Pages

10 Agustus 2011

Bersyukur atas Belas Kasih Tuhan



Ungkapan syukur atas keberhasilan dapat diungkapan melalui berbagai cara. Ada yang mengungkapkannya melalui pesta dengan mengundang teman-temannya. Ada yang mengungkapkannya dengan cara berteriak-teriak. Ada yang bersyukur dengan mengadakan ibadah syukuran.

Seniman Nyoman Nuarta beberapa waktu lalu sibuk menggarap proyek kawasan wisata di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ia membangun patung sebagai ungkapan syukur masyarakat. eria berusia 60 tahun ini berkata, ”Saya membangun patung sebagai ungkapan syukur masyarakat Tapanuli Tengah, karena terhindar dari tsunami yang melanda Aceh.”

Patung tersebut diberi nama Patung Anugerah. Patung itu setinggi 60 meter. Namun pembuatan patung itu tidak hanya untuk mengungkapkan rasa syukur masyarakat. Pembuatan patung itu juga sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisata ke tempat ini.

Menurut Nyoman Nuarta, selama ini pariwisata di negeri ini selalu menumpang pada obyek-obyek wisata yang sudah menjadi warisan turun-temurun. Karena itu, sejak membangun kompleks wisata Garuda Wisnu Kencana di Bali, Nuarta selalu berusaha membangun patung, lengkap dengan kawasan wisatanya.

Tentang hal ini, ia berkata, ”Obyek wisata itu investasi, jadi harus diciptakan. Di sini daerahnya indah, tetapi jarang yang mau investasi.”

Sahabat, sikap syukur atas keberhasilan yang kita capai mesti menjadi bagian dari hidup kita. Mengapa? Karena kita ini makhluk yang hanya mengandalkan kasih karunia dari Tuhan. Kita hanya bisa hidup dengan baik, karena belas kasih Tuhan. Orang yang mampu bersyukur itu orang yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhan. Orang yang tidak menganggap dirinya mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapinya.

Untuk itu, sikap syukur kita mesti datang dari hati yang tulus. Artinya, sikap syukur itu tumbuh dari hati yang rendah hati. Hati yang senantiasa menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Hati yang ingin kebaktiannya kepada Tuhan sebagai suatu bentuk ucapan terima kasih atas belas kasih Tuhan itu.

Namun sering manusia mengucap syukur atas kebaikan Tuhan itu berdasarkan prestasi yang diraihnya. Seolah-olah prestasi-prestasi hebat yang diraih itu hanyalah usaha manusia belaka. Karena itu, orang merasa memiliki kemampuan untuk bersyukur kepada Tuhan.

Karena itu, sebagai insan beriman, kita diajak untuk senantiasa mengungkapkan syukur kita kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Kita tidak bersyukur hanya ketika kita meraih prestasi-prestasi dalam hidup ini. Namun kita mesti senantiasa bersyukur atas kasih karunia Tuhan yang telah kita terima. Dengan demikian, kita menjadi orang yang memiliki hidup yang damai dann tenteram. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


754

09 Agustus 2011

Lawan Rasa Takut


Setiap orang pasti pernah mengalami rasa takut. Orang takut akan hal-hal yang mengancam diri dan hidupnya. Orang takut kehilangan dirinya. Orang takut tidak punya kawan dalam hidup. Orang takut menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Orang takut untuk mati muda, karena orang ingin hidup lebih lama dan lebih berguna bagi diri dan sesamanya. Karena itu, orang berusaha untuk melenyapkan rasa takut dari dirinya.

Persoalannya adalah mengapa orang takut? Mungkin ini pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh setiap manusia. Ketika orang menemukan jawabannya, orang akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Ketika orang berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan ini, orang tidak perlu merasa takut lagi akan hidupnya.

Eva Mendes, seorang aktris film, mengatakan bahwa salah satu ketakutan yang dialaminya adalah takut tenggelam. Karena itu, Eva yang membintangi fim The Bad Lerutenant ini berusaha keras untuk belajar berenang. Perempuan berusia 37 tahun ini percaya bahwa sangat penting orang bisa mengatasi ketakutan dalam hidup.

Tentang usahanya itu, ia berkata, ”Aku berusaha melawan ketakutanku. Aku berusaha jujur pada diri sendiri dan menghadapi ketakutan itu. Aku tak bisa berenang, jadi aku minta temanku tidak memberikan pelampung. Aku tahu itu gila, tetapi aku melakukannya dan berhasil.”

Sahabat, sering orang membiarkan rasa takut menjadi bagian dari hidupnya. Seolah-olah orang tidak punya kekuatan untuk melawan rasa takut itu. Akibatnya, rasa takut itu menguasai dirinya. Orang tidak bisa melepaskan diri dari rasa takut itu. Padahal rasa takut itu dapat membuat orang tidak berkembang dengan baik. Orang tidak bisa bertumbuh secara maksimal.

Karena itu, kalau orang ingin bertumbuh dengan baik, orang mesti berusaha untuk melawan rasa takut yang ada dalam dirinya. Apa yang dilakukan oleh Eva Mendes menjadi salah satu contoh bagaimana orang mesti berusaha untuk keluar dari rasa takut itu. Orang mesti berusaha untuk jujur pada dirinya sendiri. Orang tidak perlu menutup-nutupi kekurangan dirinya. Orang mesti terbuka untuk meminta bantuan orang lain untuk mengatasi rasa takut yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, orang dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Sebagai orang beriman, kita juga meminta bantuan dari Tuhan yang kita imani. Untuk itu, orang mesti tidak takut membuka hatinya kepada Tuhan. Orang mesti membiarkan Tuhan hadir di dalam hidupnya untuk mengatasi rasa takut itu. Dengan demikian, hidup bahagia yang menjadi bagian dari hidupnya. Bukan rasa takut yang menguasi diri kita. Orang yang takut itu orang yang kurang beriman. Orang yang takut itu terlalu mengandalkan dirinya sendiri. Hal ini juga berarti orang menyombongkan dirinya.

Mari kita berusaha untuk terus-menerus membuka hati kita kepada Tuhan. Dengan demikian, hidup kita dipenuhi oleh kuasa Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


753

08 Agustus 2011

Cermat dan Kritis terhadap Tawaran si Jahat


Ada seorang pemuda yang membenci dirinya sendiri. Pasalnya, ia merasa hidupnya tidak pantas. Ia mengaku selalu jatuh ke dalam dosa yang berat. Ia sudah berjuang habis-habisan untuk melawan dosa-dosanya itu. Namun ia merasa tidak mampu. Sebelum tidur malam, ia sudah berjanji untukk tidak lagi melakukan dosa keesokan harinya. Namun ia masih melakukan dosa yang mengganggu pikirannya.

Karena itu, pemuda itu merasa lebih baik ia mengakhiri hidupnya. Ia merasa tidak kuat menghadapi godaan-godaan. Ia ingin hidup suci, tetapi godaan-godaan untuk melakukan dosa selalu menghantui dirinya. Ia ingin hubungannya dengan Tuhan dan sesama selalu harmonis. Namun yang ia jumpai adalah ia semakin jauh dari Tuhan. Dosa-dosa yang ia lakukan itu membuat relasinya dengan Tuhan dan sesama selalu buruk.

Keputusannya adalah ia membenci dirinya sendiri. Ia merasa bahwa hasrat dirinya untuk melakukan dosa selalu mengalahkan kehendak baiknya. Namun suatu ketika ia disadarkan oleh seorang yang suci. Orang suci itu mengatakan kepadanya bahwa ia tidak perlu membenci dirinya sendiri. Justru ketika ia membenci dirinya itu, ia akan gagal dalam usaha untuk keluar dari dosa-dosanya. Yang mesti ia lakukan adalah menciptakan situasi untuk mencintai dirinya sendiri.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang menggoda kita untuk mengikuti kemauan-kemauan si jahat. Si jahat selalu menawarkan hal-hal yang seolah-olah baik untuk diri kita. Si jahat menawarkan orang untuk meraih kekayaan dalam waktu yang singkat dengan cara yang tidak halal. Si jahat selalu berusaha membuka mata kita untuk menerima dan menghidupi tawarannya. Kalau kita tidak cermat dan kritis, kita dengan gampang akan mengikutinya.

Karena itu, seorang beriman dituntut memiliki hati nurani yang jernih. Artinya, orang beriman selalu cermat dan kritis ketika berhadapan dengan suatu godaan. Orang beriman tidak mudah menyerah terhadap setiap bentuk godaan dari si jahat. Mengapa? Karena apa yang ditawarkan si jahat itu hanya bersifat semu. Apa yang ditawarkan oleh si jahat itu hanya memberikan kebahagiaan sesaat saja. Yang ditawarkan si jahat itu hanya akan menghancurkan hidup kita.

Kita saksikan begitu banyak orang menderita, karena mengikuti tawaran-tawaran si jahat. Orang yang mau menjadi kaya dalam waktu yang singkat kemudian merampok harta kekayaan orang lain dengan kasar. Bahkan orang mengorbankan hidup sesamanya hanya demi kekayaan.

Atau ada orang yang merampas uang rakyat dengan tindakan korupsi. Tindakan korupsi itu dosa yang selalu menghantui dirinya. Akibatnya, ia tidak tenang dalam hidupnya. Ia berusaha untuk menghindar, namun tidak bisa. Sampai suatu saat ia dihadapkan ke pengadilan atas tindakan korupsi itu. Ia akan mengalami hidup yang menderita, kalau ia divonis bersalah. Si jahat telah membawa dirinya kepada kehancuran.

Karena itu, mari kita cermat dan kritis terhadap tawaran-tawaran si jahat. Dengan demikian, hidup kita menjadi damai dan tenteram. Kita dapat bersukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ


752

07 Agustus 2011

Wariskan Kebaikan kepada Sesama

Banyak orang merasa bahwa hidupnya akan menjadi lengkap, kalau mendapatkan warisan dari pendahulunya. Bahkan ada orang-orang yang memburu warisan itu. Akibatnya, sering terjadi konflik karena persoalan warisan. Orang-orang yang bersaudara pun bisa mengalami konflik, karena warisan itu. Hidup persaudaraan menjadi tidak harmonis. Sesama saudara menjadi saling curiga.

Ikang Fawzi merasa lega, karena satu dari dua anak gadisnya, si bungsu Chikita Fawzi, meneruskan jejaknya sebagai penyanyi rock. Chikita yang kini bekerja di bidang animasi di Malaysia memiliki band beraliran rock. Ia aktif tampil di pentas-pentas musik di Malaysia.

Pria berusia 51 tahun ini berkata, ”Di Malaysia, dia jadi animator. Meski banyak kerja malam, ternyata dia masih punya waktu untuk main band.”

Ikan Fawzi semakin bangga setelah menyaksikan penampilan Chikita di atas panggung. Menurutnya, Chikita pantas diberi acungan jempol. Ia berkata, ”Ternyata dia bisa menyanyi dengan baik. Suaranya punya kekuatan. Dia enggak sekadar menyanyi di atas panggung.”

Ikang tidak menyangka Chikita akan mewarisi bakatnya. Tentang hal ini ia berkata, ”Sejak umur enam tahun memang dia belajar piano, gitar juga. Tapi, selebihnya dia belajar sendiri saja.”

Karena itu, yang ia lakukan adalah mendukung sepak terjang anak gadisnya itu. Apa pun yang dia mau, sebagai orangtua, ia mendukung. Ikang berkata, “Apalagi dulu, saya sempat sedih karena enggak ada yang meneruskan jejak saya. Sekarang saya bangga...”

Sahabat, apa yang Anda wariskan bagi anak-anak Anda? Harta yang berlimpah-limpah? Atau yang Anda wariskan adalah kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri Anda? Tentu saja Anda boleh mewariskan apa saja kepada anak-anak Anda. Namun satu hal yang penting adalah warisan yang Anda berikan itu mesti membantu anak-anak Anda menjadi orang-orang yang baik.

Pepatah mengatakan buah yang jatuh itu tidak jauh dari pohonnya. Bakat-bakat yang ada dalam diri seseorang itu juga diwariskan kepada anak-anaknya. Soalnya adalah apakah warisan berupa bakat-bakat itu dapat diteruskan dengan baik? Atau sebaliknya, bakat-bakat itu dibiarkan terlantar dan tidak dikembangkan dengan baik?

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa warisan yang kita tinggalkan bagi penerus kita mesti sesuatu yang baik. Kebaikan yang ada dalam diri kita mesti kita wariskan kepada penerus kita. Semangat hidup kita yang baik menjadi sesuatu yang berguna bagi mereka yang akan membangun hidup yang lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita wariskan iman yang baik dan benar kepada orang-orang yang kita jumpai. Orang mewariskan iman yang dimiliki itu kepada sesamanya. Dengan demikian, iman itu bertumbuh dan berkembang dalam hidup sehari-hari. Namun yang diwariskan itu bukan hanya iman. Yang diwariskan itu juga perbuatan-perbuatan yang baik. Mengapa? Karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman itu tampak dalam perbuatan yang baik dan benar. Mari kita wariskan perbuatan-perbuatan yang baik kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


751

06 Agustus 2011

Meraih Kebahagiaan dengan Cara-cara yang Wajar




Mengikuti keinginan diri bisa-bisa membuat orang ketagihan. Kalau orang tidak dapat mengendalikan keinginan-keinginannya, orang dapat memiliki ketergantungan yang terus-menerus. Karena itu, orang mesti berani membatasi keinginan dirinya. Yang penting bukan memenuhi keinginan itu. Tetapi yang lebih penting adalah orang merasa bahagia dalam hidupnya.

Penyanyi Nindy sudah tak sabar untuk segera kembali lagi ke Kota Solo, Jawa Tengah. Bukan untuk mencari makanan enak atau belanja batik, tetapi ia ingin menari. Keinginan menari itu meluap setelah selama tiga hari sejak Selasa tanggal 4 Mei 2010 lalu, perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, itu bergabung dengan para penari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Tentang menari, ia berkata, ”Menari itu ternyata sangat menyenangkan. Badanku tidak capek, malah jadi lebih enak. Aku jadi kepengin (menari) terus.”

Penyanyi bernama lengkap Anindya Yandirest Ayunda berusia 22 tahun ini ikut dalam sebuah pentas musikal di Jakarta. Karena itu, ia belajar menari. Tentang latihan menari itu, ia berkata, “Awalnya sulit dan badanku sakit. Itu karena baru pertama kali aku nyoba. Tetapi, setelah dicoba terus, ternyata menyenangkan dan aku suka. Aku pengin cepat-cepat kembali ke Solo.”

Sahabat, apa yang dilakukan Nindy merupakan suatu contoh betapa dahsyatnya terpenuhinya keinginan seseorang. Namun orang tidak boleh berhenti pada terpenuhinya suatu keinginan diri sendiri. Orang harus memilah manfaat keinginannya itu bagi kepentingan yang lebih besar. Kalau orang hanya sampai pada usaha meraih keinginan, orang akan cepat bosan dalam hidupnya.

Tentu saja pengalaman Nindy dalam kisah tadi bukan hanya sekedar memenuhi keinginan diri pribadinya. Ia berlatih keras sampai berguling-guling di lantai untuk suatu tujuan yang lebih besar. Berlatih menari itu hanya sebuah sarana untuk mencapai tujuan tampil prima dalam pentas musikal. Ketika ia berlatih dengan baik dan benar, ia mengalami bahagia.

Dalam kehidupan beriman, orang mesti mengalami proses dalam hidupnya. Proses kehidupan itu dijalani dengan suatu usaha keras untuk meraih kebahagiaan diri dan sesama. Hidup orang beriman itu tidak hanya mencari keuntungann bagi dirinya sendiri. Orang beriman tidak hidup untuk dirinya sendiri. Tetapi orang beriman itu selalu berusaha membahagiakan diri dan sesamanya.

Karena itu, dalam meraih kesuksesan dalam hidup, orang beriman mesti berani bekerja bersama yang lain. Orang yang mau terbuka terhadap sesama akan mengalami sukacita dalam hidupnya. Orang akan mengalami bahagia dalam hidup ini. Orang tidak perlu mencari-cari kebahagiaan dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Mari kita berusaha untuk meraih kebahagiaan hidup dengan cara-cara yang wajar dan manusiawi. Kita tidak perlu memaksakan diri kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


750

05 Agustus 2011

Meraih Kebahagiaan dalam Hidup



Setiap orang mendambakan hidup yang bahagia. Untuk itu, ada berbagai usaha untuk meraih hidup yang bahagia. Ada yang kemudian bekerja mati-matian untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta kekayaan. Ada yang memuaskan diri dengan berekreasi ke tempat-tempat wisata yang indah permai. Ada yang mengunjungi sebanyak mungkin teman-temannya.

Namun sering orang salah tanggap. Orang merasa bahwa kebahagiaan itu dicapai setelah keinginan-keinginannya terpenuhi. Apalagi keinginan yang terbesar dalam hidup itu sudah terpenuhi, orang akan merasa sangat senang. Orang seolah-olah merasa berada dalam surga. Orang merasa puas. Orang merasa diliputi sukacita yang tiada tara.

Ada seorang gadis yang merasa senang luar biasa, ketika keinginannya untuk bertunangan dengan pria yang diidam-idamkannya terpenuhi. Hatinya berbunga-bunga. Hari-harinya selalu dikuasi oleh perasaan tenang. Namun setelah beberapa bulan, ia mulai merasa bahwa apa yang telah dicapinya itu sebenarnya membuat dirinya tidak bebas lagi. Ia merasa sedih. Apalagi ia seorang gadis karier yang mesti menentukan segala sesuatu untuk kelanjutan hidupnya.

Gadis itu merasa kariernya terancam. Ia tidak habis pikir mengapa hal itu bisa terjadi. Padahal ia telah memutuskan sendiri memiliki pemuda yang menjadi dambaannya. Ia tidak merasa bahagia. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Ia merasa bahwa hidupnya pun terancam.

Sahabat, kebahagiaan itu bukan hanya soal terpenuhinya keinginan kita. Boleh saja kita meraih keinginan-keinginan yang ada dalam diri kita. Namun bisa saja terjadi bahwa keinginan-keinginan itu justru memasung diri kita. Keinginan-keinginan itu dapat membuat kita tidak bahagia dalam hidup.

Karena itu, orang mesti memiliki pengertian yang benar tentang kebahagiaan. Pengertian yang salah tentang kebahagiaan dapat menyebabkan hidup kita sengsara. Kita dapat menderita lebih parah, ketika kita hanya menyamakan terpenuhinya keinginan dengan kebahagiaan. Untuk itu, orang mesti menguji keinginan-keinginan hatinya. Jangan-jangan keinginan hatinya itu hanya semu belaka. Dengan demikian, orang tidak terjebak pada hanya mengandalkan terpenuhinya keinginan-keinginannya.

Kebahagiaan itu berarti orang memiliki rasa hidup yang benar. Kebahagiaan itu dicapai ketika orang menjalani hidup ini dengan enak, sesuai kebutuhan, seperlunya, secukupnya, semestinya, dan sebenar-benarnya. Kalau orang masih terpasung oleh ambisi pribadi untuk memenuhi keinginan-keinginannya saja, orang gagal meraih kebahagiaan. Orang tidak merasa enak dalam hidupnya. Orang selalu merasa kekurangan dalam hidupnya. Orang belum hidup sebenar-benarnya.

Karena itu, mari kita berusaha mengurangi keinginan-keinginan diri kita. Dengan demikian, kita dapat meraih kebahagiaan hidup yang sebenar-benarnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


749

04 Agustus 2011

Keluarga sebagai Sumber Cinta Kasih



Terbetik berita beberapa waktu lalu seorangg murid kelas dua sebuah SMP di Jakarta Utara nekat bunuh diri. Ia mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di rumah. Pasalnya adalah ia sering dimarahi oleh orangtuanya. Menurut keterangan, orangtuanya meminta dirinya untuk rajin sekolah. Orangtuanya melarangnya untuk mengikuti Kelompok Belajar (Kejar) Paket C.

Tidak terima dimarah terus-menerus, bocah berusia lima belas tahun itu nekat menggantung dirinya. Awalnya ia dimarahi oleh orangtuanya, karena ia tidak masuk sekolah. Anak itu memang malas pergi ke sekolah. Akibatnya, dua kali ia tertinggal kelas. Adiknya yang terpaut dua tahun dengannya kini sama-sama duduk di kelas yang sama.

Menurut beberapa warga, anak itu dikenal sebagai anak yang nakal. Dia memiliki hobi balap motor liar. Dia tidak bergaul di daerah di mana ia tinggal. Teman-temannya kebanyakan berasal dari daerah lain.

Sahabat, berita seperti ini tentu saja membuat hati kita sakit. Ada anak manusia yang mesti mengakhiri hidupnya dengan begitu tragis. Seolah-olah tidak ada jalan yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Orang mudah sekali mengambil jalan pintas.

Tentu saja persoalan bunuh diri dari seorang anak mesti diselidiki secara cermat. Ada banyak hal yang menyebabkan seorang anak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya secara tragis. Misalnya, keharmonisan yang tidak pernah ia dapatkan dalam hidup berumahtangga. Yang ia peroleh dari keluarganya adalah suasana yang mencekam dirinya. Orangtua yang biasa bertengkar, misalnya, dapat menjadi pemicu seorang anak mengakhiri hidupnya secara tragis. Atau kehadiran dalam keluarga yang tidak diterima dengan baik dapat menimbulkan rasa takut dalam dirinya. Ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Kalau situasi keluarga yang kurang mendukung hidup seorang anak, maka orangtua mesti mawas diri. Orangtua mesti mulai mencari cara-cara yang terbaik untuk memperbaiki kondisi keluarga. Orangtua mesti mulai membangun suatu kehidupan yang lebih harmonis.

Dengan demikian, keluarga dapat menjadi tempat yang membahagiakan bagi seorang anak. Keluarga dapat menjadi tempat bagi seorang anak untuk menimba kasih sayang. Keluarga menjadi tempat bagi seorang anak untuk belajar mencintai hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti mendahulukan cinta kasih dalam membangun hidup berkeluarga. Di dalam keluarga itu selalu ada suasana yang bahagia. Dalam keluarga itu masing-masing pihak mampu menimba kebaikan untuk hidup masing-masing. Karena itu, dibutuhkan komitmen bersama dalam membangun hidup bersama yang bersumber dari cinta kasih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ'


747

03 Agustus 2011

Muliakan Tuhan dengan Tubuh yang Sehat dan Segar



Anda masih ingat Madona? Penyanyi dan bintang film satu ini sudah hampir berusia 53 tahun. Namun Madona masih memiliki tubuh yang begitu kencang. Ia masih tampil seksi dan menarik di atas panggung.

Apa yang membuat penampilannya masih segar bugar? Ternyata Madona punya kebiasaan berlatih dengan keras dan pola makan yang sehat. Selain itu tentunya juga kekayaan, yang membuatnya mampu melakukan perawatan apa pun yang diinginkannya.

Namun, ada dua hal lagi yang disebut-sebut sebagai rahasia awet muda Madonna. Ibu tiga anak ini kabarnya rajin minum air kelapa. Ia sudah menginvestasikan 1,5 juta US dollar di perusahaan air kelapa, Vita Coco. Minuman yang diperoleh dari kelapa hijau muda ini diyakini mengandung nutrien dan elektrolit yang menjaga kulit dan tubuhnya tetap berkilau.

Sahabat, banyak orang mencari cara-cara terbaik untuk memiliki tubuh yang awet muda. Berbagai sarana dan prasarana pun disediakan untuk menciptakan kebugaran tubuh itu. Misalnya, finess center yang dibangun di banyak tempat di kota kita. Atau jamu-jamuan yang diciptakan untuk memelihara tubuh kita tetap sehat dan awet. Tak terhitung banyaknya dana yang telah dikeluarkan oleh manusia untuk awet muda.

Pertanyaannya, mengapa manusia berusaha mati-matian untuk menciptakan sarana dan prasarana itu? Jawabannya adalah karena hidup ini memiliki nilai yang tinggi. Mengapa Madona berlatih keras untuk menjaga kesintalan tubuhnya? Karena hidup ini memiliki makna yang begitu mendalam. Kalau hidup ini tidak memiliki makna, untuk apa orang berusaha keras untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap sehat dan segar?

Tuhan telah menciptakan tubuh manusia dengan tujuan-tujuan yang indah. Tubuh yang sehat dan segar memiliki daya yang kuat untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Soalnya, banyak orang kurang peduli terhadap hidup ini. Banyak orang membiarkan tubuhnya loyo dan lemas oleh berbagai perilaku negatifnya. Orang kurang menghargai kehidupan ini.

Minum minuman beralkohol tinggi merupakan salah satu bentuk kurangnya penghargaan manusia terhadap kehidupan. Atau merokok dan menggunakan narkoba menjadi salah satu bentuk penolakan manusia terhadap makna kehidupan ini. Kenikmatan sesaat itu mendorong manusia untuk mengenyahkan kehidupan yang telah diberikan Tuhan itu. Bukankah ini suatu tindakan yang tidak mensyukuri kebaikan Tuhan?

Mari kita memelihara tubuh kita agar tetap sehat dan segar. Dengan demikian, kita dapat memuliakan Tuhan dengan tubuh kita yang segar dan sehat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

746

02 Agustus 2011

Penantian yang Butuh Jawaban dari Sesama



Pernahkah Anda bayangkan bagaimana seorang istri menjalani hari-hari sebagai pasangan seorang serdadu yang tengah bertugas di medan pertempuran? Bukan perkara mudah untuk menjalaninya, bukan? Terlebih, hari-hari selalu dihantui dengan ketidakpastian akan nasib orang yang dikasihi. Apalagi godaan-godaan terus-menerus membahayakan hubungan mereka.

Kisah-kisah penuh warna ini dijalani oleh Claudia Joy Holden, Denis Sherwood, Roxy LeBlanc dan Pamela Moran. Empat perempuan ini bersuamikan serdadu Amerika Serikat. Suami-suami mereka, ditugaskan di medan pertempuran.

Berbagai persoalan hidup muncul mewarnai kehidupan mereka. Dari menjalani kehidupan sebagai "single parent" atau orangtua tunggal hingga menanti ketidakpastian akan nasib suami-suami mereka. Sebuah kisah yang mengugah. Menyelami kehidupan penuh warna yang nyaris serupa dengan kehidupan nyata para pasangan tentara.

Mereka dituntut untuk tetap setia dalam penantian. Mereka mengisi penantian tak menentu itu dengan berbagai kegiatan. Mengurus anak dengan baik merupakan satu sisi kehidupan mereka. Karena itu, kehidupan mereka jauh dari kesepian. Sisi kehidupan seperti ini menjadi suatu keutamaan yang mereka jalani sehari-hari. Hasilnya adalah suatu situasi yang membahagiakan. Suatu situasi yang juga membanggakan atas tugas militer sang suami di medan laga.

Sahabat, dalam hidup sehari-hari kita semua juga sedang menanti. Ada yang senang menanti orang yang dicintai. Ada yang menanti hadiah dari seseorang. Saya baru saja mendapat sms dari seseorang. Ia berkata, “Tolong bantuin aku, Tuhan. Aku sekarang ini lagi nggak ada uang belanja. Aku tak tahu mau ke mana aku harus minta bantuan.”

Orang yang saya tidak kenal ini sangat membutuhkan bantuan. Ia ingin meneruskan perjalanan hidupnya yang masih panjang. Ia sedang menantikan uluran tangan orang-orang yang berkehendak baik. Ia sedang mengalami kesulitan hidup. Pantaskah ia berlama-lama menanti uluran tangan dari sesamanya? Bukankah hidupnya mesti berjalan terus? Bukankah ia tidak ingin hidupnya berhenti lantaran tidak mendapatkan sesuap nasi?

Tentu saja pesan sahabat kita satu ini membangunkan insting manusiawi kita untuk memberi dari apa yang kita miliki. Bukankah setiap manusia telah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki hati yang rela memberi? Karena itu, penantian penuh harapan dari sahabat kita satu ini sudah semestinya mendapatkan jawaban. Dengan demikian, ia dapat melanjutkan perjalanan hidupnya dengan senyum bahagia.

Mari kita memupuk hati kita untuk mudah tergugah oleh penantian panjang sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


745

01 Agustus 2011

Memaafkan Kesalahan Sesama


Ada seorang ibu yang merasa sangat sakit hatinya. Hatinya terluka oleh perbuatan suaminya. Suami itu sangat ia cintai. Ia menyediakan semua kebutuhan suaminya dengan penuh perhatian. Setiap kali suaminya mau pergi kerja, ia selalu menyediakan kebutuhan suaminya. Ia merasa bahwa sekali pun dalam hidupnya, ia tidak pernah lalai memperhatikan suaminya.

Namun akhir-akhir ini ia berbalik seratus delapan puluh derajat. Ia ogah menyiapkan kebutuhan-kebutuhan suaminya. Ia tidak kuat lagi menghadapai tipu muslihat yang dilakukan oleh suaminya. Ia pun tidak bisa mengampuni penyelewengan suaminya. Suaminya telah melakukan perselingkungan dengan wanita lain.

Tentang hal ini ia berkata, “Saya sangat terluka. Saya tidak bisa mengampuni dia. Dia sudah menyakiti saya berulang kali. Saya tidak mau memaafkan dia. Dia tidak pantas dimaafkan.”

Yang terjadi kemudian adalah ibu ini hidup dalam penderitaan. Luka batinya begitu dalam. Sulit untuk diobati. Ia memandang suaminya sebagai musuh yang harus dienyahkan. Semua perbuatan baiknya bagi suaminya ia hentikan. Ia tidak mau melayani suaminya lagi. Suatu tragedi terjadi dalam bahtera hidupnya. Padahal hanya satu kali sang suami mengingkari cintanya.

Sahabat, ketika orang memiliki kesepakatan untuk membangun bahtera perkawinan, ada berbagai resiko yang mesti mereka hadapi. Salah satu resiko itu adalah ketika orang mesti menghadapi ketidaksetiaan dari pasangannya. Kalau orang hanya mau menang sendiri, orang akan jatuh ke dalam egoisme yang sangat besar. Egoisme itu akan menguasai dirinya. Egoisme itu akan menutup semua hal yang baik yang ada dalam diri pasangannya. Yang ia lihat dalam diri pasangannya hanyalah hal-hal buruk dan negatif. Tidak ada hal baik sedikit pun.

Karena itu, dibutuhkan komunikasi yang baik dalam kehidupan berkeluarga. Komunikasi yang baik itu mengandaikan saling pengertian dan percaya. Ketika seseorang mempercayai pasangannya, ia tidak perlu kuatir akan berita miring tentang pasangannya.

Untuk itu, pasangan suami istri mesti selalu saling belajar untuk memiliki pengertian dan rasa percaya. Dengan demikian, mereka tidak perlu saling menaruh curiga. Kasih mereka akan bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik. Buah dari kasih itu adalah saling mengampuni. Pintu hati selalu terbuka untuk memaafkan pasangannya. Luka batin tidak perlu tumbuh dalam diri salah satu pasangan hidup.

Memang, tidak gampang menerima dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Lebih gampang kita mencampakan orang yang bersalah itu. Namun ini bukan semangat orang beriman. Orang beriman itu senantiasa berusaha dengan berbagai cara untuk menerima kembali sesamanya yang bersalah dan berdosa. Tidak ada jalan buntu dalam membangun kasih dan persaudaraan. Mari kita berusaha untuk senantiasa menerima dan memaafkan sesama yang bersalah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


744