Pages

30 April 2014

Mengalami Tuhan dalam Hidup Sehari-hari


Sering orang mengalami bahwa Tuhan jauh dari hidupnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang hanya mengandalkan dirinya sendiri. Tuhan hadir dalam kehidupan manusia.

Di suatu desa, hiduplah seorang petani dan anaknya. Ayah dan anak ini menanam padi untuk penghidupan mereka. Setelah mencangkul di musim kemarau yang panas, keduanya mulai menanam di musim hujan tiba. Maklum, kebun yang mereka miliki adala ladang yang hanya bisa ditanami di musim hujan.

Sang anak bekerja tanpa kenal lelah membantu ayahnya. Ia tidak peduli kedua telapak tangannya menjadi tebal. Butir-butir keringat yang ia cucurkan menjadi sumber rejeki bagi keluarganya. Setelah menanami ladang penuh dengan padi, keduanya mulai beristirahat. Mereka menunggu sampai masa penyiangan tiba. Mereka akan membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela padi.

Setelah masa penyiangan selesai, keduanya tetap bekerja dengan memberi pupuk pada batang-batang padi itu. Hingga suatu ketika keduanya menikmati hasil panen yang melimpah dari ladang mereka. Setelah beberapa hari padi-padi itu dipanen, sang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, beri saya waktu untuk istirahat. Saya mau pergi ke kota. Boleh kan sesekali saya menikmati hasil kerja kita?”

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia mengerti itulah keinginan setiap pemuda. Mereka bekerja untuk mengumpulkan uang. Setelah itu mereka gunakan untuk berfoya-foya. Mereka butuh kesempatan untuk menikmati hidup. Tidak selamanya orang hanya bekerja dan bekerja.

Karena itu, ayahnya mengijinkan anaknya itu untuk meninggalkan desa menuju kota. Meski ia tahu bahwa anaknya akan seperti rusa masuk kota, ia tetap membiarkan anaknya pergi. Ia butuh pengalaman. Ia butuh kesempatan untuk mengisi hidupnya dengan pengalaman-pengalaman baru. Apa yang akan terjadi dengan dirinya, sang ayah yakin, anaknya akan mampu bertanggungjawab.

Sahabat, orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Orang yang berani bergelut dengan pengalaman akan menemukan bahwa hidup ini memiliki aneka keindahan. Orang berani belajar dari pengalaman-pengalaman itu. Orang mengasah ketrampilan dirinya melalui pengalaman-pengalaman itu.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang akan menemukan pengalaman baru dalam hidupnya, ketika ia berani melangkahkan kakinya. Pengalaman itu mesti dijalani. Pengalaman tidak datang dengan sendirinya. Ketika pemuda itu berani meninggalkan desanya, ia boleh berharap akan mendapatkan berbagai pengalaman menarik. Pengalaman-pengalaman baru itu akan memperkaya dirinya dalam hidupnya sehari-hari.

Demikian halnya dengan pengalaman akan Tuhan. Kita percaya bahwa penyertaan Tuhan kita alami dalam kehidupan kita yang nyata. Mengapa? Karena Tuhan hadir dalam perjalanan hidup kita. Tuhan hadir dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Karena itu, orang beriman mesti berani mencari Tuhan dalam hidup sehari-hari.

Orang beriman mesti berusaha menemukan Tuhan dalam kehidupannya yang nyata. Lantas kalau sudah berjumpa dengan Tuhan, orang mesti berani bertanya tentang kehendak Tuhan bagi dirinya. Hanya dengan cara ini, orang mampu berjalan bersama Tuhan. Orang mampu mengenal kehendak Tuhan bagi hidupnya. Dengan demikian, orang menemukan sukacita dan damai dalam hidupnya. Tuhan memberkati **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/SIGNIS INDONESIA


1088

26 April 2014

Mengampuni meski Terasa Sakit




Memaafkan sesama tidak selalu mudah. Hal ini karena di dalam diri kita sudah tertanam rasa sakit. Kita bahkan berusaha untuk membalas dendam.

Seorang gadis merasa kecewa luar biasa terhadap pacarnya. Pasalnya, ia merasa sudah banyak berkorban untuk pacarnya itu. Tetapi pacarnya itu serta merta meninggalkan dirinya. Tanpa alasan yang jelas. Bahkan pacarnya itu sudah punya pacar baru. Hati gadis itu pedih serasa diiris sembilu.

Gadis itu mengaku bahwa ia sulit melupakan peristiwa pedih itu. Akibatnya, ia merasa sulit untuk mengampuni mantan pacarnya itu. Ia berkata, ”Tidak ada pintu maaf di hati saya baginya. Saya merasa sakit. Saya tidak bisa menerima perlakuannya. Saya sadar, saya bukanlah yang tercantik, tetapi saya juga punya hak untuk tidak diperlakukan seperti ini.”

Sejak itu, gadis itu tidak percaya terhadap setiap lelaki. Ia menolak semua pemuda yang berusaha mendekatinya. Ia tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Ia menutup pintu hatinya rapat-rapat bagi setiap cinta dari kaum lelaki. Ia memutuskan untuk hidup sebatang kara. Ia tidak mau hidup bersama seorang lelaki pun untuk membangun sebuah keluarga. Baginya, hidup menyendiri lebih bermakna.

Sayang, gadis itu tetap merasa sulit untuk mengampuni. Pintu pengampunan sudah tidak ada bagi mantan pacarnya itu. Ia hidup dalam situasi penuh curiga. Mengapa hal itu terjadi? Karena ia tidak ingin disakiti. Ia tidak ingin dikecewakan lagi. Baginya, satu kali kecewa itu sudah cukup. Gadis itu akhirnya mengakhiri hidupnya dalam kesendirian dan kekecewaan yang mendalam.

Sahabat, orang yang hidup tanpa cinta kasih itu sebenarnya orang yang telah mati. Ia tidak digerakkan oleh dorongan cinta kasih yang menjadi dasar hidup seorang manusia. Orang seperti ini lebih mementingkan dirinya sendiri. Orang seperti ini tumbuh dalam egosime yang sangat kuat.

Padahal cinta kasih yang normal itu membawa rasa sakit dalam hidup. Cinta kasih yang tulus itu membiarkan dirinya merasa kecewa, karena korbannya dianggap sepele. Cinta kasih yang sesungguhnya itu dibangun di atas butir-butir keringat dan airmata. Ada rasa sakit. Ada korban. Namun orang tidak berhenti pada rasa sakit dan korban. Orang mesti bangkit dari rasa sakit itu. Orang mesti berani meninggalkan rasa sakit dan kecewa. Caranya adalah dengan berani melupakan perlakuan dari mereka yang menyebabkan hati tersayat-sayat. Caranya adalah dengan mengampuni mereka yang telah membuat menusuk hati kita dengan kata-kata yang tidak mengenakkan.

Orang beriman itu selalu punya pintu pengampunan bagi sesamanya yang melakukan dosa dan kesalahan terhadap dirinya. Hanya dengan pengampunan itu, orang dapat lepas dari rasa sakit hati. Hanya dengan memberikan maaf yang tulus orang dapat mengobati luka batinnya.

Membiarkan diri terus-menerus didera oleh kekecewaan adalah suatu tindakan kurang bijak. Mengapa? Karena yang mengalami rasa sakit itu adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Yang mengalami luka batin itu adalah diri sendiri. Karena itu, dalam ketegaran hati orang mesti memiliki hati yang mudah tersentuh untuk mengampuni sesamanya. Tuhan memberkati **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT/SIGNIS INDONESIA


1087

15 April 2014

Mengasihi Seperti Tuhan Mengasihi Kita



Sudahkah Anda mengasihi saudara Anda yang paling dekat dengan tulus hati? Kalau belum, mengapa Anda belum bisa mengasihinya dengan hati yang tulus?

Suatu hari seorang ibu tiba-tiba meninggal dunia. Beberapa menit sebelumnya ia baru saja menelephone seorang temannya. Tetapi begitu selesai memutuskan hubungan telephone, ia pun merebahkan diri. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Banyak orang tidak percaya akan peristiwa itu. Orang-orang yang mendengar berita itu pun menggeleng-gelengkankan kepala. Ada yang berkata, “Begitu cepat dia pergi untuk selamanya. Tidak disangka. Dia meninggal dengan begitu damai.”

Pada hari pemakaman, ribuan orang datang melayat. Kali ini mereka datang bukan karena mereka terkejut oleh peristiwa kematian yang tiba-tiba itu. Tetapi lebih dari itu, mereka ingin memberikan penghormatan yang terakhir bagi ibu itu. Mereka mencintai ibu itu. Mereka menyanginya.

Salah seorang pelayat berkata, “Dia orang yang baik. Dia peduli terhadap sesamanya. Ia tidak memilih orang dalam bergaul. Ia bergaul dengan semua orang.”

Seorang yang lain lagi mengatakan bahwa ibu itu seorang yang beramal dengan hati yang tulus. Ia tidak mencari muka. Ia tidak mau disanjung-sanjung. Karena itu, pantaslah ribuan orang melayat saat dia meninggal dunia. Tidak sedikit pula dari para pelayat itu meneteskan air mata. Mereka merasa kehilangan seseorang yang sangat berjasa bagi perjalanan hidup mereka.

Sahabat, kebaikan seseorang tidak dinilai dari seberapa besar ia mengasihi, tetapi dari seberapa besar ia dikasihi oleh orang lain. Mengasihi berarti orang berani memberikan hidup bagi yang lain tanpa mengharapkan balasannya. Hal ini sering sulit terjadi, karena banyak orang takut kehilangan dirinya. Banyak orang takut kehilangan kasih itu. Padahal ketika orang mengasihi yang lain, orang mendapatkan kasih yang tak henti dari sesamanya itu.
  
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa perbuatan baik dalam kasih itu tinggal tetap di dalam diri orang-orang yang menerima kasih itu. Mengapa? Karena kasih itu tak berkesudahan. Kebencian, iri hati dan kesombongan akan berlalu, tetapi kasih terhadap sesama akan dikenang terus-menerus. Kasih tidak membunuh, tetapi kasih justru memberi hidup kepada manusia.

Namun kasih yang sungguh-sungguh kudus dan asali berasal dari Tuhan. Setiap hari Tuhan mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati manusia. Sering manusia melewatkan kasih Tuhan itu. Manusia tidak bisa menerima kasih Tuhan, karena mau mengandalkan dirinya sendiri. Manusia berpikir bahwa kemampuannya mampu melakukan kasih yang besar kepada sesamanya.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah manusia membuka hatinya lebar-lebar bagi hadirnya kasih Tuhan dalam dirinya. Kesombongan diri mesti dibuang jauh-jauh, karena manusia adalah makhluk yang lemah. Santo Yohanes berkata, “Di luar dari Tuhan yang adalah kasih itu sendiri, tidak ada seorang pun dari kita yang dapat benar-benar mengasihi atau dikasihi” (1Yoh. 4:7-8).

Mari kita saling mengasihi dengan mendasarkan kasih kita pada kasih Tuhan. Dengan demikian, kita boleh ambil bagian dalam kebahagiaan kekal. Tuhan memberkati. **
 


Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


1086

11 April 2014

Menghidupi Kebaikan yang Telah Kita Rebut


Kebaikan tidak datang dengan sendirinya. Kebaikan mesti diperjuangkan terus-menerus. Karena itu, orang beriman tidak boleh berpangku tangan demi menghidupi kebaikan dalam hidup sehari-hari.

Ada seorang guru bijaksana yang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa mencari yang baik. Murid-muridnya tidak boleh mengejar yang jahat dalam hidup mereka. Guru itu memberi alasan bahwa hidup dalam kebaikan itu membuahkan hal-hal yang indah. Sukacita akan dialami dalam hidup manusia. Kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup manusia itu bukan hanya dalam angan-angan.

Sedangkan mengejar yang jahat hanya menaruh hidup di ujung bahaya. Hidup orang hanya dipenuhi dengan kebencian, iri hati dan kecenderungan untuk melakukan hal-hal jahat. Pikiran orang yang mengejar kejahatan itu hanya tertuju pada menghancurkan sesamanya.

Guru bijaksana itu berkata kepada murid-muridnya, “Cintailah yang baik. Hiduplah baik dengan semua orang. Yang harus ada dalam diri Anda adalah mengasihi semua orang tanpa memandang siapa mereka.”

Menurut murid-muridnya, ajaran seperti ini tidak gampang. Masih ada begitu banyak kecenderungan dalam diri mereka untuk membenci sesamanya. Mereka masih iri terhadap sesamanya yang melakukan hal-hal yang baik.

Tentang hal ini, guru bijaksana itu berkata, “Kalau kamu melihat ada orang yang baik, jangan kamu menaruh iri atau benci. Tetapi kamu harus menerimanya dengan baik. Kamu harus belajar dari orang itu bagaimana dia bisa melakukan kebaikan bagi sesamanya. Dengan cara itu, kamu mampu melakukan hal-hal yang baik.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang sering ngotot-ngototan. Banyak dari kita yang tidak mau orang lain melebihi kita dalam berbuat baik. Kita cenderung iri hati. Kita cenderung menyisihkan sesama yang melakukan kebaikan itu. Tentu saja hal ini mesti kita buang jauh-jauh. Mengapa? Karena hanya dalam kebaikan itu kita mampu memperjuangkan hidup ini. Hanya dalam suasana kasih dan persaudaraan kita mampu membawa hidup kita dan sesama menuju kebahagiaan.

Kisah pengajaran guru bijaksana di atas menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk senantiasa mengutamakan kebaikan dalam hidup ini. Mencari dan menumbuhkan kebaikan dalam hidup kita lebih beruntung. Kita bebas dari konflik-konflik. Kita tidak perlu menempatkan hidup kita di ujung kebinasaan.

Untuk itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk mengejar kebaikan dalam hidup kita. Artinya, dengan hidup dalam kebaikan itu, kita mau agar hidup ini menjadi lebih baik dan menyenangkan. Kita ingin membawa diri kita dan sesama kita menuju kebahagiaan yang menjadi dambaan hidup kita.

Mari kita mengejar kebaikan dalam hidup ini. Dengan demikian, kasih senantiasa tumbuh dan menjadi andalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1087

02 April 2014

Dalam Kegalauan, Tetap Beriman kepada Tuhan



Apa yang akan terjadi, ketika Anda mampu mengabadikan otak Anda dalam keabadian digital? Saya merasa bahwa hal ini akan membawa kegoncangan terhadap iman Anda.

Stephen Hawking mengatakan bahwa otak mampu berdiri sendiri di luar tubuh dan mendukung manusia untuk memperoleh keabadian.

Pada Sabtu (21/9) yang lalu, Hawking berkata, "Saya pikir otak seperti sebuah program dalam pikiran, seperti komputer, jadi secara teoretis sebenarnya mungkin untuk menyalin otak ke komputer dan mendukung bentuk kehidupan setelah mati."

Namun, menurut Hawking, seperti ini masih di luar kapasitas manusia saat ini. Selama ini, berdasarkan kepercayaan yang diyakini, banyak manusia memahami bahwa setelah mati, manusia akan menjadi abadi di alam yang berbeda. Jiwa manusia bertemu dengan Tuhan serta berada di surga atau neraka sesuai perbuatannya selama hidup.

Keabadian seperti yang diungkapkan Hawking kerap disebut dengan keabadian digital. Dalam hal ini, manusia abadi tetapi tidak dalam tubuh biologisnya. Dalam keabadian digital, eksistensi manusia tak lagi tergantung pada tubuh karena tubuh bisa diupayakan.

Keabadian seperti yang dimaksud Hawking sebenarnya sudah sering dibahas, termasuk oleh Ryan Kurzweil, salah satu insinyur di Google.

Dalam Global Futures 2045 International Congress, sebuah konferensi futuristik yang digelar di Amerika Serikat pada 14-15 Juni 2013 lalu, seperti diberitakan Huffington Post pada 20 Juni 2013, Kurzweil mengungkapkan bahwa keabadian digital bisa tercapai pada tahun 2045.

Salah satu teknologi kunci yang mendukung keabadian digital adalah mind uploading atau pengunggahan pikiran ke komputer alias dunia digital.

Sementara itu, keabadian digital mungkin terjadi dan telah banyak dibicarakan, tetapi banyak pertanyaan mendasar yang belum terjawab. Misalnya, mengapa manusia harus hidup abadi? Apa manfaatnya? Apa masalahnya kalau manusia hidup lalu mati saja seperti yang dialami saat ini?

Sahabat, setiap orang ingin meraih hidup abadi, namun tidak semudah yang diinginkan. Orang mesti berusaha hidup baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Tentu saja keabdian yang dimaksud tidak sama dengan keabadian digital. Keabadian yang ingin diraih oleh manusia yang hidup adalah persekutuan yang erat dengan Sang Pencipta kehidupan setelah manusia menghembuskan nafas terakhir.

Keabadian digital boleh saja terjadi dengan mengandaikan otak manusia yang masih berfungsi setelah kematiannya. Namun bukankah otak selalu menjadi ukuran ketika nyawa seseorang dipertaruhkan? Ketika orang tidak berfungsi lagi lalu dokter akan mengatakan bahwa seseorang telah tiada.

Memang seandainya keabadian digital sungguh-sungguh terjadi, tentu saja tidak semua otak manusia itu diabadikan. Tentu ada seleksi-seleksi yang diadakan agar dapat direkam dengan baik ke dalam computer yang tersedia. Andaikan setiap orang bisa mengkopi data-data yang ada dalam otaknya, tentu saja tindakan ini tidak perlu menunggu kematian manusia tersebut. Selagi masih hidup sehat walafiat, orang bisa mengkopi data-data yang ada dalam otaknya.

Sebagai orang beriman, kita tetap teguh pada iman kita akan keabdian yang bersekutu dengan Tuhan. Tuhan selalu ingin bersekutu dengan kita dalam keabadianNya. Memang, untuk itu manusia mesti membuka hatinya terhadap rahmat demi rahmat yang dicurahkan kepadanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Signis Indonesia/Majalah FIAT

1086

29 Maret 2014

Tetap Setia kendati Banyak Tantangan



Masihkah Anda setia terhadap sesama yang hidup bersama Anda? Sejauh mana kesetiaan itu Anda pertanggungjawabkan?

Hachiko adalah seekor anjing peliharaan Profesor Ueno, seorang guru besar Universitas Kekaisaran di Tokyo, Jepang. Hachiko hidup dari tahun 1923 hingga 1935. Selama masa hidupnya yang dua belas tahun itu, Hachiko menunjukkan kesetiaannya yang luar biasa. Ia setia kepada tuannya dengan seluruh dirinya.

Setiap hari Hachiko mengantar tuannya ke stasiun kereta api. Setelah tuannya naik kereta api, Hachiko mencari tempat yang aman di stasiun kereta api kota itu. Ia menunggu tuannya pulang dari universitas. Lapar dan haus mesti ia tahan demi tuannya pulang dalam keadaan selamat.

Suatu sore, tuannya tidak pulang-pulang ke stasiun kereta api itu. Ternyata tuannya mengalami serangan jantung. Tuannya telah menghembuskan nafas terakhirnya di universitas. Namun Hachiko tetap setia menunggu tuannya pulang. Ia tidak mau ikut orang lain untuk pulang ke rumahnya. Ia tetap bertahan di stasiun kereta api itu. Suatu hari Hachiko mati di stasiun itu. Kematiannya menunjukkan kesetiaan seekor anjing terhadap tuannya. Ia mati dalam penantian.

Sahabat, setia itu tidak mudah. Namun kesetiaan itu bisa dilatih, dipelajari dan dibiasakan. Kesetiaan bisa dilatih dari hal-hal yang kecil. Seorang bijaksana berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Kisah Hachiko si anjing setia memberikan suatu inspirasi kepada kita untuk berusaha setia kepada Tuhan dan sesama dalam hidup kita. Kesetiaan Hachiko terhadap tuannya tanpa batas. Berbagai tantangan mesti ia hadapi. Yang ada dalam instingnya hanyalah keselamatan tuannya.

Sebagai makhluk sosial, manusia juga dituntut untuk memiliki kesetiaan yang besar terhadap orang-orang sekitarnya. Seorang suami mesti selalu setia terhadap istrinya apa pun situasi hidup yang dihadapi. Sebaliknya seorang istri mesti selalu setia terhadap suaminya, meski kadang-kadang hidup ini kurang menyenangkan.

Memang, kesetiaan selalu menghadapi tantangan. Sepasang suami istri yang bahagia selalu ingin tetap bertahan dalam kesetiaan satu sama lain. Namun godaan sering datang menghadang kehidupan bersama. Godaan bisa saja membuat komitmen yang telah dibuat oleh mereka berantakan.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi ketika orang hanya mementingkan terpenuhinya keinginan-keinginannya. Ketika orang hanya mengikuti keinginan-keinginannya, orang akan membahayakan kesetiaannya terhadap sesamanya. Sehebat-hebatnya orang, orang tidak bisa memenuhi keinginannya. Mengapa? Karena keinginan manusia itu bermacam ragam dan bentuknya.

Untuk itu, orang mesti mengadakan suatu penegasan antara keinginan dan kebutuhan. Setiap keinginan tidak mesti dipenuhi. Namun setiap kebutuhan tentu saja berguna bagi perjalanan hidup bersama. Kebutuhan itu yang mesti dipenuhi, agar hidup orang menjadi semakin lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita ingin tetap setia satu sama lain. Mari kita berusaha setia dengan memilah mana keingnan dan kebutuhan yang mesti kita penuhi. Tuhan memberkati.**



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Tabloid KOMUNIO


1085

28 Maret 2014

Berani Memberi dengan Sukacita

Sering orang merasa bahwa apa yang dimilikinya itu mesti dipertahankan sedapat mungkin. Tidak perlu diberikan kepada orang lain. Namun ketika orang berani memberi apa yang dimilikinya untuk orang lain, orang akan mengalami sukacita.

Suatu hari seorang pemuda menemukan sejumlah orang miskin yang sangat menderita. Ia merasa terpukul atas kondisi tersebut. Bagaimana mungkin di sebuah Negara yang makmur ini ternyata masih ada banyak orang yang menderita. Pemuda itu menyaksikan orang-orang itu menggigil, karena menahan lapar. Mereka mengerang-erang kesakitan, karena luka-luka bernanah yang tak terobati.

Lantas pemuda itu meninggalkan orang-orang itu. Ia tidak tahan melihat penderitaan mereka. Namun ia kembali lagi kepada mereka dengan sejumlah makanan, minuman dan obat-obatan. Ia memberi mereka makan. Ia mengobati luka-luka mereka. Beberapa saat kemudian orang-orang itu mulai berhenti menggigil. Kaki-kaki mereka pun mulai kuat untuk melangkah. Mereka mulai tersenyum.

Uluran kasih dari sesama mampu meringankan penderitaan. Orang-orang itu pun boleh menikmati sesaat sukacita. Mereka boleh mengalami indahnya kasih Tuhan melalui tangan-tangan yang dengan tulus memberi bantuan. Bagi mereka, itulah saat yang paling indah dalam hidup mereka. Suatu saat yang telah memberi mereka kesegaran raga. Saat di mana mereka boleh mengatakan bahwa Tuhan masih ada bersama mereka.

Sahabat, ada begitu banyak penderitaan di dunia ini. Orang mengalami penderitaan materiil seperti tidak punya rumah yang layak, berbagai macam penyakit dan kelaparan. Mereka berjuang untuk keluar dari penderitaan itu. Namun sering terjadi kebuntuan dalam hidup mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ada ketidakpedulian dari sesama manusia. Ada hati manusia yang tertutup begitu rapat oleh penderitaan sesamanya.

Tambahan lagi ada orang-orang yang tamak dan serakah. Orang-orang seperti ini enggan memberi sedikit dari kepunyaannya untuk sesamanya. Lebih baik mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri daripada mesti memberikannya untuk orang-orang yang tidak mereka kenal.

Karena itu, sedikit pemberian akan sangat bernilai bagi hidup manusia yang mengalami penderitaan itu. Seteguk air atau segenggam nasi akan sangat berharga bagi seorang penderita lapar. Akan ada sukacita yang begitu besar, ketika orang memberi dengan tulus mereka yang membutuhkan makanan.

Sebagai orang beriman, kita semua memiliki tugas dan kewajiban untuk membantu sesama yang berkekurangan. Ketika kita membantu mereka sebenarnya kita memberi kesempatan kepada mereka untuk bersukacita. Mereka memiliki kesempatan untuk berbahagia, meski hanya sesaat.

Mari kita mengulurkan tangan kita dengan hati yang tulus. Dengan demikian, semakin banyak orang akan menemukan bahagia dan damai dalam hidupnya. Hanya dengan cara ini orang beriman mengamalkan cinta kasih dalam hidupnya. Hanya dengan memberi sesama yang membutuhkan, kita dapat mengenal Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu secara lebih dekat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Majalah FIAT
1084

27 Maret 2014

Senyum Membawa Damai bagi Hidup Bersama


Banyak orang merasa bahwa senyumnya kurang berarti bagi sesamanya. Namun senyum ternyata membawa damai.

Ada seorang istri yang percaya bahwa sesungging senyum akan mengubah hidup suaminya yang berhati keras dan ganas. Setiap kali suaminya pulang kerja, ia siap menyambutnya di depan pintu rumah. Seutas senyum telah ia siapkan. Meski wajah suaminya kadang-kadang tidak menyambut senyum itu, ia tetap tersenyum menyambut kedatangan suaminya.

Disenyumi terus-menerus setiap hari seperti itu, sang suami pun membalas senyum sang istri. Hatinya pun menjadi lembut, tidak keras dan ganas lagi. Suaminya itu belajar untuk mendekati segala sesuatu dengan kelembutan hati. Suami itu berkata, “Hati yang lembut ternyata mampu mengubah pandangan orang. Orang yang semula keras ternyata dapat menjadi lembut.”

Sang istri menemukan damai dalam hidupnya. Ia tidak perlu mengalami kekerasan dalam hidup. Ia merasakan bahwa hidup yang tenang dan damai itu begitu berharga baginya. Ia merasa beruntung. Karena itu, dalam perkumpulan ibu-ibu ia menceritakan pengalamannya. Kaum ibu yang lain pun mengikuti cara yang telah dibuatnya. Hasilnya sungguh luar biasa. Rumah tangga mereka tidak perlu dilanda oleh percekcokan. Damai menaungi keluarga mereka berkat seutas senyum yang meluncur dari hati yang tulus.

Sahabat, damai ternyata dapat dimulai dari seutas senyum tulus yang tersungging di bibir kita. Mereka yang mendapatkan senyum itu mengalami kasih yang terpancar dari senyum yang tulus itu. Karena itu, senyum ternyata sangat berharga bagi hidup manusia. Orang yang sulit senyum menemukan dunia ini begitu keras dan kejam. Bagi mereka, dunia ini mesti ditaklukan dengan kekerasan.

Sayang, banyak orang kurang peduli terhadap senyum. Banyak orang mengabaikannya. Akibatnya, perang dapat terjadi karena hati yang keras. Hati yang membatu dapat menjadi sumber matapetaka bagi hidup bersama. Karena itu, tersenyumlah dalam hidup ini. Tersenyumlah berkali-kali dalam sehari kepada orang-orang yang Anda cintai. Yakinlah bahwa senyum Anda akan mengubah suasana yang beku. Seutas senyum Anda akan membawa sukacita bagi sesama Anda.

Ada pepatah Latin yang berbunyi, ‘Si vis pacem, para belum’. Artinya, kalau Anda ingin damai, siapkan perang. Bagi orang beriman, ungkapan ini tidak berlaku. Orang beriman mesti mengandalkan kelemahlembutan untuk menciptakan damai. Karena itu, seutas senyum yang tersungging di bibir kita menjadi awal damai. Mulailah hari-hari Anda dengan senyum. Hanya dengan cara itu, Anda akan merasakan kasih Tuhan yang hidup dalam diri Anda. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Tabloid KOMUNIO


1084

24 Maret 2014

Berusaha Mendengarkan Suara Hati



Orang mengatakan bahwa suara hati itu suara Tuhan. Tuhan senantiasa mengingatkan manusia dalam perjalanan hidupnya, sehingga orang dapat melakukan hal-hal yang baik dan berkenan kepada Tuhan.

Suatu kali seorang anak menemukan sebuah kaleng berisi permen yang tertinggal oleh pemiliknya di depan pintu tokonya. Dengan hati girang anak itu melihat sekeliling. Ketika tahu bahwa dia hanya sendirian di situ, tak ada orang lain yang melihat, dia segera memasukkan tangannya ke dalam buyung itu. Karena dia anak yang rakus, dia mencoba mengambil permen sebanyak mungkin dalam satu genggaman.

Pada saat itu terdengar bunyi langkah orang. Karena takut tertangkap, anak itu berusaha mengeluarkan tangannya. Tetapi tangannya tidak bisa keluar, karena mulut kaleng itu terlalu sempit. Untuk mengeluarkan tangannya, dia harus mengurangi jumlah permen dalam genggamannya. Tetapi dia tidak mau melepaskannya. Anak itu tetap menarik-narik tangannya tetapi sia-sia. Segera ia ketahuan pemilik toko itu. Ia harus melepaskan semua permen itu.

Sahabat, milik orang lain itu memang selalu menggoda. Orang begitu ingin memiliki milik orang lain. Kisah di atas merupakan salah satu sisi kehidupan manusia. Seorang anak yang tidak dididik untuk menahan diri terhadap milik orang lain akan dengan mudah menguasai milik orang lain. Apalagi kalau milik orang lain itu dibiarkan begitu saja.

Tetapi orang yang sejak awal dididik untuk menghormati milik orang lain, pasti akan memiliki sikap menghargai milik orang lain itu. Ia tidak akan menguasainya di kala miliki orang lain itu dibiarkan begitu saja. Bahkan bila perlu ia menyelamatkannya. Ia akan menempatkannya di tempat yang aman untuk kemudian diberikannya kepada pemiliknya. Tentu perbuatan seperti ini akan mendapatkan penghargaan yang besar dari pemilik barang itu.

Untuk sampai pada sikap seperti ini, orang mesti belajar terus-menerus untuk menghargai dan menghormati milik sesama. Kadang-kadang ada godaan yang begitu besar untuk melanggar norma-norma yang ada, karena keinginan untuk memiliki itu begitu besar.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang mesti dibuat oleh orang beriman? Orang beriman mesti mendengarkan suara hatinya. Untuk itu, orang beriman mesti belajar untuk memilah mana suara hati yang murni dan mana suara hatinya yang kurang murni. Setelah menemukan suara hati yang murni, ia mesti tetap setia kepada suara hatinya itu. Ia mengambil keputusan berdasarkan suara hati yang murni itu. Dengan demikian, ia akan mengalami kebahagiaan dalam hidup.

Mari kita berusaha untuk mendengarkan suara hati kita. Kita gunakan suara hati kita yang baik untuk mengambil sikap yang baik terhadap hal-hal yang kita hadapi dalam hidup ini. Dengan demikian, kita menjadi bahagia dalam perjalanan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Majalah FIAT


1083

23 Maret 2014

Selektif terhadap Tawaran-tawaran



Apa yang akan Anda lakukan, ketika tawaran-tawaran dari berbagai produk mendatangi Anda? Anda menolaknya? Atau Anda menerimanya dengan sukacita?

Ketika kembali dari Eropa, Dwight David Eisenhower (1890-1961), Presiden Amerika Serikat ke-34, berbicara kepada wartawan: “Seluruh dunia lapar akan kedamaian. Para pakar militer memberi tahu kemungkinan terjadinya perang nuklir yang mengerikan pada masa mendatang. Bencana akan menimpa umat manusia sebagai konsekuensinya. Hal ini merupakan rencana yang amat disukai iblis saat dia dengan terampil memintal jaringannya di seluruh dunia.”

Menurut Eisenhower, setiap negara yang dapat melaksanakan perdamaian, dapat mengendalikan dunia. Iblis akan memiliki seorang manusia super yang dapat melakukan hal itu. Dia akan menguasai dunia dengan bakat dan kemampuannya, sehingga dunia yang terkagum-kagum akan bertanya, “Siapa yang mampu berperang dengannya?”

Sahabat, kekuatiran Eisenhower itu juga menjadi kekuatiran manusia zaman sekarang. Ada banyak ketimpangan dalam hidup manusia. Manusia di zaman sekarang terancam hidupnya oleh berbagai dekadensi. Ada dekadensi moral dengan munculnya seks bebas. Ada dekadensi dalam kehidupan bersama. Orang semakin mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Egoisme dan kepentingan kelompok bertumbuh menjadi semakin kuat. Akibatnya, orang hanya peduli terhadap diri sendiri.

Muncul juga kelompok-kelompok yang anti agama yang menyebar ke dalam kehidupan bermasyarakat. Yang mereka bawa tampaknya baik-baik saja. Yang mereka bawa itu mudah meninabobokan manusia. Mereka berusaha untuk membahagiakan manusia dengan ajaran-ajaran yang mereka bawa itu.

Namun di balik itu semua, mereka punya misi tertentu untuk menguasai kehidupan manusia. Mereka punya misi tertentu untuk menjauhkan manusia dari Tuhan. Dengan berbagai cara, mereka mengajak manusia untuk mengandalkan diri sendiri. Banyak orang akan tersesat jalannya. Agama yang selama ini mengajarkan kebaikan dan kebenaran akan ditinggalkan.

Nah, apa jadinya kalau situasi seperti ini menimpa diri kita? Tentu saja kita akan merasa terombang-ambing. Nilai-nilai moral yang kita junjung tinggi selama ini akan lenyap begitu saja. Tidak akan bernilai banyak lagi bagi kita. Nilai-nilai itu menjadi hampa dalam hidup kita. Persaudaraan dan persahabatan yang kita bangun selama ini akan lenyap begitu saja. Seolah-olah menguap tanpa bekas. Lantas apa yang menjadi pegangan hidup kita? Kita akan bingung.

Karena itu, kita perlu hati-hati terhadap berbagai tawaran yang datang kepada kita. Kita mesti seleksi setiap tawaran yang kita peroleh itu. Kalau tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan kehidupan yang kita anut selama ini, kita mesti singkirkan. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih bermakna.

Bagi orang beriman, Tuhan tidak menjadi pemain cadangan dalam hidup kita. Namun Tuhan sungguh-sungguh menjadi satu-satunya pedoman hidup kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan yang indah untuk memuliakan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Tabloid KOMUNIO

1082