Pages

26 Oktober 2015

Menumbuhkembangkan Talenta dalam Diri

 
Setiap orang memiliki talenta. Bahkan talenta itu tidak hanya satu. Ada banyak talenta di dalam diri manusia. Tema permenungan kita malam ini adalah Menumbuhkembangkan Talenta dalam Diri.

Sejak kecil seorang gadis telah dididik oleh orangtuanya untuk mengembangkan talenta-talenta yang dimilikinya. Anak itu tumbuh menjadi orang yang sangat trampil. Ia punya ketrampilan memasak. Menggunakan piano, ia bisa memainkan musik klasik dengan sangat baik. Ia menjadi seniman lukis yang piawai. Orangtuanya sangat mengagumi anaknya itu.

Menurut pengakuan kedua orangtuanya, anak itu membutuhkan banyak waktu untuk bisa memasak dengan baik dan benar. Tangannya sempat melepuh terkena percikan minyak. Namun anak itu tidak putus asa. Ia malah melanjutkan memasak. Ia tidak peduli akan rasa sakit yang dialaminya. Baginya, itulah resiko dalam mengembangkan talenta.

Ketika berlatih musik, jari-jarinya yang tegang pernah dipukuli guru musiknya. Ia mencucurkan airmata karena rasa sakit. Tetapi ia tidak mau berhenti. Ia melanjutkan pelajaran musik itu hingga menjadi seorang pemain piano yang piawai. Ia bertumbuh dalam bidang musik itu dan menjadi pencipta lagu yang top. Namun anak itu tidak pernah puas akan pencapaiannya. Ia terus-menerus mengembangkan bakat-bakatnya.


Banyak Talenta

Seorang bijaksana mengatakan bahwa pemenang adalah seseorang yang mengenal talenta-talentanya, mengembangkannya sehabis-habisnya dan menggunakan talenta-talenta itu untuk meraih tujuan hidupnya.

Para peneliti pendidikan menyimpulkan bahwa kebanyakan orang memiliki tiga atau lima telenta utama. Setiap talenta itu dapat dikembangkan dan digunakan secara baik untuk kepentingan diri dan orang lain. Memang, memiliki talenta-talenta itu mudah. Mengapa? Karena sejak terjadi pembuahan antara sel sperma dan sel telur, seseorang sudah memilikinya. Namun mengembangkan talenta-talenta itu membutuhkan waktu, usaha-usaha dan komitmen yang berkepanjangan.

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa setiap orang punya talenta, bahkan lebih dari satu. Tetapi kalau talenta itu dibiarkan begitu saja, talenta itu tidak akan bertumbuh dan berkembang dengan baik. Talenta itu bahkan akan mati dan tidak berguna apa-apa.

Anak dalam kisah di atas tahu mampu mengembangkan talentanya dengan baik, meski ia mengalami kesulitan dan derita. Ia butuh waktu untuk mengasah talentanya itu. Ia punya semangat tinggi. Ia tidak putus asa dalam mengembangkan talenta-talentanya.

Menemukan dan mengembangkan talenta-talenta khusus kita dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan perjalanan hidup kita. Semakin banyak kita mengembangkan talenta-talenta kita, kita akan mengalami rasa puas yang besar. Kita tidak perlu cemas akan kehidupan ini. Kita dapat melakukan banyak hal baik dengan talenta-talenta yang kita miliki itu.

Orang beriman senantiasa bekerja bersama dengan Tuhan dalam mengembangkan talenta-talentanya. Untuk itu, kita mesti selalu menaruh pengharapan pada rahmat Tuhan. Tuhan memberi ita kekuatan di kala kita mengalami dukacita dalam mengembangkan talenta-talenta kita. Mari kita terus-menerus mengembangkan talenta-talenta dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Dari Betlehem, Palestina

1178

25 Oktober 2015

Menerima Perbedaan untuk Memperkaya Hidup

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda diperlakukan secara tidak adil? Saya yakin, Anda akan marah. Anda akan merasa sakit di hati.

Dani Alves, back sayap Barcelona FC, memperoleh perlakuan rasis dari fans Villarreal, tahun lalu. Seorang penonton melempar pisang kepadanya saat ia hendak mengambil tendangan pojok. Ia segera mengambil pisang itu dan memakannya di hadapan para penonton sebelum melakukan tendangan bebas.

Atas jawaban atas lemparan pisang itu, Dani Alves mengaku terkejut mendapatkan banyak dukungan dari berbagai kalangan. Rasanya, Alves ingin membalas perlakuan fans itu di internet. Di Eropa, melempar pisang kepada seseorang merupakan simbol rasialisme, karena menyatakan orang tersebut sama dengan monyet.

Pemain dari seluruh dunia memposting sebuah gambar sambil memegang pisang, sebagai bentuk dukungan terhadap Alves. Presiden FIFA, Sepp Blatter, juga menyesalkan tindakan fans Villarreal itu. Sebagai hukumannya, fans itu dihukum seumur hidup tidak boleh memperlihatkan batang hidungnya di El Madrigal, Stadion Vilareal, Spanyol.

Dalam sebuah wawancara, Alves mengaku dukungan itu sungguh mengejutkannya. Pemain asal Brasil itu berkata, "Saya terkejut karena semua orang memberikan dukungan. Itu merupakan sesuatu yang saya lakukan tanpa memikirkan dampaknya. Dunia telah berkembang dan kita harus berevolusi dengan itu. Jika bisa, saya ingin memposting foto suporter itu di internet untuk balas mempermalukannya."



Saling Memperkaya

Dunia sudah maju begitu pesat. Sayang, masih ada saja orang-orang yang punya pikiran yang picik. Orang hanya mementingkan dirinya sendiri. Masih ada orang yang hanya berjuang untuk rasnya sendiri. Padahal peradaban manusia telah berevolusi dalam kemajuan yang pesat.

Kisah di atas menjadi suatu kisah yang sangat menyedihkan bagi kehidupan manusia. Rasa hormat terhadap sesama begitu rendah. Padahal semua orang memiliki martabat yang sama. Tuhan menciptakan manusia itu setara. Tuhan pun mencintai semua ciptaan itu tanpa membeda-bedakan. Karena itu, ketika seseorang mendiskreditkan sesamanya, ia menolak ciptaan Tuhan sendiri. Artinya, orang itu menolak kebaikan Tuhan bagi hidupnya.

Tuhan menciptakan manusia dengan warna kulit dan ras yang berbeda-beda dengan maksud yang baik. Tuhan ingin, agar manusia saling berbagi kehidupan. Hal ini juga mau menegaskan bahwa kehidupan ini memiliki warna-warni. Hidup yang berwarna-warni itu hidup yang menyenangkan, indah dan baik.

Karena itu, orang beriman mesti terus-menerus memperjuangkan kehidupan bersama sebagai upaya untuk menemukan damai. Orang beriman mesti berani berbagi kehidupan meski memiliki ras yang berbeda. Perbedaan itu memperkaya kehidupan manusia. Mengapa? Karena melalui perbedaan itu orang saling belajar tentang hal-hal yang baik dan menyenangkan.

Mari kita terus-menerus menghargai kehidupan ini dengan menerima perbedaan yang ada. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk saling memperkaya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Dari Betlehem, Palestina

1177

24 Oktober 2015

Memelihara Hati Kita dengan Baik

 

Mengapa hati Anda kurang terasa damai? Ada berbagai jawaban atas pertanyaan sederhana ini. Namun satu hal yang pasti adalah karena Anda tidak menjaga dan memelihara hati Anda dengan baik.

Dalam suatu acara rohani anak-anak, setiap peserta diberi sebutir telur oleh panitia. Pesannya adalah telur itu dijaga agar jangan pecah atau hilang. Telur itu mesti selalu dibawa setiap saat selama acara rohani berlangsung sampai akhir acara. Entah mereka mengikuti session, makan, tidur, bahkan ke kamar mandi, telur itu tidak boleh mereka tinggalkan.

Siapa saja yang kehilangan telur atau sampai memecahkannya, maka ia akan mendapatkan ‘hukuman’ dari Panitia. Dua hari kemudian, ketika acara rohani itu selesai, legalah mereka semua. Namun ada beberapa orang yang harus menanggung hukuman, karena memecahkan telur mereka. Seperti halnya menjaga sebutir telur yang mereka lakukan, demikian juga kita harus menjaga hati.

Seorang anak yang memecahkan telur berkata, “Saya sudah menjaganya sedemikian rupa. Tetapi hanya teledor sedikit saja, telur itu pecah. Saya sangat menyesal telah memecahkan telur itu. Artinya, saya belum bisa menjaganya dengan baik.”

Anak itu mengerti bahwa ia mesti menjaga hal-hal yang berharga yang dimiliki dirinya. Ia berjanji kepada pembimbing acara rohani itu untuk memelihara hatinya dengan sebaik-baiknya. Ia boleh mendapatkan hukuman atas kelalaiannya. Namun ia dapat belajar banyak hal tentang kehidupan.



Jangan Ceroboh

Persoalan terbesar yang dihadapi oleh semua manusia di dunia ini adalah persoalan hati. Dari hati muncul motivasi. Dari hati muncul rencana. Dari hati timbul perasaan. Dari hati kemarahan diungkapkan. Dari hati keluarlah pikiran-pikiran, perkataan dan tindakan.

Namun banyak orang kurang menyadari hal ini. Banyak orang sering ceroboh dalam hidup ini. Akibatnya, mereka kehilangan hati yang tulus dan murni dalam menjalani hidup ini. Mereka bertindak seenaknya saja. Ada hal yang hilang dari hidup mereka, sehingga mereka kurang punya ketahanan hidup.

Bagi kita, hati adalah area yang penting dalam kehidupan ini. Hati yang baik mengatur dan mengarahkan setiap hal yang kita kerjakan. Untuk itu, kita mesti menjaga hati kita dengan sebaik-baiknya. Caranya dengan menghidupi nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Tuhan sendiri.

Kalau kita mampu menjaga hati kita dari hal-hal yang kurang baik, kita mampu memancarkan kebaikan Tuhan dalam hidup ini. Kita dapat menemukan bahwa Tuhan begitu mencintai hidup kita. Tuhan tidak pernah menolak kehadiran kita. Tuhan tetap menguasai diri kita, bukan hal-hal lain yang sering mengganggu hidup kita.

Sang bijak berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Mari kita menjaga hati kita, agar kita mampu memancarkan kasih Tuhan kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap


1176

Mengandalkan Kebaikan Tuhan dalam Hidup

 
Apa yang Anda andalkan dalam perjalanan hidup Anda di dunia yang fana ini? Uang yang banyak? Mobil mewah? Rumah mewah? Atau istri yang cantik, suami yang ganteng? Orang beriman tentu tidak mengandalkan semua itu. Orang beriman mengandalkan penyelenggaraan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Burung-burung yang beterbangan secara liar memang tidak menabur dan menuai. Namun Tuhan terus-menerus memelihara burung-burung itu. Mereka mendapat makanan setiap kali mereka mencari. Mereka juga dapat melepas dahaga mereka dari embun yang diturunkan Tuhan setiap pagi.

Sebuah penelitian terhadap aktivitas kehidupan burung menemukan fakta bahwa burung murai setiap hari bangun dini hari pukul 2.30. Burung-burung murai itu kemudian mencari makanan hingga larut pukul 21.30. Jadi, setiap hari mereka bekerja selama 19 jam. Tak cuma itu. Burung-burung murai juga bolak-balik ke sarang mereka hingga sekitar 200 kali sehari, demi memberi makan anak-anak mereka.

Sungguh luar biasa Tuhan memelihara burung-burung itu. Tuhan tidak membiarkan satu pun ciptaanNya mengalami derita dan susah. Tuhan telah menyediakan semuanya dalam alam semesta ini.

Sayang, banyak orang tidak menyadari penyelangaraan Tuhan ini. Akibatnya, mereka menebang pohon dengan sesuka hati. Mereka membakar hutan tanpa peduli merugikan banyak orang. Asap tebal dan pekat membunuh kehidupan, baik manusia maupun seluruh ekosistem di dalamnya. Manusia memusnahkan lingkungan hidup.



Gantungkan Hidup pada Allah Semata

Yesus berkata, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung. Namun burung-burung itu diberi makan oleh Tuhan yang ada di surga.”

Tuhan menyelenggarakan hidup ini bagi kelangsungan hidup ciptaanNya. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan senantiasa peduli terhadap semua yang ada dalam alam semesta ini. Tuhan senantiasa mengasihi dan memberi yang terbaik bagi kehidupan manusia. Memang, manusia sering kurang mengerti akan kasih Tuhan yang begitu besar. Manusia lebih mengutamakan egoisme dirinya.

Seperti burung-burung Murai yang bekerja keras demi hidup diri dan anak-anaknya, manusia pun mesti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bekerja berarti manusia menanggapi kasih Tuhan kepada manusia. Manusia meneruskan karya cipta Tuhan dalam hidup ini.

Yang penting adalah sekeras apa pun kita berusaha memenuhi kebutuhan, kita mesti selalu mendahulukan kebaikan dan kebenaran. Kita mendahulukan nilai-nilai kekudusan dan kebenaran yang Tuhan tetapkan bagi hidup kita. Kita melandasi setiap karya dan kerja dengan kasih. Inilah kunci dari kebaikan Tuhan bagi manusia.

Seperti burung-burung Murai yang mengandalkan rahmat Tuhan, orang beriman pun senantiasa menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Hanya dengan penyerahan diri itu, orang mampu menjalani hidup ini dengan damai dan sukacita. Hidup menjadi lebih bermakna, karena Tuhan dipersilahkan masuk dan tinggal di dalam hati dan hidup kita.

Mari kita terus-menerus menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan Tuhan. Dengan demikian, hidup kita penuh dengan buah-buah yang berlimpah dengan kebaikan dan kebenaran. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang - (masih) Kota Asap


1172

23 Oktober 2015

Ketahanan dalam Menjalani Hidup



Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menyaksikan seorang bintang yang hebat? Anda tentu saja mengaguminya. Anda mungkin gemas terhadapnya. Namun apakah cukup sampai di situ. Tentu saja yang diharapkan adalah lebih dari itu.

Cristiano Ronaldo masih terus memperlihatkan penampilan mengagumkan bersama Real Madrid sejauh ini. Rekor apalagi yang sudah ia pecahkan dan rekor apa yang akan ia lalui? Tiga gol yang dicetak Ronaldo ke gawang Villarreal pada suatu akhir pecan, membuat pemain berkebangsaan Portugal itu telah mencetak 22 gol dalam 18 penampilannya bersama Madrid, di Liga Spanyol pada musim kompetisi 2014/2015 yang lalu.

Catatan itu rupanya cukup istimewa, karena Ronaldo melewati catatan legenda Madrid, Ferenc Puskas, yang mencetak 21 gol dalam 18 pekan pada musim 1960-61 atau 50 tahun silam.

Di bawah Ronaldo dan Puskas, ada Gaspar Rubio, Manuel Alday, Alfredo Di Stefano dan Hugo Sanchez yang mencetak 19 gol dalam 18 pekan di masa kejayaan mereka masing-masing. Lantas, rekor apalagi yang bakal dipecahkan Ronaldo di pekan-pekan selanjutnya? Ada sebuah catatan penting yang bisa ia patahkan, yaitu pemain tercepat yang mencetak 50 gol di Liga Spanyol buat Madrid.

Saat ini, catatan tersebut dikuasai oleh Puskas yang membutuhkan 54 pertandingan untuk mencatat 50 gol di La Liga. Kemudian ada nama Di Stefano yang menorehkannya dalam 56 pertandingan. Ronaldo saat ini total sudah mencetak 48 gol dalam 47 pertandingan Liga Spanyol. Artinya, bila Ronaldo mampu mencetak setidaknya dua gol dalam enam pertandingan Liga Spanyol ke depan, maka rekor Puskas pun bakal patah.



Tidak Bercabang-cabang

Begitulah kehebatan Cristiano Ronaldo. Tentu ada rahasia di balik kesuksesan Ronaldo. Ia tidak pakai jimat atau mendatangkan roh-roh halus. Yang ia lakukan setiap hari adalah latihan yang keras. Ia gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengasah ketrampilannya menggiring bola dan menceploskannya ke dalam gawang lawan. Catatan rekor yang dibuatnya tentu saja mengagumkan banyak orang. Kita juga termasuk yang mengagumi apa yang dilakukan oleh Cristiano itu.

Namun sering kita hanya terpaku pada mengagumi kehebatan seseorang. Kita tidak mencontoh kehebatan orang itu. Memang, kita tidak perlu menjadi sama dengan orang itu. Namun yang mesti kita lakukan adalah menimba semangat yang dimiliki oleh orang yang hebat itu. Dengan demikian, kita tidak hanya mengagumi kehebatannya.

Selain latihan yang keras, tentu saja orang yang hebat itu juga memiliki kedisiplinan yang tinggi. Ia mesti latihan tepat waktu. Ia tidak boleh malas-malasan. Ia juga mesti beristirahat pada waktunya. Tetapi ia juga mesti fokus pada apa yang sedang dijalaninya. Pikirannya tidak bercabang-cabang. Hanya satu hal yang mesti ia lakukan, yaitu ia memusatkan perhatian pada apa yang sedang ia lakukan itu.

Nah, sering banyak orang gagal dalam hal ini. Ketahanan orang kurang terlatih untuk hal ini. Karena itu, kita butuh waktu untuk membangun hidup kita. Dengan demikian, kita memiliki ketahanan dalam menjalani hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap

1175

21 Oktober 2015

Memberi Semangat kepada Orang yang Dekat

 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau bawahan Anda melakukan kesalahan dalam bekerja? Anda diamkan saja? Atau Anda menegurnya sambil memberikan pengarahan kepadanya?

Ada seorang pemimpin yang agak judes. Setiap kali ada anak buahnya yang melakukan kesalahan, ia selalu berkata ketus. Ia tidak peduli apakah kesalahan itu kecil atau besar. Ia tidak punya rasa toleransi. Namun dengan cara itu, para karyawannya belajar untuk bertanggung jawab atas pekerjaan mereka. Para karyawannya menjadi lebih teliti dalam mengerjakan suatu pekerjaan.

Hasilnya sangat mengagumkan. Usaha yang mereka lakukan bersama-sama itu berkembang pesat. Mereka boleh membangun hidup yang lebih baik berkat upah yang mereka peroleh semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hidup para karyawan itu menjadi semakin sejahtera.

Tentang sikapnya itu, pemimpin itu berkata, ”Saya punya cara tersendiri menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh para karyawan saya. Memang saya tampak judes, tetapi setelah itu saya membimbing mereka untuk memperbaiki diri. Dengan cara begitu, para karyawan itu tidak merasa dihancurkan. Justru mereka merasa disapa.”

Menurut pengakuan para karyawannya, mereka mendapatkan banyak hal baik dari sikap pemimpin mereka. Memang, ketika mereka melakukan kesalahan, terasa sakit saat ditegur. Namun begitu mendapat bimbingan yang baik dan benar dari pemimpin, mereka berkembang menjadi lebih baik.



Mendampingi Sesama

Tidak setiap pemimpin mempunyai pendekatan yang sama terhadap suatu masalah. Ada pemimpin yang begitu peduli terhadap bawahannya sampai-sampai tidak melihat sedikit pun kesalahan yang dilakukan bawahannya. Pemimpin seperti ini biasanya terlalu percaya kepada bawahannya. Bahayanya, saat bawahannya menipu dirinya, ia tidak menyadarinya.

Namun ada pemimpin yang peduli terhadap pekerjaan bawahannya. Ia tidak hanya memberi tanggung jawab seluas-luasnya kepada bawahannya. Namun ia juga mau mendampingi bawahannya itu saat bekerja. Ketika bawahannya melakukan kesalahan, ia tidak segan-segan menegurnya. Namun teguran itu lebih bersifat mendidik bagi kemajuan usaha dan bawahan tersebut.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa pentingnya pendampingan bagi mereka yang bekerja dengan kita. Sering kita yang menjadi pemimpin kurang mau tahu terhadap para pegawai atau bawahan kita. Kita membiarkan mereka bekerja sesuai dengan kemampuan mereka. Sebenarnya tidak hanya cukup seperti itu. Mereka butuh pendampingan penuh kasih. Mereka butuh perhatian yang memberikan mereka ketenangan dalam hidup.

Karena itu, perhatian terhadap mereka menjadi hal yang utama dalam usaha-usaha kita. Para karyawan itu aset yang sangat penting bagi kemajuan usaha kita. Untuk itu, mereka perlu mendapatkan penyegaran dengan sapaan-sapaan yang menyenangkan hati mereka. Dengan demikian, mereka dapat memiliki semangat untuk terus memacu diri mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap

1174

19 Oktober 2015

Bersimpuh di Hadapan Tuhan Sang Damai Sejati

 
Pernahkah Anda merasa sepi dalam hidup ini? Pernahkah Anda merasa Tuhan jauh dari hidup Anda? Apa yang Anda lakukan?

Suatu malam seseorang bermimpi. Dia mimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang tepian pantai. Di ujung langit sana tergambar peristiwa-peristiwa dari kehidupannya. Di setiap kejadian, ia memperhatikan ada dua pasang jejak kaki di permukaan pasir, satu punyanya dan lainnya jejak kaki Tuhan.

Pada penayangan dari peristiwa itu di akhir hidupnya, dia kembali melihat jejak kaki di permukaan pasir itu. Dia memperhatikan bahwa banyak kali di dalam kehidupannya hanya ada satu jejak kaki. Dia memperhatikan bahwa saat-saat itu adalah saat-saat genting dan penuh kesedihan. Hal itu sungguh membingungkannya.

Lantas ia bertanya kepada Tuhan tentang hal ini, ”Tuhan, Engkau berkata bahwa sekali aku memutuskan untuk mengikut-Mu, Engkau berjanji akan berjalan selamanya bersamaku. Tetapi aku juga memperhatikan, pada masa aku mengalami kesukaran dalam hidupku, hanya ada satu pasang jejak kaki. Aku sungguh tidak mengerti mengapa di saat-saat aku membutuhkanMu, malah Engkau meninggalkanku.”

Tuhan menjawab, ”Anak-Ku yang Kukasihi, Aku mengasihimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Pada saat-saat pencobaan dan penderitaanmu, saat di mana engkau hanya melihat ada satu pasang jejak kaki, itulah saat di mana Aku menggendong engkau.”



Tuhan adalah Setia

Banyak orang merasa bahwa Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Apalagi di saat-saat susah dan derita. Akibatnya, mereka berjuang sendiri dalam hidup ini. Mereka berusaha sendiri tanpa bantuan Tuhan. Padahal Tuhan senantiasa menawarkan bantuan-Nya.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan hidup manusia. Bahkan Tuhan menggendong manusia di saat-saat susah hidupnya. Sering manusia lupa akan hal ini. Sering manusia tidak peduli terhadap penyertaan Tuhan. Manusia berusaha menjauh dari Tuhan melalui kesalahan dan dosa-dosanya.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh manusia? Yang mesti dilakukan oleh manusia adalah kembali kepada Tuhan. Manusia mesti mempersilakan Tuhan untuk hadir dan bekerja di dalam dirinya. Manusia membiarkan Tuhan masuk dan tinggal di dalam dirinya. Dengan demikian, manusia senantiasa mengalami kasih dan kebaikan Tuhan.

Memang, tidak mudah untuk kembali kepada Tuhan. Apalagi manusia yang telah merasakan nikmatinya dosa. Manusia lebih suka tenggelam dalam lumpur dosa. Padahal dalam kondisi seperti itu yang dialami hanyalah kedamaian semu. Untuk itu, manusia mesti selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Kalau manusia ingin memiliki damai yang sejati, manusia mesti menerima Tuhan dalam hidupnya.

Yang mesti selalu diingat adalah Tuhan senantiasa menuntun hidup manusia dalam untung dan malang. Tentang Tuhan yang baik, seorang bijak berkata, ”Sampai masa tuamu Aku tetap Tuhan dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu” (Yesaya 46:4a). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap



1173b

Memberi demi Hidup Bahagia


Apa yang membuat Anda bahagia dalam hidup ini? Harta yang banyak? Uang segudang? Ternyata dua hal ini belum cukup untuk membuat seseorang bahagia. Yang membuat seseorang lebih berbahagia dalam hidupnya adalah memberi dengan penuh sukacita.

Ada pernyataan yang menarik diungkapkan oleh dewan pengamat Propinsi British Colombia, Kanada, beberapa tahun lalu. Pernyataan itu adalah "Sudah sering terdengar bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan. Namun itu kuno, karena pada nyatanya uang bisa membawa kebahagiaan."

Para ilmuwan di Vancouver, Kanada, mengatakan, “Uang sangat mungkin mendatangkan kebahagiaan sepanjang uang itu dipakai untuk tujuan sosial.”

Elizabeth Dunn, psikolog dari University of British Columbia, berkata, “Penelitian menunjukkan sikap memberi menghasilkan efek bahagia”.

Untuk menyimpulkan hal ini, ia bersama Lara Aknin dan Michael Norton, mahasiswa Harvard Bussines School, melakukan observasi terhadap tingkah laku orang-orang. Observasi ini menghasilkan dua kategori.

Pertama, orang yang memiliki uang dengan kecenderungan berbelanja untuk kepentingan pribadi. Orang-orang ini selalu hidup dengan mengomel, tidak puas, adu mulut dengan kasir toko. Mereka juga memarahi anak-anak. Para isteri kesal terhadap suami mereka, karena masih banyak barang yang tidak bisa dibeli.

Kedua, orang yang mengalokasikan sebagian uangnya untuk tujuan sosial seperti menyumbangkan ke yayasan-yayasan atau orang lain yang membutuhkan. Hasilnya ternyata kelompok orang seperti ini merasa lebih berbahagia dalam hidup mereka.



Berbagi Itu Berbuah

Kalau Anda ingin memilih hidup yang bahagia dan terus mengalaminya sepanjang perjalanan hidup di dunia ini, berbagilah. Semakin sering Anda memberi, maka Anda akan menerima kebahagiaan yang lebih besar dari apa yang pernah terbayangkan oleh diri Anda sendiri.

Hasil penelitian di atas mengungkapkan kebahagiaan yang diperoleh saat orang-orang melepas apa yang mereka miliki dengan sukacita. Mereka tidak mengeluh apalagi menggerutu saat memberi. Bahkan mereka memberi dengan sukacita. Hasilnya, kebahagiaan yang menjadi bagian dari hidup mereka. Hidup mereka menjadi lebih enteng.

Orang beriman mesti memberi dengan sukacita, karena Tuhan telah menganugerahkan kebaikan-kebaikanNya kepada manusia. Memang, hal ini tidak mudah, karena manusia sering mengutamakan kebahagiaan dirinya. Kebahagiaan diri orang lain bukan menjadi target utama.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah kita memiliki hati yang terbuka pada penyelenggaraan Tuhan. Kita membiarkan hidup kita dipenuhi oleh rahmat dan kebaikan Tuhan. Dengan demikian, kita pun tergerak hati untuk memberi apa yang dibutuhkan oleh sesama kita. Mari kita belajar untuk memberi dengan sukacita, agar hidup kita senantiasa mengalami damai dan bahagia. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap


1173a

13 Oktober 2015

Berani Memberi dengan Sukacita

 
Sebenarnya manusia tidak memiliki apa-apa. Bukankah saat lahir, manusia lahir dalam keadaan telanjang? Artinya tidak membawa apa-apa ke dalam dunia ini. Karena itu, apa yang dimiliki itu mesti diberikan kepada orang lain dengan setulus hati.

Ada seorang anak berusia empat tahun yang suka membagi bekalnya untuk teman-temannya di Play Group. Meski tidak diminta oleh teman-temannya, ia mengulurkan tangannya yang penuh dengan makanan. Ia mau berbagai dengan mereka. Ia ingin apa yang dimiliki menjadi bagian dari teman-temannya.

Saat ditanya oleh gurunya, ia berkata bahwa ia suka memberi saja. Ia tidak ingin apa yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri.

Ia berkata, “Saya mau beri saja. Tidak ada yang menyuruh.”

Kebiasaan memberi dengan hati yang tulus itu ia teruskan saat dia sekolah di Taman Kanak-kanak. Kerelaannya untuk memberi itu membuat teman-temannya menyukai dirinya. Mereka mau bergaul dengan dia. Tidak ada rasa enggap untuk bermain bersama dengan dia. Ia pun bersyukur punya teman yang banyak.

Tidak Gampang Memberi, Mengapa?

Memberi dengan setulus hati tidak gampang dilakukan oleh manusia zaman sekarang. Lebih baik orang memenuhi dirinya dengan berbagai kebutuhan hidup terlebih dahulu. Sisanya baru diberikan kepada orang lain. Prinsipnya adalah saya dulu, baru orang lain.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk memberi dengan setulus hati. Ketika orang memberi dengan setulus hati, orang akan menerimanya kembali dengan berlipat-lipat. Tentu saja bukan menerima dalam bentuk materi. Tetapi relasi yang baik akan diperoleh dalam hidup sehari-hari.

Sebenarnya orang dapat memberi dengan setulus hati, kalau orang menyadari bahwa apa yang dimilikinya itu diterima dengan cuma-cuma dari Tuhan. Andaikan Tuhan tidak memberi apa-apa kepada manusia, bagaimana manusia bisa hidup? Bagaimana bisa melakukan hal-hal yang baik dan benar dalam hidup ini?

Tuhan telah memberi manusia berbagai hal untuk kebutuhan hidup manusia, karena Tuhan ingin manusia hidup bahagia. Berbagai kebutuhan itu bukan hanya untuk milik diri seseorang saja. Tetapi apa yang dimiliki itu juga menjadi milik bersama. Artinya, orang mesti berani berbagi saat memiliki harta kekayaan yang melimpah. Kalau tidak berani berbagi dengan yang berkekurangan, apa yang ada akan diambil kembali oleh Tuhan.

Seorang bijaksana berkata, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan. Sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Orang beriman mesti memberi dengan sukacita dan tanpa paksaan. Orang beriman memberi dengan cara demikian sebagai ungkapan syukur atas kasih dan kebaikan Tuhan. Tuhan tidak bisa kita lihat dengan mata, maka kita membalas kasih Tuhan itu dengan memberi kepada sesama. Mari kita memberi dengan sukacita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap

1171

12 Oktober 2015

Senantiasa Mengarahkan Hidup kepada Tuhan


Seorang bijaksana berkata, “Hendaklah kamu berakar di dalam Tuhan dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu. Hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Seorang ibu bercerita tentang anak bungsunya yang sulit sekali berdoa sebelum tidur. Setiap kali ia menidurkannya, anak itu sulit sekali berdoa meski hanya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Tuhan sepanjang hari itu. Hal itu sering membuat ibu itu cemas akan anaknya itu.

Namun suatu malam yang dingin, sebelum tidur, anak itu mau berdoa. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berdoa. Namun dengan spontan, ia berdoa mengucapkan terima kasih atas kebaikan Tuhan sepanjang hari itu.

Ia berdoa, “Tuhan, terima kasih karena di sekolah guru-guru saya sangat baik kepada kami semua. Mereka mengajar kami dengan penuh kasih. Saya juga berterima kasih, karena Engkau masih memelihara papa dan mama saya.”

Sang mama terkejut mendengar doa anaknya yang panjang itu. Apalagi doa itu dilakukan dalam waktu yang lama. Ada mukjizat apa? Namun sang mama membiarkan anaknya berdoa hingga selesai. Lantas ia mencium anaknya itu dan menidurkannya.

Sekitar tiga menit kemudian, ibu itu mendengar seperti ada orang memanggil. Ia segera melongok ke dalam kamar. Namun semuanya baik-baik saja. Bahkan anaknya yang berdoa sebelum tidur itu tertidur dengan lelap.



Mengapa Cemas tentang Hidup?

Sering orang cemas akan hidup ini. Orang lantas mempersoalkan banyak hal dalam perjalanan hidupnya. Orang menggerutu ketika mesti menghadapi banyak persoalan dalam hidupnya. Padahal kalau saja orang tidak cemas atau menggerutu, orang akan dapat menyelesaikan pekerjaan atau persoalan dengan baik dan benar.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tidak cemas dalam hidup ini. Orang yang berani bersyukur atas kebaikan Tuhan tidak akan pernah cemas dalam hidupnya. Sebaliknya orang seperti ini selalu memiliki antusiasme dalam menjalani hidup ini. Orang seperti ini akan membangun masa depan dengan lebih baik.

Seorang bijaksana berkata, “Serahkanlah kekuatiranmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!” Tentu saja hal ini tidak mudah. Mengapa? Karena egoisme sering menguasai diri manusia. Manusia merasa diri mampu melakukan apa saja bagi hidupnya. Manusia merasa tidak memerlukan bantuan dari Tuhan.

Baru ketika mengalami jalan buntu dalam hidupnya lalu lari kepada Tuhan. Orang mulai berkeluh kesah kepada Tuhan. Seolah-olah Tuhan adalah tempat sampah. Orang membuang segala duka nestapanya kepada Tuhan. Tentu saja ini bukan sikap hidup orang beriman.

Orang beriman tidak boleh mengizinkan ketakutan, kekuatiran dan egoisme bercokol dalam dirinya. Untuk itu, orang mesti mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan semata. Berkat Tuhan akan mengalir ke dalam dirinya. Orang mesti percaya bahwa Tuhan tahu apa yang dibutuhkan untuk perjalanan hidup ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap

1170