itu memiliki dimensi yang banyak. Setiap orang diberi berbagai kemampuan untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar. Berbagai tantangan dapat dihadapi dengan kemampuan yang ada dalam diri manusia itu. Manusia ditantang untuk mengembangkan dirinya, agar tetap bertahan dalam situasi apa pun.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap menjalani hidup ini apa adanya, meski terjadi sesuatu yang menyimpang dalam hidup ini. Orang tidak boleh menyerah, ketika tantangan menghadang dirinya. Orang mesti tetap berjuang dengan menggunakan apa yang ada dalam dirinya.

Memang, tidak mudah orang berjuang dengan situasi yang terbatas. Namun orang mesti yakin bahwa Tuhan yang telah menciptakan dirinya telah menyediakan hal-hal yang cukup untuk perjalanan hidup ini. Tuhan telah menyediakan bekal yang cukup untuk merebut kebahagiaan dalam hidup ini.

Orang beriman mesti yakin bahwa kemampuan yang ada dalam dirinya menjadi bekal yang cukup untuk merebut kebahagiaan. Orang beriman tidak boleh terus-menerus meratapi hidupnya. Orang mesti bangkit untuk merebut kebahagiaan itu. Mari kita terus-menerus berjuang bagi kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup ini dengan penuh sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO - Palembang

1180

Mengubah Hidup meski Ada Risiko

 
Ketika hidup Anda tidak mengalami kemajuan, apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin, Anda akan memutuskan untuk memulai hidup baru.

Pada tahun 1967, dalam usia 50 tahun, penyanyi Blus John Lee Hooker memenuhi mobilnya dengan pakaiannya, dua buah gitar, sebuah amplifier dan uang tunai 12 ribu dollar. Ia meninggalkan Kota Detroit menuju Oakland di California, Amerika Serikat, untuk memulai kehidupan baru. Ia tahu, tak seorang pun yang dekat dengannya di sana.

Ia melupakan 30 tahun hidupnya di Detroit, 23 tahun hidup perkawinannya yang penuh masalah dan enam orang anak. Tiga puluh tahun karya seni menunggunya di depan. Di barat (Amerika), ia tidak hanya menjadi penyanyi blus asal Detroit. Ia menjadi seorang raja music blus. Ia bergabung dengan sejumlah pemain blus di San Fransisco seperti Elvin Bishop, Michael Bloomfield, Charlie Musselwhite dan Luther Tucker.

John Lee Hooker menjadi seorang yang sangat berperan dalam komunitas blus. Ia dibackup oleh begitu banyak musisi. Ia membangun relasi dengan band blues bernama Canned Heat. Bersama-sama kemudian mereka merekam album Hooker ‘n Heat pada 1970 yang menjadi album terlaris.

Dalam dua puluh tahun sesudahnya, Hooker tetap memproduksi lagu-lagu ciptaannya. ia mengadakan pertunjukan-pertunjukan ke berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Ia berhasil dengan baik. Dalam tiga puluh tahun itu, ia boleh menjalani hidup yang penuh sukacita. Ia raih semua itu setelah suatu keputusan penuh risiko saat telah berusia 50 tahun dengan problem keluarga yang membelit hidupnya.

Dalam bagian hidupnya yang kedua ini, Hooker bahkan menemukan cinta, bertemu dengan istri keempatnya, Millie Strom, saat mengadakan pertunjukkan di Vancouver. Baginya, hidup bersama Strom merupakaan saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia berusaha menikmati hidup itu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.



Berani Menghadapi Risiko

Tidak ada yang merencanakan hidup yang berantakan. Setiap orang ingin menjalani hidup ini dengan baik, mulus dan bahagia. Setiap orang ingin meraih hidup yang damai, namun perjalanan untuk hidup yang damai itu tidak selalu mulus. Ada saja tantangan yang mesti dihadapi dan dilewati.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani mengubah hidup kita dari keterpurukan menjadi lebih baik. John Lee Hooker membuat suatu keputusan yang penuh risiko. Ia mengubah hidupnya secara radikal pada usia 50 tahun. Ia sukses mengubah hidupnya dengan cemerlang. Ia meraih kesuksesan hidup dalam sisa hidupnya selama tiga puluh tahun itu.

Memang, butuh keberanian untuk meraih hidup yang lebih baik. Tanpa keberanian, orang hanya bermimpi untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini. Suatu keputusan untuk memulai hidup secara baru tentu memiliki risiko yang sangat besar. Namun memutuskan untuk bertahan dalam cara hidup yang lama juga membawa risiko bagi hidup manusia. Orang tidak akan maju dalam hidup ini.

Karena itu, memutuskan untuk mengubah cara hidup selalu menjadi sesuatu yang baik. Memang, orang seperti memasuki suatu perjudian. Namun ketika ada kesempatan untuk mengubah hidup, orang mesti berani berbelok haluan.

Orang beriman mesti memutuskan suatu hidup baru bersama Tuhan. Tuhan memberikan perlindungan dan arah bagi hidup manusia. Rahmat Tuhan senantiasa memberi inspirasi bagi manusia untuk menjalani hidup ini dengan penuh sukacita. Tuhan membekati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO - Palembang

04 November 2015

Menjaga Hati Tetap Baik

 
Hati yang baik mesti selalu dijaga dan dirawat. Namun banyak orang kurang peduli terhadap hal ini. Akibatnya, relasi dengan sesama kurang membahagiakan.

Pagi itu, kebun bunga yang asri di depan rumah berantakan. Pasalnya, semalam suntuk tikus-tikus tanah berpesta. Tiba-tiba mereka keluar dari dalam tanah. Rupanya tikus-tikus itu sudah lama membuat sarang di dalam tanah. Mereka keluar untuk mencari makan saat mereka kelaparan. Apa saja yang mereka temukan, mereka lahap untuk mengenyangkan perut mereka.

Bunga-bunga yang indah luluh lantak begitu diserang oleh tikus-tikus tanah itu. Sang pemilik rumah yang menyaksikan hal itu hanya gigit jari. Apalagi tikus-tikus itu sudah hilang entah ke mana. Ia hanya berjanji untuk memusnahkan tikus-tikus itu dengan racun tikus.

Pemilik rumah lantas segera memperbaiki taman di halaman rumahnya. Lobang tikus segera ia tutup dengan semen. Ia berharap bahwa dengan cara itu, tikus-tikus itu akan mati terkubur di dalam tanah. Ia tidak mau melihat situasi yang berantakan berlangsung lebih lama. Ia juga berjanji untuk menyiapkan penjaga taman berupa kucing yang suka berburu tikus.



Memberi Kesejukan

Hati manusia kadang-kadang seperti taman yang indah. Hati yang baik yang selalu dirawat akan memberikan kesejukan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang merasa nyaman berada di sekitar kita. Bahkan orang akan menemukan damai saat berjumpa dengan kita.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa tidak selamanya hati manusia itu seperti taman yang indah. Bisa saja terjadi suatu ketika hati kita hancur lebur oleh perbuatan kita sendiri. Bila kita tidak memelihara hati kita, kita bisa diserang seperti tikus yang menghancurkan taman bunga itu. Akibatnya, hati kita tidak berbentuk lagi.

Soalnya, bagaimana kita mampu menciptakan hati yang indah? Hati yang indah dapat diciptakan melalui hidup baik dengan sesama di sekitar kita. Kita mesti membangun relasi yang baik dengan sesama. Relasi yang baik itu dibangun dengan menghargai kehadiran sesama kita. Kita tidak menjadi pribadi yang mendominasi kehidupan bersama. Sebaliknya, kita memberi perhatian kepada sesama kita.

Memang, mesti diakui bahwa hal ini tidak mudah. Mengapa? Karena kita memiliki egoisme dan kepentingan diri. Kita ingin diri kita dihormati dan dihargai lebih dari yang lain. Untuk itu, dibutuhkan suatu sikap rendah hati untuk berani menerima dan menghargai sesama kita. Dengan demikian, relasi dengan sesama semakin baik. Hidup kita menjadi semakin berguna bagi diri dan sesama.

Seorang bijaksana berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Hati yang baik memancarkan kehidupan. Untuk itu, hati yang baik perlu dijaga dengan penuh kewaspadaan. Mengapa? Karena setiap saat musuh-musuh yang berkeliaran dapat menghancurkan bangunan hati kita yang sudah baik dan indah itu.

Karena itu, kita butuh bantuan dari rahmat Tuhan. Tuhan menginginkan hati yang baik dan indah untuk tumbuh dan berkembang bagi kebaikan bersama. Tuhan ingin hati kita bisa semarak seperti taman bunga yang indah. Tunas-tunas baru, kondisinya sehat dan segar, sejuk, asri dan penuh warna.

Mari kita jaga hati kita dengan penuh kewaspadaan. Dengan demikian, kita dapat menjadi pembawa damai dan sukacita bagi orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang – Kota Mpek-mpek

1178