Pages

24 Oktober 2011

Membuka Hati bagi Semua Orang


Suatu hari Yesus sedang mengajar orang banyak di sebuah rumah. Tiba-tiba ibu dan saudara-saudari sepupu Yesus mendatangi Yesus. Mereka sangat ingin menjumpai Yesus. Sudah begitu lama mereka tidak bertemu dengan-Nya, karena selalu berkeliling dari kota dan desa untuk mengajar.

Melihat kehadiran ibu dan saudara-saudari sepupu Yesus itu, beberpa orang menyampaikan kepada-Nya. Mereka berkata, ”Guru, ibu dan saudara-saudari-Mu ingin bertemu dengan-Mu. Mereka sangat rindu untuk berjumpa dengan-Mu.”

Yesus tersenyum mendengar hal itu. Lantas ia berpaling kepada semua yang hadir. Ia berkata, ”Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku? Kalian tahu, ibu dan saudara-saudara-Ku adalah semua orang yang mendengarkan pengajaranKu. Semua kamu yang melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari adalah ibu dan saudara-saudara-Ku.”

Pernyataan Yesus itu membingungkan para pendengar-Nya. Bukankah Yesus itu lahir sebagai manusia dari seorang perempuan bernama Maria? Bukankah saudara-saudari sepupu---Nya dikenal oleh banyak orang? Pernyataan Yesus itu menimbulkan pergunjingan di antara orang banyak.

Namun Yesus mengatakan kepada mereka bahwa kehadiran-Nya di dunia ini bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja. Ia hadir bukan hanya untuk keluarga--Nya saja. Ia datang ke dunia untuk semua orang. Ia datang untuk membebaskan dosa seluruh manusia. Tidak peduli mereka berasal dari keluarga besarnya atau tidak.

Sahabat, di negeri kita pernah muncul situasi kolusi, korupsi dan nepotisme atau KKN yang begitu kental. Apa yang terjadi ketika KKN menguasai hidup manusia? Yang terjadi adalah politik kekuasaan dan kepentingan untuk sebagian kecil orang saja. Ketika orang hanya memikirkan kebahagiaan dan keselamatan bagi diri sendiri, orang mengeliminasi sesamanya. Orang tidak memikirkan sesamanya secara lebih luas. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana keluarganya lepas dari kungkungan kemiskinan.

Padahal manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Artinya, makhluk yang mesti selalu peduli terhsadap sesamanya. Manusia yang tidak hanya menukik ke dalam dirinya sendiri untuk memikirkan kepentingannya sendiri. Egoisme dan nepotisme mesti dijauhkan dari hidup manusia, kalau manusia ingin terlibat dalam hidup bersama.

Namun sering manusia tidak mampu membendung kepentingan dirinya sendiri. Manusia merasa bahwa kalau kepentingan dirinya sendiri sudah terpenuhi, ia akan hidup bahagia. Ternyata tidak demikian. Kepentingan manusia selalu berkaitan dengan kepentingan bersama. Tidak bisa berdiri sendiri.

Untuk itu, manusia mesti berani melepaskan egoisme yang mengikat dirinya itu. Lantas manusia mesti membuka dirinya untuk menerima dan membantu sesamanya untuk mengalami kebahagiaan dalam hidup. Kisah tadi menjadi pelajaran yang sangat bermakna bagi kita. Yesus menyadari kehadiran-Nya bukan hanya untuk segelintir orang saja. Ia hadir untuk membahagiakan semua orang.

Mari kita terus-menerus membuka hati kita bagi kehadiran semua orang dalam hidup kita. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


812

23 Oktober 2011

Menumbuhkan Cinta yang Sejati

Dalam hidup ini, sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh Anda? Apakah mobil mewah yang bisa membawa Anda ke mana-mana dengan aman dan nyaman? Atau istri cantik atau suami ganteng yang selalu berada di sisi Anda? Atau harta kekayaan yang melimpah yang membuat hati Anda tenang?

Ada seorang bapak yang suka gonta-ganti mobil mewah. Ia suka memburu mobil-mobil mewah itu. Ia mengira bahwa setiap kali ia memiliki mobil mewah, hatinya akan tenang. Ternyata tidak! Ia selalu tidak puas dengan setiap mobil mewah yang telah dimilikinya. Ia selalu resah. Ia terus-menerus memburu mobil mewah.

Lantas apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia di zaman sekarang ini? Kalau bukan harta kekayaan dan kemewahan, lalu apa? Seorang bapak selalu resah, karena memiliki istri yang sangat cantik. Mengapa? Ia selalu curiga, jangan-jangan istrinya selingkuh karena disukai banyak kaum pria. Jadi apa yang membuat manusia tenang dalam hidup ini?

Sahabat, pertanyaan-pertanyaan di atas membawa kita pada suatu refleksi yang mendalam tentang hidup ini. Apa yang paling utama kita butuhkan dalam hidup ini sebenarnya cinta atau kasih sayang. Cinta membuat orang tenang dalam hidupnya. Cinta yang tulus membuat orang berani menjalani hidup ini apa adanya. Semua kekayaan dan kemewahan yang dimiliki hanyalah sarana untuk memiliki cinta yang tulus. Kalau orang tidak mengalami cinta yang tulus berkat harta yang melimpah, orang mesti berpikir ulang tentang harta yang melimpah itu.

Menurut seorang psikolog, untuk dapat sehat secara mental, yang diperlukan seseorang adalah cinta. Orang mesti menyadari lebih dalam manusia hidup dari cinta, hidup oleh cinta dan juga untuk cinta. Viktor Frankl mengatakan bahwa cinta adalah tujuan utama dan tertinggi yang dapat dicapai manusia.

”Saya menangkap makna rahasia terbesar yang melingkar dalam syair, dalam pikiran dan keyakinan manusia, yaitu penyelamatan manusia diperoleh lewat cinta dan di dalam cinta,” kata Victor Frankl.

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh manusia dalam hidup ini adalah menghidupi cinta tanpa syarat. Suatu cinta yang senantiasa mengutamakan kebahagiaan dalam hidup ini. Inilah cinta sejati. Cinta yang merupakan hadiah yang diberikan secara cuma-cuma kepada orang lain.

Tugas seorang beriman adalah memberikan cinta yang tulus dan sejati kepada sesamanya, siapa pun mereka. Sering orang memilih-milih siapa yang dapat dicintainya. Namun cinta yang sejati tidak memilih-milih. Erich Fromm, psikolog yang terkenal dengan bukunya, The Art of Loving, menulis tentang cinta tak bersyarat. Menurut Fromm, cinta tak bersyarat berhubungan langsung dengan kerinduan yang paling dalam, bukan hanya kerinduan pada anak, melainkan kepada setiap manusia.

Mari kita tumbuhkan cinta dan kasih sayang dalam hidup kita. Dengan demikian, kita mampu menciptakan suatu dunia yang lebih baik. Kita mampu mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

811

Mendengarkan dan Melaksanakan Kehendak Tuhan




Suatu hari seorang ibu mengagumi Yesus. Waktu itu, Yesus sedang mengajar tentang mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Selain mengajar, Yesus juga menyembuhkan berbagai penyakit dari orang-orang yang menderita. Tiba-tiba di tengah-tengah kerumunan orang banyak, seorang ibu bangkit berdiri. Jari telunjuknya ditujukan kepada Yesus.

Ibu itu berkata, ”Berbahagialah ibu yang telah melahirkan dan menyusui Engkau.”

Yesus tersenyum mendengar kata-kata perempuan itu. Lantas Yesus menjawab, ”Lebih berbahagialah orang yang mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari.”

Perempuan itu tersipu-sipu. Ia merasa malu sendiri dengan kata-katanya. Baginya, perempuan yang telah melahirkan dan menyusui Yesus tentu saja seorang yang istimewa. Seorang perempuan yang terhormat. Seorang perempuan yang pantas berbahagia menyaksikan kesuksesan anaknya.

Sahabat, ternyata bagi Yesus, yang lebih berbahagia adalah semua orang yang mau memasang telinga untuk mendengarkan kehendak Tuhan. Soalnya adalah apakah di zaman sekarang ini orang mampu menangkap kehendak Tuhan? Bukankah banyak orang lebih suka mendengarkan dirinya sendiri? Bukankah banyak orang selalu mengalami kesulitan untuk mendengarkan orang lain, apalagi mendengarkan kehendak Tuhan?

Tuhan berbicara kepada kita setiap hari. Ini yang mesti kita sadari. Tuhan berbicara melalui tanda-tanda zaman. Tuhan berbicara kepada kita melalui orang-orang yang ada di sekitar kita. Ketika kita salah jalan, Tuhan menegur kita melalui sesama kita. Nah, untuk hal seperti ini kita mengalami kesulitan untuk menerima. Mengapa? Karena kita selalu merasa diri benar. Tidak boleh ada orang yang menegur atau memperingatkan kita, ketika kita berjalan di jalan yang salah.

Tuhan juga menghendaki agar kita melaksanakan keinginan-keinginanNya. Tuhan selalu menginginkan hal-hal yang baik terjadi dalam hidup kita. Tuhan selalu menginginkan kita hidup baik dan benar di hadapanNya. Tuhan tidak mau kita mengalami kesulitan dalam hidup ini. Ini yang semestinya kita yakini dalam perjalanan hidup ini. Kita mesti berjuang terus-menerus untuk melaksanakan kehendak Tuhan bagi hidup kita.

Karena itu, kita perlu kesadaran yang dalam untuk mendengarkan kehendak Tuhan bagi diri kita. Kita butuh waktu untuk mendengarkan kehendak Tuhan itu. Kita butuh saat-saat hening untuk membiarkan diri kita dikuasai oleh Tuhan. Dengan demikian, kita mampu mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


810

21 Oktober 2011

Membawa Kegembiraan kepada Sesama


Sebagian besar dari kita masih ingat pemuda bernama Andres Iniesta. Dialah pahlawan kesebelasan Spanyol pada final Sepakbola Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan. Gol semata wayang yang dicetaknya menjadi penentu sejarah baru di dunia sepakbola: Spanyol menjadi negara kesembilan yang merebut Piala Dunia Sepakbola. Sebelumnya, hanya delapan negara yang bergantian menjadi juara.

Namun yang lebih penting lagi adalah Andres Iniesta bangkit dari keterpurukannya. Sepanjang musim kompetisi liga Spanyol, ia lebih banyak berada di ruang perawatan terhadap cedera hamstring dan pangkal paha. Ia jarang diturunkan oleh pelatih Barcelona, klub di mana ia bernaung. Namun setelah sembuh, ia pun kembali ke penampilan normalnya. Ia bekerja keras untuk mendapatkan tempat di tim utama kesebelasan Spanyol. Untuk kerja kerasnya itu, ia memberikan hadiah berupa trofi Piala Dunia bagi negeri tercintanya.

Tentang partisipasinya di Piala Dunia, pria berusia 26 tahun ini berkata, “Ketika sampai di Piala Dunia, aku menatapnya dengan penuh hasrat serta ambisi. Aku berharap segalanya berakhir baik dan di samping kekalahan lawan Swiss di laga pertama, kami berhasil bangkit dari itu, pulih dengan baik. Semua tahu akhirnya seperti apa.”

Sebagai seorang pemain, Iniesta mengaku tugasnya adalah menggembirakan para penonton dan penggemarnya. “Untuk membuat banyak orang bahagia adalah sesuatu yang tak ternilai. Inilah yang menuntaskan pekerjaanku. Semampunya membuat banyak orang yang mendukung kita bahagia. Kebahagiaan orang tak ternilai harganya,” katanya.

Sahabat, sudahkah Anda menghadirkan kegembiraan bagi sesama Anda dalam hidup ini? Atau Anda telah menghadirkan kecemasan dalam diri sesama Anda? Kalau hal terakhir ini yang terjadi, Anda mesti segera mengintrospeksi diri Anda. Mengapa? Karena tugas setiap orang adalah memberikan kegembiraan hidup bagi sesamanya. Tugas kita dalam hidup ini adalah menciptakan suasana sukacita bagi sesama. Ketika kita menciptakan suasana yang menggembirakan sesama, kita memberikan pengharapan bagi sesama kita.

Pengharapan itu begitu penting dalam hidup ini. Ada orang yang tidak punya pengharapan. Mereka merasa bahwa hidup ini akan segera berakhir. Mereka tidak perlu punya macam-macam pengharapan. Yang penting bagi mereka adalah menjalani hidup ini. Tidak perlu menggantungkan pengharapan setinggi langit. Tentu saja orang seperti ini akan hidup biasa-biasa saja. Tidak ada gejolak dalam hidup mereka. Mereka hanya mencari aman saja. Padahal ada begitu banyak sesamanya yang menantikan sukacita dari mereka.

Kisah di atas memberi kita contoh bagaimana orang mesti berani bekerja keras untuk memberikan kegembiraan bagi sesamanya. Orang yang demikian tidak bisa hidup biasa-biasa saja. Orang seperti ini punya tujuan hidup dan punya cita-cita yang tinggi. Cita-citanya itu tidak bisa dikalahkan oleh berbagai hambatan yang menghadang hidupnya.

Karena itu, mari kita berusaha untuk membawa kegembiraan dan harapan bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup ini semakin memiliki makna yang lebih mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


809

Tuhan Itu Satu-satunya Andalan Kita


Ada seorang bapak yang menurut istrinya sangat baik hati. Setiap kali istrinya melakukan suatu kesalahan ia selalu memakluminya. Setelah memberi nasihat sekedarnya, bapak itu memaafkan istrinya. Situasi seperti itu memberikan suatu semangat dalam hidup berkeluarga. Sang istri merasa hidup ini menjadi lebih bermakna. Ia dapat melayani kebRata Penuhutuhan-kebutuhan hidup bersama dengan baik.

Suatu ketika, sang suami melakukan kesalahan yang berat. Ia tertangkap tangan sedang menjual narkoba. Ia mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia ditahan pihak berwajib. Ia pun kemudian diadili atas perbuatannya itu. Hukuman yang mesti dijalani oleh sang suami sangat berat, yaitu 15 tahun penjara.

Bagi sang istri, situasi seperti itu membuat ia patah semangat. Ia mesti membesarkan anak sematang wayangnya sendirian, sementara suaminya mesti mendekam di penjara. Ia mesti memulai hidup tanpa sang suami yang sangat dicintainya itu.

”Bagaimana saya bisa menjalani hidup ini tanpa suami saya? Dialah yang selalu membesarkan hati saya setiap kali saya jatuh ke dalam dosa. Apa yang akan terjadi ketika saya jatuh ke dalam dosa? Siapa yang akan membesarkan hati saya? Siapa yang akan memaafkan saya?” katanya.

Istri itu terus-menerus dihantui oleh situasi tersebut. Namun ia mesti bangkit. Ia mesti memulai hidup baru tanpa sang suami di sisinya setiap hari. Ia masih punya tanggung jawab atas anak yang dilahirkannya. Karena itu, ia pun bangkit. Dengan kemampuan yang dimilikinya, ia berjuang untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Ia membesarkan dan membahagiakan anaknya.

Sahabat, manusia semestinya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Orang boleh saja mengalami penderitaan dalam hidup. Tetapi orang mesti punya keyakinan bahwa masih ada secercah cahaya yang mampu membangkitkan dirinya dari keterpurukan. Cahaya itu adalah iman kepada Tuhan. Ketika orang mampu menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, orang akan mampu bangkit. Orang tidak begitu saja terpuruk dan mati dalam penderitaannya.

Kisah di atas mengajak kita untuk tetap bertahan di dalam penderitaan. Kita mesti bangkit. Kita mesti mencari cara-cara terbaik untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup kita. Soalnya adalah mampukah kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita? Bukankah ada orang yang kurang percaya bahwa Tuhan mampu memberi pertolongan bagi dirinya? Bukankah ada orang yang menempatkan Tuhan sebagai pemain cadangan dalam hidupnya? Banyak orang mau datang kepada Tuhan hanya ketika mereka membutuhkannya. Padahal Tuhan selalu siap untuk membantu manusia kapan dan di mana saja.

Karena itu, yang dibutuhkan dari hidup manusia adalah sikap penyerahan hidup yang total kepada Tuhan. Artinya, orang mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya penolong dalam hidupnya. Orang mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya penyelamat dalam hidup ini.

Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, kita dapat semakin percaya bahwa Tuhan sungguh penolong kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ




808

20 Oktober 2011

Ubah Hati yang Keras dengan Hati yang Lembut Rata Penuh



Ada seorang pemuda yang terkenal dengan ketegaran hatinya. Ia punya prinsip yang kuat dalam hidupnya. Soalnya, prinsip-prinsip hidupnya itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan bersama. Ia mau hidup dengan caranya sendiri. Misalnya, ia merasa bahwa orang tidak perlu bayar pajak kepada pemerintah. Alasannya adalah pihak pemerintah selalu menyalahgunakan hasil pajak itu. Dalam hal ini ia menjadi orang yang cuek. Ia tidak peduli.

Ketika diberi penjelasan oleh teman-temannya tentang hal ini, ia tidak mau juga mengerti. Ia tetap saja bertahan pada prinsipnya. Ia mau agar semua orang bebas pajak. Pemerintahlah yang seharusnya memfasilitasi masyarakatnya. Pasalnya, pemerintah menguasai semua sektor yang menghasilkan devisa bagi negara.

Akibatnya, ia disingkirkan banyak orang karena prinsip hidupnya yang dianggap aneh. Namun ia tidak peduli. Ia hidup dengan cara pandangnya sendiri. Ia tidak ingin didikte oleh orang lain. Ia punya pilihan dan cara hidup sendiri. Ia tidak ingin orang lain mencampuri urusan dirinya itu.

Sahabat, tampaknya kisah di atas menunjukkan bahwa pemuda itu orang yang tidak gampang bertobat. Meski sudah dijelaskan dan diberi pengertian, ia mau hidup dengan caranya sendiri. Ia tetap bertahan pada prinsip-prinsip hidupnya sendiri yang dirasakannya benar. Ia memang orang yang tegar. Bisa saja bahwa orang seperti ini akan ditinggalkan banyak orang. Orang yang hidup dengannya akan selalu merasa ada yang tidak beres. Tidak ada yang klop berhadapan dengan orang seperti ini.

Soalnya, mengapa orang sulit sekali untuk bertobat? Jawabannya adalah manusia selalu menganggap diri benar. Manusia menjalankan apa yang menurut dirinya sendiri baik dan benar. Padahal belum tentu apa yang dipikirkan dan dilakukannya itu benar dan baik bagi sesama.

Dalam hubungannya dengan Tuhan, orang yang sulit bertobat itu merasa tidak membutuhkan Tuhan. Ia merasa bisa melakukan apa saja tanpa bantuan Tuhan. Mungkin dalam pikirannya, kehadiran Tuhan hanyalah mengganggu dirinya. Karena itu, lebih baik ia melaksanakan apa yang menjadi kehendak dirinya sendiri. Ia tidak perlu mendengarkan kehendak Tuhan bagi hidupnya.

Orang seperti ini menutup diri terhadap kehendak Tuhan bagi dirinya sendiri. Lebih baik ia melaksanakan kehendaknya sendiri daripada melaksanakan kehendak Tuhan. Menurut orang seperti ini, kehendak Tuhan itu tidak jelas. Kehendak Tuhan kurang menyenangkan dirinya.

Namun Tuhan tetap menaruh kasih kepada orang seperti ini. Tuhan mau agar orang seperti ini juga senantiasa menemukan kebaikanNya dalam hidup sehari-hari. Rahmat Tuhan akan tetap menaungi dirinya. Hingga suatu saat orang seperti ini akan sadar bahwa ia membutuhkan Tuhan bagi perjalanan hidupnya. Ketika ia mengalami kebuntuan dalam hidupnya, ia akan datang kepada Tuhan. Ia akan bersujud di hadapan Tuhan dan mohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya.

Mari kita membuang hati kita yang tegar. Hati yang keras seperti batu kita ubah dengan hati daging yang lemah lembut. Hati yang mudah tersentuh oleh kebaikan Tuhan. Dengan demikian, kita dapat memiliki hidup yang kekal. Kita mampu berjalan bersama Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


807

16 Oktober 2011

Menumbuhkan Kesabaran dalam Hidup



Apakah Anda punya kesabaran yang tinggi dalam hidup ini? Kalau Anda mesti menunggu seorang teman yang berjanji untuk menjumpai Anda, namun setelah enam jam ia belum datang juga, apakah Anda masih sabar menunggunya?

Kalau Anda punya kesabaran yang tinggi, Anda akan menunggunya sambil mengerjakan pekerjaan rutin Anda. Namun kalau Anda kurang punya kesabaran, Anda akan meninggalkannya. Anda tidak akan peduli terhadap dirinya. Di sinilah kesabaran dan kesetiaan seseorang diuji.

Banyak orang mengatakan kesabaran itu kekuatan yang menjadikan seseorang tabah, tekun dan berani dalam hidup ini. Tabah mengandung unsur tahan derita, tidak mudah mengeluh. Sakit dan derita dijalani sebagai bagian dari hidup.

Orang yang tekun itu tidak putus asa. Orang yang tekun itu penuh pengharapan, karena yakin bahwa pasti ada jalan untuk mengatasinya. Berbagai persoalan yang dihadapi akan diatasi dengan penuh semangat. Ketekunan membantu seseorang untuk menemukan cara-cara yang brilian dalam mengatasi setiap persoalan hidupnya.

Orang yang berani biasanya orang memiliki kesiapsediaan untuk menghadapi situasi hidupnya. Peristiwa-peristiwa hidup dilalui dengan sukacita, karena berani menghadapinya dengan tenang. Meski ada derita dalam pengalaman hidup, tetapi orang yang berani akan tetap punya optimisme dalam hidupnya. Dengan demikian, orang tetap bertahan dalam hidupnya. Orang tidak mampu digoyahkan oleh berbagai persoalan dan pengalaman pahit hidup ini.

Sahabat, tentang kesabaran, Richard Calson berkata, ”Semakin kita sabar, semakin kita dapat menerima hidup ini apa adanya, bukan semakin memaksa hidup ini persis seperti yang kita kehendaki.” Misalnya, sekarang Anda jatuh sakit, pasti Anda menghendaki cepat sembuh. Dengan berbagai cara, Anda akan mengupayakan kesembuhan itu. Namun kesembuhan butuh proses. Proses berarti butuh waktu. Dan untuk berjalan dalam proses waktu, dibutuhkan kesabaran.

Kalau Anda seorang yang sedang dirawat di rumah sakit, Anda butuh beberapa tahap untuk mencapai kesembuhan. Tahap pertama pemeriksaan fisik secara sistimatis oleh dokter, kemudian tindakan dan pemulihan. Terhadap tahapan-tahapan ini dibutuhkan kesetiaan dari Anda untuk menjalaninya.

Kesabaran itu seperti tumbuhnya sebatang pohon yang menghasilkan buah untuk dimakan. Untuk dapat menghasilkan buah, pohon tersebut harus melewati proses pertumbuhan yang panjang: tumbuh, bunga, buah. Proses ini butuh waktu yang panjang. Mungkin satu atau dua tahun. Mungkin juga sepuluh atau dua puluh tahun, baru sebatang pohon memberikan buah yang segar bagi hidup manusia. Untuk itu, dibutuhkan kesabaran.

Orang beriman itu mesti menumbuhkan kesabaran dalam hidupnya. Kalau berdoa, orang beriman tidak bisa mengharapkan hasil dalam waktu sejenak. Orang mesti sabar menanti jawaban dari Tuhan. Mungkin Tuhan akan menjawab perrmohonan-permohonannya, namun tidak persis seperti yang diharapkan. Memang, Tuhan tidak wajib mengabulkan setiap permohonan kita. Karena itu, kita mesti tetap berharap dengan penuh iman kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


806

Mengalami Tuhan dalam Hidup Sehari-hari


Di suatu desa, hiduplah seorang petani dan anaknya. Ayah dan anak ini menanam padi untuk penghidupan mereka. Setelah mencangkul di musim kemarau yang panas, keduanya mulai menanam di musim hujan tiba. Maklum, kebun yang mereka miliki adalah ladang yang hanya bisa ditanami di musim hujan.

Sang anak bekerja tanpa kenal lelah membantu ayahnya. Ia tidak peduli kedua telapak tangannya menjadi tebal. Butir-butir keringat yang ia cucurkan menjadi sumber rezeki bagi keluarganya. Setelah menanami ladang penuh dengan padi, keduanya mulai beristirahat. Mereka menunggu sampai masa penyiangan tiba. Mereka akan membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela padi.

Setelah masa penyiangan selesai, keduanya tetap bekerja dengan memberi pupuk pada batang-batang padi itu. Hingga suatu ketika keduanya menikmati hasil panen yang melimpah dari ladang mereka. Setelah beberapa hari padi-padi itu dipanen, sang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, beri saya waktu untuk istirahat. Saya mau pergi ke kota. Boleh kan sesekali saya menikmati hasil kerja kita?”

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia mengerti itulah keinginan setiap pemuda. Mereka bekerja untuk mengumpulkan uang. Setelah itu mereka gunakan untuk berfoya-foya. Mereka butuh kesempatan untuk menikmati hidup. Tidak selamanya orang hanya bekerja dan bekerja.

Karena itu, ayahnya mengizinkan anaknya itu untuk meninggalkan desa menuju kota. Meski ia tahu bahwa anaknya akan seperti rusa masuk kota, ia tetap membiarkan anaknya pergi. Ia butuh pengalaman. Ia butuh kesempatan untuk mengisi hidupnya dengan pengalaman-pengalaman baru. Apa yang akan terjadi dengan dirinya, sang ayah yakin, anaknya akan mampu bertanggungjawab.

Sahabat, orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Orang yang berani bergelut dengan pengalaman akan menemukan bahwa hidup ini memiliki aneka keindahan. Orang berani belajar dari pengalaman-pengalaman itu. Orang mengasah ketrampilan dirinya melalui pengalaman-pengalaman itu.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang akan menemukan pengalaman baru dalam hidupnya, ketika ia berani melangkahkan kakinya. Pengalaman itu mesti dijalani. Pengalaman tidak datang dengan sendirinya. Ketika pemuda itu berani meninggalkan desanya, ia boleh berharap akan mendapatkan berbagai pengalaman menarik. Pengalaman-pengalaman baru itu akan memperkaya dirinya dalam hidupnya sehari-hari.

Demikian halnya dengan pengalaman akan Tuhan. Kita percaya bahwa penyertaan Tuhan kita alami dalam kehidupan kita yang nyata. Mengapa? Karena Tuhan hadir dalam perjalanan hidup kita. Tuhan hadir dalam pengalaman hidup kita sehari-hari.

Karena itu, orang beriman mesti berani mencari Tuhan dalam hidup sehari-hari. Orang beriman mesti berusaha menemukan Tuhan dalam kehidupannya yang nyata. Lantas kalau sudah berjumpa dengan Tuhan, orang mesti berani bertanya tentang kehendak Tuhan bagi dirinya. Hanya dengan cara ini, orang mampu berjalan bersama Tuhan. Orang mampu mengenal kehendak Tuhan bagi hidupnya. Dengan demikian, orang menemukan sukacita dan damai dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


805

Selalu Punya Pintu Maaf di Hati



Seorang gadis merasa kecewa luar biasa terhadap pacarnya. Pasalnya, ia merasa sudah banyak berkorban untuk pacarnya itu. Tetapi pacarnya itu serta merta meninggalkan dirinya. Tanpa alasan yang jelas. Bahkan pacarnya itu sudah punya pacar baru. Hati gadis itu pedih serasa diiris sembilu.

Gadis itu mengaku bahwa ia sulit melupakan peristiwa pedih itu. Akibatnya, ia merasa sulit untuk mengampuni mantan pacarnya itu. ”Tidak ada pintu maaf di hati saya baginya. Saya merasa sakit. Saya tidak bisa menerima perlakuannya. Saya sadar, saya bukanlah yang tercantik, tetapi saya juga punya hak untuk tidak diperlakukan seperti ini,” kata gadis itu.

Sejak itu, gadis itu tidak percaya terhadap setiap lelaki. Ia menolak semua pemuda yang berusaha mendekatinya. Ia tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Ia menutup pintu hatinya rapat-rapat bagi setiap cinta dari kaum lelaki. Ia memutuskan untuk hidup sebatang kara. Ia tidak mau hidup bersama seorang lelaki pun untuk membangun sebuah keluarga. Baginya, hidup menyendiri lebih bermakna.

Sayang, gadis itu tetap merasa sulit untuk mengampuni. Pintu pengampunan sudah tidak ada bagi mantan pacarnya itu. Ia hidup dalam situasi penuh curiga. Mengapa hal itu terjadi? Karena ia tidak ingin disakiti. Ia tidak ingin dikecewakan lagi. Baginya, satu kali kecewa itu sudah cukup. Gadis itu akhirnya mengakhiri hidupnya dalam kesendirian dan kekecewaan yang mendalam.

Sahabat, orang yang hidup tanpa cinta kasih itu sebenarnya orang yang telah mati. Ia tidak digerakkan oleh dorongan cinta kasih yang menjadi dasar hidup seorang manusia. Orang seperti ini lebih mementingkan dirinya sendiri. Orang seperti ini tumbuh dalam egosime yang sangat kuat.

Padahal cinta kasih yang normal itu membawa rasa sakit dalam hidup. Cinta kasih yang tulus itu membiarkan dirinya merasa kecewa, karena korbannya dianggap sepele. Cinta kasih yang sesungguhnya itu dibangun di atas butir-butir keringat dan airmata. Ada rasa sakit. Ada korban. Namun orang tidak berhenti pada rasa sakit dan korban.

Orang mesti bangkit dari rasa sakit itu. Orang mesti berani meninggalkan rasa sakit dan kecewa. Caranya adalah dengan berani melupakan perlakuan dari mereka yang menyebabkan hati tersayat-sayat. Caranya adalah dengan mengampuni mereka yang telah menusuk hati kita dengan kata-kata yang tidak mengenakkan.

Orang beriman itu selalu punya pintu pengampunan bagi sesamanya yang melakukan dosa dan kesalahan terhadap dirinya. Hanya dengan pengampunan itu, orang dapat lepas dari rasa sakit hati. Hanya dengan memberikan maaf yang tulus orang dapat mengobati luka batinnya.

Membiarkan diri terus-menerus didera oleh kekecewaan adalah suatu tindakan kurang bijak. Mengapa? Karena yang mengalami rasa sakit itu adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Yang mengalami luka batin itu adalah diri sendiri. Karena itu, dalam ketegaran hati orang mesti memiliki hati yang mudah tersentuh untuk mengampuni sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


804

11 Oktober 2011

Membangun Persaudaraan yang Kuat

Sejarah itu tercipta di menit ke-116, ketika tendangan kaki kanan Andres Iniesta menggetarkan jalan gawang Belanda yang dikawal Maarten Stekelenburg. Spanyol pun menjadi juara dunia untuk pertama kali. Para pemain Spanyol menumpahkan kegembiraan itu dengan berbagai cara. Kiper Spanyol, Iker Casillas, menangis sesenggukan begitu wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir.

Yang menarik adalah kemenangan Spanyol tersebut menjadi suatu peristiwa menyatunya dua kubu yang selama ini berseteru. Sebagian besar pemain inti Spanyol terdiri dari para pemain Barcelona yang dikenal dengan Catalan yang tidak pro-pemerintah. Bertahun-tahun lamanya tim-tim Catalan berseteru dengan tim-tim Madrid yang pro-pemerintah. Bahkan selama ini tim-tim dari Catalan enggan mengenakan seragam tim nasional dan membawa bendera kenegaraan Spanyol.

Namun peraihan gelar juara dunia sepakbola menjadi saat yang menyatukan kedua pihak yang saling bertikai selama ini. Marcelino Sanchez yang merayakan kemenangan bersama warga Kota Barcelona berkata, “Anda kini akan melihat orang-orang keluar di jalan dengan seragam 'La Roja' atau dengan bendera Spanyol yang biasanya dianggap tabu di sini.”

Sahabat, olahraga ternyata mampu menyatukan perselisihan yang telah terjadi bertahun-tahun. Olahraga yang membawa kegembiraan besar bagi suatu bangsa itu mampu menghilangkan permusuhan di antara anak-anak bangsa negeri itu. Yang mereka alami hanyalah sukacita, karena tim kesebelasannya mampu meraih juara dunia. Suatu impian yang puluh tahun dirindukan kini terwujud.

Sebuah kemenangan mampu membangkitkan semangat untuk bersatu. Nasionalisme yang terpecah belah itu dapat disatukan kembali berkat raihan sebuah trophy bernama Piala Dunia. Sepakbola bukan hanya sebuah olahraga. Sepakbola menjadi sebuah sarana untuk membangun persaudaraan.

Karena itu, yang diharapkan adalah persaudaraan yang dicapai itu tidak hanya berlangsung sesaat. Persaudaraan itu mesti terus-menerus hadir dalam kehidupan bersama. Untuk itu, orang mesti membangun sikap sportif seperti para pemain sepakbola yang sedang berlaga di atas lapangan hijau. Meski terjadi pelanggaran dari lawan main, tetapi selalu ada pengampunan. Meski pemain yang dilanggar itu mesti tertatih-tatih, karena mengalami cedera, ia tetap memberikan kata maaf bagi yang melanggarnya.

Orang beriman juga mesti memupuk sportivitas dalam kehidupan bersama. Orang yang mau menang sendiri biasanya akan menciptakan suasana yang kurang enak dalam hidup bersama. Sesamanya akan mengalami suasana tertekan dan takut. Akibatnya, kehidupan bersama menjadi kurang harmonis. Persaudaraan yang didambakan akan berakhir dengan suatu situasi yang tidak menyenangkan.

Untuk itu, membangun sportivitas yang mendukung persaudaraan merupakan panggilan kita semua. Dengan memiliki persaudaraan, kita dapat membangun hidup kita menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Mari kita terus-menerus membangun persaudaraan dalam hidup kita bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



803