Pages

20 Desember 2011

Kita Butuh Orang Lain

Anda ingin hidup Anda lebih baik dan bermanfaat bagi sesama? Tentu saja Anda mesti terbuka terhadap sesama yang ada di sekitar Anda. Anda bukanlah makhluk super yang bisa melakukan apa saja tanpa bantuan sesama Anda. Anda butuh bantuan orang lain.

Ada seorang pemuda yang merasa dirinya sudah mampu melakukan apa saja. Orang-orang yang ada di sekitarnya dianggapnya sebagai pengganggu kehidupan dan pekerjaannya. Karena itu, ia marah kalau ada orang yang bertanya kepadanya tentang keahlian yang dimilikinya. Ia tidak mau mereka meniru apa yang dibuatnya.

Suatu hari pemuda ini memutuskan untuk mengisolasi diri. Di depan kamarnya ia menulis dengan tulisan yang sangat jelas, “Dilarang masuk, ada anjing galak.” Ia merasa dengan cara itu, ia dapat menemukan ketenangan hidup. Dengan cara itu, ia dapat melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan baik dan benar.

Berbulan-bulan pemuda ini mengisolasi dirinya. Bahkan kedua orangtuanya pun dilarang untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia merasa sukses melakukan pekerjaannya itu. Namun setelah membuka pintu kamarnya, ternyata pemuda itu salah. Isolasi itu bukannya menguntungkan dirinya, melainkan merugikan dirinya. Apa yang dia lakukan tidak sehebat orang lain lakukan. Mengapa? Karena ia tidak bisa belajar dari orang lain. Di saat ia mengalami kesulitan, tidak ada orang yang mampu membantunya. Ia menjadi stress. Ia tidak berhasil dengan cita-citanya meraih sukses yang gemilang.

Sahabat Sonora, kita hidup bersama orang lain. Kita tidak hidup sendirian. Kita selalu bersentuhan dengan sesama di sekitar kita. Sering hal ini kurang kita sadari dalam perjalanan hidup ini. Kita merasa kalau kita berjuang sendirian, kita akan berhasil dengan gilang-gemilang. Padahal kita mesti juga belajar dari sesama yang ada di sekitar kita.

Kisah di atas menjadi salah satu contoh betapa kesendirian tidak mampu membawa kesuksesan dalam hidup kita. Kesendirian lebih banyak mendatangkan kerugian bagi diri kita sendiri. Kesendirian hanya mendatangkan malapetaka bagi diri kita. Kita menjadi orang yang kerdil dalam pengetahuan dan pergaulan kita.

Yang mesti disadari oleh orang beriman adalah kita manusia sosial. Kita bisa hidup dengan damai dan tenang berkat relasi yang kita bangun dengan sesama kita. Kita dapat belajar banyak hal dari orang-orang di sekitar kita. Keterbatasan kita dapat diperkaya oleh sesama kita. Keterbatasan kita menjadi kesempatan untuk membuka hati kita kepada bantuan sesama.

Kesadaran yang lebih besar mesti ditumbuhkan adalah kita adalah bagian dari masyarakat. Kita ikut terlibat dalam kesulitan, masalah dan pengharapan yang dialami oleh masyarakat di mana kita hidup. Untuk itu, kepedulian terhadap sesama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita. Kita peduli terhadap dukacita sesama kita. Kita berani mengulurkan tangan kita untuk sesama kita.

Memang, dosa sering mempengaruhi hidup kita untuk menutup diri terhadap sesama. Dosa menumbuhkan egoisme dan cinta diri yang berlebihan. Karena itu, yang mesti kita tumbuhkan adalah kemampuan untuk melepaskan diri dari dosa itu. Mengapa? Karena dosa sering menjerumuskan hidup kita ke lembah kekelaman. Dosa membuat kita sombong dan merasa hanya diri kita sendiri yang dapat melakukan segala hal. Orang lain tidak bisa melakukan seperti yang kita lakukan.

Mari kita lepaskan diri dari kecenderungan untuk mengisolasi diri. Kita bangun kebersamaan dalam hidup. Dengan demikian, kita dapat berbagi kehidupan kita dengan sesama. Kasih dan kerendahan hati menjadi hal-hal yang kita dahulukan dalam perjalanan hidup kita. Tuhan memberkati.**



Frans de Sales, SCJ


845

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.