Pages

14 Maret 2014

Andalkan Rahmat Tuhan untuk Memurnikan Hati


Hati setiap orang mesti dimurnikan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan yang penuh tantangan di dunia ini. Namun sering manusia tergoda untuk mengandalkan dirinya sendiri.

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika Serikat, tahun 1994, saya terkejut menyaksikan orang-orang minum air langsung dari keran. Mereka menyebut sumber air yang ada di tempat-tempat umum itu fountain. Tinggal tekan tombol, air akan muncrat ke atas. Orang tinggal menadahnya dengan mulut. Dahaga pun lenyap.

Di rumah-rumah pun demikian. Orang tinggal membuka keran lalu menadahnya dengan gelas dan meminumnya. Orang tidak perlu takut akan menderita sakit perut. Mengapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bisa terjadi, karena air sudah disterilkan dengan teknologi filterisasi.

Teknologi filterisasi ini membuat air murni dan aman diminum tanpa harus direbus terlebih dahulu. Dengan teknologi ini, air terbebas dari kandungan-kandungan, baik bakteri maupun ion-ion atau logam-logam yang ada dalam air. Teknologi filterisasi ini bahkan bisa mengubah air laut menjadi air minum yang bersih. Secara sepintas, air yang ada bisa jadi terlihat segar dan bersih, berwarna biru cerah. Tetapi kita mesti tetap memastikan bahwa air itu murni, sehingga aman diminum.

Sahabat, hidup rohani manusia mesti selalu mengalami pembersihan. Kita membersihkan hidup kita dari berbagai kotoran, akibat dari dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Sadar atau tidak, dosa dan kejahatan senantiasa mengancam hidup rohani kita. Kita telah berjuang untuk menghindari dosa dan kejahatan itu. Namun tetap saja kelemahan daging kita, membuat kita jatuh ke dalam dosa dan kejahatan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hidup rohani kita juga mesti murni. Kita mesti murni seperti air yang bisa langsung diminum dari keran. Memang, tidak mudah. Kita punya kecenderungan untuk melakukan dosa dan kesalahan. Santo Paulus mengatakan bahwa roh memang kuat, tetapi daging kita lemah.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah kita mesti menimba kekuatan dari Tuhan. Kita mohon kekuatan rahmat, agar kita menjadi kuat dalam perjalanan mengarungi hidup ini. Orang yang kuat itu orang yang selalu mengandalkan rahmat Tuhan. Orang yang murni hatinya itu orang yang senantiasa mengharapkan bantuan dari Tuhan untuk memurnikan hatinya.

Soalnya adalah manusia ingin berjuang sendiri. Manusia merasa dirinya mampu memurnikan hati dan hidupnya. Karena itu, manusia menolak bantuan dari rahmat Tuhan. Manusia tidak mau peduli terhadap kebaikan dan belas kasih Tuhan. Akibatnya, manusia mudah jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Manusia terjerembab ke dalam bahaya kematian jiwanya.

Mari kita mengandalkan rahmat dan belas kasih Tuhan. Dengan demikian, hidup kita dimurnikan oleh rahmat Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang kuat berkat kerahiman Tuhan atas diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1074

13 Maret 2014

Bersama Tuhan, Mampu Mengatasi Persoalan Hidup



Mampukah Anda berjuang sendirian dalam mengatasi persoalan-persoalan Anda? Mungkin Anda mampu. Namun kemampuan Anda itu semu, karena Tuhan senantiasa menolong Anda dalam menghadapi persoalan-persoalan Anda.

Suatu malam yang dingin, seorang bapak bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat sebuah gelas besar yang diisi dengan gelas lebih kecil. Sebuah kelereng diletakkan di dalam gelas yang kecil berisi air, lalu ditutup rapat. Gelas besar lalu diisi dengan air hingga hampir penuh.

Lantas ada tangan yang mulai mengaduk-aduk gelas besar itu. Air mulai bergolak. Ada sebagian air yang tumpah. Semakin kuat adukannya, semakin besar pula air bergolak dan semakin banyak pula air yang tumpah ke luar. Tetapi gelas kecil dengan kelereng di dalamnya terlihat tetap tenang seperti tidak mengalami apa-apa. Tidak ada yang tumpah, meski di luar air tengah tergoncang ke sana ke mari.

Bapak itu kemudian terbangun. Ia bingung mengartikan mimpinya. Setelah beberapa saat, ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia berdoa memohon ketenangan batin. Ia berkata, “Tuhan, semoga ini hanya sebuah mimpi. Semoga tidak terjadi apa-apa dalam hidup saya hari ini. Terima kasih, Tuhan, atas pernyertaanMu selama malam yang telah lewat.”

Sahabat, sering manusia ikut tergoncang oleh kegoncangan yang terjadi di sekitarnya. Mengapa? Karena manusia mudah diombang-ambingkan. Manusia mudah mengalami kecemasan dalam hidupnya oleh situasi di sekitarnya. Akibatnya, manusia sering mengalami duka nestapa dalam hidupnya.

Mimpi di atas mau mengatakan kepada kita bahwa meski terjadi banyak kegoncangan dalam hidup ini, kita mesti tetap bertahan. Ada berbagai persoalan yang kita hadapi, tetapi kalau kita hadapi dengan tenang, kita akan menemukan jalan keluar. Tuhan pasti membantu kita dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Kita mesti menyadari bahwa hidup ini tidak selamanya berjalan dengan mulus. Ada saat orang berada di puncak kejayaannya. Tetapi ada juga saat orang terpuruk dalam kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, orang mesti tetap bertahan. Orang tidak perlu menyombongkan diri di kala sukses menyertai kehidupannya. Orang pun tidak perlu merasa ditinggalkan oleh Tuhan saat dirinya berada dalam keterpurukan.

Orang beriman itu orang yang selalu percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Orang yang senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Memang, tidak mudah orang mau menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Mengapa? Karena manusia memiliki egoisme dan gengsi. Dua hal ini mengatakan bahwa manusia bisa berjuang sendiri, tanpa pertolongan dari Tuhan. Manusia mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapinya.

Tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Memang, manusia mampu melakukan apa saja untuk dirinya sendiri. Tetapi kemampuan itu hanya semu, karena Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Kekuatan Tuhan yang menuntun manusia menuju kesuksesan dalam hidupnya.

Mari kita tetap setia kepada Tuhan dengan menerima pertolongan dari Tuhan. Kita juga mensyukuri kebaikanNya, karena Tuhan senantiasa berjalan bersama kita dalam kehidupan ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1073

Andalkan Rahmat Tuhan untuk Memurnikan Hati

Hati setiap orang mesti dimurnikan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan yang penuh tantangan di dunia ini. Namun sering manusia tergoda untuk mengandalkan dirinya sendiri.

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika Serikat, tahun 1994, saya terkejut menyaksikan orang-orang minum air langsung dari keran. Mereka menyebut sumber air yang ada di tempat-tempat umum itu fountain. Tinggal tekan tombol, air akan muncrat ke atas. Orang tinggal menadahnya dengan mulut. Dahaga pun lenyap.

Di rumah-rumah pun demikian. Orang tinggal membuka keran lalu menadahnya dengan gelas dan meminumnya. Orang tidak perlu takut akan menderita sakit perut. Mengapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bisa terjadi, karena air sudah disterilkan dengan teknologi filterisasi.

Teknologi filterisasi ini membuat air murni dan aman diminum tanpa harus direbus terlebih dahulu. Dengan teknologi ini, air terbebas dari kandungan-kandungan, baik bakteri maupun ion-ion atau logam-logam yang ada dalam air. Teknologi filterisasi ini bahkan bisa mengubah air laut menjadi air minum yang bersih. Secara sepintas, air yang ada bisa jadi terlihat segar dan bersih, berwarna biru cerah. Tetapi kita mesti tetap memastikan bahwa air itu murni, sehingga aman diminum.

Sahabat, hidup rohani manusia mesti selalu mengalami pembersihan. Kita membersihkan hidup kita dari berbagai kotoran, akibat dari dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Sadar atau tidak, dosa dan kejahatan senantiasa mengancam hidup rohani kita. Kita telah berjuang untuk menghindari dosa dan kejahatan itu. Namun tetap saja kelemahan daging kita, membuat kita jatuh ke dalam dosa dan kejahatan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hidup rohani kita juga mesti murni. Kita mesti murni seperti air yang bisa langsung diminum dari keran. Memang, tidak mudah. Kita punya kecenderungan untuk melakukan dosa dan kesalahan. Santo Paulus mengatakan bahwa roh memang kuat, tetapi daging kita lemah.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah kita mesti menimba kekuatan dari Tuhan. Kita mohon kekuatan rahmat, agar kita menjadi kuat dalam perjalanan mengarungi hidup ini. Orang yang kuat itu orang yang selalu mengandalkan rahmat Tuhan. Orang yang murni hatinya itu orang yang senantiasa mengharapkan bantuan dari Tuhan untuk memurnikan hatinya.

Soalnya adalah manusia ingin berjuang sendiri. Manusia merasa dirinya mampu memurnikan hati dan hidupnya. Karena itu, manusia menolak bantuan dari rahmat Tuhan. Manusia tidak mau peduli terhadap kebaikan dan belas kasih Tuhan. Akibatnya, manusia mudah jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Manusia terjerembab ke dalam bahaya kematian jiwanya.

Mari kita mengandalkan rahmat dan belas kasih Tuhan. Dengan demikian, hidup kita dimurnikan oleh rahmat Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang kuat berkat kerahiman Tuhan atas diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1074

12 Maret 2014

Menghadapi Hidup dengan Penuh Iman



Apa yang terjadi ketika Anda menghadapi hidup ini dengan penuh kecemasan? Saya yakin, ada banyak hal negatif yang akan terjadi dalam hidup Anda.

Pada suatu kali seorang pengusaha merasa takut melihat kondisi perekonomian negeri ini. Ia menilai, perekonomian negeri ini semakin lama semakin buruk. Pemerintah selalu mengumandangkan tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi makro, tetapi faktanya di lapangan daya beli semakin menurun.

Ia berkata, “Harga-harga melambung tinggi. Uang yang masuk tetap sama, jika tidak malah berkurang. Harga daging sempat dikatakan tertinggi di dunia, lantas bandingkanlah pendapatan per kapita kita dengan negara-negara lain. Ini bisa menimbulkan kekuatiran bagi banyak orang, terutama kalangan menengah ke bawah yang akan terkena dampak terbesar dari situasi ini.”

Rasa kuatir terus-menerus timbul dalam hatinya. Tidak mau terus-terusan merasa cemas, ia pun kemudian berdoa dan kemudian tertidur pulas. Ketika bangun, ia merasa lega. Tetapi kemudian ia mulai merasa cemas lagi, karena persoalan perekonomian nasional tidak juga membaik. Bahkan akhir-akhir ini nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat anjlok. Pengimpor tidak berdaya lagi untuk mengimpor kedelai yang menjadi bahan baku bagi tempe dan tahu.

Sahabat, sepertinya manusia mesti selalu berjudi atas kehidupan ini. Manusia mesti berusaha untuk hidup baik dengan ekonomi yang memadai. Tetapi skala besar perekomonian negeri ini juga berpengaruh terhadap kehidupan pribadi manusia secara ekonomis. Daya beli semakin menurun, karena harga barang-barang kebutuhan hidup semakin tinggi. Pertanyaannya, bagaimana manusia bias hidup sejahtera dengan kondisi ekonomi yang kian terpuruk?

Yang mesti dilakukan manusia adalah tidak cepat panik terhadap situasi perekonomian nasional yang tidak menentu. Orang mesti dengan hati-hati mencermati perkembangan, sehingga ketika ada peluang positif, orang berani membenahi diri. Dengan demikian, orang tidak perlu cemas berkepanjangan.

Kisah pengusaha yang cemas di atas memberi kita peringatan bahwa orang mesti berani menghadapi kehidupan ini. Ada berbagai resiko yang mesti ditanggung, namun orang mesti tetap tenang. Ketenangan akan membantu orang untuk terus-menerus memperbaiki kondisi kehidupannya. Tentu saja orang mesti menjalani kehidupan ini dengan penuh iman kepada Tuhan.

Orang beriman selalu tidak melupakan Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Mengapa? Karena hidup ini adalah milik Tuhan. Tuhan yang empunya kehidupan ini. Karena itu, berserah diri kepada Tuhan berarti orang berani menghadapi resiko-resiko kehidupan ini. Orang berani mempercayakan hidupnya kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

Memang, tidak gampang orang mau berserah diri kepada Tuhan. Banyak orang merasa gengsi. Banyak orang merasa bahwa dirinya mampu menghadapi berbagai gejolak kehidupan ini. Akibatnya, mereka dengan gagah perkasa mengandalkan kemampuan diri mereka.

Mari kita menyiapkan diri kita untuk menerima rahmat demi rahmat dari Tuhan, karena kita manusia lemah dan tak berdaya. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk menciptakan kebahagiaan dan kedamaian bersama Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1072

11 Maret 2014

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban



Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Mereka memilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyak orang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemani istrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istri mengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuh kesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suami berkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknya membosankan.

Sambil menatap suaminya dengan senyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasil tidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sang suami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat dan bagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kue itu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati ini menggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enak untuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalani proses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyita perhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korban membuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntut kesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orang yang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indah dan nikmat.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah ada jari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban, bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepung akan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kue yang manis.

Ketika ada tangan yang mau bergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatu kebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orang yang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1071

10 Maret 2014

Membangun Hati yang Mudah Tergerak

Sering manusia menutup mata dan hatinya ketika menyaksikan sesamanya sedang menderita. Tentu saja hal ini menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan. Orang beriman semestinya memiliki hati yang mudah tergerak oleh penderitaan sesamanya.

Ada seorang tentara bernama Martinus yang hidup di Prancis pada abad keempat. Dalam suatu perjalanan militernya, ia berjumpa dengan seorang pengemis yang hampir mati kedinginan. Waktu itu, musim dingin sedang mendera bumi Prancis.

Melihat kondisi pengemis itu, Martinus jatuh kasihan. Ia turun dari kudanya. Sambil menatap pengemis itu, ia melepaskan mantolnya yang panjang yang membungkus tubuhnya. Lantas ia mengambil pedangnya. Beberapa saat kemudian ia memotong mantolnya itu. Lalu ia menyerahkan mantol itu kepada pengemis itu. Tidak lupa, ia juga memberikan sejumlah roti untuk pengemis itu. Hari itu, pengemis itu mengalami sukacita yang berlimpah-limpah.

Martinus meneruskan perjalanan kemiliterannya. Namun tidak lama kmudian, ia melepaskan baju kemiliterannya. Ia tersentuh oleh kondisi pengemis itu. Ia memberikan hidupnya untuk melayani sesama yang menderita. Ia mendorong sesamanya untuk mau peduli terhadap sesama yang menderita.

Sahabat, di dunia kita sekarang ini ada begitu banyak orang yang mengaku beriman kuat kepada Tuhan. Mereka beribadat dengan tekun. Mereka membaca Kitab Suci setiap hari. Tetapi sering pula kita jumpai dari orang-orang seperti itu suatu sikap egoisme yang tinggi. Kepedulian terhadap sesama yang menderita begitu kurang.

Ada suatu pemisahan antara ibadat yang khusyuk dan praktek hidup sehari-hari. Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan. Mereka menginginkan uluran tangan dari sesamanya demi kelanjutan hidup mereka. Namun harapan mereka seolah sia-sia belaka. Hati mereka menjerit. Namun tidak ada yang mendengarkan jeritan mereka.

Kisah Martinus memberi suatu inspirasi bagi kita untuk memiliki suatu sikap iman yang benar kepada Tuhan. Martinus tidak perlu banyak bicara untuk membantu sesamanya yang sedang menderita. Ia tidak perlu membaca Kitab Suci dulu baru memberikan setengah dari mantolnya untuk pengemis yang kedinginan.

Hatinya terbuka untuk sesama yang menderita. Hatinya begitu mudah tersentuh oleh duka nestapa sesamanya. Hasilnya, sesamanya yang menderita itu mengalami sukacita. Ia menemukan kebahagiaan. Inilah suatu bentuk penghayatan iman yang benar. Tidak ada pemisahan antara ibadat yang khusyuk dengan praktik hidup.

Sebagai orang beriman, kita semua dipanggil untuk menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Iman yang sering merupakan pengetahuan saja mesti menjadi nyata dalam hidup sehari-hari.

Untuk itu, kita mesti memiliki kepekaan hati. Kita mesti memiliki hati yang terbuka kepada sesama yang ada di sekitar kita. Ada begitu banyak orang yang butuh uluran tangan kita. Janganlah kita menggenggam erat tangan kita. Tetapi mari kita buka tangan dan hati kita lebar-lebar untuk sesama yang kita jumpai. Kalau ini yang kita buat, akan ada begitu banyak orang yang mengalami kebahagiaan dalam hidup. Ada sukacita berlimpah dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1071

09 Maret 2014

Belajar tentang Makna Kehidupan


Apa yang Anda kuatirkan tentang hidup ini? Banyak orang kuatir akan persediaan bahan-bahan untuk makan dan minum. Ada yang kuatir tidak punya barang-barang mewah untuk menunjang hidupnya.

“Kami tidak terlalu kuatir, jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih kuatir, jika mereka tidak pandai mengantri,” kata seorang guru di Australia.

Sewaktu ditanya mengapa dan bisa begitu, ia mengatakan bahwa kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan secara intensif untuk bisa Matematika. Sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri. Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik proses mengantri.

“Tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu Matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Sebagian dari mereka ada yang jadi penari, atlet olimpiade, penyanyi, musisi, pelukis, politikus. Biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan ‘Etika Moral dan Pelajaran Berharga’ dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak,” katanya.

Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik mengantri. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama, jika ia di antrian paling belakang.

“Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri,” tandasnya.

Di Jepang, biasanya orang akan membaca buku saat mengantri. Saat mengantri, anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat, mereka harus terima konsekuensinya di antrian.

Sahabat, berapa dari Anda yang mau peduli terhadap orang lain saat berada di antrian? Mungkin bisa dihitung dengan jari-jari tangan kita. Begitu banyak orang tidak ingin antri. Orang ingin berada di garis depan dalam suatu antrian. Karena itu, mereka mudah menyerobot. Tidak peduli terhadap keberadaan orang lain. Orang merasa diri jauh lebih penting daripada sesamanya. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang memiliki egoisme yang begitu besar.

Orang merasa dirinya yang paling penting. Orang tidak berani berhadapan dengan konsekuensi. Mokhtar Lubis, dalam bukunya Manusia Indonesia, mengatakan bahwa salah satu ciri orang Indonesia itu orang yang tidak bertanggungjawab. Orang yang tidak berani berhadapan dengan tanggung jawab. Selalu mengatakan ‘tidak’ atau ‘bukan saya’, ketika dimintai tanggungjawab atas kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah belajar mengantri di tempat-tempat umum. Orang yang dengan sukarela mengantri itu orang yang memiliki rasa sabar yang tinggi. Orang seperti ini tidak pernah cemas akan kehidupannya. Mengapa? Karena ia sudah tahu akan konsekuensi yang dihadapinya, kalau ia tidak disiplin waktu. Akan ada kreativitas saat mengantri. Bisa saja menyapa orang-orang yang berada di depan, belakang atau samping kiri kanannya. Keramahannya memberikan kesempatan baginya untuk memiliki teman dan sahabat baru.

Sayang, di negeri ini tidak ada pendidikan untuk mengantri. Otak anak-anak Indonesia lebih dijejali oleh angka-angka matematis. Bukan nilai-nilai moral dan kehidupan yang sebenarnya lebih mereka butuhkan untuk perjalanan hidup mereka.

Untuk itu, dibutuhkan suatu kesadaran baru tentang makna kehidupan. Yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan hal-hal material. Tetapi juga hal-hal moral dan spiritual yang justru membantu orang untuk maju dalam kehidupannya. Mari kita belajar untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih harmonis. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1070

08 Maret 2014

Belajar dari Kehidupan Sehari-hari


Belajar dari kehidupan sehari-hari mulai ditinggalkan oleh anak-anak zaman kini. Mereka lebih memilih sesuatu yang jauh dari diri mereka untuk belajar kehidupan. Padahal sesuatu yang dekat itulah sesuatu yang nyata.

Seorang anak selalu protes terhadap orangtuanya, ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu. Setiap hari ia mesti menyelesaikan satu pekerjaan. Setiap anggota keluarga mempunyai tugas masing-masing. Sang Ibu bukan hanya memerintah anak-anaknya. Namun nasihatnya bak air terjun yang tidak pernah habis mengalir. Selalu saja muncul dari mulutnya kata-kata nasihat.

Suatu hari anak itu berkata, “Aku protes, mengapa setiap hari kami harus bekerja. Mengapa ibu selalu ngomel, memberi nasihat tanpa henti?”

Namun orangtuanya sudah punya alasan yang tepat untuk anaknya. Sang bapak berkata, “Kami minta kamu semua bekerja, bukan berarti kami tidak mencintai kalian. Kami sangat menyayangi kamu semua. Kami hanya ingin melatih kamu, supaya dapat bekerja.”

Rupanya kemandirian dalam hidup menjadi hal utama yang mau ditanamkan dalam diri anak-anak. Dengan demikian, mereka dapat bekerja dan dapat memiliki masa depan yang cerah.

Suatu hari Sang Ibu berkata, “Semua itu kami lakukan karena cinta kepada anak-anak. Kami akan mewariskan hidup, iman dan cinta kepada anak-anak. Kami ingin hidup, cinta dan iman ini terus-menerus hidup. Anak-anak yang meneruskan usaha, perjuangan dan hidup kami.”

Sahabat, inilah suatu kesempatan yang sangat indah bagi anak-anak untuk belajar mengenai kehidupan. Orangtua menjadi contoh dan teladan bagi hidup anak-anak. Mereka dapat berbicara dari hati ke hati dan dapat saling menerima. Mereka dapat saling memahami.

Situasi seperti ini tentu saja sungguh-sungguh menyenangkan. Ada suasana saling berbagi kasih. Ada situasi orang saling belajar tentang makna kehidupan. Ternyata hidup itu tidak dijalani begitu saja. Hidup itu mesti diarahkan. Hidup itu mesti memiliki tujuan yang jelas.

Orangtua memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Ada pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Artinya, orangtua yang mengajarkan sesuatu yang baik melalui cara hidupnya yang baik akan berbuah kebaikan pula. Hal itu tampak dalam perilaku anak-anaknya.

Soalnya, di zaman sekarang banyak anak yang kurang mendapatkan contoh dan teladan yang baik dari orangtuanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnis mereka. Peran mereka sebagai orangtua sudah digantikan oleh baby sitter atau pengasuh. Mereka tinggal menerima beres saja.

Benarkah hal ini? Semestinya orangtua mengambil peran yang lebih banyak dalam mendidik anak-anak mereka. Orangtua mesti lebih banyak berada bersama anak-anak mereka. Orangtualah yang semestinya mewariskan nilai-nilai hidup kepada anak-anak mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1069

07 Maret 2014

Membekali Diri dengan Iman



Iman merupakan kekuatan yang besar untuk menghadapi pergulatan hidup di zaman modern ini. Karena itu, orang beriman mesti berani menumbuhkan imannya.

Suatu hari seorang pemudi tampak bingung. Ia sudah banyak berdoa dan memuji Tuhan, tetapi hidupnya tetap biasa-biasa saja. Tidak ada perubahan yang besar terjadi dalam hidupnya. Begitu banyak persoalan yang ia hadapi. Ia ingin agar persoalan-persoalan itu cepat berlalu. Tetapi mengapa ia masih saja bergulat dengan persoalan-persoalan? Bukankah Tuhan itu mahabaik dan mahapenyayang?

Pemudi itu terus-menerus bergulat dengan persoalan-persoalan yang silih berganti mendatanginya. Ia merasa ketahanan imannya ditantang. Tetapi ia tidak pernah menyerah. Ia tetap berdoa kepada Tuhan. Ia menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Tuhan. Ia yakin, Tuhan akan menolongnya.

Karena itu, meski persoalan-persoalan silih berganti menghadangnya, ia tetap bertahan di dalam imannya akan Tuhan. Ia membekali dirinya dengan hidup yang baik di hadapan Tuhan. Ia berusaha melakukan hal-hal yang baik dan berkenan kepada Tuhan.

Sahabat, kita hidup di dalam dunia. Menjadi orang beriman tidak berarti kita dijauhkan dari persoalan-persoalan hidup. Bahkan orang mengatakan bahwa semakin beriman kepada Tuhan, orang semakin banyak mengalami tantangan hidup. Hidup itu tidak menjadi semakin mudah. Tetapi orang sering bergulat dengan imannya dalam dunia yang nyata.

Untuk itu, iman yang teguh kepada Tuhan menjadi dasar atau landasan bagi hidup di zaman modern ini. Yang penting adalah orang mau terus-menerus terbuka kepada Tuhan dan sesama. Keterbukaan hati kepada Tuhan dan sesama itu membantu orang untuk senantiasa bertahan dalam imannya.

Orang yang beriman itu orang yang mampu bertahan dalam berbagai persoalan yang dihadapinya. Mengapa? Karena orang seperti ini selalu menaruh pengharapan kepada Tuhan. Orang seperti ini tidak gampang hilang akal, ketika ada persoalan yang menghadang hari-hari hidupnya. Bahkan ia akan mencari jalan-jalan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Tentu saja dengan bantuan Tuhan yang ia yakini senantiasa menyertainya.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin agar iman kita semakin menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Karena itu, kita mesti tetap menaruh pengharapan pada Tuhan. Kita berharap, Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang itu senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri di dunia ini. Tuhan selalu bekerja bersama kita.

Untuk itu, pengaharapan itu juga mesti disertai dengan sikap pasrah setia kepada Tuhan. Orang yang takwa itu orang yang selalu kreatif dalam hidup ini. Orang yang tidak kehilangan akal saat berhadapan dengan berbagai persoalan hidup. Mari kita senantiasa menaruh pengaharapan kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1068

06 Maret 2014

Melepaskan Diri dari Sekat-sekat


Melepaskan diri dari kungkungan keterbatasan mengandaikan orang berani membarui dirinya. Sayang, banyak orang tetap tinggal dalam kungkungan keterbatasan itu.

Suatu hari seekor merpati lepas dari sangkarnya. Sejak kecil ia hidup di dalam sangkar. Bahkan ia dilahirkan di dalam sangkar itu. Ia terbang dan terbang. Namun tidak bisa terbang lebih tinggi dan jauh daripada merpati-merpati lain yang berada di alam bebas. Ia merasa penasaran melihat teman-temannya terbang begitu tinggi dan jauh. Ia ingin sekali terbang tinggi seperti mereka. Namun ia tidak bisa lakukan itu.

Lantas ketika bertemu dengan salah satu temannya, ia bertanya, ”Mengapa kamu bisa terbang tinggi dan jauh? Mengapa saya tidak punya kekuatan seperti kalian?”

Temannya itu balik bertanya kepadanya, ”Di mana tempat kamu tinggal selama ini? Dari mana kamu belajar terbang?”

Merpati putih itu terkejut mendengar pertanyaan temannya itu. Ia mengira, semua merpati pasti bisa terbang tinggi dan jauh. Saat itu juga ia mulai menyadari kenyataan dirinya. Sangkar yang selama ini menjadi tempat tinggalnya yang nyaman itu telah membentengi dirinya. Ia tidak bisa terbang lebih tinggi dan jauh. Sangkar itu telah memberi dia pelajaran untuk terbang sebatas sangkar itu.

Sahabat, sering manusia juga mengalami hal yang sama dengan merpati yang berada di dalam sangkar itu. Pikiran manusia sering terbelenggu oleh lingkungan di mana ia hidup. Lingkungan yang memiliki keterbatasan akan menjadikan manusia memiliki keterbatasan pula dalam hidup ini. Karena itu, manusia mesti berusaha untuk keluar dari lingkungan yang terbatas itu.

Soalnya, banyak orang membiarkan dirinya dibatasi oleh sekat-sekat. Mereka membiarkan diri mereka terbelenggu oleh keterbatasan-keterbatasan diri itu. Mereka berusaha untuk menikmatinya. Padahal ketika mereka berlangkah melewati batas-batas itu, mereka akan menemukan berbagai hal yang lebih hebat lagi.

Karena itu, orang mesti memilah-milah mana hal-hal yang membelenggu dirinya dan mana yang tidak. Hal-hal yang membelenggu diri itu mesti diperangi, agar manusia dapat menemukan sesuatu yang lebih luas. Orang tidak boleh membiarkan dirinya terbelenggu oleh sekat-sekat yang menghancurkan dirinya.

Untuk itu, orang mesti berani membarui diri secara terus-menerus. Caranya adalah dengan meninggalkan belenggu-belenggu itu dan menerima hal-hal baru yang mampu mengubah sikap hidupnya. Sikap hidup yang kurang baik mesti diganti dengan sikap hidup yang menguntungkan bagi diri dan sesama.

Orang beriman itu orang yang berani membarui dirinya. Orang yang mampu menilai secara kritis hal-hal yang membelenggu dirinya. Orang yang mau memajukan hidup dirinya dan sesamanya. Mari kita berusaha untuk membarui diri kita, agar kita tidak terkungkung oleh keterbatasan-keterbatasan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1067