Pages

10 November 2009

Menjadi Berkat bagi Sesama

Seorang perempuan berkulit hitam bernama Rosa Park memberikan inspirasi bagi Marthin Luter King untuk memulai gerakan anti rasial di Amerika Serikat. Suatu hari Rosa Park naik bis kota di kota Georgia, Amerika Serikat. Ia duduk di bagian depan dari bis itu. Biasanya, di bagian itu hanya dikhususkan bagi para penumpang berkulit putih. Mereka yang berkulit hitam tidak boleh menempati tempat duduk di bagian depan.

Salah seorang polisi berkulit putih memerintahkan Rosa Park untuk pindah ke belakang. Bagian ini dikhususkan bagi kaum kulit hitam. Namun Rosa Park menolak perintah itu. Baginya, semua orang memiliki hak yang sama. Ia tidak mau memberikan tempat duduk itu kepada seorang penumpang kulit putih yang terpaksa berdiri. Akibatnya, ia dipaksa turun dari bis oleh polisi.

Dengan hati getir, Rosa Park pulang ke rumahnya. Ia tidak ingin melihat rasialisme menimpa dirinya dan kaumnya. Ia ingin rasialisme segera lenyap dari negerinya. Beberapa hari kemudian ia melaporkan peristiwa itu kepada Marthin Luther King, seorang pendeta muda. Peristiwa itu kemudian menjadi gerakan anti rasial terbesar di Amerika Serikat di tahun 1960-an.

Bagi Marthin Luther King, penindasan terhadap kaum minoritas tidak sesuai dengan maksud Tuhan yang telah menciptakan manusia. Manusia diciptakan sama hak dan martabatnya. Tidak ada yang lebih rendah daripada yang lain. Berkat usaha-usaha kesetaraan hidup ini akhirnya kini bangsa Amerika saling menghargai. Tidak terjadi lagi rasialisme.

Rasialisme itu suatu bentuk penolakan terhadap sesama. Artinya, orang bukan hanya sekedar menolak sesama, tetapi juga menolak Tuhan yang sudah menciptakan manusia itu. Akibat dari penolakan itu adalah terjadinya penindasan terhadap sesama manusia. Ada orang yang harus mengalami penderitaan, karena penindasan itu.

Dalam dunia kita sekarang ini masih ada banyak orang yang mengalami penderitaan, karena penindasan dalam berbagai bentuk. Kita ambil saja contoh korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dalam negara kita. Anggaran belanja yang semestinya diperuntukkan bagi masyarakat itu dipakai oleh segelintir orang saja. Akibatnya, jutaan masyarakat mengalami penderitaan. Proyek jalan untuk mengatasi isolasi semestinya diselesaikan tetapi terkatung-katung, karena dana yang menguap entah ke mana. Masyarakat tidak bisa menjalankan roda ekonominya dengan baik. Akibatnya, penghasilan mereka tidak bisa dibawa untuk dijual di kota. Kemiskinan kemudian menjadi bagian dari hidup mereka.

Sebagai orang beriman, kita tentu ingin hidup damai dan tenang bersama sesama. Kita tidak ingin ada sesama kita yang menderita sebagai dari akibat ulah kita. Karena itu, mari kita berusaha untuk terus-menerus berlaku baik terhadap sesama. Dengan demikian, hidup kita dan sesama dapat menjadi berkat bagi sesama. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
222

09 November 2009

Berusaha Hidup Jujur dan Benar

Ada seorang remaja yang pintar. Namun kepintaran remaja ini bukan dalam hal pelajaran. Ia pintar dalam hal membuat alasan. Dia pintar dalam hal kebohongan. Pada hari tertentu ia meminta kepada orangtuanya untuk membeli English Book. Besoknya ia meminta uang lagi untuk membeli Buku Bahasa Inggris.

Atau pada kesempatan lain dia meminta uang untuk membeli penggaris. Besoknya dia minta uang untuk beli mistar. Dia juga meminta uang untuk biaya ekstrakurikuler. Pada hari lain ia meminta kembali uang untuk les tambahan.

Orangtuanya sering dibuat bingung oleh anak ini. Kalau orangtuanya bertanya tentang pentingnya kebutuhannya, ia selalu mengelak. Ia selalu mengatakan bahwa hal-hal yang dia minta itu merupakan tuntutan dari sekolah. Kalau semua itu dipenuhi, ia akan menjadi anak yang paling pandai di kelasnya bahkan di sekolahnya.

Ia juga berjanji kepada orangtuanya bahwa ia akan meraih rangking teratas di sekolahnya. Dengan demikian orangtuanya tidak perlu bayar uang sekolah lagi. Ia akan mendapat beasiswa dari sekolahnya atas prestasi yang diraihnya itu.

Suatu hari, anak itu kena batunya. Ibunya mendapati anak itu sedang menghisap putau di belakang rumah mereka. Ia masih juga mau mengelak dengan memberikan berbagai alasan yang masuk akal. Namun setelah ibunya mengancam untuk melaporkannya ke polisi, ia mau menyerah. Sejak itu, ia tidak berani membuat banyak alasan lagi. Ia tidak mau berbohong lagi kepada orang lain.

Hidup ini memiliki warna-warni. Manusia mesti mengalami warna-warni kehidupan itu. Kisah tadi menunjukkan salah satu sisi dari warna-warni kehidupan ini. Yang mesti disadari oleh manusia adalah bahwa ada sisi-sisi kehidupan yang dapat membahayakan hidupnya. Ada sisi-sisi kehidupan yang mampu membawa orang kepada kebahagiaan.

Karena itu, orang mesti cermat dalam hidup ini. Orangtua mesti hati-hati terhadap anak-anaknya. Mereka semestinya tidak begitu saja menelan kata-kata anak-anaknya. Kisah tadi menunjukkan bahwa orangtua mesti waspada terhadap anak-anaknya.

Biasanya kepintaran digunakan untuk sesuatu yang baik. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kepintaran dapat digunakan untuk sesuatu yang buruk. Kepintaran dapat digunakan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Kepintaran dapat digunakan untuk menjerumuskan diri sendiri atau orang lain.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menggunakan kemampuan dan kepintaran kita untuk kesejahteraan bersama. Kita tidak ingin menggunakan kepintaran kita untuk memanipulasi atau menjerumuskan orang lain ke dalam kegelapan hidup.

Karena itu, mari kita berusaha untuk hidup jujur dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Hanya dengan hidup jujur dan benar, kita dapat menciptakan suatu hidup yang bahagia. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

221

08 November 2009

Ketika Gengsi Menggerogoti Hidup

Seorang pemudi merasa malu terhadap kawan-kawan sebayanya. Pasalnya, hand phone yang dimilikinya sudah termasuk kuno. Ia ingin memiliki HP lengkap dengan kamera videonya. Soalnya, semua temannya memiliki HP seperti itu. Karena itu, ia merengek-rengek meminta HP baru kepada ayahnya.

Mendengar permintaan anaknya, ayahnya tidak mau ambil pusing. Ia mengatakan kepada anaknya bahwa dengan HP yang ada, ia dapat berkomunikasi dengan siapa saja. Itu sudah cukup. Tidak perlu bergaya dengan HP yang pakai kamera video segala.

Kata anaknya, “HP ini kan sudah kuno, pak. Sudah tidak model lagi di kalangan kaum muda. Gengsi dong pak, pakai HP ketinggalan jaman seperti ini.”

Ayanya terdiam mendengar kata-kata anaknya. Dalam hati, ia merasa bahwa HP yang lengkap dengan kamera video itu mahal. Ia tidak sanggup membelikannya. Lantas ia berkata kepada anaknya, “Nak, ayah tidak punya uang untuk membelikan HP seperti yang kamu minta. Hidup sekarang ini semakin susah. Gaji pegawai negeri akan naik lagi. Artinya, barang-barang kebutuhan hidup lainnya pun akan naik lagi.”

Tetapi anaknya tidak peduli. Ia tetap menuntut sebuah HP baru lengkap dengan kamera video. Ia tidak peduli bahwa hidup ini semakin sulit. Demi gengsi, ia tetap menuntut ayahnya untuk membelikan HP baru.

Gengsi itu memang mahal. Apa pun dilakukan orang untuk menutupi identitas dirinya. Gengsi dapat mengalahkan kondisi ekonomi keluarga yang morat-marit. Orang rela bertahan untuk menunjukkan dirinya sebagai orang yang hebat dan kaya demi gengsi itu. Yang paling diutamakan adalah penampilan luar. Mengapa? Karena penampilan bisa mengubah pandangan orang tentang dirinya.

Dalam kondisi seperti ini, orang tidak malu meminjam segala sesuatu kepada temannya. Misalnya, uang, pakaian bahkan berani meminjam kendaraan mewah untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Orang seperti ini akan bangga bila dipuji oleh orang-orang yang melihatnya.

Sayang, di balik penampilan seperti itu sebenarnya orang dapat menghancurkan dirinya sendiri. Orang hidup dengan topeng-topeng. Orang tidak menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Akibatnya, ketika jati dirinya yang sebenarnya terungkap, ia dapat mengalami stress yang berkepanjangan.

Kehidupan ekonomi yang semakin sulit di jaman sekarang ini memaksa orang untuk bekerja lebih keras. Semestinya inilah yang ditampilkan oleh manusia dalam kehidupan ini. Bukan membangun topeng-topeng yang menutupi kekurangan dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk berani meninggalkan gengsi kita. Kita diajak untuk tampil apa adanya. Hanya dengan cara demikian, kita dapat menjadi orang yang sungguh-sungguh bertahan dalam iman. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

220

07 November 2009

Pentingnya Kejujuran

Seorang siswa SMA mengaku bahwa selama ujian nasional yang lalu ia mendapatkan bocoran soal. Menurut siswa ini, soal itu sudah bocor jam tujuh malam. Ia sudah mendapatkan sms tentang jawaban atas soal-soal ujian itu pada jam tujuh malam. Ia heran mengapa jawaban atas soal-soal ujian itu sudah ia peroleh dari teman-temannya.

Bagi siswa ini, sebenarnya ia tidak membutuhkan jawaban-jawaban itu. Ia hanya menghafal jawaban-jawaban itu untuk menambah rasa percaya diri saja. Ia sudah menyiapkan diri dengan baik. Namun kadang-kadang ia kurang percaya diri. Akibatnya, ia mau saja menghafal jawaban-jawaban itu.

Dia berkata, “Setelah saya hafal, saya hapus. Saya tidak mau terpengaruh oleh jawaban-jawaban itu.”

Keesokan harinya ketika ia mengikuti ujian, ia dapat menjawab semua soal yang disediakan. Ia merasa yakin dapat memperoleh nilai yang tinggi. “Memang saya merasa nilai yang saya peroleh itu tidak seratus persen berdasarkan kerja keras saya selama ini. Tetapi yang penting saya bisa melanjutkan studi saya di perguruan tinggi. Bukankah saya sudah berjuang selama tiga tahun?” kata siswa itu.

Bocornya soal-soal ujian nasional terjadi di banyak tempat di negeri ini. Sudah ada berbagai upaya untuk mengatasi hal ini. Sejak tahun-tahun sebelumnya bocornya soal sudah terjadi. Namun tampaknya sangat sulit sekali mengatasi persoalan ini. Berbagai pihak sudah mencoba. Namun usaha itu seolah sia-sia saja.

Ada berbagai pertanyaan tentang hal ini. Misalnya, ada apa di balik bocornya soal-soal ujian nasional itu? Siapa yang membocorkan? Mengapa terjadi kebocoran soal-soal itu?

Kiranya satu hal yang dapat dikatakan adalah tidak adanya kehendak baik dari pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran untuk menghilangkan hal ini. Ada pihak yang merasa malu, kalau siswa-siswi di sekolahnya ternyata tidak bisa mengerjakan soal-soal itu. Mereka takut dinilai negatif oleh pihak pemerintah. Karena itu, usaha yang dilakukan adalah membocorkan saja soal-soal itu. Atau ada pihak yang punya kepentingan ekonomi dengan menjual soal-soal itu kepada siswa-siswi yang mengikuti ujian.

Apa pun tujuan pembocoran soal-soal itu, tindakan itu tetap suatu tindakan yang tidak baik. Bagaimana mutu pendidikan di negeri ini dapat sejajar dengan negara-negara maju, kalau ketidakjujuran selalu terjadi? Tampaknya dunia pendidikan kita selalu terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bermutu rendah.

Mari kita coba mendidik anak-anak kita untuk jujur dalam berbagai hal. Hanya dengan kejujuran, kita dapat menciptakan suatu kehidupan berbangsa dan bernegara dengan lebih baik. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

219

06 November 2009

Usaha Menghargai Ciptaan Tuhan

Suatu hari, seorang petinggi di suatu desa mengadakan perjamuan pesta. Banyak tamu hadir dalam perjamuan pesta itu. Salah seorang tamu yang hadir memberi bingkisan berupa ikan dan unggas. Penerima tamu sangat menghargai hadiah itu. Ia berkata, “Tuhan sangat baik kepada kita yang membutuhkan. Dia menumbuhkan tanaman, menciptakan ikan dan unggas untuk kita.”

Semua tamu yang hadir setuju dengan apa yang dikatakan penerima tamu itu. Tetapi seorang pemuda berusia 20 tahun yang duduk di tengah-tengah para tamu itu mendatangi sang penerima tamu. Ia berkata, “Apa yang anda katakan tidak benar. Semua ciptaan yang ada di dunia ini hidup bersama-sama dengan yang lainnya. Tidak ada ciptaan yang lebih rendah atau lebih tinggi daripada ciptaan lainnya. Yang membedakan hanyalah inteligensi dan kekuatan mereka. Memang mereka saling memakan. Tetapi apa yang dimakan itu tidak pertama-tama diciptakan untuk yang memakan. Manusia dapat memakan apa yang dimakannya. Namun itu tidak berarti bahwa apa yang dimakan manusia itu diciptakan melulu untuk manusia. Sebab kalau nyamuk menghisap darah manusia atau harimau dan serigala memakan domba, apakah ini berarti bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk nyamuk atau domba untuk harimau dan serigala?”

Manusia sering beranggapan bahwa ciptaan yang ada di muka bumi ini untuk kebutuhan manusia. Karena itu, terjadilah penyalahgunaan terhadap ciptaan yang ada. Misalnya, hutan dibabat untuk kepentingan sesaat. Laut dan sungai mesti menderita pencemaran, karena ulah manusia yang membuang limbah ke sungai dan laut. Manusia tidak berpikir bahwa laut dan sungai diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing.

Kisah tadi mengingatkan kita untuk menghargai ciptaan lain di sekitar kita. Semua ciptaan itu hadir untuk dirinya sendiri. Mereka memiliki tujuan hidupnya sendiri. Yang membedakan adalah kepandaian untuk mengolah dan mengelola ciptaan itu menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menghormati ciptaan yang ada di sekitar kita. Tanaman yang ada di sekitar kita dapat menjadi sahabat yang membantu hidup kita menjadi lebih baik. Hewan yang kita lindungi dapat menjadi sahabat yang menolong kita, ketika kita mengalami kesulitan dalam hidup ini. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

218

05 November 2009

Memupuk Semangat yang Baik

Dua hal yang berbeda terlihat di Yangon, Myanmar, pada awal Mei 2008 lalu jika dibangdingkan dengan September 2007 lalu. Belakangan ini lebih banyak terlihat biksu di jalan-jalan dibandingkan tentara dan polisi. Bertolak belakang dengan kondisi September 2007 lalu.

Seorang ibu di Yangon berkata, “Kami kini bersama biksu membersihkan jalan-jalan. Jelas, kami berharap penguasa membantu, tetapi mereka tak pernah muncul. Para biksu datang begitu topan mereda, membantu membersihkan pohon dari jalanan.”

Awal Mei 2008 itu Myanmar dilanda Topan Margis yang ganas. Topan itu menelan korban jiwa hingga tiga puluh ribu orang. Begitu banyak harta benda pula yang hilang. Banyak orang yang selamat mengalami penderitaan yang luar biasa.

Biksu dengan jubah merah marun di Myanmar merupakan hal yang lumrah. Sekitar 90 persen dari 55 juta penduduk Myanmar pemeluk Budha. Ada sekitar 500.000 biksu di seluruh Myanmar. September tahun 2007 lalu, para biksu muncul di jalan-jalan kota Yangon untuk memprotes rejim militer yang kejam. Protes mereka itu mengakibatkan pemerintah berkuasa Myanmar mengambil langkah tegas. Akibatnya, 31 orang tewas, termasuk para biksu.

Awal Mei 2008 lalu mereka muncul lagi. Bukan untuk demonstrasi tetapi untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap penderitaan rakyat. Mereka membantu rakyat yang mengalami musibah Topan Margis. Regim militer tidak mengirim tentara atau polisi untuk membantu rakyat yang menderita.

Perjuangan dari orang-orang yang tulus berjuang untuk kepentingan sesama biasanya tidak berhenti setelah suatu cita-cita tercapai. Perjuangan itu akan diteruskan hingga tuntas. Dan biasanya perjuangan seperti ini tidak pernah berakhir. Mengapa? Karena selalu saja ada persoalan yang muncul dalam hidup manusia. Tentu saja suatu perjuangan akan berhasil, kalau perjuangan itu memiliki roh atau semangat yang baik.

Dalam hidup ini kita butuh roh atau semangat yang baik yang dapat menjadi starting point bagi kita untuk berjuang bagi kehidupan manusia. Semangat yang baik itu mesti dipelihara terus-menerus dalam hidup ini. Itulah yang akan memberi kekuatan kepada kita semua untuk tetap bertahan dalam perjuangan kita.

Seorang tokoh pernah berkata bahwa kita tidak akan pernah selesai berjuang dalam hidup ini. Perjuangan yang satu menelurkan perjuangan berikutnya. Karena itu, mari kita menanamkan semangat hidup dalam diri kita. Dengan demikian perjuangan kita untuk kehidupan tidak akan pernah berakhir. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


217

04 November 2009

Menyadari Kebutuhan Orang Lain

Pada jaman dahulu orang Jepang memakai obor sebagai alat penerangan. Suatu ketika ada seorang yang buta sedang mengunjungi sahabatnya. Ketika hendak pulang, orang buta itu ditawari obor untuk menerangi perjalanannya.

“Aku tidak membutuhkan obor,” kata orang buta itu menolak tawaran sahabatnya. “Bagiku, terang atau gelap sama saja.”

Sahabatnya itu menjawab, “Aku tahu bahwa kamu tidak memerlukan obor. Tetapi kalau kamu tidak membawanya, orang lain akan menabrakmu di jalan. Jadi kamu harus membawa obor ini,” kata sahabat itu.

Orang buta itu membawa obor yang diberikan temannya. Tetapi dia tidak menyalakannya. Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba ada orang yang menabraknya.

Orang buta itu berteriak, “Kamu mau pergi ke mana? Apakah matamu tidak bisa melihat? Apakah kamu tidak bisa melihat obor ini?”

Orang yang menabrak orang buta itu berkata, “Obormu tidak menyala.”

Lantas orang itu pergi meninggalkan orang buta itu sendirian.

Dalam hidup ini kita merasa bahwa segala sesuatu sudah beres untuk diri kita sendiri. Dalam berkendaraan, misalnya, kita sudah begitu hati-hati. Kita tidak ngebut. Kita tidak melanggar lalulintas. Tidak ada yang salah. Tetapi soalnya adalah mengapa kita masih mengalami kecelakaan?

Mungkin kita mulai menyalahkan diri sendiri. Kita mencari kesalahan-kesalahan setelah mengalami suatu musibah. Kita bisa menyalahkan orang lain atas musibah yang kita derita.

Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa dalam hidup ini kita tidak hidup sendiri? Bukankah masih ada banyak orang di sekitar kita yang berpengaruh terhadap hidup kita? Karena itu, meskipun kita sudah merasa bahwa kita sudah menyiapkan segala-galanya, kita masih mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan.

Kisah orang buta tadi dapat menjadi contoh yang baik. Ia merasa diri sudah siap untuk berjalan dengan obor yang belum dinyalakan. Namun ternyata orang lain yang menabrak dirinya. Ternyata hal yang tidak ia butuhkan itu diperlukan oleh orang lain untuk keselamatan dirinya sendiri.

Karena itu, mari kita berusaha untuk menyadari pentingnya kebutuhan sesama kita. Yang tidak kita butuhkan ternyata dibutuhkan oleh orang lain yang hidup bersama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

216

03 November 2009

Berusaha untuk Memajukan Diri

Ruangan 2 meter x 4 meter itu dipenuhi tumpukan boneka penguin pesanan suatu perusahaan asuransi. Ela dan empat pekerjanya sedang sibuk menjahit dan mengisi kapas ke badan boneka tersebut. Dalam tiga minggu, pesanan itu harus selesai. Begitulah kesibukan Ela (35), warga Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Di ruang sempit itu, ia mencari nafkah dengan membuat boneka pesanan perusahaan atau dijual kepada pedagang kaki lima.

Semula Ela adalah pekerja di perusahaan pembuat boneka. Upahnya sangat minim dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tahun 2003, ia nekat memilih berusaha sendiri. Dengan modal Rp 2,5 juta hasil tabungan dan pinjam sana-sini, ia membeli empat mesin jahit dan memulai usahanya. Usahanya ternyata bergerak maju.

Tahun 2006, ia mengambil pinjaman dana dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Amaliah Jaya yang ada di Kelurahan Pekayon Jaya. ”Saya ambil Rp 1 juta dua kali. Ya, untuk membeli bahan-bahan boneka seperti kapas,” kata Ela.

Dengan pinjaman itu, ia bisa melanjutkan usahanya. Hingga kini ia tetap bekerja seperti ”buruh jahit” suatu perusahaan pembuat boneka. Untuk ongkos jahit dan memasukkan kapas satu boneka, Ela mendapat Rp 5.000 per boneka. ”Pengen, sih, terima orderan langsung, tetapi modalnya bisa sampai Rp 20 juta,” kata Mansur (33), suami Ela.

Tak hanya Ela dan suaminya, beberapa pedagang bakso secara berkelompok juga mendapat suntikan modal dari BKM. Dana itu umumnya digunakan untuk membeli gerobak dan perlengkapan berjualan bakso keliling. Suntikan dana awalnya tidak besar. Kadang hanya berkisar Rp 1 juta. Namun, jika pengembalian lancar, mereka akan mendapat dana lebih besar untuk mengembangkan usahanya.

Orang yang berani untuk maju biasanya orang yang berani menghadapi resiko. Namun orang itu biasanya sangat cermat dan ulet dalam berusaha. Meskipun modal yang dimiliki tidak besar, ia berani memulai usaha. Banyak tokoh dunia yang sukses dalam berbagai bidang kehidupan memulai usaha-usahanya dari hal-hal yang kecil.

Kisah tadi merupakan salah satu contoh. Ela memiliki semangat yang tinggi untuk memajukan kehidupan keluarganya. Ia berani banting setir dari seorang pekerja (buruh) menjadi seorang yang berusaha sendiri. Ia termasuk seorang wanita pemberani. Ia berani mempertaruhkan pekerjaannya demi sesuatu yang belum pasti. Namun ia mesti mulai. Kalau ia tidak mulai, ia tidak akan maju dalam usahanya.

Sebagai orang beriman, kita semua diberi kemampuan untuk memajukan diri kita sendiri dan orang-orang lain di sekitar kita. Untuk itu, kita mesti berjuang terus-menerus untuk membangun usaha itu. Banyak tantangan dan godaan yang akan kita hadapi. Misalnya, kepenatan bisa menjadi tantangan bagi kita. Kita butuh semangat untuk terus maju. Karena itu, orang beriman mesti selalu memasrahkan hidup kepada Tuhan. Tuhan akan selalu menolong orang yang berkehendak baik untuk memajukan dirinya.

Mari kita berusaha untuk selalu disemangati oleh Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian kita semakin hari semakin maju dalam usaha-usaha kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



215

02 November 2009

Mengubah Cara Hidup melalui Teladan yang Baik

Ada seorang kakek berusia 84 tahun yang masih aktif bekerja keras bersama cucu-cucunya. Setiap hari dia membersihkan kebun, menyapu dan memotong dahan-dahan pohon yang sudah panjang di halaman rumahnya. Suatu hari beberapa cucunya merasa kasihan menyaksikan kakek mereka yang berada di terik matahari sambil membersihkan rumput.

Mereka sudah sering mengingatkan kakek mereka untuk tidak bekerja keras. Namun kakek mereka itu berkeras hati untuk terus bekerja. Menurutnya, orang yang tidak bekerja tidak boleh makan.

Suatu hari cucu-cucunya memutuskan untuk menyembunyikan peralatan kerja kakek mereka. Dengan cara itu, mereka berharap kakek mereka tidak akan bekerja keras lagi di kebun. Benar, hari itu kakek mereka tidak bekerja. Demikian juga keesokan harinya. Bukan hanya itu. Si kakek tidak mau makan. Berhari-hari ia tidak mau makan.

Akhirnya, cucu-cucunya mulai mengembalikan peralatan kerjanya. Sang kakek pun mulai bekerja seperti biasa. Ia pun mulai makan makanan yang disediakan oleh cucu-cucunya.

Suatu sore, sang kakek mengumpulkan cucu-cucunya. Ia berkata kepada mereka, “Siapa yang tidak bekerja, tidak boleh makan.”

Cucu-cucunya itu terkejut. Ada yang merasa tersinggung, karena malas bekerja. Sejak saat itu, cucu-cucunya mulai rajin bekerja. Mereka menyimpan baik-baik kata-kata sang kakek dalam hati mereka.

Contoh atau teladan dalam hidup ini masih sangat dibutuhkan. Orang yang hanya banyak berbicara dan memberi nasihat, namun tidak menunjukkan contoh sering tidak dihiraukan. Ia dianggap sebagai seorang penipu. Nasihat-nasihatnya hanyalah barang murahan yang tidak bermanfaat bagi hidup manusia.

Namun orang yang mampu memberi contoh hidup yang baik selalu dituruti. Nasihat-nasihatnya menjadi barang berharga yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Orang seperti ini sering dicari oleh banyak orang. Perbuatan baiknya selalu ditiru oleh sesamanya. Kisah tadi menunjukkan bahwa nasihat yang dibarengi dengan contoh hidup memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan untuk mengubah cara hidup orang lain.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk berani memberi contoh atau teladan hidup baik kepada sesama kita. Teladan yang baik itu mampu mengubah hidup orang lain. Dengan demikian kita dapat mengubah juga dunia yang kini dipenuhi dengan kekuatan-kekuatan jahat.

Mari kita berusaha untuk memerangi kekuatan-kekuatan jahat itu dengan teladan-teladan hidup kita yang baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

214

01 November 2009

Masih Adakah Kejujuran dalam Hidup Ini?


Suatu sore, seorang pemuda datang ke sebuah restoran yang menjual ayam goreng. Ia membeli sembilan potong ayam goreng. Lantas ia membawanya pulang ke rumah untuk dinikmati bersama orangtua dan adik-adiknya.

Ketika membuka bungkusan ayam goreng itu, ia terkejut luar biasa. Ternyata bukan ayam goreng yang ada di dalam bungkusan itu. Tetapi uang sebesar lima juta rupiah. Cepat-cepat pemuda itu membungkus kembali bungkusan itu. Ia segera meninggalkan ruang makan dan kembali ke restoran itu. Pemuda itu mengembalikan uang itu kepada pemilik restoran. Ia meminta ayam goreng yang diinginkannya.

Pemilik restoran itu merasa kagum atas kejujuran pemuda itu. Ia menanyakan nama dan alamatnya. Ia juga mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia ingin mengundang wartawan surat kabar dan televisi untuk membuat cerita tentang dirinya. Ia akan menjadi pahlawan, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami sesamanya.

Namun pemuda itu menolaknya. Dia berkata, “Orangtua dan adik-adik saya sedang menunggu di rumah. Saya hanya ingin ayam goreng.” Pemilik restoran itu semakin kagum atas sikap rendah hati pemuda itu.

Lantas pemilik restoran itu berkata, “Saya tidak mengerti. Anda adalah satu-satunya pemuda jujur di tengah dunia yang tidak jujur ini. Ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengatakan kepada dunia bahwa masih ada orang-orang jujur yang mau bertindak benar.”

Namun pemuda itu tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau dipublikasikan. Ia hanya menginginkan ayam goreng.

Kejujuran memang masih menjadi hal langka dalam dunia kita sekarang ini. Begitu sedikit orang yang mau jujur dalam kehidupannya. Begitu mudah orang melakukan manipulasi. Kalau kita berbelanja di warung, penjual masih bertanya tentang berapa yang harus diisi dalam nota kontan. Mengapa? Karena pengalaman sering berbicara bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin memanipulasi belanjaan.

Bukankah hal seperti ini suatu bentuk penyelewengan? Kisah tadi mau mengajak kita untuk berani bertindak jujur dalam hidup kita. Kejujuran itu akan membantu kita untuk menjadi orang yang baik. Banyak orang jujur memiliki banyak sahabat. Mereka berkenan kepada sesama karena dipercaya untuk melaksanakan sesuatu.

Sebagai orang beriman, kejujuran merupakan hal yang sangat penting dalam hidup ini. Kejujuran membantu kita untuk dapat menghayati iman kita dalam hidup sehari-hari. Iman itu mesti tampak dalam perbuatan nyata.

Karena itu, kita mohon kepada Tuhan agar Dia memberi kekuatan kepada kita untuk mampu berlaku jujur dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

213