Pages

07 Mei 2014

Cinta Sejati mesti Ditumbuhkan


Dalam hidup ini, sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh Anda? Apakah mobil mewah yang bisa membawa Anda ke mana-mana dengan aman dan nyaman? Atau istri cantik atau suami ganteng yang selalu berada di sisi Anda? Atau harta kekayaan yang melimpah yang membuat hati Anda tenang?

Ada seorang bapak yang suka gonta-ganti mobil mewah. Ia suka memburu mobil-mobil mewah itu. Ia mengira bahwa setiap kali ia memiliki mobil mewah, hatinya akan tenang. Ternyata tidak! Ia selalu tidak puas dengan setiap mobil mewah yang telah dimilikinya. Ia selalu resah. Ia terus-menerus memburu mobil mewah itu.

Lantas apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia di zaman sekarang ini? Kalau bukan harta kekayaan dan kemewahan, lalu apa? Seorang bapak selalu resah, karena memiliki istri yang sangat cantik. Mengapa? Ia selalu curiga, jangan-jangan istrinya selingkuh karena disukai banyak kaum pria. Jadi apa yang membuat manusia tenang dalam hidup ini?

Sahabat, pertanyaan-pertanyaan di atas membawa kita pada suatu refleksi yang mendalam tentang hidup ini. Apa yang paling utama kita butuhkan dalam hidup ini sebenarnya cinta atau kasih sayang. Cinta membuat orang tenang dalam hidupnya. Cinta yang tulus membuat orang berani menjalani hidup ini apa adanya. Semua kekayaan dan kemewahan yang dimiliki hanyalah sarana untuk memiliki cinta yang tulus. Kalau orang tidak mengalami cinta yang tulus berkat harta yang melimpah, orang mesti berpikir ulang tentang harta yang melimpah itu.

Menurut seorang psikolog, untuk dapat sehat secara mental, yang diperlukan seseorang adalah cinta. Orang mesti menyadari lebih dalam bahwa manusia hidup dari cinta, hidup oleh cinta dan juga untuk cinta. Viktor Frankl mengatakan bahwa cinta adalah tujuan utama dan tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Psikolog terkenal ini berkata, ”Saya menangkap makna rahasia terbesar yang melingkar dalam syair, dalam pikiran dan keyakinan manusia, yaitu penyelamatan manusia diperoleh lewat cinta dan di dalam cinta.”

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh manusia dalam hidup ini adalah menghidupi cinta tanpa syarat. Suatu cinta yang senantiasa mengutamakan kebahagiaan dalam hidup ini. Inilah cinta sejati. Cinta yang merupakan hadiah yang diberikan secara cuma-cuma kepada orang lain.

Tugas seorang beriman adalah memberikan cinta yang tulus dan sejati kepada sesamanya, siapa pun mereka. Sering orang memilih-milih siapa yang dapat dicintainya. Namun cinta yang sejati tidak memilih-milih. Erich Fromm, psikolog yang terkenal dengan bukunya, The Art of Loving, menulis tentang cinta tak bersyarat. Menurut Fromm, cinta tak bersyarat berhubungan langsung dengan kerinduan yang paling dalam, bukan hanya kerinduan pada anak, melainkan kepada setiap manusia.

Mari kita tumbuhkan cinta dan kasih sayang dalam hidup kita. Dengan demikian, kita mampu menciptakan suatu dunia yang lebih baik. Kita mampu mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1093

04 Mei 2014

Kebenaran Masih Dibutuhkan dalam Hidup



Kebenaran sering menjadi taruhan dalam hidup ini. Banyak orang menyelewengkan kebenaran, karena ingin hidup aman dan tenteram. Mereka mengabaikannya, karena ingin menikmati hidup yang penuh dengan ketidakjujuran.

Suatu hari seorang anak menceritakan sesuatu yang salah yang dilakukan oleh teman kelasnya. Menurutnya, temannya itu telah nyontek selama ulangan. Ia menceritakan hal itu kepada teman-temannya yang lain. Akibatnya, teman-temannya marah terhadap teman yang disangka nyontek itu.

Mereka mendatanginya. Mereka meminta, agar dia mengakui bahwa dia nyontek. Tidak mengerjakan ulangan dengan jujur. Anak itu membela diri. Soalnya adalah ia tidak melakukan hal itu. Ia sudah belajar dengan baik. Ia mengerjakan soal-soal ulangan dengan baik pula. Ia yakin, ia akan memperoleh hasil yang baik.

Mereka tidak bisa membuktikan bahwa teman mereka telah nyontek selama ulangan. Mereka tidak apa-apakan dia. Biasanya mereka akan memarahi teman mereka yang kedapatan nyontek waktu ulangan. Kali ini mereka tidak bisa buat apa-apa, karena mereka mendengar cerita dari teman yang lain.

Selidik punya selidik, ternyata teman mereka itu mengatakan suatu kebohongan. Ia ingin merusak nama baik temannya itu. Ia benci terhadap sesamanya itu. Karena itu, ia mengatakan yang tidak benar tentang dirinya. Akibatnya, anak yang berbohong itu kehilangan banyak teman. Ia tidak disukai karena telah menyebarkan berita bohong tentang teman kelasnya. Kebohongan itu ternyata tidak bertahan lama. Ia akan menguap seperti air di samudera yang luas. Hilang tanpa bekas.

Sahabat, mengapa kebohongan mudah digerus oleh zaman? Karena kebohongan tidak punya kekuatan. Kebohongan tidak punya bukti-bukti yang kuat untuk mempertahankan diri. Karena itu, kebohongan sering bertahan untuk waktu yang tidak lama. Cepat lenyap dari hadapan manusia. Nilai kebenarannya tidak ada, sehingga tidak punya kekuatan apa-apa.

Sedangkan kebenaran itu penuh kekuatan. Kebenaran itu kuat seperti angin yang memporakporandakan. Kebenaran mampu menghancurkan tipu muslihat, karena kekuatannya yang dahsyat itu. Ketika orang menceritakan kebohongan, orang kehilangan hubungan dengan kekuatan yaitu kebenaran.

Memang, orang yang selalu berpegang teguh pada kebenaran selalu mengalami godaan-godaan. Bahkan orang seperti ini dipandang sebagai ancaman bagi orang yang hidupnya dipenuhi dengan kebohongan. Namun orang yang mengandalkan kebenaran mesti bertahan. Tidak boleh menyerah. Tidak boleh tergoda untuk mengikuti jalan orang yang suka berbohong. Orang seperti ini tidak boleh larut dalam tipu muslihat kebohongan.

Sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa mengandalkan kebenaran dalam hidup ini. Orang yang berpegang pada kebenaran selalu memperjuangkan kebaikan bersama. Sedangkan orang yang mengandalkan kebohongan hanya memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Yang penting dirinya senang dan orang lain mengalami susah dan derita.

Mari kita terus-menerus memperjuangkan kebenaran dalam hidup ini. Dengan demikian, kita berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1092

03 Mei 2014

Orang Beriman Andalkan Tuhan



Sering manusia ingin berjalan sendiri menurut keinginan-keinginannya. Namun ada banyak rintangan yang membuat manusia jatuh ke dalam godaan dan dosa.

Ada seorang bapak yang menurut istrinya sangat baik hati. Setiap kali istrinya melakukan suatu kesalahan ia selalu memakluminya. Setelah memberi nasihat sekedarnya, bapak itu memaafkan istrinya. Situasi seperti itu memberikan suatu semangat dalam hidup berkeluarga. Sang istri merasa hidup ini menjadi lebih bermakna. Ia dapat melayani kebutuhan-kebutuhan hidup bersama dengan baik.

Suatu ketika, sang suami melakukan kesalahan yang berat. Ia tertangkap tangan sedang menjual narkoba. Ia mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia ditahan pihak berwajib. Ia pun kemudian diadili atas perbuatannya itu. Hukuman yang mesti dijalani oleh sang suami sangat berat, yaitu 15 tahun penjara.

Bagi sang istri, situasi seperti itu membuat ia patah semangat. Ia mesti membesarkan anak sematang wayangnya sendirian sementara suaminya mesti mendekam di penjara. Ia mesti memulai hidup tanpa sang suami yang sangat dicintainya itu.

”Bagaimana saya bisa menjalani hidup ini tanpa suami saya? Dialah yang selalu membesarkan hati saya setiap kali saya jatuh ke dalam dosa. Apa yang akan terjadi ketika saya jatuh ke dalam dosa? Siapa yang akan membesarkan hati saya? Siapa yang akan memaafkan saya?” kata sang istri.

Istri itu terus-menerus dihantui oleh situasi tersebut. Namun ia mesti bangkit. Ia mesti memulai hidup baru tanpa sang suami di sisinya setiap hari. Ia masih punya tanggung jawab atas anak yang dilahirkannya. Karena itu, ia pun bangkit. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia berjuang untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Ia membesarkan dan membahagiakan anaknya.

Sahabat, manusia semestinya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Orang boleh saja mengalami penderitaan dalam hidup. Tetapi orang mesti punya keyakinan bahwa masih ada secercah cahaya yang mampu membangkitkan dirinya dari keterpurukan. Cahaya itu adalah iman kepada Tuhan. Ketika orang mampu menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, orang akan mampu bangkit. Orang tidak begitu saja terpuruk dan mati dalam penderitaannya.

Kisah di atas mengajak kita untuk tetap bertahan dalam penderitaan. Kita mesti bangkit. Kita mesti mencari cara-cara terbaik untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup kita.

Soalnya adalah mampukah kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita? Bukankah ada orang yang kurang percaya bahwa Tuhan mampu memberi pertolongan bagi dirinya? Bukankah ada orang yang menempatkan Tuhan sebagai pemain cadangan dalam hidupnya? Banyak orang mau datang kepada Tuhan hanya ketika mereka membutuhkan-Nya. Padahal Tuhan selalu siap untuk membantu manusia kapan dan di mana saja.

Karena itu, yang dibutuhkan dari hidup manusia adalah sikap penyerahan hidup yang total kepada Tuhan. Artinya, orang mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya penolong dalam hidupnya. Orang mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya penyelamat dalam hidup ini.

Mari kita serahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, kita dapat semakin percaya bahwa Tuhan sungguh penolong kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1091

02 Mei 2014

Mengapa Hati Manusia Menjadi Keras

Prinsip hidup yang kuat sering membuat orang memiliki hati yang keras. Apa yang diinginkan selalu ingin dipenuhi. Akibatnya, orang mengalami hati yang keras dalam kehidupannya.

Ada seorang pemuda yang terkenal dengan ketegaran hatinya. Ia punya prinsip yang kuat dalam hidupnya. Soalnya, prinsip-prinsip hidupnya itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan bersama. Ia mau hidup dengan caranya sendiri. Misalnya, ia merasa bahwa orang tidak perlu bayar pajak kepada pemerintah. Alasannya adalah pihak pemerintah selalu menyalahgunakan hasil pajak itu. Dalam hal ini ia menjadi orang yang cuek. Ia tidak peduli.

Ketika diberi penjelasan oleh teman-temannya tentang hal ini, ia tidak mau juga mengerti. Ia tetap saja bertahan pada prinsipnya. Ia mau agar semua orang bebas pajak. Pemerintahlah yang seharusnya memfasilitasi masyarakatnya. Pasalnya, pemerintah menguasai semua sektor yang menghasilkan devisa bagi negara.

Akibatnya, ia disingkirkan banyak orang karena prinsip hidupnya yang dianggap aneh. Namun ia tidak peduli. Ia hidup dengan cara pandangnya sendiri. Ia tidak ingin didikte oleh orang lain. Ia punya pilihan dan cara hidup sendiri. Ia tidak ingin orang lain mencampuri urusan dirinya itu.

Sahabat, tampaknya kisah di atas menunjukkan bahwa pemuda itu orang yang tidak gampang bertobat. Meski sudah dijelaskan dan diberi pengertian, ia mau hidup dengan caranya sendiri. Ia tetap bertahan pada prinsip-prinsip hidupnya sendiri yang dirasakannya benar. Ia memang orang yang tegar. Bisa saja bahwa orang seperti ini akan ditinggalkan banyak orang. Orang yang hidup dengannya akan selalu merasa ada yang tidak beres. Tidak ada yang klop berhadapan dengan orang seperti ini.

Soalnya, mengapa orang sulit sekali untuk bertobat? Jawabannya adalah manusia selalu menganggap diri benar. Manusia menjalankan apa yang menurut dirinya sendiri baik dan benar. Padahal belum tentu apa yang dipikirkan dan dilakukannya itu benar dan baik bagi sesama.

Dalam hubungannya dengan Tuhan, orang yang sulit bertobat itu merasa tidak membutuhkan Tuhan. Ia merasa bisa melakukan apa saja tanpa bantuan Tuhan. Mungkin dalam pikirannya, kehadiran Tuhan hanyalah mengganggu dirinya. Karena itu, lebih baik ia melaksanakan apa yang menjadi kehendak dirinya sendiri. Ia tidak perlu mendengarkan kehendak Tuhan bagi hidupnya.

Orang seperti ini menutup diri terhadap kehendak Tuhan bagi dirinya sendiri. Lebih baik ia melaksanakan kehendaknya sendiri daripada melaksanakan kehendak Tuhan. Menurut orang seperti ini, kehendak Tuhan itu tidak jelas. Kehendak Tuhan kurang menyenangkan dirinya.

Namun Tuhan tetap menaruh kasih kepada orang seperti ini. Tuhan mau agar orang seperti ini juga senantiasa menemukan kebaikanNya dalam hidup sehari-hari. Rahmat Tuhan akan tetap menaungi dirinya. Hingga suatu saat orang seperti ini akan sadar bahwa ia membutuhkan Tuhan bagi perjalanan hidupnya. Ketika ia mengalami kebuntuan dalam hidupnya, ia akan datang kepada Tuhan. Ia akan bersujud di hadapan Tuhan dan mohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya.

Mari kita buang hati kita yang tegar. Hati yang keras seperti batu kita ubah dengan hati daging yang lemah lembut. Hati yang mudah tersentuh oleh kebaikan Tuhan. Dengan demikian, kita dapat memiliki hidup yang kekal. Kita mampu berjalan bersama Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/SIGNIS INDONESIA


1090

01 Mei 2014

Berani Bersabar demi Yang Lebih Baik



Apakah Anda punya kesabaran yang tinggi dalam hidup ini? Kalau Anda mesti menunggu seorang teman yang berjanji untuk menjumpai Anda, namun setelah enam jam ia belum datang juga, apakah Anda masih sabar menunggunya? Kalau Anda punya kesabaran yang tinggi, Anda akan menunggunya sambil mengerjakan pekerjaan rutin Anda. Namun kalau Anda kurang punya kesabaran, Anda akan meninggalkannya. Anda tidak akan peduli terhadap dirinya. Di sinilah kesabaran dan kesetiaan seseorang diuji.

Banyak orang mengatakan kesabaran itu kekuatan yang menjadikan seseorang tabah, tekun dan berani dalam hidup ini. Tabah mengandung unsur tahan derita, tidak mudah mengeluh. Sakit dan derita dijalani sebagai bagian dari hidup.

Orang yang tekun itu tidak putus asa. Orang yang tekun itu penuh pengharapan, karena yakin bahwa pasti ada jalan untuk mengatasinya. Berbagai persoalan yang dihadapi akan diatasi dengan penuh semangat. Ketekunan membantu seseorang untuk menemukan cara-cara yang brilian dalam mengatasi setiap persoalan hidupnya.

Orang yang berani biasanya orang memiliki kesiapsediaan untuk menghadapi situasi hidupnya. Peristiwa-peristiwa hidup dilalui dengan sukacita, karena berani menghadapinya dengan tenang. Meski ada derita dalam pengalaman hidup, tetapi yang berani akan tetap punya optimisme dalam hidupnya. Dengan demikian, orang tetap bertahan dalam hidupnya. Orang tidak mampu digoyahkan oleh berbagai persoalan dan pengalaman pahit hidup ini.

Sahabat, tentang kesabaran, Richard Calson berkata, ”Semakin kita sabar, semakin kita dapat menerima hidup ini apa adanya, bukan semakin memaksa hidup ini persis seperti yang kita kehendaki.” Misalnya sekarang Anda jatuh sakit, pasti Anda menghendaki cepat sembuh. Dengan berbagai cara Anda akan mengupayakan kesembuhan itu. Namun kesembuhan butuh proses. Proses berarti butuh waktu. Dan untuk berjalan dalam proses waktu, dibutuhkan kesabaran.

Kalau Anda seorang yang sedang dirawat di rumah sakit, Anda butuh beberapa tahap untuk mencapai kesembuhan. Tahap pertama pemeriksaan fisik secara sistimatis oleh dokter, kemudian tindakan dan pemulihan. Terhadap tahapan-tahapan ini dibutuhkan kesetiaan dari Anda untuk menjalaninya.

Kesabaran itu seperti tumbuhnya sebatang pohon yang menghasilkan buah untuk dimakan. Untuk dapat menghasilkan buah, pohon tersebut harus melewati proses pertumbuhan yang panjang: tumbuh, bunga, buah. Proses ini butuh waktu yang panjang. Mungkin satu atau dua tahun. Mungkin juga sepuluh atau dua puluh tahun, baru sebatang pohon memberikan buah yang segar bagi hidup manusia. Untuk itu, dibutuhkan kesabaran.

Orang beriman itu mesti menumbuhkan kesabaran dalam hidupnya. Kalau berdoa, orang beriman tidak bisa mengharapkan hasil dalam waktu sejenak. Orang mesti sabar menanti jawaban dari Tuhan. Mungkin Tuhan akan menjawab perrmohonan-permohonannya, namun tidak persis seperti yang diharapkan. Memang, Tuhan tidak wajib mengabulkan setiap permohonan kita. Karena itu, kita mesti tetap berharap dengan penuh iman kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT/SIGNIS INDONESIA


1089

30 April 2014

Mengalami Tuhan dalam Hidup Sehari-hari


Sering orang mengalami bahwa Tuhan jauh dari hidupnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang hanya mengandalkan dirinya sendiri. Tuhan hadir dalam kehidupan manusia.

Di suatu desa, hiduplah seorang petani dan anaknya. Ayah dan anak ini menanam padi untuk penghidupan mereka. Setelah mencangkul di musim kemarau yang panas, keduanya mulai menanam di musim hujan tiba. Maklum, kebun yang mereka miliki adala ladang yang hanya bisa ditanami di musim hujan.

Sang anak bekerja tanpa kenal lelah membantu ayahnya. Ia tidak peduli kedua telapak tangannya menjadi tebal. Butir-butir keringat yang ia cucurkan menjadi sumber rejeki bagi keluarganya. Setelah menanami ladang penuh dengan padi, keduanya mulai beristirahat. Mereka menunggu sampai masa penyiangan tiba. Mereka akan membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela padi.

Setelah masa penyiangan selesai, keduanya tetap bekerja dengan memberi pupuk pada batang-batang padi itu. Hingga suatu ketika keduanya menikmati hasil panen yang melimpah dari ladang mereka. Setelah beberapa hari padi-padi itu dipanen, sang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, beri saya waktu untuk istirahat. Saya mau pergi ke kota. Boleh kan sesekali saya menikmati hasil kerja kita?”

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia mengerti itulah keinginan setiap pemuda. Mereka bekerja untuk mengumpulkan uang. Setelah itu mereka gunakan untuk berfoya-foya. Mereka butuh kesempatan untuk menikmati hidup. Tidak selamanya orang hanya bekerja dan bekerja.

Karena itu, ayahnya mengijinkan anaknya itu untuk meninggalkan desa menuju kota. Meski ia tahu bahwa anaknya akan seperti rusa masuk kota, ia tetap membiarkan anaknya pergi. Ia butuh pengalaman. Ia butuh kesempatan untuk mengisi hidupnya dengan pengalaman-pengalaman baru. Apa yang akan terjadi dengan dirinya, sang ayah yakin, anaknya akan mampu bertanggungjawab.

Sahabat, orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Orang yang berani bergelut dengan pengalaman akan menemukan bahwa hidup ini memiliki aneka keindahan. Orang berani belajar dari pengalaman-pengalaman itu. Orang mengasah ketrampilan dirinya melalui pengalaman-pengalaman itu.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang akan menemukan pengalaman baru dalam hidupnya, ketika ia berani melangkahkan kakinya. Pengalaman itu mesti dijalani. Pengalaman tidak datang dengan sendirinya. Ketika pemuda itu berani meninggalkan desanya, ia boleh berharap akan mendapatkan berbagai pengalaman menarik. Pengalaman-pengalaman baru itu akan memperkaya dirinya dalam hidupnya sehari-hari.

Demikian halnya dengan pengalaman akan Tuhan. Kita percaya bahwa penyertaan Tuhan kita alami dalam kehidupan kita yang nyata. Mengapa? Karena Tuhan hadir dalam perjalanan hidup kita. Tuhan hadir dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Karena itu, orang beriman mesti berani mencari Tuhan dalam hidup sehari-hari.

Orang beriman mesti berusaha menemukan Tuhan dalam kehidupannya yang nyata. Lantas kalau sudah berjumpa dengan Tuhan, orang mesti berani bertanya tentang kehendak Tuhan bagi dirinya. Hanya dengan cara ini, orang mampu berjalan bersama Tuhan. Orang mampu mengenal kehendak Tuhan bagi hidupnya. Dengan demikian, orang menemukan sukacita dan damai dalam hidupnya. Tuhan memberkati **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/SIGNIS INDONESIA


1088

26 April 2014

Mengampuni meski Terasa Sakit




Memaafkan sesama tidak selalu mudah. Hal ini karena di dalam diri kita sudah tertanam rasa sakit. Kita bahkan berusaha untuk membalas dendam.

Seorang gadis merasa kecewa luar biasa terhadap pacarnya. Pasalnya, ia merasa sudah banyak berkorban untuk pacarnya itu. Tetapi pacarnya itu serta merta meninggalkan dirinya. Tanpa alasan yang jelas. Bahkan pacarnya itu sudah punya pacar baru. Hati gadis itu pedih serasa diiris sembilu.

Gadis itu mengaku bahwa ia sulit melupakan peristiwa pedih itu. Akibatnya, ia merasa sulit untuk mengampuni mantan pacarnya itu. Ia berkata, ”Tidak ada pintu maaf di hati saya baginya. Saya merasa sakit. Saya tidak bisa menerima perlakuannya. Saya sadar, saya bukanlah yang tercantik, tetapi saya juga punya hak untuk tidak diperlakukan seperti ini.”

Sejak itu, gadis itu tidak percaya terhadap setiap lelaki. Ia menolak semua pemuda yang berusaha mendekatinya. Ia tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Ia menutup pintu hatinya rapat-rapat bagi setiap cinta dari kaum lelaki. Ia memutuskan untuk hidup sebatang kara. Ia tidak mau hidup bersama seorang lelaki pun untuk membangun sebuah keluarga. Baginya, hidup menyendiri lebih bermakna.

Sayang, gadis itu tetap merasa sulit untuk mengampuni. Pintu pengampunan sudah tidak ada bagi mantan pacarnya itu. Ia hidup dalam situasi penuh curiga. Mengapa hal itu terjadi? Karena ia tidak ingin disakiti. Ia tidak ingin dikecewakan lagi. Baginya, satu kali kecewa itu sudah cukup. Gadis itu akhirnya mengakhiri hidupnya dalam kesendirian dan kekecewaan yang mendalam.

Sahabat, orang yang hidup tanpa cinta kasih itu sebenarnya orang yang telah mati. Ia tidak digerakkan oleh dorongan cinta kasih yang menjadi dasar hidup seorang manusia. Orang seperti ini lebih mementingkan dirinya sendiri. Orang seperti ini tumbuh dalam egosime yang sangat kuat.

Padahal cinta kasih yang normal itu membawa rasa sakit dalam hidup. Cinta kasih yang tulus itu membiarkan dirinya merasa kecewa, karena korbannya dianggap sepele. Cinta kasih yang sesungguhnya itu dibangun di atas butir-butir keringat dan airmata. Ada rasa sakit. Ada korban. Namun orang tidak berhenti pada rasa sakit dan korban. Orang mesti bangkit dari rasa sakit itu. Orang mesti berani meninggalkan rasa sakit dan kecewa. Caranya adalah dengan berani melupakan perlakuan dari mereka yang menyebabkan hati tersayat-sayat. Caranya adalah dengan mengampuni mereka yang telah membuat menusuk hati kita dengan kata-kata yang tidak mengenakkan.

Orang beriman itu selalu punya pintu pengampunan bagi sesamanya yang melakukan dosa dan kesalahan terhadap dirinya. Hanya dengan pengampunan itu, orang dapat lepas dari rasa sakit hati. Hanya dengan memberikan maaf yang tulus orang dapat mengobati luka batinnya.

Membiarkan diri terus-menerus didera oleh kekecewaan adalah suatu tindakan kurang bijak. Mengapa? Karena yang mengalami rasa sakit itu adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Yang mengalami luka batin itu adalah diri sendiri. Karena itu, dalam ketegaran hati orang mesti memiliki hati yang mudah tersentuh untuk mengampuni sesamanya. Tuhan memberkati **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT/SIGNIS INDONESIA


1087

15 April 2014

Mengasihi Seperti Tuhan Mengasihi Kita



Sudahkah Anda mengasihi saudara Anda yang paling dekat dengan tulus hati? Kalau belum, mengapa Anda belum bisa mengasihinya dengan hati yang tulus?

Suatu hari seorang ibu tiba-tiba meninggal dunia. Beberapa menit sebelumnya ia baru saja menelephone seorang temannya. Tetapi begitu selesai memutuskan hubungan telephone, ia pun merebahkan diri. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Banyak orang tidak percaya akan peristiwa itu. Orang-orang yang mendengar berita itu pun menggeleng-gelengkankan kepala. Ada yang berkata, “Begitu cepat dia pergi untuk selamanya. Tidak disangka. Dia meninggal dengan begitu damai.”

Pada hari pemakaman, ribuan orang datang melayat. Kali ini mereka datang bukan karena mereka terkejut oleh peristiwa kematian yang tiba-tiba itu. Tetapi lebih dari itu, mereka ingin memberikan penghormatan yang terakhir bagi ibu itu. Mereka mencintai ibu itu. Mereka menyanginya.

Salah seorang pelayat berkata, “Dia orang yang baik. Dia peduli terhadap sesamanya. Ia tidak memilih orang dalam bergaul. Ia bergaul dengan semua orang.”

Seorang yang lain lagi mengatakan bahwa ibu itu seorang yang beramal dengan hati yang tulus. Ia tidak mencari muka. Ia tidak mau disanjung-sanjung. Karena itu, pantaslah ribuan orang melayat saat dia meninggal dunia. Tidak sedikit pula dari para pelayat itu meneteskan air mata. Mereka merasa kehilangan seseorang yang sangat berjasa bagi perjalanan hidup mereka.

Sahabat, kebaikan seseorang tidak dinilai dari seberapa besar ia mengasihi, tetapi dari seberapa besar ia dikasihi oleh orang lain. Mengasihi berarti orang berani memberikan hidup bagi yang lain tanpa mengharapkan balasannya. Hal ini sering sulit terjadi, karena banyak orang takut kehilangan dirinya. Banyak orang takut kehilangan kasih itu. Padahal ketika orang mengasihi yang lain, orang mendapatkan kasih yang tak henti dari sesamanya itu.
  
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa perbuatan baik dalam kasih itu tinggal tetap di dalam diri orang-orang yang menerima kasih itu. Mengapa? Karena kasih itu tak berkesudahan. Kebencian, iri hati dan kesombongan akan berlalu, tetapi kasih terhadap sesama akan dikenang terus-menerus. Kasih tidak membunuh, tetapi kasih justru memberi hidup kepada manusia.

Namun kasih yang sungguh-sungguh kudus dan asali berasal dari Tuhan. Setiap hari Tuhan mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati manusia. Sering manusia melewatkan kasih Tuhan itu. Manusia tidak bisa menerima kasih Tuhan, karena mau mengandalkan dirinya sendiri. Manusia berpikir bahwa kemampuannya mampu melakukan kasih yang besar kepada sesamanya.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah manusia membuka hatinya lebar-lebar bagi hadirnya kasih Tuhan dalam dirinya. Kesombongan diri mesti dibuang jauh-jauh, karena manusia adalah makhluk yang lemah. Santo Yohanes berkata, “Di luar dari Tuhan yang adalah kasih itu sendiri, tidak ada seorang pun dari kita yang dapat benar-benar mengasihi atau dikasihi” (1Yoh. 4:7-8).

Mari kita saling mengasihi dengan mendasarkan kasih kita pada kasih Tuhan. Dengan demikian, kita boleh ambil bagian dalam kebahagiaan kekal. Tuhan memberkati. **
 


Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


1086

11 April 2014

Menghidupi Kebaikan yang Telah Kita Rebut


Kebaikan tidak datang dengan sendirinya. Kebaikan mesti diperjuangkan terus-menerus. Karena itu, orang beriman tidak boleh berpangku tangan demi menghidupi kebaikan dalam hidup sehari-hari.

Ada seorang guru bijaksana yang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa mencari yang baik. Murid-muridnya tidak boleh mengejar yang jahat dalam hidup mereka. Guru itu memberi alasan bahwa hidup dalam kebaikan itu membuahkan hal-hal yang indah. Sukacita akan dialami dalam hidup manusia. Kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup manusia itu bukan hanya dalam angan-angan.

Sedangkan mengejar yang jahat hanya menaruh hidup di ujung bahaya. Hidup orang hanya dipenuhi dengan kebencian, iri hati dan kecenderungan untuk melakukan hal-hal jahat. Pikiran orang yang mengejar kejahatan itu hanya tertuju pada menghancurkan sesamanya.

Guru bijaksana itu berkata kepada murid-muridnya, “Cintailah yang baik. Hiduplah baik dengan semua orang. Yang harus ada dalam diri Anda adalah mengasihi semua orang tanpa memandang siapa mereka.”

Menurut murid-muridnya, ajaran seperti ini tidak gampang. Masih ada begitu banyak kecenderungan dalam diri mereka untuk membenci sesamanya. Mereka masih iri terhadap sesamanya yang melakukan hal-hal yang baik.

Tentang hal ini, guru bijaksana itu berkata, “Kalau kamu melihat ada orang yang baik, jangan kamu menaruh iri atau benci. Tetapi kamu harus menerimanya dengan baik. Kamu harus belajar dari orang itu bagaimana dia bisa melakukan kebaikan bagi sesamanya. Dengan cara itu, kamu mampu melakukan hal-hal yang baik.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang sering ngotot-ngototan. Banyak dari kita yang tidak mau orang lain melebihi kita dalam berbuat baik. Kita cenderung iri hati. Kita cenderung menyisihkan sesama yang melakukan kebaikan itu. Tentu saja hal ini mesti kita buang jauh-jauh. Mengapa? Karena hanya dalam kebaikan itu kita mampu memperjuangkan hidup ini. Hanya dalam suasana kasih dan persaudaraan kita mampu membawa hidup kita dan sesama menuju kebahagiaan.

Kisah pengajaran guru bijaksana di atas menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk senantiasa mengutamakan kebaikan dalam hidup ini. Mencari dan menumbuhkan kebaikan dalam hidup kita lebih beruntung. Kita bebas dari konflik-konflik. Kita tidak perlu menempatkan hidup kita di ujung kebinasaan.

Untuk itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk mengejar kebaikan dalam hidup kita. Artinya, dengan hidup dalam kebaikan itu, kita mau agar hidup ini menjadi lebih baik dan menyenangkan. Kita ingin membawa diri kita dan sesama kita menuju kebahagiaan yang menjadi dambaan hidup kita.

Mari kita mengejar kebaikan dalam hidup ini. Dengan demikian, kasih senantiasa tumbuh dan menjadi andalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1087

02 April 2014

Dalam Kegalauan, Tetap Beriman kepada Tuhan



Apa yang akan terjadi, ketika Anda mampu mengabadikan otak Anda dalam keabadian digital? Saya merasa bahwa hal ini akan membawa kegoncangan terhadap iman Anda.

Stephen Hawking mengatakan bahwa otak mampu berdiri sendiri di luar tubuh dan mendukung manusia untuk memperoleh keabadian.

Pada Sabtu (21/9) yang lalu, Hawking berkata, "Saya pikir otak seperti sebuah program dalam pikiran, seperti komputer, jadi secara teoretis sebenarnya mungkin untuk menyalin otak ke komputer dan mendukung bentuk kehidupan setelah mati."

Namun, menurut Hawking, seperti ini masih di luar kapasitas manusia saat ini. Selama ini, berdasarkan kepercayaan yang diyakini, banyak manusia memahami bahwa setelah mati, manusia akan menjadi abadi di alam yang berbeda. Jiwa manusia bertemu dengan Tuhan serta berada di surga atau neraka sesuai perbuatannya selama hidup.

Keabadian seperti yang diungkapkan Hawking kerap disebut dengan keabadian digital. Dalam hal ini, manusia abadi tetapi tidak dalam tubuh biologisnya. Dalam keabadian digital, eksistensi manusia tak lagi tergantung pada tubuh karena tubuh bisa diupayakan.

Keabadian seperti yang dimaksud Hawking sebenarnya sudah sering dibahas, termasuk oleh Ryan Kurzweil, salah satu insinyur di Google.

Dalam Global Futures 2045 International Congress, sebuah konferensi futuristik yang digelar di Amerika Serikat pada 14-15 Juni 2013 lalu, seperti diberitakan Huffington Post pada 20 Juni 2013, Kurzweil mengungkapkan bahwa keabadian digital bisa tercapai pada tahun 2045.

Salah satu teknologi kunci yang mendukung keabadian digital adalah mind uploading atau pengunggahan pikiran ke komputer alias dunia digital.

Sementara itu, keabadian digital mungkin terjadi dan telah banyak dibicarakan, tetapi banyak pertanyaan mendasar yang belum terjawab. Misalnya, mengapa manusia harus hidup abadi? Apa manfaatnya? Apa masalahnya kalau manusia hidup lalu mati saja seperti yang dialami saat ini?

Sahabat, setiap orang ingin meraih hidup abadi, namun tidak semudah yang diinginkan. Orang mesti berusaha hidup baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Tentu saja keabdian yang dimaksud tidak sama dengan keabadian digital. Keabadian yang ingin diraih oleh manusia yang hidup adalah persekutuan yang erat dengan Sang Pencipta kehidupan setelah manusia menghembuskan nafas terakhir.

Keabadian digital boleh saja terjadi dengan mengandaikan otak manusia yang masih berfungsi setelah kematiannya. Namun bukankah otak selalu menjadi ukuran ketika nyawa seseorang dipertaruhkan? Ketika orang tidak berfungsi lagi lalu dokter akan mengatakan bahwa seseorang telah tiada.

Memang seandainya keabadian digital sungguh-sungguh terjadi, tentu saja tidak semua otak manusia itu diabadikan. Tentu ada seleksi-seleksi yang diadakan agar dapat direkam dengan baik ke dalam computer yang tersedia. Andaikan setiap orang bisa mengkopi data-data yang ada dalam otaknya, tentu saja tindakan ini tidak perlu menunggu kematian manusia tersebut. Selagi masih hidup sehat walafiat, orang bisa mengkopi data-data yang ada dalam otaknya.

Sebagai orang beriman, kita tetap teguh pada iman kita akan keabdian yang bersekutu dengan Tuhan. Tuhan selalu ingin bersekutu dengan kita dalam keabadianNya. Memang, untuk itu manusia mesti membuka hatinya terhadap rahmat demi rahmat yang dicurahkan kepadanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Signis Indonesia/Majalah FIAT

1086