Pages

25 Maret 2015

Petrus menyangkal Yesus

"Bukankah engkau juga seorang muridnya? Ia menyangkalnya, katanya, "Bukan!" (Yoh.18:25-26).

Penyangkalan Petrus terhadap Yesus merupakan suatu realisasi definitif atas peringatan Yesus dalam perjamuan malam terakhir. Ketika itu, antusiasme Petrus yang besar yang mau memberikan nyawanya bagi Yesus disepelekan oleh Yesus.
  
"Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu: sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Petrus masih tidak percaya akan kata-kata Yesus itu. Ia tetap yakin bahwa ia akan tetap mengakui Yesus dalam situasi apa pun dalam hidupnya. Karena itu, ia bertindak seolah-olah tidak gentar menghadapi musuh-musuh Yesus di Taman Getsemani. Ia menghunus pedangnya dan memotong telinga Malkhus sebagai tanda pembelaan atas diri Yesus.
   
Aneh memang. Yesus, yang mengertibetul sifat-sifat Petrus yang mudah goyah, mengingatkan kembali Petrus akankata-katanya dalam perjamuan terakhir. "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
   
Saat ayam berkokok itu memang masih lama. Yesus masih harus dibawa ke para penguasa waktu itu. Disanalah Petrus berhadapan dengan suatu kenyataan yang sangat menyakitkan hatinya: ia menyangkal Sang Guru sampai tiga kali. Genap sudah sabda Yesus.
    
Kesadaran Petrus mengenai hal itu memang datang. Tetapi sudah terlambat. Kembali sifat Petrus yang mudah goyah justru menjerumuskan dia ke dalam suatu situasi yang sangat menyedihkan. Di saat-saat Yesus membutuhkan dukungan pembelaan, justru orang yang paling dekat dengan-Nya memberikan kesaksian palsu alias menyangkal-Nya.
  
Semestinya Petrus menghunuskan lagi pedangnya. Atau paling tidak ia mengaku dengan jujur bahwa dia pernah mengenal Yesus. Padahal dalam wejangan perjamuan malam terakhir, Yesus sungguh-sungguh menekankan aspek iman akan Bapa dan diri-Nya.

 Mengimani Bapa dan Yesus berarti tinggal di dalam Bapa dan Putra.

"Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Petrus semestinya sudah tinggal di dalam Bapa dan Putra, karena ia dipilih secara khusus. Namun kenyataan justru berbicara sebaliknya. Ia belum sungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tangan Yesus. Petrus malah menyangkal Sang Guru kehidupan itu.
   
Petrus semestinya membela Yesus dan ajaran-ajaran yang telah ia terima itu. Namun Petrus justru tak berdaya menghadapi seorang wanita penjaga pintu. Petrus yang ganas di taman, dengan memotong telinga Malkhus, berubah menjadi seorang pengecut justru di saat-saat Yesus sangat membutuhkan dukungan.
   
Malam sebelumnya ketika makan bersama Yesus, Petrus dengan bangga dan penuh kesombongan menyatakan kesanggupannya untuk membela Yesus sampai titik darah penghabisan. Ia mau menunjukkan kepada teman-temannya yang lain betapa cintanya ia kepada Yesus. Tetapi di pagi yang dingin Petrus pun menggigil ketakutan. Santo Lukas melukiskan penyangkalan Petrus ini dengan sangat bagus. Setiap kali dituding sebagai salahseorang dari pengikut Yesus, Petrus selalu menjawab dengan tegas. "Bukan, aku tidak kenal Dia!" Atau "Bukan, aku tidak tahu apa yang kaukatakan!" Sungguh, Petrus seolah-olah hilang ingatan bahwa sudah tiga tahun lamanya ia hidup bersama Yesus. Ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kelompok dua belas rasul itu.
  
Karena itu, ketika ayam berkokok, Petrus pun sadar. Ia menangis begitu melihat wajah Sang Guru yang kepalanya telah dililit mahkota berduri. Darah yang mengalir membasahi wajah Yesus menyentuh sanubari terdalam dari Petrus. Ia menyesal telah berani sombong dihadapan Yesus dan para rasul yang lain. Kini ia kena batunya! Ia tidak berkutik lagi. Jiwanya tersentak begitu mendengar kokok ayam jago yang mengiringi tibanya sang fajar. Hatinya terluka oleh ulahnya menyangkal Sang Guru yang kini berlumuran darah. Sebagai seorang yang menggebu-gebu, Petrus mengakui kesalahannya. Ia tidak mengikuti jejak Yudas Iskariot yang membiarkan tubuhnya dimakan burung-burung pemangsa bangkai. Petrus justru berbalik dari titik penyangkalan ke titik penyerahan yang lebih mendalam kepada Sang Guru yang bermahkotakan duri itu.

Dewasa Ini: Yesus masih Disangkal

Sore itu tiba-tiba saja hujan turun dengan lebat. Terpaksa saya mesti minggirkan motor berteduh di bawah gerbang masuk Dempo yang terletak di salah satu sudut Lapangan Hatta, Palembang. Setelah menyandarkan motor, saya mencari tempat yang aman. Beberapas aat kemudian berteduh pula penjual Es Putar. Ia memarkirkan gerobak dorongnyalalu mengikuti saya yang sudah berada di tempat yang kering.
  
"Wah, kalau hujan begini es putarnya kurang laku, pak," kata saya.
  
"Idak jugo. Kadang-kadang tidak laku justru pada hari lagi panas," jawab penjual es putar itu sambil menebarkan senyumnya.
  
"Akh, yang benar ... "
  
"Ini sudah resiko orang bedagang. Adokalonyo kito dapat banyak untung. Tetapi ado kalonyo kito idak dapatapo-apo," tuturnya dengan logat Palembang yang kental.
 
Percakapan yang akrab terus berlanjut, sementara bumi semakin deras diguyur hujan senja itu. Obrolan menjadi simpang siur bersama lalu lalang kendaraan-kendaraan roda empat dijalanan.
  
"Apakah Anda termasuk kelompok yang menerima subsidi BBM?" saya bertanya ingin tahu.
  
"Di RT kami ado 21 keluargo temasuk aku. Soalnyo, cumo satu kali aku dapat subsidi BBM sebanyak Rp 30.000. Sudah itu kate (tidak) lagi," katanya dengan jujur.
 
"Kenapa bisa begitu?"
 
"Aku idak tahu. Yang aku tahu, subsidi itu untuk jangka waktu yang lamo. Ngapo disetop?" dia malah balik bertanya.
 
Saya hanya menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.
 
"Ini gara-gara ado dukun sunat. Subsidi BBM itu sudah disunat oleh mereka yang menyalurkan. Dari pemerintah pusat itu tujuannyo baik nian. Tapi yang di bawah ini maunyo makan dhewek. Kito rakyat kecik ini jadi susah," katanya.
 
Saya terkagum-kagum mendengar pernyataannya yang sangat berani itu. Matanya berkaca-kaca seolah ingin meminta keadilan dari saya.
 
"Kito rakyat kecik sering dijual. Wong-wong di atas sering menjual namo kito untuk mencari proyek. Setelah dapat, sesen pun kito idak dapat,” lanjutnya dengan nada gemas.
 
Hasil jualan es putar itu ia hidupi empat orang anak dan seorang istrinya. Ia mengaku lebih suka berusaha sendiri daripada mendapat bantuan modal dari orang lain. Ia juga tidak  dipinjami oleh bank atau pemerintah. Mengapa? Baginya, pinjaman itu hanyaakan menjadi bumerang. Karena itu, ia lebih suka pakai modal sendiri meski hasilnya hanya untuk mempertahankan kepul asap dapurnya.
      
Kisah penjual es putar ini menunjukkan bahwa hingga kini masih ada orang yang disangkal eksistensinya oleh sesama yang memiliki kekuasaan. Kaum kecil sering menjadi korban, persis seperti Yesus yang ditolak kehadiran-Nya dalam masyarakat Yahudi. Yesus disangkal oleh bangsa-Nya sendiri sebagai utusan Allah. Bahkan dalam saat-saat Ia sangat membutuhkan bantuan, sang murid malah menyangkal Dia.
    
Kisah-kisah penyangkalan masih akan tetap ada selama manusia terlalu mementingkan diri sendiri. Ketika manusia berusaha untuk mencari selamat sendiri, di situlah manusia melupakan sesamanya.Karena itu, manusia mesti dihentak dengan ‘kokok ayam’ yang membangunkannya dari tidur panjang egoismenya. Manusia mesti melepaskan kenikmatan semu dan sesaat yang diraih untuk menggapai kesetiaan selama hayat dikandung badan.
     
Arogansi mesti dilepaskan untukmengenakan suatu sikap kerendahan hati seperti Petrus yang berbalik arah membela Yesus di hadapan Mahkamah Agama. “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh,” kata Petrus dan rasul-rasul kepada Imam Besar (Kis. 5:29-30).
    
Jelas, Petrus telah kembali mengakui Yesus setelah menatap wajah Yesus yang berlumuran darah. Ia berbalik kepada Yesus, karena pengalaman akan kasih Allah yang telah ia peroleh selama hidup bersama Yesus.
   
Nah, manusia kini pun dapat kembali kepada Tuhan Yesus, kalau menyadari kehadiran sesama dalam hidup mereka. Yesus hadir dalam diri setiap manusia. Karena itu, menyangkal eksistensi sesama berarti menyangkal kehadiran Yesus. **

Frans de Sales SCJ

23 Maret 2015

Biji Gandum yang Mati

Minggu, 22 Maret 2015
Hari Minggu Prapaskah V

  
Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3-4,12-13,14-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33  
   
"Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh. 12:24).

Peristiwa kematian Yesus yang tragis bukanlah suatu peristiwa yang kebetulan terjadidalam suasana emosional penuh antipati terhadap Yesus. Kematian Yesus telahdiberitakan oleh Sang Guru yang telah mondar-mandir dari Galilea ke Yerusalem memberitakan kehadiran Kerajaan Allah. Bahkan peristiwa itu sudah diramalkan jauh-jauh hari sebelumnya oleh Nabi Yesaya dalam pasal terkenal mengenai Hamba Allah yang Menderita.
     
Ketika Filipus dan Andreas datang menghadap Yesus untuk menyampaikan keinginan orang-orang Yunani untuk bertemu dengan Yesus, Sang Guru cinta kasih itu memberikan jawaban yang lain. Sebuah jawaban yang berkenaan dengan eksistensi dirinya di duniaini. “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan," katanya. Kemuliaan yang diperoleh Yesus berkat relasi istimewa dengan Bapa-Nya.
   
Dalam relasi itu, Yesus menyerahkan diri kepada Bapa secara total dan Bapa-Nya menerimanya secara utuh pula. Relasi itu pula memampukan Yesusmengejawantahkan penyerahan dirinya dalam pola yang sangat manusiawi. Iamengalami kegelapan maut sama seperti manusia lainnya. “Sesungguhnya jikalaubiji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Yesus, sang biji gandum itu, merelakan dirinya membusuk di dalam tanah tempat berpijaknya manusia demi kehidupan bagi banyak orang. Dia gugur di tangan bangsanya sendiri yang ironisnya sedang menantikan kedatangan sang Mesias.

Perjalananpanjang yang dilalui Yesus sejak masa kanak-kanak-Nya yang bahagia di Nazareth seolah-olah sirna ditelan sebuah kesia-siaan. Yesus seolah-olah mengalami jalan buntu di puncak tengkorak nan ngeri. Ia terjerembab tak berdaya menghadapi serbuan tinju dan hempasan pecut dari para algojo.

Penyerahan diri Yesus sampai titik darah terakhir di kayu salib mengisyaratkan terpenuhinya sabda-Nya di atas. Penyerahan itu bukan pertama-tama berdasarkan atas pamrihnya terhadap Bapa, tetapi lebih-lebih sebagai wujud nyata kasih setia-Nya kepada Allah dan manusia. "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?" kata Yesus kepada Petrus yang membabi buta memotong telinga salah seorangserdadu di taman Getsemani (Yoh. 18:11). Suatu pernyataan yang mencerminkan keradikalan Yesus menanggapi kehendak Allah. Meminum cawan yang diberikan Bapaadalah komitmen Yesus yang tidak dapat dihalangi oleh manusia yang takut dan ingin mencari keselamatannya sendiri.
      
Nubuat biji gandum yang mati membawa konsekuensi bagi Yesus untuk menyerahkan diri dalam kesetiaan yang penuh melayani sesama manusia. Yesus masuk dalam solidaritas dengan penderitaan manusia yang tertatih-tatih di bumi fana ini - karena penindasan, pemerkosaan hak-hak hidup, korupsi, manipulasi dan intimidasi dari sesama manusia yang memiliki kuasa - menuju terang yang sejati. Solidaritas yang bersumber dari Bapa itu memampukan Yesus memanggul salib melintasi  tajam-tajam menuju puncak kemenangan yang gilang-gemilang. Dia Tuhan yang mati di salib justru menghidupkan dan memberikan harapan kepada dunia akan suatu damai sejahtera yang langgeng dan yang tak lekang retas oleh karatnya zaman. Manusia boleh menikmati suatu damai dari Allah sendiri yang tetap bertahan hingga akhir zaman.
  
Dewasa ini: Masih Adakah Biji Gandum yang Mau Mati?

Tak dapat disangkal dalam dunia kita dewasa ini banyak orang berupaya mengejar kehidupan yang lebih baik. Berbagai macam usaha, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang halal hingga yang tidak halal, ditumbuhsuburkan. Orang menyadari betapa pentingnya makna dan nilai kehidupan bagi manusia, sehingga orang pun rela bersaing untuk suatu cita-cita yang mulia.
   
Kehidupan yang aman tenteram lahir batin telah memacu manusia untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan. Manusia berlomba-lomba merebut posisi yang baik dalam masyarakat. Manusia ingin memperoleh kesejahteraan dan kehormatan yang dapat mempengaruhi sesamanya.
 
Namun tidak jarang pula kita temukan bahwa kemapanan dan kesejahteraan di dunia telah memacu orang untuk saling menjegal, bahkan di antara sesama saudara sendiri. Individualisme dan kapitalisme yang bertentangan dengan semangat Injil bertumbuh subur bagai cendawan di musim hujan sebagai pengejawantahan sikap ingin menciptakan kesejahteraan bagi diri sendiri. Mereka terlelap dalam aruscinta diri berlebihan. Orang kurang mempedulikan sesamanya yang jatuh terjerembab dalam kemiskinan dan kenistaan karena kalah bersaing.
  
Pertanyaan selanjutnya kepada dunia kita dewasa ini adalah masih adakah biji gandum yang mau mati untuk menghasilkan banyak buah? Masih adakah manusia yang tanpa pamrih memperjuangkan hak-hak hidup sesama manusia yang hancur karena penindasan, represi dan tindakan sewenang-wenang?
  
Sikap mau melayani sesama manusia mesti diiringi dengan sikap pengorbanan diri bagi kepentingan sesama. Artinya, orang merelakan sebagian dari dirinya untuk hidup sesama. Orang mau berjuang sampai titik darah penghabisan bagi kembalinya martabat manusia yang diinjak-injak oleh semangat egoisme berlebihan.
 
Yesus, sang bijigandum sejati, telah menunjukkan pengorbanan Diri-Nya yang total bagi kepentingan manusia. Biji gandum itu mati di tanah manusia yang penuh dengan penindasan untuk mengembalikan martabat manusia kepada Allah yang hilang akibat pembangkangan manusia. Sikap tidak setia manusia dibalas dengan kesetiaan Yesus kepada kehendak Bapa. Dengan kesetiaan Yesus itu manusia diselamatkan. Manusia masuk dalam arus karya keselamatan yang dibawa oleh Yesus. “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikianpula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar,” kata St. Paulus tentang kesetiaan Yesus (Rom 5:19).
   
Hal yang sangat mendesak bagi kita sekarang adalah mengembangkan penyerahan diri kepada Allah sebagai pernyataan kesetiaan kita kepada Allah. Tantangan dunia modern semakin gencar menghadang kita, yaitu agar kita meninggalkan iman akan Kristus, hendaknya membuka mata hati kitauntuk tetap menatap Yesus yang tergantung di salib. Di sana, di atas kayu salib itu kita dapat menimba buah dari biji gandung yang jatuh ke tanah dan mati itu. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Fil. 1:29). Pengorbanan diri kita sungguh-sungguh didasari oleh semangat penyerahan diri Yesus kepada Bapa dan manusia. **

Frans de Sales SCJ
Tabloid KOMUNIO Palembang

04 November 2014

Memperbaiki Relasi yang Rusak dengan Rela Mengampuni

Bagaimana Anda memperbaiki relasi Anda yang sedang kurang harmonis? Saya yakin, Anda tentu punya berbagai cara.

Hubungan Eminem dan ibundanya, Deborah "Debbie" Mathers, sempat bermasalah. Dia bahkan menyindir sang bunda di lagu "Cleaning Out My Closet", beberapa tahun lalu. Namun, dia menyesal dan meminta maaf atas perbuatannya.

Rapper asal Detroit, Amerika Serikat, ini membuktikan hal tersebut dengan melibatkan Deborah di video klip untuk lagu terbarunya berjudul "Headlights". Di MV tersebut, dia memeluk sang bunda dan berterima kasih atas perjuangan yang dilakukannya. Lagu ini digarap oleh sutradara yang juga nominasi peraih Oscar, Spike Lee.

Video Klip ini dimulai dengan Deborah yang tengah mendengarkan lagu Eminem di TV. Foto masa lalu Eminem saat remaja pun muncul, ketika dia membuka foto album keluarga. Deborah lalu berusaha menemui Eminem, namun ditolak oleh para pengawal di gerbang rumahnya.

Lagu ini dirilis bertepatan dengan Hari Ibu Amerika Serikat. Headlights juga masuk dalam album Eminem tahun 2013, The Marshall Mathers LP 2. Dalam lagu ini, Eminem berduet dengan Fun's Nate Ruess.

Spike mengaku sangat tersentuh dengan lirik lagu "Headlights". Dia juga menilai lagu tersebut menceritakan makna dari sebuah kehidupan.

“Aku sangat suka dengan narasinya, untuk apa yang terjadi di 'Headlights'. Itu adalah cerita yang sangat bagus. Itu tulus, ada beberapa rasa sakit, tapi itulah kehidupan. Jadi itulah alasannya kita di sini, kembali ke asal, 8 Mile Detroit, syuting di mana semua ini bermula,” kata Spike Lee.

Sahabat, hidup yang kurang harmonis bisa diperbaiki. Sayang, banyak orang merasa bahwa hidup yang kurang harmonis itu lebih baik dihancurkan saja. Akibatnya, relasi semakin memburuk bahkan hancur berantakan. Terjadi perang dingin antarsesama. Saudara bisa menjadi lawan. Bahkan ibu kandung bisa diperlakukan dengan kurang hormat.

Kisah Eminem di atas menjadi sebuah pelajaran yang sangat bermakna bagi kehidupan kita di zaman modern ini. Mengampuni ternyata lebih baik daripada menyingkirkan. Berdamai kembali dengan orang yang terdekat dengan kita ternyata membuahkan kebaikan bersama. Karena itu, kesadaran Eminem untuk berdamai kembali dengan sang ibu merupakan suatu keutamaan yang indah.

Ketika menghadi relasi yang kurang harmonis, banyak orang di zaman sekarang lebih mudah dihancurkan. Mengapa? Karena orang berprinsip bahwa sesuatu yang sudah rusak itu lebih baik dibuang. Seperti barang yang rusak tidak perlu diperbaiki. Orang membuangnya, karena dapat membeli ganti yang baru.

Tentu saja hal seperti ini bukan cerminan orang yang beriman. Orang beriman mesti selalu memperbaiki relasi yang sedang rusak. Relasi yang kurang harmonis mesti diperbaiki, bukannya dihancurleburkan. Mengapa? Karena manusia memiliki hati daging, bukan hati batu yang keras dan beku.

Mari kita terus-menerus membangun kembali relasi yang kurang harmonis di antara kita. Dengan demikian, kita dapat membangun sebuah relasi yang lebih baik dan berguna bagi hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1167

31 Oktober 2014

Mengendalikan Emosi demi Hidup Damai


Apa yang akan terjadi, kalau Anda menjadi bulan-bulanan ejekan? Saya yakin, hati Anda terasa sakit. Mungkin Anda akan marah terhadap orang yang melakukannya.

Berawal dari sakit hati karena diejek, MF alias Al (14) pelajar sebuah SMP di Jakarta Timur tega membacok rekannya Yakobush Lincoln Abraham Yunus (13) siswa kelas VII SMP Advent Ciracas, Jakarta Timur. Di hadapan penyidik Polres Metro Jakarta Timur, MF telah mengakui kejadian yang dilakukannya pada Sabtu (10/5) pukul 20.00 WIB. MF bersama enam temannya menemui Bus, sapaan akrab Yakobush, di sebuah lapangan di dekat rumahnya di Jalan Pule Dinas Kebersihan, Ciracas, Jakarta Timur.

“Hasil pemeriksaan penganiayaan dilatarbelakangi pelaku sakit hati terhadap korban. Korban dianiaya dengan senjata tajam sampai akhirnya meninggal, karena kehabisan darah,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur, Ajun Komisaris Besar Didik Sugiarto.

Sebelumnya, MF mengakui telah merencanakan melakukan penganiayan kepada korban. Pasalnya, ketika menemui Bus, MF melalui temannya AS alias M (14), telah menyiapkan sebilah celurit. Sebelum MF menyerang Bus, mereka terlihat sempat adu mulut. Bahkan MF mencekik leher korban dengan tangan kirinya sampai akhirnya terjadi penganiayaan.

Rekan Bus yang juga berada di lokasi kejadian langsung melarikan Bus ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo. Sayang, dalam perjalanan korban kehabisan darah dan langsung meninggal.

Kepala Polisi Sektor Ciracas, Komisaris Suwanda mengatakan, pelaku dendam lantaran kerap diejek oleh korban. “Dia (MF) sering di kata-katain setiap kali bertemu. Kemudian timbul rasa ingin balas dendam,” kata Suwanda.

Sahabat, dendam yang dipendam bisa menjadi malapetaka bagi kehidupan. Soalnya, mengapa orang merasa dendam terhadap orang lain? Tentu saja ada banyak alasan orang merasa dendam terhadap orang lain. Namun menghakimi orang lain tetap menjadi suatu perbuatan melawan hukum. Apalagi sampai melakukan perbuatan kriminal terhadap sesama.

Kisah di atas menjadi suatu kisah yang memilukan hati manusia. Memang, tidak enak rasanya menjadi bulan-bulanan ejekan dari orang lain. Namun orang mesti menyadari bahwa menghakimi sendiri orang yang mengejek kita, bukan suatu tindakan yang benar. Ada jalur hukum yang bisa dilakukan untuk meminta keadilan. Sayang, MF tidak mau mengambil jalur hukum. Ia ingin menjadi hakim sendiri. Hasilnya, sangat tragis bagi kehidupan.

Orang beriman mesti memupuk kesabaran dalam hidup. Dengan demikian, orang tidak terbawa emosi yang kemudian berakibat tragis bagi kehidupan orang lain. “Janganlah engkau menghakimi sesamamu manusia, agar Anda tidak dihakimi dengan lebih berat lagi,” kata seorang bijaksana.

Ungkapan ini mau mengajak kita untuk selalu berusaha mengendalikan emosi kita. Emosi yang tidak terkendali hanya menimbulkan suasana hidup yang tidak harmonis. “Kalau Anda sedang dalam perjalanan menuju pengadilan bersama lawanmu, sebaiknya Anda mengajak lawanmu itu berdamai. Jangan sampai Anda yang dijebloskan ke dalam penjara,” kata Yesus.

Tentu saja orang beriman tidak ingin hidup orang lain mengalami dukacita karena perbuatannya. Justru sebaliknya, orang beriman selalu memperjuangkan kebaikan dalam hidup ini. Mari kita terus-menerus memperjuangkan damai dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1166

29 Oktober 2014

Menghargai Karya Cipta Orang Lain



Apa yang akan terjadi ketika karya cipta Anda dirusak oleh orang lain? Anda pasti marah. Anda pasti tidak terima atas perlakuan seperti itu.

Taman Bungkul, Surabaya, yang indah itu sekejap hancur berantakan. Ribuan kaki meningjak-injak taman yang dibangun dengan susah payah oleh pemerintah Kota Surabaya itu. Hancur luluh gara-gara massa berebutan es krim gratis. Padahal taman itu menjadi ikon Kota Surabaya. Taman itu menjadi tempat masyarakat membangun relasi yang lebih baik.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini pun murka karena tanaman di taman itu rusak. Risma pun langsung mendatangi acara itu sekitar pukul 10.30 WIB. Ia langsung mencari panitia dan langsung menumpahkan amarahnya mendapati taman kebanggaan warga Surabaya itu rusak. Ia pun berencana menuntut PT Unilever, pabrik pembuat Wall's.

Risma bersama jajarannya langsung turun sendiri memperbaiki taman itu. Sejumlah alat berat dan truk pengangkut sampah dikerahkan untuk melakukan pembersihan dan penataan kembali kondisi taman.

“Kami ingin secepatnya memulihkan kondisi Taman Bungkul ini. Nggak enak keindahan kota menjadi sedikit tercoreng,” kata Muhammad Fikser, Kabag Humas Pemkot Surabaya.

Fikser menjelaskan, perhatian Wali Kota Surabaya atas kerusakan tanaman di Taman Bungkul dan di sejumlah taman jalan Darmo serta Serayu cukup tinggi. Ketika berangkat menuju ke Balaikota, Risma menyempatkan diri mampir ke Taman Bungkul melihat kondisi kerusakan dan memberi semangat kepada para pekerja kebersihan taman.

Sebelumnya diberitakan, sedikitnya lima jenis tanaman langka di Taman Bungkul Surabaya rusak, akibat terinjak-injak pengunjung acara pembagian es krim gratis yang digelar Wall's, Minggu (11/5/2014). Hancurnya tanaman tersebut, menyebabkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sempat mengamuk. Risma langsung mendatangi Taman Bungkul dan memarahi panitia acara tersebut.

Tanpa menyapa maupun berkenalan, Risma menghardik panitia penyelenggara. “Kalian tahu berapa lama kami bangun taman ini! Kalian tahu tidak! Pidanakan mereka! Tuntut dengan pasal perusakan lingkungan!,” kata Risma.

Sahabat, menghargai karya orang lain itu sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan ini. Apalagi karya itu untuk orang banyak. Sebuah taman yang membawa kesejukan bagi banyak orang, bukan hanya untuk beberapa orang. Sebuah taman yang menjadi tempat istirahat untuk menemukan semangat baru setelah seharian bekerja keras mencari nafkah.

Kisah kemarahan Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, merupakan sesuatu yang wajar. Taman yang ia bangun bertahun-tahun bersama masyarakat itu rusak dalam sekejap mata oleh kaki-kaki masyarakat. Taman itu tidak berbentuk lagi hanya untuk memperebutkan es krim gratis. Ia menjadi marah juga karena penghargaan yang begitu rendah dari pihak penyelenggara bagi-bagi gratis es krim.

Menghargai orang lain tentu tidak hanya memberi trophy atau plakat kepada orang yang bersangkutan. Tetapi menghargai orang lain itu diberikan dengan menghormati karya cipta orang lain. Tidak merusak atau memunahkannya hanya karena hal-hal yang bernilai rendah dari diri kita.

Orang beriman tentu saja senantiasa menghargai karya cipta orang lain. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1165

Membentengi Anak-anak dari Kekerasan Seksual

 

Apa yang akan Anda lakukan terhadap anak-anak Anda dalam kondisi di mana sekarang ini marak terjadi pelecehan seksuaal? Saya yakin, Anda akan melindungi mereka. Anda akan membuat program-program preventif bagi mereka.

Peran orangtua terhadap tumbuh kembang anak menjadi benteng pertahanan anak untuk terhindar dari tindak kejahatan atau kriminalitas baik sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Arif Satria, Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, berkata, "Orangtua hendaknya memberikan perhatian kepada setiap anak dengan penuh, agar segala perubahan perilaku yang dialami anak dapat terdeteksi."

Arif mengatakan, orangtua juga harus memastikan setiap keluhan anak terkait fisik dan psikologinya. Mereka mesti menanggapinya dengan penuh perhatian dan serius. Mereka mesti mengecek keadaan fisik dan psikis anak setiap pulang sekolah. Mereka mesti memilih sekolah yang dapat memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak secara 'holistic' berbasis karakter.

Ia menjelaskan, kasus kekerasan terhadap anak usia dini yang marak diberitakan saat ini tidak hanya terjadi di sekolah internasional di Jakarta, tetapi beberapa sekolah.

Sahabat, beberapa pekan terakhir pada bulan April yang lalu, kita dikejutkan oleh peristiwa kekerasan seksual terhadap anak-anak. Peristiwa ini tidak hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta. Namun terjadi juga di banyak tempat di negeri ini. Bahkan ada seorang peleceh seksual atau pedofil melakukannya terhadap lebih dari seratus anak.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi dalam diri para pedofilia itu? Tentu saja hal ini merupakan suatu kelainan seksual yang mesti diwaspadai oleh semua orang. Apalagi oleh anak-anak yang sedang bertumbuh dan berkembang. Kepribadian anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual ini pasti mengalami keguncangan.

Setelah peristiwa-peristiwa itu terjadi, apa yang mesti dilakukan oleh para orangtua? Kiranya hal yang sangat penting adalah pendampingan para orangtua bagi anak-anak mereka. Kalau orangtua menyadari bahwa anak-anak adalah warisan masa depan mereka, maka semestinya mereka memberikan perlindungan bagi anak-anak mereka.

Anak-anak mesti mendapatkan perhatian yang sangat instens. Mengapa? Karena anak-anak membutuhkan kesempatan untuk membangun hidup dan karakter mereka. Anak-anak membutuhkan waktu dari orangtua mereka untuk mengajari mereka hal-hal yang baik dan benar dalam kehidupan ini.

Soalnya adalah banyak orangtua merasa terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan mereka. Banyak orangtua yang menyerahkan pengasuhan anak-anak mereka kepada pengasuh atau baby sitter. Akibatnya, mereka sendiri kurang mengenal pribadi anak-anak mereka. Mereka kurang tahu apa yang sedang terjadi dengan anak-anak mereka.

Sebagai orang beriman, kita ingin membantu anak-anak yang sedang bertumbuh dan berkembang untuk meraih cita-cita yang mulia. Anak-anak adalah masa depan bangsa dan Negara ini. Karena itu, mereka mesti selalu mendapatkan prioritas dalam perhatian dan kasih yang lebih mendalam.

Mari kita terus-menerus melindungi dan mencegah setiap perbuatan jahat terhadap anak-anak kita. Dengan demikian, mereka dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk meraih cita-cita mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1164

21 Oktober 2014

Mempunyai Kepedulian terhadap Sesama




Apa yang akan terjadi ketika di sekitar Anda berhimpun orang-orang yang memerlukan bantuan Anda? Anda mengusir mereka pergi? Atau Anda tergerak hati untuk membantu mereka?

Beberapa waktu lalu terjadi penangkapan Bupati Bogor Rachmat Yasin oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini menambah daftar kepala daerah yang tersangkut kasus hukum. Hampir sebagian besar kasus yang melibatkan gubernur dan wali kota atau bupati terkait dengan korupsi.

"Posisinya sekarang sudah 325 kepala daerah yang terjerat hukum. Baik masih berstatus tersangka atau sudah menjadi narapidana," kata Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan.

Tentu saja jumlah ini sangat besar. Begitu banyak kepala daerah yang ternyata bertindak tidak jujur terhadap rakyat yang telah memilih mereka. Padahal rakyat sangat berharap bahwa pilihan mereka itu akan memimpin mereka dengan penuh kejujuran. Para pemimpin itu semestinya menjalankan tugas sebaik-baiknya demi rakyat. Bukan demi diri mereka sendiri. Sayang, harapan seperti ini tidak terjadi.

Djohermansyah kuatir, kalau tidak ada perubahan sistem, jumlah kepala daerah yang terkena kasus hukum pasti bertambah banyak. Faktor mahalnya biaya kampanye pemilukada juga turut menyumbang kepala daerah untuk balik modal.

Alhasil, mereka ada kecenderungan untuk berupaya mencari uang dengan cara apa pun, hingga akhirnya harus berurusan dengan aparat hukum. "Nah, jadi kita mengkaji bahwa salah satu faktor penyebab dari proses hukum tersangkut korupsi itu suap adalah karena besarnya kewenangan kepala daerah," katanya.

Sahabat, ketika sebuah kasus korupsi terkuak, hati kita semestinya merasa sakit. Peristiwa seperti ini merupakan suatu ledakan dari penipuan terhadap hati nurani yang terjadi selama ini. Seorang pemimpin yang melakukan korupsi sebenarnya membunuh banyak rakyat yang dipimpinnya. Semestinya anggaran digunakan untuk pembangunan bagi kesejahteraan rakyat banyak. Namun anggaran itu ternyata hanya dipakai untuk diri sendiri.

Dalam berbagai berita, kita masih menyaksikan begitu banyak rakyat yang hidup dalam keterbatasan. Ada orang yang sulit sekali mendapatkanya makanan hanya untuk makan sekali sehari saja. Ada sekolah-sekolah yang lebih layak disebut sebagai kandang ayam. Ada banyak gelandangan yang begitu banyak di kota-kota. Mereka tidur di emperan took, ketika malam menjelang.

Namun di sisi lain, ada orang yang merampok uang rakyat untuk berfoya-foya. Mereka melakukan korupsi demi memenuhi keinginan diri mereka. Sungguh tragis situasi seperti ini. Hati mereka keras dan beku. Tidak punya ketergerakkan hati untuk berbagi hidup dengan sesamanya.

Orang beriman tentu saja mesti memiliki hati yang lebih peduli terhadap sesamanya. Orang beriman itu orang yang selalu mengutamakan kejujuran dalam kehidupan. Orang yang senantiasa peduli terhadap sesamanya. Orang yang selalu bekerja bagi kepentingan hidup sesamanya.

Mari kita memupuk hati kita, agar memiliki kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, semakin banyak orang memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ



1163

16 Oktober 2014

Melayani dengan Bebas

 

Apa yang akan Anda rasakan ketika Anda melayani orang lain dengan sikap terpaksa? Saya yakin, Anda akan merasa tidak nyaman. Anda merasa apa yang Anda lakukan kurang memberikan buah bagi hidup Anda.

Suatu hari seorang guru bijaksana mengirim murid-muridnya ke suatu desa. Setelah melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka, murid-murid itu kembali kepada guru bijaksana itu. Mereka melapor, “Guru, kami diterima dengan baik. Kami diberi makan dan minum serta penginapan yang baik sekali. Tetapi lebih dari itu, nama guru menjadi tersohor di sana.”

Guru bijaksana itu berkata, “Memang benar apa yang telah terjadi. Kalian adalah orang-orang yang patuh setia. Namun jangan bersukacita karena kalian bisa buat apa saja di desa itu. Jangan kalian hanya tergiur oleh pelayanan-pelayanan yang diberikan. Lebih dari itu, kalian mesti menunjukkan kebaikan-kebaikan dari hati yang tulus.”

Semua murid itu terpesona oleh kata-kata sang guru bijaksana itu. Mereka berjanji untuk tidak bangga akan perbuatan-perbuatan yang menaikkan popularitas diri mereka. Mereka ingin melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi kehidupan manusia. Mereka tidak ingin terperosok ke dalam puja dan puji murahan.

Sahabat, ada berbagai sebab mengapa seseorang bangga akan dirinya. Ada orang yang bangga, karena dapat mengalahkan lawan-lawannya. Seorang pelajar bangga dapat meraih nilai tertinggi saat ujian. Ada orang yang bersukacita karena dapat tampil di hotel mewah dan menghibur banyak orang dengan sukses.

Kisah di atas mengingatkan kita bahwa kita tidak hanya bangga dan bersukacita atas hal-hal yang kecil. Masih ada hal-hal yang lebih besar yang semestinya memberikan kebanggaan dan sukacita yang lebih besar. Orang bangga karena dapat melayani banyak orang. Orang bersukacita karena dapat berbagi hidupnya kepada sesamanya. Orang dapat membahagiakan sesamanya.

Tentu saja hal seperti ini tidak mudah, karena manusia masih dilingkupi oleh kepentingan-kepentingan dirinya. Manusia masih sering didominasi oleh egoismenya. Manusia masih dikuasai oleh rasa senang atau tidak senang dalam melayani sesamanya. Tentu saja hal seperti ini menghambat perkembangan dan kemajuan manusia. Semestinya orang dengan bebas dan rela melayani sesamanya. Sebuah pelayanan yang dilakukan dengan terpaksa hanya menjadi beban bagi kehidupan.

Orang beriman mesti berani beralih dari pelayanan yang hanya dilakukan secara terpaksa ke suatu pelayanan dengan sepenuh hati. Hal ini akan membantu orang beriman untuk dengan bebas melayani orang lain. Tidak ada beban yang mesti dipikul. Semuanya menjadi suatu kerelaan yang dengan bebas diemban sbagai makhluk ciptaan Tuhan.

Hasilnya adalah kebahagiaan yang akan dinikmati dalam hidup. Bukan sekedar suatu kenikmatan fisik, tetapi lebih dari itu suatu kebahagiaan batin yang dialami lebih langgeng dalam hidup ini.

Mari kita terus-menerus berusaha untuk semakin melayani dengan hati yang tulus. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mengalami sukacita yang belimpah-limpah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1162

08 Oktober 2014

Menerima Perbedaan untuk Memperkaya Hidup



Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda diperlakukan secara tidak adil? Saya yakin, Anda akan marah. Anda akan merasa sakit di hati

Dani Alves, back sayap Barcelona FC, beberapa waktu lalu memperoleh perlakuan rasis dari fans Klub Villarreal. Seorang penonton melempar pisang kepadanya saat ia hendak mengambil tendangan pojok. Ia segera mengambil pisang itu dan memakannya di hadapan para penonton sebelum melakukan tendangan bebas.

Jawaban atas lemparan pisang itu, Dani Alves mengaku terkejut mendapatkan banyak dukungan dari berbagai kalangan. Rasanya, Alves ingin membalas perlakuan fans itu di internet. Di Eropa, melempar pisang kepada seseorang merupakan simbol rasialisme, karena menyatakan orang tersebut sama dengan monyet.

Pemain dari seluruh dunia memposting sebuah gambar sambil memegang pisang, sebagai bentuk dukungan terhadap Alves. Presiden FIFA, Sepp Blatter, juga menyesalkan tindakan fans Villarreal itu. Sebagai hukumannya, fans itu dihukum seumur hidup tidak boleh memperlihatkan batang hidungnya di El Madrigal, Stadion Vilareal.

Dalam sebuah wawancara, Alves mengaku dukungan itu sungguh mengejutkannya. "Saya terkejut karena semua orang memberikan dukungan. Itu merupakan sesuatu yang saya lakukan tanpa memikirkan dampaknya. Dunia telah berkembang dan kita harus berevolusi dengan itu. Jika bisa, saya ingin memposting foto suporter itu di internet untuk balas mempermalukannya," kata pemain asal Brasil itu.

Sahabat, dunia sudah maju begitu pesat. Sayang, masih ada saja orang-orang yang punya pikiran yang picik. Orang hanya mementingkan dirinya sendiri. Masih ada orang yang hanya berjuang untuk rasnya sendiri. Padahal peradaban manusia telah berevolusi dalam kemajuan yang pesat.

Kisah di atas menjadi suatu kisah yang sangat menyedihkan bagi kehidupan manusia. Rasa hormat terhadap sesama begitu rendah. Padahal semua orang memiliki martabat yang sama. Tuhan menciptakan manusia itu setara. Tuhan pun mencintai semua ciptaan itu tanpa membeda-bedakan. Karena itu, ketika seseorang mendiskreditkan sesamanya, ia menolak ciptaan Tuhan sendiri. Artinya, orang itu menolak kebaikan Tuhan bagi hidupnya.

Tuhan menciptakan manusia dengan warna kulit dan ras yang berbeda-beda dengan maksud yang baik. Tuhan ingin, agar manusia saling berbagi kehidupan. Hal ini juga mau menegaskan bahwa kehidupan ini memiliki warna-warni. Hidup yang berwarna-warni itu hidup yang menyenangkan dan baik.

Karena itu, orang beriman mesti terus-menerus memperjuangkan kehidupan bersama sebagai upaya untuk menemukan damai. Orang beriman mesti berani berbagi kehidupan meski memiliki ras yang berbeda. Perbedaan itu memperkaya kehidupan manusia. Mengapa? Karena melalui perbedaan itu orang saling belajar tentang hal-hal yang baik dan menyenangkan.

Mari kita terus-menerus menghargai kehidupan ini dengan menerima perbedaan yang ada. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk saling memperkaya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1161

02 Oktober 2014

Memberi Semangat kepada Orang yang Dekat

 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau bawahan Anda melakukan kesalahan dalam bekerja? Anda diamkan saja? Atau Anda menegurnya sambil memberikan pengarahan kepadanya?

Ada seorang pemimpin yang agak judes. Setiap kali ada anak buahnya yang melakukan kesalahan, ia selalu berkata ketus. Ia tidak peduli apakah kesalahan itu kecil atau besar. Ia tidak punya rasa toleransi. Namun dengan cara itu, para karyawannya belajar untuk bertanggung jawab atas pekerjaan mereka. Para karyawannya menjadi lebih teliti dalam mengerjakan suatu pekerjaan.

Hasilnya sangat mengagumkan. Usaha yang mereka lakukan bersama-sama itu berkembang pesat. Mereka boleh membangun hidup yang lebih baik berkat upah yang mereka peroleh semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hidup para karyawan itu menjadi semakin sejahtera.

Tentang sikapnya itu, pemimpin itu berkata, ”Saya punya cara tersendiri menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh para karyawan saya. Memang saya tampak judes, tetapi setelah itu saya membimbing mereka untuk memperbaiki diri. Dengan cara begitu, para karyawan itu tidak merasa dihancurkan. Justru mereka merasa disapa.”

Menurut pengakuan para karyawannya, mereka mendapatkan banyak hal baik dari sikap pemimpin mereka. Memang, ketika mereka melakukan kesalahan, terasa sakit saat ditegur. Namun begitu mendapat bimbingan yang baik dan benar dari pemimpin, mereka berkembang menjadi lebih baik.

Sahabat, tidak setiap pemimpin mempunyai pendekatan yang sama terhadap suatu masalah. Ada pemimpin yang begitu peduli terhadap bawahannya sampai-sampai tidak melihat sedikit pun kesalahan yang dilakukan bawahannya. Pemimpin seperti ini biasanya terlalu percaya kepada bawahannya. Bahayanya, saat bawahannya menipu dirinya, ia tidak menyadarinya.

Namun ada pemimpin yang peduli terhadap pekerjaan bawahannya. Ia tidak hanya memberi tanggung jawab seluas-luasnya kepada bawahannya. Namun ia juga mau mendampingi bawahannya itu saat bekerja. Ketika bawahannya melakukan kesalahan, ia tidak segan-segan menegurnya. Namun teguran itu lebih bersifat mendidik bagi kemajuan usaha dan bawahan tersebut.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa pentingnya pendampingan bagi mereka yang bekerja dengan kita. Sering kita yang menjadi pemimpin kurang mau tahu terhadap para pegawai atau bawahan kita. Kita membiarkan mereka bekerja sesuai dengan kemampuan mereka. Sebenarnya tidak hanya cukup seperti itu. Mereka butuh pendampingan penuh kasih. Mereka butuh perhatian yang memberikan mereka ketenangan dalam hidup.

Karena itu, perhatian terhadap mereka menjadi hal yang utama dalam usaha-usaha kita. Para karyawan itu aset yang sangat penting bagi kemajuan usaha kita. Untuk itu, mereka perlu mendapatkan penyegaran dengan sapaan-sapaan yang menyenangkan hati mereka. Dengan demikian, mereka dapat memiliki semangat untuk terus memacu diri mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT