Pages

Tampilkan postingan dengan label kerja keras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerja keras. Tampilkan semua postingan

04 Agustus 2014

Meraih Kesuksesan dengan Bekerja Ekstra Keras

Apa yang akan Anda lakukan untuk meraih kesuksesan yang gilang-gemilang? Anda hanya bermimpi? Atau Anda berani bekerja ekstra keras?

Anda tentu mengenal Cher, atau paling kurang pernah mendengar namanya adalah penyanyi pop rock terkenal Amerika Serikat. Tahun 1960 hingga 1970, ia terkenal sebagai penyanyi pop rock dan televisi. Namun ia juga seorang pemain film pada era 1980-an. Sejumlah film ia bintangi seperti Silkwood, Mask, The Witches of Eastwick dan Moonstruck.

Anehnya, tahun 1990-an ia mengundurkan diri dari dunia hingar binger film dan musik. Tidak terdengar lagi namanya di blantika musik dunia. Demikian pula di dunia perfilman. Banyak orang bertanya-tanya tentang dirinya. Namun Cher begitu diam. Tidak ada kabar berita tentang dirinya.

Namun tiba-tiba ia muncul lagi di tahun 1999. Ia kembali ke akarnya, yaitu musik. Ia tampil dengan sebuah hit yang menggegerkan dunia. Lagunya adalah Believe. Lagu ini menjadi yang terpopuler dari penyanyi perempuan Amerika yang pernah ada. Lagu Believe berhasil terjual sebanyak 11 juta album. Lagu ini pun menempati tangga lagu nomor satu di 25 negara selama beberapa tahun.

Lebih hebat lagi, tiket untuk tournya selalu terjual habis. Dalam usia 52 tahun, Cher berhasil mengalahkan penyanyi-penyanyi pop terkenal pada waktu itu seperti Jennifer Lopez, Gloria Estefan dan Donna Summer.

Meski namanya semakin popular dengan hit Believe, Cher tetap rendah hati. Ia tidak menyombongkan dirinya. Bahkan ia mengajak para penyanyi muda untuk terus-menerus mengembangkan diri.

Sahabat, menjadi populer dan terkenal menjadi dambaan begitu banyak orang. Di zaman kini, begitu banyak orang ingin menjadi populer. Sayang, banyak dari mereka yang hanya ingin menjadi populer. Mereka kurang mau bekerja keras untuk merebut kepopuleran itu. Mereka hanya mengharapkan durian runtuh.

Kisah penyanyi Cher di atas memberi kita inspirasi untuk selalu bekerja keras dalam meraih popularitas. Cher tidak ragu-ragu untuk bekerja keras. Ia juga fokus dalam kariernya. Dengan demikian, ia mampu melakukan hal-hal yang spektakuler dalam hidupnya. Cher juga berani menarik diri untuk mempersiapkan hal-hal yang membantu dirinya untuk tampil lebih baik dan hebat.

Kita semua ditantang untuk bekerja ekstra keras, kalau kita ingin meraih kesuksesan dalam kehidupan ini. Untuk itu, dibutuhkan keberanian untuk bekerja keras. Orang yang tidak mau bekerja keras, hanya bermimpi dalam bayang-bayang. Bayang-bayang itulah yang menguasai diri manusia.

Orang yang mau sukses dalam hidupnya itu orang yang berani berkorban. Orang berani kehilangan keinginan-keinginannya untuk merebut sesuatu yang lebih besar. Sering keinginan-keinginan rendah menguasai diri manusia. Akibatnya, orang hanya berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginan rendah dari dirinya. Orang tidak mau bekerja ekstra keras lagi. Orang berprinsip, yang penting keinginan-keinginan sudah terpenuhi.

Tentu saja prinsip seperti ini bukan prinsip yang baik dari orang beriman. Orang beriman berani mengorbankan kehidupannya demi meraih kesuksesan dalam hidupnya. Orang berani bekerja ekstra untuk merebut hal-hal yang baik bagi kehidupannya.

Untuk itu, orang beriman mesti selalu bekerja ekstra keras untuk meraih sukses yang gilang-gemilang. Namun kesuksesan itu mesti selalu diraih bersama Tuhan. Dengan demikian, kebahagiaan hidup menjadi penuh. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1126

30 November 2010

Meraih Kesuksesan melalui Kerja Keras

John Grisham adalah seorang penulis buku-buku novel terkenal Amerika. Buku-bukunya seperti The Firm, The Client dan Pelican Brief bahkan menjadi buku-buku best seller di dunia. Ketiga buku itu pernah difilmkan dengan menampilkan bintang-bintang film tenar.

John Grisham mulai menulis buku pertamanya pada sebuah notes kecil yang dibawanya ke mana saja ia pergi. Buku itu dikerjakannya satu atau dua halaman dalam satu hari. Namun akhirnya demi menyelesaikan bukunya, ia rela melepaskan pekerjaannya di bidang hukum. Ia berkata, ”Saya meneruskan menulis buku itu sekalipun saat menderita flu, saat bertamasya dan sering kehilangan waktu tidur.”

Namun kerja keras John Grisham tidak cuma pada saat menulis. Saat buku pertamanya selesai, buku itu dikirimkannya kepada beberapa penerbit untuk dipublikasikan. Berapa kali buku pertamanya itu ditolak oleh para penerbit? Dua puluh lima kali buku pertamanya ditolak oleh para penerbit. Namun ia tidak putus asa. Ia terus bekerja menulis buku.

Kerja kerasnya itu membuahkan hasil, ketika buku-bukunya menjadi buku-buku yang disukai oleh masyarakat. Mereka membaca pikiran-pikirannya. Mereka mencerna ide-idenya. Mereka menginternalisasi ide-ide John Grisham bagi hidup mereka. Sungguh, sesuatu yang luar biasa. Buku-buku itu telah mengobati kerinduan jiwa untuk semakin dekat satu sama lain.

Sahabat, bekerja keras untuk sesuatu yang bernilai tinggi merupakan suatu keutamaan dalam hidup ini. Seorang ibu yang sangat mencintai bayinya yang baru dilahirkannya akan memusatkan perhatiannya pada buah hatinya itu. Ia mengorbankan seluruh hidupnya, segenap hatinya demi si buah hati. Seluruh waktunya tercurah untuk kekasih jiwanya itu. Mengapa? Karena hidupnya ia persembahkan untuk orang yang baru dilahirkan itu. Ia telah merawatnya dengan penuh kasih sayang, ketika masih berada di dalam rahimnya. Karena itu, ia pun memberikan perhatian yang sungguh-sungguh besar bagi bayinya itu.

Orang yang tidak mau bekerja keras di dalam hidupnya akan gampang dirundung keputusasaan. Ia tidak dapat bertahan, ketika ada aral yang melintang. Ia akan gampang hanyut oleh badai kehidupan yang menerjang dirinya. Mengapa? Karena orang yang tidak mau bekerja itu tidak mau berkorban. Tidak menginginkan sesuatu hilang dari dirinya. Ia ingin tetap menggenggam erat korban yang seharusnya ia lepaskan dari dirinya sendiri.

Kisah John Grisham tadi mau mengatakan kepada kita bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui kerja keras dan korban. Karena itu, orang beriman yang ingin berhasil dalam hidupnya mesti berani bekerja keras. Ia mesti berani mengorbankan dirinya bagi sesama. Dengan demikian, keputusasaan tidak gampang merundung dirinya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


560

06 Juni 2010

Kemauan dan Kerja Keras

Suatu hari saya berkunjung ke rumah seorang pemuda desa. Di belakang rumah pemuda ini terdapat dua hektar pohon karet. Sekitar jam lima pagi ia sudah mulai menderes karet. Ia baru berhenti, ketika jam menunjuk angka delapan.

“Inilah gaya hidup saya. Ini sudah menjadi bagian hidup saya. Saya tidak tahu kapan saya akan berhenti melakukan ini,” kata pemuda itu.

Hasil deresan karetnya lumayan. Ia bisa menghidupi kedua orangtuanya yang sudah tua renta. Dua orang adiknya ia biaya kuliahnya di perguruan tinggi. “Saya sudah melakukan pekerjaan ini sejak saya masih duduk di bangku SD kelas empat. Jadi bukan hal baru lagi bagi saya,” kata pemuda itu.

Ia mengaku, ia mengambil alih pekerjaan ayahnya ketika ia berusia lima belas tahun. Ketika itu ayahnya jatuh sakit. Ayahnya tidak bisa bekerja lagi. Sedangkan kedua kakaknya sudah duduk di bangku SMA. Mereka butuh biaya untuk studi lanjut. Jadilah ia berkorban untuk kehidupan keluarganya. Ia pun mulai berkelahi dengan waktu. Bangun pagi-pagi ketika teman-teman sebayanya masih menikmati tidur.

“Yah, mau apalagi?! Saya harus berkorban. Saya tidak sekolah tinggi-tinggi tidak apa-apa. Yang penting kedua kakak saya itu punya masa depan yang baik. Masa depan saya, ya di pohon-pohon karet ini,” kata pemuda itu dengan suara yang tegar.

Pemuda itu tidak punya rasa sesal atas apa yang ia lakukan. Bahkan ia merasa bangga. Pengorbanannya tidak sia-sia. Kedua kakaknya memiliki pekerjaan yang baik untuk membangun masa depan mereka. Meski mereka jarang pulang ke kampung, ia selalu membanggakan mereka. Kadang-kadang mereka mengirim uang untuk biaya tambahan bagi kedua orangtua mereka.

Menurut pemuda itu, kunci dari kesuksesannya adalah kemauan dan kerja keras. “Kalau kita mau bekerja keras, Tuhan pasti beri jalan. Bekerja keras itu bagian dari iman. Percuma orang beriman, tetapi malas-malasan dan mudah putus asa,” kata pemuda itu dengan suara yang mantap.

Kemauan dan kerja keras merupakan kunci keberhasilan. Siapa pun yang ingin memetik buah-buah kesuksesan, dia mesti rela menyingsingkan lengan baju. Darahnya mesti ia relakan untuk dihisap nyamuk-nyamuk.

Setiap hari kita bekerja keras untuk hidup kita. Mungkin ada yang sudah memetik hasil dari kerja kerasnya itu. Ada yang belum. Semua itu mau kita syukuri, karena Tuhan senantiasa menyertai mereka yang mau berjuang untuk hidupnya dan hidup sesama. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

399

Bagikan

22 Agustus 2009

Meraih Cita-cita dengan Kerja Keras



Suatu hari seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya, dia berkhayal akan membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak menggunakan anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan hinggap di atas pohon kecil, tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “Untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya ia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan ia menjilat-jilat ujung tombaknya. Sang pemburu itu berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.”

Agak lama pemburu itu menunggu. Tiba-tiba, terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat dan pemburu pun mulai siaga penuh. Tetapi ternyata seekor kijang. Ia pun membiarkan binatang itu berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, “Rusa!” Rusa itu pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil, sang pemburu itu pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak keinginan yang mau kita raih dalam hidup ini. Banyak idealisme yang kita khayalkan bakal terjadi. Namun yang sering terjadi adalah kita kehilangan keinginan dan idealisme itu. Mengapa? Karena kita terlalu tenggelam dalam keinginan dan idealisme diri sendiri.

Dalam hidup ini orang berhadapan dengan kenyataan-kenyataan hidup yang biasa. Hal-hal itu mesti diraih. Hal-hal yang sederhana itu mesti ditangkap untuk kehidupan sehari-hari. Orang tidak perlu menunggu sampai hal-hal besar dan ajaib datang menghampirinya. Hal-hal yang besar dan ajaib itu bisa datang kalau orang berusaha untuk mendatangkannya. Bukan menunggu sampai di depan hidung.

Untuk itu, orang mesti berjuang. Orang tidak bisa duduk manis berpangku tangan. Orang mesti berani menyingsingkan lengan baju untuk bekerja keras meraih apa yang diinginkannya. Hanya dengan bekerja keras orang dapat meraih sukses dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki ketetapan hati dalam meraih apa yang kita inginkan. Orang mengatakan bahwa yang sedikit itu dikumpulkan lama kelamaan menjadi gunung. Kita ingin agar apa yang kita kejar dalam hidup ini bukan hanya hal-hal yang besar. Tetapi kita ingin meraih hal-hal sederhana yang berguna bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.//142