Pages

Tampilkan postingan dengan label Kebaikan Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebaikan Tuhan. Tampilkan semua postingan

24 Oktober 2015

Mengandalkan Kebaikan Tuhan dalam Hidup

 
Apa yang Anda andalkan dalam perjalanan hidup Anda di dunia yang fana ini? Uang yang banyak? Mobil mewah? Rumah mewah? Atau istri yang cantik, suami yang ganteng? Orang beriman tentu tidak mengandalkan semua itu. Orang beriman mengandalkan penyelenggaraan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Burung-burung yang beterbangan secara liar memang tidak menabur dan menuai. Namun Tuhan terus-menerus memelihara burung-burung itu. Mereka mendapat makanan setiap kali mereka mencari. Mereka juga dapat melepas dahaga mereka dari embun yang diturunkan Tuhan setiap pagi.

Sebuah penelitian terhadap aktivitas kehidupan burung menemukan fakta bahwa burung murai setiap hari bangun dini hari pukul 2.30. Burung-burung murai itu kemudian mencari makanan hingga larut pukul 21.30. Jadi, setiap hari mereka bekerja selama 19 jam. Tak cuma itu. Burung-burung murai juga bolak-balik ke sarang mereka hingga sekitar 200 kali sehari, demi memberi makan anak-anak mereka.

Sungguh luar biasa Tuhan memelihara burung-burung itu. Tuhan tidak membiarkan satu pun ciptaanNya mengalami derita dan susah. Tuhan telah menyediakan semuanya dalam alam semesta ini.

Sayang, banyak orang tidak menyadari penyelangaraan Tuhan ini. Akibatnya, mereka menebang pohon dengan sesuka hati. Mereka membakar hutan tanpa peduli merugikan banyak orang. Asap tebal dan pekat membunuh kehidupan, baik manusia maupun seluruh ekosistem di dalamnya. Manusia memusnahkan lingkungan hidup.



Gantungkan Hidup pada Allah Semata

Yesus berkata, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung. Namun burung-burung itu diberi makan oleh Tuhan yang ada di surga.”

Tuhan menyelenggarakan hidup ini bagi kelangsungan hidup ciptaanNya. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan senantiasa peduli terhadap semua yang ada dalam alam semesta ini. Tuhan senantiasa mengasihi dan memberi yang terbaik bagi kehidupan manusia. Memang, manusia sering kurang mengerti akan kasih Tuhan yang begitu besar. Manusia lebih mengutamakan egoisme dirinya.

Seperti burung-burung Murai yang bekerja keras demi hidup diri dan anak-anaknya, manusia pun mesti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bekerja berarti manusia menanggapi kasih Tuhan kepada manusia. Manusia meneruskan karya cipta Tuhan dalam hidup ini.

Yang penting adalah sekeras apa pun kita berusaha memenuhi kebutuhan, kita mesti selalu mendahulukan kebaikan dan kebenaran. Kita mendahulukan nilai-nilai kekudusan dan kebenaran yang Tuhan tetapkan bagi hidup kita. Kita melandasi setiap karya dan kerja dengan kasih. Inilah kunci dari kebaikan Tuhan bagi manusia.

Seperti burung-burung Murai yang mengandalkan rahmat Tuhan, orang beriman pun senantiasa menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Hanya dengan penyerahan diri itu, orang mampu menjalani hidup ini dengan damai dan sukacita. Hidup menjadi lebih bermakna, karena Tuhan dipersilahkan masuk dan tinggal di dalam hati dan hidup kita.

Mari kita terus-menerus menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan Tuhan. Dengan demikian, hidup kita penuh dengan buah-buah yang berlimpah dengan kebaikan dan kebenaran. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang - (masih) Kota Asap


1172

09 Januari 2014

Berterima Kasih atas Kebaikan Tuhan

 
Kebaikan Tuhan tak mengenal batas. Ini yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Tuhan senantiasa melimpahi kita dengan berbagai rahmat yang membuat hidup kita semakin baik hari demi hari. Namun ada orang yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan Tuhan itu. Mereka merasa hidup bahagia yang mereka alami itu adalah usaha dari diri mereka sendiri.

Waktu saya masih kecil, saya sering pergi dengan ayah saya ke kebun. Di sana berbagai hal kami kerjakan bersama. Atau lebih tepat, saya belajar banyak hal dari ayah saya. Suatu sore, ayah saya memanjat pohon kelapa yang berada di pinggir tebing. Sebelum naik, ia berdoa terlebih dahulu. Tinggi pohon kelapa itu sekitar 25 meter.

Yang membuat saya takut adalah angin kencang berhembus dari lembah. Pohon kelapa itu diterpa oleh angin senja. Ayah saya sudah hampir sampai di atas pohon. Sontak saja saya berteriak ketakutan. Namun ayah saya tidak peduli. Ia tetap memanjat hingga memetik buah-buah kelapa yang sudah tua itu. Setelah menurunkan semua kelapa yang sudah tua itu, ia turun.

Setelah mengumpulkan kelapa-kelapa itu, ia berkata kepada saya, “Nak, waktu ayah di atas pohon kelapa, kamu tidak usah berteriak-teriak. Ayah dengar suaramu. Tetapi ayah tidak peduli. Soalnya, ayah sudah berdoa sebelum naik pohon kelapa itu. Jadi ayah percaya, Tuhan akan melindungi ayah.”

Saya tercengang mendengar kata-kata ayah. Ia begitu yakin akan perlindungan Tuhan. Ia menyerahkan keselamatan dirinya kepada Tuhan. Baginya, Tuhan itu menyelenggarakan hidup ini, sehingga ia mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Karena itu, setiap kali ia memulai suatu pekerjaan, ia selalu berdoa terlebih dahulu.

Sahabat, banyak orang mengaku sebagai orang beriman. Namun mereka sering lupa bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap hidup manusia. Ada orang-orang yang tidak bisa mengintegrasikan antara hidup keimanan dan hidup sehari-hari. Bahkan ada orang yang memisahkan keduanya. Padahal Tuhan hadir dalam setiap detik hidup manusia.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh orang beriman? Yang mesti dibuat oleh orang beriman adalah menyatukan antara yang ilahi dan yang insani. Yang ilahi bukanlah suatu kutub yang bertentangan dengan yang insani. Ketika kita melakukan doa atau meditasi, kita menyertakan yang ilahi dalam hidup manusia sehari-hari. Tuhan ingin hidup bersama manusia. Tuhan ingin manusia menerima kehadiranNya dalam diri manusia.

Untuk itu, manusia mesti membuka hatinya lebar-lebar bagi kehadiran Tuhan. Tuhan yang hadir dalam diri manusia itu menguatkan dan memberi semangat kepada manusia untuk perjalanan hidupnya di dunia ini. Tuhan ingin mengalami suka dan duka hidup manusia. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu memampukan manusia untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan yang baik. Namun doa kita itu bukan hanya memohon, tetapi juga bersyukur atas kebaikanNya. Tuhan memberi apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari.

Mari kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang kudus di hadapan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1018

23 April 2013

Bersandar pada Kebaikan Tuhan

 
Kalau Anda berhadapan dengan kesulitan-kesulitan hidup, kepada siapa Anda akan memohon bantuan? Kepada orang-orang yang terdekat dengan Anda? Atau kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang? Tentu Anda punya keyakinan bahwa Tuhan hadir dalam diri sesama Anda. Karena itu, melalui sesama itu Tuhan mengalirkan kasih sayangnya.

Ada seorang ibu yang rajin berdoa untuk adiknya yang sedang menderita penyakit gagal ginjal. Sudah enam tahun ini adiknya itu bergantung pada obat-obatan. Dua tahun terakhir ini adiknya itu mesti menjalani cuci darah. Ia berdoa agar adiknya diberi kekuatan untuk menjalani hidupnya. Pasalnya, sang adik sudah mulai putus asa. Ia tidak ingin adiknya mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak wajar. Ia ingin adiknya itu menemukan damai dalam hidupnya.

Karena itu, tak henti-hentinya ibu itu berdoa bagi kesembuhan adiknya, kalau Tuhan berkenan menyembuhkannya. Ia menyerahkan sang adik sepenuhnya pada penyelenggaraan Tuhan. Ia yakin, Tuhan yang mahabaik dan mahapenyayang itu akan memperhatikan adiknya. Ia mau, agar sang adik juga menyerahkan hidupnya pada penyelenggaraan Tuhan.

Doa-doa ibu itu berbuah. Sang adik kembali menemukan kekuatan untuk setia menjalani proses penyembuhan. Selain obat-obatan yang ia perloleh dari dokter, sang adik juga menjalani pengobatan alternatif. Hasilnya, tidak sering lagi ia menjalani proses cuci darah. Wajahnya semakin berseri-seri. Ia menemukan bahwa doa ternyata mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Ibu itu tetap setia berdoa. Baginya, berdoa berarti menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Berdoa berarti ungkapan iman yang mendalam kepada Tuhan.

Ibu itu berkata, “Saya selalu sadar bahwa saya harus selalu bersandar pada Tuhan. Dialah kekuatan bagi hidup saya dan adik saya.”

Sahabat, banyak orang berteriak-teriak kepada Tuhan, namun Tuhan seolah-olah tuli. Tuhan tidak mendengarkan doa-doa mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang berteriak tanpa punya iman yang mendalam. Orang berteriak bahkan sampai memarahi Tuhan, tetapi tidak menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.

Tentu saja kalau kita mengaku bahwa Tuhan adalah penolong kita, kita tidak hanya berteriak-teriak memohon bantuanNya. Kita juga mesti membuktikan pengakuan iman kita itu melalui hidup kita sehari-hari. Iman yang mendalam itu menjadi tampak melalui penyerahan diri yang tulus kepada Tuhan.

Sayang, banyak orang hanya mengaku dengan mulut bahwa Tuhan itu pedoman hidupnya. Dalam hidup sehari-hari, mereka tidak tunjukkan dengan sikap dan tingkah laku yang baik dan benar. Perbuatan mereka jauh dari kehendak Tuhan. Mereka melakukan sesuatu hanya demi memenuhi keinginan diri sendiri.

Karena itu, kita diajak untuk senantiasa menyerahkan hidup ke dalam kuasa Tuhan. Bersandar pada Tuhan merupakan pilihan utama kita baik dalam untung maupun malang. Kita tetap setia kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

966

26 Juni 2012

Bersyukur dalam Situasi Apapun

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda tiba-tiba mengalami penderitaan dalam hidup ini? Anda putus asa? Atau Anda mau berusaha untuk mensyukuri kebaikan Tuhan?

Hesti divonis menderita kanker payudara yang ganas. Kalau ia tidak mengobatinya dengan baik, nyawanya akan melayang. Namun Hesti tidak peduli terhadap vonis itu. Ia yakin, penyakit yang dideritanya tidak ada hubungan langsung dengan kematian.

Menurutnya, banyak orang sehat yang juga tanpa disangka akhirnya meninggal terlebih dulu. Untuk itu, ketika masih ada waktu hidup yang diperolehnya, dirinya mengaku sangat bersyukur. Ia boleh hidup dengan enak. Ia menjalani hidupnya dengan biasa-biasa saja.

Rasa syukur diungkapkan Hesti dengan belajar menerima keadaan dan berbagi kepada penderita kanker lainnya. Bahkan, dengan suara indahnya, ia juga mengaku ingin terus berbagi kepada orang lain, baik para penderita kanker maupun yang tidak.

Ia berkata, “Kesulitan kita adalah menerima apa yang Tuhan ijinkan terjadi. Walaupun saya menderita sudah hampir tiga tahun, tapi tetap pelayanan saya jalan. Saya tetap mempromosikan ASI. Selain itu, saya kerja sama dengan dokter saya untuk ngobrol dan memberikan dorongan kepada penderita kanker yang ditangani dokter saya.”

Sahabat, sering orang panik menghadapi vonis dokter atas penyakit yang dideritanya. Orang merasa bahwa vonis itu sudah menjadi akhir dari segala-galanya. Tidak ada jalan lain. Tidak ada kesempatan lagi untuk keluar dari situasi seperti itu. Orang merasa hidupnya sudah berakhir.

Kisah di atas memberi kita wawasan baru bahwa orang mesti mensyukuri hidup ini. Meski terjadi situasi yang kurang menguntungkan, orang mesti berani bersyukur. Artinya, orang mau menerima hidupnya sebagai rahmat Tuhan. Orang mesti berani menerima keadaan dirinya tanpa banyak menggerutu. Orang mesti menjalani hidup ini dengan hati yang lapang.

Sering manusia tidak sabar dalam hidupnya. Manusia mau segala-galanya selesai dalam waktu yang singkat. Padahal untuk sembuh dari suatu penyakit yang ganas, orang mesti menjalani proses pengobatan. Proses itu kadang-kadang singkat, tetapi lebih banyak membutuhkan waktu yang panjang.

Karena itu, orang beriman mesti menaruh pengharapan pada Tuhan. Dialah kekuatan dalam menjalani hari-hari yang penat oleh berbagai penyakit. Tuhanlah yang mampu memenangkan seseorang dalam perjuangan melawan penyakit yang dideritanya.

Untuk itu, sikap syukur mesti menjadi bagian dari hidup orang beriman. Artinya, orang beriman mensyukuri kebaikan Tuhan. Orang beriman mesti menyadari bahwa Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup ini. Mari kita berusaha untuk mensyukuri kebaikan Tuhan, meski penyakit sering mendera hidup kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

914

20 Januari 2012

Mensyukuri Kebaikan Tuhan

Apa sikap Anda ketika Anda mengalami kejatuhan dalam perjalanan hidup ini? Apakah Anda senantiasa memiliki sikap syukur atas anugerah Tuhan bagi hidup Anda?

Ada seorang teman menceritakan pengalaman hidupnya. Ia mengaku, sering ia merasakan keajaiban dalam hidupnya. Tidak pernah terpikir ia akan tinggal di kota besar dan bertemu orang-orang hebat, kenal dengan orang-orang kaya. Atau bergaul dengan para pemuka agama dan ikut menjadi saksi sejarah akan kejatuhan rezim Orde Baru yang sangat berkuasa dan ditakuti. Bahkan ia kemudian punya keluarga.

“Sepertinya semua berjalan begitu saja dan mengalir tanpa ada yang aneh. Tetapi ketika kesadaran itu muncul, saya mengakui ini semua adalah karya Tuhan yang luar biasa. Apalagi ketika datang ke Jakarta, saya hanya berbekal baju dan uang seadanya. Sungguh patut untuk saya syukuri. Saya tidak pernah berhenti untuk bersyukur,” kata teman itu.

Pernah ia memaksakan diri juga untuk melakukan sebuah perubahan yang belum saatnya untuk dilakukan. Tetapi akibatnya menjadi berantakan. Ketika itu, dasar fundamental keuangannya belum siap. Pengetahuan belum cukup dan pengalaman masih minim sekali. Ia tidak peduli terhadap masukan-masukan dari orang-orang lain. Ia memaksa untuk wiraswasta bersama teman-temannya. Namun ketika usaha itu gagal, efek yang ditimbulkan berakibat fatal. Yang paling menderita adalah keluarga.

“Semua tabungan habis dan hutang menjadi bertambah. Beberapa aset terpaksa dijual demi kelangsungan hidup,” katanya.

Baginya, ini semua pelajaran yang sangat berharga, karena punya telinga tetapi tuli. Punya mata tetapi buta dan punya perasaan tetapi mati. Karena itu, ia berusaha untuk mensyukuri setiap pemberian Tuhan. Ia berusaha untuk menerima apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dengan demikian, ia mengalami damai dalam hidupnya. Ia boleh bangkit lagi dari keterpurukannya untuk meraih sukses.

Sahabat, banyak orang ingin meraih sukses yang setinggi-tingginya. Banyak orang seolah-olah merasa hidup ini belum memiliki makna kalau belum punya segala-galanya. Akibatnya, orang menjadi stress saat kegagalan menghadang cita-cita mereka. Mereka menjadi orang yang murung dalam hidup ini. Mereka menjadi orang yang tidak berdaya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa setiap sikap syukur atas pemberian Tuhan akan menghasilkan banyak buah. Orang yang senantiasa bersyukur adalah orang yang tidak ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya secara instan. Ia tidak ingin cepat-cepat memiliki apa saja yang dibutuhkannya demi hidupnya.

Orang beriman itu orang yang mengalami proses kehidupan. Orang seperti ini biasanya berani bergulat dengan dirinya sendiri. Orang yang mau berkorban untuk kebahagiaan dirinya. Ia senantiasa memperhitungkan penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup adalah hati yang senantiasa tidak tamak akan harta kekayaan. Mengapa? Karena kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Kekayaan hanya menjadi sarana untuk meraih kebahagiaan dalam hidup. Jadi kalau harta kekayaan itu tidak membuat orang bahagia, orang mesti meninggalkannya.

Mari kita mensyukuri kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, kita mengalami kebahagiaan bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



858

16 Juli 2010

Bersyukur Atas Kebaikan Tuhan

Ada seorang ibu rumah tangga yang setiap hari mengumpulkan anak-anaknya setelah makan malam. Mereka mendoakan sang ayah yang selalu pulang larut malam dan senantiasa mabuk. Ibu dan anak-anaknya memohon kepada Tuhan, semoga ayah tercinta bertobat, tidak selalu pulang hanya untuk memarahi semua, bertengkar, malahan memukuli mereka.

Setelah beberapa tahun, doa ini tidak kelihatan kemajuan apa-apa, sehingga dalam frustrasinya ibu itu datang ke seorang pastor untuk mengadu. Ia berkata, “Kurang apa doa kami, Pastor. Coba lihat, tidak ada hasil yang kelihatan sama sekali.”

Pastor yang bijaksana turut merasa bingung, tapi tiba-tiba ada jalan keluar. Katanya kepada ibu itu, “Nanti malam coba mengganti doa permohonan itu dengan doa syukur.”

Jawab ibu itu, “Bersyukur atas apa, pastor? Kami hanya sengsara belaka.”

Kata Pastor itu, “Tidak, coba periksa segala unsur dan bagian dari hidupmu, bukankah ada tiga anak yang sehat, rajin dan taat kepada ibunya? Bukankah mereka juga sabar dan hormat pada ayah yang brengsek, sehat. Bukankah mereka berhasil dalam studi di sekolah? Bukankah ibu sendiri memiliki iman yang hidup, rajin beribadat, sehat sehingga dapat mengurus rumah tangga dengan baik?”

Sang ibu mulai sadar. Lantas pastor itu berkata lagi, “Bukankah sang suami yang tidak menyenangkan dan kelihatan gagal, toh diberi daya tahan sehingga minuman keras yang ia habisi setiap hari ternyata tidak sampai mengambil nyawanya? Pasti banyak hal lain lagi yang positif dan pantas disyukuri.”

Lalu dengan sedikit malu, ibu itu minta diri dan pulang. Habis makan malam, seperti biasa ia berlutut bersama anak-anak untuk berdoa. Kali ini mereka tidak meminta apa-apa dari Tuhan. Mereka hanya bersyukur dan berterima kasih atas segala yang dapat mereka ingat dan kemukakan.

Beberapa jam kemudian sang ayah pulang. Ternyata ia tidak mabuk seperti biasa. Ia mengumpulkan isteri dan anak-anaknya lalu di hadapan mereka dan sambil memeluk mereka, ia menangis. Ia minta maaf karena ia bukan suami dan ayah yang baik. Ia bertobat, menjadi orang yang berhati baru. Hasil dari doa syukur. Keluarga itu sangat gembira bersama dan bersyukur dengan penuh gelora atas kebaikan Tuhan yang hanya menunggu orang bersyukur sebelum Ia memberi yang baik dan yang lama diharapkan.

Tentu saja kisah di atas sangat menyentuh hati kita. Ternyata tidak selamanya doa itu mesti meminta dan meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita segala yang kita butuhkan. Doa juga berarti bersyukur atas kebaikan Tuhan atas hidup ini. Berapa dari Anda yang mensyukuri kebaikan Tuhan atas hidup Anda? Mungkin hanya sedikit yang mau bersyukur kepada Tuhan. Banyak dari kita hanya meminta kepada Tuhan untuk diberi kekuatan bagi hidup kita.

Sebagai orang beriman, kita mesti berusaha untuk senantiasa mensyukuri kebaikan Tuhan. Hidup ini adalah rahmat Tuhan. Kita hidup karena belas kasihan Tuhan. Karena itu, pantaslah kita senantiasa berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur menunjukkan betapa kita memiliki iman yang mendalam kepada Tuhan. Apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita, kita mau menerima dengan lapang dada. Dengan tangan terbuka kita menerima kebaikan Tuhan itu. Mari kita terus-menerus bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan mencintai kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



440

Bagikan

12 Juni 2010

Mensyukuri Kebaikan Tuhan

Ada seorang janda yang kehilangan putranya. Putranya itu meninggal dalam suatu kecelakaan lalulintas. Ia sangat mengasihi anaknya itu. Ia sangat menderita begitu melihat jenasah putranya. Baginya, putranya itu tumpuan harapan hidupnya. Putranya itu bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang putrinya yang masih sekolah. Tetapi kenapa Tuhan begitu cepat memanggilnya?

Dalam kesedihannya yang mendalam itu, ibu itu akhirnya mau menerima kenyataan itu. Ia harus berpisah dengan putranya. Sekarang ia mesti mengandalkan dirinya sendiri. Ia tidak perlu putus asa. Ia tidak perlu tenggelam dalam kesedihan yang terus-menerus. Ia mesti memasrahkan dirinya pada yang kuasa.

Dengan cara seperti itu, janda itu menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam hidupnya. Ia memusatkan perhatiannya pada usaha-usaha untuk menyejahterakan keluarga. Ia berhasil. Dari usaha sebuah warung kopi yang laris manis, ia berhasil membiayai putrinya sampai perguruan tinggi.

Tentang kesuksesannya itu, ia berkata, ”Ini semua bukan semata-mata karena usaha saya. Ini semua karena rahmat Tuhan. Tuhan begitu baik kepada saya. Tuhan memberikan jalan keluar yang sangat tepat untuk saya. Terima kasih, Tuhan.”

Hidup itu suatu perjuangan. Paling tidak prinsip ini dipegang oleh sejumlah orang untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Menurut mereka, kalau orang tidak mau berusaha dan berjuang, orang akan menjadi manusia biasa-biasa saja. Orang tidak akan menjadi manusia super. Manusia yang istimewa. Karena itu, mereka tidak pernah berhenti berusaha.

Bagi mereka, Tuhan terlibat dalam usaha-usaha itu. Tuhan memberikan tuntunan agar mereka menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup ini. Untuk itu, mereka mensyukuri setiap rahmat yang mereka terima dari Tuhan. Mengapa mereka mesti bersyukur? Karena hidup ini milik Tuhan. Apa pun hasil yang mereka peroleh, semua itu milik Tuhan. Manusia hanya dipercaya oleh Tuhan untuk mengelola milik Tuhan itu.

Apa sikap orang beriman terhadap setiap bentuk dari kasih karunia Tuhan? Tidak dapat disangkal bahwa ada orang yang tega menyombongkan kesuksesannya. Ada orang yang merasa bahwa kesuksesan yang dicapainya itu merupakan usahanya sendiri. Karena itu, mereka lupa dari mana asal muasal kesuksesan mereka itu. Biasanya orang yang sombong itu tidak akan lama bertahan. Mereka akan hancur oleh keangkuhan mereka sendiri.

Karena itu, kita mesti memiliki kerendahan hati. Ketika orang rendah hati, orang mampu menerima setiap bentuk kesuksesan yang mereka capai. Bahkan orang mampu menerima setiap kegagalan yang mereka alami. Bagi mereka, hanya Tuhan yang mampu memberi mereka rahmat untuk mengalami kesuksesan dalam hidup ini. Belajar dari janda yang kehilangan putranya itu, mari kita berusaha untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas semua kebaikanNya. Tuhan memberkati. **



Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

1. Apakah Anda merasakan keterlibatan Tuhan dalam hidup Anda?

2. Bagaimana Anda mensyukuri kebaikan Tuhan dalam hidup Anda?

3. Mengapa Anda mesti mensyukuri kebaikan Tuhan itu?



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

406



Bagikan

20 Agustus 2009

Mewartakan Kebaikan Tuhan

Setiap hari seorang kepala suku Indian selalu bersaksi tentang betapa baiknya Tuhan bagi hidupnya. Di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja, ia pasti menceritakan betapa besar kasih Tuhan atas dirinya. Teman-temannya heran melihat sikap kepala suku itu. Apalagi sebelumnya ia selalu mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.

Karena itu, mereka bertanya, “Mengapa Anda selalu membicarakan kebaikan Tuhan? Apa tidak ada topik pembicaraan lain yang lebih menarik?”

Kepala suku itu terdiam sejenak. Lalu ia mengumpulkan rumput dan ranting-ranting pohon yang ada di sekitarnya. Dengan bahan-bahan itu, ia membuat sebuah lingkaran kecil. Kemudian di tengah-tengah lingkaran itu ia meletakkan seekor ulat. Teman-temannya semakin heran melihat perbuatannya. Namun mereka menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.

Lantas ia menyalakan api dan menyulut rumput dan ranting yang membentuk lingkaran itu. Dengan cepat api menyala dan ulat yang berada di tengah-tengahnya menggeliat mencari jalan keluar dari panas yang membara itu. Namun sia-sia saja perbuatannya itu. Sebentar lagi ulat itu akan hangus ditelan api yang kian berkobar. Tetapi ketika api semakin mendekati ulat, ulat itu mengangkat kepalanya setinggi-tingginya. Ia mengharapkan pertolongan. Ia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Ia butuh pertolongan dari luar dirinya.

Beberapa saat kemudian kepala suku itu mengulurkan jari telunjuknya kepada ulat yang sedang mengangkat kepalanya. Dengan cepat ulat itu merapat di jari tangan kepala suku itu lalu keluar dengan selamat.

Kepala suku itu berkata, “Seperti itulah kebaikan Tuhan kepada saya. Saya ini orang berdosa yang terancam hukuman di api neraka yang kekal. Saya sungguh-sungguh tidak berdaya. Saya sudah terjebak dalam dosa yang begitu ngeri. Tetapi belas kasihan Tuhan telah menyelamatkan saya. Bukankah Tuhan begitu baik?”

Memang Tuhan itu baik. Tuhan tidak memandang betapa besar dosa manusia. Tuhan mau menyelamatkan manusia, meskipun begitu banyak dosa manusia. Meskipun manusia sering membangkang dan tidak setia, Tuhan tetap setia. Tuhan terus-menerus mendekati manusia untuk menawarkan belas kasihanNya.

Sadarkah manusia akan kebaikan Tuhan ini? Bukankah manusia lebih suka mengandalkan kemampuan dirinya sendiri? Bukankah manusia lebih setia kepada dirinya sendiri, meskipun dosa dan kejahatan sering menjadi bagian hidupnya? Kalau manusia mau menerima belas kasihan Tuhan, pasti Tuhan akan selalu hadir dalam hidupnya. Namun Tuhan selalu hadir dalam setiap pergumulan hidup manusia. Tuhan juga hadir dalam kegelapan dan penderitaan manusia.

Karena itu, orang beriman mesti selalu memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan. Di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun semestinya kita menceritakan bahwa Tuhan itu sungguh baik. Tuhan selalu terlibat dalam suka dan duka hidup kita. Mari kita senantiasa setia kepada Tuhan, karena Tuhan lebih dahulu telah setia kepada kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

139

03 Agustus 2009

Menerima Kebaikan Tuhan

Menerima Kebaikan Tuhan



Samakah keadilan Tuhan dan keadilan yang dipraktekkan oleh manusia? Coba kita lihat keadilan yang didengung-dengungkan dan dipraktekan oleh manusia. Menurut orang-orang keadilan itu berarti orang menerima hak yang sama dengan hak orang lain. Semua orang mesti mendapat bagian yang sama, yaitu sama rasa, sama rata. Kalau tidak demikian, namanya tidak adil. Orang yang tidak bersikap dan bertindak adil itu biasanya mendapatkan hukuman.

Namun keadilan Tuhan tidak demikian. Tuhan telah menciptakan manusia dengan memberi mereka kemampuan masing-masing. Tuhan memberi rahmat kepada masing-masing manusia sesuai dengan kemampuannya pula. Karena itu, Tuhan ingin agar manusia mampu mengembangkannya dalam hidup sehari-hari.

Dalam pengajaranNya, Yesus menampilkan Tuhan yang begitu baik kepada manusia. Tuhan memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kasih Tuhan itu tidak pandang bulu. Tuhan memberi kebaikannya kepada semua orang. Bahkan Tuhan memberi hal-hal yang baik kepada orang-orang yang jahat. Karena itu, Tuhan mengharapkan manusia tidak iri hati, ketika sesamanya mendapatkan kemurahan dari Tuhan.

Mengapa manusia tidak boleh iri hati? Karena Tuhan sudah memberi rahmatNya kepada masing-masing orang. Tuhan menghendaki agar manusia mampu mengembangkannya. Tidak membiarkan kemampuannya itu berlalu begitu saja.

Tuhan itu baik kepada semua orang. Tetapi Tuhan mengutamakan kebaikannya kepada mereka yang kekurangan. Kebaikan Tuhan itu total. Kebaikan Tuhan itu untuk keselamatan manusia. Karena itu, sikap manusia terhadap kebaikan Tuhan adalah berani menerima kebaikan Tuhan itu dalam hidupnya.

Soalnya adalah ada orang yang terus-menerus menuntut, agar Tuhan selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Mereka selalu berdoa memohon kepada Tuhan. Bahkan mereka memaksa Tuhan untuk mengabulkan permohonan-permohonan mereka. Benarkah demikian? Bukankah ini justru suatu ketidakadilan?

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita menerima apa yang menjadi belas kasihan Tuhan atas diri kita. Kita mesti yakin bahwa Tuhan selalu baik kepada kita. Tuhan tidak akan menyakiti hati kita. Tuhan tetap setia kepada kita, meskipun kita sering kali tidak setia kepadaNya. Mari kita berusaha untuk menerima kebaikan Tuhan bagi hidup kita. Menerima berarti kita ingin mengandalkan Tuhan dalam hidup kita.

Untuk itu, kita mesti mengubah sikap pandang kita. Kita mesti berusaha untuk tidak iri hati kepada sesama yang sukses dalam hidupnya. Mereka yang sukses itu sungguh-sungguh menggunakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Mampukah kita menggunakan kebaikan Tuhan bagi pertumbuhan hidup kita, baik jasmani maupun rohani? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

29 Juli 2009

Kebaikan Tuhan Tak Terbatas


Di suatu negeri terjadi krisis yang luar biasa di berbagai bidang kehidupan. Melihat kondisi itu, seorang calon pemimpin resah. Ia datang kepada Tuhan untuk berkeluh kesah. Ia berkata, “Negeri kami sedang mengalami krisis, Tuhan. Banyak partai berebut kekuasaan.”

Tuhan mendengarkan keluh kesahnya. Lalu Tuhan bertanya kepadanya, “Dan para pemimpin salitig menjual pengaruh?”

Calon pemimpin itu menjawab dengan mantap, "Ya. Bahkan untuk menarik massa, mereka saling menjatuhkan.”

Tuhan menjawab, “Itu biasa!”

Calon pemimpin itu berkata, “Tetapi tampaknya akan sangat berbahaya!”

Tuhan menjawab, “Manusia selalu saja berambisi membangun kekuasaan tertinggi! Bahkan mereka hampir tidak mengenal Aku, karena begitu yakin akan kemampuan mereka sendiri!”

Dengan nada kecewa, Tuhan mengakhiri dialog doa itu, "Mereka baru datang padaKu ketika menyadari posisi mereka sedang lemah.”

Membangun relasi dengan Tuhan bukan saja dilakukan di saat-saat kita mengalami kesulitan atau berada dalam situasi terjepit. Mengapa? Karena Tuhan selalu ingin dekat dengan kita. Tuhan selalu ingin membangun relasi yang lebih dekat dengan manusia. Tuhan ingin agar manusia mengalami suatu suasana yang membahagiakan dalam hidup ini.

Tuhan yang kita imani itu Tuhan yang ingin selalu terlibat dalam suka dan duka hidup manusia. Dalam sejarah pengalaman umat manusia, hal ini sungguh-sungguh terjadi. Nabi Musa, misalnya, mengalami penyertaan Tuhan dalam seluruh hidupnya. Ketika ia mengalami kesulitan dari Firaun, Tuhan membantunya. Dengan berbagai cara Tuhan melibatkan diri dalam pekerjaan Nabi Musa itu. Tuhan membantunya dengan menurunkan tulah-tulah yang mengganggu kehidupan Firaun dan rakyat Mesir.

Atau ketika umat Israel berada di padang guru, Tuhan juga membantu mereka dengan memberi mereka air dan roti dari surga. Tuhan begitu baik. Tuhan tidak melukai hati manusia, bahkan ketika manusia tidak setia kepadaNya.

Seringkali kita kurang menyadari kasih setia Tuhan ini. Kita baru menyadarinya ketika kita berada dalam kegelapan hidup ini. Padahal Tuhan ingin membahagiakan kita. Kisah di atas menjadi salah satu contoh bagaimana dalam suasana krisis baru manusia datang kepada Tuhan. Padahal Tuhan ingin agar kita senantiasa membangun relasi yang baik dengan Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar setiap langkah hidup kita merupakan cerminan kedekatan kita dengan Tuhan. Kita mau membangun hidup yang lebih baik. Kita ingin membangun relasi yang lebih baik, kapanpun dan di mana pun dengan Tuhan.

Untuk itu, orang beriman mesti berani merendahkan diri di hadapan Tuhan. Orang beriman mesti berani mengosongkan dirinya, agar Tuhan dapat masuk dan tinggal di dalam dirinya. Kesombongan hanya membuat relasi manusia dengan Tuhan menjadi jauh. Mari kita sadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (103)