Pages

01 Desember 2009

Tuhan Tetap Mengasihi Kita


Ada seorang bapak yang sangat kecewa terhadap Tuhan. Pasalnya, istrinya meninggal waktu masih sangat muda. Mereka baru saja menikah lima tahun, tetapi istrinya menderita kanker ganas lalu meninggal dunia. Harapannya untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera pupus. Ia harus membesarkan dua anaknya sendirian. Banyak persoalan hidup ia hadapi sendirian. Ia selalu berdoa kepada Tuhan, tetapi Tuhan seolah-olah tidak mendengarkan doa-doanya. Ia kecewa. Ia putus asa. Tuhan yang diimaninya tidak membantunya dalam menghadapi kesulitan.

Ia bertanya dalam hati, “Mengapa Tuhan tidak membantu saya? Mengapa Tuhan membiarkan saya berjuang sendiri di dunia ini?”

Lambat laun iman bapak itu mulai hilang. Ia tidak mau lagi berdoa dan beribadat. Baginya, hal-hal itu hanya buang-buang waktu. Akhirnya, ia memutuskan hubungannya dengan Tuhan. Ia kehilangan Tuhan dalam hidupnya. Baginya, Tuhan sudah mati.

Suatu hari, anak pertamanya sakit keras. Ia membawanya ke rumah sakit. Banyak teman-temannya datang untuk mengunjungi anaknya. Mereka menghiburnya. Mereka juga mendoakan agar anaknya segera sembuh. Beberapa hari kemudian anaknya sembuh. Ia tidak habis pikir mengapa orang-orang itu datang untuk mendoakan anaknya? Padahal ia sudah tidak mengimani Tuhan. Ia sudah putus hubungan dengan Tuhan. Bapak itu mengalami suatu pergulatan batin yang luar biasa.

Dalam kondisi seperti itu, seorang temannya berbisik, “Teman, dekatkan dirimu kepada Tuhan. Dia tetap mengasihi engkau.”

Akhirnya, bapak itu memutuskan untuk kembali kepada Tuhan. Ia berusaha untuk mengimaninya dalam suka dan duka hidupnya. Ia berpegang teguh pada Tuhan.

Dalam hidup ini godaan untuk meninggalkan Tuhan selalu terjadi. Kisah bapak tadi merupakan salah satu kisah hidup manusia. Kekecewaan dapat membawa orang pada jalan buntu. Akhirnya, Tuhan jadi sasaran. Padahal Tuhan selalu setia kepada manusia. Tuhan selalu mencintai manusia. Meski banyak persoalan yang dihadapi, Tuhan tetap mendampingi manusia. Caranya bermacam-macam. Tuhan dapat menggunakan ciptaanNya yang lain sebagai ungkapan kasihNya kepada manusia.

Karena itu, dalam hidup ini hal yang mesti selalu dipegang teguh adalah bahwa Tuhan tetap mengasihi manusia. Tuhan tetap peduli terhadap hidup manusia. Meski manusia mengalami berbagai persoalan hidup, Tuhan begitu baik kepada manusia.

Apapun yang kita alami dalam hidup ini mesti dilihat dari terang iman akan Tuhan. Dia menghendaki agar kita hidup baik. Dia menghendaki agar kita menemukan kebahagiaan dalam hidup ini. Untuk itu, Tuhan menggunakan berbagai cara untuk mengungkapkan kehendakNya itu.

Mari kita senantiasa pasrahkan diri kepada Tuhan. Dia senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita. Dia selalu melindungi kita dari segala bahaya. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


247

30 November 2009

Membangun Persahabatan yang Menguntungkan




Ada seorang pemuda yang mengalami betapa hidup itu begitu berat. Ia berjumpa dengan begitu banyak orang dalam hidupnya. Namun ia tidak dapat menjalin persahabatan yang sungguh-sungguh mendalam dengan orang-orang itu.

Menurut beberapa orang yang pernah menjadi sahabatnya, pemuda itu memiliki kecenderungan untuk tidak mau mengalah. Ia juga selalu merasa diri sibuk. Ia selalu merasa tidak punya waktu untuk orang lain. Padahal ia selalu memaksa teman-temannya untuk mempunyai waktu bagi dirinya.

Karena itu, orang-orang yang pernah menjalin persahabatan dengannya terpaksa meninggalkan ia seorang diri. Ia menjadi seorang yang pemurung. Ia mengalami kesepian yang begitu mendalam.

Suatu hari, ia mencoba untuk bunuh diri dengan menggantung diri. Namun nyawanya diselamatkan oleh seorang temannya yang dulu sangat dibencinya. Beberapa saat ia sempat pingsan. Setelah sadar, ia mulai insaf akan cara hidupnya. Sejak saat itu ia mulai mengubah pandangan hidupnya.

Ia mulai menata kembali hidupnya. Ia berusaha sedapat mungkin untuk keluar dari persoalan yang ia hadapi. Kini ia mulai menyediakan waktu sebanyak-banyaknya untuk orang yang menjadi teman-temannya. Ia tidak mau menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang berguna.

Pemuda itu mulai membangun suatu waktu yang berkualitas. Artinya waktu yang ia isi dengan kegiatan bersama yang menyenangkan bagi dirinya dan bagi teman-temannya. Waktu itu ia gunakan untuk membangun relasi yang baik dengan teman-temannya.

Dalam hidup ini persahabatan itu sangat penting. Kita membangun persahabatan bukan hanya untuk kebaikan diri kita sendiri. Tetapi kita juga membantu sesama untuk mengenal lebih dalam siapa dirinya. Karena itu, persahabatan yang baik itu mesti kita isi dengan nilai-nilai yang memperjuangkan kehidupan. Misalnya, suatu kegiatan yang membantu sesama untuk lebih menyadari betapa hidup itu berguna dan penting.

Ada orang yang mulai membahas tentang mempertahankan kehidupan. Dengan demikian orang itu mulai mempromosikan anti aborsi kepada teman-temannya. Ia juga dapat mengajak teman-temannya untuk menjauhi narkoba. Ia mengajak teman-temannya memilih kegiatan-kegiatan yang positif.

Hidup itu indah. Demikian pula betapa indah kita memiliki sahabat-sahabat yang baik dan setia dalam hidup ini. Karena itu, mari kita berusaha untuk membangun persahabatan yang membantu kita dan sesama menemukan identitas diri kita masing-masing. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

246

29 November 2009

Menumbuhkan Semangat Kesiapsediaan


Faisal sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Namun jalan hidup akhirnya membawaya ke profesi yang secara pendidikan tidak pernah dijalaninya. Ia hanya berbekal pengalaman kursus. Sampai tua, ia harus menjalani pekerjaan yang merupakan satu-satunya keahliannya, yaitu mengajar di SD di desanya.

Menurut pengakuan Faisal, ia mau menjadi guru itu hanya nekad saja. Di desanya itu tidak banyak orang mau menjadi guru. Akhirnya, ia memberanikan diri menjadi guru. Ia belajar sendiri cara-cara mengajar. Padahal ia hanya lulus SMP. Ia bisa baca tulis. Dengan demikian, ia dianggap sebagai orang yang mampu mengajar. Jadilah ia menjadi guru bagi ratusan anak di desanya.

Sebenarnya Faisal agak minder juga atas pekerjaannya itu. Namun ia berusaha untuk tampil percaya diri. Berkat ketekunannya untuk belajar, Faisal menjadi seorang pengajar bagi generasi penerus bangsanya. Ia punya keyakinan bahwa membantu sesama yang membutuhkan itu sangat penting dalam hidup ini. Meski ia tidak memiliki banyak keahlian, apa yang dimilikinya itu ia sumbangkan untuk sesamanya.

“Saya hanya punya kemampuan sedikit. Itu yang mau saya berikan untuk adik-adik di desa ini,” kata Faisal suatu hari.

Perjuangan Faisal menumbuhkan semangat belajar yang tinggi dalam diri anak-anak yang mengikuti pelajarannya. Apalagi ia tidak hanya mengajar mereka dengan pikiran. Ia mengajar mereka dengan kebeningan hatinya. Ia menuntun adik-adiknya untuk memahami sungguh-sungguh makna kehidupan ini. Dengan demikian, banyak anak didiknya yang menjadi anak-anak yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar.

Kesiapsediaan untuk membantu sesama merupakan salah satu unsur yang penting dalam hidup ini. Orang yang ringan tangan biasanya memiliki hal-hal yang baik dalam hidup ini. Ia biasanya peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Ia tidak banyak mengeluh atas berbagai persoalan yang dihadapinya.

Orang yang memiliki kesiapsediaan untuk menolong orang lain itu biasanya juga memiliki suatu kesetiaan terhadap pekerjaannya. Ia tidak mudah digoda untuk meninggalkan pekerjaannya itu. Ada suatu konsistensi dalam dirinya untuk tetap membaktikan dirinya dalam pekerjaannya. Kesetiaan pada pekerjaan itu menunjukkan hubungan yang begitu mendalam dengan Tuhan dan sesama yang ditolong. Karena itu, orang seperti ini biasanya tidak mudah kecewa ketika mendapati orang yang dibantunya itu menyia-nyiakan bantuannya.

Kesulitan-kesulitan yang ada selalu dihadapi dengan lapang dada. Ia tidak melarikan diri dari kesulitan-kesulitan itu. Justru kesulitan yang ada itu menjadi suatu tantangan dalam hidupnya. Justru melalui kesulitan-kesulitan itu dapat memurnikan motivasinya dalam menolong sesama.

Mari kita berusaha untuk memiliki sikap siap sedia dalam membantu sesama yang membutuhkan bantuan kita. Dengan demikian, kita boleh mengalami kasih karunia Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

245

28 November 2009

Menemukan Kedamaian yang Sesungguhnya

Ada seorang bapak yang mempunyai 50 hektar karet. Dengan harga karet yang melambung sekarang ini, setiap bulan bapak ini dapat meraup uang puluhan juta rupiah. Ia dapat membangun rumah yang besar dan mewah. Ia dapat bersenang-senang dengan keluarga dan teman-temannya.

Suatu hari ia didatangi seorang tamu. Tamu itu memintanya untuk mencarikan sepuluh ekor tokek. Menurut informasi, sekarang harga tokek itu mahal. Daging tokek memiliki khasiat untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Setiap tokek dihargai Rp 1.300.000,-. Bapak itu sangat tergiur oleh tawaran itu. Karena itu, ia menerima tawaran itu.

Setelah tamu itu pulang, ia memanggil beberapa anak buahnya untuk mencari tokek. Setiap tokek ia hargai Rp 400.000,-. Menurut perhitungannya, ia pasti dapat keuntungan sebesar Rp 900.000,- per ekor. Beberapa anak buahnya itu pun mengerjakan tugas itu dengan baik. Apalagi iming-iming Rp 400.000,- untuk setiap ekor tokek akan sangat memberi mereka tambahan penghasilan. Setelah menyadap karet, mereka langsung mencari tokek. Hasilnya luar biasa. Mereka memenuhi permintaan bos mereka: 10 ekor tokek.

Bapak itu sangat puas atas hasil kerja anak buahnya. Ia langsung membayar empat juta rupiah kepada mereka. Kini ia menantikan tiga belas juta dari pemesan. Tetapi sial bagi bapak itu. Orang-orang yang memesan tokek itu tidak datang-datang. Ia juga tidak bisa menghubungi mereka, karena nomor telephon pun tidak mereka tinggalkan. Ia sudah kehilangan empat juta rupiah. Ia sangat menyesal atas peristiwa itu. Apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur.

Dalam hidup ini banyak orang tergiur oleh penghasilan yang besar tanpa memikirkan akibat-akibatnya. Kisah tadi merupakan salah satu contoh bahwa orang yang rakus sering ingin mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Ia tidak peduli akan begitu banyak kekayaan yang sudah dimilikinya. Ia ingin mengumpulkan lagi dan lagi. Akibatnya, ia kehilangan apa yang dimilikinya.

Banyak orang tidak puas akan apa yang sudah dimilikinya. Karen itu, usaha untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta kekayaan terus-menerus terjadi. Orang tidak peduli apakah cara-cara yang digunakan itu halal atau tidak. Yang penting, banyak harta bisa dikumpulkan untuk kepentingan diri sendiri.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin hidup damai dan tenteram. Kedamaian dan ketenteraman itu dapat tercipta kalau kita memiliki hati yang murni. Hati yang bersih dari kelekatan terhadap barang-barang duniawi akan membantu kita untuk memiliki damai dan ketenteraman yang sesungguhnya.

Untuk itu, orang beriman mesti memiliki iman yang besar kepada Tuhan. Artinya, orang beriman menggantungkan seluruh suka dan duka hidupnya pada Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kedamaian dan ketenteraman dalam hidup ini.

Mari kita berusaha untuk selalu menggantungkan hidup pada Tuhan. Dengan demikian hidup kita menjadi damai dan tenteram. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

244

27 November 2009

Berani Mengosongkan Diri

Pangeran Billah adalah putra mahkota Sultan Brunei Darusalam yang terkenal sebagai orang terkaya di dunia. Istananya, Nurul Iman, memiliki 1788 ruang dan kamar untuk menjamu tamu-tamunya. Beberapa di antaranya disalut emas murni.

Meski dibesarkan dalam gelimang harta, Pangeran Billah tidak menjadi anak yang manja. Sejak kecil ia diajar untuk tekun mempelajari Kitab Suci dan hidup yang saleh. Ia juga seorang pekerja keras.

Setelah lulus SMA, pada tahun 1995, ia mendaftar di Oxford Univerity di Inggris. Ia diterima di Oxford’s Fereign Service Program bersama 30 mahasiswa asing lainnya. Sejak menjadi mahasiswa, ia berusaha keras menyembunyikan identitasnya. Ia tidak mau dikawal. Ia memakai nama samaran Omar Hasan. Ia meninggalkan semua atribut kebangsawanannya dan pura-pura menjadi orang biasa. Ia bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Tidak seorang pun temannya yang tahu bahwa ia anak Sultan Brunei.

Kisah ini tentu sangat menyentuh hati. Seorang pangeran yang kaya raya meninggalkan segala-galanya untuk meraih cita-cita yang tinggi dalam hidupnya. Untuk itu, ia mesti berani untuk dididik dengan cara-cara yang ditentukan oleh pihak universitas. Ia memiliki kerendahan hati yang begitu dalam. Ia tidak mau memamerkan kebangsawanannya.

Dalam hidup ini kita ditantang untuk bersikap rendah hati. Sikap ini mampu membantu kita untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Kerendahan hati itu akan membawa orang kepada suatu hidup yang lebih baik. Banyak orang akan menjadi sahabat orang yang rendah hati. Orang yang sombong biasanya kehilangan banyak sahabat dalam hidupnya.

Salah satu hal yang menarik dari diri Pangeran Billah adalah ia berani mengosongkan dirinya. Ia berani kehilangan identitas kebangsawanannya untuk menjalin relasi yang lebih baik dengan sesamanya. Orang yang berani mengosongkan diri berarti orang berani pula menerima hal-hal yang baik dari luar dirinya. Orang yang ingin memiliki sesuatu itu mesti berani pula mengosongkan diri.

Kalau kita ingin memiliki banyak hal, maka kita diajak untuk rela melepaskan hal-hal yang bagi kita mungkin sangat berguna. Misalnya, kesombongan, keangkuhan dan sikap lekat pada apa yang kita miliki. Memang sulit bagi kita untuk melepaskan hal-hal ini. Namun kalau kita berusaha keras, kiranya kita akan mampu melakukannya.

Untuk itu, kita mesti bekerja bersama Tuhan. Kita mohon bantuan dari Tuhan yang mahapengasih dan penyayang agar kita diberi kekuatan untuk mampu menerima rahmat demi rahmat dari Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




Bagikan

26 November 2009

Usaha Melestarikan Alam


Seorang petani karet diejek oleh teman-temannya. Pasalnya, lima meter kiri dan kanan kebun yang seluas lima hektar itu ia tanami pohon-pohon yang tidak langsung memberi hasil baginya. Mereka menganggapnya bodoh, karena tanah seluas itu bisa ditanami pohon-pohon karet. Bagi mereka, setiap kali panen pasti dapat beberapa ratus kilogram getah karet.

Namun petani karet itu tidak bergeming. Apalagi di tengah-tengah kebunnya mengalir sungai kecil. Ia ingin agar sungai itu tetap berair kapan saja. Diharapkan di musim kemarau yang panjang, sungai itu tetap mengalir. Tidak kering seperti sungai-sungai lain.

Benar saja. Pada musim kemarau dua tahun lalu sungai kecil itu terus-menerus mengalirkan air yang jernih. Tetangga-tetangganya menggunakan air sungai kecil itu untuk segala kebutuhan mereka. Ia tersenyum ketika orang-orang yang dulu mengejeknya datang untuk mengambil air di kebunnya. Yang ia tunjukkan kepada mereka adalah bukti bahwa pelestarian hutan itu sangat berguna bagi kehidupan manusia. Tanpa air yang bersih, hidup manusia akan mengalami berbagai kesulitan.

Petani karet itu peduli terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Lingkungan yang baik dan segar akan memberikan kenyamanan bagi hidup manusia. Petani karet itu berhasil meyakinkan sesamanya bahwa kelestarian lingkungan hidup itu sangat penting bagi hidup manusia.

Beberapa waktu lalu kita sudah diingatkan akan pemanasan global. Pemanasan itu terjadi karena bumi yang kita huni ini sudah habis hutannya. Lebih dari separuh hutan yang melindungi bumi ini sudah ditebang untuk kebutuhan manusia. Es di kutub utara dan selatan mulai mencari secara besar-besaran.

Sementara itu, kesadaran untuk melestarikan alam yang dirusak itu sangat rendah. Kita bisa lihat di lingkungan sekitar kita. Banyak sampah bergelimangan di mana-mana. Pembakaran hutan terus terjadi. Banjir terjadi di banyak wilayah di negeri kita ini. Di Palembang, misalnya, hujan deras yang turun satu jam saja sudah menyebabkan air tergenang di banyak tempat. Lama-kelamaan bumi ini menjadi tempat yang tidak nyaman untuk dihuni manusia.

Karena itu, apa yang mesti kita buat untuk menjadikan bumi kita tempat yang nyaman bagi hidup manusia? Petani karet dalam kisah tadi sudah berhasil mengatasi kekeringan di kebunnya dengan menanam pohon-pohon yang dapat menyimpan air untuk musim kemarau. Kita bisa buat sesuatu yang lebih dengan menanam tanaman di sekitar rumah kita. Tanaman-tanaman itu dapat melindungi kita dari panas terik. Syukur-syukur tanaman-tanaman itu dapat mencegah banjir yang sering mengancam kehidupan manusia.

Mari kita berusaha untuk melestarikan alam yang ada di sekitar kita. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran bahwa alam lingkungan ini merupakan bagian dari hidup manusia. Membabat hutan secara serampangan akan membawa akibat negatif terhadap kehidupan manusia. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

242

25 November 2009

Menyadari Keterbatasan Diri

Teman saya sangat senang dengan alam bebas. Waktu SD dulu, ia suka sekali naik gunung. Ia sangat menikmati suasana alam bebas di pegunungan yang ditutupi oleh hutan yang hijau. Ia dapat berlama-lama di sana. Pernah ia lupa makan. Ia lupa tidur. Ia begitu menikmati alam yang indah itu.

Namun ketika dewasa, ia tidak dapat lagi menikmati alam yang bebas nan indah. Waktunya disita oleh kesibukan kantornya. Ia lupa untuk beristirahat kalau ia sudah berada di kantor. Waktu untuk santai di rumah pun hampir tidak ada.

Suatu hari, ia didiagnosa bahwa ia mengidap tumor otak yang ganas. Ia mulai resah. Ia tidak dapat lagi berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia hilang harapan untuk melanjutkan hidup ini.

Namun seorang temannya menasihatinya untuk tidak boleh menyerah begitu saja pada penyakit tumor ganas itu. Temannya itu menyarankannya untuk mulai memikirkan langkah-langkah yang mesti ia ambil untuk mempertahankan hidupnya.

Setelah lama berpikir, teman saya itu mengambil keputusan yang aneh. Ia mendaki gunung dengan alam yang masih asri. Ia melakukan lagi kebiasaanya dulu, ketika ia masih SD. Ia melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk mendaki gunung. Di atas gunung ia merasakan hidupnya begitu damai. Ia tidak dikejar-kejar oleh kesibukan kantornya. Ia merasa lepas bebas.

Enam bulan kemudian penyakit tumor ganas itu hilang. Ternyata apa yang disukainya itu dapat menyembuhkan dirinya.

Sering orang memaksakan sesuatu yang sebenarnya tidak dapat mereka lakukan dalam hidup ini. Ibaratnya orang yang kakinya besar, tetapi memakai ukuran sepatu yang kecil. Tentu saja hal ini tidak cocok. Orang mesti mencari sesuatu yang pas untuk hidupnya. Orang tidak dapat memaksakan sesuatu yang tidak dapat dilakukannya.

Karena itu, orang mesti berani hidup apa adanya. Orang mesti berani menampilkan dirinya yang sebenarnya. Orang tidak perlu memoles diri dengan hal-hal yang justru dapat menjerumuskan dirinya.

Dalam kacamata orang beriman, hal ini mendorong seseorang untuk semakin menyerahkan diri kepada Tuhan yang diimaninya. Keterbatasan manusiawi kita mesti menjadikan kita semakin percaya bahwa Tuhan selalu mengasihi kita dengan segala keterbatasan yang kita miliki.

Mari kita berjuang untuk menemukan diri kita yang sebenarnya. Dengan demikian kita menjadi manusia yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

241

24 November 2009

Gunakan Inspirasi untuk Hidup


Suatu hari saya menemukan empat kalimat yang menarik bunyinya. Pertama, ini adalah impian seorang seniman. Kedua, untuk menerima inspirasi dalam mencipta. Ketiga, untuk membagikan kreasinya kepada sesama. Keempat, untuk mendukung secara total dalam proses.

Saya agak bingung dengan makna dari keempat kalimat ini. Saya berusaha untuk menelusuri makna dari masing-masing kalimat ini. Setelah lama mencari maknanya, saya menemukan bahwa sebuah kreasi seni itu membutuhkan suatu mimpi. Namun mimpi akan tinggal mimpi kalau tidak direalisasikan dalam suatu karya. Karena itu, seorang seniman yang punya mimpi untuk membuat lukisan mesti mulai menggoreskan kuas di atas kanvas.

Soalnya, bagaimana seorang seniman mulai mengerjakan kreasinya? Ternyata ia mengawalinya dengan dengan inspirasi. Inspirasi ini memanggil seniman itu untuk memulai kreasinya. Tangan seorang seniman lukis akan mengikuti inspirasi yang ada dalam benaknya.

Setelah suatu karya dilahirkan, sebuah lukisan tidak hanya dipajang untuk diri sendiri. Tetapi lukisan itu akan diperlihatkan kepada orang lain. Dengan demikian lukisan itu dapat dinikmati oleh orang lain. Hasil karya itu pun dapat dinilai oleh orang lain. Lukisan itu dikritik oleh orang lain. Kritikan yang disampaikan itu justru memberikan dukungan kepada seniman untuk melakukan kreasi-kreasi yang lebih unggul lagi. Lukisan itu menjadi suatu karya yang mampu membangkitkan semangat hidup banyak orang.

Hidup manusia itu mesti dimaknai secara mendalam. Kita hidup bukan sekedar hidup. Hidup ini memiliki tujuan yang mesti digapai. Untuk menggapai tujuan itu, orang mesti merancang hidupnya itu sendiri. Orang tidak bisa hanya duduk manis sambil menantikan bintang jatuh dari langit.

Setiap manusia itu seniman yang senantiasa melukis tentang sejarah hidupnya. Ke mana arah hidup seseorang itu ditentukan oleh bagaimana ia menggunakan tangannya untuk melukis hidupnya.

Ada orang yang merasa bosan dengan hidupnya. Ia mudah sekali merasa capek. Ia tidak bergairah atas hidupnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini terjadi karena orang tidak memiliki tujuan hidup. Ia hidup, tetapi tidak memiliki semangat. Ia tidak mampu menggunakan inspirasi yang mendatangi benaknya. Ia membiarkan inspirasi itu berlalu begitu saja. Tentu sangat disayangkan kalau ada orang yang hidup, tetapi tidak memiliki gairah.

Orang beriman mesti percaya bahwa setiap saat Tuhan selalu memberikan inspirasi yang terbaik bagi hidup kita. Kasih Tuhan kepada kita menjadi inspirasi yang dapat kita gunakan untuk memajukan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

240

23 November 2009

Mendengarkan Suara Hati

Seorang pembuat film sudah lama ingin membuat film dokumenter. Selama ini ia biasa membuat film biasa dari kisah-kisah hidup manusia atau dari novel-novel. Membuat film dokumenter merupakan impiannya sejak lama. Namun ia masih mengalami kesulitan dan belum ada yang memberi kepercayaan kepadanya.

Karena itu, ketika ada produser yang menawarinya untuk membuat film dokumenter, ia sangat gembira. Inilah saat yang baik baginya untuk menwujudkan mimpi yang sudah lama terpendam itu.

“Awalnya saya tidak percaya ada produser yang percaya sama saRata Penuhya. Saya tidak menyangka betapa beruntungnya saya harus mengerjakan tugas ini,” kata pembuat film itu.

Menurut informasi yang didapat, produser itu sudah lama mencari pembuat film dokumenter. Namun baru sekarang ini ia menemukan seorang pembuat film yang cocok yang mau mencerna keinginannya.

Pembuat film itu pun mengikuti kata hatinya untuk membuat film dokumenter yang ditawarkan kepadanya. Ia merasa cocok antara impiannya dan pekerjaan yang akan dilakukannya. Soal honor yang akan ia terima, pembuat film itu mengatakan ia hanya mau beramal. Ia serahkan semuanya kembali kepada produser film itu.

Dalam hidup ini orang mesti berani mengikuti suara hatinya yang baik. Suara hati itu mampu membimbing orang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang direncanakannya. Sebuah mimpi untuk melakukan suatu kebaikan dapat menjadi pendorong semangat seseorang dalam hidupnya.

Dalam hidup ini selalu ada begitu banyak peluang yang dapat diambil untuk hidup ini. Mengapa orang gagal menangkap peluang yang dapat membantu orang sukses dalam kehidupannya? Ada banyak alasan. Namun satu hal yang dapat dikatakan adalah karena orang tidak punya mimpi dalam hidup ini. Orang menerima begitu saja apa yang ada dalam dirinya. Orang tidak mau berjuang untuk sesuatu yang lebih dari apa yang dimilikinya.

Untuk itu, orang mesti memiliki mimpi-mimpi. Mimpi dalam hal ini bukan khayalan kosong. Tetapi yang dimaksukan adalah suatu cita-cita yang indah yang mampu membawa seseorang pada suatu kesuksesan dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, bermimpi bukan suatu tahayul. Tetapi mimpi itu mampu mendorong orang untuk mewujudkan ajaran imannya dalam hidup sehari-hari. Namun ia tidak boleh lupa bahwa Tuhan senantiasa menyertainya dalam hidup ini.

Marilah kita patrikan dalam hati kita mimpi untuk hidup baik dan sejatera. Dengan demikian kita dapat meraih sukses dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

239

22 November 2009

Kasih Itu Andalan Hidup

Sepasang suami istri miskin bekerja keras untuk membiayai kuliah anak-anak mereka. Mereka begitu bangga ketika anak-anak mereka akhirnya lulus dan diwisuda. Meski orangtua tidak terpelajar dan berpakaian seadanya, pada saat wisuda anak-anak itu, mereka hadir. Mereka bangga terhadap perjuangan orangtua yang sederhana itu.

Mereka memperkenalkan orangtua mereka kepada para dosen dan teman-temannya yang lain. Saat itu, ada seorang mahasiswi dari keluarga sangat kaya. Ia memeluk orangtua miskin dari temannya itu. Ia terharu. Tidak hanya itu. Ia menangis tersedu-sedu. Ia merasakan kehangatan dari sang ibu yang sederhana itu. Kasih ibu itu seolah mengalir juga ke dalam dirinya.

Setelah memeluk kedua orangtua itu, ia berkata kepada mereka, “Ini pertama kali saya merasakan kasih dari sesama. Bapak dan ibu begitu baik. Kalian memiliki ketulusan hati. Saya tidak pernah merasakannya dari kedua orangtua saya.”

Menurut mahsiswi itu, kedua orangtuanya terlalu sibuk. Mereka punya usaha sendiri-sendiri. Mereka jarang sekali bertemu. Bahkan di rumah pun pertemuan mereka dapat dihitung dengan jari. “Saya tidak tahu apakah orangtua saya sungguh-sungguh mengasihi saya. Yang saya tahu hanya saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam hal ekonomi. Apa saja yang saya minta pasti diberi. Orangtua saya pasti menyediakan semua kebutuhan saya.”

Meski begitu, mahasiswi itu tidak merasa bahagia dalam hidupnya. Ada yang lebih yang ia inginkan dari kedua orangtuanya. Ada yang hilang dalam hidupnya yang mesti ia temukan. Ia merasa hingga kini ia belum menemukan itu. Karena itu, ia bersyukur ada sepasang suami istri sederhana yang memiliki kasih yang tulus bagi anak-anaknya.

Ternyata hidup itu tidak hanya dicukupi oleh materi. Setiap orang butuh materi bagi hidupnya. Namun ada hal yang jauh lebih penting, yaitu kasih yang tulus. Kasih itu tumbuh melalui perhatian dan perjumpaan yang dilakukan. Kasih itu tumbuh dalam suatu relasi yang dekat. Orang tidak bisa menjalin kasih, kalau pertemuan saja jarang sekali terjadi.

Sebagai orang-orang beriman, kasih mesti menjadi andalan dalam hidup. Tanpa kasih, hidup ini tidak bernilai apa-apa. Hidup ini terasa hambar. Orang akan mudah sekali mengalami putus asa. Orang akan mengalami hidup ini tanpa makna.

Karena itu, mari kita tingkatkan relasi kasih yang semakin baik dalam keluarga kita masing-masing. Dengan kasih itu, kita ingin membangun hidup yang lebih baik. Hidup yang sungguh-sungguh menumbuhkan gairah bagi yang lain. Hidup yang selalu memperjuangkan kasih bagi semua orang yang dijumpai dalam hidup ini. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



238