Pages

06 Desember 2011

Membangun Kemauan untuk Meraih Impian


Apa yang akan Anda lakukan untuk merealisasikan cita-cita hidup Anda? Anda tunggu saja bintang jatuh dari langit? Atau Anda mulai meniti cita-cita Anda dengan membangun kemauan?

Udara dingin musuh bagi penderita rematik. Cuaca dingin bisa sangat menyiksa dengan rasa nyeri yang luar biasa dan membuat penderitanya tak leluasa bergerak. Tapi Jeffrey Gottfurcht membuktikan, dengan rheumatoid arthritis (salah satu jenis rematik), ia pun bisa mendaki puncak tertinggi di dunia, Mount Everest.

14 Mei lalu, Jeffrey Gottfurcht yang berusia 38 tahun ini menjadi orang pertama dengan rheumatoid arthritis (RA) yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia. ”Saya mencoba melakukan pendakian tahun lalu, namun tidak berhasil. Tapi tahun ini saya melakukannya,” katanya.

Ayah dari tiga anak yang tinggal di utara California, AS, ini memulai pendakian pada 29 Maret 2011 lalu. Ia berhasil mencapai puncak Everest hampir tujuh minggu kemudian. Perjalanan yang brutal itu sempat membuat Gottfurcht mengalami kebutaan sementara di mata kirinya. Hal ini sebagai akibat dari kondisi atmosfer yang tidak bersahabat. Ia juga harus berjuang melawan kondisi sakitnya.

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah suatu kondisi autoimun kronis yang menyebabkan peradangan pada sendi. Menurut Arthritis Foundation, orang dengan RA hidup dengan rasa sakit yang parah, bengkak, kekakuan dan deformitas (kelainan) tulang.

Bagi kebanyakan penderita, gerakan sederhana sekalipun bisa sulit dilakukan. Seorang pasien dengan inflamasi arthritis akan lebih mudah kelelahan, cenderung memiliki anemia dan akan mengalami kesulitan menggerakkan sendi. Itulah sebabnya, mengapa dokter yang mengobati rheumatoid arthritis Gottfurcht menemukan hal yang luar biasa.

Gottfurcht mengatakan, ia masih memiliki banyak rasa sakit di lutut dan pinggulnya. Ia tidak bisa menekuk pergelangan tangannya kembali.”Tapi mendaki gunung melibatkan gerakan yang sangat berbeda karena banyak menarik tali,” katanya.

Sahabat, tentu saja keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh ilmu atau kemampuan fisik seseorang. Suatu keberhasilan juga didorong oleh kemauan yang tinggi untuk meraih mimpi-mimpi. Orang yang punya banyak mimpi, namun tidak punya kemauan untuk merealisasikan mimpinya tidak akan berhasil dalam hidupnya. Ia menjadi tukang mimpi yang berharap-harap cemas akan hidupnya sendiri.

Kisah Jeffrey Gottfurcht di atas memberi kita inspirasi berkenaan dengan menata kemauan kita untuk maju dalam hidup. Cita-cita atau mimpi boleh kita gantungkan setinggi langit. Namun yang dibutuhkan di zaman sekarang adalah kemauan untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu.

Orang yang punya kemauan untuk merealisasikan mimpi-mimpinya biasanya orang yang punya rencana yang cermat bagi hidupnya. Ia tidak asal mau melakukan sesuatu. Tetapi sebelum memulai sesuatu, ia merencanakan sebaik-baiknya. Ia punya strategi-strategi untuk menggolkan cita-cita hidupnya.

Orang beriman senantiasa menyertakan Tuhan dalam rencana-rencananya dalam merealisasikan cita-cita hidupnya. Rahmat Tuhan menjadi andalan hidupnya, karena orang beriman selalu menggantungkan diri pada Tuhan. Tanpa intervensi dari Tuhan, orang beriman tidak mampu melakukan hal-hal yang baik dan benar. Mari kita bangun kemauan kita untuk menapaki kehidupan ini dengan lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


837

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.