Pages

Tampilkan postingan dengan label harta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harta. Tampilkan semua postingan

20 Januari 2012

Mensyukuri Kebaikan Tuhan

Apa sikap Anda ketika Anda mengalami kejatuhan dalam perjalanan hidup ini? Apakah Anda senantiasa memiliki sikap syukur atas anugerah Tuhan bagi hidup Anda?

Ada seorang teman menceritakan pengalaman hidupnya. Ia mengaku, sering ia merasakan keajaiban dalam hidupnya. Tidak pernah terpikir ia akan tinggal di kota besar dan bertemu orang-orang hebat, kenal dengan orang-orang kaya. Atau bergaul dengan para pemuka agama dan ikut menjadi saksi sejarah akan kejatuhan rezim Orde Baru yang sangat berkuasa dan ditakuti. Bahkan ia kemudian punya keluarga.

“Sepertinya semua berjalan begitu saja dan mengalir tanpa ada yang aneh. Tetapi ketika kesadaran itu muncul, saya mengakui ini semua adalah karya Tuhan yang luar biasa. Apalagi ketika datang ke Jakarta, saya hanya berbekal baju dan uang seadanya. Sungguh patut untuk saya syukuri. Saya tidak pernah berhenti untuk bersyukur,” kata teman itu.

Pernah ia memaksakan diri juga untuk melakukan sebuah perubahan yang belum saatnya untuk dilakukan. Tetapi akibatnya menjadi berantakan. Ketika itu, dasar fundamental keuangannya belum siap. Pengetahuan belum cukup dan pengalaman masih minim sekali. Ia tidak peduli terhadap masukan-masukan dari orang-orang lain. Ia memaksa untuk wiraswasta bersama teman-temannya. Namun ketika usaha itu gagal, efek yang ditimbulkan berakibat fatal. Yang paling menderita adalah keluarga.

“Semua tabungan habis dan hutang menjadi bertambah. Beberapa aset terpaksa dijual demi kelangsungan hidup,” katanya.

Baginya, ini semua pelajaran yang sangat berharga, karena punya telinga tetapi tuli. Punya mata tetapi buta dan punya perasaan tetapi mati. Karena itu, ia berusaha untuk mensyukuri setiap pemberian Tuhan. Ia berusaha untuk menerima apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dengan demikian, ia mengalami damai dalam hidupnya. Ia boleh bangkit lagi dari keterpurukannya untuk meraih sukses.

Sahabat, banyak orang ingin meraih sukses yang setinggi-tingginya. Banyak orang seolah-olah merasa hidup ini belum memiliki makna kalau belum punya segala-galanya. Akibatnya, orang menjadi stress saat kegagalan menghadang cita-cita mereka. Mereka menjadi orang yang murung dalam hidup ini. Mereka menjadi orang yang tidak berdaya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa setiap sikap syukur atas pemberian Tuhan akan menghasilkan banyak buah. Orang yang senantiasa bersyukur adalah orang yang tidak ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya secara instan. Ia tidak ingin cepat-cepat memiliki apa saja yang dibutuhkannya demi hidupnya.

Orang beriman itu orang yang mengalami proses kehidupan. Orang seperti ini biasanya berani bergulat dengan dirinya sendiri. Orang yang mau berkorban untuk kebahagiaan dirinya. Ia senantiasa memperhitungkan penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup adalah hati yang senantiasa tidak tamak akan harta kekayaan. Mengapa? Karena kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Kekayaan hanya menjadi sarana untuk meraih kebahagiaan dalam hidup. Jadi kalau harta kekayaan itu tidak membuat orang bahagia, orang mesti meninggalkannya.

Mari kita mensyukuri kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, kita mengalami kebahagiaan bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



858

23 November 2010

Bukan karena Warisan

Ada seorang perempuan yang begitu bangga terhadap salah seorang anaknya. Pasalnya, anaknya ini sangat peduli terhadap dirinya. Apa saja yang dibutuhkannya dipenuhi oleh sang anak. Ia diajak anaknya berjalan-jalan ke luar negeri untuk menikmati indahnya musim semi. Ia diberi kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Eropa yang menjadi kerinduannya sejak masih muda.

Namun ibu ini tetap menaruh curiga terhadap kebaikan anaknya. Karena itu, ia bertanya kepadanya, “Nak, apa yang membuat kamu begitu baik kepada mama? Apa karena mama punya warisan untukmu?”

Sang anak terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Ia tidak habis pikir, mengapa mamanya sampai bertanya begitu. Dengan wajah yang sedih, sang anak menjawab, “Saya melakukan semua ini dengan setulus hati saya. Mama telah mengandung, melahirkan dan membesarkan saya. Sekarang giliran saya melakukan sesuatu yang terbaik untuk mama.”

Sang mama sangat terharu mendengar kata-kata sang anak. Sejak itu, ia tidak pernah mempertanyakan lagi perbuatan baik yang dilakukan anaknya. Ia berusaha untuk membahagiakan anaknya dengan menerima setiap perbuatan baik anaknya. Baginya, itulah tanda penyertaan Tuhan atas dirinya.

Sahabat, kasih orangtua bagi anak-anaknya begitu besar. Tidak pernah lekang oleh perubahan zaman. Namun tidak berarti kasih yang mereka miliki itu tidak kreatif. Sungguh, kasih mereka bukan kasih yang mati. Kasih mereka terus bertumbuh dan berkembang sesuai dengan perjalanan jaman.

Karena itu, pantaslah seorang anak menunjukkan kasihnya kepada orangtuanya. Bukan berarti mau membalas budi baik orangtuanya. Tetapi itulah hakekat dari setiap orang yang mesti selalu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada orang lain. Mengapa? Karena utang harta dapat dibayar, namun utang budi dibawa mati. Orang tidak dapat membalas kebaikan orang lain secara persis. Perbuatan baik tetaplah suatu perbuatan baik.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang yang peduli terhadap kebaikan orangtuanya akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Kebaikan-kebaikan yang dilakukannya untuk orangtuanya sebenarnya ia lakukan untuk dirinya sendiri. Mengapa? Karena dengan demikian, ia terlahir dari buah kasih sayang orangtuanya. Ia tumbuh dalam kasih sayang orangtuanya.

Untuk itu, orang beriman mesti selalu menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap orang-orang yang dekat dengannya. Orang tidak boleh menciptakan suasana dendam atau iri hati terhadap sesamanya yang baik kepadanya. Hanya dengan menumbuhkan kasih sayang itu, orang dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai orang yang beriman kepada Tuhan.

Mari kita menjunjung tinggi kasih sayang terhadap orangtua kita. Mereka telah mengasihi kita. Mereka telah menanamkan nilai-nilai yang baik dalam diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


554

31 Agustus 2010

Membangun Pesaudaraan dengan Harta yang dapat Binasa


Ada dua orang bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.

Suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir, ”Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit.”

Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya.

Sementara itu, saudaranya yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya, ”Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti. Sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun. Tidak seorang pun akan peduli padanya pada masa tuanya.”

Karena itu, setiap malam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudara satu-satunya itu.

Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu menyimpan rahasia itu masing-masing. Sementara itu, padi mereka sesungguhnya tidak pernah berkurang. Suatu malam keduanya bertemu dan barulah saat itu mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan.

Harta kekayaan bisa menjadi pemersatu dalam kehidupan berkeluarga. Tetapi harta kekayaan bisa saja memecah belah persaudaraan. Hal ini tergantung dari bagaimana orang memaknai kehadiran harta kekayaan dalam hidupnya. Orang yang hidupnya untuk mengejar harta akan menaruh obsesinya pada harta kekayaan. Orang seperti ini berusaha mati-matian untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Kadang ia lupa bahwa hartanya yang banyak itu tidak dapat ia gunakan. Ia senang mengumpulkannya, tetapi belum tentu dapat menggunakannya dengan baik.

Tetapi orang yang menggunakan harta kekayaan untuk kesejahteraan hidupnya akan memandang harta sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Harta kekayaan yang banyak itu bukan tujuan kebahagiaan hidup manusia. Tujuan utama kehidupan manusia adalah kebahagiaan, bukan mengumpulkan harta. Orang seperti ini akan menggunakan harta kekayaan untuk membangun persaudaraan. Ia memandang setiap orang sebagai sahabat yang dapat membantunya mencapai tujuan hidup, yaitu kebahagiaan.

Kisah tadi mengingatkan kita, agar kita memupuk persaudaraan dengan menggunakan harta kekayaan yang kita miliki. Kedua saudara itu tidak mau persaudaraan mereka rusak hanya karena kehadiran harta kekayaan.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk senantiasa menemukan makna hidup di balik harta kekayaan yang kita miliki itu. Karena itu, mari kita perkuat persaudaraan dalam hidup kita dengan menggunakan harta yang dapat binasa. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

484

08 Desember 2009

Harta Kekayaan Bukan Tujuan Hidup Manusia



Ada sepasang suami istri yang sangat sibuk dengan berbagai usaha mereka. Mereka jarang sekali bertemu di rumah. Mereka juga tidak punya waktu untuk anak-anak mereka. Mereka berprinsip ‘asal ada uang semua akan beres’. Karena itu, anak-anak mereka jarang jumpai. Mereka menyediakan uang saku yang banyak untuk masing-masing anak.

Mereka terus memperluas usaha-usaha mereka di kota-kota lain. Mereka tidak pernah lelah mencari peluang-peluang baru. Mereka tidak pernah menyerah pada tantangan dan kesulitan yang menghadang mereka. Padahal mereka sudah punya segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk hidup selama lima puluh tahun lagi.

Suami istri ini memang tidak pernah puas atas apa yang telah mereka miliki. Mereka ingin memiliki barang-barang kebutuhan hidup yang sebanyak-banyaknya. Hidup mereka sudah berkecukupan. Namun mereka masih saja tetap mau mengumpulkan harta kekayaan untuk diri mereka.

Suatu hari mereka diingatkan oleh salah seorang anak mereka yang merasa bosan tinggal di rumah. Anak itu mengatakan bahwa kedua orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi. “Mama, coba pikirkan kami. Kekayaan yang mama dan papa kumpulkan itu tidak lebih berharga dari kami,” kata anak itu kepada mamanya.

Namun sang mama cuek saja. Ia menganggap anaknya itu sudah cukup mendapatkan perhatian melalui uang saku yang semakin banyak setiap bulan itu. Bahkan ia keberatan terhadap kata-kata anaknya itu. Ia tetap jarang berada di rumah bersama anak-anaknya. Harta kekayaan sungguh-sungguh sangat menguasai dirinya. Ia tidak bisa lepas lagi dari kekayaannya itu.

Kelekatan pada harta kekayaan membawa orang jatuh pada menghalalkan segala cara. Demi uang, suami istri bisa mengabaikan tugas utama mereka dalam mendidik anak-anak mereka. Demi uang, mereka bisa meninggalkan rumah dan keluarga dalam waktu yang lama.

Harta kekayaan dapat menyilaukan mata orang. Akibatnya, orang menilai hidup ini dari seberapa banyak harta kekayaan yang dimiliki seseorang. Tentu saja hal ini akan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Ada begitu banyak dimensi dalam pribadi manusia yang dapat hilang hanya karena orang terlalu lekat pada harta kekayaan itu.

Karena itu, sebagai orang beriman kita mesti hati-hati terhadap harta kekayaan itu. Harta mesti digunakan sebagai sarana untuk membantu hidup manusia menjadi lebih baik. Harta kekayaan itu bukan tujuan hidup manusia. Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. Harta kekayaan dapat membantu manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.

Ada nasihat, ‘Kuasailah harta kekayaan, maka engkau akan menang.’ Mari kita menggunakan harta kekayaan yang kita miliki dengan sebaik-baiknya demi kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

254
Bagikan

10 Oktober 2009

Mengolah Harta untuk Kebahagiaan Hidup

Di sebuah keluarga terjadi keributan antara dua orang anak. Anak pertama sangat suka akan anjing. Ia memiliki tiga ekor anjing kecil dari berbagai ras yang berbeda. Ia memeliharanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Waktu luangnya ia habiskan untuk ketiga anjing ini. Bahkan uang saku yang diberikan oleh orangtuanya habis untuk membeli makanan bagi ketiga anjingnya.

Kalau ada anggota keluarga yang mengganggu anjing-anjingnya, ia menjadi sangat marah. Ia akan membela mati-matian ketiga anjingnya. Bahkan bisa terjadi perang mulut.

Sementara anak kedua tidak suka memelihara binatang. Waktu-waktu luangnya ia gunakan untuk memelihara tanaman di halaman rumahnya. Ia begitu perhatian terhadap tanaman-tanaman itu. Ia punya koleksi tanaman-tanaman yang mahal dari berbagai jenis tanaman.

Suatu hari, anjing-anjing milik kakaknya menggunakan bunga-bunga di halaman rumah itu sebagai teman main. Banyak bunga yang rusak. Sang kakak membiarkan saja anjing-anjing itu menggigit bunga-bunga yang mahal dan indah itu. Tidak lama kemudian datang sang adik yang menendangi anjing-anjing itu satu per satu. Ia marah melihat tanamannya dirusak. Sang kakak tidak bisa menerima perlakukan adiknya terhadap anjing-anjingnya. Mereka pun bertengkar. Keributan besar terjadi di antara mereka. Mereka hampir saja berkelahi. Untung, sang ibu datang melerai dan mendamaikan keduanya.

Harta dunia yang kita miliki bisa menjadi pemicu perpecahan. Keributan bisa terjadi gara-gara apa yang kita senangi dirusak oleh orang lain. Emosi kita bisa meluap-luap, kalau barang yang begitu berharga dan kita cintai hilang atau rusak. Bisa saja kita tidak bisa tidur berhari-hari hanya memikirkan barang-barang berharga yang hilang atau rusak oleh keteledoran kita.

Kita memang membutuhkan harta atau barang-barang untuk kelanjutan hidup kita. Tidak ada orang yang dapat hidup di dunia ini secara baik, kalau ia tidak memiliki uang atau barang-barang. Karena itu, kita pasti ingin tetap menjaga baik-baik harta kekayaan yang kita miliki.

Namun cinta yang berlebihan terhadap harta kekayaan dapat membawa bencana dalam hidup kita. Kalau kita terlalu terikat pada apa yang kita miliki akan membiarkan barang-barang itu menguasai diri kita. Padahal semestinya kitalah yang menguasai barang-barang atau harta kekayaan itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menggunakan harta kekayaan itu untuk membangun persaudaraan dan damai. Orang beriman itu sadar bahwa harta kekayaan itu hanyalah sarana untuk kelangsungan hidupnya. Harta kekayaan itu bukan tujuan dari hidup ini. Tujuan utama hidup kita adalah mengalami kebahagiaan dan damai dengan sarana harta yang kita miliki. Percuma kita memiliki harta kekayaan, tetapi hidup kita tidak bahagia. Percuma kita bekerja mati-matian untuk mengumpulkan harta, tetapi hidup kita selalu dikejar-kejar oleh ketakutan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


193