Pages

20 Agustus 2009

Mewartakan Kebaikan Tuhan

Setiap hari seorang kepala suku Indian selalu bersaksi tentang betapa baiknya Tuhan bagi hidupnya. Di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja, ia pasti menceritakan betapa besar kasih Tuhan atas dirinya. Teman-temannya heran melihat sikap kepala suku itu. Apalagi sebelumnya ia selalu mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.

Karena itu, mereka bertanya, “Mengapa Anda selalu membicarakan kebaikan Tuhan? Apa tidak ada topik pembicaraan lain yang lebih menarik?”

Kepala suku itu terdiam sejenak. Lalu ia mengumpulkan rumput dan ranting-ranting pohon yang ada di sekitarnya. Dengan bahan-bahan itu, ia membuat sebuah lingkaran kecil. Kemudian di tengah-tengah lingkaran itu ia meletakkan seekor ulat. Teman-temannya semakin heran melihat perbuatannya. Namun mereka menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.

Lantas ia menyalakan api dan menyulut rumput dan ranting yang membentuk lingkaran itu. Dengan cepat api menyala dan ulat yang berada di tengah-tengahnya menggeliat mencari jalan keluar dari panas yang membara itu. Namun sia-sia saja perbuatannya itu. Sebentar lagi ulat itu akan hangus ditelan api yang kian berkobar. Tetapi ketika api semakin mendekati ulat, ulat itu mengangkat kepalanya setinggi-tingginya. Ia mengharapkan pertolongan. Ia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Ia butuh pertolongan dari luar dirinya.

Beberapa saat kemudian kepala suku itu mengulurkan jari telunjuknya kepada ulat yang sedang mengangkat kepalanya. Dengan cepat ulat itu merapat di jari tangan kepala suku itu lalu keluar dengan selamat.

Kepala suku itu berkata, “Seperti itulah kebaikan Tuhan kepada saya. Saya ini orang berdosa yang terancam hukuman di api neraka yang kekal. Saya sungguh-sungguh tidak berdaya. Saya sudah terjebak dalam dosa yang begitu ngeri. Tetapi belas kasihan Tuhan telah menyelamatkan saya. Bukankah Tuhan begitu baik?”

Memang Tuhan itu baik. Tuhan tidak memandang betapa besar dosa manusia. Tuhan mau menyelamatkan manusia, meskipun begitu banyak dosa manusia. Meskipun manusia sering membangkang dan tidak setia, Tuhan tetap setia. Tuhan terus-menerus mendekati manusia untuk menawarkan belas kasihanNya.

Sadarkah manusia akan kebaikan Tuhan ini? Bukankah manusia lebih suka mengandalkan kemampuan dirinya sendiri? Bukankah manusia lebih setia kepada dirinya sendiri, meskipun dosa dan kejahatan sering menjadi bagian hidupnya? Kalau manusia mau menerima belas kasihan Tuhan, pasti Tuhan akan selalu hadir dalam hidupnya. Namun Tuhan selalu hadir dalam setiap pergumulan hidup manusia. Tuhan juga hadir dalam kegelapan dan penderitaan manusia.

Karena itu, orang beriman mesti selalu memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan. Di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun semestinya kita menceritakan bahwa Tuhan itu sungguh baik. Tuhan selalu terlibat dalam suka dan duka hidup kita. Mari kita senantiasa setia kepada Tuhan, karena Tuhan lebih dahulu telah setia kepada kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

139

Hidup Ini Sangat Berharga



Ada seorang janda kaya yang kesehatan tubuhnya menurun drastis. Berkali-kali ia jatuh sakit. ketika dibawa ke dokter, dokter menyatakan bahwa jantungnya sangat parah. Dokter itu memberi taksiran bahwa umur janda itu tinggal satu tahun lagi.

Janda itu merasa sangat sedih. Ia merasa belum terlalu tua, tetapi hidupnya tidak lama lagi. Ia tidak percaya, kalau ia akan begitu cepat meninggalkan dunia ini. Ia ingin hidup lebih lama lagi. Paling kurang sepuluh tahun lagi. Tetapi kenapa umurnya tinggal satu tahun lagi?

Pikir punya pikir, ia akhirnya menyerah kepada kenyataan itu. Ia tidak mau berlama-lama menyiksa diri dengan mengurus perusahaan miliknya yang sedang maju. Kepada para bawahannya, ia meminta mereka untuk menunggu. Tidak usah terlalu ekspansif. Ia meminta mereka menunggu hingga satu tahun berlalu.

Janda itu berkata, “Kita mau lihat, apakah ramalan dokter itu terjadi. Kalau memang tahun depan saya meninggal, kalian harus berani mengambil alih semua usaha ini. Tetapi dalam sisa waktu satu tahun ini saya masih mau berusaha untuk mengobati jantung saya. Saya yakin, Tuhan masih memelihara hidup saya.”

Satu tahun berlalu. Kesehatan janda itu justru membaik. Ia merasa bahwa kondisi ini merupakan rahmat dari Tuhan. Tuhan ternyata begitu baik kepadanya. Tuhan masih mau memelihara hidupnya. Ia pun bersyukur atas karunia Tuhan itu.

Hidup manusia itu tidak ditentukan oleh manusia. Hidup manusia itu ada di tangan Tuhan. Karena itu, apa pun yang terjadi, manusia mesti menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Tuhan. Manusia tidak memiliki hak untuk menyatakan berakhirnya hidup manusia. Manusia tidak punya hak untuk mengakhiri hidup seseorang.

Karena itu, yang mesti dilakukan manusia adalah memberikan penghargaan dan dukungan terhadap kehidupan. Manusia mesti memperjuangkan kehidupan itu sampai detik terakhir. Mereka yang sedang mengalami penderitaan oleh penyakit yang ganas diharapkan tidak begitu saja menyerah.

Kisah di atas menunjukkan betapa hidup itu mesti diperjuangkan dengan berbagai cara. Janda kaya itu tidak begitu saja percaya terhadap vonis dokter atas hidupnya. Ia lebih percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Ia yakin, Tuhan yang baik itu akan memberikan yang terbaik bagi hidupnya. Karena itu, ia tidak menyerah kalah begitu saja pada penyakit jantung yang sedang menderanya. Baginya, Tuhan itu segalanya. Biarlah Tuhan yang telah memberi hidup ini, Dia pula yang mengambilnya.

Bagi orang beriman, hidup ini mesti selalu diperjuangkan. Hidup ini sangat berharga. Hidup ini tidak boleh berakhir dengan kesia-siaan. Mari kita perjuangkan hidup ini, karena hidup ini sangat berharga di mata Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
138

19 Agustus 2009

Tuhan selalu Mengasihi Manusia

Suatu hari seorang pemuda tampak begitu loyo. Wajahnya pucat. Ia tidak bergairah. Ia tidak bersemangat. Cara pandangnya kosong. Gerak-geriknya lambat. Ketika ditanya tentang keadaannya, pemuda itu menjawab sekenanya, “Saya tidak lagi enak badan. Tidak usah pikirkan saya.”

Namun teman-temannya tidak ingin pemuda itu tenggelam dalam kondisi seperti itu. Mereka ingin memberinya semangat. Mereka tidak ingin seorang pemuda larut dalam kesedihan yang mendalam. Karena itu, mereka mengajaknya untuk makan bakso.

Begitu mendengar bakso, ia langsung bergairah. Memang, satu-satunya hal yang membuat ia sedikit bergairah ialah kalau ia diajak makan bakso. Paling senang ia makan bakso. Apalagi tidak usah bayar. Ia dapat meluapkan sukacitanya kepada teman-temannya.

Dalam hidup sehari-hari orang bisa mengalami situasi seperti yang dialami pemuda itu. Para pengungsi, misalnya, menjadi loyo karena merasa terbuang. Korban banjir atau bencana alam lainnya juga mengalami hal yang sama. Mereka merasa tidak bergairah untuk hidup. Apa saja yang mereka miliki telah hilang. Seolah-olah mereka hidup tanpa harapan. Masa depan mereka sepertinya sudah habis.

Benarkah demikian? Haruskah situasi tanpa harapan membelenggu hidup manusia yang beriman? Bukankah orang beriman mesti bangkit dari kelesuan hidup? Selalu ada hari esok yang cerah bagi setiap orang beriman. Karena itu, orang beriman tidak perlu larut dalam kondisi tanpa harapan. Masa depan selalu ada. Di hadapan orang beriman selalu terbentang masa depan yang terang benderang.

Untuk itu, orang beriman mesti membangun hidupnya di atas kasih dan persaudaraan. Kasih itu mengatasi segalanya. Orang yang hidup dalam kasih akan menemukan kebahagiaan hidup. Kasih itu mengubah hidup. Mengapa? Karena kasih itu memberi makna yang lebih dalam bagi perjalanan hidup manusia. Kasih itu membangkitkan situasi yang loyo menjadi semangat yang bergairah untuk meneruskan perjalanan hidup.

Tetapi kasih itu tidak datang dengan sendirinya. Orang mesti membangun kasih itu. Orang beriman mesti membuka hatinya bagi kasih Tuhan. Tuhan selalu mengasihi manusia. Ini fakta yang tidak bisa ditolok. Tuhan selalu menawarkan kasihNya kepada manusia meski manusia tidak peduli terhadap kasih Tuhan itu.

Kalau orang beriman mau membangun harapan dan masa depan yang terang benderang, ia mesti memiliki kasih Tuhan. Kasih itu mesti ditumbuhkembangkan di dalam dirinya. Tetapi ia juga mesti menumbuhsuburkan kasih Tuhan itu dalam hidup sehari-hari. Caranya dengan memiliki kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan bantuannya. Ia mesti memiliki tangan yang ringan untuk menolong sesamanya. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
137

Membangun Hidup di atas Kejujuran





Sudah lama seorang pemuda dari Montreal, Kanada, hidup menganggur. Suatu sore ia menemukan sebuah dompet milik seorang janda yang juga berstatus penganggur. Isi dompet itu hanyalah sehelai undian yang kelihatannya tidak berarti.

Tetapi pemuda itu menyimpannya baik-baik di saku celananya. Ia berharap, nomor undian itu akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi perjalanan hidupnya. Benar. Betapa terkejutnya pemuda itu, ketika ia pada suatu hari mencocokkan angka-angka di dalam lotere itu dan mendapati bahwa hadiah utama sebesar 1,2 juta dolar ternyata tepat dengan nomor kupon yang ada di saku celananya.

Timbullah pergumulan berat dalam hatinya. Apakah lotere itu akan ia kembalikan kepada pemiliknya yang sah atau diam saja pura-pura tidak tahu dan mengantongi uang yang demikian banyak seorang diri. Lama sekali ia memikirkan hal ini.

Akhirnya hati nuraninya tidak mengijinkan pemuda itu berbuat serakah. Dengan penuh percaya diri, ia mendatangi rumah janda penganggur itu dan menceritakan keadaan yang sebenarnya. Ternyata janda ini juga cukup baik hati. Ia rela membagi hadiah uang itu dengan pemuda itu. Masing-masing mereka kemudian membangun hidup yang bahagia dengan hasil undian itu.

Kita hidup dalam dunia yang kata orang sulit sekali menemukan orang-orang yang jujur. Orang lebih mudah saling mempecundangi daripada berusaha bersama untuk meraih sukses secara bersama-sama. Kita menyaksikan sesama saudara sampai bentrok. Tidak akur. Mengapa hal ini mesti terjadi? Hal ini terjadi karena kurangnya kejujuran. Hal ini menyebabkan kepercayaan terhadap sesama, bahkan saudara, menjadi luntur.

Kisah di atas mau mengingatkan kita bahwa hidup jujur itu lebih menguntungkan daripada hidup yang tidak jujur. Seandainya pemuda penganggur itu tidak jujur, ia akan hidup dalam ketidaktenangan. Hati nuraninya akan selalu mempertanyakan kejujuran dirinya. Ia selalu dikejar-kejar oleh hati nuraninya sendiri. Hidup yang selalu dikejar-kejar oleh hati nurani itu tidak membahagiakan. Orang menjadi tidak damai.

Karena itu, kedamaian mesti didukung oleh kejujuran dalam hidup ini. Para pendiri agama-agama di dunia selalu menekankan pentingnya kejujuran dalam hidup. Orang yang jujur itu berkenan kepada Tuhan dan sesama. Orang yang jujur dalam hidupnya itu senantiasa dipercaya oleh Tuhan dan sesama untuk mengemban tugas-tugas yang besar.

Sebagai orang beriman, kita ingin hidup kita dihiasi oleh kejujuran. Kita ingin agar kejujuran menjadi mahkota bagi hidup kita. Untuk itu, kita mesti mendasarkan hidup kita pada ajaran Tuhan. Tuhan selalu mengajarkan kita untuk hidup bersahaja dan jujur. Dengan cara hidup seperti ini, kita akan mampu menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan. Kita dapat menjadi orang-orang yang dipercaya oleh sesama.

Mari kita terus-menerus membangun hidup kita dalam kejujuran. Hanya dengan kejujuran kita akan menemukan damai dan ketenangan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

136

18 Agustus 2009

Berani Menolak Kejahatan



Di kota besar, papan reklame yang memancarkan cahaya warna-warni di waktu malam sudah merupakan pemandangan biasa. Suasana malam yang gelap menjadi semarak dan meriah dengan adanya cahaya papan reklame yang mempromosikan berbagai produk. Ada sebuah papan reklame yang mempromosikan perusahaan minyak bumi SHELL. Iklan itu berbunyi: Anda can be sure of SHELL. Iklan itu berusaha meyakinkan konsumen apabila mereka memakai bensin dari merek Shell pasti akan nyaman dan enak dipakai.

Entah mengapa pada suatu malam ada kerusakan pada papan reklame itu tepat pada huruf S. Akibatnya, bunyi iklan itu berubah menjadi: You can be sure of HELL. Artinya, Anda boleh yakin bahwa neraka betul-betul ada!

Suatu malam, seorang pemuda baru saja pulang mabuk-mabukan dan mobilnya berhenti di lampu merah perempatan jalan di mana iklan papan reklame itu berada. Pemuda itu terkejut membaca iklan yang berbunyi, You can be sure of HELL.

Ketika lampu hijau menyala, pemuda itu mengemudikan mobilnya pulang. Namun sepanjang jalan, pikirannya tidak bisa lepas dari iklan yang tadi dibacanya. Sesampai di rumah, ia segera naik ke tempat tidur dan berusaha tidur melupakan iklan tadi. Ternyata tidak bisa! Iklan itu terus-menerus terbayang di mata pemuda ini: Neraka, neraka, neraka, engkau harus tahu neraka itu bukan omong kosong, tetapi betul-betul ada!

Pemuda ini tahu bahwa dirinya adalah orang berdosa dan kalau malam itu ia mati, ia pasti masuk neraka. Maka pagi harinya tanpa pikir panjang lagi, ia mencari seorang imam. Ia meminta bimbingan, agar ia beroleh pengampunan dosa. Ia ingin bertobat.

Manusia hidup dalam dunia yang penuh godaan. Ada orang yang tergoda oleh enaknya minuman keras. Mabuk-mabukan sudah menjadi bagian hidupnya. Orang seperti ini baru sadar, ketika penyakit menyerang dirinya. Ada orang tergoda oleh gemerlap uang, sehingga ia mengejar uang sebanyak-banyaknya. Orang seperti ini tidak peduli apakah usaha itu halal atau tidak halal. Orang seperti ini baru sadar, ketika ia mengalami penderitaan akibat ganasnya uang.

Sebenarnya tawaran dunia berupa godaan-godaan itu netral. Artinya, semua itu tergantung dari manusia itu sendiri. Apakah manusia mau mengambil semua godaan itu atau manusia mau secara selektif menghadapi godaan-godaan itu?

Kisah tadi mau mengingatkan kita bahwa kita perlu hati-hati dalam hidup ini. Ada begitu banyak hal yang tampak baik bagi hidup kita, namun ternyata menyimpan penderitaan bagi hidup manusia itu sendiri. Pemuda yang mabuk dalam kisah di atas disadarkan oleh papan iklan. Ia menyesal atas tingkah lakunya yang mabuk-mabukan. Ia berbalik ke jalan yang benar. Ini salah satu contoh bagaimana manusia mesti hidup dalam dunia ini. Orang mesti memilih yang baik. Orang mesti menolak yang jahat. Memang tidak mudah menolak yang jahat. Tetapi orang mesti berani untuk mengambil sikap. Untuk itu, orang beriman mesti kuat dalam iman. Orang beriman tidak boleh menyerah begitu saja terhadap godaan-godaan. Orang beriman mesti berani menolak kejahatan yang mengganggu hidupnya. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.135

Hati yang Remuk Redam Tidak akan Ditolak Tuhan





Ada seorang pencuri yang sudah berpengalaman dan belum pernah tertangkap polisi. Suatu malam ia memasuki sebuah rumah untuk mencuri barang-barang berharga yang ada di dalamnya. Sebelumnya, pada siang hari ia sudah menyelidiki dan mengamati rumah yang akan dijadikan mangsa itu.

Ia masuk ke dalam sebuah kamar di rumah itu, sebab ia tahu di dalam ruangan itu banyak barang yang bisa diambil. Menurut perhitungannya, penghuni rumah itu sudah tidur sebab lampu-lampu sudah dimatikan. Tetapi ketika ia sedang asyik meneliti barang-barang yang ada di dalam ruangan itu, ia mendengar bunyi langkah kaki dan suara orang mendekati ruang tersebut. Dengan cepat pencuri ini bersembunyi di kolong ranjang untuk menyelamatkan dirinya.

Ternyata yang masuk adalah bapak kepala rumah tangga disertai istri dan dua anaknya. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja dan mengadakan ibadah keluarga. Mereka menyanyikan puji-pujian untuk kemuliaan nama Tuhan dan juga membaca firman Tuhan bersama-sama tentang betapa besar kasih Allah kepada dunia yang berdosa ini.

Semua yang dilakukan oleh keluarga ini didengar dengan jelas sekali oleh pencuri yang bersembunyi di kolong ranjang. Setelah ibadah keluarga selesai, semua keluar dari ruangan dan lampu dimatikan. Perlahan-lahan pencuri itu keluar dari tempat persembunyiannya, namun sekarang keinginannya untuk mencuri sudah hilang dari dalam hatinya. Hatinya begitu terkesan oleh apa yang telah didengarnya. Ia segera pulang ke rumahnya dan sepanjang malam itu ia tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, ia memberanikan diri mengetuk pintu rumah yang tadi malam dimasukinya. Ia menceritakan kepada pemilik rumah apa yang diperbuatnya tadi malam. Bapak pemilik rumah itu tidak marah kepada si pencuri tersebut. Malah dengan penuh kasih ia memberitakan kebenaran firman Tuhan sehingga pada hari itu juga, pencuri itu bertobat. Ia pulang dengan sukacita karena mengetahui bahwa Tuhan mengasihi dirinya dan perbuatannya diampuni oleh pemilik rumah.

Tuhan itu baik kepada semua orang. Termasuk orang yang jahat. Ia memberikan matahari untuk semua orang. Ia memberikan tanah yang subur untuk semua orang. Tuhan tidak peduli apakah seseorang itu punya dosa besar atau tidak. Namun yang selalu dituntut dari Tuhan adalah hati yang mau bertobat.

Bertobat berarti orang mau menerima Tuhan bagi hidupnya. Orang tidak mengandalkan kemampuan dan kekuatan dirinya sendiri. Kasih Tuhan justru hidup dan bertumbuh dengan subur dalam diri seseorang. Bukan lagi dosa dan kejahatan yang menjadi andalan dalam hidup. Untuk itu, orang mesti berani mengakui semua kesalahan dan dosanya di hadapan Tuhan. Setelah itu, orang berjanji untuk tidak melakukan lagi dosa.

Untuk itu, orang mesti berani menyerahkan seluruh hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan. Tuhan tidak akan pernah menolak umatNya yang datang kepadaNya. Tuhan akan menerimanya kembali seperti domba yang hilang yang ditemukan kembali. Tuhan selalu memberikan kasihNya bagi kehidupan manusia.

Karena itu, jangan takut untuk datang kepada Tuhan. Jangan kita ragu mendekatkan diri kita kepadaNya. Apa pun dan seberapa pun besar dosa kita, Tuhan akan menerima kita dengan tangan terbuka. Mari kita melangkahkan kaki kita menuju Tuhan yang sudah menanti kedatangan kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



134

17 Agustus 2009

Memberi Teladan Hidup

Suatu hari seorang ibu berambut uban dan sedang patah semangat mendatangi seorang ulama. Ia ingin meminta pertolongan dari ulama itu. Ia berkata, “Pak, tolonglah anak saya yang ada di penjara. Sudah sepuluh tahun ia ada di penjara dan belum sekalipun dia membalas surat-surat yang saya kirim kepadanya. Saya ingin sekali mengetahui keadaannya. Tolong juga sampaikan surat dan foto ini kepadanya.”

Ulama itu menyanggupi permohonan ibu itu. Ketika ia pergi ke kota, ia mengunjungi pemuda itu. Ketika bertemu, ulama itu menunjukkan surat dan foto ibu itu kepada pemuda itu.

Dengan dingin pemuda itu berkata, “Benar, ini foto ibu saya. Dulu rambutnya hitam, tetapi sekarang semua sudah putih...”

Ulama itu bertanya mengapa selama bertahun-tahun ia tidak membalas surat ibunya. Dengan geram dan mata melotot, ia berkata, “Pak, maukah bapak pergi ke rumah ibuku dan mengembalikan foto dan surat ini? Saya sama sekali tidak menyukai ibu saya. Bagi saya, dia adalah wanita paling jahat di dunia. Pertama kali saya mengenal judi di meja ibu saya yang selalu berjudi setiap hari bersama kawan-kawannya? Saya diajari minum alkohol oleh ibu saya sendiri. Karena itulah akhirnya saya masuk penjara selama sepuluh tahun. Kalau sekarang dia mengatakan mencintai saya, itu hanya omong kosong belaka. Sungguh saya membenci ibu saya dan kebiasaannya.”

Ulama itu hanya terbengong. Ia kembali dengan seribu satu pertanyaan di benaknya.

Teladan hidup ternyata sesuatu yang masih sangat dibutuhkan dalam hidup manusia. Pepatah mengatakan, buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik pula. Karena itu, teladan orangtua sangat penting dalam proses pendidikan seorang anak. Teladan yang baik membawa kebaikan dalam hidup. Teladan yang buruk membawa pengaruh negatif dalam pertumbuhan kejiwaan seorang anak.

Untuk itu, orangtua mesti membangun hidup yang baik. Hidup yang dekat dengan Tuhan. Caranya adalah dengan mendengarkan firman Tuhan dan berdoa kepada Tuhan. Namun berdoa saja tidak cukup. Orangtua mesti membangun kedekatan dengan anak-anak.

Di jaman sekarang banyak anak mengeluhkan orangtua mereka yang terlalu sibuk mencari nafkah. Seolah-olah penghasilan keluarga itu yang utama. Sampai-sampai mereka lupa bahwa kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak merupakan tugas utama dari orangtua. Apa gunanya mengumpulkan harta yang banyak, tetapi anak-anak kekurangan cinta kasih dan perhatian.

Karena itu, orangtua perlu berefleksi diri akan peranannya dalam konteks tanggungjawabnya terhadap pendidikan anak-anak mereka. Memberi teladan hidup menjadi suatu kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tentang cara hidup yang baik. Belajar tentang kehidupan itu mesti dimulai dari keluarga. Orangtualah yang memberi teladan untuk hal ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.133

16 Agustus 2009

Menimba Semangat Hidup Sesama



Pada suatu musim panas yang panjang, seekor rubah berjalan-jalan di hutan. Ia menemukan sebatang pokok anggur. Pokok anggur itu berbuah lebat dan ranum. Butir-butir anggur kelihatan segar menggantung pada ranting-rantingnya.

Rubah ingin makan buah anggur itu. Namun telah mencoba sebisa-bisanya, ia tak dapat menggapai buah anggur itu. Dia berdiri di atas kaki belakangnya. Dia melompat, bahkan dia mencoba memanjat pokok anggur itu. Tetapi buah anggur itu tergantung jauh di atas sana. Ia tidak dapat menjangkaunya. Beberapa lama rubah itu mencoba memetiknya. Akhirnya dia kepayahan dan menyerah.

Dalam kekesalan hatinya, ia berkata, “Huh... buah-buah anggur asam. Aku tidak menginginkan anggur-anggur itu.” Ia pun pergi dengan hati yang sedih.

Sering sekali hal seperti ini terjadi dalam hidup kita. Kekesalan hati sering membuat orang tidak mau menghargai sesamanya. Meskipun ada begitu banyak hal baik yang ada dalam diri sesama, tetapi kalau hati lagi kesal orang cuek. Orang tidak peduli terhadap kebaikan sesama yang berlimpah-limpah itu.

Benarkah hal ini mesti terjadi dalam hidup? Bukankah kita mesti pandai memilah-milah antara yang kita sukai dengan hal yang tidak kita sukai? Janganlah kita sedang terlibat permusuhan dengan orang lain, sesama dekat menjadi korban.

Kisah Rubah yang kesal hati itu menjadi contoh bagi kita. Kebaikan sesama mesti kita gunakan sebaik-baiknya untuk hidup kita. Kebaikan sesama itu menjadi kekayaan yang mesti memperkaya pengalaman hidup kita. Sesama itu bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Hadirnya mereka di sekeliling kita sangat membantu kita dalam membentuk watak dan karakter kita.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kemampuan dan semangat hidup yang diberikan oleh sesama kita menjadi suatu tambahan semangat bagi hidup kita. Kita ingin agar apa yang mereka miliki dapat menjadi kontribusi bagi kelangsungan hidup kita. Kita mesti mampu membawa kabar sukacita bagi sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

132

15 Agustus 2009

Menghargai Setiap Manusia




Suatu hari seekor rusa jantan berhenti di sebuah sungai yang jernih untuk memuaskan dahaganya. Ketika sedang minum, dia melihat bayangan dirinya. Dia sangat kagum pada tanduknya. “Betapa bagusnya tanduk-tanduk yang kumiliki,” pikir rusa jantan itu.

Ia berkata lagi, “Aku adalah binatang paling ganteng di hutan ini. Kekuranganku hanya pada kaki. Kaki-kakiku begitu kecil dan kurus. Jika dapat, aku akan menggantinya dengan sepasang kaki yang lebih bagus.”

Karena itu, rusa jantan itu menjadi sedih memikirkan bagaimana dapat mengganti kaki-kakinya, supaya ia sungguh-sungguh kelihatan gagah.

Suatu hari lain ketika dia berjalan-jalan melalui rimba sambil memikirkan masalah itu, ia mendengar anjing-anjing pemburu menyalak. Mendengar itu, ia pun lari. Tetapi anjing-anjing itu telah melihatnya. Mereka terus mengejarnya. Rusa jantan itu berlari cepat.

Ketika berlari melalui semak belukar, tanduknya yang indah itu tersangkut. Dia berjuang untuk melepaskan diri sementara itu anjing-anjing semakin dekat. Dia merasa ajalnya sudah dekat. Akan tetapi, dengan sekali sentakan keras akhirnya rusa jantan itu dapat melepaskan diri, keluar dari semak-semak. Dia pun selamat. Dengan masih terengah-engah, ia bergumam dalam hati, “Kakiku yang kurus ini telah menyelamatkanku. Sedangkan tanduk-tandukku yang indah justru menyusahkanku. Kalau begitu aku tak akan mengganti kaki-kakiku.”

Dalam hidup ini ada hal-hal kecil yang begitu berguna bagi hidup kita. Otak yang kita miliki, misalnya. Otak yang kecil itu ternyata sangat berperan bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa otak, tangan dan kaki kita tidak bisa bekerja dengan baik. Otak yang memerintah organ tubuh yang lain untuk melakukan aktivitasnya. Otak yang menjadi sumber inspirasi bagi hidup manusia.

Namun otak tidak bisa bekerja sendirian. Tanpa urat-urat syaraf yang kecil, perintah dari otak tidak bisa terlaksana dengan baik. Karena itu, otak tidak bisa membanggakan diri sebagai yang paling hebat dan utama dalam kerja tubuh manusia. Otak dapat bekerja dengan baik selalu dalam konteks keterkaitan dengan keseluruhan organ tubuh.

Dalam hidup sehari-hari ada orang yang menempatkan diri sebagai yang paling penting dan berpengaruh. Lalu muncul kecenderungan untuk sombong dan membanggakan diri. Kesombongan lalu memenuhi dirinya. Ini bahaya. Semestinya ia menyadari bahwa penting dan berpengaruhnya dia dalam hidup ini karena bantuan dari masyarakat sekitar. Ada banyak orang kecil dan sederhana yang memberikan kontribusi yang besar kepadanya, sehingga ia memiliki pengaruh.

Karena itu, melalui kisah di atas kita diajak untuk senantiasa menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita. Mereka memiliki pengaruh terhadap hidup kita. Mereka memiliki kemampuan untuk selalu berperan aktif dalam kehidupan kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menghargai hidup setiap orang. Setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihan sendiri-sendiri yang memberikan kontribusi bagi hidup kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

131

14 Agustus 2009

Membangun Bangsa dengan Semangat Persatuan





Ada seorang kaya mempunyai tiga orang anak laki-laki yang selalu bertengkar. Orang kaya itu sedih karenanya. Namun dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Pada suatu hati ia mendengar salah seorang anaknya berkata kepada yang lain, “Apabila ayah kita meninggal, kita harus membagi harta ini. Karena kita tidak dapat hidup bersama dalam perselisihan terus-menerus.”

Orang kaya itu kaget mendengar perkataan itu. Dia kemudian memanggil ketiga anaknya dan meminta mereka membawa seberkas sapu lidi. Ketika anak-anaknya berkumpul dan menyerahkan sapu, orang kaya itu mengambil satu lidi dan mematahkannya menjadi dua.

Lalu ia menjelaskan, “Lihat! Satu lidi dapat dengan mudah dipatahkan.”

Kemudian dia menyatukan ketiga sapu yang dibawa oleh anak-anaknya dan menyerahkannya kepada salah seorang anaknya. Lantas dia memberi perintah kepada mereka, “Sekarang coba patahkan sapu itu!”

Secara bergilir ketiga anak itu berusaha mematahkannya, tetapi berkas sapu itu tidak dapat dipatahkan. Kemudian ayah itu berkata lagi, “Anak-anakku, jika kalian sendirian kalian lemah. Tetapi jika bersama-sama kalian akan kuat. Jangan bodoh, membiarkan pertengkaran melemahkan persatuan kalian.”

Anak-anak itu pun mengerti dan tidak pernah lagi berselisih.

Gaung persatuan selalu dikumandangkan di negeri ini sejak negeri ini berdiri. Mengapa dibutuhkan persatuan? Karena hanya dengan persatuan itu kita dapat membangun negeri yang kita cintai ini. Hanya melalui persatuan yang teguh kita dapat melangkahkan kaki kita sebagai sebuah bangsa.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa selama perjalanan waktu, bangsa kita juga tergoda untuk melepaskan diri. Ada gerakan-gerakan separatisme. Mereka merasa lebih beruntung memiliki sebuah negara sendiri. Mungkin selama ini mereka merasa kurang diperhatikan sebagai bagian dari negara kesatuan RI. Tentu hal ini patut disayangkan.

Sebagai bangsa yang bersatu, kita semua dipanggil untuk mengambil bagian dalam usaha membangun negeri ini. Negara ini milik semua warga bangsa ini. Negara ini bukan hanya milik orang-orang yang berada di pulau tertentu, kota tertentu. Setiap warga bangsa ini mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara kesatuan RI ini.

Setiap tahun kita merayakan proklamasi kemerdekaan RI. Sebagai bangsa, semestinya perayaan ini bukan hanya sebuah upacara seremonial. Tetapi menjadi sebuah perayaan yang penuh makna. Menjadi sebuah perayaan yang membawa setiap warga bangsa ini kepada kesadaran akan kesatuan dan persatuan sebagai sebuah bangsa.

Ada pepatah ‘Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.’ Apa makna pepatah ini bagi kita di jaman sekarang? Artinya, kita ingin membangun kekohonan hidup kita dan bangsa kita melalui persatuan. Hanya dengan persatuan itu, kita dapat membangun sebuah bangsa yang sejahtera, aman dan damai. Mari kita satukan hati dan tekad kita untuk membangun sebuah bangsa yang kuat dalam berbagai bidang kehidupan. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.130