Pages

04 Maret 2016

Bersukacita dalam Tuhan


Setiap hari ada sukacita bagi hidup manusia. Soalnya adalah banyak orang mengalami duka nestapa dalam hidup mereka. Karena itu, orang mesti berani berjumpa dengan Tuhan untuk menemukan sukacita dalam hidupnya.

Ada seorang pria malang. Ia menjadi tawanan Nazi Jerman pada perang dunia kedua Setiap hari ia menerima siksaan. Ia ditempatkan dari satu sel ke sel lain dalam dinginnya udara dan kegelapan.

Suatu saat, ia dipindahkan ke sebuah sel yang sedikit berlubang. Melalui surat yang ditujukan kepada keluarganya, ia bercerita, "Saya begitu bersukacita. Melalui sebuah lubang, saya dapat menatap indahnya langit dan mega di siang hari. Juga gemerlapnya bintang di malam hari."

Pengalaman sukacita itu juga ia bagikan kepada teman yang ada di sel yang lain di sampingnya. Temannya itu sangat berbahagia mendengar indahnya langit dan mega di siang hari. Hatinya dipenuhi kegembiraan mendengar gemerlap bintang di malam hari. Soalnya, dari selnya itu ia tidak bisa melihat indahnya langit dan mega di siang hari.

Sayang, tidak lama kemudian ia dieksekusi mati dengan gas beracun bersama ratusan ribu orang lainnya. Harapannya untuk menghirup udara yang lebih luas dan bebas tidak tercapai. Namun sukacita telah ia peroleh, meski hanya sesaat.

Dalam situasi yang sulit, sukacita itu dapat dialami oleh setiap orang. Tentu saja kalau orang mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, Sang Pemberi hidup. Orang yang bersukacita di dalam Tuhan itu menemukan kebahagiaan yang abadi.

Dalam kisah di atas, seorang tawanan yang mengalami sukacita itu membagikan pengalamannya itu kepada temannya. Ia menularkan pengalaman kebahagiaan itu kepada sesamanya yang membutuhkannya. Sesama yang sangat merindukan sesuatu yang indah. Sesuatu yang dapat membuat ia bersukacita. Pengalaman sukacita yang dibagikan itu ternyata membantu sesama mengalami sukacita yang sama.

Setiap hari, kita juga mengalami sukacita dalam berbagai bentuk. Ada berbagai alasan yang membuat kita bersukacita. Namun sebagai orang beriman, sukacita kita itu mesti berlandaskan iman kita akan Tuhan. Iman itu mendorong kita untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik bagi sesama kita. Iman itu mampu membantu kita untuk tetap setia kepada Tuhan yang telah memanggil kita menjadi umat-Nya.

Pertanyaannya adalah apakah perjumpaan kita dengan sesama membawa sukacita bagi kita? Atau justru sebaliknya, perjumpaan dengan sesama itu mengurangi sukacita kita? Untuk itu, kita mesti belajar dari tawanan Nazi dari kisah di atas. Ia membagikan sukacitanya kepada sesamanya. Ia memenuhi kerinduan sesamanya untuk memiliki sukacita dalam hidupnya.

Karena itu, mari kita berusaha untuk mengalami sukacita dalam hidup kita yang nyata. Dan kita bagi sukacita kita kepada sesama yang kita jumpai. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

1183

03 Maret 2016

Berusaha Mengampuni Tanpa Syarat


Tidak gampang mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mengapa? Karena orang merasa gengsinya direndahkan.

Seorang bapak berseteru sekian puluh tahun dengan tetangganya. Suatu saat bapak itu semakin tua, sakit-sakitan dan hampir meninggal. Tanpa pikir panjang, sang istri mengambil inisiatif untuk mendamaikan suaminya dengan tetangganya.

Namun ia tidak berani langsung berbicara kepada suami dan tetangganya. Ia menghubungi seorang ulama yang tinggal di seberang rumahnya. Ia berkata, "Tolong, bapak, suami saya hampir meninggal. Sudilah bapak datang mendoakan dan mendamaikannya dengan tetangga sebelah."

Ulama itu datang dan membujuk suami ibu itu untuk berdamai dengan tetangganya. Namun, tampaknya usaha tersebut akan berakhir sia-sia. Akhirnya muncul gagasan ulama itu untuk mempertemukan keduanya.

Tetangga itu pun datang. Tidak malu atau merasa gengsi, ia mengulurkan tangannya. Dengan penuh kerendahan hati, ia berkata, "Maafkan saya, Pak, mari berdamai. Lupakan apa yang telah berlalu.”

Malu dengan ulama dan tetangga serta istrinya sendiri, bapak itu dengan tangan dingin mengulurkan tangan. Semua menjadi lega. Permusuhan itu telah berakhir dengan suatu perdamaian.

Ketika ulama dan tetangga itu minta pamit hendak pergi seraya melangkah keluar pintu, bapak itu bangkit dari ketidakberdayaannya. Ia duduk di pembaringan, mengacungkan kepalan tinju. Ia berteriak, “Ingat, perdamaian ini berlaku hanya kalau aku jadi meninggal.”

Luka batin ternyata tidak begitu mudah untuk diobati. Bahkan dengan sebuah perdamaian dan permohonan maaf dari hati yang dalam. Kisah di atas menunjukkan hal ini. Orang mau mengampuni, tetapi dengan syarat yang berat. Bukankah ini yang mesti dihindari oleh orang beriman? Bukankah orang beriman itu mesti memaafkan dan mengampuni sesama dengan segenap hati?

Suatu hari seorang murid Yesus bertanya kepada Yesus, sampai berapa kali ia mesti memaafkan saudaranya yang berbuat salah. Yesus menjawab, “Sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Murid itu terkejut. Baginya, tidak mungkin ia sabar sedemikian lama. Ia memiliki hati manusia. Ia merasa sulit untuk membiarkan saudaranya terus-menerus melakukan kesalahan. Ternyata pengampunan yang ditawarkan oleh Tuhan itu suatu pengampunan yang tuntas, yang tak terbatas. Tanpa syarat.

Sebagai orang beriman, kita ingin berusaha agar kita dapat mengampuni sesama tanpa batas. Kita tidak mau memberi macam-macam syarat dalam pengampunan itu. Kita juga ingin mengampuni sesama itu dengan hati yang tulus. Tidak ada benci atau dendam yang kita simpan di dalam hati kita. Kita ingin dengan segenap hati mengampuni sesama kita. Dengan demikian, hati kita menjadi aman dan tenteram. Hidup kita menjadi damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

1182

01 Maret 2016

Kesombongan Membawa Malapetaka


Apa yang terjadi, ketika Anda mengandalkan kesombongan dalam menjalani hidup ini? Saya yakin, Anda tidak akan mengalami kebebasan dalam hidup ini.

Seekor burung gagak merasa dirinya yang paling baik di antara burung-burung di hutan belantara. Ia juga tidak mau disaingi oleh burung-burung yang lain. Padahal bulunya yang hitam sering menakutkan burung-burung yang lain. Lagi pula suaranya yang parau jelek sering mengganggu ketenangan para penghuni hutan.

Suatu hari, seekor burung kutilang mendatangi burung gagak yang sedang sedih. Burung kutilang itu berkata, “Hai gagak, mengapa kamu sedang sedih? Apakah kamu sedang ketakutan sama burung pipit?”

Burung gagak tersenyum. Ia mulai menunjukkan kehebatannya. Ia tidak mau direndahkan oleh seekor burung kutilang. Ia mengibas-ngibaskan sayap-sayapnya.

Lantas ia berkata, “Di hutan ini saya yang paling berkuasa. Tidak mungkin saya takut sama burung sekecil itu. Kamu saja saya bisa telan hidup-hidup, apalagi burung pipit sekecil itu. Atau kamu mau sekarang juga saya menyergapmu?”

Burung kutilang langsung menyingkir pergi. Ia tidak mau membuat burung gagak semakin emosi.

Suatu hari lain, ada seorang pemburu datang ke hutan. Gagak menghasutnya untuk memanah si kutilang dengan menawarkan bulunya sebagai anak panah. Namun, si pemburu berulang-ulang gagal memanah kutilang hingga bulu burung gagak itu habis. Karena kesal tidak mendapatkan hasil buruan, sebagai gantinya pemburu menangkap gagak yang kini tidak dapat terbang. Bulunya sudah habis.

Sombong = Malapetaka

Keangkuhan sering menjerumuskan orang ke dalam jurang kebinasaan. Kesombongan hanya mau menutupi kelemahan dan kekurangan dalam diri. Akibatnya, kebinasaan justru yang mengancam kehidupan manusia. Orang yang sombong akan segera terbuka kekurangan dan kelemahannya.

Kisah imajinatif di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa menghargai sesama manusia. Mengapa? Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Yang ada adalah manusia berdosa yang sedang berziarah menuju kesempurnaan.

Untuk itu, yang kita butuhkan adalah kerendahan hati untuk menjalani hidup ini dengan normal. Mengapa? Karena orang yang sombong menjalani hidup ini lebih banyak dengan pura-pura. Akibatnya, hidup bersama sering berjalan tidak dengan harmonis. Sering terjadi benturan-benturan dalam hidup bersama.

Orang beriman mesti menyingkirkan kepura-puraan dalam hidupnya. Orang mesti menjalani hidup ini dengan jujur dan benar. Orang tidak mengandalkan kesombongan dirinya. Orang yang menutup kelemahan dan kekurangannya dengan kesombongan biasanya hidup dalam ketakutan. Orang seperti ini selalu takut kedoknya akan terbongkar. Akibatnya, orang seperti ini tidak merasa bebas dalam hidupnya.

Mari kita terus-menerus hidup dalam kebenaran, agar kita selalu bebas mengekspresikan diri kita di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membangun keharmonisan dan damai bersama Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO Palembang

04 Desember 2015

Berjuang Merebut Kebahagiaan

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika menyadari bahwa Anda punya karakter yang berbeda yang cenderung menjadi kekurangan diri Anda? Saya yakin, Anda akan tetap berjuang untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar.

Manusia dewasa diklasifikasi menjadi 5 jenis menurut karakter mereka masing masing. Pertama, Candor yang memiliki sifat jujur. Apa pun situasinya, orang ini selalu jujur dalam hidupnya. Kedua, Erudite yang memiliki sifat jenius. Ketiga, Amity memiliki sifat suka damai. Orang seperti ini selalu memperjuangkan damai bagi diri dan sesama. Keempat, Dauntless yaitu seorang pemberani yang berani memperjuangkan sesamanya. Kelima, abnegation sebagai penolong tanpa pamrih.

Namun ada sebuah istilah yang disebut dengan Divergent. Istilah ini untuk orang yang tidak masuk dalam lima jenis karakter tersebut. Mengapa? Karena orang seperti ini memiliki banyak kepribadian yang menonjol di dalam dirinya.

Dalam Film Divergent, dikisahkan seorang wanita bernama Tris (Shailene Woodley) yang harus menghadapi tes penentuan nasib. Namun ia merasa gugup dan penasaran di golongan manakah ia akan masuk. Namun ketika menjalani tes, ia merasa ada yang tidak beres.

Ternyata hasilnya, Tris tidak masuk golongan mana pun. Ternyata, seorang wanita yang sedang menguji dirinya, menyuruh untuk merahasiakan identitas diri Tris sebagai Divergent. Setelah itu, Tris harus berjuang, agar dapat diterima di golongan Dauntless. Ia selalu berusaha untuk lulus dalam tes keberanian yang mengancam nyawanya itu. Tes itu dimulai dari terjun di atas gedung hingga dilempari pisau.

Fakta yang mengejutkan adalah ketika Tris tahu salah satu instrukturnya, Four (Theo James), juga seorang Divergent. Tris pun tetap berusaha untuk bertahan hidup di tengah persaingan politik yang menyingkirkan para Divergent yang dianggap sangat berbahaya.



Banyak Dimensi

Manusia itu memiliki dimensi yang banyak. Setiap orang diberi berbagai kemampuan untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar. Berbagai tantangan dapat dihadapi dengan kemampuan yang ada dalam diri manusia itu. Manusia ditantang untuk mengembangkan dirinya, agar tetap bertahan dalam situasi apa pun.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap menjalani hidup ini apa adanya, meski terjadi sesuatu yang menyimpang dalam hidup ini. Orang tidak boleh menyerah, ketika tantangan menghadang dirinya. Orang mesti tetap berjuang dengan menggunakan apa yang ada dalam dirinya.

Memang, tidak mudah orang berjuang dengan situasi yang terbatas. Namun orang mesti yakin bahwa Tuhan yang telah menciptakan dirinya telah menyediakan hal-hal yang cukup untuk perjalanan hidup ini. Tuhan telah menyediakan bekal yang cukup untuk merebut kebahagiaan dalam hidup ini.

Orang beriman mesti yakin bahwa kemampuan yang ada dalam dirinya menjadi bekal yang cukup untuk merebut kebahagiaan. Orang beriman tidak boleh terus-menerus meratapi hidupnya. Orang mesti bangkit untuk merebut kebahagiaan itu. Mari kita terus-menerus berjuang bagi kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup ini dengan penuh sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO - Palembang

1180

Mengubah Hidup meski Ada Risiko

 
Ketika hidup Anda tidak mengalami kemajuan, apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin, Anda akan memutuskan untuk memulai hidup baru.

Pada tahun 1967, dalam usia 50 tahun, penyanyi Blus John Lee Hooker memenuhi mobilnya dengan pakaiannya, dua buah gitar, sebuah amplifier dan uang tunai 12 ribu dollar. Ia meninggalkan Kota Detroit menuju Oakland di California, Amerika Serikat, untuk memulai kehidupan baru. Ia tahu, tak seorang pun yang dekat dengannya di sana.

Ia melupakan 30 tahun hidupnya di Detroit, 23 tahun hidup perkawinannya yang penuh masalah dan enam orang anak. Tiga puluh tahun karya seni menunggunya di depan. Di barat (Amerika), ia tidak hanya menjadi penyanyi blus asal Detroit. Ia menjadi seorang raja music blus. Ia bergabung dengan sejumlah pemain blus di San Fransisco seperti Elvin Bishop, Michael Bloomfield, Charlie Musselwhite dan Luther Tucker.

John Lee Hooker menjadi seorang yang sangat berperan dalam komunitas blus. Ia dibackup oleh begitu banyak musisi. Ia membangun relasi dengan band blues bernama Canned Heat. Bersama-sama kemudian mereka merekam album Hooker ‘n Heat pada 1970 yang menjadi album terlaris.

Dalam dua puluh tahun sesudahnya, Hooker tetap memproduksi lagu-lagu ciptaannya. ia mengadakan pertunjukan-pertunjukan ke berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Ia berhasil dengan baik. Dalam tiga puluh tahun itu, ia boleh menjalani hidup yang penuh sukacita. Ia raih semua itu setelah suatu keputusan penuh risiko saat telah berusia 50 tahun dengan problem keluarga yang membelit hidupnya.

Dalam bagian hidupnya yang kedua ini, Hooker bahkan menemukan cinta, bertemu dengan istri keempatnya, Millie Strom, saat mengadakan pertunjukkan di Vancouver. Baginya, hidup bersama Strom merupakaan saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia berusaha menikmati hidup itu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.



Berani Menghadapi Risiko

Tidak ada yang merencanakan hidup yang berantakan. Setiap orang ingin menjalani hidup ini dengan baik, mulus dan bahagia. Setiap orang ingin meraih hidup yang damai, namun perjalanan untuk hidup yang damai itu tidak selalu mulus. Ada saja tantangan yang mesti dihadapi dan dilewati.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani mengubah hidup kita dari keterpurukan menjadi lebih baik. John Lee Hooker membuat suatu keputusan yang penuh risiko. Ia mengubah hidupnya secara radikal pada usia 50 tahun. Ia sukses mengubah hidupnya dengan cemerlang. Ia meraih kesuksesan hidup dalam sisa hidupnya selama tiga puluh tahun itu.

Memang, butuh keberanian untuk meraih hidup yang lebih baik. Tanpa keberanian, orang hanya bermimpi untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini. Suatu keputusan untuk memulai hidup secara baru tentu memiliki risiko yang sangat besar. Namun memutuskan untuk bertahan dalam cara hidup yang lama juga membawa risiko bagi hidup manusia. Orang tidak akan maju dalam hidup ini.

Karena itu, memutuskan untuk mengubah cara hidup selalu menjadi sesuatu yang baik. Memang, orang seperti memasuki suatu perjudian. Namun ketika ada kesempatan untuk mengubah hidup, orang mesti berani berbelok haluan.

Orang beriman mesti memutuskan suatu hidup baru bersama Tuhan. Tuhan memberikan perlindungan dan arah bagi hidup manusia. Rahmat Tuhan senantiasa memberi inspirasi bagi manusia untuk menjalani hidup ini dengan penuh sukacita. Tuhan membekati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO - Palembang

04 November 2015

Menjaga Hati Tetap Baik

 
Hati yang baik mesti selalu dijaga dan dirawat. Namun banyak orang kurang peduli terhadap hal ini. Akibatnya, relasi dengan sesama kurang membahagiakan.

Pagi itu, kebun bunga yang asri di depan rumah berantakan. Pasalnya, semalam suntuk tikus-tikus tanah berpesta. Tiba-tiba mereka keluar dari dalam tanah. Rupanya tikus-tikus itu sudah lama membuat sarang di dalam tanah. Mereka keluar untuk mencari makan saat mereka kelaparan. Apa saja yang mereka temukan, mereka lahap untuk mengenyangkan perut mereka.

Bunga-bunga yang indah luluh lantak begitu diserang oleh tikus-tikus tanah itu. Sang pemilik rumah yang menyaksikan hal itu hanya gigit jari. Apalagi tikus-tikus itu sudah hilang entah ke mana. Ia hanya berjanji untuk memusnahkan tikus-tikus itu dengan racun tikus.

Pemilik rumah lantas segera memperbaiki taman di halaman rumahnya. Lobang tikus segera ia tutup dengan semen. Ia berharap bahwa dengan cara itu, tikus-tikus itu akan mati terkubur di dalam tanah. Ia tidak mau melihat situasi yang berantakan berlangsung lebih lama. Ia juga berjanji untuk menyiapkan penjaga taman berupa kucing yang suka berburu tikus.



Memberi Kesejukan

Hati manusia kadang-kadang seperti taman yang indah. Hati yang baik yang selalu dirawat akan memberikan kesejukan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang merasa nyaman berada di sekitar kita. Bahkan orang akan menemukan damai saat berjumpa dengan kita.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa tidak selamanya hati manusia itu seperti taman yang indah. Bisa saja terjadi suatu ketika hati kita hancur lebur oleh perbuatan kita sendiri. Bila kita tidak memelihara hati kita, kita bisa diserang seperti tikus yang menghancurkan taman bunga itu. Akibatnya, hati kita tidak berbentuk lagi.

Soalnya, bagaimana kita mampu menciptakan hati yang indah? Hati yang indah dapat diciptakan melalui hidup baik dengan sesama di sekitar kita. Kita mesti membangun relasi yang baik dengan sesama. Relasi yang baik itu dibangun dengan menghargai kehadiran sesama kita. Kita tidak menjadi pribadi yang mendominasi kehidupan bersama. Sebaliknya, kita memberi perhatian kepada sesama kita.

Memang, mesti diakui bahwa hal ini tidak mudah. Mengapa? Karena kita memiliki egoisme dan kepentingan diri. Kita ingin diri kita dihormati dan dihargai lebih dari yang lain. Untuk itu, dibutuhkan suatu sikap rendah hati untuk berani menerima dan menghargai sesama kita. Dengan demikian, relasi dengan sesama semakin baik. Hidup kita menjadi semakin berguna bagi diri dan sesama.

Seorang bijaksana berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Hati yang baik memancarkan kehidupan. Untuk itu, hati yang baik perlu dijaga dengan penuh kewaspadaan. Mengapa? Karena setiap saat musuh-musuh yang berkeliaran dapat menghancurkan bangunan hati kita yang sudah baik dan indah itu.

Karena itu, kita butuh bantuan dari rahmat Tuhan. Tuhan menginginkan hati yang baik dan indah untuk tumbuh dan berkembang bagi kebaikan bersama. Tuhan ingin hati kita bisa semarak seperti taman bunga yang indah. Tunas-tunas baru, kondisinya sehat dan segar, sejuk, asri dan penuh warna.

Mari kita jaga hati kita dengan penuh kewaspadaan. Dengan demikian, kita dapat menjadi pembawa damai dan sukacita bagi orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang – Kota Mpek-mpek

1178

26 Oktober 2015

Menumbuhkembangkan Talenta dalam Diri

 
Setiap orang memiliki talenta. Bahkan talenta itu tidak hanya satu. Ada banyak talenta di dalam diri manusia. Tema permenungan kita malam ini adalah Menumbuhkembangkan Talenta dalam Diri.

Sejak kecil seorang gadis telah dididik oleh orangtuanya untuk mengembangkan talenta-talenta yang dimilikinya. Anak itu tumbuh menjadi orang yang sangat trampil. Ia punya ketrampilan memasak. Menggunakan piano, ia bisa memainkan musik klasik dengan sangat baik. Ia menjadi seniman lukis yang piawai. Orangtuanya sangat mengagumi anaknya itu.

Menurut pengakuan kedua orangtuanya, anak itu membutuhkan banyak waktu untuk bisa memasak dengan baik dan benar. Tangannya sempat melepuh terkena percikan minyak. Namun anak itu tidak putus asa. Ia malah melanjutkan memasak. Ia tidak peduli akan rasa sakit yang dialaminya. Baginya, itulah resiko dalam mengembangkan talenta.

Ketika berlatih musik, jari-jarinya yang tegang pernah dipukuli guru musiknya. Ia mencucurkan airmata karena rasa sakit. Tetapi ia tidak mau berhenti. Ia melanjutkan pelajaran musik itu hingga menjadi seorang pemain piano yang piawai. Ia bertumbuh dalam bidang musik itu dan menjadi pencipta lagu yang top. Namun anak itu tidak pernah puas akan pencapaiannya. Ia terus-menerus mengembangkan bakat-bakatnya.


Banyak Talenta

Seorang bijaksana mengatakan bahwa pemenang adalah seseorang yang mengenal talenta-talentanya, mengembangkannya sehabis-habisnya dan menggunakan talenta-talenta itu untuk meraih tujuan hidupnya.

Para peneliti pendidikan menyimpulkan bahwa kebanyakan orang memiliki tiga atau lima telenta utama. Setiap talenta itu dapat dikembangkan dan digunakan secara baik untuk kepentingan diri dan orang lain. Memang, memiliki talenta-talenta itu mudah. Mengapa? Karena sejak terjadi pembuahan antara sel sperma dan sel telur, seseorang sudah memilikinya. Namun mengembangkan talenta-talenta itu membutuhkan waktu, usaha-usaha dan komitmen yang berkepanjangan.

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa setiap orang punya talenta, bahkan lebih dari satu. Tetapi kalau talenta itu dibiarkan begitu saja, talenta itu tidak akan bertumbuh dan berkembang dengan baik. Talenta itu bahkan akan mati dan tidak berguna apa-apa.

Anak dalam kisah di atas tahu mampu mengembangkan talentanya dengan baik, meski ia mengalami kesulitan dan derita. Ia butuh waktu untuk mengasah talentanya itu. Ia punya semangat tinggi. Ia tidak putus asa dalam mengembangkan talenta-talentanya.

Menemukan dan mengembangkan talenta-talenta khusus kita dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan perjalanan hidup kita. Semakin banyak kita mengembangkan talenta-talenta kita, kita akan mengalami rasa puas yang besar. Kita tidak perlu cemas akan kehidupan ini. Kita dapat melakukan banyak hal baik dengan talenta-talenta yang kita miliki itu.

Orang beriman senantiasa bekerja bersama dengan Tuhan dalam mengembangkan talenta-talentanya. Untuk itu, kita mesti selalu menaruh pengharapan pada rahmat Tuhan. Tuhan memberi ita kekuatan di kala kita mengalami dukacita dalam mengembangkan talenta-talenta kita. Mari kita terus-menerus mengembangkan talenta-talenta dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Dari Betlehem, Palestina

1178

25 Oktober 2015

Menerima Perbedaan untuk Memperkaya Hidup

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda diperlakukan secara tidak adil? Saya yakin, Anda akan marah. Anda akan merasa sakit di hati.

Dani Alves, back sayap Barcelona FC, memperoleh perlakuan rasis dari fans Villarreal, tahun lalu. Seorang penonton melempar pisang kepadanya saat ia hendak mengambil tendangan pojok. Ia segera mengambil pisang itu dan memakannya di hadapan para penonton sebelum melakukan tendangan bebas.

Atas jawaban atas lemparan pisang itu, Dani Alves mengaku terkejut mendapatkan banyak dukungan dari berbagai kalangan. Rasanya, Alves ingin membalas perlakuan fans itu di internet. Di Eropa, melempar pisang kepada seseorang merupakan simbol rasialisme, karena menyatakan orang tersebut sama dengan monyet.

Pemain dari seluruh dunia memposting sebuah gambar sambil memegang pisang, sebagai bentuk dukungan terhadap Alves. Presiden FIFA, Sepp Blatter, juga menyesalkan tindakan fans Villarreal itu. Sebagai hukumannya, fans itu dihukum seumur hidup tidak boleh memperlihatkan batang hidungnya di El Madrigal, Stadion Vilareal, Spanyol.

Dalam sebuah wawancara, Alves mengaku dukungan itu sungguh mengejutkannya. Pemain asal Brasil itu berkata, "Saya terkejut karena semua orang memberikan dukungan. Itu merupakan sesuatu yang saya lakukan tanpa memikirkan dampaknya. Dunia telah berkembang dan kita harus berevolusi dengan itu. Jika bisa, saya ingin memposting foto suporter itu di internet untuk balas mempermalukannya."



Saling Memperkaya

Dunia sudah maju begitu pesat. Sayang, masih ada saja orang-orang yang punya pikiran yang picik. Orang hanya mementingkan dirinya sendiri. Masih ada orang yang hanya berjuang untuk rasnya sendiri. Padahal peradaban manusia telah berevolusi dalam kemajuan yang pesat.

Kisah di atas menjadi suatu kisah yang sangat menyedihkan bagi kehidupan manusia. Rasa hormat terhadap sesama begitu rendah. Padahal semua orang memiliki martabat yang sama. Tuhan menciptakan manusia itu setara. Tuhan pun mencintai semua ciptaan itu tanpa membeda-bedakan. Karena itu, ketika seseorang mendiskreditkan sesamanya, ia menolak ciptaan Tuhan sendiri. Artinya, orang itu menolak kebaikan Tuhan bagi hidupnya.

Tuhan menciptakan manusia dengan warna kulit dan ras yang berbeda-beda dengan maksud yang baik. Tuhan ingin, agar manusia saling berbagi kehidupan. Hal ini juga mau menegaskan bahwa kehidupan ini memiliki warna-warni. Hidup yang berwarna-warni itu hidup yang menyenangkan, indah dan baik.

Karena itu, orang beriman mesti terus-menerus memperjuangkan kehidupan bersama sebagai upaya untuk menemukan damai. Orang beriman mesti berani berbagi kehidupan meski memiliki ras yang berbeda. Perbedaan itu memperkaya kehidupan manusia. Mengapa? Karena melalui perbedaan itu orang saling belajar tentang hal-hal yang baik dan menyenangkan.

Mari kita terus-menerus menghargai kehidupan ini dengan menerima perbedaan yang ada. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk saling memperkaya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Dari Betlehem, Palestina

1177

24 Oktober 2015

Memelihara Hati Kita dengan Baik

 

Mengapa hati Anda kurang terasa damai? Ada berbagai jawaban atas pertanyaan sederhana ini. Namun satu hal yang pasti adalah karena Anda tidak menjaga dan memelihara hati Anda dengan baik.

Dalam suatu acara rohani anak-anak, setiap peserta diberi sebutir telur oleh panitia. Pesannya adalah telur itu dijaga agar jangan pecah atau hilang. Telur itu mesti selalu dibawa setiap saat selama acara rohani berlangsung sampai akhir acara. Entah mereka mengikuti session, makan, tidur, bahkan ke kamar mandi, telur itu tidak boleh mereka tinggalkan.

Siapa saja yang kehilangan telur atau sampai memecahkannya, maka ia akan mendapatkan ‘hukuman’ dari Panitia. Dua hari kemudian, ketika acara rohani itu selesai, legalah mereka semua. Namun ada beberapa orang yang harus menanggung hukuman, karena memecahkan telur mereka. Seperti halnya menjaga sebutir telur yang mereka lakukan, demikian juga kita harus menjaga hati.

Seorang anak yang memecahkan telur berkata, “Saya sudah menjaganya sedemikian rupa. Tetapi hanya teledor sedikit saja, telur itu pecah. Saya sangat menyesal telah memecahkan telur itu. Artinya, saya belum bisa menjaganya dengan baik.”

Anak itu mengerti bahwa ia mesti menjaga hal-hal yang berharga yang dimiliki dirinya. Ia berjanji kepada pembimbing acara rohani itu untuk memelihara hatinya dengan sebaik-baiknya. Ia boleh mendapatkan hukuman atas kelalaiannya. Namun ia dapat belajar banyak hal tentang kehidupan.



Jangan Ceroboh

Persoalan terbesar yang dihadapi oleh semua manusia di dunia ini adalah persoalan hati. Dari hati muncul motivasi. Dari hati muncul rencana. Dari hati timbul perasaan. Dari hati kemarahan diungkapkan. Dari hati keluarlah pikiran-pikiran, perkataan dan tindakan.

Namun banyak orang kurang menyadari hal ini. Banyak orang sering ceroboh dalam hidup ini. Akibatnya, mereka kehilangan hati yang tulus dan murni dalam menjalani hidup ini. Mereka bertindak seenaknya saja. Ada hal yang hilang dari hidup mereka, sehingga mereka kurang punya ketahanan hidup.

Bagi kita, hati adalah area yang penting dalam kehidupan ini. Hati yang baik mengatur dan mengarahkan setiap hal yang kita kerjakan. Untuk itu, kita mesti menjaga hati kita dengan sebaik-baiknya. Caranya dengan menghidupi nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Tuhan sendiri.

Kalau kita mampu menjaga hati kita dari hal-hal yang kurang baik, kita mampu memancarkan kebaikan Tuhan dalam hidup ini. Kita dapat menemukan bahwa Tuhan begitu mencintai hidup kita. Tuhan tidak pernah menolak kehadiran kita. Tuhan tetap menguasai diri kita, bukan hal-hal lain yang sering mengganggu hidup kita.

Sang bijak berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Mari kita menjaga hati kita, agar kita mampu memancarkan kasih Tuhan kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap


1176

Mengandalkan Kebaikan Tuhan dalam Hidup

 
Apa yang Anda andalkan dalam perjalanan hidup Anda di dunia yang fana ini? Uang yang banyak? Mobil mewah? Rumah mewah? Atau istri yang cantik, suami yang ganteng? Orang beriman tentu tidak mengandalkan semua itu. Orang beriman mengandalkan penyelenggaraan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Burung-burung yang beterbangan secara liar memang tidak menabur dan menuai. Namun Tuhan terus-menerus memelihara burung-burung itu. Mereka mendapat makanan setiap kali mereka mencari. Mereka juga dapat melepas dahaga mereka dari embun yang diturunkan Tuhan setiap pagi.

Sebuah penelitian terhadap aktivitas kehidupan burung menemukan fakta bahwa burung murai setiap hari bangun dini hari pukul 2.30. Burung-burung murai itu kemudian mencari makanan hingga larut pukul 21.30. Jadi, setiap hari mereka bekerja selama 19 jam. Tak cuma itu. Burung-burung murai juga bolak-balik ke sarang mereka hingga sekitar 200 kali sehari, demi memberi makan anak-anak mereka.

Sungguh luar biasa Tuhan memelihara burung-burung itu. Tuhan tidak membiarkan satu pun ciptaanNya mengalami derita dan susah. Tuhan telah menyediakan semuanya dalam alam semesta ini.

Sayang, banyak orang tidak menyadari penyelangaraan Tuhan ini. Akibatnya, mereka menebang pohon dengan sesuka hati. Mereka membakar hutan tanpa peduli merugikan banyak orang. Asap tebal dan pekat membunuh kehidupan, baik manusia maupun seluruh ekosistem di dalamnya. Manusia memusnahkan lingkungan hidup.



Gantungkan Hidup pada Allah Semata

Yesus berkata, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung. Namun burung-burung itu diberi makan oleh Tuhan yang ada di surga.”

Tuhan menyelenggarakan hidup ini bagi kelangsungan hidup ciptaanNya. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan senantiasa peduli terhadap semua yang ada dalam alam semesta ini. Tuhan senantiasa mengasihi dan memberi yang terbaik bagi kehidupan manusia. Memang, manusia sering kurang mengerti akan kasih Tuhan yang begitu besar. Manusia lebih mengutamakan egoisme dirinya.

Seperti burung-burung Murai yang bekerja keras demi hidup diri dan anak-anaknya, manusia pun mesti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bekerja berarti manusia menanggapi kasih Tuhan kepada manusia. Manusia meneruskan karya cipta Tuhan dalam hidup ini.

Yang penting adalah sekeras apa pun kita berusaha memenuhi kebutuhan, kita mesti selalu mendahulukan kebaikan dan kebenaran. Kita mendahulukan nilai-nilai kekudusan dan kebenaran yang Tuhan tetapkan bagi hidup kita. Kita melandasi setiap karya dan kerja dengan kasih. Inilah kunci dari kebaikan Tuhan bagi manusia.

Seperti burung-burung Murai yang mengandalkan rahmat Tuhan, orang beriman pun senantiasa menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Hanya dengan penyerahan diri itu, orang mampu menjalani hidup ini dengan damai dan sukacita. Hidup menjadi lebih bermakna, karena Tuhan dipersilahkan masuk dan tinggal di dalam hati dan hidup kita.

Mari kita terus-menerus menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan Tuhan. Dengan demikian, hidup kita penuh dengan buah-buah yang berlimpah dengan kebaikan dan kebenaran. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang - (masih) Kota Asap


1172