Pages

20 Oktober 2009

Berbuat Kasih Itu Indah



Suatu hari seorang bapak berjanji kepada anaknya untuk mengirim pulsa. Tetapi ia sendiri tidak punya uang. Anaknya menunggu hingga malam, tetapi kiriman pulsa tidak datang-datang juga. Ia kesal. Lantas ia membanting-banting pintu kamar kosnya. Ia tidak percaya kalau bapaknya tidak menepati janji.

Beberapa saat kemudian, ia menelephon bapaknya. “Pak, mana janjinya? Pulsa saya sudah habis,” kata anak itu.

Dengan perasaan bersalah, bapaknya menjawab, “Tidak usah kuatir, nak. Bapak akan mengirimimu pulsa. Bapak sedang di jalan.”

“Yah, tetapi ini sudah malam. Pulsa saya tinggal lima ribu rupiah,” kata anaknya.

Bapaknya hanya geleng-geleng kepala. Ia tidak punya uang di tangan. Ia juga tidak bisa mentransfer pulsa, karena ia juga hanya punya lima ribu rupiah. Lantas ia berkata, “Nantilah, nak. Kita lihat besok pagi saja. Ini kan sudah malam.”

Anak itu sangat kecewa terhadap bapaknya. Bapaknya banyak berjanji, tetapi tidak bisa menepatinya. Sejak saat itu, anak itu tidak banyak berharap lagi sama bapaknya. Ia kehilangan kepercayaan terhadap bapaknya.

Dalam hidup ini ada dua sisi yang menentukan, yaitu kata-kata dan perbuatan. Orang yang mau sukses dalam hidup itu mesti melaksanakan dua hal ini dalam hidupnya. Kalau ia hanya berkata-kata dengan janji-janji yang muluk-muluk, ia akan kehilangan kepercayaan. Ia tidak berhasil dalam hidupnya, karena ia tidak melaksanakan apa yang dikatakannya.

Kalau orang berani melakukan perbuatan nyata, ia akan menemukan kesuksesan hidup. Ia menjadi orang yang mudah dipercaya, karena kata-kata yang ia ucapkan selaras dengan perbuatannya.

Dalam hidup beriman juga demikian. Orang beriman yang sejati itu orang yang mampu melaksanakan apa yang diucapkannya. Orang berani berbuat sesuatu untuk hidupnya. Dalam salah satu kotbahnya, Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Tuhan di surga.”

Apa yang dikehendaki oleh Tuhan bagi manusia? Tuhan menghendaki agar manusia saling mengasihi. Dalam hidup ini kasih itu mesti nyata, bukan hanya kata-kata. Kasih yang nyata itu ditunjukkan dengan perhatian terhadap sesama. Setiap orang membutuhkan perhatian. Karena itu, ketika kita memberi perhatian kepada sesama berarti kita memberi perhatian untuk diri kita sendiri.

Mari kita saling mengasihi, karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita. Dengan kasih itu kita ingin berbuat baik bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
201



19 Oktober 2009

Tuhan Menjamin Hidup Kita



Ada seorang arsitek yang meninggalkan kehidupan kota. Ia merasa bosan dengan hingar bingar kota. Baginya, kehidupan kota sudah terkontaminasi. Ia menjual seluruh harta miliknya untuk membuat sebuah padepokan di kaki gunung. Di sana ia hidup damai dan tenteram bersama istri dan beberapa anaknya yang masih kecil.

Ia juga membuat beberapa padepokan yang bisa dipakai untuk penginapan. Banyak keluarga yang mendatangi padepokannya untuk menikmati istirahat di akhir pekan. Melihat suasana yang begitu damai dan tenang, banyak keluarga merasakan damai dan bahagia. Hasilnya adalah mereka menjadi semakin giat dalam bekerja. Suasana akhir pekan itu memotivasi mereka untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kepada para pengunjung, ia meminta mereka untuk menikmati apa yang disediakan oleh alam di sekitarnya. Ia menganjurkan agar mereka mau makan singkong atau umbi-umbian, makan dengan lauk ikan dari kolam yang ada di padepokan itu. Ia juga mengharapkan mereka mandi air dingin yang ada di sekitar situ.

Namun para pengunjung itu tidak begitu peduli dengan anjurannya. Mereka membawa sendiri makanan dari kota. Mereka membawa bekal makanan yang berlimpah. Arsitek itu berkata, “Anugerah alam sudah begitu banyak. Namun orang masih menjamin dirinya secara berlebihan. Itu kerakusan.”

Apa yang kita kejar dalam hidup ini? Kalau kita jujur, kita akan mengatakan bahwa yang kita kejar dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Kita ingin hidup bahagia. Kita ingin memiliki keluarga yang bahagia. Pekerjaan yang kita miliki itu untuk kebahagiaan kita.

Namun banyak orang sering lupa akan tujuan hidup ini. Orang merasa bahwa harta yang banyak itulah jaminan bagi kebahagiaan hidupnya. Karena itu, orang berlomba-lomba mengumpulkan harta kekayaan. Kawan bisa jadi lawan, karena perebutan harta kekayaan. Bahkan antar saudara pun bisa terjadi permusuhan karena ingin menguasai harta kekayaan.

Kasih tadi mau mengungkapkan ketergantungan hidup manusia itu pada Tuhan yang menciptakan kita. Sebagai orang beriman, ketergantungan kita pada Tuhan mesti selalu menjadi hal utama dalam hidup ini. Penyerahan diri secara total kepada Tuhan akan membawa kita kepada kebahagiaan. Mengapa? Karena Tuhan itu sumber kebahagiaan sejati. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kebahagiaan itu kepada kita. Hanya Dia semata yang dapat memelihara hidup kita. Tuhan menjamin hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



200

18 Oktober 2009

Membangun Keselarasan Hidup


Kita sering menyaksikan para pejabat baru yang diambil sumpah jabatan. Dengan yakin, mereka mengucapkan sumpah dengan didampingi oleh pemuka agama masing-masing yang memegang Kitab Suci. Para pejabat itu berjanji setia kepada sumpah mereka untuk bekerja dengan sebersih-bersihnya. Banyak orang kagum menyaksikan sumpah jabatan seperti itu.

Namun beberapa lama kemudian kita juga menyaksikan pejabat yang sama menjadi topik utama berita di berbagai media massa. Mereka terlibat atau tertangkap pihak berwenang entah karena tidak disiplin, menyelewengkan kekuasaan atau melakukan korupsi dalam berbagai bentuk. Kita dibuat tercengang dan berdecak getir.

Mengapa orang yang tampaknya begitu baik itu bisa jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang melawan hukum? Kita tidak habis pikir. Rasanya belum begitu lama pejabat itu begitu gencar memerangi kejahatan, korupsi, tetapi nyatanya dia sendiri tertangkap tangan.

Mengucapkan sesuatu itu tidak begitu sulit asalkan tidak bisu. Kita yakin bahwa mereka semua mengerti, tahu isi yang diucapkan dalam sumpah jabatan itu. Namun tahu atau mengerti saja belumlah cukup. Orang mesti memiliki kehendak baik untuk melaksanakan apa yang dijanjikannya. Orang mesti berjuang untuk menjaga keselarasan antara apa yang diucapkan dengan cara hidupnya. Ini tidak mudah. Ada banyak godaan dan tantangan yang mesti dihadapi.

Kata-kata yang diucapkan seseorang itu membawa konsekuensi yang besar bagi hidupnya. Ia bisa mendapatkan kepercayaan yang besar dari orang-orang di sekitarnya. Namun dengan kata-kata yang ia ucapkan, ia dapat ditolak oleh orang-orang di sekitarnya. Ada ungkapan bahwa kata-kata itu bagai pedang bermata dua. Orang bisa menggunakannya untuk hal-hal yang baik. Tetapi orang juga bisa menggunakannya untuk hal-hal yang jelek.

Karena itu, orang mesti menjaga kata-kata yang hendak diucapkannya. Orang mengatakan bahwa janji itu adalah utang. Sebesar janji kita, sebesar itu pula utang yang kita miliki. Dalam hidup sehari-hari, kita mesti menyelaraskan antara kata-kata yang kita ucapkan dengan perbuatan nyata kita. Kalau ada ketimpangan, kita tidak bisa dipercaya. Kalau kita banyak janji namun tanpa berbuat, kita akan disebut sebagai orang yang suka membual. Kita bagai tong kosong nyaring bunyinya.

Dari kata-kata dan perbuatan nyata yang kita lakukan orang akan menilai kualitas diri kita. Baik atau buruknya diri kita dapat dilihat dari keselarasan antara kata-kata dan perbuatan itu. Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani menghidup semangat untuk melaksanakan apa yang telah kita janjikan atau sumpahkan. Hanya dengan melaksanakannya dengan baik, kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

199

17 Oktober 2009

Membangun Komunikasi yang Baik


Seorang remaja kelas tiga SMU sekarang memasuki usia 17 tahun. Remaja tingtinglah. Ia baru saja selesai dengan ujian akhir. Ia sudah dinyatakan lulus. Seperti remaja-remaja umumnya, ia juga ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia ingin menjadi sarjana dan kelak memiliki pekerjaan yang baik. Karena itu, setelah menyelesaikan sekolah di kota mpek-mpek, Palembang, ini, ia berniat ke Jawa. Ia mau mencoba untuk mandiri. Tidak seperti sekarang, ia selalu tergantung kepada orangtuanya.

Dengan mantap, ia berkata, “Saya ingin bebas. Saya ingin belajar hidup sendiri jauh dari orangtua. Tentu saja segala macam kebutuhan masih dari orangtua. Kan belum punya kerjaan. Saya berharap agar dengan hidup jauh dari orangtua itu saya menjadi anak yang lebih dewasa dan matang. Soalnya selama ini segala sesuatu diputuskan oleh orangtua.”

Namun ia punya satu persoalan. Orangtuanya tidak mau kehilangan dia. Mereka ingin. agar ia tetap tinggal di rumah. Anak itu berkata, “Kata mereka kalau mau kuliah, di Palembang saja. Papi enggan melepaskan saya untuk pergi jauh. Mami malah menangis terus begitu saya menceritakan niat saya. Padahal hati ini ingin belajar mandiri. Sampai kapan saya akan tergantung terus pada orangtua, kalau tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan penting mnengenai diri sendiri? Kalau jauh dari orangtua kan saya bisa belajar mengambil keputusan-keputusan penting untuk masa depan saya sendiri.”

Anak remaja itu heran, kenapa orangtuanya begitu kuatir akan dirinya.

Kebebasan itu dambaan setiap orang. Pada saat tertentu, orang ingin menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak tergantung pada keputusan orang lain, bahkan orangtua sekalipun. Mengapa kebebasan seperti ini penting? Karena masa depan seseorang itu ada di tangan orang itu. Ia butuh belajar untuk menyelesaikan segala persoalan sendiri. Ia butuh suasana di mana ia memegang kendali dalam hidupnya sendiri.

Hambatan akan kebebasan itu terjadi sering karena komunikasi yang kurang berjalan dengan baik. Dalam kisah tadi tampak bahwa orangtua kurang merestui niat baik sang anak untuk belajar mandiri. Tampaknya ada missunderstanding antara anak remaja dan orangtua. Mungkin ada ganjalan-ganjalan yang mesti dilewati dulu.

Karena itu, dalam hal kebebasan yang sangat diperlukan adalah adanya komunikasi yang baik dan lancar di antara berbagai pihak. Komunikasi yang kurang baik akan mengakibatkan salah paham. Akibatnya bisa fatal bagi hidup manusia. Kita dapat menyaksikan kurang lancarnya komunikasi telah menyebabkan rapuhnya kehidupan manusia. Relasi yang baik sulit terwujud. Ada prasangka dan kesurigaan yang terjadi di antara sesama manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun komunikasi yang baik dan lancar di antara kita. Hal ini akan membantu kita dalam mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik dan manusiawi. Untuk itu, kita mesti bekerja bersama Tuhan. Kita membiarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kekuasaanNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

16 Oktober 2009

Membangun Keselarasan Hidup





Kita sering menyaksikan para pejabat baru yang diambil sumpah jabatan. Dengan yakin, mereka mengucapkan sumpah dengan didampingi oleh pemuka agama masing-masing yang memegang Kitab Suci. Para pejabat itu berjanji setia kepada sumpah mereka untuk bekerja dengan sebersih-bersihnya. Banyak orang kagum menyaksikan sumpah jabatan seperti itu.

Namun beberapa lama kemudian kita juga menyaksikan pejabat yang sama menjadi topik utama berita di berbagai media massa. Mereka terlibat atau tertangkap pihak berwenang entah karena tidak disiplin, menyelewengkan kekuasaan atau melakukan korupsi dalam berbagai bentuk. Kita dibuat tercengang dan berdecak getir.

Mengapa orang yang tampaknya begitu baik itu bisa jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang melawan hukum? Kita tidak habis pikir. Rasanya belum begitu lama pejabat itu begitu gencar memerangi kejahatan, korupsi, tetapi nyatanya dia sendiri tertangkap tangan.

Mengucapkan sesuatu itu tidak begitu sulit asalkan tidak bisu. Kita yakin bahwa mereka semua mengerti, tahu isi yang diucapkan dalam sumpah jabatan itu. Namun tahu atau mengerti saja belumlah cukup. Orang mesti memiliki kehendak baik untuk melaksanakan apa yang dijanjikannya. Orang mesti berjuang untuk menjaga keselarasan antara apa yang diucapkan dengan cara hidupnya. Ini tidak mudah. Ada banyak godaan dan tantangan yang mesti dihadapi.

Kata-kata yang diucapkan seseorang itu membawa konsekuensi yang besar bagi hidupnya. Ia bisa mendapatkan kepercayaan yang besar dari orang-orang di sekitarnya. Namun dengan kata-kata yang ia ucapkan, ia dapat ditolak oleh orang-orang di sekitarnya. Ada ungkapan bahwa kata-kata itu bagai pedang bermata dua. Orang bisa menggunakannya untuk hal-hal yang baik. Tetapi orang juga bisa menggunakannya untuk hal-hal yang jelek.

Karena itu, orang mesti menjaga kata-kata yang hendak diucapkannya. Orang mengatakan bahwa janji itu adalah utang. Sebesar janji kita, sebesar itu pula utang yang kita miliki. Dalam hidup sehari-hari, kita mesti menyelaraskan antara kata-kata yang kita ucapkan dengan perbuatan nyata kita. Kalau ada ketimpangan, kita tidak bisa dipercaya. Kalau kita banyak janji namun tanpa berbuat, kita akan disebut sebagai orang yang suka membual. Kita bagai tong kosong nyaring bunyinya.

Dari kata-kata dan perbuatan nyata yang kita lakukan orang akan menilai kualitas diri kita. Baik atau buruknya diri kita dapat dilihat dari keselarasan antara kata-kata dan perbuatan itu. Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani menghidup semangat untuk melaksanakan apa yang telah kita janjikan atau sumpahkan. Hanya dengan melaksanakannya dengan baik, kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



199

15 Oktober 2009

Membangun Komunikasi yang Baik





Seorang remaja kelas tiga SMU sekarang memasuki usia 17 tahun. Remaja tingtinglah. Ia baru saja selesai dengan ujian akhir. Ia sudah dinyatakan lulus. Seperti remaja-remaja umumnya, ia juga ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia ingin menjadi sarjana dan kelak memiliki pekerjaan yang baik. Karena itu, setelah menyelesaikan sekolah di kota mpek-mpek, Palembang, ini, ia berniat ke Jawa. Ia mau mencoba untuk mandiri. Tidak seperti sekarang, ia selalu tergantung kepada orangtuanya.

Dengan mantap, ia berkata, “Saya ingin bebas. Saya ingin belajar hidup sendiri jauh dari orangtua. Tentu saja segala macam kebutuhan masih dari orangtua. Kan belum punya kerjaan. Saya berharap agar dengan hidup jauh dari orangtua itu saya menjadi anak yang lebih dewasa dan matang. Soalnya selama ini segala sesuatu diputuskan oleh orangtua.”

Namun ia punya satu persoalan. Orangtuanya tidak mau kehilangan dia. Mereka ingin. agar ia tetap tinggal di rumah. Anak itu berkata, “Kata mereka kalau mau kuliah, di Palembang saja. Papi enggan melepaskan saya untuk pergi jauh. Mami malah menangis terus begitu saya menceritakan niat saya. Padahal hati ini ingin belajar mandiri. Sampai kapan saya akan tergantung terus pada orangtua, kalau tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan penting mnengenai diri sendiri? Kalau jauh dari orangtua kan saya bisa belajar mengambil keputusan-keputusan penting untuk masa depan saya sendiri.”

Anak remaja itu heran, kenapa orangtuanya begitu kuatir akan dirinya.

Kebebasan itu dambaan setiap orang. Pada saat tertentu, orang ingin menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak tergantung pada keputusan orang lain, bahkan orangtua sekalipun. Mengapa kebebasan seperti ini penting? Karena masa depan seseorang itu ada di tangan orang itu. Ia butuh belajar untuk menyelesaikan segala persoalan sendiri. Ia butuh suasana di mana ia memegang kendali dalam hidupnya sendiri.

Hambatan akan kebebasan itu terjadi sering karena komunikasi yang kurang berjalan dengan baik. Dalam kisah tadi tampak bahwa orangtua kurang merestui niat baik sang anak untuk belajar mandiri. Tampaknya ada missunderstanding antara anak remaja dan orangtua. Mungkin ada ganjalan-ganjalan yang mesti dilewati dulu.

Karena itu, dalam hal kebebasan yang sangat diperlukan adalah adanya komunikasi yang baik dan lancar di antara berbagai pihak. Komunikasi yang kurang baik akan mengakibatkan salah paham. Akibatnya bisa fatal bagi hidup manusia. Kita dapat menyaksikan kurang lancarnya komunikasi telah menyebabkan rapuhnya kehidupan manusia. Relasi yang baik sulit terwujud. Ada prasangka dan kesurigaan yang terjadi di antara sesama manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun komunikasi yang baik dan lancar di antara kita. Hal ini akan membantu kita dalam mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik dan manusiawi. Untuk itu, kita mesti bekerja bersama Tuhan. Kita membiarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kekuasaanNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


198

14 Oktober 2009

Belajar Mendengarkan Penderitaan Sesama


Seorang pemuda termasuk seorang yang cepat bergaul. Ia seorang yang sangat supel. Ia punya banyak teman di lingkungan sekitarnya. Ia dikenal baik oleh orang-orang di lingkungannya.

Suatu malam, sepulang dari kuliah ia tidak langsung masuk ke rumah, karena ada tetangga yang sedang asyik ngobrol. Lalu ia segera gabung dengan mereka dalam pembicaraan mereka. Ternyata lama-kelamaan ia semakin jauh terlibat. Dan baru ia ketahui bahwa salah seorang temannya pernah menggunakan ekstasi jenis popeye. Ia mengaku tidak pernah merasa ada sugesti (kepingin) untuk mencoba lagi obat-obatan haram itu. Ketika ia tanyakan alasan ia meminum obat-obatan itu, ia mengaku karena malu cintanya ditolak cewek.

Persoalan bagi pemuda itu adalah apakah ia harus menjauhi temannya atau tetap berteman saja seperti biasa? Selama ini ia tidak pernah sekalipun menawarkan obat-obatan itu kepadanya. Yang membuat ia bingung adalah ada tulisan yang mengatakan pergaulan yang jahat merusak diri.

Menerima kehadiran orang lain tidaklah mudah. Apalagi orang yang mesti diterima itu seorang yang berbuat jahat. Kiranya banyak orang akan menolak kehadiran orang yang berbuat jahat itu. Ketika seseorang mau menerima seorang yang berbuat jahat, banyak orang akan menolaknya. Inilah dilema yang sering dihadapi dalam hidup bersama.

Memang, cara yang paling gampang adalah meninggalkan atau menolak teman-teman yang kedapatan melakukan suatu kejahatan. Kenapa pusing-pusing memikirkan mereka? Lagi pula kalau bergaul dengan mereka nanti bisa-bisa kena getah dari tindakan mereka yang ilegal itu. Jangan ambil resiko bila itu membahayakan dirimu. Saya yakin dengan sikap ini selesailah masalahmu.
Namun rasanya jawaban ini bukanlah yang dikehendaki. Orang mesti tanggap dan peka terhadap masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Situasi itu sekaligus mendorong orang untuk ikut bertanggungjawab atas kesejahteraan masyarakat. Dengan cara ini, orang tidak perlu menjauhi teman-temannya yang melakukan hal-hal yang ilegal.

Manusia diberi bekal untuk berkarya secara konkrit di tengah masyarakat yang sakit. Ini bisa menjadi suatu panggilan untuk berkarya di tengah mereka yang membutuhkan. Kemampuan untuk mendengarkan ‘orang lain’ yang berkisah tentang diri dan perjuangannya bisa menjadi kesempatan untuk membimbing sesama ke jalan yang benar. Membantu mereka keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi.

Dalam masyarakat di mana aspek individualistis dominan, banyak orang tidak mampu mendengarkan penderitaan orang lain dengan baik. Mereka sibuk dengan diri dan masalahnya sendiri-sendiri. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memasang telinga kita untuk setiap bentuk penderitaan sesama. Kita mengulurkan tangan kita membantu mereka. Kita memberi mereka tempat untuk bangkit dari keterpurukan hidup mereka. Kita menerima kehadiran mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



197

13 Oktober 2009

Ketika Orang Harus Memilih


Seorang perempuan berusia 25 tahun sudah tiga tahun ini berpacaran dengan seorang pemuda. Pemuda itu pacar pertamanya. Mengingat usianya sudah masuk usia nikah, ia tidak berniat putus hubungan dengan pemuda itu. Lagi pula mencari pasangan hidup kan tidak mudah.

Tapi ada hal yang menganjal di hatinya. Pemuda itu masih ingin bebas dan senang bepergian dengan teman-teman wanitanya yang lain. Kadang hanya berdua saja. Pemuda itu sering ditelephon, dikirimi surat, bahkan sampai dicium oleh teman-teman wanitanya itu.

Pemuda itu tidak pernah memperkenalkan pacarnya dengan teman-temannya atau orangtuanya. Dia hanya bilang bahwa ia sudah punya pacar. Dia takut kalau pacarnya itu nantinya judes pada teman-temannya dan orangtuanya.

Perempuan itu itu bingung. Apakah pemuda itu dapat setia setelah menikah dengannya? Ia bergulat dengan dirinya sendiri.

Setiap orang merindukan kesetiaan dari kekasih atau sahabat karibnya. Tidak ada orang yang ingin dikhianati oleh sesamanya. Apalagi oleh orang yang ia cintai.

Ketidaksetiaan, apa pun bentuknya, akan meninggalkan rasa sakit yang begitu mendalam. Bahkan rasa sakit itu bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Dalam kisah tadi, ada kecemasan dari perempuan yang pacarnya punya banyak teman wanita. Persoalannya, apakah ia boleh mempertahankan pacarnya itu?

Sebenarnya perlu disadari bahwa masa pacaran itu bukan harga mati untuk menikah. Banyak orang menikah dengan pacar kedua, ketiga atau ke sekian. Dalam masa pacaran itu, orang belum terikat. Soalnya adalah banyak anak muda merasa bahwa masa pacaran itu sudah segala-galanya. Akibatnya, ketika ada persoalan selama masa ini, mereka sering mengalami kegoncangan dalam hidupnya. Bisa-bisa mereka frustrasi.

Karena itu, dalam masa pacaran ini semestinya orang tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk mengikat diri dengan orang tertentu. Masa pacaran itu masa untuk saling melihat-lihat. Ibaratnya orang berada dalam sebuah toko serba ada (toserba). Ada banyak pilihan. Orang tidak harus memilih salah satu dari yang dijual dalam toserba itu. Kalau cocok dengan hati, baru orang dapat memilih atau membeli. Kalau tidak cocok sama sekali, apa gunanya dipilih? Nah, kalau dipaksakan, orang akan menemukan kesulitan-kesulitan lebih besar di kemudian hari. Orang dituntut untuk pandai-pandai, ketika masuk ke dalam sebuah toserba itu.

Jadi bagi mereka yang sedang pacaran, jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Ingat, kalau sekarang Anda salah memutuskan, akan menjadi bumerang bagi Anda. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
196

12 Oktober 2009

Cermat dan Pandai Mengatur Ekonomi


Konsultan perencanaan keuangan, Safir Senduk, mengamati banyak orang Indonesia terjebak gaya hidup konsumtif. Mereka sering kali membeli barang karena keinginan, bukan karena memang membutuhkannya.

Ia berkata, ”Akibatnya, banyak orang terjerat utang. Mereka menjalani hidup dengan ’gali lubang tutup lubang’. Sebaiknya belilah barang sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan.”

Pria yang sudah menulis sejumlah buku tentang perencanaan keuangan keluarga itu memberi saran agar orang membayar tunai saat membeli barang yang nilainya cenderung merosot. Ia berkata, “Mengapa harus membeli kredit jika bisa tunai? Sebab, dengan membeli kredit nilai barang yang dibeli makin turun, padahal kita telah membayar dengan harga lebih mahal.”

Safir yang juga laris sebagai pembicara di berbagai tempat ini menambahkan, mereka yang berpenghasilan besar belum dapat dikatakan kaya jika pengeluarannya pun besar. Sebaliknya, mereka yang bergaji kecil, tetapi dapat mengelola keuangan dengan cerdas, bahkan melakukan sejumlah investasi, layak disebut kaya. Jadi, biar layak disebut kaya, belilah barang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.

Itulah kondisi banyak orang Indonesia sekarang ini. Keinginan untuk menumpuk barang-barang begitu tinggi. Akibatnya, orang mengejar sesuatu memenuhi keinginan dirinya. Apa saja yang dirasa diinginkan, orang membelinya. Orang kurang seleksi antara apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan dan apa yang diinginkan.

Banyak orang lalu terjebak dalam suasana hidup konsumeristis. Kalau sudah terjebak, orang akan sulit sekali untuk keluar dari situasi seperti itu. Seorang ibu yang membiasakan anak-anaknya untuk secara selektif dalam berbelanja, misalnya, tidak akan mengalami kesulitan dalam banyak hal. Ia akan dengan mudah mengatur kebutuhan-kebutuhan hidup anak-anaknya.

Karena itu, pengelolaan keuangan dalam keluarga mesti dilakukan secara cermat. Di jaman ekonomi sulit seperti sekarang ini, keluarga-keluarga mesti pandai-pandai menggunakan pendapatannya untuk keberlangsungan hidup keluarga. Untuk itu, mereka mesti memutuskan apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan dalam hidup mereka. Mereka tidak bisa saja membeli sesuatu untuk memenuhi keinginan mereka belaka.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk secara cermat dan bijaksana mengatur ekonomi rumah tangga kita. Hal ini juga bagian dari iman kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
195

11 Oktober 2009

Memupuk Kepekaan terhadap Sesama




Bagi Butet Manurung, salah satu hal yang memprihatinkan dari keberadaan suku orang rimba atau suku anak dalam di pelosok hutan Jambi adalah munculnya proses pengidealan oleh dunia luar.

Ia berkata, ”Hidup mereka sering kali dikatakan kurang beradab dan salah. Padahal, ini masalah perbedaan pandangan saja.”

Tergerak pada perjuangan hidup suku orang rimba, ia mengabdikan diri di pedalaman Jambi. Di tempat itu Butet mengenalkan cara membaca, menulis, hingga berbahasa Indonesia kepada anak-anak suku orang rimba.

Ia juga mengajak mereka belajar mengasah keterampilan hidup. Perempuan bernama lengkap Saur Marlina Manurung ini berkata, ”Untuk pembelajaran ini, aku menggandeng sukarelawan yang ahli di bidang pertanian. Sekolah kami bukan sekadar mengasah pengetahuan, tetapi bagaimana mempertahankan hidup, atau sekolah hidup.”

Ia bersama rekannya juga membuka enam sekolah yang tersebar di beberapa daerah, seperti di Sulawesi Selatan, Flores dan Halmahera. Dari enam sekolah itu, hanya dua yang disokong donatur. Untuk menghidupi sekolah lainnya, ia mengandalkan subsidi silang, yakni penjualan buku hingga menyisihkan sebagian honornya sebagai pembicara.

Perjuangan seorang Butet untuk kemajuan anak bangsa yang tertinggal begitu besar. Ia mengorbankan segala yang ia miliki hanya untuk sesamanya yang menderita. Ia berani mempertaruhkan hidupnya untuk masuk keluar hutan rimba demi kemajuan sesamanya. Inilah iman yang hidup. Orang yang beriman itu menampilkan imannya dalam kepeduliannya terhadap sesama.

Kita hidup dalam dunia yang penuh tantangan. Ada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan kita. Ada orang-orang yang perlu dibuka pikirannya untuk lebih maju dalam hidup ini. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita semua punya tanggung jawab untuk hidup yang lebih baik dari sesama kita. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup juga untuk orang lain.

Butet Manurung sudah memberikan suatu contoh yang begitu baik dan indah bagi kita. Ia menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya kita bisa berbuat banyak hal untuk sesama kita. Kita bisa mewujudkan kepedulian kita dengan membantu mereka yang membutuhkan bantuan kita.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk memiliki kepekaan terhadap sesama dan lingkungan di sekitar kita. Kemajuan hidup sesama kita juga mendapatkan pengaruh dari kepedulian dan perhatian kita. Mari kita hidup semakin peka terhadap sesama di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


194